Anda di halaman 1dari 7

Syifa Febriana

2013730181
10. Jelaskan syarat-syarat dan tata cara pemberian OAD, Insulin, dan kombinasi!
OBAT HIPOGLIKEMI ORAL
Indikasi pemakaian obat anti diabetik:
-

Diabetes sesudah umur 40 tahun.


Diabetes kurang dari 5 tahun
Memerlukan insulin dengan dosis kurang dari 40 unit sehari
DM Tipe 2, BB normal atau lebih

Golongan Biguanid
Syarat-Syarat
-

1)
2)
3)
4)
5)
6)

Digunakan untuk terapi awal diabetes sesudah diagnosis ditegakkan (karena tidak
menyebabkan hipoglikemia)
Dapat menimbulkan efek samping mual, muntah, kadang diare. Jadi kepada
pasien yang sedang diare, mual, muntah, sebaiknya dihindari pemakaian biguanid
karena dapat memperparah keadaan.
Lebih baik diberikan pada pasien gemuk, sebab tidak merangsang sekresi insulin.
Tidak boleh diberikan kepada pasien yang:
Gangguan fungsi ginjal
Dehidrasi
Gangguan fungsi hati
Asidosis metabolik
Usia lanjut
Gagal jantung

Cara Pemberian
Diberikan bersama makanan dan bila dalam bentuk XR terutama dapat diberikan pada waktu
makan malam. Dosis optimal adalah 2000 mg per hari dan tidak memberikan hasil yang lebih
baik dengan dosis lebih tinggi.

Golongan Glitazon/Thiazolindion
Syarat-Syarat
-

Tidak boleh diberikan pada pasien gagal jantung kelas III dan IV NYHA
a. Rosiglitazon (Avandia)
o Tidak diperbolehkan diberikan kepada pasien dengan gangguan faal
hati dan gagal jantung karena dapat memperberat edema.
b. Pioglitazon (Actoz)
o Tidak dianjurkan untuk pasien dengan BB berlebih (obese atau
overweight) karena menyebabkan BB naik.
o Tidak untuk pasien gagal jantung karena dapat menyebabkan edema
tungkai.

Cara Pemberian
Diberikan saat makan dengan dosis awal rendah yaitu 1x25 mg, kemudian dititrasi secara
bertahap dalam beberapa bulan hingga dosis maksimum 3x50 mg pada pasien dengan berat
badan kurang dari sama dengan 60 kg atau 3x100 mg pada pasien dengan berat badan lebih
dari 60 kg

Golongan Sulfonilurea
Syarat-Syarat
-

Pilihan kedua setelah metformin.


Untuk pasien DM dewasa tanpa memandang berat badan
Pasien harus tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya
Tidak diberikan pada penyakit hati, ginjal, dan tiroid.
a. Khlorpropamid
o Tidak dipakai pada gangguan faal ginjal karena seluruhnya diekskresi
melalui ginjal.
o Tidak dianjurkan untuk pasien geriatri.
b. Glibenklamid
o Batas tertentu dapat diberikan pada beberapa kelainan fungsi hati dan
ginjal.
c. Glikosid
o Dapat diberikan pada gangguan fungsi hati dan ginjal yang ringan.
d. Glikuidon
o Dapat diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal yang
lebih berat, karena hampir seluruhnya di ekskresi melalui empedu dan
usus.
e. Glipsid
o Pada pasien dengan genetik CYP2C9 poor metabolizer dapat
meningkatkan risiko hipoglikemi
f. Glimepirid
o Dapat diberikan kepada usia lanjut, gangguan ginjal atau aktivitas berat
pada awal pengobatan

Cara Pemberian
Diberikan kurang lebih 30 menit sebelum makan dengan dosis-dosis tertentu.

