Anda di halaman 1dari 22

star | unhas

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam karena atas pertolongan-Nya
penulis mampu menyelesaikan makalah Revenue and Expenditure
Forecasting ini. Penulisan makalah ini dilaksanakan dalam rangka
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Seminar Akuntansi pada Jurusan
Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanuddin. Di
samping itu, penulis berharap makalah ini dapat memberikan tambahan
wawasan bagi mahasiswa STAR BPKP Universitas Hasanuddin Tahun 2015
khususnya dan bagi seluruh pembaca pada umumnya.
Selanjutnya penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Dr. Aini
Indriyawati, S.E., M.Si., Ak., C.A. selaku dosen mata kuliah Akuntansi
Manajemen Sektor Publik yang telah memberikan bimbingan dan arahan
dalam penulisan makalah ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan
kepada teman-teman kelas A STAR BPKP tahun 2015 dan seluruh pihak
yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam
penyusunan makalah ini. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran dari segenap pembaca untuk kesempurnaan makalah ini.

Makassar,
2016

Penulis

April

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................ii
DAFTAR ISI............................................................................................................... iii
BAB I.......................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN........................................................................................................1
1.1.

Latar Belakang.............................................................................................1

1.2.

Rumusan Masalah........................................................................................2

1.3.

Tujuan Penulisan..........................................................................................2

BAB II......................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN.......................................................................................................... 3
2.1.

Pengertian Prediksi......................................................................................3

2.2.

Pendekatan Penganggaran..........................................................................3

2.3.

Alasan Melaksanakan Prediksi.....................................................................4

2.4.

Jenis-jenis Pendapatan yang Diprediksi.......................................................5

2.5.

Jenis-jenis Belanja yang Diprediksi..............................................................6

2.6.

Tahapan Prediksi..........................................................................................7

2.7.

Metode Prediksi Kualitatif dan Judgement..................................................10

2.8.

Pedoman Pelaksanaan Prediksi Pendapatan dan Pengeluaran.................11

2.9

Pelaksanaan Forecasting di Indonesia.......................................................12

BAB III...................................................................................................................... 16
PENUTUP................................................................................................................ 16
3.1.

Simpulan....................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................17

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Bagi perusahaan yang terus bertumbuh, tentu saja harus diikuti


dengan perlunya tambahan investasi di berbagai bidang supaya
perusahaan semakin maju dan berkembang. Dalam investasi
diperlukan tambahan modal untuk tambahan kas yang nantinya
akan diinvestasikan dalam piutang, persediaan ataupun aktiva
tetap. Tambahan modal ini akan mengakibatkan adanya kewajiban
untuk membayar kembali dengan disertai imbalan jasa yang harus
dibayar kepada pemilik modal.
Setiap kegiatan untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan
seharusnya diikuti dengan perencanaan yang matang serta kerja
keras untuk merealisasikannya. Dalam perencanaan akan disusun
hal-hal apa saja yang akan dilakukan ke depan. Perencanaan yang
menghasilkan rencana, yang merupakan pedoman bagi manajemen
untuk melaksanakan kegiatannya.
Division of Local Services of MA Department of Revenue (2016: 1)
menyebutkan bahwa proyeksi pendapatan dan belanja merupakan
sebuah

sarana

manajemen

dan

penyusunan

kebijakan

yang

memungkinkan pemerintah untuk mengevaluasi pengaruh dari


kebijakan yang dibuatnya. Di samping itu, prediksi pendapatan dan
belanja dapat berfungsi sebagai early warning system

untuk

mendeteksi kesenjangan antara pendapatan dan belanja di masa


yang akan datang. Meskipun tidak dapat menangkal seluruh risiko
yang ada, prediksi tersebut akan mampu mendeteksi secara dini
permasalahan-permasalahan

yang

mungkin

timbul

sehingga

manajemen memiliki waktu yang cukup untuk melakukan tindakan


perbaikan.
Oleh karena pentingnya peran prediksi pendapatan dan belanja
tersebut, dalam
komprehensif.

makalah ini
Pembahasan

penulis akan membahasnya secara


akan

diawali

dengan

pengertian
4

prediksi. Pembahasan berikutnya adalah latar belakang timbulnya


prediksi

pendapatan

pendekatan

dan

penganggaran

belanja,
tradisional

yaitu

kelemahan

yang

memicu

pada

lahirnya

pendekatan perencanaan tahun jamak. Pembahasan dilanjutkan


dengan alasan dibutuhkannya prediksi pendapatan dan belanja
dalam

penganggaran

tahun

jamak

tersebut.

Pembahasan

selanjutnya dalam makalah ini meliputi kegiatan teknis pelaksanaan


prediksi pendapatan dan belanja yang diakhir dengan pedoman
dalam pelaksanaan prediksi yang efektif.
1.2.

Rumusan Masalah

Tulisan ini disusun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai


berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan prediksi?
2. Mengapa prediksi pendapatan dan belanja perlu dilaksanakan?
3. Apa sajakah tahap-tahap

yang harus dilaksanakan dalam

prediksi pendapatan dan belanja?


1.3.

Tujuan Penulisan

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan


1. alasan dilaksanakannya pelaksanaan prediksi pendapatan dan
belanja dan
2. tahap-tahap

yang

harus

dilaksanakan

dalam

memprediksi

pendapatan dan belanja.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Pengertian Prediksi

Prediksi adalah bagian yang merupakan satu kesatuan dari proses


perencanaan. Sedangkan, keakuratan dalam proyeksi adalah sesuatu yang
sukar untuk dipertanggung jawabkan, karenanya perencanaan dapat
memberikan manfaat yang terbesar saat masa yang akan datang sama sekali
tidak pasti. Prediksi dapat diartikan sebagai memperkirakan kondisi yang
akan terjadi di masa yang akan datang. Memperkirakan artinya menetapkan
hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dasar untuk
memperkirakan kondisi ke depan dapat kita gunakan data masa lalu, makin
banyak data masa lalu akan makin baik dan faktor yang mempengaruhi di
masa yang akan datang. Kegunaan data masa lalu akan menggambarkan
tren masa lalu, misal tren penjualan 5 atau 10 tahun terakhir. Berdasarkan
kecenderungan ini kita dapat melihat mengapa penjualan meningkat, tetap
atau turun. Alhasil berdasarkan data dan informasi masa lalu ini kita dapat
meramalkan bagaimana tren penjualan ke dapan berdasarkan pendapat para
ahli-ahli ekonomi.
2.2.
2.2.1.

Pendekatan Penganggaran
Pendekatan tradisional

Ketchen (2015: 4) menyatakan bahwa pendekatan penganggaran


tradisional adalah pendekatan penganggaran yang memiliki ciri-ciri
sebagai berikut.
1. Penganggaran hanya berfokus pada satu tahun ke depan.
2. Item-item dalam anggaran berubah secara inkremental tahun
demi tahun.
3. Tingkat

pelayanan

yang

dihasilkan

seringkali

harus

menyesuaikan dangan tingkat anggaran dan pembiayaan yang


tersedia atau bahkan harus terjadi pemotongan pembiayaan.
Pendekatan penganggaran semacam ini seringkali dikritisi sebagai
berikut.
1. Anggaran tidak mempertimbangkan hubungan jangka panjang
dari pendapatan dan belanja.
3

2. Surplus/defisit anggaran bersifat sangat fluktuatif, yaitu surplus


dalam satu tahun anggaran tertentu dapat langsung diikuti
dengan defisit pada tahun berikutnya.
Mardiasmo

(2002)

menyatakan

kelemahan-kelemahan

penganggaran dengan pendekatan tradisional adalah sebagai


berikut:
1. Hubungan yang tidak memadai (terputus) antara anggaran
tahunan dengan rencana pembangunan jangka panjang
2. Pendekatan incremental menyebabkan sejumlah besar
pengeluaran

tidak

pernah

diteliti

secara

menyeluruh

efektivitasnya,
3. Lebih berorientasi pada input daripada output
4. Sekat-sekat antar departemen yang kaku membuat tujuan
nasional secara keseluruhan sulit sicapai.
5. Proses anggaran terpisah untuk pengeluaran rutin dan
pengeluaran modal/investasi
6. Anggaran tradisional bersifat tahunan
7. Sentralisasi penyiapan anggaran, ditambah dengan informasi
yang tidak memadai menyebabkan lemahnya perencanaan
anggaran. Sebagai akibatnya muncul budget padding atau
budgetary slack
8. persetujuan anggaran

yang

terlambat

sehingga

gagal

memberikan mekanisme pengendalian untuk pengeluaran


yang sesuai seperti seringnya dilakukan revisi anggaran dan
manipulasi anggaran
9. aliran informasi (sistem

informasi

finansial)yang

tidak

memadai yang menjadi dasar mekanisme pengendalian rutin,


2.2.2.

mengidentifikasi masalah dan itndakan.


Pendekatan perencanaan tahun jamak

Kelemahan-kelemahan dalam pendekatan penganggaran tradisional


tersebut telah memicu munculnya pendekatan penganggaran baru,
yaitu pendekatan perenacanaan tahun jamak. Ketchen (2015: 6)
menjelaskan

bahwa

perencanaan

tahun

jamak

memiliki

karakteristik sebagai berikut.


