Anda di halaman 1dari 2

Etiologi Jaundice

Ikterus merupakan suatu keadaan dimana terjadi penimbunan pigmen empedu


pada tubuh menyebabkan perubahan warna jaringan menjadi kuning, terutama pada
jaringan tubuh yang banyak mengandung serabut elastin sperti aorta dan sklera
(Maclachlan dan Cullen di dalam Carlton dan McGavin 1995). Warna kuning ini
disebabkan adanya akumulasi bilirubin pada proses (hiperbilirubinemia). Adanya
ikterus yang mengenai hampir seluruh organ tubuh menunjukkan terjadinya gangguan
sekresi bilirubin. Berdasarkan penyebabnya, ikterus dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
a. Ikterus pre-hepatik
Ikterus jenis ini terjadi karena adanya kerusakan RBC atau intravaskular
hemolisis, misalnya pada kasus anemia hemolitik menyebabkan terjadinya
pembentukan bilirubin yang berlebih. Hemolisis dapat disebabkan oleh parasit
darah, contoh: Babesia sp., dan Anaplasma sp. Menurut Price dan Wilson (2002),
bilirubin yang tidak terkonjugasi bersifat tidak larut dalam air sehingga tidak
diekskresikan dalam urin dan tidak terjadi bilirubinuria tetapi terjadi peningkatan
urobilinogen. Hal ini menyebabkan warna urin dan feses menjadi gelap. Ikterus
yang disebabkan oleh hiperbilirubinemia tak terkonjugasi bersifat ringan dan
berwarna kuning pucat. Contoh kasus pada anjing adalah kejadian Leptospirosis
oleh infeksi Leptospira grippotyphosa.
b. Ikterus hepatik
Ikterus jenis ini terjadi di dalam hati karena penurunan pengambilan dan
konjugasi oleh hepatosit sehingga gagal membentuk bilirubin terkonjugasi.
Kegagalan tersebut disebabkan rusaknya sel-sel hepatosit, hepatitis akut atau
kronis dan pemakaian obat yang berpengaruh terhadap pengambilan bilirubin
oleh sel hati. Gangguan konjugasi bilirubin dapat disebabkan karena defisiensi
enzim glukoronil transferase sebagai katalisator (Price dan Wilson 2002). Ikterus
c. Ikterus Post-Hepatik
Mekanisme terjadinya ikterus post hepatik adalah terjadinya penurunan sekresi
bilirubin terkonjugasi sehinga mengakibatkan hiperbilirubinemia terkonjugasi.
Bilirubin terkonjugasi bersifat larut di dalam air, sehingga diekskresikan ke dalam
urin (bilirubinuria) melalui ginjal, tetapi urobilinogen menjadi berkurang
sehingga warna feses terlihat pucat. Faktor penyebab gangguan sekresi bilirubin

dapat berupa faktor fungsional maupun obstruksi duktus choledocus yang


disebabkan oleh cholelithiasis, infestasi parasit, tumor hati, dan inflamasi yang
mengakibatkan fibrosis.
Migrasi larva cacing melewati hati umum terjadi pada hewan domestik. Larva nematoda yang
melewati hati dapat menyebabkan inflamasi dan hepatocellular necrosis (nekrosa sel hati).
Bekas infeksi ini kemudian diganti dengan jaringan ikat fibrosa (jaringan parut) yang sering
terjadi pada kapsula hati. Cacing yang telah dewasa berpindah pada duktus empedu dan
menyebabkan cholangitis atau cholangiohepatitis yang akan berdampak pada
penyumbatan/obstruksi duktus empedu. Contoh nematoda yang menyerang hati anjing
adalah Capillaria hepatica. Cacing cestoda yang berhabitat pada sistem hepatobiliary anjing
antara lain Taenia hydatigena dan Echinococcus granulosus. Cacing trematoda yang
berhabitat di duktus empedu anjing meliputi Dicrocoelium dendriticum, Ophisthorcis
tenuicollis, Pseudamphistomum truncatum, Methorcis conjunctus, M. albidus, Parametorchis
complexus, dan lain-lain (Maclachlan dan Cullen di dalam Carlton dan McGavin 1995).

Carlton WW dan MD. McGavin. 1995. Thomsons Special Veterinary Pathology.


Ed. 2. Mosby-Year Book, Inc.

Anda mungkin juga menyukai