Golongan Glinid
Syarat-Syarat
Sama seperti sulfonylurea
Cara Pemberian
Sebaiknya diberikan saat makan atau hingga 30 menit sebelum makan. Dosis efektif
refaglinid adalah 2 mg saat makan atau 1 mg sebelum makan. Sedangkan untuk nateglinid
adalah 120 mg sebelum makan dan tidak perlu dititrasi.

Golongan Acarbose
Syarat-Syarat
-

Efektif pada pasien dengan diet tinggi karbo dan kadar glukosa plasma puasa
<180 mg/dL
Tidak boleh digunakan sebagai terapi antidiabetes tunggal pada pasien yang
pernah mengalami ketasidosis dengan atau tanpa koma
Tidak digunakan saat dismenorea dan diare karena dapat menyebabkan efek
samping tidak enak pada perut, diare dan banyak flatus.
Perhatikan efek samping berupa reaksi alergi karena dikenal terdapat
hipersensitivitas terhadap acarbose
Jangan diberikan pada pasien dengan sirosis, ulserasi kolon, obstruksi usus parsial
atau kecenderungan pada penyakit-penyakit ini

Cara Pemberian
Digunakan bersamaan suap pertama setiap kali makan karena dapat mengurangi peningkatan
kadar glukosa post prandial. (hanya berpengaruh pada kadar glukosa darah pada waktu
makan). Dosis awal 50 mg, dosis harian 150-300 mg/hari.

Penghambat DPPIV
-

Bisa diberikan monoterapi


Bisa dikombinasi dengan metformin, glitazon, dan sulfonilurea

Cara Pemberian
Untuk sitagliptin dosis standar adalah 100 mg/hari dan bila ada gangguan ginjal diturunkan
menjadi 50 mg/hari

INSULIN
Indikasi

Semua orang dengan DM tipe 1 memerlukan insulin eksogen karena produksi insulin
oleh sel beta tidak ada atau hampit tidak ada
Pada DM tipe 2 tertentu akan memerlukan insulin bila terapi jenis lain tidak dapat
mencapai target pengendalian kadar glukosa darah atau pada keadaan stress berat,
seperrti pada infeksi berat, tindakan pembedahan, infark miokard akut atau stroke
DM gestasional dan DM dengan kehamilan membutuhkan insulin bila perencanaan
makan saja tidak dapat mengendalikan kadar glukosa darah
Ketoasidosis diabetic

Pengobatan sindroma hiperglikemi hyperosmolar non ketotik


DM yang mendapat nutrisi parenteral atau yang memerlukan suplemen tinggi kalori,
untuk memenuhi kebutuhan energy yang meningkat, secara bertahap akan
memerlukan insulin eksogen untuk mempertahankan kadar glukosa darah mendekati
normal selama periode resistensi insulin atau ketika terjadi peningkatan kebutuhan
insulin
Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
Kontraindikasi atau alergi terhadap OHO

Peralatan yang Digunakan

Jarum dari alat suntik insulin sangat halus dan tajam. Untuk mempermudah penentuan
dosis insulin, tersedia alat suntik berukuran 1 cc dan cc.
Alat suntik dan jarumnya dapat digunakan kembali walaupun cara ini masih
kontroversial. Penggunaan kembali alat suntik dapat meningkatkan risiko infeksi
untuk beberapa individu. Seseorang yang menggunakan kembali alat suntiknya agar
diberitahu bahwa tulisan pada alat suntik dapat terhapus dan jarum menjadi tumpul
dengan penggunaan yang berulang.
Seseorang dengan DM sebaiknya diajarkan mengikuti tatacara penyuntikkan insulin
termasuk penggunaan teknik yang konsisten, dosis yang akurat, dan rotasi lokasi
penyuntikkan. Penyuntikkan dilakukan ke dalam jaringan subkutan.

