Anda di halaman 1dari 12

PENGGUNAAN TEORI DARI DISIPLIN ILMU LAIN

DALAM KEPERAWATAN
Mata Kuliah Science In Nursing
Dosen Pengampuh : Elsi Dwi Hapsari, S.Kp, M.S.,D.S

Oleh
Yosefina Nelista
NIM : 15/388323/PKU/15545

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015
1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat dan karuniaNya
sehingga tugas dengan judul Penggunaan Teori Dari Disiplin Ilmu Lain Dalam
Keperawatan dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Science In Nursing dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Dalam penyusunan tugas ini penulis banyak mendapat
saran, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala
hormat dan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
membantu, sehingga penyusunan tugas ini berjalan dengan baik.
Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam tugas ini, untuk itu
penulis mohon maaf atas segala kekurangan tersebut tidak menutup diri terhadap segala
saran dan kritik serta masukan yang bersifat kontruktif bagi diri penulis.

Yogyakarta, November 2015

Penulis

PENGGUNAAN TEORI DARI DISIPLIN ILMU LAIN


DALAM KEPERAWATAN

Di dunia keperawatan banyak fenomena dan masalah yang terjadi yang sulit untuk
dijelaskan dan diselesaikan. Namun, keperawatan memiliki teori-teori keperawatan yang
bisa digunakan untuk menjelaskannya dan memberi solusi yang tepat untuk
menyelesaikannya. Para ahli teori keperawatan mengemukakan berbagai solusi yang bisa
diterapkan di berbagai lingkup keperawatan. Teori-teori tersebut terus dikembangkan
sehingga akan lebih meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan keperawatan. Teori
keperawatan

disini

sangat

penting

artinya

bagi

pengembangan

profesionalisme

keperawatan. Teori tersebut membedakan ilmu keperawatan dengan disiplin ilmu lain dan
berfungsi menggambarkan, menjelaskan, memperkirakan serta mengontrol hasil asuhan
keperawatan yang diberikan.
Teori keperawatan digunakan untuk menyusun suatu model konsep dalam
keperawatan, sehingga model keperawatan tersebut mengandung arti aplikasi dari struktur
keperawatan itu sendiri yang memungkinkan perawat untuk mengaplikasikan ilmu yang
pernah didapat di tempat mereka bekerja dalam batas kewenangan sebagai seorang perawat.
Model konsep keperawatan ini digunakan dalam menentukan model praktek keperawatan
yang akan diterapkan sesuai kondisi dan situasi tempat perawat tersebut bekerja. Mengingat
dalam model praktek keperawatan mengandung komponen dasar seperti; adanya keyakinan
dan nilai yang mendasari sebuah model, adanya tujuan praktek yang ingin dicapai dalam
memberikan pelayanan ataupun asuhan keperawatan terhadap kebutuhan semua pasien,
serta adanya pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan oleh perawat dalam mencapai
tujuan yang ditetapkan sesuai kebutuhan pasien.
Menurut penulis, dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien, perawat
tidak hanya menggunakan teori keperawatan yang hanya dikembangkan oleh perawat tapi
bisa menggunakan teori dari disiplin ilmu lain tapi harus sesuai dengan kaidah yang ada
dalam keperawatan. Hal ini disebabkan karena apabila seseorang mengalami sakit bukan
hanya masalah fisik semata tetapi lebih luas dari itu yaitu menyangkut masalah psikologis
juga. Dengan demikian kepedulian kita terhadap mereka yang sakit seharusnya perlu dilihat
secara utuh dan menyeluruh dari segi bio, psiko, sosio dan spiritual. Menyadari akan hal

itu, maka mulai mengembangkan pola pelayanan terpadu yang disebut Pola Pelayanan
Holistik. Pelayanan ini dilakukan oleh sebuah tim, yang terdiri dari berbagai profesi salah
satunya perawat dimaksudkan untuk dapat menjangkau dan membantu mengatasi masalahmasalah kesehatan pada pasien dan asuhan keperawatan profesional yang sangat
dibutuhkan dalam proses pengobatannya. Hal ini sesuai dengan salah satu esensi dari
paradigma keperawatan yang

memandang bahwa pasien sebagai manusia yang utuh

(holistik) yang harus dipenuhi segala kebutuhannya baik kebutuhan biologis, psikologis,
sosial dan spiritual yang diberikan secara komprehensif dan tidak bisa dilakukan secara
sepihak atau sebagian dari kebutuhannya.
Menurut Newman (1979), ada tiga cara pendekatan dalam pengembangan dan
pembentukan teori keperawatan yaitu meminjam teori-teori dari disiplin ilmu lain yang
relevan dengan tujuan untuk mengintegrasikan teori-teori ini ke dalam ilmu keperawatan,
menganalisa situasi praktik keperawatan dalam rangka mencari konsep yang berkaitan
dengan

praktik

memungkinkan

keperawatan, serta
pengembangan

teori

menciptakan
keperawatan.

suatu

kerangka

Tujuan

konsep

yang

pengembangan

teori

keperawatan adalah menumbuh kembangkan pengetahuan yang di harapkan dapat


membantu dan mengembangkan praktek keperawatan dan pendidikan keperawatan.
Suatu teori sebelum diterapkan pada praktik keperawatan tertentu dan dipergunakan
peneliti sebagai kerangka kerja teori/ konsep dari suatu riset keperawatan, sangat perlu
terlebih dahulu dilakukan theory analysis. Pada dasarnya theory analysis mempunyai
prosedur antara lain origins, meaning, logical adequacy, usefulness, generalizability,
parsimony dan testability yang bertujuan untuk mengetahui kelebihan, keterbatasan dan
manfaat dari teori tersebut sehingga dapat dipertimbangkan untuk tambahan pengujian
(Meleis, 2007).
Keperawatan yang didasari oleh ilmu, keberadaanya ditopang oleh berbagai disiplin
ilmu pengetahuan lain yang telah berkembang. Teori disiplin ilmu lain sangat membantu
perawat dalam memberikan pelayanan kepada klien. Contoh penerapan teori disiplin ilmu
lain dalam keperawatan :
1. Salah satu teori bidang ilmu lain yang digunakan dalam keperawatan adalah filsafat ilmu
(Philosophy of Science). Jika ditinjau dari aspel filsafat ilmu, ilmu keperawatan
memenuhi karakteristik dan spesifikasi sebagai suatu ilmu yang berdimensi dan bersifat
ilmiah. Meskipun setiap teori keperawatan umumnya merujuk pada suatu fenomena
yang spesifik, tetapi dapat digunakan pada lingkup yang lebih luas, dimana berdasarkan
2

lingkup teorinya, teori keperawatan dapat dibedakan menjadi grand theori, middle range
theori dan micro range teori. Semakin meningkatnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi
dibidang kesehatan akan membuat beberapa teori modern untuk merancang perspektif
baru keperawatan hal ini akan menunjukkan bahwa keperawatan adalah gabungan ilmu
dan seni yang berfokus pada klien secara komprehensif, bio, psiko, sosial dan spritual.
Untuk menjelaskan cara konsep berpikir pengetahuan filsuf agar bisa menjadi sebuah
ilmu pengetahuan, maka ada beberapa komponen-komponen teori keperawatan Calista
Roy yang terkandung dalam pengetahuan filsuf tersebut. 3 (tiga) ilmu yang menjadi
tiang penyangganya yaitu ilmu ontologi, ilmu epistemologi dan aksiologi beserta aliranaliran filsafatnya.
Filsafat keperawatan merupakan pandangan dasar tentang hakekat manusia dan esensi
keperawatan yang menjadikan kerangka dasar dalam praktek keperawatan. Pendapat lain
tentang filsafat keperawatan adalah suatu ilmu yang mempalajari tentang cara berfikir
seorang perawat dalam menghadapi pasiennya tentang kebenaran dan kebijaksanaan
sehingga tingkat kesejahteraan dan kesehatan pasien dapat meningkat. Ilmu keperawatan
jika dilihat dari sudut pandang filsafat akan dapat muncul pertanyaan-pertanyaan antara
lain pertanyaan ontologi (apa ilmu keperawatan), pertanyaan epistemologi (bagaimana
lahirnya ilmu keperawatan) dan pertanyaan aksiologi (untuk apa ilmu keperawatan itu
digunakan).
Menurut penulis, penerapan ilmu filsafat berdampak positif bagi keperawatan karena
filsafat merupakan dasar dari setiap bidang ilmu sehingga memudahkan dalam
pemberian asuhan keperawatan, dapat membantu memecahkan permasalahan dalam
keperawatan, meminimalkan konflik antara sesama profesi dan klien dan dengan
menerapkan ilmu filsafat seorang perawat dapat menggunakan kebijaksanaan yang dia
peroleh dari filsafat sehingga perawat tersebut dapat lebih berfikir positif (positif
thinking).
2. Selain ilmu filsafat, review terhadap beberapa penelitian yang dipublikasikan
mengungkapkan penggunaan Middle Range Teori dalam penelitian keperawatan masih
cukup luas. Sebagian besar Middle Range Teori berasal dari disiplin ilmu lain. Hal ini
sangat jelas ketika kita membandingkan seberapa sering Middle Range Teori dan Grand
Teori dikutip dalam literatur penelitian keperawatan. Dari 173 penelitian, yang
diidentifikasi menggunakan teori adalah 79 (45%). Dan dari 79 penelitian tersebut
diidentifikasi hanya 25 penelitian yang benar-benar menggunakan teori keperawatan dan

54 lainnya menggunakan mengadopsi dari disiplin ilmu lainnya dan kebanyakan dari
ilmu psikologi. Teori adalah satu set terdiri atas konsep-konsep yang berhubungan. Teori
memperlihatkan hubungan antar variabel atau antar konsep yang menyajikan suatu
pandangan yang sistematik tentang fenomena, menjelaskan variabel dan bagaimana
variabel itu berhubungan. Teori adalah cara simbolik untuk mendeskripsikan,
menjelaskan, memprediksi hubungan antar banyak konsep. Contohnya teori Einstein
tentang relativitas, Teori psikoanalitik (S. Freud), teori hierarki (A. Maslow) dan teoriteori lainnya.
3. Seseorang dikatakan sehat apabila dilihat sebagai pencapaian yang melibatkan
keseimbangan antara kesejahteraan fisik, mental dan sosial. Peranan ilmu Psikologi
dalam dunia keperawatan sangat besar. Hal tersebut disebabkan karena peran psikologis
seseorang selalu menyertai diri, sejak mulai merasakan sakit kemudian masuk rumah
sakit hingga keluar dari rumah sakit dan sembuh. Fungsi dari Psikologi keperawatan
menganalisa

dan

berusaha

meningkatkan

sistem

perawatan

kesehatan

dan

merumuskannya dalam kebijakan kesehatan. Selain itu, dengan ilmu psikologi kita dapat
lebih memahami kepribadian dan tingkah laku pasien sehingga kita dapat menyelesaikan
masalah tersebut dengan sudut pandang yang berbeda. Salah satu contoh penerapan teori
Sigmud Freud tentang model psikoanalisa. Model psikoanalisa adalah pandangan pada
manusia yang pada

hakikatnya adalah makhluk dorongan nafsu. Psikoanalisa

merupakan model yang pertama dikemukakan oleh Sigmund Freud, sehingga beliau di
kenal dengan bapak Psikoanalisa. Psikoanalisa meyakini bahwa penyimpangan perilaku
pada usia dewasa berhubungan dengan perkembangan pada masa anak ( Kohnstamn &
Palland, 1984 : 66 ).
Menurut penulis, model psikoanalisa tidak dapat terpisahkan dalam praktik keperawatan
khususnya dalam lingkup keperawatan jiwa. Model psikoanalisa memandang bahwa
perilaku yang ditunjukkan oleh setiap manusia tidak terlepas dari proses tumbuh
kembang yang dialaminya. Sehingga kegagalan seseorang dalam fase tumbuh
kembangnya dapat menyebabkan seseorang melakukan perilaku yang maladaptive.
4. Madeleine Leininger menguraikan teori keperawatan transkultural pada tahun 1970-an,
dan pada tahun 1978, Leininger menyajikan suatu model pembangkit teori untuk studi
tentang teori dan praktik keperawatan transkultural. Transcultural Nursing Theory ini
berasal dari disiplin ilmu antropologi dan dikembangkan dalam konteks keperawatan.
4

