Anda di halaman 1dari 7

PROGRAM LITERASI

Nama : Halimah Bunga Qattrunada


Kelas : XI IPA 2

Judul Buku

: Pulang

Pengarang

: Tere Liye

Penerbit

: Republika

Jumlah halaman

: 400 halaman

Bidang

: Sastra

Inti Sari

Cerita berawal dari talang (pedesaan) di pedalaman Sumatra. Di sana hidup seorang
jagal yang sudah pensiun bernama Samad. Ia tinggal bersama istrinya midah dan dikaruniai
seorang anak bernama Bujang. Bujang dididik ilmu pengetahuan dan ilmu agama oleh
Hamidah, tetapi Samad tidak suka Bujang belajar ilmu agama. Jika bujang ketahuan sedang
belajar

agama,

maka

samad

akan

memukulinya

habis-habisan.

Suatu hari datanglah Tauke besar, teman Samad dari kota. Mereka sangat akrab hingga Tauke
menganggap Samad sebagai saudara angkatnya. Tauke datang bersama rombongan karena
diundang Samad untuk mengatasi babi liar yang mengganggu kebun warga di Talang.
Malam harinya berangkatlah Tauke besar dan rombongan ke dalam hutan untuk berburu babi
hutan. Dalam rombongan itu ada Bujang anak Samad. Meskipun midah melarang Bujang
untuk ikut, tetapi akhirnya ia setuju setelah Samad membujuknya. Dengan bersenjatakan
tombak milik bapaknya, Bujang pun ikut berburu bersama Tauke dan rombongan. Satu
persatu babi hutan berjatuhan, rombongan terus masuk ke hutan yang paling dalam untuk
menghabisi babi hutan sampai ke akar-akarnya. Pertarungan seru terjadi ketika seekor babi
hutan sebesar sapi dewasa mengamuk. Babi itu menyeruduk siapa saja yang ada di depanya,
semua rombongan menjadi korbannya, tak terkecuali Tauke. Bujang yang melihat Tauke dan
rombongan yang lain terluka, memutuskan untuk melawan. Saat itulah rasa takut seperti telah
dikeluarkan dari dadanya. Bujang anak talang pedalaman sumatra melawan babi buas itu
dengan sekuat tenaga. Hingga pada akhirnya babi buas itu tak berdaya, tombak bujang
menembus

moncong

hingga

ke

punggung

babi

tersebut.

Singkat cerita Bujang pun dibawa oleh tauke besar ke kota. Sesampainya di markas besar
keluarga tauke besar atau yang terkenal dengan nama keluarga Tong, Bujang dididik dengan
baik. Ia juga disekolahkan oleh tauke besar. Di markas besar, Bujang memiliki teman
sekamar yaitu Basyir. Bujang begitu akrab dengan Basyir, tidak butuh waktu lama mereka
pun

akrab.

Di keluarga Tong Bujang atau Si Babi Hutan tidak diizinkan menjadi tukang pukul, ia disuruh
terus belajar bersama Frans untuk mengejar ketinggalannya, maklum selama lima belas tahun

Bujang sama sekali belum mengenyam bangku pendidikan resmi. Bujang hanya pernah
diajari pelajaran sekolah ketika berguru di rumah Tuanku Imam, itu pun secara sembunyisembunyi. Hari demi hari Bujang terus dijejali dengan ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah,
hal ini lambat laun membuat Bujang jenuh. Hingga suatu ketika Bujang merujuk tidak mau
belajar lagi, ia meminta kepada Tauke untuk menugaskannya sebagai tukang pukul. Awalnya
Tauke menolak, hingga akhirnya ia memikirkan ide bagus untuk menuruti keinginan Bujang.
Dalam keluarga Tong terdapat banyak sekali tukang pukul. Dalam setiap perekrutannya akan
selalu diadakan sebuah ritual bernama Amook. Ritual ini mengharuskan seseorang berdiri di
tengah, dan dikelilingi oleh banyak tukang pukul. Aturannya simpel, seberapa lama seseorang
tetap bisa berdiri ketika dikroyok para tukang pukul. Tauke Besar yang marah karena Bujang
terus saja merajuk untuk jadi tukang pukul, menantang bujang dalam ritual itu. Jika Bujang
bisa bertahan 15 menit, maka ia boleh menjadi tukang pukul. Namun jika Bujang tumbang
dalam waktu kurang dari 15 menit, maka ia harus mengambi buku dan alat tulisnya lalu mulai
belajar lagi. Bujang yang sebelumnya bingung kenapa ia dibawa ke tempat pelatihan ini
segera paham apa maksud tauke. Ia pun bersiap-siap dan berdiri di tengah, menatap semua
tukang pukul yang mengelilinginya. Bujang adalah seorang pemuda yang tangguh, meskipun
dikroyok banyak tukang pukul ia bisa bertahan. Namun ketika waktu hampir mencapai 15
menit, Basyir berhasil menjatuhkan Bujang. Bujang pun harus menerima kekalahannya dan
melaksanakan

janji

yang

sudah

ia

buat

dengan

tauke.

