Anda di halaman 1dari 17

ANEMIA DALAM KEHAMILAN

PENDAHULUAN
Anemia dalam kehamilan adalah suatu kondisi
ibu dengan kadar nilai hemoglobin di bawah 11
gr% pada trimester 1 dan 3, atau kadar nilai
hemoglobin kurang dari 10,5 gr% pada trimester
2

Badan Kesehatan Dunia (1992) dalam Abel


(1998) melaporkan bahwa prevalensi ibu-ibu
hamil yang mengalami defisiensi besi sekitar 3575 % serta semakin meningkat seiring dengan
pertambahan usia kehamilan
Menurut World Health Organization (WHO) 40
% kematian ibu-ibu di negara berkembang
berkaitan dengan anemia pada kehamilan

DEFINISI
Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah atau penurunan
konsentrasi hemoglobin di dalam sirkulasi darah. Definisi anemia
yang diterima secara umum adalah kadar Hb kurang dari 12,0 gram
per 100 mililiter (12 gram/desiliter) untuk wanita tidak hamil dan
kurang dari 10,0 gram per 100 mililiter (10 gram/desiliter) untuk
wanita hamil

ETIOLOGI

Kurang Gizi (Mal Nutrisi)


Kurang zat besi dalam diet
Mal Absorbsi
Kehilangan banyak darah
Penyakit-penyakit Kronis

KLASIFIKASI ANEMIA

Anemia Defisiensi Besi


Anemia Megaloblastik
Anemia Hipoplastik
Anemia Hemolitik
Anemia-Anemia Lain

Anemia Defisiensi Besi


Anemia dalam kehamilan yang paling sering
dijumpai ialah anemia akibat kekurangan besi.
Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang
masuknya unsur besi dengan makanan, karena
gangguan resorpsi, gangguan penggunaan, atau
karena terlampau banyaknya besi ke luar dari badan,
misalnya pada perdarahan.
Diagnosis anemia defisiensi besi yang berat tidak
sulit karena ditandai ciri ciri yang khas bagi
defisiensi besi, yakni mikrositosis dan hipokromasia.

Anemia Megaloblastik
Anemia megablastik dalam kehamilan
disebabkan karena defisisiensi asam folat
(pteroylglutamic acid), jarang sekali karena
defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin).
Diagnosis anemia megaloblastik dibuat apabila
ditemukan megloblas atau promegaloblas dalam
darah atau sumsum tulang. Sifat khas sebagai
anemia makrositer dan hiperkrom tidak selalu
dijumpai, kecuali bila anemia nya sudah berat.

Anemia Hipoplastik
Darah tepi menunjukan gambaran normositer
dan normokrom, tidak ditemukan ciriciri
defisiensi besi, asam folik, atau vitamin B12.
Sumsum tulang bersifat normoblastik dengan
hipoplasia erithropoesis yang nyata

Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan karena
penghancuran sel darah merah berlangsung
lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan
anemia hemolitik sukar menjadi hamil; apabila
ia hamil, maka anemianya biasanya menjadi
lebih berat. Sebaliknya mungkin pula bahwa
kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada
wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia

Anemia-anemia Lain
Seorang wanita menderita anemia, misalnya
berbagai jenis anemia hemolitik herediter atau
yang diperoleh seperti anemia karena malaria,
cacing tambang, penyakit ginjal menahun,
penyakit hati, tuberkulosis, sifilis, tumor ganas,
dan sebagainya, dapat menjadi hamil. Dalam hal
ini anemia nya menjadi lebih berat dan
mempunyai pengaruh tidak baik berhadap ibu
dalam masa kehamilan, persalinan, nifas, serta
bagi anak dalam kandungan

KOMPLIKASI
Bahaya selama kehamilan
Dapat terjadi abortus
Persalinan prematur
Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim.
Mudah terjadi infeksi
Bahaya saat Persalinan
Gangguan his-kekuatan mengejan
Kala pertama dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar.
Kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering
memerlukan tindakan operasi kebidanan
Kala tiga dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan post partum
akibat atonia uteri.

Akibat anemia pada janin antara lain adalah:


Abortus
Kematian intrauteri
Persalinan prematuritas tinggi
Berat badan lahir rendah
Kelahiran dengan anemia
Dapat terjadi cacat bawaan

PENATALAKSANAAN
Anemia defisiensi besi

pencegahan anemia terutama


di daerah-daerah dengan
frekuensi kehamilan yang
tinggi sebaiknya wanita hamil
diberi sulfas ferrossus atau
glukonas ferrosus, cukup 1
tablet sehari, selain itu wanita
dinasihatkan pula untuk
makan lebih banyak protein
dan sayur-sayuran yang
banyak mengandung mineral
serta vitamin.

Anemia Megaloblastik

Pencegahannya adalah apabila


pemberian zat besi tidak
berhasil
maka
ditambah
dengan asam folat, adapun
terapinya adalah asam folat
15-30 mg/hari, vitamin B12
1,25 mg/hari, sulfas ferrosus
500 mg/hari, pada kasus berat
dan pengobatan per oral
lambat
sehingga
dapat
diberikan transfusi darah

PROGNOSIS

TERIMA KASIH