Anda di halaman 1dari 8

Peran SAKIP dalam Mendukung

Terciptanya Good Governance dan dalam


Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik

LATAR BELAKANG
Benarkah implementasi Sistem Auntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) mendukung
terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik? Dapatkah SAKIP mendorong terwujudnya
pemerintahan yang bersih? Apa peran SAKIP dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik?
Jika pertanyaan di atas diajukan kepada seluruh instansi pemerintah, khususnya pemerintah
daerah, sudah pasti akan diperoleh jawaban negatif. Artinya, sebelas tahun implementasi SAKIP
belum mampu memberikan manfaat yang berarti selain pada pemenuhan kewajiban pelaporan.
Selama rentang waktu sebelas tahun pemerintah telah menerbitkan berbagai peraturan sebagai
usaha untuk menerapkan konsep akuntabilitas. Dimulai dari Inpres Nomor 7 Tahun 2009 tentang
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah hingga yang terakhir Permenpan Nomor 29
Tahun 2010 yang mengatur tentang penyusunan Penetapan Kinerja dan Laporan Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah. Bahkan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi (MENPAN dan RB) pernah mengeluarkan draft undang undang tentang akuntabilitas
untuk mengikat instansi pemerintah agar berakuntabilitas.
Salah satu penyebab belum dapat dirasakannya manfaat SAKIP adalah belum adanya
sinkronisasi peraturan antar kementerian terkait. Di satu sisi pemda harus tunduk pada peraturan
yang dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri, di sisi yang lain ada peraturan MENPAN dan RB.
Usaha untuk menyelaraskan peraturan-peraturan tersebut pada dasarnya telah dilakukan.
Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian,
dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah terbit mengubah sistematika penyusunan
dokumen perencanaan. PP tersebut mensyaratkan adanya sasaran, indikator kinerja serta target

yang harus ditetapkan dalam RPJMD, Renstra SKPD, RKPD dan Renja SKPD. Dua tahun
kemudian pemerintah menerbitkan Permendagri 54 tahun 2010 sebagai tindak lanjut pelaksanaan
PP No 8 Tahun 2008.
Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 seolah memberikan harapan baru atas penerapan SAKIP
yang lebih sempurna. Setidaknya, peraturan ini akan mengikat pemerintah daerah untuk
menyusun dokumen perencanaan yang dapat dipertanggunjawabkan secara terukur. Dengan
adanya petunjuk pelaksanaan PP Nomor 8 Tahun 2008 yang sangat detail dan jelas seharusnya
dapat mendorong pemerintah daerah untuk lebih akuntabel.
SAKIP DALAM KERANGKA AKUNTABILITAS DAN SPIP
Hingga saat ini Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) lebih sering
dipandang sebagai sebuah mekanisme untuk mempertanggungjawabkan kinerja. Pendekatan
tersebut berpijak pada sudut pandang eksternal atau pemenuhan kepentingan stakeholders.
Pandangan ini tidaklah salah. Namun, dengan pemahaman seperti itu, peran SAKIP menjadi
lebih sempit dan cenderung tidak memunculkan kesadaran instansi pemerintah atas kebutuhan
penerapan SAKIP secara benar.
SAKIP sesungguhnya dapat dilihat dari sudut pandang yang lain. Dalam kerangka PP 60 Tahun
2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) disebutkan bahwa dalam unsur
kegiatan pengendalian terdapat dua sub unsur yang menegaskan fungsi SAKIP yang jauh lebih
besar. Sub unsur tersebut adalah reviu atas kinerja dan reviu atas indikator kinerja. Kedua sub
unsur tersebut dengan tegas menyebutkan penetapan indikator kinerja dan reviu kinerja sebagai
bagian dari aktivitas pengendalian. Sehingga berfungsinya SAKIP dengan baik adalah wujud
penerapan
SPIP.
Hingga kini SAKIP belum berfungsi baik sebagai media pertanggungjawaban kinerja maupun
sebagai alat pengendalian manajemen. Infrastruktur pembangun SAKIP kini sudah terbangun.
Jika diibaratkan sebuah bangunan, kekuatan bangunan tersebut sangat tergantung dari bahanbahan yang digunakan untuk membangunnya. Bahan-bahan itulah yang merupakan komponen
pembangun SAKIP yang terdiri dari Renstra, Renja, Tapkin dan LAKIP.
Jika saat ini infrastrukur SAKIP telah terbangun, mengapa pertanyaan-pertanyaan di atas masih
muncul? SAKIP sesungguhnay mempunyai dua peranan yaitu sebagai media
pertanggungjawaban kinerja dan sebagai alat pengendalian manajemen. Pemahaman atas kedua
sudut pandang dalam pendekatan SAKIP tersebut akan dapat memberikan arah agar SAKIP tidak
sekedar menjadi formalitas. Justru, penerapan SAKIP seharusnya mendukung terciptanya tata
kelola pemerintahan yang baik, terwujudnya pemerintahan yang bersih dan meningkatkan
kualitas pelayanan publik.
PERAN SAKIP SEBAGAI MEDIA PERTANGUNGJAWABAN
Sebagai sebuah sistem akuntabilitas maka penerapan SAKIP haruslah dapat menjadi media
pertanggunjawaban kepala daerah kepada pihak yang berhak meminta pertanggunjawaban.
Pihak-pihak tersebut bisa DPRD sebagai wakil masyarakat dan Gubernur yang mempunyai
fungsi koordinasi pembangunan daerah di wilayah Provinsi atau bahkan masyarakat.

