Anda di halaman 1dari 17

EKSTRAKSI KARAGINAN

Oleh :
Nama
NIM
Kelompok
Rombongan
Asisten

: Restu Indria Sopyan


: B1J013113
:3
: II
: Ichsan Dwiputra Sofiadin

LAPORAN PRAKTIKUM FIKOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rumput laut merupakan salah satu komoditas ekspor dari sub perikanan
sebagai penghasil devisa di Indonesia terdapat 555 jenis rumput laut dan empat jenis
dikenal sebagai komoditas ekspor yaitu Eucheuma sp., Gracillaria sp., Gelidium sp.,
dan Sargassum sp. (Atmadja et al., 1996). Beberapa jenis rumput laut penting dalam
dinia perdagangan internasional sebagai penghasil ekstrak karaginan. Rumput laut
penghasil karaginaan yaitu Eucheuma cottonii, E. isiforme, E. spinosum, Gigartina,
dan Gymnogongrus sp. (Poncomulyo et al., 2006).
Karaginan merupakan suatu filakoid yang berupa polisakarida. Selain itu
juga merupakan sumber hidrokoloid penting sehingga hasil ekstraksinya dapat
digunakan sebagai penebal, pengemulsi, penstabil, pengental, dan pengikat substansi
pada industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, keramik, dan karet. Karaginan di
pasaran merupakan tepung berwarna kekuning-kuningan. Karaginan mudah larut
dalam air membentuk larutan kental atau gel yang tergantung dari proporsi fraksi
kappa atau iota (Setyowati et al., 1998).
Menurut penelitian Eucheuma cottonii memiliki kandungan kimia karaginan
dan senyawa fenol, terutama flavonoid. Karagenan, senyawa polisakarida yang
dihasilkan dari beberapa jenis alga merah memiliki sifat antimikroba, antiinflamasi,
antipiretik, antikoagulan dan aktivitas biologis lainnya, dimana telah diteliti aktivitas
antibakteri pada karagenan yang dihasilkan oleh alga merah jenis Condrus crispus.
Selain karaginan yang merupakan senyawa metabolit primer rumput laut tersebut
diperkirakan senyawa metabolit sekundernya juga dapat menghasilkan aktivitas
antibakteri (Purnama, 2003).
Rumput laut Eucheuma cottonii merupakan bahan mentah dan mempunyai
manfaat bagi industri-industri seperti industri makanan, farmasi, tekstil, kosmetik,
kertas, dan industri cat. Pemanfaatan rumput laut Eucheuma cottonii dalam bidang
industri makanan dan minuman dapat diolah menjadi manisan, dodol, minuman sari
dan es rumput laut. Selain itu, Eucheuma cottonii juga dapat diolah menjadi produk

jam rumput laut. Pembuatan jam didasarkan pada terbentuknya gel. Gel yang baik
dihasilkan apabila keempat komponen yaitu pektin, asam, gula dan air berada dalam
perbandingan yang sesuai (Oviantari dan Parwata, 2007).
B. Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk untuk mengetahui rendemen dan proses
ekstraksi karaginan dari rumput laut.

