Anda di halaman 1dari 31

ABORSI

I.

PENDAHULUAN
Aborsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengguguran

kandungan. Makna aborsi lebih mengarah kepada suatu tindakan yang disengaja
untuk mengakhiri kehamilan seorang ibu ketika janin sudah ada tanda-tanda
kehidupan dalam rahim. Sedangkan abortus adalah berakhirnya kehamilan atau
hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Abortus sendiri
terbagi dua yaitu abortus spontan dan abortus provokatus. Abortus spontan adalah
merupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses kehamilan
sebelum berumur 20 minggu. Penyebabnya dapat oleh karena penyakit yag
diderita si ibu ataupun sebab-sebab lain yang pada umumnya berhubungan dengan
kelainan pada sistem reproduksi. Abortus spontan sering disebut dengan
keguguran. Sedangkan abortus provokatus adalah suatu upaya yang disengaja
untuk menghentikan proses kehamilan sebelum berumur 20 minggu, dimana janin
(hasil konsepsi) yang dikeluarkan tidak bisa bertahan hidup di dunia luar.1
Abortus provokatus sendiri terbagi menjadi dua yaitu abortus provokatus
artifisial terapeutik dan abortus provokatus kriminalis. Abortus provokatus
artifisial terapeutik adalah pengguguran kandungan menggunakan alat-alat medis
dengan alasan kehamilan membahayakan dan dapat membawa maut bagi ibu,
misalnya karena ibu mempunyai penyakit berat tertentu. Abortus terapeutik
diizinkan menurut ketentuan profesional seorang dokter atas indikasi untuk
menyelamatkan sang ibu. Jika ditinjau dari aspek hukum dapat digolongkan ke
dalam Abortus buatan legal. Sedangkan abortus provokatus kriminalis adalah
pengguguran kandungan tanpa alasan medis yang sah dan dilarang hukum karena
jika ditinjau dari aspek hukum dapat digolongkan ke dalam abortus buatan ilegal.
Termasuk dalam abortus jenis ini adalah abortus yang terjadi atas permintaan
pihak perempuan, suami, atau pihak keluarga kepada seorang dokter untuk
menggugurkan kandungannya. 1
1

Aborsi di dunia dan di Indonesia khususnya tetap menimbulkan banyak


persepsi dan bermacam interpretasi, tidak saja dari sudut pandang kesehatan,
tetapi juga dari sudut pandang hukum dan agama. Aborsi merupakan masalah
kesehatan masyarakat karena memberi dampak pada kesakitan dan kematian ibu.
Sebagaimana diketahui penyebab kematian ibu yang utama adalah perdarahan,
infeksi dan eklampsia. Diperkirakan diseluruh dunia setiap tahun terjadi 20 juta
kasus aborsi tidak aman, 70 ribu perempuan meninggal akibat aborsi tidak aman
dan 1 dari 8 kematian ibu disebabkan oleh aborsi tidak aman. 95% (19 dari 20
kasus aborsi tidak aman) dintaranya bahkan terjadi di negara berkembang. Di
Indonesia setiap tahunnya terjadi kurang lebih 2 juta kasus aborsi, artinya 43
kasus/100 kelahiran hidup (sensus 2000). Angka tersebut memberikan gambaran
bahwa masalah aborsi di Indonesia masih cukup besar (Wijono 2000). Suatu hal
yang dapat kita tengarai, kematian akibat infeksi aborsi ini justru banyak terjadi di
negara-negara dimana aborsi dilarang keras oleh undang-undang. 2
II.

DEFINISI

Aspek medis
Pengeluaran hasil konsepsi setiap stadium perkembangannya
sebelum masa kehamilan lengkap
Pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan

Kedokteran Forensik :
Keluarnya janin dari kandungan seorang wanita pada setiap saat
sebelum masa kehamilan lengkap tercapai.

Aspek hukum
Tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan janin sebelum
waktu kelahiran tanpa melihat usia kandungan

Sewaktu pengguguran dilakukan, kandungan masih hidup


Ada faktor kesengajaan
III.

KLASIFIKASI ABORSI

Jenis-jenis abortus menurut terjadinya dibagi menjadi:


1. Abortus spontan
Merupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses
kehamilan tanpa tindakan. Penyebabnya dapat oleh karena penyakit yang diderita
si Ibu ataupun sebab-sebab lain yang pada umumnya berhubungan dengan
kelainan pada sistem reproduksi, diantaranya3:
Abortus Imminens ( Threatened abortion, Abortus mengancam ) : ialah
peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20
minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya
dilatasi serviks. Proses awal dari suatu keguguran, yang ditandai dengan3 :
o Perdarahan pervaginam, sementara ostium uteri eksternum masih
tertutup dan janin masih dalam intrauterine timbul pada
pertengahan trimester pertama.
o TFU sesuai dengan usia gestasi berdasarkan HPHT.
o Perdarahan biasanya sedikit, hal ini dapat terjadi beberapa hari.
o Kadang nyeri, terasa nyeri tumpul pada perut bagian bawah
menyertai perdarahan.
o Tidak ditemukan kelainan pada serviks dan serviks tertutup
o Kadar hormon hCG pada urin menentukan prognosis dari abortus
imminens, jika pemeriksaan (+) sebelum dan setelah diencerkan
1/10, prognosis mengarah ke ad bonam dan bila (-) saat diencerkan
1/10, maka prognosis mengarah ke ad malam.
3

o Pemeriksaan USG diperlukan untuk mengetahui keadaan plasenta


apakah sudah terjadi pelepasan atau belum, dan apakah ada
hematoma retroplasenta. Diperhatikan ukuran biometri janin/
kantong gestasi apakah sesuai dengan umur kehamilan berdasarkan
HPHT, gerak janin dan denyut jantung janin.
Abortus Insipiens : peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang
meningkat dan mendatar, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus, tinggi
fundus uteri sesuai dengan usia gestasi berdasarkan HPHT. Ditandai
dengan adanya3 :
o Nyeri perut bagian bawah seperti kejang karena kontraksi rahim
kuat.
o Robeknya selaput amnion dan adanya pembukaan serviks
o Terjadi kontraksi uterus untuk mengeluarkan hasil konsepsi
o Perdarahan per vaginam masif, kadang kadang keluar gumpalan
darah.
o Tes hCG biasanya negatif namun dapat positif karena produksi
hCG oleh korion, dan bukan oleh fetus
o Pada pemeriksaan USG didapati pembesaran uterus yang masih
sesuai dengan umur kehamilan, gerak janin dan gerak jantung janin
masih jelas walau mungkin sudah mulai tidak normal, perhatikan
apakah adanya perdarahan retroplasenta dan ovum yang mati.
Abortus Kompletus : proses abortus dimana keseluruhan hasil konsepsi
(desidua dan fetus) telah keluar melalui jalan lahir sehingga rongga rahim
kosong pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang
dari 500 gram.Tanda dan Gejala3 :

o Serviks menutup.
o Rahim lebih kecil dari periode yang ditunjukkan amenorea.
o Gejala kehamilan tidak ada.
o Uji kehamilan biasanya positif sampai 7-10 hari setelah abortus.
Abortus Inkompletus : pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam
uterus3.
Gejala Klinis :
o Didapati amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas
o Perdarahan bisa sedikit atau banyak dan biasanya disertai stolsel
(darah beku).
o Sudah ada keluar fetus atau jaringan
o Pada pemeriksaan dalam (V.T.) untuk abortus yang baru terjadi
didapati serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa jaringan
pada kanalis servikalis atau kavum uteri, serta uterus yang
berukuran lebih kecil dari seharusnya.
Missed Abortion : berakhirnya suatu kehamilan sebelum 20 minggu,
namun keseluruhan hasil konsepsi tertahan dalam uterus 2 bulan atau
lebih. Fetus yang meninggal ini dapat3 :
o Keluar dengan sendirinya dalam 2-3 bulan sesudah fetus mati.
o Diresorbsi kembali sehingga hilang
o Mengering dan menipis yang disebut : fetus papyraceus
5

o Menjadi mola karnosa, dimana fetus yang sudah mati 1 minggu


akan mengalami degenerasi dan air ketubannya diresorbsi.
Gejala Klinis
o Ditandai dengan kehamilan yang normal dengan amenorrhea, dapat
disertai mual dan muntah
o Perdarahan sedikit-sedikit yang berulang pada permulaannya
o Pertumbuhan uterus mengecil dengan fundus yang tidak bertambah
tinggi jika kehamilannya berkisar antara 14 sampai 20 minggu.
o Mamae menjadi mengecil sebagai tanda-tanda kehamilan sekunder
yang menghilang.
o Gejala-gejala kehamilan menghilang diiringi reaksi kehamilan
menjadi negative pada 2-3 minggu setelah fetus mati.
o Pada pemeriksaan dalam serviks tertutup dan ada darah sedikit
o Pasien merasa perutnya dingin dan kosong.
o Pada pemeriksaan USG didapatkan : uterus yang mengecil,
kantong gestasi yang mengecil dan bentuknya tidak beraturan
disertai gambaran fetus yang tidak ada tanda-tanda kehidupan.
o Bila missed abortion berlangsung lebih dari 4 minggu harus
diperhatikan kemungkinan terjadinya gangguan pembekuan darah
oleh karena hipofibrinogemia sehingga perlu diperiksa koagulasi
sebelum tindakan evakuasi dan kuretase.
Abortus Habitualis : abortus yang terjadi 3 kali berturut turut atau lebih
oleh sebab apapun. Penderita abortus habitualis pada umumnya tidak sulit
untuk hamil kembali, tetapi kehamilannya berakhir dengan keguguran

secara berturut-turut. Bishop melaporkan kejadian abortus habitualis


terjadi 0,41% dari seluruh kehamilan. 3
Penyebab paling sering pada abortus ini dahulu ditetapkan karena reaksi
immunologi yaitu TLX ( lymphocyte trophoblast cross reactive), tetapi
dekade belakangan ini diketahui penyebab yang tersering dijumpai adalah
inkompetensia serviks yaitu keadaan dimana serviks uterus tidak dapat
menerima beban untuk tetap bertahan menutup setelah kehamilan
melewati trimester pertama, di mana os serviks akan membuka tanpa
disertai tanda-tanda inpartu lainnya seperti perut tegang dan mules-mules,
akhirnya terjadi pengeluaran janin. Penyebab lain yang sering ditemukan
berupa kelainan anatomis, disfungsi tiroid, kesalahan korpus luteum,
kesalahan plasenta, yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan
progesteron sesudah korpus luteum atrofis. 3,4
Pemeriksaan :
o Histerosalfingografi, untuk mengetahui adanya mioma uterus
submukosa atau anomali congenital.
o BMR dan kadar jodium darah diukur untuk mengetahui apakah ada
atau tidak gangguan glandula thyroidea.
o Psiko analisis
Abortus Infeksious : suatu abortus yang telah disertai komplikasi berupa
infeksi genital. Diagnosis3,4:
o Adanya abortus : amenore, perdarahan, keluar jaringan yang telah
ditolong di luar rumah sakit.
o Pemeriksaan : Kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan,
perdarahan, dan sebagainya.

o Tanda tanda infeksi yakni kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,5
derajat

Celcius,

kenaikan

leukosit

dan

discharge

berbau

pervaginam, uterus besar dan lembek disertai nyeri tekan.


Septic Abortion : abortus infeksiosus berat disertai penyebaran kuman
atau toksin ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Diagnosis septic
abortion ditegakan jika didapatkan tanda tanda sepsis, seperti nadi cepat
dan lemah, syok dan penurunan kesadaran.3,4
2. Abortus Provokatus
Abortus Provokatus adalah abortus yang sengaja dibuat atau merupakan
suatu upaya yang disengaja, baik dilakukan oleh ibunya sendiri atau dibantu oleh
orang lain, untuk menghentikan proses kehamilan sebelum berumur 20 minggu,
dimana janin (hasil konsepsi) yang dikeluarkan tidak bisa bertahan hidup di dunia
luar. 4,5
Abortus provokatus dapat dibedakan menjadi:
Abortus provokatus Medisinalis/Therapeutikus
Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi
menyelamatkan nyawa Ibu. Syarat-syaratnya adalah4,5:
o Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan
kewenangan untuk melakukannya (yaitu seorang dokter kebidanan dan
penyakit kandungan) sesuai dengan tanggung jawab profesi.
o Mengkonsultasikan dengan sedikitnya dua orang ahli, yaitu ahli
obstetric/gynekologi dan ahli penyakit dalam atau ahli jantung yang
berpengalaman.
o Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama, hukum,
psikologi).

o Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau


keluarga terdekat.
o Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga/ peralatan yang
memadai, yang ditunjuk oleh pemerintah.
o Prosedur tidak dirahasiakan.
o Dokumen medik harus lengkap.
Abortus Provokatus Kriminalis
Abortus yang sengaja dilakukan dengan tanpa adanya indikasi
medik (ilegal) dan dilarang oleh hukum. Biasanya pengguguran dilakukan
dengan menggunakan alat-alat atau obat-obatan tertentu, atau dengan
kekerasan mekanik lokal.4,5
Kekerasan dapat dilakukan dari luar maupun dari dalam.
Kekerasan dari luar dapat dilakukan sendiri oleh si ibu atau oleh orang
lain,

seperti

melakukan

gerakan

fisik

berlebihan,

jatuh,

pemijatan/pengurutan perut bagian bawah, kekerasan langsung pada perut


atau uterus, pengaliran listrik pada serviks dan sebagainya. 4,5,6
Kekerasan dari dalam yaitu dengan melakukan manipulasi vagina
atau uterus. Manipulasi vagina dan serviks uteri, misalnya dengan
penyemprotan air sabun atau air panas pada porsio, aplikasi asam arsenik,
kalium permanganat pekat, atau jodium tinktur; pemasangan laminaria
stift atau kateter ke dalam serviks; atau manipulasi serviks dengan jari
tangan. Manipulasi uterus, dengan melakukan pemecahan selaput amnion
atau dengan penyuntikan ke dalam uterus. 4,5,6
Pemecahan selaput amnion dapat dilakukan dengan memasukkan
alat apa saja yang cukup panjang dan kecil melalui serviks. Penyuntikan
atau penyemprotan cairan biasanya dilakukan dengan menggunakan
Higginson tipe syringe, sedangkan cairannya adalah air sabun, desinfektan
9

atau air biasa/air panas. Penyemprotan ini dapat mengakibatkan emboli


udara. 4,5,6
Obat / zat tertentu Pernah dilaporkan penggunaan bahan tumbuhan
yang mengandung minyak eter tertentu yang dapat merangsang saluran
cerna hingga terjadi kolik abdomen, jamu perangsang kontraksi uterus dan
hormon wanita yang merangsang kontraksi uterus melalui hiperemi
mukosa uterus. Hasil yang dicapai sangat bergantung pada jumlah
(takaran), sensitivitas individu dankeadaan kandungannya (usia gestasi).
4,5,6

Bahan-bahan tadi ada yang biasa terdapat dalam jamu peluntur,


nanas muda, bubuk beras dicampur lada hitam, dan lain-lain. Ada juga
yang agak beracun seperti garam logam berat, laksans dan lain-lain; atau
bahan yang beracun, seperti strichnin, prostigmin, pilokarpin, dikumarol,
kina dan lain-lain. Kombinasi kina atau menolisin dengan ekstrak hipofisis
(oksitosin) ternyata sangat efektif. Akhir-akhir ini dikenal juga sitostatika
(aminopterin) sebagai abortivum. 4,5,6
IV.

METODE-METODE ABORSI DAN EFEK SAMPINGNYA

Trimester Pertama
Metode Penyedotan (Suction Curettage)
Pada 1-3 bulan pertama dalam kehidupan janin, aborsi dilakukan
dengan metode penyedotan. Teknik inilah yang paling banyak dilakukan
untuk kehamilan usia dini. Mesin penyedot bertenaga kuat dengan ujung
tajam dimasukkan ke dalam rahim lewat mulut rahim yang sengaja
dimekarkan. Penyedotan ini mengakibatkan tubuh bayi berantakan dan
menarik ari-ari (plasenta) dari dinding rahim. Hasil penyedotan berupa
darah, cairan ketuban, bagian-bagian plasenta dan tubuh janin terkumpul
dalam botol yang dihubungkan dengan alat penyedot ini. Ketelitian dan
kehati-hatian dalam menjalani metode ini sangat perlu dijaga guna
10

menghindari robeknya rahim akibat salah sedot yang dapat mengakibatkan


pendarahan hebat yang terkadang berakhir pada operasi pengangkatan
rahim. Peradangan dapat terjadi dengan mudahnya jika masih ada sisa-sisa
plasenta atau bagian dari janin yang tertinggal di dalam rahim. Hal inilah
yang paling sering terjadi yang dikenal dengan komplikasi paska-aborsi.7

Metode D&C - Dilatasi dan Kerokan


Dalam teknik ini, mulut rahim dibuka atau dimekarkan dengan
paksa untuk memasukkan pisau baja yang tajam. Bagian tubuh janin
dipotong berkeping-keping dan diangkat, sedangkan plasenta dikerok dari
dinding rahim. Darah yang hilang selama dilakukannya metode ini lebih
banyak dibandingkan dengan metode penyedotan. Begitu juga dengan
perobekan rahim dan radang paling sering terjadi. Metode ini tidak sama
dengan metode D&C yang dilakukan pada wanita-wanita dengan keluhan
penyakit rahim (seperti pendara
han rahim, tidak terjadinya menstruasi, dsb). Komplikasi yang sering terjadi
antara lain robeknya dinding rahim yang dapat menjurus hingga ke kandung
kencing. 7

Keterangan gambar:
Alat kuret dimasukkan ke dalam rahim untuk mulai mengerok janin, ari-ari, dan air
ketuban dari rahim.