SAKIP lahir sebagai bagian dari upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik.
Terbitnya SAKIP melalui Inpres Nomor 7 Tahun 1999 pun bagian dari paket reformasi
penyelenggaraan pemerintahan setelah orde baru. SAKIP terbit sebagai bagian dari salah satu
konsekuensi diterapkannya otonomi daerah di Indonesia. Dalam beberapa literatur dijelaskan
bahwa delegasi atau pemberian kewenangan yang lebih luas kepada daerah atau sub-ordinat
harus diimbangi dengan peningkatan akuntabilitas. Jika tidak, penyelewengan kewenangan sulit
dihindarkan.
Filosofi dibangunnya SAKIP pun demikian. SAKIP merupakan bagian dari penerapan anggaran
berbasis kinerja (Performance-based Budgeting). Perubahan dari line-item budgeting menjadi
performance-based budgeting mengharuskan pemerintah daerah untuk menyusun anggaran
dengan mengacu pada target kinerja yang akan dicapai. Jika pada penganggaran sebelumnya
hanya didasarkan pada incremental cost atau jumlah anggaran meningkat berdasarkan persentase
tertentu dibandingkan tahun sebelumnya, maka dalam performance-based budgeting seluruh
anggaran harus dapat dipertanggungjawabkan hasilnya. Artinya, setiap dana yang dikeluarkan
harus dapat dikaitkan dengan kinerja yang dihasilkan. Sehingga, SAKIP harus terintegrasi dalam
penganggaran.
Kondisi yang ada saat ini adalah SAKIP belum terbangun secara sempurna. Kelemahan dalam
penyusunan perencanaan yang seharusnya dapat dijadikan untuk menilai keberhasilan atau
kegagalan instansi pemerintah dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya belum
terwujudkan. Indikator kinerja utama beserta target yang terukur sesungguhnya adalah acuan
dalam penyusunan anggaran. Sayangnya, justru kedua hal ini lah yang belum dibangun. Hal ini
mengingat konsep anggaran berbasis kinerja hanya akan dapat berjalan jika instansi pemerintah
telah menetapkan indikator kinerja yang terukur. Jika tidak, anggaran berbasis kinerja akan
menjadi formalitas.

Pemenuhan pengisian RKA yang selanjutnya disetujui dalam DPA hingga saat ini baru sebatas
pengisian formulir yang belum didasarkan pada sumber data yang dapat diandalkan. Memang,
dalam pengisian DPA pun SKPD telah mengisi target-target indikator kinerja outcome yang akan
dicapai. Namun, kelemahan penetapan indikator kinerja dalam dokumen perencanaan kinerja
menyebabkan pengukuran kinerja tidak bisa dilakukan. Padahal, pengukuran kinerja ini
merupakan bagian penting dari mekanisme pertanggungjawaban. Jelaslah, fungsi
pertanggungjawaban SAKIP hingga saat ini belum berjalan sebagai mana mestinya. Belum
adanya indikator kinerja yang terukur merupakan faktor utama tidak berfungsinya SAKIP. Jika
indikator kinerja beserta targetnya belum terukur maka pertanggungjawaban atas capaiannya pun
tidak bisa dilakukan.
SAKIP sesungguhnya bisa digunakan untuk mengukur sejauh mana pemerintah daerah berupaya
meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperbaiki tata kelola pemerintahannya, meningkatkan
kualitas pelayanan publik bahkan untuk mendorong pemberantas korupsi. SK LAN
239/IX/6/8/2003 pun menyatakan bahwa penerapan sistem pertanggungjawaban yang tepat,
jelas, terukur, dan legitimate akan mendorong penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan

dapat berlangsung secara berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab serta bebas
dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
PP Nomor 8 Tahun 2008 pada dasarnya telah mengikat kepala daerah terpilih untuk mewujudkan
janji-janji yang telah diberikan kepada rakyat selama kampanye dalam RPJMD. Berdasarkan
peraturan tersebut, Kepala Daerah yang dikoordinasikan oleh Bappeda menyusun visi dan misi,
termasuk hasil-hasil apa yang akan dicapai selama masa pemerintahannya. Hasil-hasil ini lah
harus diukur untuk melihat sejauh mana kepala daerah telah memenuhi janji-janjinya. Sehingga,
sebagai alat ukur dokumen RPJMD harus dilengkapi dengan indikator kinerja. Indikator yang
terukur tersebut pemerintah daerah didorong untuk menyusun kebijakan-kebijakan yang
berpihak kepada masyarakat. Mereka juga dipacu untuk mendisain program dan kegiatan yang
mendukung tercapainya target-target yang telah ditetapkan. SAKIP yang telah terbangun dengan
baik akan dapat menilai keberhasilan ataupun kegagalan instansi pemerintah dalam mencapai
target-target yang telah ditetapkan. Mekanisme pertanggungjawaban pun bisa dilaksanakan jika
pemerintah daerah telah menetapkan indikator kinerja beserta target capaian tahunannya.
Dalam hal penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik dan bebas korupsi, SAKIP pun
sebenarnya dapat digunakan untuk menilai sejauh mana upaya yang telah dilaksanakan oleh
pemerintah daerah. Penerapan SAKIP seharusnya dapat mendorong instansi pemerintah untuk
mewujudkan good governance termasuk pemberantasan korupsi. Namun demikian, untuk
mendukung terciptanya hal ini harus ditetapkan indikator kinerja yang tepat yang disertai dengan
target-target tahunan yang jelas. Namun demikian, permasalahan yang sering muncul adalah
indikator kinerja tersebut belum dapat digunakan untuk mendorong tercapainya misi. Indikator
kinerja yang ditetapkan masih pada tingkat kegiatan, misalnya ketersediaan dokumen
perencanaan 100%, koordinasi, integrasi dan sinkronisasi 100%, pelayanan administrasi
kependudukan dan catatan sipil 100%, dan terbangunnya 50% sentra komunikasi melalui
nirkabel dan fixed. Selain itu, indikator yang disusun masih bias atau tidak spesifik dan jelas. Hal
ini dapat dilihat pada indikator-indikator berikut: konsistensi pelaksanaan perencanaan
pembangunan, 90% aparatur profesional, terwujudnya 90% efisiensi jabatan, penghargaan dan
sanksi hukum 100% dan standarisasi belanja daerah 100%. Indikator-indikator yang telah
ditetapkan ini tentu belum dapat mendorong pemerintah daerah untuk menerapkan tata kelola
pemerintahan yang baik dan menciptakan pemerintah yang bersih.
Penyelenggaraan pemerintah yang baik dan bebas korupsi sesungguhnya dapat diukur
berdasarkan persepsi masyarakat terhadap pelayanan perizinan yang diselenggarakan oleh
pemerintah daerah. Bahkan, lembaga-lembaga independen termasuk Komite Pemberantasan
Korupsi (KPK) pun setiap tahun mengeluarkan hasil survey integritas. Penetapan hasil survey
baik oleh internal pemerintah maupun lembaga independen dapat dijadikan sebagai indikator
penilaian keberhasilan pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Keberanian untuk menetapkan target kepuasan masyarakat dalam pelayanan publik akan
mendorong pemerintah daerah untuk memperbaiki kinerja pelayanannya dengan memberikan
pelayanan yang cepat, singkat, murah dan tidak berbelit-belit. Jika hal itu yang digunakan,
pertanggungjawabannya tentu lebih mudah. Ketika pemerintah daerah gagal mencapai target
yang telah ditetapkan maka hal itu adalah gambaran kegagalannya dalam meningkatkan
pelayanan publik.