C. Tinjauan Pustaka
Rumput laut (seaweed) merupakan salah satu komoditi laut yang memiliki nilai
ekonomis tinggi, karena pemanfaatannya yang demikian luas, baik dalam kehidupan
sehari-hari maupun dalam dunia industri, sehingga memiliki pasar yang luas di
dalam negeri maupun luar negeri. Rumput laut sudah dimanfaatkan secara luas
dalam kehidupan sehari-hari sejak tahun 1920, dan tercatat sekitar 22 spesies rumput
laut yang dimanfaat secara tradisional sebagai sayuran dan bahan obat tradisional.
Hal ini dapat dipahami mengingat rumput laut memiliki kandungan nutrisi yang
cukup lengkap antara lain air (27,8%), protein (5,4%),karbohidrat (33,3%), lemak
(8,6%), serat kasar (3%) dan abu (22,25%) (Widyastuti, 2010). Rumput laut
dimanfaatkan sebagai bahan mentah, seperti agar-agar, karaginan, dan algin.
Karaginan berfungsi sebagai stabilator (pengatur keseimbangan), thickener (bahan
pengental), pembentuk gel, pengemulsi, dan lain-lain pada produk makanan.
Karaginan merupakan polisakarida yang linier atau lurus, dan merupakan molekul
galaktan dengan unit-unit utamanya adalah galaktosa. Karaginan merupakan getah
rumput laut yang diekstraksi dengan air atau larutan alkali dari spesies tertentu dari
kelas Rhodophyceae (alga merah) (Yasita dan Rachmawati, 2010).
Karaginan merupakan senyawa hidrokoloid yang terdiri dari ester kalium,
natrium, magnesium dan kalsium sulfat. Karaginan merupakan molekul besar yang
terdiri dari lebih 1.000 residu galaktosa. Oleh karena itu variasinya banyak sekali.
Karaginan dibagi atas tiga kelompok utama yaitu kappa, iota, dan lambda karaginan
yang memiliki struktur yang jelas. Karaginan dapat diperoleh dari alga merah, salah
satu jenisnya adalah dari kelompok Euchema sp. (Yasita dan Rachmawati, 2010).
Karaginan adalah nama generik untuk famili pembentuk gel dan polisakarida,
yang diperoleh dengan cara ekstraksi dari spesies tertentu dari rumput laut merah.
Karaginan berasal dari sejumlah rumput laut dari kelas Rhodophyceae, jenis khusus
rumput laut yang umum di Samudera Atlantik dekat Inggris, Eropa dan Amerika
Utara. Ketika digunakan dalam produk makanan, karaginan memiliki E-nomor E407
aditif Uni Eropa atau E407a. E407a memiliki komposisi yang sedikit berbeda; Selain
itu, mengandung sejumlah besar selulosa. Karaginan memiliki nilai gizi dan

digunakan dalam persiapan pembuatan makanan gelling, thickening, dan emulsifying.


Aplikasi dalam dunia farmasi dan obat-obatan zat ini sering digunakan untuk
pengujian agen anti-inflamasi (Necas dan Bartosikova, 2013).
Sumber utama karaginan yang dipahami secara umum saat ini adalah rumput
laut spesies Eucheuma. Senyawa hidrokolid tersebut dikenal luas di masyarakat
sebagai getah rumput laut. Senyawa tersebut dapat diekstraksi dengan mudah
menggunakan air atau larutan alkali. Di perairan laut Nusa Tenggara Barat (NTB),
spesies yang umum dibudidayakan oleh petani adalah E. cottonii yang menghasilkan
kappa

karaginan

dan

E.

spinosum

yang

menghasilkan

iota

karaginan.

Pengembangan spesies tersebut didasarkan pada respon pasar yang cukup baik
terhadap spesies Eucheuma tersebut. Atas dasar kenyataan tersebut, beberapa daerah
lain di Indonesia dan negara lain seperti Filipina juga mengembangkan spesies
Eucheuma (Winarno, 1996).

II. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah kompor, panci, pengaduk,
nampan atau baki, blender, kain saring, dan gelas ukur.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah rumput laut
Eucheuma cottonii, KCl 5%, KOH 10%, H2O2 10%, dan akuades.

B. Metode
Proses ekstrasi karaginan secara skematis adalah :
1. Eucheuma cottonii sebanyak 100 gram diblender.
2. Direbus dengan 500 mL akuades selama 15 menit.
3. Ditambahkan KCl 5% 100 mL dan KOH 10% 100 mL, dimasak kembali selama
4.
5.
6.
7.

15 menit.
Disaring dengan menggunakan kain saring dan filtratnya ditampung di baki.
Ditambah akuades 500 mL, dimasak selama 10 menit
Ditambahkan H2O2 6% 100 mL, dimasak sambil diaduk selama 20 menit.
Disaring dalam keadaan panas dengan kain saring dan baki.