Teknik Penyuntikan Insulin

Sebelum menyuntikkan insulin, kedua tangan dan daerah yang akan disuntik haruslah
bersih. Tutup vial insulin harus diusap dengan isopropyl alcohol 70%. Untuk semua
macam insulin kecuali kerja cepat, harus digulung-gulung secara perlahan dengan
kedua telapak tangan (jangan dikocok) untuk melarutkan kembali suspense. Ambillah
udara sejumlah insulin yang akan diberikan dan suntikanlah kedalam vial untuk
mencegah terjadinya ruang vakum dalam vial. Setelah insulin masuk ke alat suntik,
periksalah apakah terdapat gelembung udara.
Penyuntikkan dilakukan pada jaringan subkutan. Pada umumnya disuntikkan dengan
sudut 90 derajat. Pada pasien kurus dan anak-anak setelah kulit dijepit dan insulin
disuntikkan dengan sudut 45 derajat agar tidak terjadi penyuntikkan intramuscular.
Aspirasi tidak perlu dilakukan secara rutin,. Bila terjadi perdarahan setelah proses
penyuntikkan maka daerah tersebut sebaiknya ditekan selama 5-8 detik.
Hal hal yang perlu diperhatikan :
- Yakinkan bahwa alat suntik tidak megandung gelembung udara
- Tunggu hingga alcohol desinfektan kering sebelum menyuntik
- Usahakan agar otot yang akan disuntik tidak dalam keadaan tegang
- Tusuklah dengan cepat
- Jangan merubah arah suntikan selama menyuntikkan atau mencabut
suntikan

Bila diperlukan regulasi yang cepat, sebaiknya pasien dirawat untuk sementara. Setelah
diberikan diet yang sesuai dengan kebutuhan, mulai diberikan insulin dengan dosis rendah (5-

10 unit) per kali yang kemudian disesuaikan dengan reduksi urin (bila fungsi ginjal masih
baik) atau glukosa darah.
Mulailah pemberian insulin regular 3 kali sehari, setengah jam sebelum makan. (insulin
analog dapat diberikan sesaat sebelum makan). Jika pada pemantauan (2-3 hari) dan ternyata
kadar glukosa darah belum mencapai target, insulin dapat ditambah 4-5 unit sampai reduksi
menjadi negative atau kadar glukosa darah mencapai target.
Setelah keadaan stabil, insulin regular dapat diganti dengan insulin kerja sedang (insulin kerja
panjang sudah tidak dipakai lagi) dengan dosis setengah dosis total insulin regular sehari.
Karena perbedaan respons terhadap insulin, maka dosis insulin yang diperlukan untuk
mendapatkan control yang memuaskan tergantung pada individu, jadi tidak ada dosis yang
universal. Sebagian individu dapat dikelola dengan 2 kali sehari (pagi atau malam). Cara ini
dapat menggunakan hanya insulin kerja sedang atau campuran insulin cepat dan sedang. Cara
ini dianggap sebagai terapi konvensional. Biasanya 2/3 dosis diberikan pada makan pagi dan
1/3 diberikan sebelum makan malam.
Sebagian lagi memerlukan insulin sebanyak 3-4 kali sehari. Cara pemberian ini dapar
dilakukan dengan beberapa kombinasi. Salah satunya adalah kombinasi insulin cepat-sedang
sebelum makan pagi, insulin cepat sebelum makan malam dan sedang sekitar jam 22.00. cara
ini dapat mengatasi fenomena Dawn dan mencegah hipoglikemia malam hari.

KOMBINASI
Indikasi pemberian terapi kombinasi
-

Saat pemberian terapi tunggal/ monoterapi tidak cukup ampuh untuk mengatasi
penyakit.
Mempercepat pengobatan.
Meminimalisir efek samping.
Pasien sudah resistensi dengan pemberian monoterapi

Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk kemudian
dinaikkan secara bertahap sesuai dengan resppons kadar glukosa darah.
Kombinasi OHO
Bersamaan dengan pengaturan diet dan kegiatan jasmani, bila diperlukan dapat dilakukan
pemberian OHO tunggal atau kombinasi OHO sejak dini. Terapi dengan OHO kombinasi,
harus dipilih 2 macam obat dari kelompok yang mempunyai mekanisme kerja yang berbeda.
Pada saat ini yang banyak digunakan adalah terapi kombinasi obat-obat golongan biguanid
dan sulfonylurea. Sulfonylurea akan mengawali dengan merangsang sekresi pancreas yang
memberikan kesempatan untuk biguanid untuk bekerja efektif. Kedua-duanya rupanya
mempunyai efek terhadap sensitivitas reseptor, jadi pemakaian kedua obat tersebut saling
menunjang. Kombinasi kedua obat ini dapat efektif pada DM yang sebelumnya tidak
memberikan manfaat bila dipakai secara sendiri-sendiri.
Kombinasi Metformin (biguanid) dan Glibenklamid (sulfonylurea) sangat cocok digunakan
untuk penderita DM Tipe 2 pada pasien yang hiperglikeminya tidka bisa dikontrol dengan

single terapi (metformin atau glibenklamid saja), diet dan olahraga. Di samping itu, kominasi
ini saling memperkuat kerja masaing-masing obat, sehingga regulasi darah dapat terkontrol
dengan lebih baik. Kombinasi ini memiliki efek samping yang lebih sedikit, apabila
dibandingkan menggunakan monoterapi (metformin atau glibenklamid saja). Metformin
dapat menekan potensi glibenklamid dalam menaikkan berat badan pada pasien diabetes
melitus tipe 2, sehingga cocok untuk pasien diabetes melitus tipe 2 yang mengalami
kelebihan berat badan (80% dari semua pasien DM tipe 2 adalah terlalu gemuk dengan kadar
gula tinggi samapi 17-20mmol/L
Kombinasi OHO-Insulin
Bila sasaran kadar glukosa darah belum tercapai, dapat pula diberikan kombinasi tiga OHO
dari kelompok yang berbeda atau kombinasi OHO dengan insulin. Pada pasien yang disertai
dengan alasan klinik dimana insulin tidak memungkinkan untuk dipakai dipilih terapi dengan
kombinasi tiga OHO.
Untuk kombinasi OHO dan insulin, yang banyak dipergunakan adalah kombinasi OHO dan
insulin basal (insulin kerja menengah atau insulin kerja panjang) yang diberikan pada malam
hari menjelang tidur. Dengan pendekatan terapi tersebut pada umumnya dapat diperoleh
kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin yang cukup kecil. Dosis awal insulin
kerja menengah adalah 6-10 unit yang diberikan sekitar jam 22.00 kemudian dilakukan
evaluasi dosis tersebut dengan menilai kadar glukosa darah puasa keesokan harinya.
Kombinasi sulfonylurea dan insulin
Kombinasi ini didasarkan bahwa rerata kadar glukosa darah sepanjang hari terutama
ditentukan oleh kadar glukosa darah puasanya. Umumnya kenaikan kadar glukosa darah
sesudah makan kurang lebih sama, tidak tergantung dari kadar glukosa darah puasanya.
Dengan memberikan dosis insulin kerja sedang malam hari, produksi glukosa hati malam hari
dapat dikurangi sehingga kadar glukosa darah puasa dapat menjadi lebih rendah. Selanjutnya
kadar glukosa darah siang hari dapat diatur dengan pemberian sulfonylurea seperti biasanya.
Kombinasi sulfonylurea dan insulin ini ternyata lebih baik daripada insulin saja dan dosis
insulin yang diperlukan pun ternyata lebih rendah. Selain itu pasien lebih bisa menerima cara
pengelolaan kombinasi ini daripada pengelolaan dengan suntikan yang lebih sering.
Bila dengan cara seperti ini kadar glukosa darah sepanjang hari masih tidak terkendali, maka
obat hipoglikemik oral dihentikan dan diberikan insulin saja.

Referensi
Soegondo et al. 2013. Panduan Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai