Anda di halaman 1dari 11

PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

LAPORAN
HUKUM RAOULT

KELOMPOK 7
NI KADEK WAHYUNI ANTARI

(1213031002)

DEWA AYU MEITA ANGGARANI

(1213031036)

VI A

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2015

LAPORAN PRAKTIKUM
HUKUM RAOULT
I.

Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk memperlihatkan pengaruh komposisi terhadap titik didih
campuran serta memperlihatkan pengaruh gaya antarmolekul terhadap tekanan uap
campuran.

II.

Dasar Teori
Larutan berdasarkan interaksinya diantara komponen- komponen penyusunnya
dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu larutan ideal dan larutan non ideal. Larutan ideal
didefinisikan sebagai larutan yang memenuhi hukum Raoult. Jika tekanan uap hasil
pengamatan tidak sama dengan tekanan uap berdasarkan perhitungan hukum Raoult,
maka larutan tersebut tak-ideal (Kimia TPB).
Larutan ideal adalah larutan yang gaya tarik menarik molekul-molekul
komponennya sama dengan gaya tarik menarik antara molekul dari masing-masing
komponennya. Jadi, bila larutan zat A dan B bersifat ideal, maka gaya tarik antara
molekul A dan B, sama dengan gaya tarik antara molekul A dan A atau antara B dan B
(Sukardjo:1990). Dalam larutan ideal, semua komponen (pelarut dan zat terlarut)
mengikuti hukum Raoult pada seluruh selang konsentrasi. Larutan benzena dan toluena
adalah larutan ideal. Dalam semua larutan encer yang tak mempunyai interaksi kimia di
antara komponen-komponennya, hukum Raoult berlaku bagi pelarut, baik ideal maupun
tak ideal.
Suatu larutan dikatakan ideal, apabila mempunyai ciri-ciri homogen pada seluruh
kisaran komposisi dari system, mulai darifraksi mol nol sampai dengan satu (0<x<1),
pada pembentukan larutan dari komponennya, tidak ada perubahanentalpi (H
campuran = 0), artinya panas larutan sebelum dansesudah pencampuran adalah sama,
perubahan volume campuran adalah sama dengan nol (V campuran= 0), artinya jumlah
volume larutan sebelum dan sesudah pencampuran adalah sama, dan memenuhi hukum
Raoult.
Bunyi dari hukum Raoult adalah: tekanan uap larutan ideal dipengaruhi oleh
tekanan uap pelarut dan fraksi mol zat terlarut yang terkandung dalam larutan tersebut.
Secara matematis ditulis sebagai berikut (Atkins:1997):
Plarutan = Xterlarut . Ppelarut

Tetapi hukum Raoult tak berlaku pada zat terlarut pada larutan tak ideal encer.
Perbedaan ini bersumber pada kenyataan: molekul-molekul pelarut yang luar biasa
banyaknya. Hal ini menyebabkan lingkungan molekul terlarut sangat berbeda dalam
lingkungan pelarut murni. Zat terlarut dalam larutan tak ideal encer mengikuti hukum
Henry, bukan hukum Raoult.
Jika dua macam cairan dicampur dan tekanan uap parsialnya masing-masing
diukur, maka menurut hokum Raoult, untuk tekanan uap parsial A berlaku:
PA = XAPoA
Sedangkan untuk tekanan uap parsial B berlaku:
PB = XBPoB
o
P A = Tekanan uap A (yaitu cairan murni)
PoB = Tekanan uap B
jumlah mol A
X A=
jumlah mol ( A+ B)
X B=

jumlah mol B
jumlah mol ( A+ B)

XA dan XB disebut fraksi mol. Jumlah tekanan uap (P) menurut hokum Dalton adalah
P = PA + PB
Sejauh ini yang dibicarakan adalah keadaan pada suhu tetap. Tetapi pada
percobaan ini yang dijaga adalah tekanannya yaitu pada tekanan 1 atm. Dalam
percobaan ini yang diukur adalah titik didihnya. Untuk larutan ideal hubungan antara
titik didih dan komposisi dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Gambar 1. Kurva titik didih sebagai fungsi komposisi


Namun pada kenyataannya kebanayakan campuran bukan larutan ideal, maka biasanya
campuran tidak mengikuti hukum Raoult. Ada dua macam penyimpangan yang
kemungkinan terjadi yaitu:
1. Penyimpangan positif