8. Dijemur di bawah sinar matahari sampai kering.


9. Dihitung rendemen, dengan rumus:
Dihitung rendemen =

Produk akhir (g)


x 100%
Bobot bahan baku (g)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
B. Tabel 3.1 Berat Rendemen Rombongan II
No.
Kelompok
1.
1
2.
2
3.
3
4.
4
5.
5
Rata-rata

Hasil Rendemen
0,7 gr
0,7 gr
4,2 gr
3 gr
2,15 gr

Gambar
3.1.
Eucheuma
cottonii direbus dengan 500 ml
akuades

Gambar 3.2. Rumput Laut


ditambahkan KOH 10 % 100
ml.

Gambar. 3.3. Rumput Laut


ditambahkan KCl 5% 100 ml.

Gambar 3.4. Disaring.

Gambar 3.5. Ditambahkan


akuades 500 ml.

Gambar 3.6. Ditambahkan


H2O2 6% 100 ml.

Gambar 3.7. Dimasukkan ke


baki.

Gambar 3.8. Hasil ekstraksi


yang siap dijemur.

Perhitungan 3.1 Rendemen Alginat Rombongan II


Rendemen agar (%)

Produk akhir (g)


x 100%
Bobot bahan baku (g)
= 2,15 x 100%
100
= 2,15 %

C. Pembahasan
Rendemen karaginan sebagai hasil ekstraksi dihitung berdasarkan rasio antara
berat karaginan yang dihasilkan dengan berat rumput laut kering yang digunakan.
Berdasarkan hasil praktikum, hasil produk akhir karaginan dari rumput laut
Eucheuma cottonii dengan berat kering 100 g pada rombongan II adalah 2,15 gram.
Setelah dilakukan perhitungan, diperoleh bobot rendemen karaginan sebanyak

2,15%. Karaginan yang dihitung bobot rendemennya berupa tepung. Bobot ini dinilai
cukup kecil karena kurang dari 25% dari bobot kering karaginan (Istini et al., 2001).
Proses ekstraksi dapat berjalan dengan baik bila pelarut ideal memenuhi beberapa
syarat, yaitu selektivitasnya tinggi, memiliki perbedaan titik didih dengan solute
cukup besar, bersifat inert, perbedaan densitas cukup besar, tidak beracun, tidak
bereaksi secara kimia dengan solute maupun diluen, viskositasnya kecil, tidak
bersifat korosif, tidak mudah terbakar, murah, dan mudah didapat. Mutu karaginan
dapat ditentukan oleh jenis rumput laut, daerah budidaya, cara ekstraksi, dan metode
pemisahan karaginan. Standar mutu karaginan yang baik yaitu mengandung zat
volatil maksimal 12%, asam sulfat 18-40%, abu 5-40%, viskositas (1,5%, suhu 75C)
minimal 5 cps, dan logam berat Pb maksimal 10 ppm (Basmal et al., 2003).
Karaginan merupakan hidrokoloid yang paling mendasar ketiga di dunia
setelah pati dan gelatin, berupa bahan matriks dalam berbagai spesies rumput laut
merah, Rhodophyta. Karaginan digunakan sebagai bahan aditif makanan, stabilizer,
dan viscosifer. Spesies utama yang sebagian besar memproduksi karaginan saat ini
yaitu Chondrus crispus (Atlantik Utara), Gigartina stellata (Perancis), serta
E.cottonii dan E.spinosum (Asia) (Mustapha et al., 2011). Karaginan merupakan
polisakarida yang linier atau lurus, dan merupakan molekul galaktan dengan unit-unit
utamanya adalah galaktosa. Karaginan merupakan getah rumput laut yang diekstraksi
dengan air atau larutan alkali dari spesies tertentu dari kelas Rhodophyceae (alga
merah). Karaginan merupakan senyawa hidrokoloid yang terdiri dari ester kalium,
natrium, magnesium, dan kalsium sulfat. Karaginan merupakan molekul besar yang
terdiri dari lebih 1.000 residu galaktosa (Yasita dan Rachmawati, 2010).
Pembuatan karaginan ini menggunakan metode ekstraksi dimana pengertian
ekstraksi adalah metode pemisahan suatu komponen solute (cair) dari campurannya
menggunakan sejumlah massa solven (NaOH) sebagai tenaga pemisah. Proses
ekstraksi terdiri dari tiga langkah besar, yaitu proses pencampuran, proses
pembentukan fasa setimbang, dan proses pemisahan fasa setimbang. Larutan-larutan
yang digunakan dalam ekstraksi karaginan yaitu larutan KCl 5% yang berfungsi
untuk meningkatkan gel karaginan, KOH 10% untuk memecahkan dinding sel dari
rumput laut, dan H2O2 10% untuk mencerahkan warna karaginan yang dihasilkan.
Solven (NaOH) merupakan faktor terpenting dalam proses ekstraksi, sehingga
pemilihan solven merupakan faktor penting. Solven ini harus saling melarutkan