Teori ini menjabarkan konsep keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang
adanya perbedaan nilai-nilai kultural yang melekat dalam masyarakat.
Menurut penulis, teori ini sangat bermanfaat dalam bidang keperawatan karena bisa
membantu perawat dalam memahami tentang tentang adanya perbedaan nilai-nilai
kultural yang melekat dalam masyarakat. Pemberian asuhan keperawatan pada klien
harus memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai, bila hal tersebut diabaikan
oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya cultural shock. Cultural shock akan
dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan
perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa
ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami disorientasi. Kebutaan
budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas pelayanan
keperawatan yang diberikan. Perawat juga harus menghargai budaya dan nilai yang
dianut oleh pasien. Dalam pemberian asuhan transkultural, perawat harus mempelajari
norma-norma, nilai-nilai dan cara hidup budaya tertentu dalam rangka memberikan
bantuan dan dukungan dengan tujuan untuk membantu individu mempertahankan tingkat
kesejahteraanya, memperbaiki cara hidup atau kondisinya, dan belajar menerima
batasan-batasan.
5. Teori Watson
Salah satu kelemahan teori Watson menurut George (1995) adalah lebih menekankan
pada kebutuhan psiksosial. Sebenarnya perawat juga perlu memahami kebutuhan
psiksosial klien, karena selama ini lebih perawat lebih banyak berfokus hanya kepada
kebutuhan biofisik klien. Meskipun demikian dalam teori Watson juga terdapat
pengkajian kebutuhan biofisik dan penyelesaian masalah dalam hal pemuasan
kebutuhan semua aspek termasuk biofisik. Namun untuk lebih saling menguatkan, salah
satu cara untuk menutupi kelemahan teori Watson ini dalam penerapan teori ini di dalam
praktik adalah dengan mengkombinasikan atau memodifikasi teori ini dengan konsep
atau teori lain yang lebih menekankan pada kebutuhan biofisik dan kebutuhan lain
sehingga dapat saling mengisi dan melengkapi. Setiap ahli teori memiliki penekanan
tersendiri dalam teori yang disampaikannya sesuai dengan latar belakang kelimuan dan
pengalamannya.
Perlu diketahui bahwa setiap ahli keperawatan yang menghasilkan teori keperawatan,
memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman serta kecenderungan yang berbedabeda sehingga teori yang dihasilkan juga akan cenderung pada latar belakang para ahli

itu masing-masing. Seperti teori Watson ini lebih menekankan pada aspek psikologis
karena Watson memiliki latar belakang pendidikan yang lebih kuat pada bidang
keperawatan psikologis-mental sehingga jika teorinya lebih menekankan pada aspek
psikologis keperawatan. Oleh karena itu, perawat harus membiasakan diri untuk
berdiskusi bersama rekan sejawat dan bila perlu melibatkan para pakar untuk
menentukan teori apa yang baik dan sesuai untuk diterapkan, sesuai dengan kondisi dan
situasi institusi pelayanan tempat perawat tersebut bekerja.
6. Teori Roger
Roger menjelaskan bahwa keperawatan merupakan profesi yang menggabungkan unsur
ilmu pengetahuan dan seni. Kaitannya dengan proses kehidupan manusia bahwa, ilmu
keperawatan merupakan ilmu pengetahuan empiris yang menggambarkan, menerangkan,
dan memprediksi proses kehidupan manusia.oleh sebab itu, keperawatan bersifat unik
karena merupakan satu-satunya ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan seluruh aspek
kehidupan manusia. Disebutkan juga bahwa praktik keperawatan profesional merupakan
praktik yang bersifat kreatif, imajinatif dan eksis untuk melayani individu. Praktik
keperawatan profesional tidak memiliki fungsi dependen, melainkan bersifat kolaboratif.
Dasar teori Rogers adalah ilmu tentang asal usul manusia dan alam semesta seperti
antropologi, sosiologi, agama, filosofi, perkembangan sejarah dan mitologi. Teori Rogers
berfokus pada proses kehidupan manusia secara utuh. Ilmu keperawatan adalah ilmu
yang mempelajari manusia, alam dan perkembangan manusia secara langsung
Walaupun prinsip-prinsip homeodinamik konsisten dengan tujuan universal, ada
keterbatasan utama pelaksanaan prinsip-prinsip universal. Banyak orang mengalami
kesulitan untuk memahami prinsip-prinsipnya. Meskipun asumsi dasar yang diberikan
dan prinsip-prinsip yang ditetapkan, sistem tetap abstrak. Persyaratan belum cukup untuk
dioperasionalkan untuk menyediakan pemahaman yang jelas. Kesulitan definisi
pengoperasian konsep serta membawa keabstrakan konsep dan hubungan ke tingkat
empiris untuk pengujian yang mengganggu banyak ilmuwan perawat (Kim, 1986).
Pada tahap dalam perkembangan ilmu keperawatan, instrumen yang cukup akan menilai
manusia dalam totalitas mereka tidak ada. Tanpa instrumen tersebut, kemampuan
menggunakan atau menguji sistem abstrak sepenuhnya adalah hampir tidak mungkin.
Selanjutnya, ketidakmampuan untuk cukup menggunakan atau menguji sistem yang
membuat kesuksesan mengimplementasikan kesulitan keperawatan. Dengan demikian,
penggunaan prinsip-prinsip homeodynamics di dalamnya adalah totalitas terbatas.
6

7. Teori Maslow
Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistic. Teori hierarki
kebutuhan Maslow adalah teori yang diungkapkan oleh Abraham Maslow. Ia
beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling
tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih
tinggi menjadi hal yang memotivasi. Kebutuhan-kebutuhan ini sering disebut Maslow
sebagai kebutuhan-kebutuhan dasar yang digambarkan sebagai sebuah hierarki atau
tangga yang menggambarkan tingkat kebutuhan. Menurut Abraham Maslow, manusia
memiliki lima tingkat kebutuhan hidup yang akan selalu berusaha untuk dipenuhi
sepanjang masa hidupnya. Lima tingkatan yang dapat membedakan setiap manusia dari
sisi kesejahteraan hidupnya, teori yang telah resmi diakui dalam dunia psikologi.
Kebutuhan tersebut berjenjang dari yang paling mendesak hingga yang akan muncul
dengan sendirinya saat kebutuhan sebelumnya telah dipenuhi. Setiap orang pasti akan
melalui tingkatan-tingkatan itu, dan dengan serius berusaha untuk memenuhinya, namun
hanya sedikit yang mampu mencapai tingkatan tertinggi dari piramida ini. Terdapat lima
tingkat kebutuhan dasar, yaitu : 1. kebutuhan fisiologis, 2. kebutuhan akan rasa aman, 3.
kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang,4. kebutuhan akan penghargaan dan 5.
kebutuhan akan aktualisasi diri.
Menurut teori Maslow seseorang yang seluruh kebutuhannya terpenuhi merupakan
orang yang sehat, dan seseorang dengan satu atau lebih kebutuhan yang tidak terpenuhi
merupakan orang yang berisiko untuk sakit atau mungkin tidak sehat pada satu atau
lebih dimensi manusia.
Menurut penulis, penerapan teori Maslow dalam bidang keperawatan dapat digunakan
perawat untuk memahami hubungan antara kebutuhan dasar manusia pada saat
memberikan perawatan. Menurut teori ini, beberapa kebutuhan manusia tertentu lebih
dari pada kebutuhan lainnya; oleh karena itu, beberapa kebutuhan harus dipenuhi
sebelum kebutuhan yang lain. Misalnya, orang yang lapar akan lebih mencari makanan
daripada melakukan aktivitas untuk meningkatkan harga diri. Kebutuhan dasar manusia
adalah terpenuhinya tingkat kepuasan agar manusia bias mempertahankan hidupnya.
Peran perawat yang utama adalah memenuhi kebutuhan dasar manusia dan tercapainya
suatu kepuasan bagi diri sendiri serta kliennya, meskipun dalam kenyataannya dapat
memenuhi salah satu dari kebutuhan membawa dampak terhadap perubahan system
dalam individu

Teori Maslow mengenai kebutuhan manusia dapat memberikan dasar untuk memberikan
perawatan pada klien dari semua umur dan dalam berbagai lingkungan pelayanan
kesehatan. Pada saat perawat menerapkan teori ini dalam praktek, bagaimanapun juga,
fokusnya adalah pada kebutuhan individu lebih dari pada ketaatan yang kaku pada
hierarki Maslow. Hierarki maslow pada umumnya mengenai priorits kebutuhan pada
kebanyakan manusia dan tidak pada seluruh manusia. Dalam semua kasus kedaruratan
kebutuhan fisiologis mengambil tempat yang lebih dulu di atas tingkat kebutuhan yang
lebih tinggi. Untuk memberikan perawatan yang paling efektif perawat perlu memahami
hubungan antara kebutuhan yang berbeda pada setiap individu.
Penelitian yang dilakukan oleh Antonio M. Villarrvel, et all tentang Borrowed
Theories, Shared Theories and Advancement Of Nursing Knowledge , dikatakan bahwa
dalam mengadopsi teori dan disiplin ilmu lain harus dipilah dan harus dipertimbangkan.
Penelitian ini menggunakan teori dan meskipun menggunakan teori yang dipinjam dari
disiplin dalam keperawatan, sedikti perhatian telah diberikan untuk menentukan apakah
teori yang dikembangkan dalam disiplin lain adalah deskripsi empiris yang memadai,
penjelasan atau prediksi fenomena keperawatan. Pada penelitian ini menggambarkan atau
menunjukkan bagaimana teori yang dipinjam dapat ditempatkan dalam konteks
keperawatan dengan menghubungkan dua metode konseptual yang berbeda.
Peranan teori dari disiplin ilmu lain sangat membantu perawat dalam menangani
masalah klien. Berbagai masalah dalam duni keperawatan yang bisa teratasi berkat bantuan
dari teori disiplin ilmu lain. Sebelum menerapkan teori dari disiplin ilmu lain ke
keperawatan harus diidentifikasi apakah ada hubungan antara disiplin ilmu lain terhadap
keperawatan, apakah teori tersebut bersifat ilmiah atau rasional untuk diterapkan dan
apakah bisa memperbaiki kualitas praktik keperawatan.
Fawcett (2005), menyatakan jika teori dipinjam dari disiplin ilmu yang lain harus
sesuai dengan konteks keperawatan dengan menyesuaikan dengan konseptual model
keperawatan. Teori dari disiplin ilmu lain tersebut dapat digunakan dalam pengembangan
pelayanan keperawatan lebih lanjut. Keberhasilan seorang perawat profesional dalam
memberikan pelayanan keperawatan sangatlah tergantung pada kemampuannya mensintesis
berbagai ilmu tersebut dan aplikasinya kedalam suatu bentuk pelayanan profesional.

Menurut Torres (1985) dan Chinn-Jacob (1983) ada lima karakteristik dasar teori dan
konsep keperawatan, yaitu:
a. Teori keperawatan mengidentifikasi dan didefinisikan sebagai hubungan yang
spesifik dari konsep keperawatan seperti hubungan antara konsep manusia, konsep
sehat-sakit, keperawatan dan konsep lingkungan.
b. Teori keperawatan harus bersifat alamiah. Artinya, teori keperawatan digunakan
dengan alasan atau rasional yang jelas dan dikembangkan dengan menggunakan cara
berpikir yang logis.
c. Teori keperawatan bersifat sederhana dan umum. Artinya, teori keperawatan dapat
digunakan pada masalah yang sederhana maupun masalah kesehatan yang kompleks
sesuai dengan situasi praktek keperawatan.
d. Teori keperawatan berperan dalam memperkaya body of knowledge keperawatan
yang dilakukan melalui penelitian.
e. Teori keperawatan menjadi pedoman dan berperan dalam memperbaiki kualitas
praktek keperawatan

Daftar Pustaka
Aish, A. E., & Isenberg, M. (1996). Effects of Orem-based nursing intervention on
nutritional self-care of myocardial infarction patients. International Journal of Nursing
Studies, 11, 259-270.

Alligood, M., 2006. Introduction to Nursing Theory: Its History, Significance, and Analysis.
Evolution of Nursing Theories, 7(1), pp.213.
Barnard, A., 2002. Philosophy of technology and nursing. Nursing Philosophy, 3(07),
pp.1526.
Bruce, A., Rietze, L. & Lim, A., 2014. Understanding Philosophy in a Nurse s World :
What , Where and Why? , 2(3), pp.6571.
Fawcett, J. (2005). Contemporary nursing Knowledge : Analysis and Evaluation of nursing
models and theories (2 nd.ed). Phiadelphia : F.A. Davis Company
Kolcaba, K., 1994. A theory of holistic comfort for nursing. Journal of Advanced Nursing,
19(6), pp.11781184.
Marchuk, A.,2014. A Personal Nursing Philosophy In Practice.
Meleis Ibrahim A., (2007). Theoretical nursing: development and progress, 3rdedition,
Philadelphia: Lippincott.
Neuman, B. (1995). The Neuman systems model (3rd ed.). Norwalk, CT: Appleton &
Lange.
Roussel, L., 1996. Theories Guiding Professional learning Objektives and Activities. ,
pp.1848.
Villarruel, a M. et al., 2001. Borrowed theories, shared theories, and the advancement of
nursing knowledge. Nursing science quarterly, 14(2), pp.158163.

10