PIL RU 486
11

Masyarakat menamakannya "Pil Aborsi Perancis". Teknik ini


menggunakan 2 hormon sintetik yaitu mifepristone dan misoprostol untuk
secara kimiawi menginduksi kehamilan usia 5-9 minggu. Di Amerika
Serikat, prosedur ini dijalani dengan pengawasan ketat dari klinik aborsi
yang mengharuskan kunjungan sedikitnya 3 kali ke klinik tersebut. Pada
kunjungan pertama, wanita hamil tersebut diperiksa dengan seksama. Jika
tidak ditemukan kontra-indikasi (seperti perokok berat, penyakit asma,
darah tinggi, kegemukan, dll) yang malah dapat mengakibatkan kematian
pada wanita hamil itu, maka ia diberikan pil RU 486. 7,8
Kerja RU 486 adalah untuk memblokir hormon progesteron yang
berfungsi vital untuk menjaga jalur nutrisi ke plasenta tetap lancar. Karena
pemblokiran ini, maka janin tidak mendapatkan makanannya lagi dan
menjadi kelaparan. Pada kunjungan kedua, yaitu 36-48 jam setelah
kunjungan pertama, wanita hamil ini diberikan suntikan hormon
prostaglandin, biasanya misoprostol, yang mengakibatkan terjadinya
kontraksi rahim dan membuat janin terlepas dari rahim. Kebanyakan
wanita mengeluarkan isi rahimnya itu dalam 4 jam saat menunggu di
klinik, tetapi 30% dari mereka mengalami hal ini di rumah, di tempat
kerja, di kendaraan umum, atau di tempat-tempat lainnya, ada juga yang
perlu menunggu hingga 5 hari kemudian. Kunjungan ketiga dilakukan
kira-kira 2 minggu setelah pengguguran kandungan, untuk mengetahui
apakah aborsi telah berlangsung. Jika belum, maka operasi perlu dilakukan
(5-10 persen dari seluruh kasus). Ada beberapa kasus serius dari
penggunaan RU 486, seperti aborsi yang tidak terjadi hingga 44 hari
kemudian, pendarahan hebat, pusing-pusing, muntah-muntah, rasa sakit
hingga kematian. Sedikitnya seorang wanita Perancis meninggal
sedangkan beberapa lainnya mengalami serangan jantung. Efek jangka
panjang dari RU 486 belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa alasan
yang

dapat

dipercaya

mengatakan

bahwa

RU

486

tidak

saja

mempengaruhi kehamilan yang sedang berlangsung, tetapi juga dapat

12

mempengaruhi kehamilan selanjutnya, yaitu kemungkinan keguguran


spontan dan cacat pada bayi yang dikandung. 7,8
Suntikan Methotrexate (MTX)
Prosedur dengan MTX sama dengan RU 486, hanya saja obat ini
disuntikkan ke dalam badan. MTX pada mulanya digunakan untuk
menekan pertumbuhan pesat sel-sel, seperti pada kasus kanker, dengan
menetralisir asam folat yang berguna untuk pemecahan sel. MTX ternyata
juga menekan pertumbuhan pesat trophoblastoid - selaput yang
menyelubungi embrio yang juga merupakan cikal bakal plasenta.
Trophoblastoid tidak saja berfungsi sebagai 'sistim penyanggah hidup'
untuk janin yang sedang berkembang, mengambil oksigen dan nutrisi dari
darah calon ibu serta membuang karbondioksida dan produk-produk
buangan lainnya, tetapi juga memproduksi hormon hCG (human chorionic
gonadotropin), yang memberikan tanda pada corpus luteum untuk terus
memproduksi hormon progesteron yang berguna untuk mencegah gagal
rahim dan keguguran. 7,8,9
MTX menghancurkan integrasi dari lingkungan yang menopang,
melindungi dan menyuburkan pertumbuhan janin, dan karena kekurangan
nutrisi, maka janin menjadi mati. 3-7 hari kemudian, tablet misoprostol
dimasukkan ke dalam kelamin wanita hamil itu untuk memicu terlepasnya
janin dari rahim. Terkadang, hal ini terjadi beberapa jam setelah masuknya
misoprostol, tetapi sering juga terjadi perlunya penambahan dosis
misoprostol. Hal ini membuat cara aborsi dengan menggunakan suntikan
MTX dapat berlangsung berminggu-minggu. Si wanita hamil itu akan
mendapatkan pendarahan selama berminggu-minggu (42 hari dalam
sebuah studi kasus), bahkan terjadi pendarahan hebat. Sedangkan janin
dapat gugur kapan saja - di rumah, di dalam bis umum, di tempat kerja, di
supermarket, dsb. Wanita yang kedapatan masih mengandung pada
kunjungan ke klinik aborsi selanjutnya, mau tak mau harus menjalani

13

operasi untuk mengeluarkan janin itu. Bahkan dokter-dokter yang bekerja


di klinik aborsi seringkali enggan untuk memberikan suntikan MTX
karena MTX sebenarnya adalah racun dan efek samping yang terjadi
terkadang tak dapat diprediksi. 7,8,9
Efek samping yang tercatat dalam studi kasus adalah sakit kepala,
rasa sakit, diare, penglihatan yang menjadi kabur, dan yang lebih serius
adalah depresi sumsum tulang belakang, kekuragan darah, kerusakan
fungsi hati, dan sakit paru-paru. Dalam bungkus MTX, pabrik pembuat
menuliskan peringatan keras bahwa MTX memang berguna untuk
pengobatan kanker, beberapa kasus artritis dan psoriasis, "kematian pernah
dilaporkan pada orang yang menggunakan MTX", dan pabrik itu
menyarankan agar hanya para dokter yang berpengalaman dan memiliki
pengetahuan tentang terapi antimetabolik saja yang boleh menggunakan
MTX. Meski para dokter aborsi yang menggunakan MTX menepis efekefek samping MTX dan mengatakan MTX dosis rendah baik untuk
digunakan dalam proses aborsi, dokter-dokter aborsi lainnya tidak setuju,
karena pada paket injeksi yang digunakan untuk aborsi juga tertera
peringatan bahaya racun walau MTX digunakan dalam dosis rendah. 7,8,9
Trimester Kedua
Metode Dilatasi dan Evakuasi
Metode ini digunakan untuk membuang janin hingga usia 24
minggu. Metode ini sejenis dengan D&C, hanya dalam D&E digunakan
tang penjepit (forsep) dengan ujung pisau tajam untuk merobek-robek
janin. Hal ini dilakukan berulang-ulang hingga seluruh tubuh janin
dikeluarkan dari rahim. Karena pada usia kehamilan ini tengkorak janin
sudah mengeras, maka tengkorak ini perlu dihancurkan supaya dapat
dikeluarkan dari rahim. Jika tidak berhati-hati dalam pengeluarannya,
potongan tulang-tulang yang runcing mungkin dapat menusuk dinding
rahim dan menimbulkan luka rahim. Pendarahan mungkin juga terjadi. Dr.
14

Warren Hern dari Boulder, Colorado, Amerika Serikat, seorang dokter


aborsi yang sering melakukan D&E mengatakan, hal ini sering membuat
masalah bagi karyawan klinik dan menimbulkan kekuatiran akan efek
D&E pada wanita yang menjalani aborsi. Dokter Hern juga melihat trauma
yang terjadi pada para dokter yang melakukan aborsi, ia mengatakan,
"tidak dapat disangkal lagi, penghancuran terjadi di depan mata kita
sendiri. Penghancuran janin lewat forsep itu seperti arus listrik." 7,8,9

Keterangan : Tang penjepit dan alat sedot tengah dimasukkan ke dalam rahim untuk
menghancurkan janin.

Metode Racun Garam (Saline)


Caranya ialah dengan meracuni air ketuban. Teknik ini digunakan
saat kandungan berusia 16 minggu, saat air ketuban sudah cukup
melingkupi janin. Jarum disuntikkan ke perut si wanita dan 50-250 ml
(kira-kira secangkir) air ketuban dikeluarkan, diganti dengan larutan
konsentrasi garam. Janin yang sudah mulai bernafas, menelan garam dan
teracuni. Larutan kimia ini juga membuat kulit janin terbakar dan
memburuk. Biasanya, setelah kira-kira satu jam, janin akan mati. Kira-kira
33-35 jam setelah suntikan larutan garam itu bekerja, si wanita hamil itu
akan melahirkan anak yang telah mati dengan kulit hitam karena terbakar.
Kira-kira 97% dari wanita yang memilih aborsi dengan cara ini melahirkan
anaknya 72 jam setelah suntikan diberikan. Suntikan larutan garam ini
juga memberikan efek samping pada wanita pemakainya yang disebut
"Konsumsi Koagulopati" (pembekuan darah yang tak terkendali diseluruh
15

tubuh), juga dapat menimbulkan pendarahan hebat dan efek samping


serius pada sistim syaraf sentral. Serangan jantung mendadak, koma, atau
kematian mungkin juga dihasilkan oleh suntikan saline lewat sistim
pembuluh darah.

Keterangan : Jarum suntik ditusuk hingga mencapai air ketuban. Jarum ini
kemudian menyedot dari sedikit air ketuban keluar, lalu diganti dengan
larutan racun garam.

Urea
Karena bahaya penggunaan saline, maka suntikan lain yang biasa
dipakai adalah hipersomolar urea, walau metode ini kurang efektif dan
biasanya harus dibarengi dengan asupan hormon oxytocin atau
prostaglandin agar dapat mencapai hasil maksimal. Gagal aborsi atau tidak
tuntasnya aborsi sering terjadi dalam menggunakan metode ini, sehingga
operasi pengangkatan janin dilakukan. Seperti teknik suntikan aborsi
lainnya, efek samping yang sering ditemui adalah pusing-pusing atau
muntah-muntah. Masalah umum dalam aborsi pada trimester kedua adalah
perlukaan rahim, yang berkisar dari perlukaan kecil hingga perobekan
rahim. Antara 1-2% dari pasien pengguna metode ini terkena
endometriosis/peradangan dinding rahim. 7,8,9

16

Prostaglandin
Prostaglandin merupakan hormon yang diproduksi secara alami
oleh tubuh dalam proses melahirkan. Injeksi dari konsentrasi buatan
hormon ini ke dalam air ketuban memaksa proses kelahiran berlangsung,
mengakibatkan janin keluar sebelum waktunya dan tidak mempunyai
kemungkinan untuk hidup sama sekali. Sering juga garam atau racun
lainnya diinjeksi terlebih dahulu ke cairan ketuban untuk memastikan
bahwa janin akan lahir dalam keadaan mati, karena tak jarang terjadi janin
lolos dari trauma melahirkan secara paksa ini dan keluar dalam keadaan
hidup. Efek samping penggunaan prostaglandin tiruan ini adalah bagian
dari ari-ari yang tertinggal karena tidak luruh dengan sempurna, trauma
rahim karena dipaksa melahirkan, infeksi, pendarahan, gagal pernafasan,
gagal jantung, perobekan rahim. 7,8
Partial Birth Abortion
Metode ini sama seperti melahirkan secara normal, karena janin
dikeluarkan lewat jalan lahir. Aborsi ini dilakukan pada wanita dengan
usia kehamilan 20-32 minggu, mungkin juga lebih tua dari itu. Dengan
bantuan alat USG, forsep (tang penjepit) dimasukkan ke dalam rahim, lalu
janin ditangkap dengan forsep itu. Tubuh janin ditarik keluar dari jalan
lahir (kecuali kepalanya). Pada saat ini, janin masih dalam keadaan hidup.
Lalu, gunting dimasukkan ke dalam jalan lahir untuk menusuk kepala bayi
itu agar terjadi lubang yang cukup besar. Setela itu, kateter penyedot
dimasukkan untuk menyedot keluar otak bayi. Kepala yang hancur lalu
dikeluarkan dari dalam rahim bersamaan dengan tubuh janin yang lebih
dahulu ditarik keluar. 7,8,9
Histerektomi (untuk kehamilan trimester kedua dan ketiga)
Sejenis dengan metode operasi caesar, metode ini digunakan jika
cairan kimia yang digunakan/disuntikkan tidak memberikan hasil
17

memuaskan. Sayatan dibuat di perut dan rahim. Bayi beserta ari-ari serta
cairan ketuban dikeluarkan. Terkadang, bayi dikeluarkan dalam keadaan
hidup, yang membuat satu pertanyaan bergulir: bagaimana, kapan dan
siapa yang membunuh bayi ini? Metode ini memiliki resiko tertinggi untuk
kesehatan wanita, karena ada kemungkinan terjadi perobekan rahim.
Dalam 2 tahun pertama legalisasi aborsi di kota New York, tercatat 271,2
kematian per 100.000 kasus aborsi dengan cara ini. 7,8,9
V.

KOMPLIKASI ABORSI
Komplikasi yang dapat terjadi karena aborsi adalah10 :
1. Perdarahan (hemorrhage)
2. Perforasi : sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuretase yang dilakukan oleh
tenaga yang tidak ahli seperti bidan dan dukun.
3. Infeksi dan tetanus
4. Gagal ginjal akut
5. Syok, pada abortus dapat disebabkan oleh:
i. Perdarahan yang banyak disebut syok hemoragik
ii. Infeksi berat atau sepsis disebut syok septik atau endoseptik
6. DIC (Disseminated Intravaskular Coagulation)
Komplikasi dari post abortus berkembang menjadi 3 bagian besar11 :
a) Evakuasi yang inkomplit dan atonia uterus yang menyebabkan komplikasi
perdarahan. Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa
sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian
karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada
waktunya.
b) Infeksi
18

Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang
merupakan flora normal. Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi
terbatas pada desidua. Pada abortus septik, virulensi bakteri tinggi dan
infeksi menyebar ke perimetrium tuba, parametrium dan peritonium.
c) Kerusakan organ-organ
VI.

PEMBUKTIAN KASUS ABORSI


Untuk dapat membuktikan apakah kematian seorang wanita itu merupakan

akibat dari tindakan abortus yang dilakukan atas dirinya, diperlukan petunjukpetunjuk12 :
1. Adanya kehamilan
2. Umur kehamilan, bila dipakai pengertian abortus menurut pengertian
medis
3. Adanya hubungan sebab akibat antara abortus dengan kematian
4. Adanya hubungan antara saat dilakukannya tindakan abortus dengan saat
kematian
5. Adanya barang bukti yang dipergunakan untuk melakukan abortus sesuai
dengan metode yang dipergunakan
6. Alasan atau motif untuk melakukan abortus itu sendiri
Pemeriksaan Korban Hidup
Pada pemeriksaan pada ibu yang diduga melakukan aborsi, usaha dokter
adalah mendapatkan tanda-tanda sisa kehamilan dan menentukan cara
pengguguran yang dilakukan. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan oleh Sp.OG. 12
Untuk menentukan tanda-tanda sisa kehamilan diusahakan melakukan
anamnesis secara teliti dan pemeriksaan fisik berupa adanya payudara yang
membesar dan pengeluaran ASI serta dijumpai adanya kolustrum pada
19

pemeriksaan laboratorium, Warna kehitaman disekitar payudara, uterus masih


membesar, dijumpai adanya striae, lochia dari vagina, dan perlukaan pada portio.
12

Untuk menentukan usaha penghentian kehamilan dilakukan pemeriksaan


toksikologi, pemeriksaan PA jaringan hasil aborsi atau sisa plasenta yang
tertinggal dirahim, luka, peradangan, bahan-bahan yang tidak lazim dalam liang
senggama, sisa bahan abortivum. Pada masa kini bila diperlukan dapat dilakukan
pemeriksaan DNA untuk pemastian hubungan ibu dan janin. 12
Pemeriksaan Korban Mati
Pemeriksaan dilakukan menyeluruh melalui pemeriksaan luar dan dalam
(autopsi). Pemeriksaan ditujukan pada12:
a) Menentukan perempuan tersebut dalam keadaan hamil atau tidak. Untuk ini
diperiksa :
Payudara secara makroskopis maupun mikroskopis
Ovarium, mencari adanya corpus luteum persisten secara mikroskopik
Uterus, lihat besarnya uterus, kemungkinan sisa janin dan secara
mikroskopik adanya sel-sel trofoblast dan sel-sel decidua
b) Mencari tanda-tanda cara abortus provokatus yang dilakukan
Mencari tanda-tanda kekerasan lokal seperti memar, luka, perdarahan
jalan lahir
Mencari tanda-tanda infeksi akibat pemakaian alat yang tidak steril.
Jika digunakan zat kimia secara lokal maka pada liang senggama atau
cavum uteri dapat ditemukan zat-zat tersebut.
Jika digunakan obat-obatan oral atau suntikan maka tentunya obatobatan tersebut akan dapat dilacak melalui pemeriksaan toksikologik.
20

c) Menentukan sebab kematian.


Dengan otopsi yang teliti disertai pemeriksaan penunjang maka dapat
diketahui penyebab kematiannya:
Vagal refleks : Komplikasi ini terjadi karena adanya rangsangan pada
permukaan sebelah dalam dari canalis servikalis. Kematian khas terjadi
di meja operasi.
Perdarahan : Terjadi karena robeknya vagina, serviks, atau uterus
sehingga menyebabkan perdarahan yang masif.
Emboli udara : Komplikasi ini sering terjadi pada aborsi dengan alat
semprot. Dimana udara ikut masuk ke dalam pembukuh darah dan
dapat menyebabkan emboli udara pada arteri coronaria atau arteri otak.
Kematian terjadi dalam waktu 10 menit. Jumlah udara yang mematikan
tergantung dari banyak faktor. Udara sebanyak 10 mililiter saja sudah
dapat menyebabkan kematian, tetapi pernah ada laporan bahwa
penderita dapat sembuh sesudah mengalami emboli sebanyak 100
mililiter.
Sepsis : Dapat terjadi karena alat-alat yang digunakan tidak steril,
uterus tidak bersih, dan robeknya usus besar.
VII.

ABORSI DIPANDANG DARI SEGI HUKUM

UU Kesehatan No 36 tahun 2009:


Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan
berdasarkan:
a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik
yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit
21

genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki
sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis
bagi korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah
melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan
konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan
berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan,
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a) Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama
haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b) Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang
memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c) Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d) Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e) Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh
Menteri.
Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu,
tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama
dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
22

Pada penjelasan UU Kesehatan pasal 77 dinyatakan sebagai berikut:


-

Yang dimaksud dengan praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan
tidak bertanggung jawab adalah aborsi yang dilakukan dengan paksaan
dan tanpa persetujuan perempuan yang bersangkutan, yang dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang tidak profesional, tanpa mengikuti standar profesi
dan

pelayanan

yang

berlaku, diskriminatif, atau lebih mengutamakan imbalan materi dari pada


indikasi medis.
-

Namun sayangnya didalam UU Kesehatan ini belum disinggung soal


masalah kehamilan akibat hubungan seks komersial yang menimpa
pekerja

seks

komersial

(3) Dalam peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini


dijabarkan antara lain mengenai keadaan darurat dalam menyelamatkan
jiwa ibu hamil atau janinnya, tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian
& kewenangan bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk.
Dalam KUHP terdapat pasal-pasal yang berkaitan dengan abortus yaitu
pasal 283, 299, 346,347,348, 349,535 KUHP.13
Pasal 283 KUHP
Barang siapa mempertunjukkan alat atau cara menggugurkan kandungan
kepada anak dibawah usia 17 tahun atau dibawah umur hukuman maksimum 9
bulan.
Pasal 299 KUHP
(1)

Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh

supaya diobati dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena


pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling
lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat puluh lima ribu rupiah.

23

(2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau
menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia
seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
(3)

Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan

pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.


Pasal 346 KUHP
Seorang

wanita

dengan

sengaja

menggugurkan

atau

mematikan

kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun.
Pasal 347 KUHP
(1) Barang siapa dngan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama
empat tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 348 KUHP
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan
seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling
lama lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut, diancam dengan
pidana penjara paling lima tujuh tahun.
Pasal 349 KUHP
Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu
kejahatan yang diterapkan dalam Pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan

24

dalam pasal itu dapat dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak
untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.
Pasal 535 KUHP
Barang

siapa

mempertunjukkan

secara

terbuka

alat

atau

cara

menggugurkan kandungan, hukuman maksimum 3 bulan.


Dari Pasal 346, 347 dan 348 KHUP, jelas bahwa undang-undang tidak
mempersoalkan masalah umur kehamilan atau berat badan dari fetus yang keluar.
Sedangkan pasal 349 dan 299 KUHP memuat ancaman hukuman untuk orangorang tertentu yang mempunyai profesi atau pekerjaan tertentu bila mereka turut
membantu atau melakukan kejahatan seperti yang dimaksud ke tiga pasal tersebut.
Yang dapat dikenakan hukuman adalah tindakan menggugurkan atau
mematikan kandungan yang termasuk tindakan pidana sesuai dengan pasal-pasal
pada KUHP (abortus kriminalis). Sedangkan tindakan yang serupa demi
keselamatn ibu yang dapat dipertanggung jawabkan secara medis (abortus
medicinalis atau abortus therapeuticus), tidaklah dapat dihukum walaupun pada
kenyataan dokter dapat melakukan abortus medisinalis, itu diperiksa oleh
penyidik dan dilanjutkan dengan pemeriksaan di pengadilan.13
Pemeriksaan oleh penyidik atau hakim di pengadilan bertujuan untuk
mencari bukti-bukti akan kebenaran bahwa pada kasus tersebut memang murni
tidak ada unsur kriminalnya, semata-mata untuk keselamatan jiwa ibu. Perlu
diingat bahwa hanya Hakimlah yang berhak memutuskan apakah seseorang itu
(dokter) bersalah atau tidak bersalah. 13
UU HAM
pasal 53
ayat 1 : Setiap anak sejak dalam kandungan berhak untuk hidup, mempertahankan
hidup & meningkatkan taraf kehidupannya.

25

VIII. ABORSI DIPANDANG DARI SEGI ETIKA DAN AGAMA


Aspek Etika Profesi Kedokteran
-

Pasal 7d: Setiap dokter harus senantiasa mengingatkan kewajiban


melindungi hidup makhluk insani. Pada pelaksanaannya, apabila ada
dokter yang melakukan pelanggaran, maka penegakan implementasi etik
akan dilakukan secara berjenjang dimulai dari panitia etik di masingmasing RS hingga Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK).14

Aspek Agama
Pandangan agama islam tentang aborsi adalah sebagai berikut :
Tidak ada satupun ayat didalam Al-Quran yang menyatakan bahwa aborsi
boleh dilakukan oleh umat Islam. Sebaliknya, banyak sekali ayat-ayat yang
menyatakan bahwa janin dalam kandungan sangat mulia. Dan banyak ayat-ayat
yang menyatakan bahwa hukuman bagi orang-orang yang membunuh sesama
manusia adalah sangat mengerikan.15
1. Pertama: Manusia berapapun kecilnya adalah ciptaan Allah yang mulia.
Agama Islam sangat menjunjung tinggi kesucian kehidupan. Banyak sekali
ayat-ayat dalam Al-Quran yang bersaksi akan hal ini. Salah satunya, Allah
berfirman: Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan umat manusia.(QS
17:70)
2. Kedua: Membunuh satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua
orang. Menyelamatkan satu nyawa sama artinya dengan menyelamatkan
semua orang.
Didalam agama Islam, setiap tingkah laku kita terhadap nyawa orang lain,
memiliki dampak yang sangat besar. Firman Allah: Barang siapa yang
membunuh seorang manusia, bukan karena sebab-sebab yang mewajibkan
hukum qishash, atau bukan karena kerusuhan di muka bumi, maka seakanakan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang
26

memelihara keselamatan nyawa seorang manusia, maka seolah-olah dia


telah memelihara keselamatan nyawa manusia semuanya. (QS 5:32)
3. Ketiga: Umat Islam dilarang melakukan aborsi dengan alasan tidak
memiliki uang yang cukup atau takut akan kekurangan uang.
Banyak calon ibu yang masih muda beralasan bahwa karena penghasilannya
masih belum stabil atau tabungannya belum memadai, kemudian ia
merencanakan untuk menggugurkan kandungannya. Alangkah salah
pemikirannya. Ayat Al-Quran mengingatkan akan firman Allah yang
bunyinya: Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut
melarat. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga.
Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar. (QS 17:31)
4. Keempat: Aborsi adalah membunuh. Membunuh berarti melawan terhadap
perintah Allah.
Membunuh berarti melakukan tindakan kriminal. Jenis aborsi yang
dilakukan dengan tujuan menghentikan kehidupan bayi dalam kandungan
tanpa alasan medis dikenal dengan istilah abortus provokatus kriminalis
yang merupakan tindakan kriminal tindakan yang melawan Allah. AlQuran menyatakan: Adapun hukuman terhadap orang-orang yang berbuat
keonaran terhadap Allah dan RasulNya dan membuat bencana kerusuhan di
muka bumi ialah: dihukum mati, atau disalib, atau dipotong tangan dan
kakinya secara bersilang, atau diasingkan dari masyarakatnya. Hukuman
yang demikian itu sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia dan di
akhirat mereka mendapat siksaan yang pedih. (QS 5:36)
5. Kelima: Sejak kita masih berupa janin, Allah sudah mengenal kita.
Sejak kita masih sangat kecil dalam kandungan ibu, Allah sudah mengenal
kita. Al-Quran menyatakan:Dia lebih mengetahui keadaanmu, sejak mulai
diciptakaNya unsur tanah dan sejak kamu masih dalam kandungan