Gambar 2. Kurva penyimpangan positif


Jika tekanan uap jenuh hasil pengamatan lebih besar dari tekanan uap jenuh menurut
hukum Raoult, maka larutan tersebut dikatakan mengalami penyimpangan positif
(deviasi positif) dari hokum Raoult. Larutan yang menunjukkan penyimpangan positif,
biasanya menunjukkan sifat yaitu : tarikan antar komponen larutan yang berbeda < ratarata tarikan antar komponen yang sama (Kimia TPB).
2. Penyimpangan negatif

Gambar 3. Kurva penyimpangan negatif


Jika sifat-sifat larutan yang menunjukkan penyimpangan ini:

tarikan antar komponen larutan yang berbeda > rata-rata tarikan antar komponen

yang sama
Vm < 0
Hm <0

Pada umumnya, penyimpangan negatif terjadi pada pencampuran pelarut polar dan
polar, sedangkan penyimpangan positif terjadi pada pencampuran pelarut non-polar dan
non-polar (Kimia TPB).
Komposisi suatu zat terlarut dalam suatu larutan akan mempengaruhi titik didih
dari larutan tersebut. Semakin besar komposisi zat terlarut dalam larutan maka semakin
besar pula titik didih larutan tersebut.
III.

Alat dan Bahan


a. Alat

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Alat
Alat reflux
Termometer
Mantel pemanas
Batu didih
Statif dan klem
Corong
Gelas kimia
Gelas ukur
Pipet tetes
Selang

Spesifikasi
0-100oC
100 mL
10 mL
-

Jumlah
1 buah
1 buah
1 buah
secukupnya
1 set
1 buah
3 buah
2 buah
2 buah
2 buah

Spesifikasi
-

Jumlah
10 mL
10 mL

b. Bahan
No.
Nama Bahan
1 Kloroform
2 Aseton

IV.
No
.

Prosedur dan Hasil percobaan


Prosedur kerja

Hasil Pengamatan

Alat reflux dirangkai seperti gambar di Alat reflux terangkai seperti gambar di
bawah.

bawah ini,

Termometer tercelup ditengah-tengah cairan.

Gambar 4. Rangkaian Alat Reflux

Tetapi tidak sampai menyentuh dinding gelas


reflux.
2

Sebanyak 10 mL kloroform dituangkan ke Kloroform merupakan cairan bening


dalam labu reflux dengan corong kemudian tidak berwarna.
dipanaskan

perlahan

hingga

mendidih

kemudian suhunya dicatat.

Gambar 5. Cairan kloroform bening


tidak berwarna
Setelah dipanaskan hingga mendidih,
3

suhu kloroform menjadi 530C


Alat reflux dijauhkan dari mantel pemanas Aseton merupakan cairan bening tidak
kemudian 2 mL aseton dituangkan ke dalam berwarna.
labu.

Gambar 6. Aseton berupa cairan


4

bening tidak berwarna


Aseton perlahan lahan dipanaskan sampai Setelah dipanaskan sampai mendidih,
mendidih,

setelah

suhunya

didihnya

dicatat.

Demikian

tetap,

suhu suhu campuran pada saat penambahan 2

seterusnya mL aseton adalah sebesar 550C.


Suhu campuran pada penambahan 4 mL

diulangi setiap kali dengan penambahan 2 mL 10 mL aseton dapat dilihat pada table
aseton

sampai

jumlah

aseton

yang pengamatan.

ditambahkan mencapai 10 mL; sesudah


penambahan, campuran dipanaskan serta
6

dicatat titik didihnya.


Setelah selesai, campuran dikeluarkan dan Setelah labu kering, sebanyak 10 mL
ditempatkan pada wadah tertutup. Kemudian aseton dimasukkan ke dalam labu.
labu reflux dibersihkan dan dikeringkan. Kemudian setelah dipanaskan hingga
Selanjutnya,

sebanyak

10

mL

aseton mendidih, suhu aseton sebesar560C.

dituangkan ke dalam labu reflux dengan


corong.
8

Kemudian

dipanaskan

perlahan

hingga mendidih kemudian suhunya dicatat.


Alat reflux dijuhkan dari mantel pemanas Sebanyak 2 mL kloroform dimasukkan
kemudian 2 mL kloroform dituangkan ke ke dalam labu refluks. Kemudian suhu
dalam labu. Kemudian dipanaskan perlahan- campuran

kloroform-aseton

saat

lahan sampai mendidih, setelah suhunya tetap mendidih adalah 58oC.