terhadap salah satu komponen murninya, sehingga diperoleh dua fasa rafinat (Yasita
dan Rachmawati, 2010).
Proses yang dilakukan terhadap ekstraksi rumput laut untuk menghasilkan
karaginan menurut Winarno (1996) dapat dibagi menjadi 9 tahapan utama, yakni :
1.

Pembersihan bahan baku dan pensortiran, dilakukan untuk membuang rumput


laut yang sudah berwarna kegelapan dan kurang bermutu, ini dilakukan dengan
menggunakan tenaga kerja. Bahan baku yang telah disortir dikumpulkan dalam

2.

gudang penyimpan.
Pemotongan rumput laut Rumput laut yang telah sesuai dengan standard
dimasukkan ke dalam mesin pemotong melalui screw conveyor, sehingga pada
saat keluar memiliki panjang sekitar 10 cm. Hal ini dilakukan agar untuk

3.

mempermudah dalam proses ekstraksi karagenan.


Pencucian Bahan baku yang telah dipotong, kemudian dicuci dengan air pada
suhu 300oC untuk membuang garam yang melekat pada rumput laut di dalam
Tangki Pelarut. Kadar garam yang terkandung dalam rumput laut biasanya 15-

4.

25% dari berat rumput laut.


Reaksi Rumput laut kemudian di ekstraksi dengan larutah KOH 12% pada
suhu 750oC di dalam Reaktor. Ekstraksi ini biasanya memakan waktu sekitar

5.

1-2 jam.
Filtrasi Setelah tercapai waktu yang dibutuhkan untuk pemasakan, rumput laut
dikeluarkan dan dilajutkan ke unit filtrasi. Unit filtrasi berguna untuk
memisahkan larutan KOH, protein, air, karaginan dan karbohidrat dengan

6.

K2SO4.
Pemurnian K2SO4 Residu dari proses filtrasi, yakni K2SO4 dimurnikan

7.

dengan cara disentrifusi dan dikeringkan pada rotary dryer.


Pemisahan kappa karaginan dengan KOH, protein dan karbohidrat Filtrat
berupa larutan KOH, protein, air, karaginan dan karbohidrat yang tidak
bereaksi diumpankan ke unit Rotary Filter untuk memisahkan KOH, Protein,
karbohidrat. Pemurnian karaginan yang masih mengandung sedikit air
dikeringkan lagidan dihancurkan dengan blender.
Rumput laut jenis Eucheuma cottonii merupakan salah satu rumput laut dari

jenis alga merah (Rhodophyta). Rumput laut jenis ini memiliki thallus yang licin dan
silindris, berwarna hijau, hijau kuning, abu-abu dan merah. Tumbuh melekat pada
substrat dengan alat perekat berupa cakram. Rumput laut jenis Eucheuma cottonii
merupakan salah satu rumput laut dari jenis alga merah (Rhodophyta). Rumput laut
jenis ini memiliki thallus yang licin dan silindris, berwarna hijau, hijau kuning, abu-

abu dan merah. Tumbuh melekat pada substrat dengan alat perekat berupa cakram
(Atmadja dkk,1996).
Menurut Amora dan Sukesi (2013) klasifikassi Eucheuma cottonii adalah
sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Rhodophyta

