Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pneumonia adalah inflamasi yang terjadi di parenkim paru. Definisi lainnya
pneumonia adalah kondisi infeksi pada sistem pernafasan yang berefek ke paru-paru.
Pada orang normal paru paru ini terdiri dari small sacs atau sering disebut alveoli, yang
akan terisi oleh udara ketika bernafas. Tetapi pada kondisi orang yang mengalami
pneumonia, alveoli akan terisi pus dan caian, yang akan mengakibatkan sulit nafas dan
kadar oksigen yang masuk akan menurun.
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa penyebab kematian pada anak
didunia sebanyak 15% disebabkan oleh pneumonia. Diperkirakan bahwa 935.000 anak
berusia dibawah 5 tahun didunia meninggal dikarenakan kasus pneumonia berdasarkan
data tahun 2013. kejadian pneumonia anak-balita di negara berkembang adalah 0,29
episode per anak-tahun atau 151,8 juta kasus pneumonia/ tahun, 8,7% (13, 1 juta) di
antaranya merupakan pneumonia berat dan perlu rawat-inap. Di negara maju terdapat 4
juta kasus setiap tahun hingga total di seluruh dunia ada 156 juta kasus pneumonia anakbalita setiap tahun. Terdapat 15 negara dengan prediksi kasus baru dan insidens
pneumonia anak-balita paling tinggi, mencakup 74% (115,3 juta) dari 156 juta kasus di
seluruh dunia. Lebih dari setengahnya terkonsentrasi di 6 negara, mencakup 44%
populasi anak-balita di dunia. Ke 6 negara tersebut adalah India 43 juta, China 21 juta,
Pakistan, 10 juta, Bangladesh, Indonesia dan Nigeria masing-masing 6 juta kasus per
tahun (Rudan 2008)
Pneumonia merupakan pembunuh utama bagi balita, lebih banyak dibandingkan dengan
AIDS, Malaria dan Campak. Diperkirakan lebih dari 2 juta balita meninggal dikarenakan
pneumonia yaitu 1 balita setiap 1 detiknya. WHO memperkirakan kejadian pneumonia di
Indonesia pada balita antara 10% sampai 20% pertahun.
Dari data SEAMIC Health Statistic 2001 influenza dan pneumonia merupakan penyebab
kematian nomor 6 di Indonesia, nomor 9 di Brunei, nomor 7 di Malaysia, nomor 3 di
Singapura.
Berdasarkan data RISKESDAS 2013 balita yang mengalami pneumonia di Indonesia
sebanyak 18.5 per mil dan untuk Balita yang melakukan pengobatan hanya 1.6 per mil.
Data Jawa barat menunjukan balita yang mengalami pneumonia sebanyak 18.5 .
Kejadian pneumonia paling sering terjadi pada umur 1-4 tahun, kemudian kejadiannya
akan meningkat pada umur 45-54 tahun dan akan terus meningkat. Kejadian tertinngi

pada balita berumur 12-23 bulan (21.7), 24-35 bulan (21.0), 36-47 bulan (18.2),
48-59 bulan (17.9) dan usia 0-11 bulan (13.6).
Dinas Kesehatan menyatakan bahwa angka kematian bayi dari tahun ketahun mulai
menurun. Jumlah kematian bayi yang terungkap di Kota Bandung pada Tahun 2012
sebesar 148 bayi dan lahir mati sebanyak 129 bayi. Penyebab kematian tertinggi tahun
2012 untuk neonatus adalah Asfiksia 33 kasus, Prematur 30 kasus, lain-lain 26 kasus,
BBLR 16 kasus, kelainan kognital 4 kasus, dan infeksi 3 kasus. Sedangkan untuk
penyebab kematian bayi adalah Pneumonia 1 kasus dan penyebablain-lain 33 kasus. Bila
dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah kematian bayi mengalami penurunan jumlah
kasus sebanyak 87 kasus kematian dan lahir mati mengalami penurunan sebesar 13 kasus
kematian.
Berdasarkan data yang didapatkan dari profil kesehatan Indonesia tahun 2009, pneumonia
memiliki Case fatality Rate (CFR) paling tinggi diantara 10 penyakit tertinggi lainnya
pada pasien rawat inap di rumah sakit yaitu sebanyak 6.63%.
Pneumonia termasuk penyakit yang menyebabkan meningkatnya morbiditas dan
mortilitas pada anak usia dibawah lima tahun (balita) di negara berkembang. Pneumonia
lebih sering menyerang balita dan merupakan pembunuh nomor 1. Biasanya balita yang
mengalami pneumonia ditandai dengan adanya gejala batuk, nafas cepat dan adanaya
retraksi dinding dada. Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan pneumonia,
sehingga faktor pneumonia ini diklasifikasikan menjadi dua yaitu faktor intrinsik dan
faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik atau faktor yang berasal dari individunya itu sendiri
seperti umur, berat badan lahir rendah (BBLR), status gizi, jenis kelamin, status
imunisasi, penyakit kronis, defisiensi vitamin A, pemberian Air Susu Ibu (ASI) dan
pemberian vitamin. Sedangkan untuk Faktor ekstrinsik atau faktor yang berasal dari
lingkungan ataupun dari luar host yaitu tempat tinggal yang padat, polusi udara, ventilasi
rumah,kelembapan udara, asap rokok,pengetahuan ibu, dan tingkat sosio-ekonomi.
Pembiayaan kesehatan yang kecil juga menjadi faktor resiko untuk pneumonia, saat
pembiayaan kesehatan yang tidak cukup akan menyebabkan fasilitas kesehatan dan
tenaga kesehatan tidak adekwat, tidak memenuhi standar dan bersifat terbatas
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) menjadi salah satu faktor resiko intrinsik untuk
pneumonia. Asi adalah makanan terbaik bagi bayi sampai berusia 6 bulan. WHO
mencanangkan pemberian ASI eksklusif tanpa diberikan makanan selain ASI, termasuk
cairan kecuali obat-obatan yang diperlukan seperti vitamin sampai bayi berumur 6 bulan
dan dilanjutkan sampai 2 tahun kedepan.
WHO dan UNICEF merekomendasikan untuk membangun dan mempertahankan
pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dengan beberapa cara yaitu inisiasi menyusui