10

suhu didihnya dicatat.


Demikian seterusnya diulangi setiap kali Suhu campuran pada penambahan 4 mL
dengan penambahan 2 mL kloroform sampai 10 mL kloroform dapat dilihat pada
jumlah

kloroform

yang

ditambahkan table pengamatan.

mencapai 10 mL; sesudah penambahan,


campuran dipanaskan serta dicatat titik
didihnya.

Tabel Pengamatan
Campuran
CH3Cl3 : (CH3)2CO
10 : 0 mL
10 : 2 mL
10 : 4 mL
10 : 6 mL
10 : 8 mL
10 : 10 mL

Titik didih (0C)


53
55
56
59
61
63

8
6
4
2
0

: 10 mL
: 10 mL
: 10 mL
: 10 mL
: 10 mL

62,5
61,5
60
58
56

V. ANALISIS DAN PEMBAHASAN


a. Analisis
Pada percobaan ini campuran kloroform dan aseton digunakan untuk mengetahui
pengaruh komposisi terhadap titik didih campuran serta pengaruh gaya antarmolekul
terhadap tekanan uap campuran. Berikut ini adalah data berat molekul dan massa jenis
dari kloroform dan aseton.
Tabel 1. Berat molekul dan massa jenis aseton-kloroform
Zat
Berat Molekul (gr/mol)
Massa Jenis (gr/cm3)
Kloroform (CHCl3)
119,4
1,49
Aseton ((CH3)2CO)
58.1
0.79
Perbandingan volume kloroform dan aseton yang digunakan dalam percobaan berbedabeda dimana disetiap perbandingan volume yang berbeda-beda tersebut diukur titik
didih campuran untuk mengetahui pengaruh komposisi terhadap titik didih dan dapat
diperlihatkan pengaruh gaya antar molekul terhadap tekanan uap campuran. Berikut ini
adalah perbandingan volume kloroform dan aseton yang digunakan serta titik didih
dari masing-masing perbandingan campuran kloroform-aseton tersebut.

Tabel 2. Perbandingan volume kloroform dan aseton serta titik didih dari
masing-masing perbandingan campuran aseton-kloroform
Campuran CHCl3 : (CH3)2CO
10 : 0 mL
10 : 2 mL
10 : 4 mL
10 : 6 mL
10 : 8 mL
10 : 10 mL
8 : 10 mL
6 : 10 mL
4 : 10 mL
2 : 10 mL
0 : 10 mL

Titik didih (oC)


53
55
56
59
61
63
62,5
61,5
60
58
56

Selanjutnya, untuk menentukan pengaruh komposisi terhadap titik didih campuran,


maka fraksi mol dari aseton dan kloroform dihitung dengan cara berikut ini.
Campuran kloroform : aseton = 10 : 0 mL
Mol aseton dan kloroform dihitung terlebih dahulu sebelum penentuan fraksi mol
sebagai berikut.
mol CHCl 3=

V 1,49 g cm3 10 mL
=
=0,125 mol
1
Mr
119,4 g mol

mol(C H 3)2 CO=

V 0,79 g cm3 0 mL
=
=0 mol
Mr
58,1 g mol1

Maka, fraksi mol dari aseton dan kloroform dapat dihitung sebagai berikut.
X CHCl3 =

mol CHCl 3
0,125 mol
=
=1 mol
mol CHCl3 +mol (C H 3 )2 CO 0,125 mol+ 0 mol

X (C H 3)2 CO=1X CHCl3 =11 mol=0 mol


Dengan cara yang sama dihitung pula fraksi mol aseton dan kloroform pada campuran
berikutnya dan hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3. Komposisi aseton dan kloroform terhadap titik didih


Campuran

Titik didih

Mol

Mol

Fraksi

Fraksi

CHCl3 : (CH3)2CO

(oC)

CHCl3

(CH3)2CO

mol

mol

10 : 0 mL
10 : 2 mL
10 : 4 mL
10 : 6 mL
10 : 8 mL
10 : 10 mL
8 : 10 mL
6 : 10 mL
4 : 10 mL
2 : 10 mL
0 : 10 mL