27

ibumu.(QS: 53:32) Jadi, setiap janin telah dikenal Allah, dan janin yang
dikenal Allah itulah yang dibunuh dalam proses aborsi.
6. Keenam: Tidak ada kehamilan yang merupakan kecelakaan atau
kebetulan. Setiap janin yang terbentuk adalah merupakan rencana Allah.
Allah menciptakan manusia dari tanah, kemudian menjadi segumpal darah
dan menjadi janin. Semua ini tidak terjadi secara kebetulan. Al-Quran
mencatat firman Allah: Selanjutnya Kami dudukan janin itu dalam rahim
menurut kehendak Kami selama umur kandungan. Kemudian kami
keluarkan kamu dari rahim ibumu sebagai bayi. (QS 22:5) Dalam ayat ini
malah ditekankan akan pentingnya janin dibiarkan hidup selama umur
kandungan. Tidak ada ayat yang mengatakan untuk mengeluarkan janin
sebelum umur kandungan apalagi membunuh janin secara paksa.
7. Ketujuh: Nabi Muhammad SAW tidak pernah menganjurkan aborsi. Bahkan
dalam kasus hamil diluar nikah sekalipun, Nabi sangat menjunjung tinggi
kehidupan.
Hamil diluar nikah berarti hasil perbuatan zinah. Hukum Islam sangat tegas
terhadap para pelaku zinah. Akan tetapi Nabi Muhammad SAW seperti
dikisahkan dalam Kitab Al-Hudud tidak memerintahkan seorang wanita
yang hamil diluar nikah untuk menggugurkan kandungannya: Datanglah
kepadanya

(Nabi

yang

suci)

seorang

wanita

dari

Ghamid

dan

berkata,Utusan Allah, aku telah berzina, sucikanlah aku.. Dia (Nabi yang
suci) menampiknya. Esok harinya dia berkata,Utusan Allah, mengapa
engkau menampikku? Mungkin engkau menampikku seperti engkau
menampik Mais. Demi Allah, aku telah hamil. Nabi berkata,Baiklah jika
kamu bersikeras, maka pergilah sampai anak itu lahir. Ketika wanita itu
melahirkan datang bersama anaknya (terbungkus) kain buruk dan
berkata,Inilah anak yang kulahirkan. Jadi, hadis ini menceritakan bahwa
walaupun kehamilan itu terjadi karena zina (diluar nikah) tetap janin itu
harus dipertahankan sampai waktunya tiba. Bukan dibunuh secara keji.
28

IX.

KESIMPULAN
Banyak orang yang melakukan aborsi dengan alasan-alasan tertentu.

Sebagian besar orang yang melakukan abortus adalah karena alasan kesehatan,
ekonomi, sosial. Melakukan aborsi apapun alasannya mengandung suatu
persoalan yang mengancam keselamatan dan kesehatan ibu, yang lebih parah
adalah resiko gangguan psikologis.
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi
kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki
dampak yang sangat

hebat terhadap keadaan mental seorang wanita. Semua

agama sangat tidak berkenan atas pembunuhan seperti yang dilakukan dalam
tindakan aborsi, karena ini adalah kejahatan yang terbesar. Hidup manusia dari
dalam kandungan itu layak untuk mendapatkan segala usaha untuk memastikan
kelahirannya. Kelahiran seorang bayi adalah anugerah yang teramat luar biasa dari
Allah. Aborsi menjadi fenomena dan problem sosial yang telah menjadi budaya di
masyarakat. Aborsi hukumnya haram dan merupakan tindakan kriminal atau
jarimah,kecuali dalam kondisi darurat/indikasi medis, walaupun aborsi dilarang
secara undang-undag tap banyak yang melakukan secara sembunyi-sembunyi.

29

DAFTAR PUSTAKA
1. Abdul Munim Idries. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik (Edisi
Pertama). Jakarta. Binarupa Aksara
2. Chadha, PV. Abortus dalam Catatan Kuliah Ilmu Forensik dan
Toksikologik. 1995. Jakarta : Widya Medika. 91 9.
3. Prawirohardjo, Sarwono. 2002.Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
4. Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, 246.
5. Varney, Helen, dkk. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC, 604605.
6. Walsh, Linda V. 2008. Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC, 447449.
7. Kontroversi

Seputar

Aborsi,

available

at

http

://www.kesrepro.info.gendervaw/Mei/ 2003/gendervaw 02. htm, accessed on


may 7, 2016
8. Pradono, Julianty et al. Pengguguran yang Tidak Aman di Indonesia, SDKI
1997. Jurnal Epidemiologi Indonesia. Volume 5 Edisi I-2001. hal. 1419Adami Chazawi. 2002. Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa. Jakarta.
Raja Grafindo Persada

30

9. World Health Organization.Unsafe Abortion: Global and Regional Estimates


of Incidence of and Mortality due to Unsafe Abortion with a Listing of
Available Country Data. Third Edition. Geneva: Division of Reproductive
Health (Technical Support) WHO, 1998.
10. Cunningham, Gary, F. dkk. 2006. Obstetri Williams Vol. 2. Jakarta: EGC,
951-964.
11. Wiknjosastro, Hanifa. Gangguan Bersangkutan dengan Konsepsi dalam Ilmu
Kandungan. Edisi kedua. 1999. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiohardjo. 246 9
12. Apuranto, H dan Hoediyanto. 2006. Ilmu Kedokteran Forensik Dan
Medikolegal. Surabaya: Bag. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
Fakultas Kedokteran UNAIR
13. Hamzah, Andi, Dr.SH., 1984, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Ghalia
Indonesia, Jakarta.
14. Hanafiah, M. Yusuf., Prof.Dr.SPOG & Amri Amir, Dr.SpF., 1999, Etika
Kedokteran &Hukum Kesehatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
15. Abbas Syauman. 2004. Hukum Aborsi Dalam Islam. Jakarta. Cendekia Sentra
Muslim
.

31

Anda mungkin juga menyukai