Anda di halaman 1dari 454

METODOLOGI PENELITIAN ILMU KEPERAWATAN

Pendekatan Praktis

Edisi 4

Nursalam

METODOLOGI PENELITIAN ILMU KEPERAWATAN Pendekatan Praktis Edisi 4 Nursalam

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis

Edisi 4

Nursalam

General Manager: Suwartono Senior Editor: Aklia Suslia Editor: Peni Puji Lestari Tata Letak: Hilda Yunita Desain Sampul: Deka Hasbiy

Tata Letak: Hilda Yunita Desain Sampul: Deka Hasbiy Hak Cipta © 2015, 2013, 2008, 2003, Penerbit

Hak Cipta © 2015, 2013, 2008, 2003, Penerbit Salemba Medika Jln. Raya Lenteng Agung No. 101 Jagakarsa, Jakarta Selatan 12610

Telp.

: (021) 781 8616

Faks.

: (021) 781 8486

Website

: http://www.penerbitsalemba.com

E-mail

: info@penerbitsalemba.com

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penerbit.

UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA

1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pengetahuan medis senantiasa berubah. Oleh karena itu, standar tindakan pencegahan serta perubahan dalam perawatan dan terapi wajib diikuti seiring dengan penelitian dan pengalaman klinis baru yang memperluas pengetahuan. Pembaca disarankan untuk memeriksa informasi terbaru yang disediakan oleh produsen masing-masing obat (yang akan diberikan) untuk memverifikasi dosis, metode, dan interval pemberian yang direkomendasikan serta kontraindikasinya. Merupakan tanggung jawab dari praktisi dengan memperhatikan pengalaman dan pengetahuan pasien untuk menentukan dosis dan perawatan terbaik bagi masing-masing pasien. Penerbit maupun penulis tidak bertanggung jawab atas kecelakaan dan/atau kerugian yang dialami seseorang atau sesuatu yang diakibatkan oleh penerbitan buku ini.

Nursalam

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis Edisi 3/Nursalam

—Jakarta: Salemba Medika, 2015

1 jil., 454 hlm., 19 × 26 cm

ISBN 978-602-7670-27-3

1.

Keperawatan

2.

Riset Keperawatan

I.

Judul

II.

Nursalam

Kata Pengantar

iii

Kata Pengantar iii TENTANG PENULIs Dr. Nursalam, M.Nurs., (Hons.) adalah staf pengajar di Fakultas Keperawatan

TENTANG PENULIs

Kata Pengantar iii TENTANG PENULIs Dr. Nursalam, M.Nurs., (Hons.) adalah staf pengajar di Fakultas Keperawatan

Dr. Nursalam, M.Nurs., (Hons.) adalah staf pengajar di Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga. Penulis menempuh pendidikan D-3 Ilmu Keperawatan di Akademi Keperawatan Sutomo Surabaya lulus tahun 1988. Pada tahun1991, penulis mendapatkan Graduate Certificate Medical Surgical Nursing di Lambton College Sarnia, Ontario, Kanada. Kemudian penulis menyelesaikan S-2 Keperawatan (Coursework tahun 1996) di University of Wollongong, New South Wales, Australia, dan mendapatkan gelar Honours Master of Nursing di universitas yang sama pada tahun 1998. Pada tahun 2005, penulis menyelesaikan pendidikan S-3 Ilmu Kedokteran di Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Selain sebagai pengajar, penulis juga aktif di berbagai seminar keperawatan. Penulis telah menulis beberapa buku keperawatan dan menulis artikel di berbagai jurnal, baik jurnal nasional maupun internasional.

METODOLOGI PENELITIAN ILMU KEPERAWATAN

Pendekatan Praktis

Edisi 3

Nursalam

METODOLOGI PENELITIAN ILMU KEPERAWATAN Pendekatan Praktis Edisi 3 Nursalam
KATA PENGANTAR Peran sebagai peneliti yang dilakukan kalangan perawat masih sering terlupakan dan terabaikan, meski

KATA PENGANTAR

Peran sebagai peneliti yang dilakukan kalangan perawat masih sering terlupakan dan terabaikan, meski telah menjadi hal yang takterpisahkan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Hal ini terjadi karena perawat masih belum mempunyai kemampuan yang memadai dalam penelitian, khususnya pemahaman tentang lingkup masalah penelitian ilmu keperawatan dan penerapan metodologi penelitian keperawatan yang sesuai.

Buku Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis Edisi 4 ini merupakan upaya penulis untuk mendorong para teman-teman sejawat untuk bersama- sama belajar tentang metodologi penelitian ilmu keperawatan dan menyosialisasikan kepada profesi kesehatan lain maupun pemerhati tentang keperawatan khususnya tentang kaidah ilmu: ontologi dan epistemologi ilmu keperawatan. Sekiranya akan terdapat suatu pengakuan profesional bahwa “Nursing is as a science in which separated with medical science”.

Saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung saya untuk dapat menyelesaikan penulisan buku ini. Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Seluruh Pengelola dan Staf PSIK FK UNAIR, Rekan-rekan Perawat (PPNI) di Jawa Timur, Institusi Pendidikan Akademi Keperawatan & Kebidanan. Taklupa saya sampaikan terima terima kasih kepada keluarga saya tercinta: istri dan anak-anak yang telah memberikan inspirasi kepada saya untuk menulis buku ini.

Saya menyadari buku ini masih jauh dari sempurna. Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, saya sebagai penulis mohon masukan dan saran yang bersifat membangun. Saya juga mohon maaf mungkin ada beberapa pernyataan yang saya tulis dari para pakar yang tidak sesuai, untuk itu saya mohon maaf dan rasa terima kasih serta hormat kepada semua pihak.

Surabaya, Mei 2013

Nursalam

vi

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis

DAFTAR IsI TENTANG PENULIS KATA PENGANTAR DAFTAR ISI III V VII BAGIAN 1 TREN PENELITIAN

DAFTAR IsI

TENTANG PENULIS KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

III

V

VII

BAGIAN

1

TREN PENELITIAN KEPERAWATAN

1

BAB

1

Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Ilmiah

3

 

PENDAHULUAN BERPIKIR LOGIS KAJIAN TENTANG ILMU DAN METODE ILMIAH Ilmu Penggolongan Ilmu Syarat Ilmu DAFTAR PUSTAKA

3

3

4

4

5

6

11

BAB

2

Kajian Ilmu Keperawatan

13

 

PENGANTAR FILSAFAT ILMU KEPERAWATAN ILMU KEPERAWATAN: TEORI ADAPTASI KOMPONEN ILMU KEPERAWATAN: TEORI ADAPTASI Manusia Keperawatan Konsep Sehat—Sakit Konsep Lingkungan Aplikasi pada Asuhan Keperawatan: Proses Keperawatan DAFTAR PUSTAKA

13

15

16

16

20

21

21

21

25

BAGIAN

2

MASALAH PENELITIAN DAN KERANGKA KONSEP

27

BAB

3

Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian

29

MASALAH

29

Menyeleksi Masalah Riset Keperawatan

30

Lingkup Masalah Penelitian Keperawatan menurut Nursalam (2002)

31

Kajian Masalah/Sumber Masalah Penelitian Keperawatan

31

RUMUSAN MASALAH ATAU PERTANYAAN PENELITIAN

32

Faktor-faktor yang Mendasari Perumusan Masalah

33

viii

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis

BAB

4

MENYUSUN RUMUSAN DAN TUJUAN PENELITIAN

36

LAMPIRAN

39

Rumusan Masalah: Masalah dan Pertanyaan Penelitian Keperawatan

39

Contoh: Penelusuran Masalah/Topik Penelitian

42

Spider Web

43

Keaslian Penulisan

44

DAFTAR PUSTAKA

47

Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian

49

MENYUSUN KERANGKA KONSEP

49

Penyusunan Kerangka Konseptual dalam Penelitian

49

MENYUSUN HIPOTESIS PENELITIAN

50

Langkah Penyusunan

50

Syarat Hipotesis

52

Tujuan Hipotesis

52

Sumber Hipotesis

52

Tipe Hipotesis

53

KONSEP SELF-CARE

54

KONSEP SELF-CARE AGENCY

54

Pengukuran Self-Care Agency

57

Contoh Kerangka Konsep Berbasis Self-Care (Orem) Self-Care Agency (Kemandirian Orem) Penerapan pada Ibu Nifas dengan Menggunakan Pendekatan Teori Self Care Model

58

DAFTAR PUSTAKA

59

KONSEP MODEL INTERAKSI MANUSIA (IMOGENE M. KING)

60

Kerangka Konsep Imogene M. King (Fadilah, 2009)

61

Konsep Interaksi Manusia Imogene M. King

62

Sistem Interpersonal

63

DAFTAR PUSTAKA

65

FAMILY-CENTERED NURSING (FIEDMAN, 2003)

65

DAFTAR PUSTAKA

71

TEORI CULTURE CARE DARI LEININGER (TRANSCULTURAL CARE = SUNRISE)

71

DAFTAR PUSTAKA

75

HEALTH PROMOTION MODEL (HPM)

75

DAFTAR PUSTAKA

80

PRECEDE PROCEED MODEL

80

Perilaku Kesehatan Berdasarkan Teori Lawrence Green

80

Kualitas Hidup (Quality of Life)

82

DAFTAR PUSTAKA

86

TEORI PERILAKU TERENCANA (THEORY OF PLANNED BEHAVIOR)

87

Sejarah Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior)

87

DAFTAR PUSTAKA

96

SELF REGULATION MODEL

97

DAFTAR PUSTAKA

98

TEORI MODEL PENCEGAHAN PRIMER (CAPLAN, 2001)

98

Daftar Isi

ix

BAB

5

PENGEMBANGAN MUTU PELAYANAN/PRODUKTIVITAS (KOPELMEN)

100

DAFTAR PUSTAKA

103

MODEL MAKP (METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL) DAN ATAU MPKP

103

Kepuasan Perawat

103

Model Kesenjangan (The Expectancy–Disconfirmation Model) (Woodruff & Gardial, 2002)

104

Theory of Servqual

104

DAFTAR PUSTAKA

115

KONSEP KINERJA & TEAM WORK

116

Definisi Kinerja

116

Team Work

118

Semangat Kerja

122

DAFTAR PUSTAKA

125

TEORI MOTIVASI McCLELLAND

125

BURNOUT SYNDROME TEORI MASLACH

127

Konsep Dasar Burnout Syndrome

127

DAFTAR PUSTAKA

131

CONTOH KERANGKA KONSEPTUAL BERBASIS INTEGRASI MODEL (LAWRENCE GREEN)

132

DAFTAR PUSTAKA

133

STRES, APPRAISAL, AND COPING STRATEGY IN TRANSACTIONAL THEORY (LAZARUS & FOLKMAN, 1984)

134

DAFTAR PUSTAKA

135

MATERNAL ROLE ATTAINMENT dan BECOMING MOTHER (MERCER)

136

Pencapaian Peran Ibu: Mercer’s Original Model

136

Becoming a Mother : Model Revisi

137

DAFTAR PUSTAKA

138

MODEL STRUCTURE OF CARING (SWANSON, 1993)

138

DAFTAR PUSTAKA

139

Lingkup Masalah Penelitian Ilmu Keperawatan

141

ILMU KEPERAWATAN DASAR DAN MANAJEMEN KEPERAWATAN

141

ILMU KEPERAWATAN ANAK

143

ILMU KEPERAWATAN MATERNITAS

146

ILMU KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DAN GAWAT DARURAT

147

Ilmu Keperawatan Medikal Bedah

147

Ilmu Keperawatan Gawat Darurat

150

ILMU KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

151

ILMU KEPERAWATAN KOMUNITAS, KELUARGA, DAN GERONTIK

152

Komunitas

152

Keluarga

153

Gerontik

153

DAFTAR PUSTAKA

153

x

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis

BAGIAN

3

METODOLOGI PENELITIAN

155

BAB

6

Rancangan Penelitian

157

 

PENDAHULUAN PEMILIHAN RANCANGAN PENELITIAN JENIS RANCANGAN PENELITIAN Rancangan Penelitian Non–Eksperimen Rancangan Penelitian Eksperimental DAFTAR PUSTAKA

157

158

160

160

165

168

BAB

7

Populasi, Sampel, Sampling, dan Besar Sampel

169

 

POPULASI Pembagian Populasi Kriteria Populasi SAMPEL DAN SAMPLING Sampel Sampling DAFTAR PUSTAKA

169

169

170

171

171

173

175

BAB

8

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

177

 

VARIABEL Definisi Jenis Variabel DEFINISI OPERASIONAL Konsep Pengertian dan Definisi DAFTAR PUSTAKA

177

177

177

180

180

182

BAB

9

Penyusunan Instrumen dan Pengumpulan Data

183

 

PENYUSUNAN INSTRUMEN Prinsip: Validitas dan Reliabilitas Jenis-jenis Instrumen PENGUMPULAN DATA Tugas Peneliti dalam Pengumpulan Data Karakteristik Metode Pengumpulan Data Masalah-masalah pada Pengumpulan Data Prinsip Etis dalam Penelitian (Pengumpulan Data) DAFTAR PUSTAKA

183

183

185

191

191

192

193

194

195

BAB

10 Analisis Data Penelitian Kuantitatif

197

PENDAHULUAN

197

Ciri-ciri Pokok Statistik

197

Jenis Landasan Kerja Pokok yang Digunakan oleh Statistik

198

PERAN STATISTIK DALAM TAHAPAN Penelitian

198

ANALISIS DATA

199

Klasifikasi Skala Pengukuran

199

Langkah-langkah Analisis Data

200

Daftar Isi

xi

 

INTERPRETASI HASIL ANALISIS DATA DAFTAR PUSTAKA

202

205

BAB

11 Penulisan Hasil Penelitian

207

 

PENDAHULUAN PENULISAN ISI HASIL PENELITIAN Bagian Pendahuluan Bagian Metodologi Instrumen dan Metode Pengumpulan Data Penulisan Analisis Data Bagian Penulisan Hasil Penelitian DAFTAR PUSTAKA

207

207

208

208

209

209

210

211

BAGIAN

4

CONTOH PENYUSUNAN INSTRUMEN PENELITIAN

213

BAGIAN

5

PEDOMAN PENULISAN USULAN PENELITIAN DAN SKRIPSI

387

PENDAHULUAN

388

PEDOMAN PENULISAN

388

PEDOMAN PENULISAN USULAN PENELITIAN (PROPOSAL)

390

PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI DAN TESIS

397

PENULISAN DAPUS

412

Lampiran

L-1

Indeks

I-1

xii

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis

Bagian

1

TREN PENELITIAN KEPERAWATAN

• Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Ilmiah

• Kajian Ilmu Keperawatan

Bab 1

Bab 2

2

Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

Bab 1  •  Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Penelitian

3

Bab 1

Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Ilmiah

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Kajian ilmiah tentang ilmu keperawatan merupakan suatu keharusan bagi para perawat Indonesia saat ini. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa belum terdapat kejelasan tentang ilmu yang secara empiris dapat diterima secara ilmiah oleh masyarakat nonkeperawatan. Realitasnya, suatu ilmu dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: proses, produk, dan paradigma etis. Proses merupakan suatu kegiatan untuk memahami alam semesta dan isinya didasarkan pada tuntutan metode keilmuan (rasionalitas dan objektif). Produk adalah segala proses keilmuan yang harus menjadi milik umum dan selalu terbuka untuk dikaji oleh orang lain. Paradigma etis artinya ilmu harus mengandung nilai-nilai moral dan etika yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral yang ada di masyarakat. Pada bab ini, penulis hanya akan memfokuskan bahasan pada kajian ilmiah ilmu keperawatan dengan penekanan dalam pembahasan berpikir logis dan ilmiah. Berpikir logis adalah berpikir lurus dan teratur terhadap sesuatu hal yang diyakini dari suatu objek atau fenomena. Objek atau fenomena tersebut berupa suatu pokok permasalahan yang dikaji untuk membedakan antara benar dan salah. Berpikir ilmiah adalah cara berpikir dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah, yaitu melalui metode ilmiah yang merupakan alat/sarana penjelasan dalam mempelajari prosedur tertentu untuk mendapatkan ilmu. Metode ilmiah mempelajari cara identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan, hipotesis, metode, hasil, dan kesimpulan yang berdasarkan atas kaidah ilmiah.