1. Penganggaran

berfokus

untuk

mencari

solusi

atas

defisit

anggaran yang teridentifikasi dalam proses prediksi.


2. Penganggaran berfokus pada departemen dan program (bukan
line item).

3. Penganggaran berfokus untuk memprediksi pembiayaan yang


dibutuhkan

untuk

mencapai

tingkat

pelayanan

yang

direncanakan.
2.3.

Alasan Melaksanakan Prediksi

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa prediksi pendapatan


dan

belanja

pendekatan

merupakan
perencanaan

menjelaskan

bahwa

karakteristik
tahun

alasan

yang

jamak.

melekat

Ketchen

dilaksanakannya

pada

(2015:

prediksi

7)

dalam

pendekatan perencanaan tahun jamak adalah sebagai berikut.


1. Untuk mengelola harapan mengenai kondisi di masa yang akan
datang dan memperoleh kesepakatan mengenai asumsi-asumsi
yang digunakan dalam penganggaran.
2. Untuk mendorong terwujudnya stabilitas fiskal/memungkinkan
adanya tindakan korektif.
3. Untuk mengkuantifikasi pengaruh keuangan dari kebijakan
pemerintah.
2.4.

Jenis-jenis Pendapatan yang Diprediksi

Meramalkan pendapatan berupaya untuk memperkirakan aliran


masuk pendapatan dari sumber-sumber berikut :
1. Pendapatan pajak yang diidentifikasi dari kapasitas kena pajak
dari berbagai sektor yang diagregasi ke level nasional termasuk
fees dan perijinan.
2. Penjualan oleh lembaga sektor dari kegiatan usaha produktif.
3. Transfer antar pemerintah yang diterima sektor dari national
pool.
4. Sektor

pendanaan

dari

sumber

internasional,

termasuk

dukungan dari earmarked donor, dan pinjaman serta hibah


lainnya.
5. Pendanaan

berupa

transfer

dari

sektor

industri

secara

tersembunyi dan off-budget, dimana aktivitas sektor keuangan


dan institusi yang menguntungkan pemerintah, seperti sekolah,
klinik, perpustakaan dan yang lainnya.
Perkiraan pendapatan dapat diterapkan pada total keseluruhan
pendapatan atau satu sumber pendapatan seperti pendapatan
pajak penjualan atau pajak properti. Metode ramalan berupaya
untuk menentukan dan mengidentifikasi hubungan substantif dan
5

numerik antara faktor-faktor yang menentukan kapasitas kena


pajak dan jumlah pendapatan yang sebenarnya diterima.
1. Faktor-faktor

yang

menentukan

kapasitas

kena

pajak

didefinisikan dalam bentuk :


a. Tambahan nilai kapasitas produktif oleh sektor industri.
b. Tarif pajak termasuk pajak pertambahan nilai.
c. User fees dan baya izin yang dikeluarkan.
d. Tarif draw-down dari penjulan perusahaan bisnis yang dimiliki
pemerintah.
2. Jumlah

sebenarnya

dari

pendapatan

yang

dikumpulkan

pemerintah dalam bentuk :


a. Pajak pendapatan dan keuntungan.
b. Pajak domestik atas barang dan jasa.
c. Pajak properti.
d. Pajak-pajak lainnya.
e. Draw-downs penjualan dari perusahaan bisnis yang dimiliki
pemerintah.
2.5.

Jenis-jenis Belanja yang Diprediksi

Ramalan

pengeluaran

diterapkan

untuk

total

keseluruhan

pengeluaran atau belanja satu jenis kategori belanja . Metode


ramlaan

berusaha

untuk

menentukan

dan

mengidentifikasi

hubungan substantif dan numerik yang menentukan program


belanja pemerintah sebagaimana diklasifikasikan dalam COFOG.
Dalam setiap kategori COFOG, ramalan pengeluaran berupaya
untuk memperkirakan arus keluar dari :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.
8.

Intermediate consumption.
Kompensasi pekerja.
Insentif pajak dan allowance pada produksi dan impor.
Subsidi.
Insentif pajak dan allowance, berupa :
a. pendapatan properti.
b. Pendapatan dan kemakmuran.
Manfaat sosial selain jenis transfer sosial.
a. Pensiun.
b. Unemployment bnefit.
c. Long-term care bnefit.
d. Family bnefit.
b. Benefit n. e. c.
Transfer sosial.
Transfer lancar lainnya.
a. Kepada rumah tangga
b. To CARICOM, etc. ; ke OECS
6

c. Transfer lancar n.e.c.


Transfer modal.
a. Paket dukungan kepada bank.
b. Transfer modal.
Gross Capital Formation.
a. Infrastruktur umum untuk mendukung perusahaan.
b. Jasa umum lainnya.
c. Kesehatan.
d. Pendidikan.
e. Penelitian dan pengembangan.
f. Road transport and utilities.
g. Keamanan nasional.
h. Depresiasi dan perawatan.

9.
10.

11.

Pengeluaran tak terduga.

2.6.

Tahapan Prediksi

2.6.1.

Tahap 1: Pemilihan periode prediksi

Langkah ini melibatkan pemilihan periode dimana data anggaran


diperiksa , yang tergantung pada :
1. Ketersediaan dan kualitas data.
2. Jenis (dan keberlangsungan) pendapatan dan pengeluaran yang
diramal.
3. Tingkat akurasi yang diinginkan.
Terdapat banyak jangka waktu yang tepat di mana perkiraan harus
disiapkan. Utamanya tergantung pada siapa yang

meramal dan

apa yang diramal. Pemerintah pusat mungkin melihat perkiraan


untuk satu tahun ke depan untuk meramalkan pendapatan atau
pengeluaran kotor. Sedangkan untuk berinvestasi dengan tepat,
manajer PLN, Departemen Pendidikan dan Departemen Kesehatan
harus melihat 20 tahun ke depan untuk meramalkan permintaan
dan dengan demikian juga harus memperkirakan pendapatan dan
pengeluaran di pada rentang waktu tersebut
2.6.2.

Tahap 2: Pemeriksaan data-data untuk analisis

Langkah ini melibatkan pemeriksaan data untuk simetri , seperti


tren dan tingkat perubahan. Di sini , perhatian utama adalah untuk
mengidentifikasi bukti atas :
1. Stabilitas.
2. Quadratic path.
3. Structural break dan variasi musiman atau siklus.
7

Prediktabilitas kategori anggaran harus dinilai, sesuai dengan bukti


pada tren. Hal ini didasarkan pada karakteristik kategori, seperti :
1. Struktur tarif pengumpulan pendapatan yang disetujui.
2. Level permintaan dan perubahan tarif permintaan pendapatan
dari sumber yang relevan.
3. Variasi musiman dan siklus atas pengeluaran yang berjumlah
signifikan.
2.6.3.

Tahap 3: Menetapkan asumsi-asumsi

Kebijakan ekonomi pemerintah dipengaruhi oleh desakan sosial dan


politik. Dengan demikian prediksi memerlukan proses dan asumsi
eksplisit. Langkah ini melibatkan adopsi asumsi yang dapat
diterapkan
metode

tentang sumber pendapatan

yang

digunakan,

termasuk

yang mempengaruhi

bagaimana

pendapatan

dipengaruhi oleh :
1. Perubahan kondisi ekonomi.
2. Perubahan jumlah populasi dan permintaan masyarakat.
3. Perubahan kebijakan pemerintah.
4. Perubahan prosedur administratif.
2.6.4.

Tahap 4: Pemilihan metode prediksi

Tahap ini melibatkan pemilihan dan penerapan yang sebenarnya


atas metode-metode perkiraan atau peramalan pengumpulan
pendapatan

di

tahun-tahun

mendatang.

Metode

yang

dipilih

tergantung dari sifat dan jenis dari pendapatan.


1. Metode kualitaif dan bergantung pada pertimbangan diperlukan
untuk sumber pendapatan yang sangat tidak pasti, termasuk :
a. Sumber penerimaan baru;
b. Hibah;
c. Penjualan aset dan penjualan dari aktivitas bisnis yang
dimiliki pemerintah.
2. Metode kuantitatif diperlukan pda pendapatan bedasarkan
kepastian yang lebih tinggi, seperti :
a. Pendapatan dari keuntungan.
b. Pendapatan dari kebiasaan, seperti

pajak dari penjualan

akohol dan rokok.


3. Jika ragu, metode yang dipilih harus yang paling sederhana dari
pilihan yang tersedia, yang merupakan sumbjek evaluasi pada
tahap 5 dan 6 di bawah ini.

Setelah pemilihan metode, kemudian metode diterapkan untuk


mendapatkan estimasi. Lebih dari satu metode dapat diterapkan
kemudian hasilnya dirata-ratakan.
2.6.5.

Tahap 5: Evaluasi atas estimasi yang telah dibuat

Pada langkah ini, evaluasi terhadap estimasi dilakukan untuk


memastikan keandalan dan validitas.
1. Evaluasi atas validitas memerlukan validasi asumsi tentang
sumber pendapatan. Perkiraan yang valid memerlukan asumsi
yang baik atas lingkungan yang ada.
a. Ekonomi
b. Populasi (permintaan)
c. Administratif.
d. Politik.
2. Evaluasi reliabilitas berdasarkan pada sensitifitas analisis. Hal ini
melibatkan :
a. Berbagai parameter kunci yang digunakan untuk membuat
perkiraan.
b. Menilai,

jika

perubahan

kecil

atas

parameter

menghasilkan

perubahan yang besar/kecil pada perkiraan. Jika perubahan asumsi


besar,

proyeksi

diberi

tingkat

reliabilitas

yang

rendah

dan

sebaliknya.
2.6.6.

Tahap 6: Pemantauan hasil dan pembandingan dengan

prediksi
Pengumpulan

pendapatan

yang

sebenarnya

diamati

dan

dibandingkan dengan perkiraan. Tingkat deviasi atau eror diukur


dan digunakan untuk

menilai akurasi dari ramalan. Ramalah

haruslah tidak bias dalam arti perkiraan tingkat deviasi aktual dan
ramalan harus nol. Frankel (2011) menyatakan bias sangat umum
pada

ramalan

pemerintah.

Tingkat

akurasi

adalah

ukuran

kemungkinan bahwa akan terdapat pendapatan, sehingga terdapat


defisit dan surplus anggaran. Pada sudut pandang tersebut, akurasi
ramalan

berarti,

kesalahan

ramalan

yang

sebenarnya

harus

diminimalkan sampai tingkat yang seminimal mungkin. Tim harus


mengerti bahwa akurasi ramalan terkait dengan langkah nomor
dua. Kesalahan peramalan akan cenderung tinggi jika data tidak
stabil dan cenderung rendah ketika data stabil. Pola data yang tidak
stabil muncul dekat dengan titik balik dari musim/siklus ekonomi,
9

yaitu ketika ekonomi berada pada simpang terjauh dari trennya.


Pola data yang stabil akan dapat diamati ketika pertumbuhan
ekonomi mendekati tennya.
2.6.7.

10

2.6.8.

Tahap 7: Pemutakhiran prediksi

Pada tahap ini, ramalan harus dimutakhirkan jika asumsi harus


dirubah. Khususnya ketika kondisi ekonomi berubah yang terkait
dengan :
1. Dorongan ekonomi.
2. Populasi (permintaan).
3. Pengaturan administrative.
4. Perkembangan politik.
2.7.

Metode Prediksi Kualitatif dan Judgement

Metode

prediksi

kualitatif

didasarkan

pada

judgement

atau

perkiraan tentang tren pendapatan yang dapat diharapkan dari


masing-masing kategori. Judgement tersebut dapat disediakan oleh
para ahli atau dari kesepakatan diantara kepentingan stakeholders
yang terlibat dalam beberapa bagian yang terlibat dengan sumber
daya pajak dan dapat membuat penilaian yang masuk akal
terhadap apa yang akan terjadi di masa depan. Metode ini lebih
tepat diterapkan dalam dua kondisi sebagai berikut:
1. Data yang dapat diaplikasikan sangat terbatas
2. Adanya perubahan yang cepat terkait dengan lingkungan dan
asumsi kondisi ekonomi, pertumbuhan populasi, teknologi,
pengaturan administratif, kondisi politik, dan hal-hal yang
mempengaruhi lainnya.
Perkiraan secara kualitatif juga dapat didasarkan pada penelitian
terhadap data yang tersedia, akan tetapi ada kecenderungan untuk
secara besar dipengaruhi oleh apa yang diasumsikan tentang
lingkungan dan bagaimana perubahan akan mempengaruhi tren
tersebut.
Perkiraan secara kualitatif sangat rentan terhadap pengaruh politis
terutama

tentang

informasi

rencana

pemerintah

yang

akan

dilakukan dan informasi tentang anggaran menjadi sangat penting.


Meskipun nilai ini ketika data terbatas, kepercayaan yang berlebih
terhadap penilaian kualitiatif cenderung merupakan sesuatu yang
salah. Tidak terdapat konsistensi dari asumsi dari para ahli dan
metode tersebut tidak menyediakan perlindungan terhadap korelasi
11

dan asersi yang tidak benar tentang hubungan sebab akibat. Dialog
untuk

konsistensi

metode

tersebut

sangat

diperlukan

untuk

memperoleh pendekatan yang terbaik, akan tetapi bagaimanapun


kesepakatan yang diperoleh akan lebih didominiasi oleh para ahli
yang berpengaruh dan dominan. Metode ini sifatnya lebih sebagai
pelengkap untuk metode kuantitatif yang dapat dihasilkan dan
digunakan para ahli kepada pemerintah. Dalam permasalahan ini
estimasi final harus dihasilkan dengan menyesuaiakan penilaian
kualitatif oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu atau kementerian
yang

mempunyai

informasi

kualitatif

yang

signifikan

dan

mempunyai pengalaman terhadapa sumber penerimaan.


2.8.

Pedoman Pelaksanaan Prediksi Pendapatan dan

Pengeluaran
Adalah sangat penting untuk mengenali perkiraan sebagai seni dari
pada sebagai ilmu eksak. Sederhananya pendekatan yang umum
hanya berguna dan akurat sebagai model ekonomi. Semenatara
permulaan

perkiraan

pendapatan

dan

pengeluaran

dapat

di

jabarkan dengan variable yang kompleks. Berikut adalah panduan


melakukan perkiraan yang lebih tepat sasaran:
1. Ketika memilih perode yang panjang, keakuratan akan menurun
setelah melewati lima tahun.
Prediksi yang paling akurat dan fokus adalah prediksi pada tahun
pertama.

Semakin

panjang

dan

lama

periode

dalam

memprediksi maka tingkat keakuratannya akan berkurang. Hal


ini dikarenakan banyak asumsi yang dipakai untuk memprediksi
akan berubah seiring dengan panjangnya waktu prediksi.
2. Prediksi tidak sedetail dari penganggaran.
Prediksi ditampilkan dalam bentuk ikhtisar atau rangkuman
terkait

dengan

pendapatan

dan

pengeluaran

yang

akan

ditampilkan. Hal tersebut dilakukan agar lebih mudah dipahami


dan dapat membantu pembaca untuk membedakan dokumen
prediksi dan dokumen anggaran.
3. Prediksi lebih berguna ketika asumsi-asumsi tertulis dapat
mendukung detail prediksi
12

Asumsi yang realistis adalah kunci untuk mematikan prediksi


yan kredibel. Kredibilita sangat penting karena prediksi tersebut
akan digunakan oleh pemerintah untuk menyusun anggaran.
4. Perkiraan yang andal adalah hasil dari data historis yang akurat
dan up to date dari berbagai sumber.
Dalam mengkoordinasikan data keuangan yang dibutuhkan
dalam proses memprediksi, adalah cara terbaik menunjuk
seseorang yang kredibel dalam proses tersebut. Orang tersebut
dapat bertindak sebagai manajer/pimpinan dalam tim yang
melakukan proses prediksi tersebut.
5. Penggunaan

pendekatan

konservatif

yang

moderat

dalam

memprediksi pendapatan.
Dalam mereviu data historis, asumsi yang konservatif harus
dibuat tentang prosentase penyesuaian untuk pendapatan pada
tahun berjalan untuk dimasukkan dalam prediksi pada tahun
pertama.

Analisis

yang

sama

juga

dibuat

tertentu

dalam

untuk

tahun

selanjutnya.
6. Menggunakan

pendekatan

memprediksi

pengeluaran
Dalam memprediksi pengeluaran, pemerintah dapat memilih
untuk mengembangkan pengelolaan anggaran atau anggaran
dana

per

level

atau

dapat

mentukan

peningkatan

dan

penurunan biaya.
2.9

Pelaksanaan Forecasting di Indonesia

2.9.1 Pelaksanaan Prediksi Pajak dan Bea Cukai di Indonesia


Penerimaan perpajakan merupakan sumber pendapatan yang
utama dalam APBN. Selama lima tahun terakhir, penerimaan
perpajakan rata-rata sekitar 70 persen dari total pendapatan
negara. Hal

ini

menunjukkan

bahwa

peran

pajak

dalam

membiayai APBN semakin besar. Karena peranan pajak semakin


penting, maka penerimaan perpajakan membutuhkan
pengelolaan
perpajakan

yang

semakin

baik

sehingga

sistem

penerimaan

semakin optimal sesuai dengan kondisi ekonomi dan

kemampuan masyarakat. Oleh karena itu perlu disusun suatu


13

perencanaan angka target penerimaan perpajakan yang tepat dan


optimal dengan menggunakan model

proyeksi

penerimaan

perpajakan yang mampu menghasilkan angka proyeksi yang


sesuai dengan kondisi ekonomi yang sedang dan akan terjadi, dan
mampu menjelaskan pengaruh kebijakan pemerintah terhadap
penerimaan perpajakan.
Beberapa model yang dipakai sebagai alat untuk menghitung target
penerimaan perpajakan adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Model
Model
Model
Model
Model

Monitoring Penerimaan Perpajakan (Model bulanan);


target penerimaan perpajakan (Model tahunan);
Dampak Kebijakan terhadap Penerimaan Perpajakan;
Perhitungan Potensi Penerimaan Perpajakan; dan
target penerimaan perpajakan per sektor.

