Anda di halaman 1dari 11

RINGKASAN MATERI KULIAH BAB 4 RERANGKA KONSEPTUAL

DAN BAB 5 KONSEP DASAR

Dosen Pengampu: Drs. Sri Hartoko, MBA., Ak.

Oleh:
David Nugroho

F1314134

Hanna Sri Mulyo D.K.

F1314146

M. Rifqi Zulkarnain

F1314151

Pratiwi Kusuma W.

F1314157

PROGRAM STUDI AKUNTANSI TRANSFER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016
BAB 4

RERANGKA KONSEPTUAL SUATU MODEL


A. Tujuan Pelaporan Keuangan
Tujuan adalah kearah mana segala upaya, tindakan, dan pertimbangan dicurahkan.
Penentuan tujuan pelaporan keuangan merupakan langkah paling krusial dalam
perekayasaan akuntansi karena menentukan konsep dan prinsip yang relevan yang
akhirnya menentukan isi, jenis dan susunan laporan keuangan
1. Pemakai dan Kepentingannya
Menurut FASB pemakai potensial laporan keuangan antara lain Pemilik, kreditor,
supplier, investor, pegawai, manajemen, analist keuangan, broker, bursa efek, kantor
pajak, pemerintah, mahasiswa, peneliti, masyarakat.
Pendekatan penentuan tujuan penyediaan informasi ( laporan keuangan )
a. Menyediakan informasi untuk sekumpulan pemakai umum yang mempunyai
macam macam kepentingan keputusan yang menghasilkan statement keuangan
umum ( general purpose financial statement ).
b. Menyediakan informasi untuk kelompok pemekai tertentu yang mempunyai
kepentingan yang teridentifikasi maka seperangkat statement keuangan akan berisi
berbagai jenis statement secara rinci sesuai pihak pemakai atau model
pengambilan keputusan.
2. Aspek Sosial Tujuan Pelaporan
Menurut Bloom dan Elgers ( 1995 )mendeskripsikan tiga tujuan
a. Tujuan fungsional adalah tujuan masyarakat atau organisasi secara keseluruhan
tanpa memperhatikan motivasi masing-masing individu.
b. Tujuan bersama adalah satu atau beberapa tujuan individual yang sama dengan
tujuan individual lainnya. Tujuan bersama ditentukan dengan mengidentifikasi
dahulu tujuan masing masing individual.
c. Tujuan kelompok dominan yaitu bila tujuan semua individu dapat diidentifikasi
maka tujuan beberapa individu yang dominan dapat menjadi tujuan.
3. Perkembangan tujuan Pelaporan Keuangan
a. Tujuan versi ASOBAT ( A Statement of Basic Accounting Theory ) dari Komite
Eksekutif American Accounting Association
Walaupun berorientasi pada kebutuhan pemakai, ini tidak secara spesifik
mengidentifikasi pihak Pemakai laporan keuangan.mendefinisi tujuan pelaporan
atas dasar tujuan fungsional
b. Tujuan versi APB no 4
Memuat 2 tujuan pelaporan yaitu tujuan umum ( general objective ) dan tujuan
kualitatif ( qualitative objective )
c. Tujuan versi Trueblood Committee
Komite yang dibentuk AICPA( American Institute of Certified Public
Accounting ) menjabarkan APB no 4 ke 12 butir tujuan yang saling berkaitan