SAKIP DALAM KERANGKA SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH (SPIP)


SAKIP pada dasarnya adalah salah satu unsur yang mendukung terselenggaranya SPIP.
Sebaliknya, penyelenggaraan SPIP dapat mendukung penyempurnaan implementasi SAKIP.
Menjawab pertanyaan terkait dengan belum optimalnya manfaat atas penerapan SAKIP hingga
saat ini pada dasarnya dapat dikaitkan dengan berfungsinya Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah (SPIP) dalam suatu organisasi pemerintah. PP 60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah mendefinisikan bahwa Sistem Pengendalian Intern adalah
proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh
pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan
organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan
aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.
SAKIP yang terbangun dari sebuah konsep pertanggunjawaban sesungguhnya adalah bagian dari
upaya untuk meningkatkan kinerja instansi pemerintah melalui penerapan manajemen kinerja.
Dalam kerangka SPIP reviu atas kinerja merupakan bagian dari kegiatan pengendalian. Namun,
mengulas SAKIP dalam kerangka SPIP tidak hanya bisa didekati dari aspek kegiatan
pengendalian tapi juga pada unsur lingkungan pengendalian khususnya terkait dengan sub unsur
kepemimpinan yang kondusif. Bahkan dalam unsur pengendalian risiko manajemen berbasis
kinerja yang termanifestasi dalam SAKIP, juga disebutkan bahwa pimpinan instansi pemerintah
wajib menetapkan tujuan instansi pemerintah dan tujuan pada tingkat kegiatan. Tujuan yang
dimaksud di sini adalah bagian dari unsur Renstra yang menjadi pendukung sistem AKIP.
Selanjutnya, tujuan yang telah ditetapkan harus dikomunikasikan kepada pegawai.
SAKIP, Lingkungan Pengedalian dan Kegiatan Pengendalian
Analisis atas penerapan SAKIP dari sudut pandang SPIP dapat semakin memperjelas alasanalasan belum berfungsinya SAKIP dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik,
meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mewujudkan pemerintahan yang bersih. SAKIP
yang lahir dari sebuah Inpres Nomor 7 Tahun 1999 yang kemudian ditindaklanjuti dengan
beberapa peraturan pendukungnya pada dasarnya, dalam konteks SPIP, adalah bagian dari
infrastruktur yang mendukung terselenggaranya SPIP. Infrastruktur tersebut merupakan hard
factor yang hanya akan berfungsi jika ada soft factor yang mendukung. Soft factor itulah yang
dalam lingkungan pengendalian merupakan kepemimpinan yang kondusif. Dalam kaitannya
dengan SAKIP sub unsur lingkungan pengendalian yang terkait adalah penerapan manajemen
berbasis kinerja. Beberapa hal yang harus dilakukan oleh pimpinan instansi pemerintah untuk
mendukung terlaksananya manajemen adalah sebagai berikut.
1. Pimpinan instansi pemerintah mendorong perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan
searah
dengan
visi
dan
misi
organisasi
2. Pimpinan mendorong dibangunnya perangkat dan pelatihan agar diterapkannya anggaran
berbasis
kinerja
di
instansinya
3. Tugas-tugas diarahkan pada pencapaian kinerja organisasi agar tujuan organisasi dapat segera
tercapai
4. Pegawai dan organisasi yang telah mencapai kinerja dengan baik perlu diberikan penghargaan
agar
mendorong
pegawai
dan
organisasi
terus
berkinerja
baik

5. Pimpinan instansi mendukung dilakukannya evaluasi kinerja di instansinya secara terus


menerus agar dapat dipantau perkembangan kinerjanya
Selanjutnya, dalam kegiatan pengendalian disebutkan bahwa dalam upaya untuk memantau
pencapaian kinerja instansi pemerintah, pimpinan instansi pemerintah harus:
1. Terlibat dalam penyusunan rencana strategis dan rencana kerja tahunan
2.
Terlibat
dalam
pengukuran
dan
pelaporan
hasil
yang
dicapai
3.
Secara
berkala
mereviu
kinerja
dibandingkan
rencana
4. Pada setiap tingkat kegiatan mereviu laporan kinerja, menganalisis kecenderungan dan
mengukur hasil dibandingkan dengan target anggaran, prakiraan dan kinerja periode lalu
Kedua hal diatas menunjukkan pimpinan instansi pemerintah memegang peranan penting dalam
penerapan manajemen kinerja. Permasalahan belum dapat dimanfaatkannya SAKIP pada
dasarnya juga dapat ditelusur dari unsur soft factor yang belum mendukung. Hasil observasi
terhadap tingkat pemahaman dan keterlibatan unsur pimpinan dalam menerapkan manajemen
kinerja masih sangat lemah. Kelemahan komitmen tersebut terlihat dari keterlibatan pimpinan
dan pejabat-pejabat teknis SKPD yang terkait berjalannya mekanisme SAKIP mulai dari
penyusunan rencana strategis, penyusunan rencana kinerja tahunan hingga reviu secara berkala.
Kondisi yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa penyusunan LAKIP dilakukan oleh bagian
program di setiap SKPD. Keterlibatan bidang-bidang teknis pada setiap SKPD hanya sebatas
penyerahan data yang kemudian diolah oleh bagian program dan dikompilasi menjadi LAKIP.
Data yang selama ini diolah pun baru sebatas data realisasi fisik dan keuangan atas pelaksanaan
kegiatan dalam satu tahun. Hal ini terjadi karena keterbatasan pemahaman baik dari sisi
pelaksana, yaitu bagian program, maupun unsur pimpinan dan pejabat teknis lainnya terkait
dengan informasi yang seharusnya direncanakan dan dilaporkan. Hal lain yang perlu mendapat
perhatian adalah belum adanya mekanisme pertanggungjawaban yang dilakukan secara
transparan baik pada tingkat pemerintah daerah ataupun pada tingkat SKPD. Mekanisme
pertanggunjawaban seperti pertemuan yang mereviu capaian kinerja secara transparan tentu akan
mendorong pihak yang diminta pertanggungjawabannya untuk memberikan perhatian yang lebih
dan menyadari konsekwensi yang akan dihadapinya. Hal ini hanya akan terjadi jika pimpinan
instansi pemerintah mempunyai komitmen untuk mengaitkan antara kinerja dengan reward dan
punishment sebagaimana yang disyaratkan dalam unsur lingkungan pengendalian.
Infrasruktur SAKIP saat ini sudah terbangun, terlepas dari beberapa kelemahannya. Namun, hal
yang lebih penting dari pada itu adalah aspek lingkungan pengendalian berupa komitmen
pimpinan untuk menghidupkan SAKIP yang akan berfungsi sebagai alat pengendalian
manajemen. Dengan demikian, untuk menjawab bagaimana mendayagunakan SAKIP untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, untuk memperbaiki kualitas pelayanan publik dan
menciptakan good governance hanya dapat dilakukan dengan mengintegrasikan SAKIP dengan
SPIP.
Seiring dengan perkembangan konsep SAKIP dalam tata perundangan di Indonesia muncul
Permendagri 54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008
tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan
Daerah. Permendagri ini menjembatani gap antara peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian

Dalam Negeri yang mengatur tata cara penyusunan dokumen perencanaan baik menengah
ataupun tahunan dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Ketidaksinkronan antara unsur-unsur pertanggungjawaban yang menjadi prasyarat dalam
mekanisme akuntanbilitas kinerja dengan RPJMD/Renstra dan RKPD/Renja yang disusun oleh
Pemerintah Daerah dan SKPD telah diselaraskan dalam peraturan ini. Hal ini menunjukkan
bahwa
infrastruktur
pendukung
SAKIP
telah
mencapai
kesempurnaan.
Permendagri 54 Tahun 2010 memberikan arah bagi pemerintah daerah untuk menyusun
dokumen perencanaan dengan memuat visi, misi, tujuan, sasaran dan indikator kinerja. Lebih
lanjut, Permendagri ini pun memberikan arahan yang jelas dan detail terkait dengan indikator
kinerja daerah dan target-target tahunan selama jangka waktu lima tahun yang hendak dicapai
oleh daerah. Indikator kinerja ini lah yang selama ini menjadi penyebab utama tidak dapat
diukurnya keberhasilan dan kegagalan instansi pemerintah dalam menjalankan tugas pokok dan
fungsinya. Hal ini disebabkan peraturan perundangan terkait penyusunan dokumen perencanaan
sebelumnya belum secara eksplisit mengamanatkan pemerintah daerah untuk menetapkan
indikator kinerja dan target capaian secara jelas dan terukur.
Tonggak menuju kesempurnaan implementasi SAKIP kini telah ditancapkan. Berjalannya fungsi
dari SAKIP tersebut tergantung pada soft factor yang terdiri dari seluruh unsur dalam organisasi
khususnya pimpinan dan pejabat teknis yang terkait dalam pencapaian kinerja instansi
pemerintah. PP No. 60 Tahun 2010 sesungguhnya mendorong pemerintah daerah untuk
menghidupkan SAKIP. Indikasi dari SAKIP yang telah terinternalisasi adalah keterlibatan
unsur pimpinan dalam penyusunan perencanaan stratejik, perencanaan tahunan, pengukuran
kinerja, reviu kinerja dan pemberian reward dan punishment atas pencapaian target kinerja.
Melihat hambatan-hambatan yang dihadapi dalam penerapan SAKIP maka yang harus dibenahi
terlebih dahulu adalah menumbuhkan komitmen dari pimpinan instansi pemerintah. Sosialisasi
dan bimbingan teknis selama ini baru memberikan pemahaman kepada pegawai yang diberikan
tugas untuk menyusun LAKIP. Pemerintah daerah beserta SKPD kini telah berhasil menyusun
LAKIP. Namun, esensi dari LAKIP belum dirasakan manfaatnya karena belum adanya
dukungan, komitmen dan kemauan dari kepala daerah maupun kepala SKPD untuk
mendayagunakan SAKIP sebagai media pengendalian manajemen. Untuk mencapai hal ini, perlu
digagas metodologi asistensi SAKIP yang bersinergi dengan penerapan SPIP. Metodologi ini
harus mampu mengubah pemahaman seluruh unsur dalam organisasi bahwa pengukuran kinerja
bukanlah pengukuran atas capaian realisasi fisik dan keuangan kegiatan sebagaimana saat ini
terjadi. Selanjutnya, metodologi ini juga harus mampu mendorong pimpinan instansi pemerintah
untuk melakukan reviu kinerja secara transparan dan mengaitkan kinerja dengan reward dan
punsihment.
Menindaklanjuti Permendagri 54 Tahun 2010 mempunyai kekuatan yang besar untuk memaksa
pemerintah daerah lebih akuntabel dengan menyusun dan mengendalikan dokumen perencanaan,
mulai dari RPJPD, RPJMD hingga Renja SKPD. Untuk itu pemahaman yang baik atas
permendagri ini menjadi suatu keharusan yang tidak bisa dibantahkan lagi. Sehingga, tim
asistensi SAKIP yang bisa jadi juga menjadi tim pengembangan SPIP di tingkat pemerintahan
daerah harus diberikan pelatihan agar terbangun kesamaan pemahaman terhadap penerapan
peraturan tersebut. Ditambah lagi, hingga akhir tahun 2010 sebagian besar kementerian telah

menetapkan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Pemahaman yang mendalam tentang SPM
sesungguhnya merupakan persyaratan mutlak untuk dapat memberikan asistensi implementasi
Permendagri 54 Tahun 2010. Hal ini mengingat indikator yang wajib digunakan dalam
menyusun dokumen perencanaaan adalah indikator dan target-target yang ada dalam SPM.
PENUTUP
SAKIP sesungguhnya mempunyai peran yang sangat strategis dalam upaya peningkatan
penyelenggaraan pemerintahan. Kalau hingga saat ini belum dirasakan manfaatnya hal ini lebih
disebabkan karena bangunan infrastruktur yang belum sempurna. Ditambah lagi, SAKIP hingga
saat ini lebih dipandang sebagai sebuah media yang statis. Padahal, berjalannya mekanisme
pertanggunjawaban kinerja mengharuskan adanya sebuah sistem yang hidup dan dihidupkan.
Sistem yang hidup dan dihidupkan itu terlihat dari berjalannya mekanisme analisis dan evaluasi
yang dilaksanakan secara transparan dengan melibatkan seluruh unsur pejabat teknis dan
pimpinan.
SAKIP yang memberikan manfaat adalah sebuah sistem yang dapat digunakan sebagai alat untuk
memperbaiki kebijakan serta mendorong pemerintah daerah untuk melakukan inovasi dalam
mendisain program dan kegiatan. Selanjutnya, SAKIP pun seharusnya dapat digunakan sebagai
dasar dalam memberikan reward dan punishment yang bisa dikaitkan dengan kinerja individu.
Manfaat tersebut baru bisa dipetik jika ada komitmen yang kuat dari pimpinan untuk
memberikan pemahaman yang kuat akan pentingnya SAKIP yang tak hanya bisa berfungsi
sebagai media pertanggunjawaban kinerja tetapi juga sebagai alat pengendalian.