dalam satu jam pertama kehidupan, ASI eksklusif bayi hanya menerima ASI tanpa
makanan tambahan atau minuman bahkan air putih sekalipun, dan berikan asi sesering
mungkin pagi, siang dan malam. Tidak ada penggunaan botol, dot atau empeng.
Tapi langkah WHO ini mendapatkan hambatan karena ada beberapa rumah sakit negri
maupun swasta yang mendapatkan sponsor dari susu formula sehingga dapat melemahkan
upaya WHO untuk mencanangkan ASI eklusif pada 6bulan kehidupan pertamanya.
Keberhasilan pemberian ASI eksklusif secara Nasional hanya 33,6% dan menurut WHO
35%. Pemberian ASI dapat mencegah lebih dari 600.000 kematian akibat infeksi pada
saluran pernafasan bawah,di Amerika diantaranya dapat mencegah 30% kematin
postneonatal dan 50% dapat mencegah kematian neonatus dari infeksi akut saluran
pernafasan. Pemberian ASI sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi
saat usia 0-6 bulan sehingga bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif atau pemberian
ASI yang kurang dapat mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
Pada Penelitian yang dilakukan Oka Novi Purnawan pada desember 2012 menyatakan
bahwa terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian Pneumonia.
Pada bayi yang tidak diberikan ASI eklusif selama 6 bulan pertama kehidupan akan
meningkatkan resiko terkenanya pneumonia. Sedangkan penelitian lain yang dilakukan
indah novi dan Rahmika yang dilakukan di Kota Banjar Baru menyebutkan bahwa lama
pemberian Asi tidak menunjukan adanya hubungan dengan kejadian pneumonia pada
balita.
Berdasarkan Uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan tujuan
mengetahui hubungan antara pemberian ASI ekklusif dengan kejadian pneumonia pada
balita di Puskesmas Garuda kota Bandung periode Januari-Desember pada tahun 2014
dengan sample yang lebih banyak dibandingkan penelitian sebelumnya.
Puskesmas Garuda Kota Bandung ini memiliki angka kejadian pneumonia yang tinggi
sehingga penulis dapat menemukan sample yang banyak untuk kasus pneumonia.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana hubungan antara pemberian Asi eksklusif dengan kejadian pneumonia balita
di Puskesmas Garuda Kota Bandung pada periode 1 Januari 31 Desember 2014
1.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan dengan kejadian
pneumonia balita di Puskesmas Garuda Kota Bandung pada periode 1 Januari 31
Desember 2014

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Aspek Tertulis
Dengan mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan dengan
kejadian pneumonia balita di Puskesmas Garuda Kota Bandung pada periode 1 Januari
31 Desember 2014 maka akan diperoleh data atau informasi yang berguna bagi peneliti,
masyarakat dan akan menjadi bahan masukan bagi peneliti selanjutnya.
1.4.2

Aspek Praktis
Informasi dari penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi masyarakat, terutama para
ibu-ibu agar dapat lebih semangat lagi memberikan ASI eksklusif untuk anaknya
karena dilihat dari fungsinya ASI dapat mencegah angka kesakitan dan kematian
akibat dari infeksi berat pada saluran pernafasan.