secara hierarki terkait informasi tentang apa, siapa yang dituju, untuk apa serta
hierarki tujuan dengan tujuan lainnya. Tujuan versi ini menjadi dasar tujuan
FASB.
Principal objective ( butir 1 )
Sembilan imperative / hierarchical objectives ( butir 2-10 )
Dua nonhierarchical objectives ( butir 11-12 )
4. Tujuan Pelaporan Keuangan FASB
Secara umum tujuannya adalah menyediakan informasi yang berguna untuk
pembuatan keputusan ekonomi dan bisnis.
a. Konteks Lingkungan Tujuan Pelaporan
FASB menyatakan tujuan pelaporan tidak dapat steril dari lingkungan penerapan
pelaporan keuangan. Tujuan pelaporan FASB didasarkan pada kondisi di Amerika
Serikat.
b. Karakteristik dan Keterbatasan Informasi yang disediakan melalui mekanisme
pelaporan keuangan
Berkaitan dengan badan usaha daripada industry atau ekonomi keseluruhan
Merupakan informasi kuantitatif yang bersifat pendekatan ( approximation )
daripada perhitungan pasti
Sebagian besar merefleksikan pengaruh transaksi yang telah terjadi ( historis )
Hanya merupakan salah satu sumber informasi yang dibutuhkan untuk
mengambil keputusan tentang badan usaha
Penyediaan dan penggunaan memerlukan kos ( cost ) sehingga pertimbangan
kos manfaat dapat membatasi pelaporan
c. Fokus atau Cakupan Informasi
Tujuan dominan yaitu untuk epentingan pihak eksternal dalam bentuk pelaporan
umum ( general purpose financial reporting ) yaitu investor dan kreditor.
d. Isi Tujuan Pelaporan
5. Teori di Balik Tujuan Pelaporan FASB
Penalaran dalam perumusan tujuan pelaporan versi FASB
Konteks
lingkungan :
mekanisme
pasar, pasar

Karakteristik

Focus/cakupan

dan

informasi

keterbat

yaitu

Pelaporan keuangan eksternal umu


( general purpose external
Focus : investor dan
kreditor
Tujuan pelaporan keuangan : Menyediakan informasi yang berguna untuk
pengambilan keputusan investasi dan kredit, Menyediakan informasi yang
berguna untuk memprediksi jumlah, waktu, dan ketidakpastian arus kas
masa depan perusahaan, Menyediakan informasi tentang sumber daya

6. Tujuan Pelaporan Entitas Non bisnis mencakup tujuan utama dan spesifik terkait unit
Pemerintah, organisasi amal keagamaan, sosial, swasta nonprofit
7. Tujuan Pelaporan Keuangan IFRS
Standar Pelaporan Keuangan Internasional (International Financial Reporting
Standards (IFRS) adalah Standar dasar, Pengertian dan Kerangka Kerja yang
diadaptasi oleh Badan Standar Akuntansi Internasional (International Accounting
Standards Board (IASB)). Sejumlah standar yang dibentuk sebagai bagian dari IFRS
dikenal dengan nama terdahulu Internasional Accounting Standards (IAS). IAS
dikeluarkan antara tahun 1973 dan 2001 oleh Badan Komite Standar Akuntansi
Internasional (Internasional Accounting Standards Committee (IASC)). Pada tanggal
1 April 2001, IASB baru mengambil alih tanggung jawab guna menyusun Standar
Akuntansi Internasional dari IASC. Selama pertemuan pertamanya, Badan baru ini
mengadaptasi IAS dan SIC yang telah ada. IASB terus mengembangkan standar dan
menamai standar-standar barunya dengan nama IFRS.
a. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar
pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.
b. Pengguna adalah investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor
usaha lainnya, pelanggan, pemerintah dan masyarakat.
B. Karakteristik Kualitatif Informasi menurut FASB
1. Nilai Informasi
2. Keterpahaman ( Understandibility )
3. Keterpautan ( Relevance )
4. Nilai Prediktif ( Predictive Value )
5. Nilai Balikan ( Feedback Value )
6. Ketepatwaktuan ( Timelines )
7. Keterandalan ( Reliability )
8. Ketepatan Penyimbolan ( Representational Faithfulness )
9. Keterujian ( Verifiability )
10. Kenetralan ( Neutrability )
11. Keterbandingan ( Comparability )
12. Materialitas ( Materiality )
13. Bobot Keberpautan dan Keterandalan
C. Karakteristik Kualitatif Informasi menurut IFRS
Menurut IFRS - Kerangka konseptual dibagi menjadi 3 level
First Level = Basic objective
Second Level = Karakteristik keuangan dan Unsur Iaporan keuangan
Third Level = Recognition, measurement, and disclosure concepts
Karakteristik kualitatif berada pada Second Level

1.

IASB mengidentifikasi karakteristik kualitatif informasi akuntansi untuk


membedakan informasi yang lebih baik (lebih berguna) dan lnformasi yang inferior

(kurang bermanfaat) untuk keperluan pembuatan keputusan.


2. Fundamental qualities:
a. Relevance:
Predictive Value : membantu meramalkan hasil-hasil yang akan diperoleh di
masa-masa yang akan datang.
Confirmatory Value : membantu mengkonfirmasi kebenaran ekpektasi
sebelumnya.
b. Faithful Representation:
Completeness: menyajikan semua informasi yang penting untuk memenuhi
kriteria penyajian secara wajar.
Neutrality: informasi laporan keuangan tidak dibuat atas dasar kepentingan
salah satu pihak.
Free from error: informasi laporan keuangan bebas dari kesalahan.
3. Enhancing qualities:
a. Comparability: Laporan keuangan harus dapat dibandingkan dengan laporan
keuangan dari perusahaan lain yang sejenis atau dapat dibandingkan dengan
laporan keuangan periode sebelumnya atau juga sering disebut dengan
consistency
b. Verifiability: laporan keuangan harus dapat diverifikasi oleh akuntan-akuntan lain
dengan metode-metode yang sama, dapat diuji.
c. Timeliness: laporan keuangan disajikan secara tepat waktu yaitu sebelum
keputusan akan dibuat.
d. Understandability: Harus dapat dipahami oleh orang-orang yang mengerti masalah
akuntansi dan bisnis atau oleh orang-orang yang ingin mempelajari dan
menganalisa informasi yang disajikan.
D. Elemen Elemen Statemen Keuangan
Elemen statemen keuangan adalah makna ( meaning ) atau konstruk ( construct )yang
sengaja ditentukan dalam perekayasaan akuntansi untuk menyimbolkan atau
mempresentasikan realitas kegiatan usaha suatu badan usaha sehingga orang dapat
membayangkan realitas kegiatan tersebut secara keuangan tanpa harus memperhatikan
sendiri secara fisis kegiatan tersebut. Elemen statemen keuangan merupakan bahan
pembentuk informasi semantic yang dikandung statemen keuangan yang terdiri elemen
( object ), ukuran ( size, dan hubungan ( relation ).
1. Definisi Elemen
Definisi elemen mengacu pada kelas objek luas misal asset atau biaya. Rincian
elemen berupa objek atau kejadian ekonomik tertentu misal kas atau penjualan yang
memenuhi definisi elemen tidak disebut elemen tetapi sebagai pos ( item )

Asset,kewajiban,ekuitas, investasi oleh pemilik, distribusi e pemilik, laba


comprehensive, pendapatan, biaya, untung rugi, aliran kas bersih ( operasi, investasi,
pendanaan )
2. Perubahan Posisi Keuangan
Elemen posisi keuangan dapat berubah akibat tiga hal yaitu :
a. Kejadian ( event )
b. Keadaan ( circumstances)
c. Transaksi ( transaction )
E. Pengukuran dan Pengakuan
1. Pelaporan dan Statemen Keuangan
Keduanya menurut FASB berbeda. Statemen keuangan adalah ciri sentral pelaporan
keuangan. Pengukuran dan pengakuan menentukan lingkup pelaporan keuangan yang
wajib disajikan melalui seperangkat penuh statemen keuangan.
2. Seperangkat Statemen Keuangan
Tujuan pelaporan , karakteristik kualitatif dan elemen statemen keuangan akan
menentukan jenis statemen apa saja yang membentuk seperangkat penuh statemen
keuangan ( a full set of financial statement )
3. Pengukuran
Elemen atau pos harus diukur untuk membawa informasi yang semantic. Pengukuran
merupakan penentuan besarnya unit pengukur ( jumlah rupiah ) yang akan dilekatkan
pada suatu objek ( elemen atau pos ) yang terlibat dalam suatu transaksi, kejadian tau
keadaan untuk mempresentasikan makna atau atribut objek tersebut.
4. Pengakuan
Pengakuan adalahpenyajian suatu informasi melalui statemen keuangan sebagai ciri
sentral pelaporan keuangan. FASB menetapkan 4 kriteria pengakuan fundamental
( konseptual ) yaitu definisi, keterukuran, keberpautan, dan keterandalan.
F. Nilai Sekarang dalam Pengukuran Akuntansi
Pengukuran sering dibedakan dengan penilaian karena perbedaan saat pengukuran.
Penilaian sering digunakan pula untuk menunjuk pengukuran yang jumlah rupiahnya
tidak dapat diamati melalui transaksi atau pasar ( marketplace-determined amount )
1. Pengertian Dasar
a. Saat Pengukuran
Saat penting pengukuran ada dua yaitu :
Pengukuran saat pengakuan mula mula
Pengukuran baru mulai yang dilakukan sesudah pengakuan mula mula.
b. Penentuan Aliran Kas Masa Datang
Aliran kas masa depan harus diestimasi yang terdiri
Taksiran atau estimasi terbaik ( best estimate )
Aliran kas estimasi ( estimated cash flow )
Aliran kas harapan ( expected cash flow )
c. Nilai Sekarang Aliran Kas Masa Datang
Perlunya memahami
Nilai sekarang ( present value )

Nilai sekarang harapan ( expected present value )


Nilai wajar ( fair value )
2. Tujuan Nilai Sekarang dalam Pengukuran
Tujuannya adalah untuk menangkap atau mereleksikan sedapat mungkin perbedaan
ekonomik antara sehimpunan aliran kas masa depan dan untuk mengestimasi nilai
wajar.
G. Manfaat dan Keterbatasan Model
a. Transfer Teknologi
Jika akuntansi dipandang sebagai teknologi , maka rerangka konseptual dapat
dipandang sebagai produk teknologi. Sehingga transfer teknologi adalah transfer
proses penalaran dan perekayasaan untuk menghasilkan produk paling efektif untuk
mencapai tujuan fungsional akuntansi Negara sasaran.
b. Pengaruh RK FASB
RK FASB berdampak besar dalam memicu dan melandasi perkembangan RK di
Negara lain sepert Australia, IASC, kanada, Britania Raya.
c. Dokumen Kebijakan
Rerangka konseptual FASB adalah dokumen kebijakan atau politis bukan dokumen
atau karya ilmiah. Sehingga prosesnya melibatkan perdebatan dan argument yang
keputusan akhirnya dalam beberapa kasus melibatkan voting.

BAB 5
KONSEP DASAR
Pengertian Konsep Dasar
Konsep dasar secara implisit melekat pada tiap penalaran dalam merekayasa akuntansi.
Konsep dasar merupakan abstraksi atau konseptualisasi karakteristik lingkungan akuntansi.
Konsep dasar bersifat asumsi yang validitasnya tidak selalu dapat diuji tetapi sebagai basis
penalaran. Konsep dasar merupakan konsep yang dianut dan dijadikan dasar dalam penalaran
dan perekayasaan. Penyebutan dasar dikarenakan jika dianut akan memiliki implikasi
tertentu dalam pemilihan perlakuan.
Konsep dasar memiliki manfaat yakni menjadi komponen argument dalam penalaran logis
pada tingkat perekayasaan, penetapan standar, dan penerapan standar.

Contoh sumber konsep dasar:


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

IAI
Paul Grady
Accounting Principles Board (APB)
Wolk, Tearney, and Dodd
Anthony, Hawkins, and Merchant
Paton and Littleton (P&L)
Sumber lain (buku akuntansi keuangan pada umumnya)

Isi dari berbagai konsep dasar dapat berbeda antarsumber, hal ini dikarenakan:
1.
2.
3.
4.
5.

Tujuan penulisan yang berbeda


Persepsi tentang lingkungan akuntansi yang berbeda
Suatu konsep dasar bisa jadi merupakan turunan dari konsep dasar yang lain
Pencampuran antara konsep dasar dan karakteristik informasi
Perbedaan pengertian yang mencakupi konsep dasar

Konsep Dasar Paton and Littleton (P&L)


Konsep dasar yang dikemukakan P&L terbagi menjadi:
1. Entitas Bisnis atau Kesatuan Usaha
Kesatuan usaha harus dianggap sebagai badan atau orang yang berdiri sendiri dan
bertindak atas namanya sendiri serta terpisah dari pemilik. Batas kesatuan usaha adalah
ekonomik bukan yuridis. Hubungan antara pemilik dan kesatuan usaha merupakan
hubungan bisnis (utang-piutang). Fungsi manajemen terpisah dengan fungsi pemilikan
sehingga diperlukan pertanggungjawaban dalam bentuk statemen keuangan. Pendapatan
dan biaya dipandang sebagai perubahan aset kesatuan usaha bukannya perubahan
kekayaan pemilik. Karena hubungan bisnis harus dipertahankan, seperangkat statemen
keuangan berartikulasi.
2. Kontinuitas Kegiatan Usaha
Kesatuan usaha dianggap akan berlangsung dan beroperasi terus dan tidak ada maksud
membubarkan. Data keuangan akan terjadi dan mengalir terus setiap waktu akibat
kegiatan yang berlangsung terus tersebut. Kemajuan kesatuan usaha tidak dievaluasi pada
saat likuidasi karena memang bukan likuidasi yang menjadi tujuan perusahaan. Aliran
data harus dipenggal menjadi beberapa seri aliran dengan satuan waktu sebagai wadah
penggalan. Statemen laba-rugi menjadi statemen yang sangat penting untuk menilai
kemampuan melaba, sementara neraca meerupakan saran untuk menunjukkan sisa potensi
jasa. Informasi keuanganan yang dituangkan dalam statemen keuangan periodic harus
dianggap bersifat sementara (tentative) dan bukannya tuntas (final). Informasi keuangan

berjangka dapat diandalkan dibandingkan dengan laporan untuk satu penggalan waktu
saja.
3. Penghargaan sepakatan
Kos atau penghargaan sepakatan merupakan bahan olah akuntansi yang paling obyektif.
Setiap obyek yang terlibat dalam transaksi atau kejadian harus dinyatakan dalam bahan
olah ini agar dapat diproses lebih lanjut. Kos merupakan pengukur atau pengkuantifikasi
untuk menyatakan berbagai macam objek. Kos merepresentasi realitas kegiatan ekonomik
kesatuan usaha untuk menghasilkan informasi semantic tentang realitas tersebut. Kos
adalah pengukur sedangkan biaya adalah elemen atau objek yang diukur.
4. Kos Melekat
Kos melekat pada objek yang kontinus dalam upaya menghasilkan pendapatan. Untuk
merepresentasi kegiatan tersebut, akuntansi menggunakan kos untuk merunut kegiatan
produktif kesatuan usaha. Akuntansi menggabungkan berbagai kos yang melekat pada
tiap komponen kegiatan tanpa memperhatikan nilai ekonomik baru yang melekat pada
barang yang dihasilkan. Tambahan utilitas barang atau produk diakui setelah terjadinya
transaksi penjualan dan kos baru sebagai penghargaan masuk ke kesatuan usaha.
5. Upaya dan Capaian/hasil
Biaya merupakan upaya untuk mendatangkan hasil berupa pendapatan. Tidak ada
pendapatan tanpa biaya. Kos yang melekat pada barang atau jasa yang diserahkan kepada
pembeli merupakan pengukur upaya (effort) sedangkan kos yang masuk ke kesatuan
usaha dari pembeli atas penyerahan barang atau jasa tersebut merupakan pengukur hasil
(accomplishment) yang dicapai. Laba yang tepat dapat diukur kalau kos yang keluat
(sebagai pengukur upaya) ditandingkan atau diasosiasi dengan kos yang masuk
(sebagai pengukur hasil) dengan penakar yang tepat. Penakar penandingan dapat berupa
unit produk (alasan ideal) atau perioda waktu (alasan kepraktisan).
Asas akrual atau himpun, karena akuntansi mendasarkan diri pada konsep upaya dan hasil
dalam menentukan besarnya laba, akuntansi tidak membatasi pengertian biaya atau
pendapatan pada biaya yang telah dibayar atau pendapatan yang telah diterima. Akuntansi
menekankan substansi kegiatan atau transaksi yang menimbulkan biaya dan pendapatan.
Artinya, akibat suatu transaksi tertentu yang telah terjadi (past events), berjalannya waktu
sudah dapat menjadi dasar untuk mengakui biaya atau pendapatan. Karena itu dalam
proses penandingan (matching), akuntansi mendasarkan diri pada asar akrual bukannya
asas tunai.

ASAS AKRUAL adalah asas dalam pengakuan pendapatan dan biaya yang menyatakan
bahwa pendapatan diakui pada saat hak kesatuan usaha timbul lantaran penyerahan
barang atau jasa ke pihak luar dan biaya diakui pada saat kewajiban timbul lantaran
penggunaan sumber ekonomik yang melekat pada barang dan jasa yang diserahkan
tersebut. Sebagai konsekuensi asas ini, akuntansi mengakui pos-pos akruan (accrued) dan
tangguhan (deferred).
6. Bukti Terverifikasi dan Objektif
Informasi keuangan akan dapat diandalkan dan tidak menyesatkan kalau informasi
tersebut didukung dengan bukti yang objektif dan dapat diuji kebenarannya
(terverifikasi). Tidak seperti ilmu pasti, akuntansi tidak mendasarkan diri pada
objektivitas dan verifiabilitas mutlak melainkan pada objektivitas dan verifiabilitas
relative atas dasar pertimbangan keadaan dan fakta yang melingkupi suatu transaksi.
7. Asumsi
Akuntansi memerlukan asumsi-asumsi sebagai landasan penalaran. Konsep dasar dalam
banyak hal merupakan asumsi atau paling tidak dilandasi oleh asumsi-asumsi yang
validitasnya sulit diuji secara objektif tetapu bermanfaat untuk basis pemilihan konsep
atau prinsip. Validitas konsep dasar hanya dapat dievaluasi atas dasa intuisi, harapan
normal dan realitas empiris.

Konsep Dasar Lain


1. Substansi Daripada Bentuk
Konsep ini menyatakan bahwa dalam menetapkan suatu konsep di tingkat perekayasaan
atau dalam menetapkan standar di tingkat penyusun standar, akuntansi akan menekankan
makna atau substansi ekonomik suatu objek atau kejadian daripada maka yuridisnya
meskipun makna yuridis mungkin menghendaki atau menyarankan perlakuan akuntansi
yang berbeda.
2. Pengakuan Hak Milik Pribadi
Konsep ini menyatakan bahwa hak milik pribadi harus dilindungi atau diakui secara
yuridis. Tanpa konsep ini, kesatuan usaha tidak dapat memiliki sumber ekonomik atau
aset. Pemilikan merupakan salah satu cara untuk memperoleh penguasaan.
3. Keanekaragaman Akuntansi Antar Entitas
Konsep ini menyatakan bahwa perbedaan perlakuan (metoda) akuntansi antarkesatuan
usaha merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari karena perbedaan kondisi yang

melingkupi dan karakteristik kesatuan usaha individual. Keunikan kesatuan usaha justru
menghendaki perlakuan akuntansi yang berbeda agar informasi keuangan lebih
menggambarkan keadaan unit usaha yang sebenarnya.
4. Konservatisme
Konsevatisme adalah sikap atau aliran (mazhab) dalam menghadapi ketidakpastian untuk
mengambil tindakan atau keputusan atas dasar munculan (outcome) yang terjelek dari
ketidakpastian tersebut. Sikap konservatif juga mengandung makna sikap berhati-hati
dalam menghadapi risiko dengan cara bersedia mengorbankan sesuatu untuk mengurangi
atau menghilangkan risiko.
5. Pengendalian Internal Menjamin Keterandalan Data
Konsep ini menyatakan bahwa sistem pengendalian internal yang memadai merupakan
sarana untuk mendapatkan keterandalan informasi yang tinggi.