BERPIKIR LOGIS

BERPIKIR LOGIS

Berpikir logis merupakan proses berpikir yang didasari oleh konsistensi terhadap keyakinan-keyakinan yang didukung oleh argumen yang valid. Pengertian lain dari berpikir logis adalah berpikir lurus, tepat, dan teratur sebagai objek formal logika. Suatu pemikiran disebut lurus, tepat, dan teratur apabila pemikiran itu sesuai dengan hukum, aturan, dan kaidah yang sudah ditetapkan dalam logika. Mematuhi hukum, aturan,

4

Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

dan kaidah logika berguna untuk menghindari pelbagai kesalahan dan penyimpangan (bias) dalam mencari kebenaran ilmiah. Pada hakikatnya, pikiran manusia terdiri atas tiga unsur, yaitu:

a. Pengertian (informasi tentang fakta).

b. Keputusan (pernyataan benar-tidak benar).

c. Kesimpulan (pembuktian-silogisme).

Dalam logika ilmiah, tiga unsur pikiran manusia tersebut harus dinyatakan dalam kata (kalimat tulisan). Tiga pokok kegiatan akal budi manusia, yaitu:

a. Menangkap sesuatu sebagaimana adanya, yang berarti menangkap sesuatu tanpa mengakui atau memungkiri (pengertian atau pangkal pikir, disebut juga premis).

b. Memberikan keputusan, yang berarti menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian yang lain atau memungkiri hubungan tersebut.

c. Merundingkan, yang berarti menghubungkan keputusan satu dengan keputusan yang lain sehingga sampai pada satu kesimpulan (pernyataan baru yang diturunkan berdasarkan premis).

KAJIAN TENTANG ILMU DAN METODE ILMIAH

KAJIAN TENTANG ILMU DAN METODE ILMIAH

ILMU

Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah. Makna ilmu menunjukkan sekurang-kurangnya tiga hal (Gambar 1.1):

a. Kumpulan pengetahuan (produk).

b. Aktivitas ilmiah dan proses berpikir ilmiah (proses).

c. Metode ilmiah (metode).

Proses ILMU Produk Metode
Proses
ILMU
Produk
Metode
Gambar 1.1 Makna ilmu a. Ilmu sebagai Produk
Gambar 1.1
Makna ilmu
a. Ilmu sebagai Produk

Ilmu sebagai produk, merupakan kumpulan informasi yang telah teruji kebenarannya dan dikembangkan berdasarkan metode ilmiah dan pemikiran logis (Kemeny, 1961).

Bab 1  •  Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Penelitian

5

Struktur ilmu adalah sebagai berikut.

1. Paradigma

2. Teori

3. Konsep dan asumsi

4. Variabel dan parameter

b. Ilmu Sebagai Proses

Ilmu sebagai proses, merupakan cara mempelajari suatu realitas (kejadian) dan upaya memberi penjelasan tentang suatu mekanisme (jawaban terhadap pertanyaan mengapa dan bagaimana) (Adib, 2011). Karakteristik ilmu:

1. Logico-emperical-verifikatif

2. Generalized understanding

3. Theoritical construction

4. Menjawab pertanyaan mengapa (why) dan bagaimana (how)

c. Ilmu sebagai Metode

Ilmu sebagai metode, merupakan metode untuk memperoleh pengetahuan yang objektif dan dapat diuji kebenarannya (Adib, 2011). Metode adalah rangkaian cara dan langkah yang tertib dan terpola untuk menegaskan bidang keilmuan, sering kali disebut metode ilmiah. Metode ilmiah berkaitan erat dengan logika, metode penelitian, metode pengambilan sampel, pengukuran, analisis, penulisan hasil, dan kesimpulan. Pendekatan adalah pemilihan area kajian.

PENGGOLONGAN ILMU

Pendapat mengenai pengelompokan ilmu sangat banyak, bergantung pada kriteria penggolongannya. Secara umum, ilmu hampir selalu dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu: (a) ilmu nomotetik dan (b) ilmu idiografik (Putra, 2010).

a. Ilmu Nomotetik (Deduktif) Ilmu Nomotetik merupakan suatu ilmu yang didasarkan pada kajian-kajian makro (kasus-kasus) yang luas dan banyak terjadi, kemudian dijabarkan pada hal-hal yang khusus. Pendekatan penelitian dapat digolongkan pada metode kuantitatif. Misalnya, semua klien yang masuk rumah sakit akan mengalami stres hospitalisasi. Klien anak, klien remaja, dan klien dewasa yang masuk rumah sakit akan mengalami stres.

b. Ilmu Idiografik (Induktif) Ilmu Idiografik merupakan suatu kajian ilmu yang didasarkan pada hal-hal yang mikro, unik, khusus, dan bersifat individual, kemudian ditarik suatu kesimpulan secara umum. Pendekatan penelitian digolongkan pada metode kualitatif. Contoh, penyanyi A berambut keriting, penyanyi B rambutnya keriting, penyanyi C dan penyanyi lainnya juga berambut keriting, semuanya pandai bernyanyi. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang memiliki rambut keriting pandai bernyanyi.

6

Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

SYARAT ILMU

Terdapat beberapa persyaratan bahwa suatu pengetahuan dianggap sebagai ilmu:

a. Memenuhi Syarat sebagai Ilmu Pengetahuan Ilmiah

1. Logis: Dapat dinalar dan masuk akal Misalnya, pada ilmu keperawatan. Klien yang masuk rumah sakit mengalami stres, di samping keadaan sakitnya, klien harus beradaptasi terhadap lingkungan baru (orang/perawat, peraturan-peraturan, dan lain-lain).

2. Empiris: Data dapat diamati dan diukur Misalnya, data tentang respons klien yang mengalami stres, dapat diamati dan diukur dari ketidakmampuan klien untuk beradaptasi terhadap stresnya. Secara psikologis (kognator), klien stres mengalami gangguan afek dan emosi (cemas, marah-marah, depresi, dan menolak peraturan baru). Hal ini karena klien tidak mampu beradaptasi terhadap lingkungan baru. Secara fisik (regulator), kondisi klien dapat diukur dengan terjadinya peningkatan tanda-tanda vital klien dan peningkatan hormon-hormon stres (kortisol dan katekolamin).

3. Diperoleh melalui metode ilmiah Pendekatan yang digunakan berdasarkan langkah-langkah dalam metode ilmiah (penjelasan lebih lanjut dapat dilihat dalam pembahasan tentang metode sains).

Memenuhi Komponen Ilmu (Science Building Blocks):

TEORI ADAPTASI Konsep: Stres Konsep: Manusia Proposisi Proposisi Konsep: Sakit Konsep: Koping (regulator &
TEORI ADAPTASI
Konsep: Stres
Konsep: Manusia
Proposisi
Proposisi
Konsep: Sakit
Konsep: Koping
(regulator & kognator)
Konsep: Lingkungan
Konsep: Keperawatan
(rumah Sakit)
HIPOTESIS
FAKTA EMPIRIS:
• Belum diterapkannya model
asuhan keperawatan di
rumah sakit
• Perawat belum menunjukkan
kinerja yang optimal
HUKUM, PRINSIP:
• Klien sering mengalami stres
hospitalisasi
HUMANISTIK
HOLISTIK
CARE
Gambar 1.2
Gambar 1.2

Science building blocks pada ilmu keperawatan (teori adaptasi)

Bab 1  •  Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Penelitian

7

Keterangan:

  •  Teori adaptasi terdiri atas komponen-komponen ilmu, yaitu terbentuk dari beberapa konsep:

1). Konsep stres akibat masuk rumah sakit (stres hospitalisasi) 2). Konsep koping (regulator dan kognator) 3). Konsep manusia 4). Konsep keperawatan 5). Konsep sakit 6). Konsep lingkungan

Adanya sekelompok pengetahuan yang dirangkai dengan penambahan pernyataan lain sehingga terbentuk suatu informasi tentang hubungan antarpengetahuan. Minimal pada penelitian ini akan menghasilkan suatu proposisi-proposisi.

b. Memenuhi Metode Ilmiah: Mekanisme Stimulus-Respons

Stimulus

Logika Respons
Logika
Respons
Gambar 1.3
Gambar 1.3

Mekanisme stimulus-respons pada kajian ilmu

1. Stimulus

(a)

Masalah:

Fakta/empiris yang dapat diamati dan diukur berdasarkan hasil suatu pengamatan yang cermat dan teliti.

(b)

Perumusan masalah penelitian:

Masalah yang sudah ditemukan kemudian dirumuskan dalam suatu masalah penelitian, perumusan masalah. Di dalam penelitian dituliskan sebagai pertanyaan penelitian.

2. Logika

(a) Kajian teoretis/konseptual Misalnya dalam ilmu keperawatan, sakit pada manusia disebabkan oleh ketidakmampuan manusia untuk beradaptasi yang melibatkan unsur fisik, psikis, dan sosial yang merupakan perwujudan terimplikasi adanya integrasi satu dengan yang lain. Objek utama dalam ilmu keperawatan, yaitu:

(1) Manusia (individu yang mendapatkan asuhan keperawatan), (2) Konsep lingkungan, (3) Konsep sehat, dan (4) Keperawatan.

8

Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

(1). Stimulus/Intervensi Keperawatan

Stimulus yang diberikan perawat berupa intervensi/asuhan keperawatan dalam meningkatkan respons adaptasi berhubungan dengan empat mode respons adaptasi. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi:

Membantu memenuhi kebutuhan klien dengan gangguan dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis dan ketergantungan.

1)

2) Memperlakukan klien secara manusiawi. 3) Melaksanakan komunikasi terapeutik. 4) Mengembangkan hubungan terapeutik.

(2). Konsep Lingkungan Lingkungan merupakan semua kondisi internal dan eksternal yang memengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan dan perilaku seseorang atau kelompok. Lingkungan internal adalah keadaan proses mental dalam tubuh individu (berupa pengalaman, kemampuan emosional, dan kepribadian) serta proses pemicu stres biologis (sel maupun molekul) yang berasal dari dalam tubuh individu. Lingkungan eksternal dapat berupa keadaan/faktor fisik, kimiawi, ataupun psikologis yang diterima individu dan dipersepsikan sebagai suatu ancaman.

(3). Konsep Sehat Sehat merupakan suatu keadaan dan proses dalam upaya menjadikan dirinya terintegrasi secara keseluruhan, fisik, mental, dan sosial. Integritas adaptasi individu dimanifestasikan oleh kemampuan individu untuk memenuhi tujuan dalam mempertahankan pertumbuhan dan reproduksi. Sakit adalah suatu keadaan ketidakmampuan individu untuk beradaptasi terhadap rangsangan yang berasal dari dalam dan luar individu. Kondisi sehat dan sakit dipersepsikan secara berbeda-beda oleh individu. Kemampuan seseorang dalam beradaptasi (koping) bergantung dari latar belakang individu tersebut dalam mengartikan dan mempersepsikan sehat/sakit, misalnya tingkat pendidikan, pekerjaan, usia, budaya, dan lain-lain.

(4). Keperawatan Keperawatan adalah model pelayanan profesional dalam memenuhi kebutuhan dasar yang diberikan kepada individu baik sehat maupun sakit yang mengalami gangguan fisik, psikis, sosial agar dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal. Bentuk pemenuhan kebutuan dasar dapat berupa meningkatkan kemampuan yang ada pada individu, mencegah, memperbaiki, dan melakukan rehabilitasi dari suatu keadaan yang dipersepsikan sakit oleh individu.

(b). Perumusan hipotesis Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu pertanyaan atau tujuan penelitian. Syarat hipotesis yang baik adalah:

(1) Berupa pernyataan. (2) Layak uji.

Bab 1  •  Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Penelitian

9

(3) Berdasarkan teori/konsep. (4) Adanya hubungan antarvariabel (proposisi antara konsep adaptasi dan kinerja).

(c).

Identifikasi dan operasionalisasi variabel Berikut ini merupakan contoh dalam penjelasan variabel dan definisi operasional ilmu keperawatan (adaptasi).

Variabel

Dimensi

Indikator/Definisi Operasional

Tingkat Adaptasi

Regulator

Suatu proses fisiologis:

(Proses)

• Peningkatan hormon-hormon stres: kortisol dan katekolamin.

• Peningkatan tanda-tanda vital: denyut jantung dan laju pernapasan.

 

Kognator

Tingkat koping psikologis klien yang konstruktif:

Learning (imitasi, reinforcement, dan pemahaman diri).

Judgement (penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan) terhadap lingkungan baru.

• Emotion: Suatu tindakan klien dalam merespons keputusan yang telah dibuat. Klien diharapkan dapat menggunakan koping yang konstruktif:

1). Menerima kenyataan sakitnya. 2). Berhubungan dengan orang lain. 3). Kooperatif terhadap tindakan yang diberikan.

Tingkat Efektor

Fisiologis

• Tingkat fisiologis:

Tingkat kebutuhan oksigen, nutrisi, cairan, serta istirahat dan tidur.

Psikologis

• Tingkat psikologis:

1). Pandangan terhadap fisik i). Penurunan konsep seksual ii). Agresi; kehilangan 2). Pandangan terhadap personal i). Cemas ii). Tidak berdaya iii). Merasa bersalah iv). Harga diri rendah

Peran

• Tingkat peran Transisi peran; peran berbeda; konflik peran; kegagalan peran

• Tingkat ketergantungan

Ketergantungan

Kecemasan berpisah; merasa ditinggalkan/terisolasi.

Tingkat Output

Adaptif

• Adaptif: Koping konstruktif (menerima, berhubungan dengan orang

Maladaptif

lain, melakukan aktivitas sehari-hari; dan terpenuhi kebutuhan fisik).