Setelah gagal mendapatkan posisi sebagai tukang pukul, Bujang harus rela waktu mudanya
untuk belajar. Ia anak yang pandai, dalam waktu singkat ia bisa mengejar ketinggalanya
hingga SMA. Apalagi setelah Bujang diterima di Universitas Ibu kota, Tauke pun
mengijinkannya menjadi tukang pukul. Masuknya Bujang ke Universitas Ibu kota ditandai
juga perpindahan markas besar keluarga Tong ke Ibu kota. Hal ini memudahkan Bujang
untuk pulang ke markas setelah kuliah. Setiap pulang dari kuliah Bujang akan berlatih
sebagai tukang pukul bersama Kopong. Setiap hari Kopong melatih Bujang bagaimana
menjadi tukang pukul yang tangguh hingga suatu ketika Kopong sudah tidak sanggup lagi
mengajarnya, ia memanggil guru Busyi dari Jepang untuk menggantikannya. Guru Busyi
mengajari Bujang ilmu ninja dan bagaimana menggunakan samurai. Tetapi pelajaran dari ahli
samurai jepang itu harus putus di tengah jalan ketika guru Busyi mendengar anaknya
meninggal.
Pesan Moral
1.

Walaupun pergi sejauh apapun, kita harus tetap ingat kemana kita harus pulang/kembali.

2.

Berbuat baiklah kepada siapapun,karena kita diajarkan untuk berbuat kebaikan.

3.

Selalu ingat nasihat orang tua.

Inti Sari

Buku ini bercerita tentang Melati, seorang gadis kecil berusia 6 tahun yang buta dan
tuli, yang berarti otomatis bisu. Buku juga ini juga bercerita tentang Karang, seorang pemuda
yang memiliki masa lalu yang kelam. Kisah ini beralur campuran. Buku ini berawal ketika
Bunda HK, ibunya Melati, bermimpi dibangunkan anaknya. Diceritakan pula betapa
menggemaskan Melati ketika ia membangunkan ibunya. Akan tetapi, entah mengapa, Bunda
HK malah menangis. Ternyata, ini semua hanyalah mimpi. Ketika Bunda HK terbangun,
dilihatnya putrinya sedang marah-marah lagi. Bersamaan dengan itu, di salah satu rumah di
pojokkan kota, Karang tertidur lagi. Ibu-ibu gendut itu hanya bisa mengelus-elus dada. Selalu
begitu sejak 3 tahun lalu. Karang pergi keluar rumah malam-malam, pergi ke bar untuk
minum-minum, pulang

pagi, terus tidur sampai malam lagi. Namun, yang ibu ibu

gendut itu tidak tahu adalah mimpi yang dialami oleh Karang. Hampir disetiap tidurnya
Karang bermimpi sesuatu yang sama. Ia bermimpi tentang kejadian 3 tahun yang lalu.
Kejadian yang membuatnya nyaris dipenjara. Dulu, Karang adalah anak jalanan yang
dipungut oleh ibu-ibu gendut itu. Bertahun-tahun kemudian, Karang mendirikan sebuah
taman bacaan. suatu ketika, Karang mengajak anak-anak asuhan taman bacaan itu berlayar.
Yang Karang tidak tahu, badai hampir datang. Ketika mereka hampir pulang, badai
menghantam. Dari 30 anak yang pergi, hanya 12 anak yang selamat. Salah seorang anak yang
tidak selamat adalah Qintan. Qintan dulunya adalah seorang anak yang lumpuh dari pinggang
ke bawah. Namun, karena cerita dari Karang, tumbuhlah keinginan yang amat sangat dalam
diri Qintan. Membuatnya bisa berdiri dan berlari tanpa bantuan dari tongkat. Bersamaan
dengan kejadian tenggelamnya kapal itu, keluarga HK (keluarganya Melati) sedang berlibur
di sebuah pantai. Ketika sedang bermain, Melati terkena lemparan freesbe di keningnya.
Awalnya sih, Melati hanya jatuh terduduk. Namun, sepulangnya mereka dari pantai itu,
Melati mulai menunjukkan gejala aneh. Setelah diperiksa dokter, ketahuanlah Melati buta dan
tuli. Selama tiga tahun, keluarga HK telah memanggil bermacam-macam dokter. Namun, tak
ada yang bisa menyembuhkan Melati. Tim dokter terakhir malah mengatakan Melati gila,
karena Melati telah menggigit jari salah satu dokter hingga jari dokter itu nyaris putus. Putus
asa, Bunda HK akhirnya terkena demam dan memanggil dokter pribadi keluarga tersebut.
Setelah beberapa lama, datanglah seorang dokter. Ternyata, dokter Ryan, dokter pribadi
keluarga tersebut, sedang berpergian. Yang datang ke rumah keluarga HK adalah Kinasih,
anak dari dokter Ryan yang juga baru saja menyelesaikan kuliah dikejurusan kedokteran.
Setelah mengetahui keadaan Melati, Kinasih teringat temannya yang mendirikan taman
bacaan bersamanya bertahun-tahun yang lalu. Setahu Kinasih, temannya itu berada di kota
ini. Beberapa hari kemudian, Karang menerima surat dari keluarga HK. Namun, Karang