53
55
56
59
61
63
62,5
61,5
60
58
56

0,125
0,125
0,125
0,125
0,125
0,125
0,099
0,075
0,049
0,025
0

0
0,027
0,054
0,082
0,108
0,136
0,136
0,136
0,136
0,136
0,136

CHCl3
1
0,822
0,698
0,604
0,536
0,479
0,421
0,355
0,265
0,155
0

(CH3)2CO
0
0,178
0,302
0,396
0,464
0,521
0,579
0,645
0,735
0,845
1

Berdasarkan data tersebut, maka dapat dibuat grafik hubungan antara komposisi dengan
titik didih campuran sebagai berikut:

Gambar 7. Hubungan Komposisi Dengan Titik Didih Campuran


b. Pembahasan
Kloroform dan aseton merupakan suatu senyawa organik yang bersifat non polar,
yang mudah menguap dan memiliki titik didih yang rendah, oleh karena itu dalam
percobaan ini digunakan larutan kloroform dan aseton. Komposisi suatu zat terlarut
dalam suatu larutan akan mempengaruhi titik didih dari larutan tersebut. Semakin
besar komposisi zat terlarut dalam larutan maka semakin besar pula titik didih larutan
tersebut.
Berdasarkan data pada tabel 2 diatas terlihat bahwa kecenderungan dari titik
didih semakin besar dengan bertambahnya komposisi zat terlarut. Titik didih yang
paling tinggi dicapai pada saat volume larutan memiliki perbandingan yang sama,
yaitu pada saat volume aseton 10 ml dan kloroform 10 ml, yaitu 63C. Hal ini dapat
disebabkan karena gaya tarik antara molekul-molekul kloroform dan aseton yang
semakin kuat ketika mendekati titik kesetimbangan volume antara aseton dan
kloroform.
Sedangkan berdasarkan data table 3 dapat diketahui bahwa titik didih larutan
dipengaruhi oleh fraksi mol. Perubahan fraksi mol zat terlarut mengakibatkan
perubahan titik didih campuran. Pada saat kloroform dicampur dengan aseton suhunya
semakin menurun, hal ini dikarenakan fraksi mol kloroform juga semakin menurun
dalam campurannya, jadi titik didih campurannya juga menjadi turun. Sedangkan
ketika aseton dituangkan ke dalam kloroform suhunya semakin meningkat, hal ini
dikarenakan fraksi mol kloroform juga semakin meningkat dalam campurannya, jadi
titik didih campurannya juga menjadi naik. Jadi hubungan antara komposisi dengan
titik didih campuran berbanding lurus, semakin banyak komposisi larutan tersebut
(fraksi mol nya besar) maka titik didihnya juga semakin meningkat.
Pada praktikum kali ini, dapat diketahui bahwa campuran kloroform dan aseton
merupakan campuran yang tidak ideal karena interaksi antar molekulnya tidaklah

sama. Berdasarkan grafik hubungan komposisi dengan titik didih campuran diketahui
bahwa penyimpangan yang terjadi adalah penyimpangan negatif karena terjadinya
perubahan panas secara berangsur-angsur yang memperlihatkan bahwa larutan dalam
keadaan berenergi rendah. Selain itu penyimpangan negatif juga terjadi karena ikatan
campuran antara kloroform dan aseton lebih kuat daripada ikatan molekul sejenis
(kloroform-kloroform atau aseton-aseton) sehingga menyebabkan tekanan uap pelarut
campuran lebih kecil daripada tekanan uap pelarut murni. Maka reaksi yang terjadi
adalah bersifat eksotermis (H negatif).
VI. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa: (1) pengaruh
komposisi terhadap titik didih campuran adalah berbanding lurus sehingga semakin besar
komposisi zat terlarut dalam larutan maka semakin besar pula titik didih larutan tersebut,
dan (2) pengaruh gaya antarmolekul terhadap tekanan uap campuran adalah semakin
besar gaya tarik antar molekul menyebabkan semakin kecil tekanan uap campuran.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Atkins, P. W. 1997. Kimia Fisika II. Edisi IV. Jakarta: Erlangga.
Sukardjo. 1990. Kimia Fisika. Jakarta: Rineka Cipta
Kimia TPB, Transparansi Inti, Institute Teknologi Bandung. Diakses pada tanggal 15
Juni 2015 dari situs old.analytical.chem.itb.ac.id

Anda mungkin juga menyukai