Dalam rangka menghasilkan angka target yang lebih realistik, terus


dilakukan upaya penyempurnaan dan pengembangan terhadap
kelima model tersebut.
Selanjutnya, upaya pengembangan model perpajakan dilakukan
melalui pembaharuan model perhitungan target bea masuk dan bea
keluar. Secara umum, target penerimaan bea masuk dihitung
berdasarkan formula:

Besarnya target penerimaan bea masuk dipengaruhi oleh besarnya


tarif bea masuk, dutiable import, dan kurs. Kebijakan yang diambil
pemerintah
dutiable

dapat

import.

berpengaruh
Besarnya

terhadap

dutiable

besarnya

import

tarif

akan

dan

ditarget

berdasarkan realisasi persentase dutiable import tahun- tahun


sebelumnya.
Dalam

model

perhitungan

target

penerimaan

bea

masuk

sebelumnya, variabel yang dipakai sebagai tax base adalah total


nilai impor dan selanjutnya dikalikan dengan persentase besaran
dutiable import yang besaran angkanya diperoleh dari Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Dari hasil perhitungan tersebut
14

diperoleh nilai nominal dutiable import yang selanjutnya akan


dikalikan dengan tarif bea masuk rata-rata sehingga menghasilkan
angka

target

penerimaan

bea

masuk.

Untuk

besaran

tarif

menggunakan data yang berasal dari masukan DJBC. Kekurangan


dari model ini adalah kesulitan dalam menentukan besaran
persentase dutiable import yang lebih akurat dan besaran tarif, dan
sangat ketergantungan kepada pihak lain.
Untuk menutupi kekurangan tersebut, dibangun suatu model
perhitungan

target

penerimaan

bea

masuk

yang

langsung

menggunakan variabel nilai dutiable import sebagai tax base.


Dalam hal ini, perhitungan dutiable import dilakukan dengan
menggunakan metode forecasting secara ekonometrik dimana
variabel dutiable import berperan sebagai variabel dependen,
sedangkan variabel independennya adalah PDB, tarif bea masuk,
dan nilai tukar rupiah terhadap US$. Dari persamaan tersebut dapat
dijelaskan bahwa nilai dutiable import sangat dipengaruhi oleh: 1)
perkembangan ekonomi yang dalam hal ini diwakili oleh variabel
PDB; 2) perkembangan tingkat tarif bea masuk yang berlaku; dan 3)
perkembangan nilai tukar rupiah. Dari ketiga variabel tersebut,
hanya variabel
PDB

yang

mempunyai

pengaruh

positif

terhadap

dutiable

import. Secara singkat, persamaan ekonometrik yang digunakan


dalam menghitung nilai dutiable import adalah sebagai berikut:

Keterangan:
DLDM adalah delta log dutiable import, c adalah konstanta, DLPDB
adalah delta log PDB riil, DTDM adalah delta tarif dutiable import,
DLKURS adalah delta log kurs, dan e adalah error.
Selain

melakukan

perhitungan

target

forecasting
penerimaan

nilai
bea

dutiable
masuk

import,
yang

baru

model
juga

melakukan forecasting terhadap besaran tarif bea masuk dengan


menggunakan metode ARMA. Dari hasil forecasting tersebut bisa
15

dihitung besaran tarif bea masuk untuk periode mendatang.

Dari

hasil forecasting terhadap nilai dutiable import dan tarif bea masuk,
dan dengan menggunakan asumsi nilai tukar rupiah terhadap US$
yang ditetapkan untuk tahun anggaran ke depan, maka bisa
dihitung target penerimaan bea masuk untuk tahun depan.

Untuk perhitungan target penerimaan bea keluar, secara umum


formula yang digunakan adalah sebagai berikut:

Besarnya bea keluar dipengaruhi oleh besarnya volume ekspor,


harga patokan ekspor (HPE), tarif bea keluar, dan kurs. HPE
merupakan harga patokan ekspor yang dikeluarkan setiap bulan
oleh

kementerian

perdagangan

melalui

Peraturan

Menteri

Perdagangan (Permendag), dan dihitung berdasarkan rata-rata


harga referensi satu bulan sebelumnya. Harga referensi merupakan
rata-rata harga CPO di pasar Rotterdam yang dijadikan acuan bagi
penetapan besaran tarif bea keluar sesuai dengan PMK no
67/PMK.011/2010.

Model

perhitungan

target

penerimaan

bea

keluar

terbaru

menghitung target penerimaan bea keluar dari hasil forecasting


volume ekspor CPO dan turunannya, harga referensi CPO di pasar
Rotterdam dan harga patokan ekspor (HPE) dari CPO, dan kemudian
dikalikan dengan besaran tarif bea keluar sesuai dengan PMK no
67/PMK.011/2010. Dalam melakukan forecasting volume ekspor
16

CPO

dan

turunannya,

persamaan

model

ekonometrik

yang

+TCPOt

digunakan adalah sebagai berikut:


Log(CPO)t

Log(HCPO)t

e..................................persamaan 2)
Log(CPKO)t = c + Log(HCPO)t

+ TCPKOt + Log(Kurs)t + e ..

(persamaan 3)
Log(Lain)t = c + Log(HCPO)t

TLaint + Log(Kurs)t + e..........

(persamaan 4)

17

BAB III
PENUTUP

3.1.

Simpulan

Prediksi adalah adalah bagian yang merupakan satu kesatuan dari proses
perencanaan . Prediksi dapat diartikan sebagai memperkirakan kondisi yang
akan terjadi di masa yang akan datang. Memperkirakan artinya menetapkan
hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dasar untuk
memperkirakan kondisi ke depan dapat kita gunakan data masa lalu, makin
banyak data masa lalu akan makin baik dan faktor yang mempengaruhi di
masa yang akan datang.
Prediksi pendapatan dan pengeluaran perlu dilaksanakan karena
bebera alasan, yaitu (1) untuk mengelola harapan mengenai kondisi
di masa yang akan datang dan memperoleh kesepakatan mengenai
asumsi-asumsi yang digunakan dalam penganggaran, (2) untuk
mendorong terwujudnya stabilitas fiskal/memungkinkan adanya
tindakan

korektif,

dan

(3)

untuk

mengkuantifikasi

pengaruh

keuangan dari kebijakan pemerintah. Prediksi pendapatan dan


peneriman dilaksanakan melalui tahapan-tahapan: (1) memilih
periode yang akan diramalkan, (2) memeriksa data untuk analisis,
(3)

mengadopsi

asumsi,

(4)

memilih

metode

prediksi,

(5)

mengevaluasi estimasi, (6) memonitor outcome dan perbandingan


ramalan, serta (7) memutakhirkan ramalan. Agar keseluruhan
tahapan tersebut dapat berjalan dengan efektif terdapat beberapa
pedoman yang dapat diikuti, yaitu (1) Peilihlah periode yang tepat
sehingga keakuratan akan tetap terjaga, (2) lakukan forcasting
dengan tidak sedetail budgetting, (3) tetapkan ssumsi-asumsi yang
dapat mendukung detail prediksi, (4) gunakan data ata historis
yang akurat dan up to date, (5) gunakan pendekatan konservatif
yang moderat dalam memprediksi pendapatan, serta (6) gunakan
pendekatan berbeda dalam memprediksi pengeluaran

18

DAFTAR PUSTAKA

Divsion of Local Services. (2016). Revenue and Expenditure Forecasting.


Massachuset: MA Department of Revenue.
Ketchen, C. J. (2015). Basics of Revenue and Expenditure Forecasting.
Massachusetts Municipal Association Annual Meeting (hal. 1 - 21).
Massachusetts: Massachusetts Municipal Association.
Leal, T., Prez, J. J., Tujula, M., & Vidal, J.-P. (2007). Fiscal Forecasting
Lessons from The Literature and Challenges. Frankfurt am Main:
European Central Bank.
Mardiasmo (2002). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Penerbit Andi

Sumber Online
Economic Commission for Latin America and the Caribbean. (Agustus
2015). Files. Dipetik pada tanggal 1 April tahun 2016, dari
www.cepal.org:
https://www.google.com/url?
q=http://www.cepal.org/sites/default/files/project/files/annex_3_reve
nue_and_expenditure_forecasting_methods_for_the_sector_per.pdf&
sa=U&ved=0ahUKEwj2hfupse_LAhUQB44KHWq3B_cQFggEMAA&cli
ent=internal-uds-cse&usg=AFQjCNF5XTNdtwQ_0B
Model Proyeksi Penerimaan Pajak (Maret 2011)
http://www.kemenkeu.go.id/Artikel/model-proyeksi-penerimaan-perpajakan
diakses pada 5 April 2016 20.32 WITA

19