enggan membukanya. Karang membiarkan surat itu menumpuk, sehingga Bunda HK


akhirnya datang ke rumah Karang. Karena Bunda HK hanya mengetahui tentang Karang dari
Kinasih, sementara Kinasih sendiri tidak tahu keadaan terakhir Karang, Bunda HK sangat
terkejut dengan keadaan Karang. Awalnya sih, Bunda HK menjadi pesimis dalam
menghadapi Karang, namun, keinginan seorang ibu agar anaknya kembali normal
mengalahkan semua itu. Walaupun telah diajak oleh Bunda HK, Karang tetap menolak.
Namun, malam itu, ketika Karang ingin pergi ke bar tempat ia biasa mabuk-mabukan, ia
melihat dua orang pengemis tua yang di curi oleh sekelompok anak jalanan. Ketika Karang
hendak membantu kedua orang pengemis itu, Karang terkejut. Karena, kedua orang tersebut
memiliki cacat. Yang pertama buta, sedangkan yang kedua tuli dan bisu. Karang kembali
teringat keadaan Melati. Ia pun memutuskan untuk datang ke rumah keluarga HK. Keesokan
harinya, Karang pergi ke rumah keluarga HK.

Ternyata, cara mengajar Karang tidak

disetujui oleh Tuan HK. Karang akhirnya pergi dari rumah itu. Namun, sebelum Karang
pergi, Karang mengatakan sesuatu yang mengagetkan Bunda HK lagi. Sebelumnya, Bunda
HK pernah dikagetkan oleh kata-kata Karang yang ia ucapkan ketika menolak Bunda HK di
rumah ibu-ibu gendut itu. Kata Karang bahkan saat ini pasti anak ibu sedang memecahkan
dua kaca jendela!. Ketika Bunda HK pulang, dilihatnya Salamah dan 8 pembantu pribadi
keluarga HK lainnya, sedang membersihkan sisa-sisa dari dua kaca jendela yang dihancurkan
Melati. Sekarang, Karang menceritakan secara detail kejadian yang menyebabkan Melati
cacat. Padahal, kejadian itu hanya diketahui oleh keluarga HK dan para pembantu mereka.
Akhirnya Karang diterima oleh Tuan HK. Selama lima hari Karang berusaha mengajarkan
Melati satu hal: memakai sendok. Namun, dihari kelima, Salamah iseng-iseng membereskan
kamar Karang. Padahal dulu Karang telah melarang siapapun untuk memasuki kamarnya.
Karena, Karang sebetulnya masih mabuk. Hal itu diketahui Salamah, yang memberitahu Tuan
HK. Akhirnya Tuan HK mengusir Karang. Awalnya, Karang memohon-mohon untuk
dibiarkan tinggal, bahkan sampai berjanji tidak akan mabuk lagi. Namun, Tuan HK tetap
mengusir Karang. Karena ada urusan, Tuan HK pergi ke perusahaannya dan terpaksa pergi ke
Jerman. Setelah Tuan HK pergi, Karang dipanggil oleh Bunda HK, karena Melati tiba-tiba
makan menggunakan sendok. Selama Tuan HK pergi, yaitu selama tiga minggu, Karang
berusaha mengajarkan Melati apapun. Selama dua minggu dan lima hari, atau dua hari
sebelum Tuan HK pulang, Karang hanya bisa mengajarkan Melati untuk makan sambil
duduk. Karang hampir putus asa untuk mencari cara untuk mengajarkan Melati: benda apa
itu. Karena Melati tidak memiliki akses untuk mengetahui. Anak lain bisa diajar dengan
menggunakan kata-kata, karena mereka bisa mendengar. Mereka juga bisa diajarkan dengan

gambar, karena mereka bisa melihat. Kalau mereka tidak mengerti, mereka bisa bertanya,
karena mereka bisa bicara. Tapi Melati tidak bisa melihat, mendengar, ataupun bicara.
Bahkan Karang telah mencoba merangsang Melati dengan api. Keesokkan harinya, ketika
Karang sarapan, tiba-tiba datanglah Tuan HK. Karena Bunda HK tidak memberitahu Tuan
HK tentang kemajuan Melati, Tuan HK marah karena masih ada Karang di rumah tersebut.
Dalam keramaian, Melati yang terlupakan keluar rumah. Ketika semua orang tersadar, Melati
sedang bermain air di luar rumah karena saat itu sedang hujan. Disaat itulah syaraf Melati
terangsang. Sejak saat itu, Karang tidak kesulitan untuk memberitahu Melati tentang apapun
dengan cara menulis di telapak tangan melati. Beberapa minggu kemudian, Karang
memutuskan untuk kembali ke ibukota untuk meneruskan usahanya dalam hal taman bacaan
bersama Kinasih

Anda mungkin juga menyukai