(koping tidak

• Koping tidak efektif: Marah-marah, menyendiri, merasa tidak berguna, sedih, dan peningkatan hormon-hormon stres (kortisol, katekolamin)

efektif)

Tingkat Stimulus:

Membantu

Terpenuhinya kebutuhan fisiologis:

kinerja perawat

memenuhi

• Makan dan minum

(Berdasarkan

gangguan

• Oksigenasi

paradigma

pemenuhan

• Cairan

keperawatan:

kebutuhan

• Istirahat dan tidur

humanistik, holistik,

fisiologis dan

• Nutrisi

dan care)

ketergantungan

• Perawatan diri

 

Memperlakukan

Memperlakukan klien sebagai mitra/manusiawi:

klien secara

• Sopan

manusiawi

• Tidak diskriminasi

• Melibatkan klien dan keluarga secara aktif

• Sabar

• Tanggap dan cepat dalam bertindak

10

Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

Variabel

Dimensi

Indikator/Definisi Operasional

 

Melaksanakan

Komunikasi terapeutik:

komunikasi

Memanggil nama klien

terapeutik

• Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti

• Komunikasi secara tepat dan benar (sesuai kontrak)

• Mendengarkan dan menampung

• Mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan pandangannya

• Meluangkan waktu untuk bicara, setiap ada kesempatan

 

Mengembangkan

Hubungan terapeutik dengan klien:

hubungan

• Menciptakan hubungan timbal balik

terapeutik

• Memelihara hubungan yang harmonis

dengan klien

• Mencegah konflik dengan klien

• Mencegah sikap pilih kasih

• Menilai dampak dari tindakan

• Berpenampilan rapi dan tenang

• Menepati janji

• Jujur dan terbuka

(d). Penyusunan penelitian Noneksperimental (bersifat observasi) dan eksperimental: True-eksperimental; quasy –eksperimental; pre-eksperimental. Contoh rancangan quasy-eksperimental: Peran teori adaptasi terhadap perbaikan kinerja perawat.

Perlakuan

Kontrol

Pengukuran variabel dependen: indikator kinerja (pra)

Pengukuran variabel dependen: indikator kinerja (pra)

Pengukuran variabel dependen: indikator kinerja (pra)
Pengukuran variabel dependen: indikator kinerja (pra)
Pengukuran variabel dependen: indikator kinerja (pra)
Pengukuran variabel dependen: indikator kinerja (pra)
Pengukuran variabel dependen: indikator kinerja (pra)
Pengukuran variabel dependen: indikator kinerja (pra)
Pengukuran variabel dependen: indikator kinerja (pra) Dibandingkan: apakah sama? Pengukuran variabel dependen:

Dibandingkan:

apakah sama?

Pengukuran variabel dependen: indikator kinerja (pra)
Pengukuran variabel dependen: indikator kinerja (pra)

Pengukuran variabel dependen: indikator kinerja (pra)

Pengukuran variabel dependen: indikator kinerja (pra)

Penerapan

Teori Adaptasi

Variabel Independen

Pengukuran ulang variabel dependen: indikator kinerja (pasca)

Pengukuran ulang variabel dependen: indikator kinerja (pasca)
Pengukuran ulang variabel dependen: indikator kinerja (pasca)
Pengukuran ulang variabel dependen: indikator kinerja (pasca)

Dibandingkan:

apakah beda?

Pengukuran ulang variabel dependen: indikator kinerja (pasca)
Pengukuran ulang variabel dependen: indikator kinerja (pasca)

Pengukuran ulang variabel dependen: indikator kinerja (pasca)

Pengukuran ulang variabel dependen: indikator kinerja (pasca)
Gambar 1.4
Gambar 1.4

Diagram quasy-eksperimental.

3. Respons

Respons dalam kajian ilmiah dapat digolongkan sebagai berikut.

(a).

Penyusunan instrumen penelitian (validitas dan reliabilitas).

(b).

Melakukan sampling (randomisasi) dan estimasi ukuran sampel.

(c).

Analisis data dan pengujian hipotesis (regresi).

(d).

Mengambil kesimpulan dan memberikan saran.

Bab 1  •  Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Penelitian

11

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Adib, M. 2011. Filsafat Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Alligood, MR, & Tomey, AM, 2006, Nursing theorists and their work, 7 th ed. Missouri:

Mosby.

Babbie, E. 1999. The Basics of Social Research. Belmont: Wadsworth Pub. Co.

Nursalam. 2002. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Sagung Seto.

Nursalam & Kurniawati, ND. 2007. Asuhan Keperawatan Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

Polit DF & Back, CT. 2012. Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing Practice. 9 th ed. Philadelphia: JB. Lippincott.

Polit, D.E. dan B.P. Hungler. 1993. Essential of Nursing Research. Methods, Appraisal, and Utilization. 3 rd ed. Philadelphia: J.B. Lippincott Co.

Putera, S.T. 2010. Filsafat Ilmu Kedokteran. Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair.

Sastroasmoro, S. dan S. Ismail. 1995. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta:

Binarupa Aksara.

Soeparto, O., S.T. Putra, dan Haryanto. 2000. Filsafat Ilmu Kedokteran. Surabaya: GRAMIK dan RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

12

Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

Bab 2

Kajian Ilmu Keperawatan

PENGANTAR FILSAFAT ILMU KEPERAWATAN

PENGANTAR FILSAFAT ILMU KEPERAWATAN

Filsafat ilmu merupakan telaah secara filsafat yang ingin menjawab pertanyaan hakikat ilmu (Adib, 2011). Hakikat ilmu dapat dibedakan menjadi tiga; yaitu ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Semua pengetahuan—ilmu (sains), seni, atau pengetahuan apa saja—pada dasarnya mempunyai ketiga landasan tersebut. Ketiga hakikat tersebut saling berkaitan, yang berbeda adalah materi perwujudannya serta sejauh mana landasan-landasan ketiga hakikat ini dikembangkan dan dilaksanakan. Batas lingkup ilmu menjadi karakteristik objek ontologis ilmu yang membedakan ilmu (sains) dari pengetahuan-pengetahuan lain. Dapat dikatakan bahwa ilmu hanya membatasi hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman karena fungsi ilmu dalam kehidupan manusia adalah membantu manusia dalam mengatasi masalah sehari-hari (seperti memerangi penyakit) dan menyusun indikator kebenaran karena telah teruji secara empiris. Ilmu juga perlu bimbingan moral (agama) karena kebutaan moral dari ilmu dapat membawa manusia ke jurang malapetaka. Pada praktiknya, harus ada kejelasan batas disiplin ilmu, misalnya batas disiplin ilmu antara perawat dan dokter. Tanpa kejelasan batas, maka pendekatan multidisiplin tidak akan bersifat konstruktif tetapi berubah menjadi sengketa kapling (Alligood & Tomey, 2012). Ciri khas yang paling menyolok dari ilmu kemanusiaan adalah objek penyelidikannya, yaitu manusia yang dilihat bukan hanya sebagai benda jasmani saja tetapi manusia secara keseluruhan. Sementara itu manusia sebagai subjek penyelidikan ilmu kemanusiaan dilihat dalam dua arti. Pertama dalam arti bahwa secara hakiki manusia melampaui status objek benda-benda sekitarnya, kedua dalam arti bahwa si penyelidik subjek berada pada taraf yang sama dengan objeknya. Arti pertama agak berbau filsafat. Arti kedua secara khas berasal dari suatu uraian empiris mengenai ilmu-ilmu kemanusiaan, jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Bagaimana dengan halnya makhluk hidup termasuk manusia sendiri? Hal ini terutama terjadi di tatanan klinik yang objeknya adalah manusia. Fenomena-fenomena klinik yang kita amati adalah aspek fisik yang berupa gejala-gejala penyakit dengan tingkat

14

Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

biomolekuler yang mendasarinya; aspek psikis; dan aspek sosial. Ketiga aspek tersebut merupakan fokus kajian objek ilmu keperawatan, yang mempunyai empat komponen, yaitu manusia sebagai makhluk yang unik; keperawatan; konsep sehat-sakit; dan lingkungan yang memengaruhi keadaan manusia. Banyak pengertian yang membahas tentang ilmu keperawatan, sebagaimana Nursalam (2008) menjabarkan tentang ilmu keperawatan adalah “…. suatu ilmu yang mencakup ilmu-ilmu dasar, perilaku, biomedik, sosial, dan ilmu keperawatan sendiri (dasar, anak, maternitas, medikal bedah, jiwa, dan komunitas). Aplikasi ilmu keperawatan yang menggunakan pendekatan dan metode penyelesaian masalah secara ilmiah ditujukan untuk mempertahankan, menopang, memelihara, dan meningkatkan integritas seluruh kebutuhan dasar manusia”. Pengertian tersebut membawa dampak terhadap isi kurikulum program pendidikan tinggi keperawatan. Institusi pendidikan tinggi keperawatan sejauh ini belum mampu mengenalkan ilmu keperawatan secara jelas kepada peserta didik. Sehingga peserta didik mendapatkan orientasi ilmu dasar yang hampir sama dengan yang diajarkan pada program pendidikan kesehatan lain (kedokteran umum, dokter gigi, dan kesehatan masyarakat). Hal ini mengakibatkan ketidakjelasan peran perawat dalam memberikan asuhan kesehatan kepada klien. Pertanyaan yang muncul adalah apakah isi kurikulum ilmu-ilmu dasar yang diajarkan kepada mahasiswa keperawatan sama dengan yang diajarkan kepada mahasiswa kedokteran, kedokteran gigi, dan kesehatan masyarakat? Hal ini perlu dipertanyakan mengingat: 1) belum jelasnya perbedaan ilmu keperawatan dan kedokteran dan 2) dosen sering mengajarkan materi yang sama dengan mahasiswa kedokteran kepada mahasiswa keperawatan. Dengan perkataan lain, tidak adanya fokus/ penekanan kompetensi wajib yang dimiliki lulusan keperawatan (Nursalam, 2008b). Tujuan ilmu keperawatan dapat dibedakan menjadi empat, yaitu: (1) Sebagai dasar dalam praktik keperawatan; 2) Komitmen dalam praktik keperawatan terhadap pengembangan ilmu keperawatan; 3) Sebagai dasar penyelesaian masalah keperawatan yang kompleks agar kebutuhan dasar klien terpenuhi; dan 4) Dapat diterimanya intervensi keperawatan secara ilmiah dan rasional oleh profesi kesehatan lain dan masyarakat. Tujuan yang terakhir disebutkan akan dapat diterima oleh masyarakat jika perawat mampu menjelaskan objek ilmu keperawatan (Chitty, 1997). Berdasarkan tujuan ilmu keperawatan tersebut, Chitty (1997) menerjemahkan ilmu keperawatan sebagai suatu ilmu yang aplikasinya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sesuai dengan kaidah dan nilai-nilai keperawatan. Chitty (1997) menekankan nilai-nilai ilmu keperawatan pada tiga unsur utama, yaitu: holistik, humanistik, dan care dengan menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang sehat maupun sakit. Pemenuhan kebutuhan manusia merupakan objek ilmu keperawatan yang meliputi membantu meningkatkan, mencegah, dan mengembalikan fungsi kesehatan yang terganggu akibat sakit yang diderita. Peran utama profesional perawat adalah memberikan asuhan keperawatan kepada manusia (sebagai objek utama kajian filsafat ilmu keperawatan: ontologis) yang meliputi:

a. Memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan dan kebutuhan klien.

b. Perawat menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi masalah keperawatan, mulai dari pemeriksaan fisik, psikis, sosial, dan spiritual.

Bab 2 •  Kajian Ilmu Keperawatan

15

c. Memberikan asuhan keperawatan kepada klien (klien, keluarga, dan masyarakat) mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks.

Pelayanan yang diberikan oleh perawat harus dapat mengatasi masalah-masalah fisik, psikis, dan sosial-spiritual pada klien dengan fokus utama merubah perilaku klien (pengetahuan, sikap, dan ketrampilannya) dalam mengatasi masalah kesehatan sehingga klien dapat mandiri. Misalnya, jika klien anak dengan asma bronkial dirawat di rumah sakit dengan kondisi sedang diberi infus dan tidak boleh bergerak ke mana-mana, maka anak tersebut akan mengalami stres fisik akibat keluhan sakitnya dan psikis akibat dari tindakan pemasangan infus serta larangan untuk bergerak. Stres psikis yang terjadi akan berdampak terhadap koping anak tersebut sehingga menurunkan imunitasnya. Keadaan tersebut justru akan memperlambat kesembuhan klien. Ilmu keperawatan yang ada harus dapat memfasilitasi bagaimana anak tersebut dapat merasa “at home” (tidak seperti di rumah sakit), tidak merasa tertekan, dan merasa diperhatikan oleh orang terdekat. Bukan justru menambah stres psikologis dengan suasana lingkungan yang menakutkan dan petugas yang bersikap kurang ramah serta memaksakan setiap melakukan tindakan keperawatan/medis (misalnya menyuntik). Keadaan yang demikian akan berdampak dalam proses penyembuhan klien. Hasil penelitian yang dilaksanakan di Amerika menyebutkan bahwa memperlakukan anak- anak yang dirawat di rumah sakit seperti di rumah sendiri, memberi kebebasan bagi anak untuk bermain sebatas kemampuannya, dan merasa diperhatikan menunjukkan angka yang signifikan dalam percepatan penyembuhan klien dibandingkan dengan anak yang mengalami stres psikologis akibat suasana/lingkungan yang tidak kondusif.

ILMU KEPERAWATAN: TEORI ADAPTASI

ILMU KEPERAWATAN: TEORI ADAPTASI

Dalam disiplin biologi yang merupakan induk utama dari filsafat ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan, terdapat 4 doktrin biologi organisme yang mencerminkan upaya para ahli biologi dalam mengatasi realitas biologi, yaitu (1) doktrin pendekatan holistik; (2) doktrin teleologik; (3) Doktrin kesejajaran historis dalam perkembangan organisme; dan (4) doktrin otonomi (Soeparto Putra, Haryanto, 2000). Doktrin pertama tampak pada pendekatan holistik yang digunakan oleh ahli biologi dalam mempersepsikan organisme. Artinya meskipun tubuh organisme tersusun dari komponen-komponen yang mencerminkan tingkat agregasi bahan kimia pembentuknya dengan ciri-ciri fisikokimia yang bervariasi, para ahli biologi memandang wujud organisme sebagai suatu kesatuan yang terintegrasi. Doktrin kedua tampak pada sifat diskriptif penjelasan biologi yang berorientasi tujuan. Penjelasan biologi yang menekankan pentingnya hubungan antara struktur dengan fungsi dan penjelasan pelestarian fungsi reproduksi, adaptasi, dan evolusi dalam organisme biologi dipengaruhi oleh doktrin ini. Doktrin ketiga menegaskan bahwa ciri-ciri perkembangan organisme menimbulkan permasalahan metodologi khas dalam perkembangan teori biologi. Doktrin keempat merupakan konsekuensi logis dari ketiga doktrin sebelumnya. Doktrin ini menegaskan bahwa organisme harus diteliti tanpa prasangka, peranggapan, dan bias yang tak disadari, sehingga informasi yang terhimpun memberikan realitas apa adanya. Sistem biologi memperlihatkan ciri-ciri perwujudan dirinya sebagai suatu

16

Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

totalitas (holistik). Dalam totalitas perwujudannya terimplikasi adanya integrasi yang mengendalikan interelasi antara ciri satu dengan lainnya (Soparmo, 1984). Keempat doktrin tersebut mempunyai kesamaan dalam filsafat ilmu keperawatan, yaitu terjadinya suatu sakit pada manusia karena adanya ketidakmampuan beradaptasi antara unsur fisik, psikis, dan sosial karena unsur-unsur tersebut merupakan perwujudan terimplikasi integrasi satu dengan yang lain. Misalnya jika manusia mengalami nyeri dada (pada kasus infark miokard akut), maka akan berdampak terhadap stres psikis karena ketakutan terhadap kematian, dan terjadi gangguan sosialisasi dengan individu lainnya. Selama individu mampu menjaga integrasi antara unsur-unsur tersebut, maka gejala sakit tidak akan termanifestasikan dan individu akan bertahan.

KOMPONEN ILMU KEPERAWATAN: TEORI ADAPTASI

KOMPONEN ILMU KEPERAWATAN: TEORI ADAPTASI

Menurut Roy terdapat 5 objek utama dalam ilmu keperawatan, yaitu (1) Manusia (individu yang mendapatkan asuhan keperawatan); (2) Keperawatan; (3) Konsep sehat; (4) Konsep lingkungan; dan (5) Aplikasi: Tindakan keperawatan. (Nursalam & Kurniawati, 2007)

Input

Proses

Efektor

Output

Stimulus

Adaptasi Primer Model (Mekanisme Koping) Adaptif Integritas Adaptasi Fisiologi Zona Maladaptif Kognator
Adaptasi Primer
Model
(Mekanisme Koping)
Adaptif
Integritas
Adaptasi
Fisiologi
Zona
Maladaptif
Kognator (Intelektual
Integritas
Fokal
dan sebagainya)
Psikologi
(Konsep Diri)
Kontekstual
Integritas
Sosiologi
(Mungsi Peran)
Residual
Regulator (Sistem
Zona
Saraf Otonom)
Maladaptif
Ketergantungan

Stimulus

Tingkat

Gambar 2.1
Gambar 2.1

Diagram model adaptasi dari Roy (dikutip oleh Nursalam, 2007).

MANUSIA

Roy menyatakan bahwa penerima jasa asuhan keperawatan adalah individu, keluarga, kelompok, komunitas, atau sosial. Masing-masing diperlakukan oleh perawat sebagai sistem adaptasi yang holistik dan terbuka. Sistem terbuka tersebut berdampak terhadap perubahan yang konstan terhadap informasi, kejadian, dan energi antarsistem dan lingkungan. Interaksi yang konstan antara individu dan lingkungan dicirikan oleh perubahan internal dan eksternal. Dengan perubahan tersebut, individu harus mempertahankan integritas dirinya yaitu beradaptasi secara kontinu.

Bab 2 •  Kajian Ilmu Keperawatan

17

a. Input Sistem adaptasi mempunyai input yang berasal dari internal individu. Roy mengidentifikasi input sebagai suatu stimulus. Stimulus merupakan suatu unit informasi, kejadian, atau energi yang berasal dari lingkungan. Sejalan dengan adanya stimulus, tingkat adaptasi individu direspons sebagai suatu input dalam sistem adaptasi. Tingkat adaptasi tersebut bergantung dari stimulus yang didapat berdasarkan kemampuan individu. Tingkat respons antara individu sangat unik dan bervariasi bergantung pada pengalaman yang didapatkan sebelumnya, status kesehatan individu, dan stresor yang diberikan.

b. Proses

1. Roy menggunakan istilah mekanisme koping untuk menjelaskan proses kontrol dari individu sebagai suatu sistem adaptasi. Beberapa mekanisme koping dipengaruhi oleh faktor kemampuan genetik, misalnya sel-sel darah putih saat melawan bakteri yang masuk dalam tubuh. Mekanisme lainnya adalah dengan cara dipelajari, misalnya penggunaan antiseptik untuk mengobati luka. Roy menekankan ilmu keperawatan yang unik untuk mengontrol mekanisme koping. Mekanisme tersebut dinamakan regulator dan kognator.

2. Subsistem regulator mempunyai sistem komponen input, proses internal, dan output. Stimulus input berasal dari dalam atau luar individu. Perantara sistem regulator berupa kimiawi, saraf, atau endokrin. Reflekss otonomi sebagai respons neural berasal dari batang otak dan korda spinalis, diartikan sebagai suatu perilaku output dari sistem regulasi. Organ target (endoterin) dan jaringan di bawah kontrol endokrin juga memproduksi perilaku output regulator, yaitu terjadinya peningkatan Andreno Cortico Tyroid Hormone (ACTH) kemudian diikuti peningkatan kadar kortisol darah. Banyak proses fisiologis yang dapat diartikan sebagai perilaku subsistem regulator. Misalnya, regulator tentang respirasi. Pada sistem respirasi akan terjadi peningkatan oksigen, yang menginisiasi metabolisme agar dapat merangsang kemoreseptor pada medula untuk meningkatkan laju pernapasan. Stimulasi yang kuat pada pusat tersebut akan meningkatkan ventilasi lebih dari 6–7 kali.

3. Contoh proses regulator tersebut terjadi ketika stimulus eksternal divisualisasikan dan ditransfer melalui saraf mata menuju pusat saraf otak dan bagian bawah pusat saraf otonomi. Saraf simpatetik dari bagian ini mempunyai dampak yang bervariasi pada viseral, termasuk peningkatan tekanan darah dan denyut jantung.

4. Stimulus terhadap subsistem kognator juga berasal dari faktor internal dan eksternal. Perilaku output subsistem regulator dapat menjadi umpan balik terhadap stimulus subsistem kognator. Proses kontrol kognator berhubungan dengan fungsi otak yang tinggi terhadap persepsi atau proses informasi, pengambilan keputusan, dan emosi. Persepsi proses informasi juga berhubungan dengan seleksi perhatian, kode, dan ingatan. Belajar berhubungan dengan proses imitasi dan penguatan (reinforcement). Penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan merupakan proses internal yang berhubungan dengan keputusan dan khususnya emosi untuk mencari kesembuhan, dukungan yang efektif, dan kebersamaan.

18

Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

oleh perkembangan individu dan penggunaan mekanisme koping. Penggunaan mekanisme koping yang maksimal akan berdampak baik terhadap tingkat adaptasi individu dan meningkatkan tingkat rangsangan sehingga individu dapat merespons secara positif.

c.

Efektor Sistem adaptasi proses internal yang terjadi pada individu didefinisikan Roy sebagai sistem efektor. Empat efektor atau model adaptasi tersebut meliputi (1) fisiologis; (2) konsep diri; (3) fungsi peran; dan (4) ketergantungan (interdepeden). Mekanisme regulator dan kognator bekerja pada model adaptasi. Perilaku yang berhubungan dengan mode adaptasi merupakan manifestasi dari tingkat adaptasi individu dan mengakibatkan digunakannya mekanisme koping. Saat mengobservasi perilaku seseorang dan menghubungkannya dengan model adaptasi, perawat dapat mengidentifikasi adaptif atau ketidakefektifan respons sehat dan sakit.

1. Fisiologis Efektor secara fisiologis dapat dilihat dari beberapa hal berikut:

•  Oksigenasi: menggambarkan pola penggunaan oksigen yang berhubungan  dengan respirasi dan sirkulasi. •  Nutrisi: menggambarkan pola penggunaan nutrisi untuk memperbaiki kondisi  dan perkembangan tubuh klien. •  Eliminasi: menggambarkan pola eliminasi.  •  Aktivitas dan istirahat: menggambarkan pola aktivitas, latihan, istirahat, dan  tidur. •  Integritas kulit: menggambarkan fungsi fisiologis kulit. •  Rasa:  menggambarkan  fungsi  sensori  perseptual  yang  berhubungan  dengan panca indra: penglihatan, penciuman, perabaan, pengecapan, dan pendengaran. •  Cairan dan elektrolit: menggambarkan pola fisiologis penggunaan cairan dan  elektrolit. •  Fungsi neurologis: menggambarkan pola kontrol neurologis, pengaturan, dan  intelektual. •  Fungsi  endokrin:  menggambarkan  pola  kontrol  dan  pengaturan  termasuk  respons stres dan sistem reproduksi.

Masalah-masalah keperawatan yang dapat diidentifikasi pada keempat mode dijabarkan pada tabel 2.1.

2. Konsep Diri (Psikis) Konsep diri mengidentifikasi pola nilai, kepercayaan, dan emosi yang berhubungan dengan ide diri sendiri. Perhatian ditujukan pada kenyataan keadaan diri sendiri tentang fisik, individual, dan moral-etik.

Bab 2 •  Kajian Ilmu Keperawatan

19

Tabel 2.1 Masalah gangguan adaptasi (George, 1990: 247 dikutip dari Roy, S.C)

 

MASALAH

FISIOLOGIS

KONSEP DIRI

FUNGSI PERAN

INTERDEPENDEN

1. Oksigenasi:

Pandangan terhadap fisik:

• Transisi peran

Kecemasan

• Hipoksia

• Penurunan konsep

• Peran berbeda

berpisah

• Syok

seksual

• Konflik peran

merasa

Overload

• Agresi

• Kegagalan peran

ditinggalkan/isolasi

• Kehilangan

2. Nutrisi:

Pandangan terhadap

• Malnutrisi

personal:

• Mual

• Cemas

• Muntah

• Tidak berdaya

• Merasa bersalah

• Harga diri rendah

3. Eliminasi

• Konstipasi

• Diare

• Kembung

• Inkontinen

• Retensi urine

4. Aktivitas dan istirahat

• Aktivitas fisik yang tidak adekuat

• Risiko kesalahan akitivitas

• Istirahat yang tidak adekuat

• Insomnia

• Gangguan tidur

• Kelebihan istirahat

5. Integritas kulit

• Gatal-gatal

• Kekeringan

• Dekubitus

3. Fungsi Peran (Sosial) Fungsi peran mengidentifikasi tentang pola interaksi sosial seseorang yang berhubungan dengan orang lain akibat dari peran ganda yang dijalankannya.

4. Ketergantungan (Interdependen) Interdependen mengidentifikasi pola nilai-nilai manusia, kehangatan, cinta, dan memiliki. Proses tersebut terjadi melalui hubungan interpersonal terhadap individu maupun kelompok.

d.

Output Perilaku seseorang berhubungan dengan metode adaptasi. Koping yang tidak efektif berdampak terhadap respons sakit (maladaptif). Jika klien masuk pada zona maladaptif maka klien mempunyai masalah keperawatan (adaptasi).

20

Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

KEPERAWATAN

Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional berupa pemenuhan kebutuhan dasar yang diberikan kepada individu yang sehat maupun sakit yang mengalami gangguan fisik, psikis, dan sosial agar dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal. Bentuk pemenuhan kebutuhan dasar dapat berupa meningkatkan kemampuan yang ada pada individu, mencegah, memperbaiki, dan melakukan rehabilitasi dari suatu keadaan yang dipersepsikan sakit oleh individu (Alligood & Tomey, 2006). Roy mendefinisikan bahwa tujuan keperawatan adalah meningkatkan respons adaptasi yang berhubungan dengan empat model respons adaptasi. Perubahan internal, eksternal, dan stimulus input bergantung dari kondisi koping individu. Kondisi koping menggambarkan tingkat adaptasi seseorang. Tingkat adaptasi ditentukan oleh stimulus fokal, kontekstual, dan residual. Stimulus fokal adalah suatu respons yang diberikan secara langsung terhadap input yang masuk. Penggunaan fokal pada umumnya bergantung pada tingkat perubahan yang berdampak terhadap seseorang. Stimulus kontekstual adalah semua stimulus lain yang merangsang seseorang baik internal maupun eksternal serta memengaruhi situasi dan dapat diobservasi, diukur, dan secara subjektif disampaikan oleh individu. Stimulus residual adalah karakteristik/riwayat seseorang dan timbul secara relevan sesuai dengan situasi yang dihadapi tetapi sulit diukur secara objektif.

Kasus: Klien Tn. Sigit mengalami nyeri dada. Stimulus yang secara langsung pada klien dinamakan fokal, yaitu kekurangan oksigen pada otot jantungnya. Stimulus kontekstual meliputi: suhu 40 o C, sensasi nyeri, penurunan berat badan, kadar gula darah, dan derajat kerusakan arteri. Stimulus residual meliputi riwayat merokok dan stres yang dialaminya.

Tindakan keperawatan yang diberikan adalah meningkatkan respons adaptasi pada situasi sehat dan sakit. Tindakan tersebut dilaksanakan oleh perawat dalam memanipulasi stimulus fokal, kontekstual, atau residual pada individu. Dengan memanipulasi semua stimulus tersebut, diharapkan individu akan berada pada zona adaptasi. Jika memungkinkan, stimulus fokal yang dapat mewakili semua stimulus harus dirangsang dengan baik. Misalnya klien dengan nyeri dada, stimulus fokalnya adalah ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen tubuh dan persediaan oksigen yang dapat disediakan oleh jantung. Untuk mengubah stimulus fokal, perawat perlu memanipulasi stimulus kebutuhan agar respons adaptif dapat terpenuhi. Jika stimulus fokal tidak dapat diubah, perawat harus meningkatkan respons adaptif dengan memanipulasi stimulus kontekstual dan residual. Perawat perlu mengantisipasi bahwa klien mempunyai risiko adanya ketidakefektifan respons pada situasi tertentu. Oleh karena itu perawat harus mempersiapkan individu untuk mengantisipasi perubahan melalui penguatan mekanisme kognator, regulator, atau koping yang lainnya. Tindakan keperawatan yang diberikan pada teori ini meliputi mempertahankan respons yang adaptif dengan mendukung upaya klien secara kreatif menggunakan mekanisme koping yang sesuai.

Bab 2 •  Kajian Ilmu Keperawatan

21

KONSEP SEHAT—SAKIT

Roy mendefinisikan sehat sebagai suatu kontinum dari meninggal sampai dengan tingkatan tertinggi sehat. Dia menekankan bahwa sehat merupakan suatu keadaan dan proses dalam upaya menjadikan dirinya terintegrasi secara keseluruhan, yaitu fisik, mental, dan sosial. Integritas adaptasi individu dimanifestasikan oleh kemampuan individu untuk memenuhi tujuan mempertahankan pertumbuhan dan reproduksi. Sakit adalah suatu kondisi ketidakmampuan individu untuk beradaptasi terhadap rangsangan yang berasal dari dalam dan luar individu. Kondisi sehat dan sakit sangat relatif dipersepsikan oleh individu. Kemampuan seseorang dalam beradaptasi (koping) bergantung pada latar belakang individu tersebut dalam mengartikan dan mempersepsikan sehat-sakit, misalnya tingkat pendidikan, pekerjaan, usia, budaya, dan lain-lain.

KONSEP LINGKUNGAN

Stimulus dari individu dan stimulus sekitarnya merupakan unsur penting dalam lingkungan. Roy mendefinisikan lingkungan sebagai semua kondisi yang berasal dari internal dan eksternal, yang memengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan dan perilaku seseorang dan kelompok. Lingkungan eksternal dapat berupa fisik, kimiawi, ataupun psikologis yang diterima individu dan dipersepsikan sebagai suatu ancaman. Sedangkan lingkungan internal adalah keadaan proses mental dalam tubuh individu (berupa pengalaman, kemampuan emosional, kepribadian) dan proses stresor biologis (sel maupun molekul) yang berasal dari dalam tubuh individu. Manifestasi yang tampak akan tercermin dari perilaku individu sebagai suatu respons. Pemahaman klien yang baik tentang lingkungan akan membantu perawat meningkatkan adaptasi klien tersebut dalam merubah dan mengurangi risiko akibat dari lingkungan sekitarnya.

APLIKASI PADA ASUHAN KEPERAWATAN:

PROSES KEPERAWATAN

Model ilmu keperawatan dari adaptasi Roy memberikan pedoman kepada perawat dalam mengembangkan asuhan keperawatan melalui proses keperawatan. Unsur proses keperawatan meliputi pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, intervensi, dan evaluasi seperti yang digambarkan berikut ini (Nursalam, 2008a):

Pengkajian Intervensi Diagnosis Perencanaan Pelaksanaan Evaluasi
Pengkajian
Intervensi
Diagnosis
Perencanaan
Pelaksanaan
Evaluasi
Gambar 2.2
Gambar 2.2

Diagram hubungan antara tahap proses keperawatan (Nursalam, 2001).

22

Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

a. Pengkajian

Pengkajian pertama meliputi pengumpulan data tentang perilaku klien sebagai suatu sistem adaptif yang berhubungan dengan masing-masing model adaptasi: fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan ketergantungan. Oleh karena itu, pengkajian pertama diartikan sebagai pengkajian perilaku, yaitu pengkajian klien terhadap masing-masing model adaptasi secara sistematik dan holistik. Pelaksanaan pengkajian dan pencatatan pada empat model adaptif tersebut akan memberikan gambaran keadaan klien kepada tim kesehatan lainnya. Setelah pengkajian pertama, perawat menganalisa pola perubahan perilaku klien tentang ketidakefektifan respons atau respons adaptif yang memerlukan dukungan perawat. Jika ditemukan ketidakefektifan respons (maladaptif), perawat melaksanakan pengkajian tahap kedua. Pada tahap ini, perawat mengumpulkan data tentang stimulus fokal, kontekstual, dan residual yang berdampak terhadap klien. Proses ini bertujuan untuk mengklarifikasi penyebab dari masalah dan mengidentifikasi faktor kontekstual dan residual yang sesuai. Menurut Martinez, faktor yang memengaruhi respons adaptif meliputi genetik; jenis kelamin, tahap perkembangan, obat-obatan, alkohol, merokok, konsep diri, fungsi peran, ketergantungan, dan pola interaksi sosial; mekanisme koping dan gaya; stres fisik dan emosi; budaya; serta lingkungan fisik.

b. Perumusan Diagnosis Keperawatan

Diagnosis keperawatan adalah respons individu terhadap rangsangan yang timbul dari diri sendiri maupun luar (lingkungan). Sifat diagnosis keperawatan adalah (1) berorientasi pada kebutuhan dasar manusia; (2) menggambarkan respons individu terhadap proses, kondisi dan situasi sakit; dan (3) berubah bila respons individu juga berubah (Nursalam, 2001). Unsur dalam diagnosis keperawatan meliputi problem/respons (P); etiologi (E); dan signs/symptom (S), dengan rumus diagnosis = P + E + S. Diagnosis keperawatan dan diagnosis medis mempunyai beberapa perbedaan, sebagaimana tersebut pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.2 Perbedaan diagnosis medis dan keperawatan

DIAGNOSIS MEDIS

DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1. Fokus: faktor-faktor pengobatan penyakit

1. Fokus: respons klien, tindakan medis, dan faktor lain

2. Orientasi: keadaan patologis

2. Orientasi: kebutuhan dasar manusia (KDM)

3. Cenderung tetap mulai masuk sampai pulang

3. Berubah sesuai perubahan respons klien

4. Mengarah tindakan medis (pengobatan) yang sebagian dilimpahkan kepada perawat

4. Mengarah pada fungsi mandiri perawat

5. Diagnosis medis melengkapi diagnosis keperawatan

5. Diagnosis keperawatan melengkapi diagnosis medis

Roy mendefinisikan tiga metode untuk menyusun diagnosis keperawatan:

(1) Menggunakan tipologi diagnosis yang dikembangkan oleh Roy dan berhubungan dengan 4 model adaptasi (tabel masalah gangguan adaptasi). Dalam mengaplikasikan metode diagnosis ini, diagnosis pada kasus Tn. Sigit adalah “hipoksia”.

Bab 2 •  Kajian Ilmu Keperawatan

23

Tabel 2.3 Kriteria standar intervensi keperawatan menurut teori adaptasi (Nursalam, 2002)

STANDAR TINDAKAN GANGGUAN FISIOLOGIS

1. Memenuhi kebutuhan oksigen Kriteria:

a. Menyiapkan tabung oksigen dan flowmeter

b. Menyiapkan homidifier berisi air

c. Menyiapkan selang nasal/masker

d. Memberikan penjelasan kepada klien

e. Mengatur posisi klien

f. Memasang slang nasal/masker

g. Memerhatikan reaksi klien

2. Memenuhi kebutuhan nutrisi, cairan, dan elektrolit Kriteria:

a. Menyiapkan peralatan dalam dressing car

b. Menyiapkan cairan infus/makanan/darah

c. Memberikan penjelasan pada klien

d. Mencocokkan jenis cairan/darah/diet makanan

e. Mengatur posisi klien

f. Melakukan pemasangan infus/darah/makanan

g. Mengobservasi reaksi klien

3. Memenuhi kebutuhan eliminasi Kriteria:

a. Menyiapkan alat pemberian huknah/gliserin/dulkolac dan peralatan pemasangan kateter

b. Memerhatikan suhu cairan/ukuran kateter

c. Menutup pintu dan memasang selimut

d. Mengobservasi keadaan feses/urine

e. Mengobservasi reaksi klien

4. Memenuhi kebutuhan aktivitas dan istirahat/tidur Kriteria:

a. Melakukan latihan gerak pada klien tidak sadar

b. Melakukan mobilisasi pada klien pascaoperasi

5. Memenuhi kebutuhan integritas kulit (kebersihan dan kenyamanan fisik) Kriteria:

a. Memandikan klien yang tidak sadar/kondisinya lemah

b. Mengganti alat-alat tenun sesuai kebutuhan/kotor

c. Merapikan alat-alat klien

6. Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis Kriteria:

a. Mengobservasi tanda-tanda vital sesuai kebutuhan

b. Melakukan tes alergi pada pemberian obat baru

c. Mengobservasi reaksi klien

(2) Menggunakan pernyataan dari perilaku yang tampak dan berpengaruh terhadap stimulusnya. Dengan menggunakan metode diagnosis ini maka diagnosisnya adalah “nyeri dada disebabkan oleh kekurangan oksigen pada otot jantung berhubungan dengan cuaca lingkungan yang panas.”

24

Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

Tabel 2.3 Kriteria standar intervensi keperawatan menurut teori adaptasi (Nursalam, 2002), (lanjutan).

STANDAR TINDAKAN GANGGUAN KONSEP DIRI (PSIKIS)

Memenuhi kebutuhan emosional dan spiritual Kriteria:

1. Melaksanakan orientasi pada klien baru

2. Memberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan

3. Memberikan penjelasan dengan bahasa sederhana

4. Memerhatikan setiap keluhan klien

5. Memotivasi klien untuk berdoa

6. Membantu klien beribadah

7. Memerhatikan pesan-pesan klien

STANDAR TINDAKAN PADA GANGGUAN PERAN (SOSIAL)

1. Meyakinkan klien bahwa dia adalah tetap sebagai individu yang berguna bagi kelu- arga dan masyarakat

2. Mendukung upaya kegiatan atau kreativitas klien

3. Melibatkan klien dalam setiap kegiatan terutama dalam pengobatan pada dirinya

4. Melibatkan klien dalam setiap mengambil keputusan menyangkut diri klien

5. Bersifat terbuka dan komunikatif kepada klien

6. Mengizinkan keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien

7. Perawat dan keluarga selalu memberikan pujian atas sikap klien yang positif dalam perawatan

8. Perawat dan keluarga selalu bersikap halus dan menerima jika ada sikap klien yang negatif

STANDAR TINDAKAN PADA GANGGUAN INTERDEPENDENCE (KETERGANTUNGAN)

1. Membantu klien memenuhi kebutuhan makan dan minum

2. Membantu klien memenuhi kebutuhan eliminasi (urine dan alvi)

3. Membantu klien memenuhi kebutuhan kebersihan diri (mandi)

4. Membantu klien berhias atau berdandan

(3) Berhubungan dengan stimulus yang sama. Misalnya jika seorang petani mengalami nyeri dada saat ia bekerja di luar pada cuaca yang panas. Pada kasus ini, diagnosis yang sesuai adalah “Kegagalan peran berhubungan dengan keterbatasan fisik (miokardial) untuk bekerja saat cuaca yang panas”.

c. Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan adalah suatu perencanaan dengan tujuan merubah atau memanipulasi stimulus fokal, kontekstual, dan residual. Pelaksanaannya juga ditujukan kepada kemampuan klien dalam menggunakan koping secara luas, supaya stimulus secara keseluruhan dapat terjadi pada klien. Tujuan intervensi keperawatan adalah mencapai kondisi yang optimal dengan menggunakan koping yang konstruktif. Tujuan jangka panjang harus dapat menggambarkan

Bab 2 •  Kajian Ilmu Keperawatan

25

penyelesaian masalah adaptif dan ketersediaan energi untuk memenuhi kebutuhan tersebut (mempertahankan, pertumbuhan, dan reproduksi). Tujuan jangka pendek mengidentifikasi harapan perilaku klien setelah manipulasi stimulus fokal, kontekstual, dan residual. Pengembangan kriteria standar intervensi keperawatan menurut adaptasi akan digunakan oleh peneliti sebagai instrumen untuk mengukur kinerja perawat dalam menerapkan teori adaptasi pada asuhan keperawatan anak.

d. Evaluasi

Penilaian terakhir proses keperawatan didasarkan pada tujuan keperawatan yang ditetapkan. Penetapan keberhasilan suatu asuhan keperawatan didasarkan pada perubahan perilaku dari kriteria hasil yang telah ditetapkan, yaitu terjadinya adaptasi pada individu.

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Adib, M. 2011. Filsafat Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Alligood, MR, & Tomey, AM, 2006, Nursing Theorists and Their Work, 7 th ed. St. Louis, Missouri: Mosby.

Chitty, K.K. 1997. Professional Nursing. Concepts & Challenges. 2 nd ed. Philadelphia: W.B. Saunders Company.

Nursalam & Kurniawati, ND. 2007. Asuhan Keperawatan Pasien Terinfeksi HIV / AIDS. Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam. 2002. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: Salemba Medika.

. 2008a. Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Praktis. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Salemba Medika

. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan:

Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

Polit DF & Back, CT. 2012. Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing Practice. 9 th ed. Philadelphia: JB. Lippincott.

Putera, S.T. 2010. Filsafat Ilmu Kedokteran. Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair.

Soeparmo HA. (1984) Struktur Keilmuan dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam. Surabaya:

Airlangga University Press.

26

Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

Bagian

2

MAsALAH PENELITIAN DAN KERANGKA KONsEP

• Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian

Bab 3

Lampiran Contoh Rumusan Masalah

• Kerangka Konsep Hipotesis Penelitian

Bab 4

• Lingkup Masalah Penelitian Ilmu Keperawatan

Bab 5

28

Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Bab 3

Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian

MASALAH

MASALAH

Masalah penelitian merupakan langkah awal yang harus dipikirkan dan disusun berdasarkan suatu fakta empiris di lapangan. Pada tahap awal pelaksanaan penelitian, kegiatan yang perlu dilakukan adalah memahami konsep masalah berdasarkan kajian kepustakaan yang dapat dipercaya. Kegiatan tersebut meliputi berpikir, membaca teori, dan review dengan teman sejawat dan pembimbing. Selama tahap ini, seorang peneliti perlu memahami pelaksanaan deductive reasoning dan memilih topik yang diminati dari hasil riset yang telah dilaksanakan orang lain.

TOPIK
TOPIK
JUDUL
JUDUL
Fakta MASALAH Kesenjangan berdasar pada konsep masalah (K. I) Harapan RUMUSAN MASALAH Konsep yang digunakan
Fakta
MASALAH
Kesenjangan berdasar pada
konsep masalah (K. I)
Harapan
RUMUSAN
MASALAH
Konsep yang digunakan dalam
paradigma penelitian/konsep
paradigma (konsep I atau II)
sebagai sumber variabel untuk
menjawab rumusan masalah
TUJUAN
PENELITIAN
MANFAAT
MANFAAT
Gambar 3.1
Gambar 3.1

Bagan alur pikir ilmiah sekonsep (Soeparto, Putra, Haryanto, 2000)

30

Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Masalah penelitian adalah suatu kondisi yang memerlukan pemecahan atau alternatif pemecahan. Baik buruknya suatu penelitian sangat ditentukan oleh masalah penelitian (research problem) (Polit & Hungler, 1999). Masalah penelitian biasanya didapat dari topik yang secara luas berhubungan dengan keperawatan. Mengingat dalam topik sudah terdapat suatu masalah, maka dalam melakukan identifikasi masalah hendaknya tidak keluar dari area masalah yang telah dicantumkan dalam topik. Masalah penelitian diupayakan yang orisinil, mempunyai kontribusi terhadap perkembangan ilmu, urgensi dan baru.

Menyeleksi Masalah Riset Keperawatan

Saat memilih masalah penelitian keperawatan, peneliti dituntut untuk menguasai lingkup masalah dan konsep keperawatan. Gambar berikut ini menjelaskan alur pikir tentang langkah-langkah memilih masalah penelitian keperawatan.

NANDA Proses Sumber: SYARAT: (9 pola Keperawatan: • klinik/ • F: Feasibility perubahan Diagnosis komunitas
NANDA
Proses
Sumber:
SYARAT:
(9 pola
Keperawatan:
• klinik/
• F: Feasibility
perubahan
Diagnosis
komunitas
• I: Interesting
keperawatan
• literatur:
• N: Novel
GORDON
(11 pola fungsi
kesehatan)
P: Problem
E: ? (Faktor/
Independen)
S: Signs &
Symptoms
buku/jurnal
• E: Ethics
• diskusi/
• R: Relevant
seminar
MASALAH DAN
RUMUSAN MASALAH
Pengembangan Kerangka
Konseptual
(Teori/Ilmu Keperawatan:
ROY; OREM; KING; dll)
Gambar 3.2
Gambar 3.2

Penentuan masalah riset keperawatan (Nursalam, 2002 & Nursalam, 2008)

Keterangan:

Alur perumusan masalah penelitian keperawatan tersebut berdasar pada masalah-masalah keperawatan yang berasal dari diagnosis keperawatan, yang terdiri atas rumus PES. P (problem) adalah respons/masalah yang dirasakan oleh klien, baik fisik, psikis, maupun sosio-spiritual. Dalam menentukan P, merujuklah pada masalah keperawatan yang dikemukakan oleh North American Nurses Diagnosis (NANDA), sebagai acuan penentuan masalah keperawatan di dunia. E (Etiology) adalah penyebab dari masalah, dapat berupa patofisiologi suatu penyakit, situasi lingkungan atau tempat tinggal. S (Sign & Symptoms) adalah tanda dan gejala yang biasanya memberikan kontribusi terhadap timbulnya masalah. Keterangan tersebut dapat dianalogikan, bahwa PES dapat dipergunakan sebagai suatu variabel penelitian, yaitu P sebagai variabel dependen; E sebagai variabel independen; dan S dapat berperan sebagai variabel independen, dependen, moderator, atau variabel lainnya.

Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian

31

Sedangkan syarat masalah riset keperawatan, menurut Sastroasmoro dan Ismail (1995), harus mengandung unsur = FINER

F

= Bisa dijalankan (FEASIBLE) •  Tersedia subjek penelitian •  Tersedia dana •  Tersedia waktu, alat, dan keahlian

I

= Menarik (INTERESTING) •  Masalah hendaknya menarik untuk diteliti

N

= Hal baru (NOVEL) •  Membantah atau mengonfirmasikan penemuan terdahulu •  Melengkapi dan mengembangkan hasil penelitian terdahulu •  Menemukan sesuatu yang baru

E

= Etika (ETHICAL) •  Tidak bertentangan dengan etika, khususnya etika keperawatan

R

= Relevan (RELEVANT) •  Bermanfaat bagi perkembangan IPTEK •  Dapat digunakan untuk meningkatkan asuhan keperawatan dan kebijaksanaan  kesehatan •  Sebagai dasar penelitian selanjutnya

Contoh lingkup riset keperawatan terlampir (diambil dari hasil riset peneliti dan mahasiswa)

Lingkup Masalah Penelitian Keperawatan menurut Nursalam (2002)

Prioritas/lingkup riset keperawatan berdasarkan kelompok ilmu keperawatan dikembangkan menjadi:

1.

Prioritas kesehatan dan pencegahan penyakit pada masyarakat.

2.

Pencegahan perilaku dan lingkungan yang berakibat buruk pada masalah kesehatan.

3.

Menguji model praktik keperawatan di komunitas.

4.

Menentukan efektivitas intervensi keperawatan pada infeksi HIV-AIDS.

5.

Mengkaji pendekatan yang efektif pada gangguan perilaku.

6.

Evaluasi intervensi keperawatan yang efektif pada penyakit kronis.

7.

Identifikasi faktor-faktor bioperilaku yang berhubungan dengan kemampuan koping.

8.

Mendokumentasikan efektivitas pelayanan kesehatan/keperawatan.

9.

Mengembangkan masalah dan metodologi riset pelayanan kesehatan/keperawatan.

10.

Menentukan efektivitas biaya perawatan klien.

Kajian Masalah/Sumber Masalah Penelitian Keperawatan

Masalah riset bisa didapatkan dari berbagai sumber. Akan tetapi pemilihan sumber harus selektif, aktif, dan imajinatif dalam penggunaannya.

32

Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Praktik keperawatan

Praktik keperawatan harus berdasarkan pada ilmu yang diperoleh dari suatu hasil penelitian, karena praktik tersebut sangat penting untuk mengetahui sumber permasalahan (Polit & Back, 2012). Permasalahan atau topik riset dapat diperoleh dari observasi klinik (perilaku klien dan keluarga dalam situasi krisis dan bagaimana perawat mengatasi masalah tersebut; review status klien; proses keperawatan; dan prosedur atau tindakan perawatan yang mungkin menimbulkan masalah atau pertanyaan dalam pelaksanaannya). Misalnya, prosedur apakah yang bisa diberikan dalam perawatan mulut pada klien kanker mulut atau klien dengan pemasangan endotrakeal? Tindakan efektif apakah yang dilakukan untuk mengobati luka? Tindakan keperawatan apakah yang berhubungan dengan komunikasi klien dengan stroke? Apakah dampak kunjungan rumah dan pelaksanaannya setelah klien pulang dari rumah sakit? Beberapa mahasiswa perawat dan perawat mengumpulkan suatu jurnal atau data mengenai permasalahan yang berhubungan dengan pengalaman praktiknya (Burns & Grove, 1999). Mereka mencatat pengalaman, ide, dan observasinya dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Analisis dalam hal tersebut sering kali membantu penyusunan suatu pola dalam mengidentifikasi peran perawat. Mengapa pemberian asuhan keperawatan pada emosional dan spiritual klien lebih sedikit dibandingkan dengan perawatan fisik? Apakah anggota keluarga perlu dilibatkan atau tidak dalam pemberian asuhan keperawatan kepada klien?

RUMUSAN MASALAH ATAU PERTANYAAN PENELITIAN

RUMUSAN MASALAH ATAU PERTANYAAN PENELITIAN

Burns dan Grove (1999) mengemukakan lima pertanyaan yang perlu dijawab sebelum merumuskan masalah penelitian: (1) Apa yang salah atau yang perlu diperhatikan pada situasi ini?; (2) Di mana letak kesenjangannya?; (3) Informasi apa yang dibutuhkan untuk mencari masalah ini?; (4) Perlukah melakukan tindakan pelayanan di klinik?; dan (5) Perubahan apa yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut? Sedangkan menurut Polit dan Hungler (1993) pertanyaan yang perlu dijawab sebelum merumuskan masalah penelitian: (1) Apakah pertanyaan penelitian ini berhubungan dengan teori atau praktik? (substansi); (2) Bagaimana pertanyaan akan bisa dijawab? (metodologis); (3) Apakah tersedia sarana dan prasarana yang memadai (practical dimensions); dan (4) Dapatkah pertanyaan ini dijelaskan secara konsisten yang berdasarkan pada isu etik? (ethical dimensions). Riset keperawatan terutama ditujukan pada masalah-masalah keperawatan di klinik dan komunitas atau keluarga (misalnya, sesuai 11 pola fungsi kesehatan dari Gordon; 9 pola respons kesehatan dari NANDA; dan lain-lain); masalah keperawatan pada bidang pendidikan; dan masalah pada sistem pelayanan kesehatan lain (Nursalam, 2008). Pertanyaan suatu penelitian adalah suatu pernyataan yang singkat, jelas, dan interogatif, yang ditulis dalam bentuk saat sekarang dan melibatkan satu atau lebih variabel. Pertanyaan penelitian berguna untuk menjelaskan suatu variabel, menguji hubungan antarvariabel, dan menentukan perbedaan antara dua atau lebih kelompok sehubungan dengan variabel tertentu.

Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian

33

Contoh:

a. Bagaimana peran orang tua dalam perawatan tali pusat pada bayi baru lahir? (deskriptif)

b. Adakah hubungan antara variabel x dan variabel y? (crossectional: asosiasi/ korelasi)

c. Adakah pengaruh pemberian terapi bermain pada anak prasekolah selama masuk rumah sakit terhadap penerimaan selama tindakan invasif? (pengaruh– experiment)

Faktor-faktor yang Mendasari Perumusan Masalah

Penyusunan rumusan masalah penelitian harus didasarkan pada pemahaman yang dimiliki peneliti tentang masalah yang ada dan berkembang saat itu. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh peneliti meliputi faktor-faktor tersebut di bawah ini;

a. Mendefinisikan permasalahan/topik (fakta empiris—induktif) Seorang peneliti biasanya memulai pencarian topik secara umum, misalnya asuhan keperawatan (askep) klien dengan nyeri, pola komunikasi keluarga pada perawatan klien lanjut usia (lansia), atau asuhan keperawatan klien dengan inkontinensia urine? Kemudian timbul suatu pertanyaan: Mengapa perlu dilakukan tindakan? Apa yang akan terjadi seandainya diberikan tindakan? atau Ciri-ciri khas apakah yang ada hubungannya dengan masalah tersebut?

b. Mulai mencari sumber kepustakaan (kajian teori—deduksi) Kepustakaan dapat memberikan gambaran kepada seorang peneliti pemula terhadap suatu topik yang diminati. Dengan melakukan kajian masalah, peneliti akan mampu mengidentifikasi apa yang sudah diketahui dan belum diketahui pada suatu topik. Perbedaan pendapat akan membantu penentuan permasalahan di masa mendatang. Teori merupakan sumber yang sangat penting dalam mendapatkan suatu permasalahan karena disusun berdasarkan ide atau gambaran situasi sekarang dan bersifat nyata serta telah dilakukan suatu pengujian mengenai kebenarannya. Permasalahan/topik dapat disusun untuk menjelaskan tentang konsep, misalnya teori perawatan diri dari Orem. Replikasi meliputi suatu prosedur atau pengulangan riset untuk menentukan apakah hasil penemuan akan sama atau berbeda. Beberapa peneliti melakukan replikasi pada penelitiannya karena mereka setuju dengan penemuan tersebut dan ingin menguji apa yang akan terjadi jika penelitian tersebut dilaksanakan pada desain, tempat, dan subjek yang berbeda. Berikut ini adalah contoh penyusunan rumusan masalah berdasarkan kajian teori, dimulai adanya suatu ide/pendapat yang ada pada pikiran peneliti.

34

Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

1
1

Kelompok ilmu keperawatan:

anak, maternitas, dll

Konsep 1 Kelompok ilmu keperawatan: anak, maternitas, dll Seleksi kasus: G. E, natal, dll 3 Masalah

Seleksi kasus:Konsep 1 Kelompok ilmu keperawatan: anak, maternitas, dll G. E, natal, dll 3 Masalah keperawatan P

G. E, natal, dll

3
3

Masalah keperawatan

P – E
P – E

Ide (masalah – empiris )

Keterlambatan pembukan KALA I pada wanita in partu

empiris ) Keterlambatan pembukan KALA I pada wanita in partu Brainstorming Faktor apakah yang menyebabkan keterlambatan

Brainstorming

Faktor apakah yang menyebabkan keterlambatan tersebut?

Kajian masalah (kepustakaan)

Berdasarkan literatur, terdapat lima faktor penyebab keterlambatan pembukaan Kala I pada wanita in partu yang telah diidentifikasi sebagai suatu stresor. Faktor tersebut adalah kekuatan mengejan (power), anatomi jalan lahir (passage), berat bayi (passenger), kejiwaan (psyche), dan provider (?). Namun belum ada penelitian mengenai faktor-faktor tersebut, kecuali faktor kejiwaan, khususnya pendampingan suami terhadap percepatan pembukaan Kala I.

pendampingan suami terhadap percepatan pembukaan Kala I. Identifikasi: potensial variabel Kecemasan Kekuatan

Identifikasi: potensial variabel Kecemasan Kekuatan mengejan Usia ibu Paritas (melahirkan dengan selamat) Status sosial ekonomi Tipe dukungan keluarga-suami Stres psikologis Waktu masuk rumah sakit

keluarga-suami Stres psikologis Waktu masuk rumah sakit 4 Rumusan masalah Apakah ada pengaruh pendampingan suami
4
4

Rumusan masalah

Apakah ada pengaruh pendampingan suami terhadap percepatan pembukaan KALA I persalinan?

suami terhadap percepatan pembukaan KALA I persalinan? 5 Tujuan Menjelaskan pengaruh pendampingan suami
5
5

Tujuan

Menjelaskan pengaruh pendampingan suami terhadap percepatan perubahan KALA I persalinan

6
6

Judul

Pengaruh pendampingan suami terhadap percepatan pembukaan KALA I

Gambar 3.3
Gambar 3.3

Alur perumusan masalah penelitian keperawatan (Nursalam, 2000)

Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian

35

kepada mahasiswanya dalam menyeleksi dan menyusun suatu permasalahan. Jika memungkinkan, seorang mahasiswa melakukan penelitian pada topik yang sama dengan dosennya. Dosen dapat memberikan keahliannya berhubungan dengan program penelitian dan mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuannya pada topik tertentu (Polit & Back, 2012). Tipe hubungan ini bisa dikembangkan antara ahli peneliti dengan perawat di rumah sakit ataupun klinik.

d. Layak dijabarkan (feasibility) Kelayakan suatu penelitian untuk dilakukan ditentukan oleh berbagai pertimbangan, yaitu (1) waktu; (2) dana; (3) keahlian peneliti; (4) tersedianya responsden; (5) fasilitas dan alat; (6) kerja sama dengan tim lain; dan (7) pertimbangan etika (Nursalam,

2008).

1) Waktu Suatu penelitian sering kali memerlukan waktu yang lebih lama dari yang telah ditentukan, sehingga menjadi kendala bagi semua peneliti terutama peneliti pemula untuk memperkirakan waktu yang diperlukan. Pertimbangan perkiraan penentuan waktu dapat ditentukan oleh berbagai faktor:

a. Tipe responsden yang diperlukan

b. Jumlah dan kompleksnya variabel yang akan digunakan

c. Metode pengukuran variabel (apakah instrumen sudah tersedia ataukah harus mengembangkan sendiri)

d. Metode pengumpulan data

e. Proses analisis data

Seorang peneliti sering memperkirakan waktu yang diperlukan tiap selesainya tahap proses penelitian.

2) Dana Perumusan masalah dan tujuan yang dipilih sangat dipengaruhi oleh alokasi dana yang tersedia. Potensial sumber dana harus dipertimbangkan pada saat penyusunan masalah atau tujuan. Untuk memperkirakan dana yang diperlukan, beberapa pertanyaan berikut ini perlu dipertimbangkan:

a. Literatur: Apakah akan diperlukan komputer, fotokopi artikel, atau pembelian buku?

b. Subjek: Apakah subjek/responsden perlu diberi biaya dalam partisipasinya?

c. Peralatan: Alat-alat apakah yang diperlukan untuk penelitian? Apakah alat-alat tersebut bisa diperoleh dengan cara meminjam, menyewa, membeli, ataukah disediakan oleh donatur? Apakah bisa menggunakan alat-alat yang tersedia, ataukah perlu membangun/membuat sendiri? Berapakah biaya untuk pengukuran instrumen?

d. Personel: Apakah asisten/konsultan perlu diberikan biaya pengetikan dan analisis data?

e. Komputer: Apakah pemakaian komputer diperlukan saat menganalisis data? Jika ya, berapa biaya yang diperlukan?

36

Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

f. Transportasi: Berapa biaya transportasi untuk melakukan penelitian dan menyajikan hasil?

g. Pendukung: Apakah akan diperlukan alat-alat seperti amplop, prangko, pena, kertas, dan fotokopi? Apakah perlu biaya telpon untuk jarak jauh (interlokal)?

3) Keahlian peneliti Permasalahan/topik dan tujuan penelitian harus diseleksi berdasarkan kemampuan peneliti. Hal ini biasanya menuntut seorang peneliti untuk memahami suatu proses penelitian baru kemudian melakukan penelitian berdasarkan pengalamannya. Memilih permasalahan yang sulit dan kompleks akan mengakibatkan frustrasi bagi peneliti pemula.

4) Ketersediaan Responsden Dalam menentukan suatu tujuan penelitian, yang perlu dipertimbangkan adalah tipe dan jumlah responsden yang diperlukan. Sampel biasanya sulit jika penelitian meliputi populasi yang unik dan jarang. Misalnya quadriplegic yang hidup sendirian. Semakin spesifik suatu populasi, semakin sulit mendapatkannya. Dana dan waktu yang tersedia akan berakibat terhadap responsden yang dipilih. Dengan keterbatasan waktu dan dana, seorang peneliti perlu menentukan responsden yang tersedia yang tidak memerlukan biaya (upah).

5) Ketersediaan fasilitas dan peralatan Peneliti perlu mempertimbangkan apakah riset memerlukan fasilitas tertentu. Apakah ruangan khusus diperlukan untuk program pendidikan, wawancara, atau observasi? Jika riset dilaksanakan di rumah sakit, klinik, atau sekolah perawat, apakah diperlukan seorang agen? Tindakan atau tes di laboratorium akan sangat mahal dan mungkin membutuhkan dana dari sumber lain. Riset perawatan biasanya dilaksanakan di rumah sakit, klinik, rumah klien, dan tempat lainnya.

6) Kerja sama dengan tim lain Suatu penelitian tidak akan dapat berjalan dengan lancar tanpa kerja sama dengan tim yang lain. Hampir semua riset keperawatan melibatkan subjek manusia dan dilaksanakan di rumah sakit, klinik, sekolah perawat, kantor, atau rumah. Adanya hubungan yang baik dengan individu di tempat penelitian akan sangat membantu. Orang sering berharap dapat terlibat dalam suatu penelitian jika permasalahan dan tujuan penelitian ada hubungannya dengan permasalahan yang ada atau mereka tertarik secara individu terhadap permasalahannya. Misalnya seorang perawat di rumah sakit mungkin tertarik dengan penelitian yang ada hubungannya dengan efektivitas penggunaan biaya institusi terhadap program kesejahteraan perawat.

7) Pertimbangan etika Tujuan suatu penelitian harus etis, dalam arti hak responsden dan yang lainnya dilindungi. Jika suatu tujuan penelitian akan berakibat jelek terhadap hak reponden, maka penelitian tersebut harus dievaluasi ulang dan mungkin harus dihindari.

MENYUSUN RUMUSAN DAN TUJUAN PENELITIAN

MENYUSUN RUMUSAN DAN TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian diperoleh dari rumusan masalah penelitian yang telah ditetapkan sebagai indikator terhadap hasil yang diharapkan. Tujuan dari penelitian berguna untuk

Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian

37

mengidentifikasi, menjelaskan, mempelajari, membuktikan, mengkaji, dan memprediksi alternatif pemecahan masalah terhadap masalah penelitian. Tujuan tersebut biasanya menandakan tipe dari riset, misalnya deskriptif: studi kasus, cross sectional, kohort, case control dab experiment: trust-experiment, quasy-experiment, dab praexperiment. Dengan adanya tujuan tersebut akan mempermudah untuk mencapai hasil yang diharapkan. Tujuan penelitian, pertanyaan penelitian (rumusan masalah), dan hipotesis disusun untuk menjembatani kesenjangan antara permasalahan penelitian yang masih abstrak. Kejelasan dari objektivitas biasanya difokuskan pada satu atau dua variabel. Kadang- kadang fokusnya untuk mengidentifikasi suatu hubungan diantara dua atau lebih variabel atau untuk menentukan perbedaan di antara dua kelompok dari suatu variabel (Polit & Back, 2012). Tujuan penelitian harus jelas, ringkas, dan berupa pernyataan yang deklaratif, yang biasanya dituliskan dalam bentuk kalimat aktif. Agar tujuan menjadi jelas, biasanya tujuan penelitian difokuskan pada satu atau dua variabel dan mengidentifikasi apakah variabel perlu dijabarkan lebih lanjut. Fokus tersebut bisa dalam bentuk identifikasi hubungan atau asosiasi di antara variabel atau untuk menentukan perbedaan di antara dua kelompok dengan variabel.

Agar lebih jelas, cermati contoh berikut ini.

Rumus Penulisan Tujuan Penelitian

 

Bloom

+

Tujuan Penelitian

+

Variabel-variabel

C2-C6

Contoh

Contoh Menjelaskan Mengidentifikasikan Menganalisis Membuktikan (diupayakan tidak menggunakan mengetahui)

Gambaran/deskripsi

Perbedaan

Hubungan

Pengaruh/dampak

Sebab akibat

(1) Mengidentifikasi karakteristik variabel X (identification). (2) Menjelaskan keberadaan variabel X (description). (3) Menentukan atau mengidentifikasi hubungan antara variabel X dengan variabel Y (relational). (4) Menentukan perbedaan antara kelompok 1 dan kelompok 2 sehubungan dengan variabel X (differences).

•  Masalah/kajian masalah  Dari hasil studi yang dilakukan peneliti pada 15 orang mahasiswa reguler Program Profesi Ners Fakultas Keperawatan pada tanggal 2 – 9 Maret 2013 dapat diketahui bahwa pada dimensi kelelahan emosional, 26,7% mahasiswa mengalami kelelahan emosional ditingkat rendah, 40% menengah dan 33,3% pada rentang berat. Dimensi yang kedua depersonalisasi, 86,7% mahasiswa mengalami depersonalisasi di tingkat rendah dan sekitar 13,3% di tingkat menengah. Kemudian dimensi penurunan prestasi diri, 33,3% mengalami penurunan prestasi diri di tingkat rendah, 46,7% menengah dan 20% mengalami penurunan prestasi diri tingkat berat. Hal ini didukung dengan data penelitian sebelumnya oleh Irawati

38

Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

(2012) yang menyebutkan bahwa mahasiswa regular angkatan genap 2011/2012 program profesi Ners Fakultas Keperawatan dari jumlah 63 orang responsden penelitian terdapat 61,9% mahasiswa mengalami kelelahan emosional di level sedang. 60,3% mengalami depersonalisasi tingkat menengah dan 71,4% mengalami penurunan prestasi level rendah.

Rumusan Masalah

1. Apakah ada hubungan antara sumber stres (stresor) personal terhadap burnout syndrome yang dialami oleh mahasiswa regular program Profesi Ners?

2. Apakah ada hubungan antara sumber stres (stresor) lingkungan terhadap burnout syndrome yang dialami oleh mahasiswa regular program Profesi Ners?

3. Apakah ada hubungan antara relational meaning terhadap burnout syndrome yang dialami oleh mahasiswa regular program Profesi Ners?

4. Apakah ada hubungan antara coping strategy terhadap burnout syndrome yang dialami oleh mahasiswa reguler Program Profesi Ners?

Tujuan Penelitian Tujuan Umum Menganalisis hubungan antara sumber stres (stresor): personal dan lingkungan, relational meaning dan coping strategy terhadap kejadian burnout syndrome pada mahasiswa reguler Program Profesi Ners berdasarkan Transactional Theory Lazarus & Folkman dan konsep Maslach Burnout Inventory.

Tujuan Khusus

1. Menganalisis hubungan sumber stres (stresor) personal dengan burnout syndrome pada mahasiswa reguler Program Profesi Ners berdasarkan Transactional Theory Lazarus & Folkman dan Konsep Maslach Burnout Inventory

2. Menganalisis hubungan sumber stres (stresor) lingkungan dengan burnout syndrome pada mahasiswa reguler Program Profesi Ners berdasarkan Transactional Theory Lazarus & Folkman dan Konsep Maslach Burnout Inventory

3. Menganalisis hubungan relational meaning dengan burnout syndrome pada mahasiswa reguler Program Profesi Ners berdasarkan Transactional Theory Lazarus & Folkman dan Konsep Maslach Burnout Inventory

4. Menganalisis hubungan coping strategy dengan burnout syndrome pada mahasiswa reguler Program Profesi Ners berdasarkan Transactional Theory Lazarus & Folkman dan Konsep Maslach Burnout Inventory.

Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian

39

LAMPIRAN

LAMPIRAN

Rumusan Masalah: Masalah dan Pertanyaan Penelitian Keperawatan

Penelitian

Judul Penelitian

Masalah dan Rumusan Masalah (Pertanyaan Penelitian)

Maternitas

Pengaruh pendampingan suami terhadap percepatan pembukaan KALA I persalinan

(Quasy eksperimental di RS Adi Husada) Peneliti:

Masalah Keterlambatan pembukaan pada KALA I sering ditemukan pada proses persalinan. Percepatan KALA I merupakan unsur utama dalam proses persalinan pada ibu in partu. Keterlambatan dalam pembukaan merupakan ancaman bagi nyawa ibu maupun bayinya. Wanita yang mengalami keterlambatan pembukaan pada KALA I berdampak juga terhadap psikologisnya. Penyebab dari keterlambatan dipengaruhi oleh

(Penelitian dasar)

1. Nursalam, M.Nurs (Honours).

banyak faktor. Faktor yang penting adalah kecemasan dan kurangnya rasa nyaman klien (nyeri) karena tidak ditunggui

2. Sumiati, S. Kep.

oleh keluarganya khususnya suaminya. Pendampingan saja ternyata tidak cukup, tetapi peran suami saat mendampingi merupakan kunci sukses yang utama. Beberapa sumber telah menetapkan bahwa kehadiran suami berpengaruh terhadap percepatan KALA I, tetapi di Indonesia belum pernah dilaksanakan penelitian bagaimana pendampingan yang efektif dapat mempercepat pembukaan persalinan pada KALA I.

• Rumusan masalah/pertanyaan penelitian Adakah pengaruh pendampingan suami terhadap percepatan pembukaan pada KALA I?

Maternitas

Motivasi ibu untuk tetap menyusui pada saat nyeri pascasalin (studi cross-sectional di RSUD DR. Soetomo) Peneliti:

1. Nursalam, M.Nurs

Masalah Sebagian ibu sering berhenti menyusui bayinya karena nyeri saat menyusui pascasalin, tetapi ibu yang lain tetap menyusui meskipun nyeri yang dirasakan terasa berat. Nyeri saat menyusui pada ibu setelah melahirkan merupakan masalah utama yang perlu mendapatkan perhatian serius. Keadaan

(Kajian wanita)

(Honours).

tersebut akan berdampak terhadap kesehatan ibu dan bayinya, ibu-ibu akan mengalami gangguan proses fisiologis setelah

2. Nurhikmah, SST.

melahirkan dan hal ini berdampak terhadap kesehatan bayinya. Bayi akan menjadi mudah terkena penyakit karena penurunan kekebalan dan masalah-masalah lain berupa pertumbuhan dan perkembangan. Belum ada data-data yang pasti tentang faktor apa saja yang berpengaruh secara signifikan dalam mendorong ibu-ibu untuk tetap menyusui bayinya pada saat “afterpain” pascasalin. Faktor paritas menurut Soetjiningsih (1997) sebagai faktor pendorong utama, yaitu ibu-ibu yang baru mempunyai anak pertama akan tetap menyusui bayinya. Hal ini dilakukan sebagai bukti kasih sayang ibu dan rasa tanggung jawab wanita terhadap perkembangan anaknya. Wanita sering diposisikan sebagai orang yang paling bertanggung jawab dan disalahkan apabila tidak bisa menyusui bayinya, di lain pihak mereka tidak tahan terhadap nyeri yang dirasakan. Di satu sisi masih ditemukan suami melarang istrinya untuk menyusui karena alasan feminisme dan kebutuhan seksual belaka.

Sedangkan faktor-faktor lain seperti pengetahuan, sikap, sosial ekonomi, dan dukungan keluarga belum pernah dikaji.

Pertanyaan penelitian

1. Faktor-faktor apakah yang mendorong ibu untuk tetap menyusui saat afterpain?

2. Bagaimanakah dukungan keluarga dalam meningkatkan motivasi untuk tetap menyusui?

3. Bagaimanakah efektivitas pelaksanaan menyusui pada ibu pascasalin?

40

Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Rumusan Masalah: Masalah dan Pertanyaan Penelitian Keperawatan

Maternitas

Sindroma klimaktorium pada wanita menopause

• Masalah Wanita sering mengalami distres psikologis dalam berumah tangga karena adanya sindroma klimaktorium. Sindroma yang dialaminya berdampak terhadap gangguan-gangguan psikis berupa ketidakharmonisan

(kajian wanita)

(Studi eksploratif di Pamekasan— Madura) Peneliti:

1. Nursalam, M.Nurs (Honours).

rumah tangga akibat tidak terpenuhinya kebutuhan

2. Adi Sutrisni SST.

seksual suami, gangguan interaksi sosial, gangguan konsep diri, dan lain-lain. Sedangkan gangguan fisik meliputi gangguan pada kulit, produksi hormon

kewanitaan, pencernaan, jantung, dan perkemihan. Gangguan tersebut telah dijabarkan oleh Manuaba dan Prayitno (1997). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sindroma adalah (1) sosial budaya, (2) faktor keluarga, (3) persepsi dan pengetahuan wanita atau suami yang salah. Tetapi, belum pernah dilakukan penelitian mengenai faktor-faktor apakah yang paling berpengaruh terhadap sindroma klimaktorium tersebut. Masalah tersebut sangat menarik untuk dikaji secara mendalam.

Pertanyaan penelitian

1. Bagaimanakah perilaku pengetahuan dan sikap wanita tentang sindoma klimaktorium?

2. Faktor-faktor apakah yang paling berpengaruh terhadap sindroma klimaktorium?

Gerontik

Pengaruh senam “Kegel” terhadap pemenuhan kebutuhan eliminasi urine klien lansia yang tinggal di panti (pra- eksperimental) Peneliti:

• Masalah Lansia ditemukan sering mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi urine. Keadaan ini akan bertambah buruk apabila lansia kurang atau tidak melakukan latihan yang dapat menyebabkan penurunan tonus otot kandung kemih, peningkatan stasis urine

(penelitian

dasar)

1. Nursalam, M.Nurs (Honours).

pada ginjal dan peningkatan risiko terjadinya batu ginjal.

2. I Ketut Dira, S.Kep.

Lansia sering mengompol di celana dan terganggu tidurnya karena sering terasa mau kencing. Keadaan ini cenderung tidak dilaporkan karena lansia merasa malu dan menganggap tidak ada yang dapat diperbuat untuk menolongnya. Penelitian-penelitian tentang peran perawat dalam mengatasi pemenuhan kebutuhan eliminasi di luar negeri masih jarang ditemukan, demikian juga di Indonesia. Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Wayan Suardana hanya menyebutkan bahwa senam Tera dapat membantu mengurangi keluhan sakit pada lansia secara umum.

Pertanyaan Penelitian Apakah ada pengaruh pemberian latihan atau senam kegel terhadap pemenuhan kebutuhan eliminasi urine (beser) pada lansia?

Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian

41

Rumusan Masalah: Masalah dan Pertanyaan Penelitian Keperawatan

Medikal bedah

Peran serta keluarga pada rehabilitasi fisik klien pascastroke dalam upaya mencegah kecacatan dan kekambuhan (Studi eksploratif di ruang saraf RSUD Dr. Soetomo Surabaya) Peneliti:

• Masalah Keluarga belum berperan secara optimal dalam melakukan rehabilitasi fisik pada klien pascaserangan stroke di rumah. Peran tersebut khususnya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, kebutuhan perawatan diri: makan-minum; berdandan-berpakaian; mandi dan kebutuhan eliminasi; serta risiko terjadinya “dekubitus: karena imobilisasi yang lama; pneumonia akibat penumpukan sekret, dan gangguan-gangguan

(penelitian dasar)

1. Nursalam, M.Nurs (Honours).

organ tubuh lainnya. Keadaan tersebut akan berakibat terhadap suatu kondisi yang sangat fatal apabila

2. Ah. Yusuf, S.Kp.

perawat dan khususnya keluarga tidak berperan serta

3. Yoseph Tueng, SST.

dalam melakukan aktivitas fisik berupa rehabilitasi baik selama klien dirawat di rumah sakit maupun di rumah. Menurut Carpenito (2000: 240) gangguan

aktivitas tersebut harus ditangani untuk pemulihan atau pencegahan penurunan fungsi yang berkelanjutan. Upaya rehabilitasi dapat berupa suatu latihan pasif dan aktif dengan bantuan yang dimulai sejak klien dirawat di rumah sakit sampai pulang. Roper (1996:

43) menekankan bahwa keterlibatan keluarga sebagai anggota tim rehabilitasi mutlak diperlukan, mengingat rehabilitasi tersebut memerlukan waktu yang sangat lama. Sering ditemukan klien stroke yang dirawat di rumah mengalami dekubitus pada stadium yang paling parah. Keadaan tersebut tidak akan terjadi kalau keluarga mengerti dan ikut terlibat aktif dalam melakukan aktivitas fisik. Di Indonesia belum pernah dilakukan pengkajian bagaimanakah efektivitas peran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan rehabilitasi fisik khususnya selama klien dirawat di rumah sakit maupun setelah pulang.

• Pertanyaan penelitian

1. Faktor-faktor apakah yang berhubungan terhadap peran serta keluarga dalam melakukan rehabilitasi pada klien pascaserangan stroke di rumah?

2. Bagaimanakah peran keluarga dalam pelaksanaan rehabilitasi pada klien stroke?

42

Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Contoh: Penelusuran Masalah/Topik Penelitian

Oleh: S-N-S NIM. 131111161 (B14)

1.

Bidang Keahlian: Keperawatan Gerontik

2.

Kasus: Activity Daily Living (ADL) Lansia

3.

Kajian Masalah:

F-1

a.

Empat puluh lima (45 %) lansia (< 65 th) mengalami kemunduran ADL seiring pertambahan usia.

b.

Kemunduran ADL dan ketergantungan lansia pada orang lain menjadi pemicu adanya gangguan psikologis dan faktor pencetus terjadinya depresi pada lansia (Hawari,

2007).

c.

Dengan kondisi yang sehat para lansia dapat melakukan aktivitas apa saja tanpa meminta bantuan orang lain, atau sesedikit mungkin tergantung kepada orang lain. (Suhartini, 2004).

d.

Dengan menjaga kesehatan fisik, mental, spiritual, ekonomi dan sosial, seseorang dapat memilih masa tua yang lebih membahagiakan, terhindar dari masalah kesehatan. (Astuti, 2007).

e.

Apabila ketergantungan tidak segera diatasi, maka akan menimbulkan beberapa akibat seperti gangguan sistem tubuh, timbulnya penyakit, menurunnya Activity of Daily Living (ADL). Penurunan Activity of Daily Living (ADL) disebabkan oleh persendian yang kaku, pergerakan yang terbatas, waktu bereaksi yang lambat, keseimbangan tubuh yang jelek, gangguan peredaran darah, keadaan yang tidak stabil bila berjalan, gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran (Setiabudi dan Hardywinoto, 1999).

f.

Permasalahan yang berkaitan dengan lansia antara lain, pengaruh proses menua dapat menimbulkan masalah secara fisik karena semakin lanjut usia seseorang, maka akan mengalami kemunduran terutama di bidang kemampuan fisik. Selain kemunduran kemampuan fisik juga mengakibatkan penurunan pada peranan – peranan sosialnya (Nugroho, 2000).

F-2

a.

Olahraga usia lanjut perlu diberikan dengan berbagai patokan, antara lain beban kerja ringan atau sedang, waktu relatif lama, bersifat aerobik dan atau kalistenik, tidak kompetitif atau bertanding. (Bandiyah, 2009)

b.

Senam lansia adalah senam dengan gerakan ringan, dilakukan secara berkesinambungan, dan lazimnya disarankan untuk usia 40 tahun ke atas. (Ismawati,

2010)

Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian

43

?

c. Prinsip olahraga usia lanjut sama dengan prinsip olahraga pada umumnya, yang membedakan adalah berkaitan dengan reaksi tubuh yang relative lebih lamban, oleh karena itu, maka jangka waktu dan beban latihan harus disesuaikan (kusmana,

2002)

d. Faktor yang murni milik lanjut usia yang berperan besar terhadap terjadinya jatuh adalah muskuloskeletal. Senam lansia ditujukan untuk penguatan, daya tahan, dan kelenturan tulang dan sendi, sehingga sistem muskuloskeletal yang menurun dapat diperbaiki. Selain itu senam lansia bermanfaat untuk memelihara kebugaran jantung dan paru (Reuben, 1996).

SPIDER WEB

Spider Web

ADL pada Lansia

? KEBERSIHAN?

AKTIVITAS MAKAN DAN MINUM ? ? AKTIVITAS- ? JENIS (SENAM PENYAKIT DM, JALAN DEGENERATIF KAKI,
AKTIVITAS
MAKAN DAN
MINUM
?
?
AKTIVITAS-
?
JENIS (SENAM
PENYAKIT
DM, JALAN
DEGENERATIF
KAKI, DLL)
?
?
Tema Utama
LANSIA
ADL
?
?
?
?
?
?
?
?
DEPRESI
SOSIAL

44

Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Keaslian Penulisan

Penelitian tentang Senam lansia dan Activity Daily Living / Aktivitas Kehidupan Sehari- hari telah beberapa kali dilakukan, sebagaimana tercantum dalam tabel berikut:

No

Judul Karya Ilmiah& Penulis

 

Variabel

Jenis Penelitian

Hasil

1

Hubungan Senam Lansia dengan Kebugaran Lansia (Palestin, 2006)

-senam lansia

kuantitatif

Ada hubungan signifikan antara senam lansia dengan tingkat kebugaran lansia

-

vital sign lansia

2.

Pengaruh Senam Aerobik terhadap Peningkatan Kebugaran Wanita Menopause (Hartini, 2007)

-Latihan Senam Aerobik

Kuantitatif Pra

Senam Aerobik memiliki pengaruh yang signifikan pada peningkatan kebugaran (stabilisasi nadi, RR, tekanan darah & menopause syndrome)

- Peningkatan Kebugaran

eksperimental

3.

Pengaruh Senam Lansia terhadap Kebugaran Jasmani pada Lansia (Rochman, 2009)

- Senam Lansia

Observational

Ada Hubungan Senam Lansia dengan kebugaran jasmani

- Kebugaran (stabilisasi

rancangan analitik

nadi, RR, tekanan darah)

4.

Manfaat Senam terhadap Kebugaran Lansia (Kartinah,

- Senam Tera

Kuantitatif pra

Senam Tera berpengaruh dalam menstabilkan kadar immunoglobulin

- Kebugaran

eksperimental

2008)

5.

Perbedaan Pengaruh Senam Otak dan Senam Lansia terhadap Keseimbangan pada Orang Lanjut Usia (Herawati,

2008)

Senam Otak

Quasi eksperimen

Senam otak dan senam lansia memberikan hasil yang positif terhadap keseimbangan Lansia

Senam Lansia

Keseimbangan

6.

Hubungan antara Karakteristik Personal dengan Kemandirian dalam Activiy of Daily Living (ADL) pada Lansia (Fathur,

2007)

karakteristik personal kemandirian dalam Activiy of Daily Living

Inferestial analitik

karakteristik personal memiliki hubungan yang signifikan dengan kemandirian dalam Activiy of Daily Living (ADL)

eksperimen

7.

Hubungan Antara Tingkat Depresi Dengan Kemampuan Aktivitas Dasar Sehari-Hari Pada Lansia (Firmannulah, 2010)

Tingkat Depresi Dengan Kemampuan Aktivitas Dasar Sehari- Hari

Deskriptif analitik

ada hubungan yang signifikan dengan interpretasi korelasi negatif antara tingkat depresi dengan kemampuan aktivitas seharihari pada lanjut usia

kolerasi

8.

Pengaruh Pemberian Penyuluhan Kesehatan Terhadap Perubahan Pengetahuan dan Sikap Tentang Activity of Daily Living (ADL) pada lansia (Setyowati, 2009)

Pemberian Penyuluhan Kesehatan Perubahan Pengetahuan Activity of Daily Living Sikap Activity of Daily Living

Deskriptif dengan

penyuluhan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan lansia tentang ADL

pendekatan

eksperimen

korelasional

9.

Pengaruh Pembelajaran Terbimbing terhadap Tingkat Kemandirian ADL LAnsia

-

Pembelajaran

Kuantitatif Pre

Pembelajaran Terbimbing memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Tingkat Kemandirian ADL LAnsia

Terbimbing

Eksperimental

-

Kemandirian ADL

(Kusrumentahingtyas,2010)

 

10.

Hubungan antara Tingkat Depresi dengan Ketergantungan dalam ADL (Activity of Daily Living) pada Lansia (Aprinia, 2006)

tingkat depresi ketergantungan dalam ADL (Activity of Daily Living)

Studi korelasi

Ada hubungan antara tingkat depresi dengan ketergantungan dalam ADL (Activity of Daily Living) pada lansia

Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian

45

No

Judul Karya Ilmiah& Penulis

Variabel

Jenis Penelitian

Hasil

11.

Hubungan antara Gaya Hidup dengan Tingkat Ketergantungan dalam Aktivitas Kehidupan Sehari – hari Lansia

gaya hidup tingkat ketergantungan dalam aktivitas kehidupan sehari – hari

Quasi eksperiment

Terdapat hubungan antara gaya hidup dengan tingkat ketergantungan dalam aktivitas kehidupan sehari – hari lansia

12.

Hubungan Karateristik Demografi dengan Kemandirian dalam Activity Daily Living (ADL) pada Lansia (Sawika, 2005)

Karateristik Demografi kemandirian dalam Activity Daily Living (ADL)

Studi korelasi,

Ada hubungan antara Karateristik Demografi dengan kemandirian dalam Activity Daily Living (ADL) pada Lansia

Sementara itu penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah tentang pengaruh Senam Lansia (lama waktu pelaksanaan, intensitas dan frekuensi) terhadap peningkatan kemandirian ADL lansia. Variabel penelitian adalah lama waktu pelaksanaan senam lansia, Intensitas senam lansia, frekuensi senam lansia dan ADL lansia. Jenis penelitian yang akan dilakukan yaitu kuantitatif pra eksperiment.

1. Masalah

Pengaruh senam lansia terhadap kemandirian ADL lansia belum dapat dijelaskan

2. Rumusan Masalah:

a. apakah ada pengaruh durasi pelaksanaan senam lansia terhadap kemandirian ADL lansia?

b. apakah ada pengaruh intensitas senam lansia terhadap kemandirian ADL lansia?

c. apakah ada pengaruh frekuensi senam lansia terhadap kemandirian ADL lansia?

3. Tujuan Penelitian Tujuan Umum: Menjelaskan pengaruh senam lansia terhadap kemandirian ADL lansia Tujuan Khusus:

a. Mengukur kemandirian ADL lansia terhadap durasi senam lansia

b. Mengukur kemandirian ADL lansia terhadap intensitas senam lansia

c. Mengukur kemandirian ADL lansia terhadap frekuensi senam lansia

4. Manfaat Manfaat Teoritis Hasil penelitian dapat menjelaskan pengaruh senam lansia terhadap peningkatan kemandirian ADL pada lansia. Manfaat Praktis Senam lansia diharapkan dapat dilakukan sebagai usaha promotif, preventif dan

rehabilitatif bagi lansia dalam menghadapi kemunduran ADL seiring bertambahnya

usia.

46

Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

5. Judul Pengaruh senam lansia terhadap peningkatan kemandirian Activity Daily Living (ADL) lansia atau peningkatan kemandirian lansia dalam adl dengan senam.

6. Kerangka Konseptual

Proses Penuaan Penurunan Kemampuan Fisik Lansia Faktor Kondisi Aktivitas Status Gizi Faktor mental Fisik
Proses Penuaan
Penurunan
Kemampuan
Fisik Lansia
Faktor Kondisi
Aktivitas
Status Gizi
Faktor mental
Fisik
emosional
Teori Penuaan Havighurst
Aktivitas
Latihan
Pemeliharaan
Aerobik
aktivitas,
peran,
pencarian
sosial teratur
Senam Lansia
Interaksi sosial
Afiliasi kelompok
usia
Frekuensi
Durasi Senam
Intensitas
Senam Lansia
Lansia
Senam Lansia
kekuatan otot↑ tonus otot↑ Koordinasi ↑ Keseimbangan↑ ROM sendi↑ Kognitif Proprioseptif Persepsi visual
kekuatan otot↑
tonus otot↑
Koordinasi ↑
Keseimbangan↑
ROM sendi↑
Kognitif
Proprioseptif
Persepsi visual

Kemandirian ADL

Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian

47

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Burns & Grove. (1999). The Practice of Nursing Research. Philadelphia: W.B. Saunders Co.

Nursalam. (2002). Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Sagung Seto.

. 2008a. Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Praktis. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Salemba Medika

. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan:

Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

Polit, D.F. & Hungler, BP. (1999). Nursing Research. Principle and Method. Philadelphia: J.B. Lippincott.

Polit DF & Back, CT. (2012). Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing Practice. 9 th Ed. Philadelphia: JB. Lippincott.

Soeparto P, Putra ST, Haryanto. (2000). Filsafat Ilmu Kedokteran. Surabaya: GRAMIK & RSUD Dr. Soetomo Surabaya.