Classis

: Rhodophyceae

Ordo

: Gigartinales

Familia

: Solieracea

Genus

: Eucheuma

Species

: Eucheuma cottonii
Ciri fisik

Eucheuma cottonii adalah mempunyai thallus silindris,

permukaan licin,cartilogeneus. Keadaan warna tidak selalu tetap, kadang-kadang


berwarna hijau, hijau kuning,abu-abu atau merah. Perubahan warna sering terjadi
hanya karena faktor lingkungan.Kejadian ini merupakan suatu proses adaptasi
kromatik yaitu penyesuaian antara proporsi pigmen dengan berbagai kualitas
pencahayaan (Aslan, 1998). Penampakan thallus bervariasimulai dari bentuk
sederhana sampai kompleks. Duri-duri pada thallus runcing memanjang,agak jarangjarang dan tidak bersusun melingkari thallus. Percabangan ke berbagai arahdengan
batang-batang utama keluar saling berdekatan ke daerah basal (pangkal). Tumbuh
melekat ke substrat dengan alat perekat berupa cakram. Cabang-cabang pertama dan
keduatumbuh dengan membentuk rumpun yang rimbun dengan ciri khusus mengarah
ke arahdatangnya sinar matahari (Atmadja, 1996). Umumnya Eucheuma cottonii
tumbuh dengan baik di daerah pantai terumbu (reef). Habitat khasnya adalah daerah
yang memperoleh aliran air laut yang tetap, variasi suhu harian yang kecil dan
substrat batu karang mati (Aslan,1998).
Menurut Tojo dan Prado (2003), karaginan dapat dibedakan menjadi tiga
berdasarkan struktur molekul yang mengakibatkan perbedaan sifat fisik dan
karakteristik penggunaannya dalam industri pangan. Ketiga jenis karagenan ituu
adalah kappa, iota dan lambda. Perbedaan ketiganya terletak pada perbedaan posisi
gugus ester-sulphate dan jumlah residu 3,6 anhydro-D-galaktose.
1. Karagenan kappa
Karagenan kappa memiliki struktur D-galaktose dan beberapa gugus 2sulfate ester pada 3,6 anhydro-D-galaktose yang ditunjukan gambar. Gugus 6-

sulfate ester mengurangi daya kekuatan geli namun dapat mengurangi loss
akibat pengolahan dengan menggunakan basa.hal ini akan memberikan
keteraturan rantai yang lebih baik. Sifat- sifat fisik yang dimiliki karagenan tipe
kappa ini adalah:
Larut dalam air panas
Penambahan ion Kalium menyebabkan pembentukan gel yang tahan lama,
namun rapuh, serta manambah temperatur pembnetukan gel dan pelelehan.
Kuat, gel padat, beberapa ikatan dengan ion K+ dan
Ca2+menyebabkan bentuk helik terkumpul, dan gel menjadi rapuh
Gel berwarna transparan
Diperkirakan terdapat 25% ester sulfat dan 34% 3,6-AG
Sesuai dengan pelarut yang dapat bercampur dengan air
Tidak dapat larut dalam sebagian besar pelarut organik.
Penggunaan konsentrasi 0.02-2.0%.
2. Karagenan iota
Karagenan tipe iota mengandung gugus 4-sulfate ester dalam semua gugus
D-galaktose dan gugus 2-sulfate ester dalam 3,6 anhydro-D-galaktose.
Ketidakberaturan gugus 6-sulfate ester menggantikan gugus ester 4-sulfate dalam
D-galaktose. Gugus ini dapat digantikan dengan pengolahan dalam kondisi basa
untuk meningkatkan kekuatan gel. Sifat-sifat fisik yang dimiliki karagenan tipe
iota ini adalah:
Larutan memperlihatkan karakteristik thiksotropik
Larut dalam air panas, Natrium karagenan iota larut dalam air dingin dan air

panas.
Penambahan ion kalsium akan menyebabkan pembentukan gel tahan lama,

elastic, dan meningkatkan temperatur pembentukan gel dan pelelehan.


Gel bersifat elastic, membentuk heliks dengan ion Kalsium.
Gel bening
Stabil dalam keadaan dingin
Tidak dapat larut dalam sebagian besar pelarut organic
Diperkirakan mengandung 32% ester sulfat dan 30% 3,6-AG
Penggunaan konsentrasi 0.02-2.0%
3. Karagenan lambda
Karagenan tipe lambda mengandung residu disulfated-D-galaktose yang
tidak mengandung gugus ester 4-sulfate namun sejumlah gugus ester 2-sulfate.
Sifat-sifat fisik yang dimiliki karagenan tipe lambda ini adalah:
Aliran bebas, larutan pseudo-plastik non-gel dalam air
Larut sebagian dalam air dingin, dan larut dengan baik dalam air panas.
Tidak terbentuk gel, rantai polimer terdistribusi acak
Kekentalan bervariasi dari kekenatalan rendah hingga tinggi
Penambahan kation memberikan efek yang kecil terhadap viskositas.

Sesuai untuk pelarut yang dapat bercampur dengan air


Tidak dapat larut dalam sebagian besar pelarut organic
Stabil dalam berbagai variasi temperatur, termasuk temperatur pembekuan
Larut dalam larutan garam 5%, baik dingin maupun panas
Diperkirakan mengandung 35% ester sulfat dan sedikit atau bahkan tidak

mengandung 30% 3,6-AG sama sekali


Penggunaan konsentrasi 0.1-1.0% (Tojo dan Prado, 2003).

Standard mutu karaginan yang telah diakui dikeluarkan oleh Food Agriculture
Organization (FAO), Food Chemicals Codex (FCC) dan European Economic
Community (EEC). Spesifikasi mutu karaginan dapat dilihat pada tabel.
Tabel Standar mutu karaginan
Spesifikasi

FAO

FCC

EEC

Zat volatil (%)

Maks. 12

Maks. 12

Maks. 12

Sulfat (%)

15-40

18-40

15-40

Kadar abu

15-40

Maks.35

15-40

Viskositas

Min. 5

Kadar Abu Tidak Max 1


Larut Asam (%)

Maks.1

Maks.2

Logam Berat :

Maks. 10

Maks.10

Maks.10

As (ppm)

Maks. 3

Maks. 3

Maks.3

Cu (ppm)

Maks.50

Zn (ppm)

Maks.25

Kehilangan

Maks. 12

Maks. 12

Pb (ppm)

karena
pengeringan (%)
Susatyo et al., 2012 mengungkapkan suatu hasil penelitiannya tentang
pemanfaatan karagenan Ikan Cucut dalam pembuatan Nugget melakukan uji coba
mengukur kadar proksimat sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI 01- 66832002) yaitu: kadar air maksimal 60%, kadar protein minimal 12 %, kadar lemak
maksimal 20%, kadar karbohidrat maksimal 20 %. Dari hasil penelitian yang
diperoleh dapat diketahui bahwa semakin besar konsentrasi karagenan maka kadar
air, protein, dan kadar abu nugget ikan cucut semakin bertambah. Sebaliknya, kadar
lemak dan kadar karbohidrat semakin berkurang dengan semakin besarnyahnya
konsentrasi karagenan. Kekuatan gel atau kekerasan menyatakan kekuatan sesuatu
benda terhadap gaya tekan tanpa mengalami deformasi bentuk. Berdasarkan hasil
penelitian yang dapat diketahui bahwa penambahan karagenan berpengaruh terhadap
peningkatan kekuatan gel nugget ikan cucut. Pembentukan gel terjadi saat rantai dari
satu karagenan bertemu dengan rantai lain yang sama untuk membentuk double
heliks, kemudian double heliks ini akan saling bergabung membentuk jaringan tiga
dimensi.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut :

1. Rendemen karaginan yang dihasilkan dari rumput laut Eucheuma cottonii pada
praktikum ini yaitu sebesar 2,15%.
2. Proses ekstraksi karaginan meliputi 8 tahapan yaitu : persiapan, perebusan,
ekstraksi, penyaringan, pemucatan, pengendapan, perendaman, dan pengeringan.

B. Saran
Sebaiknya saat penjemuran jangan dibiarkan terlalu kering karena akan
menyebabkan susah untuk menghitung hasilnya.

DAFTAR REFERENSI
Amora, S. D. dan Sukesi. 2013. Ekstraksi Senyawa Antioksidan pada NuggetRumput Laut Merah, Eucheuma cottonii. Jurnal Sains dan Semi Pomits
2(2): 2337-3520.
Aslan, L. M. 1998. Budidaya Rumput Laut. Jakarta : Kanisius.
Atmadja, W. S., Kadi, A., Sulistijo, dan Rachmaniar. 1996. Pengendalian Jenis-Jenis
Rumput Laut Indonesia. Jakarta : Pusat Penelitian dan Pengembangan
Oseanologi LIPI.
Basmal, Syarifudin J., & Maruf W. F.. 2003. Pengaruh Konsentrasi Larutan
Potasium Hidroksida Terhadap Mutu Kappa-Karaginan yang Diekstraksi dari
Eucheuma cottonii. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, 9(5):95-103.
Istini, Sri, Zatnika A., & Suhaimi. 2001. Manfaat dan Pengolahaan Rumput Laut.
Jakarta : BPP Teknologi.
Mustapha, S., Chandar, H., Abidin, Z.Z., Saghravani, R., dan Harun M.Y. 2011.
Production of Semi-Refined Carrageenan from Eucheuma cottonii. Journal
of Scientific dan Industrial Research. Vol.70, pp. 865-870.
Necas ,J., Bartosikova, L. 2013. Carrageenan: a review. Veterinarni Medicina. 58(4):
187205.
Oviantari, M.V., dan I.P. Parwata. 2007. Optimalisasi Produksi Semi-Refined
Carrageenan dari Rumput Laut Eucheuma cottonii dengan Variasi Teknik
Pengeringan dan Kadar Air Bahan Baku. J. Penelitian dan Pengembangan
Sains dan Humaniora 1(1): 62-71.
Poncomulyo, T.H. Maryani dan L. Kristiana. 2006. Budidaya dan Pengolahan
Rumput Laut. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Purnama RC. 2003. Optimasi proses pembuatan karagenan dari rumput laut
Eucheuma cottonii [skripsi]. Teknologi Hasil Perikanan, FPIK, IPB. Bogor.
Setyowati, B., B. Sasmita dan H. Nursyam. 1998. Pengaruh Jenis Rumput Laut dan
Lama ekstraksi terhadap Peningkatan Kualitas karaginan. UNIBRAW.
Malang.
Tojo, E. dan Prado, J., 2003. Chemical composition of carrageenan blends
determined by IR spectroscopy combined with a PLS multivariate
calibration method. Carbohydrate Research.
Widyastuti, S. 2010. Sifat Fisik dan Kimiawi Karagenan yang Diekstrak dari Rumput
Laut Eucheuma cottonii dan E. spinosum pada Umur Panen yang Berbeda.
Agroteksos, 20(1): 41-50.
Winarno, F., G., 1996. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan.

Yasita, D., dan Rachmawati, I.D. 2010. Optimasi Proses Ekstraksi pada Pembuatan
Karaginan dari Rumput Laut Eucheuma cottonii untuk Mencapai Foodgrade.
Universitas Diponegoro : Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik.