Anda di halaman 1dari 54

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG


Secara definisi disebutkan bahwa ilmu kedokteran forensik adalah salah
satu cabang spesialistik dari ilmu kedokteran yang mempelajari pemanfaatan
ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan. Dalam
istilah lain, ilmu kedokteran forensik juga dikenal dengan nama Legal
Medicine. Seiring dengan perkembangan jaman dan perjalanan waktu, ilmu
kedokteran forensic terus berkembang menjadi suatu ilmu yang universal
karena meliputi berbagai aspek ilmu pengetahuan. Salah satu bidang penting
dalam ilmu kedokteran forensik adalah identifikasi.
Identifikasi forensik adalah upaya pengenalan individu yang dilakukan
berdasarkan ciri-ciri atau sifat-sifat yang membedakannya dari individu lain.
Proses ini mencakup korban hidup dan korban yang mati(Kusuma dan
Yudianto,2010).Salah satu cara identifikasi adalah dengan menggunakan
antropometri. Metode ini dilaukan dengan mengukur bagian tubuh dalam
usaha melakukan identifikasi.
Untuk kepentingan visum et repertum (VeR), ketika dokter memeriksa
jenazah, maka identifikasi pada jenazah tetap dilakukan sekalipun jenazah
tersebut dikenal. Dokter haruslah mencatat jenis kelamin, umur,suku bangsa,
panjang dan berat badan, kebangsaan, warna kulit, perawakan, keadaan otot,
keasaan gizi, rambut. mata, gigi, bekas-bekas luka, tahi lalat, tato (rajah),
pakaian, perhiasan, barang-barang yang ada pada jenazah, ada tidaknya
kumis/ jenggot (pada laki-laki), cacat tubuh (bawaan atau didapat) dan
sebagainya.

(2)(3) (4).

Dalam bidang kedokteran forensik peranan pemeriksaan identifikasi


sangatlah penting pada korban yang telah meninggal, hal ini oleh karena
setelah dilakukan identifikasi terhadap jenazah untuk kepastian identitas,
barulah kemudian pemeriksaan dapat dilanjutkan pada tingkat berikutnya.
Pada jenazah yang sejak semula tidak dikenal atau biasa disebut dengan
istilah Mr.X, tentunya identifikasi menjadi sulit, dan pemeriksaan jenazah
untuk identifikasi ini akan menjadi semakin sulit lagi bila mayat yang dikirim
1

ke rumah sakit atau puskesmas telah mengalami pembusukan atau mengalami


kerusakan berat baik akibat kebakaran, ledakan,kecelakaan pesawat ataupun
tinggal sebagian jaringan tubuh misalnya pada kasus mutilasi (tubuh
terpotong-potong). Pada kondisi tersebut tak jarang pihak kepolisian
(penyidik) hanya menyerahkan kepala saja, sebagian lengan atau kaki yang
terpotong-potong atau kadang kala tinggal tulang belulang saja.

(1)(3).

Proses

penentuan tinggi badan merupakan langkah utama dalam proses identifikasi


ketika hanya sebagian tubuh saja yang ditemukan.
Terjadinya peningkatan kasus-kasus korban mutilasi

akhir-akhir ini

membuat penulis berpikir bahwa proses identifikasi sangat dibutuhkan oleh


penyidik untuk mengungkap identitas korban mutilasi tersebut. Menurut
berbagai data yang diperoleh penulis baik media cetak maupun elektronik,
Kabareskrim Mabes Polri;Irjen. Pol.Drs. Susno Duadji,SH menyatakan
bahwa diwilayah hukum Polda Metro Jaya saja sepanjang tahun 2008 tercatat
6(enam) kasus mutilasi, dan yang paling menggemparkan adalah korban
mutilasi Heri Santoso yang dimutilasi menjadi tujuh potongan dengan pelaku
mutilasi adalah Very idam Heriyansyah alias Ryan dari Jombang. Pada Tahun
2014 terdapat banyak kasus mutilasi yang terungkap di Indonesia, beberapa
kasus tersebut antara lain kasus mutilasi di Malang dan Klaten pada bulan
Februari,di Cianjur pada bulan Maret, di Bali pada bulan Juni, dan kasus di
Riau yang ditangani cukup lama hingga terungkap di tahun 2014.(Humas
Polri,2014). Salah satu identifikasi yang diperlukan adalah memperkirakan
panjang badan korban mutilasi tersebut.
Tinggi badan adalah ukuran seseorang pada saat masih hidup, sedangkan
panjang badan adalah ukuran seseorang (jenazah) pada saat setelah
meninggal. Panjang badan adalah salah satu hal penting untuk identifikasi.
Maka untuk proses identifikasi tersebut, memperkirakan tinggi badan
seseorang pada saat masih hidup dilakukan dengan mengukur panjang badan
jenazah (panjang jenazah) setelah meninggal. Mengukur panjang jenazah bila
masih utuh bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang sulit, namun kesulitan
akan muncul bila jenazah mengalami kerusakan yang sangat hebat atau tidak
lagi utuh.

(2)(5).

Pada saat jenazah tidak lagi utuh (terpotong-potong), perkiraan panjang


jenazah dapat dilakukan dengan mengukur bagian tertentu tubuh jenazah
2

untuk memperkirakan tinggi badan seseorang pada saat masih hidup. Apabila
hanya sebagian tulang saja yang didapat, maka dengan mengukur panjang
dari tulang panjang(humerus, radius, ulna, femur, tibia, dan fibula) dan
memasukkannya kedalam rumus, dapat diperoleh tinggi badannya. Ada
beberapa

pengukuran

bagian

tubuh

yang

dapat

dilakukan

untuk

memperkirakan tinggi badan secara umum adalah dengan mengukur jarak


kedua ujung jari kanan dan kiri, mengukur puncak kepala sampai symphisis
pubis dikali2, panjang salah satu ujung jari tengah sampai ujung olecranon
sisi yang sama dikali 3,7, panjang femur dikali4, ataupun panjang humeri
dikali 6, yang semua perhitungan tersebut dapat memperkirakan panjang
jenazah (tinggi badan) seseorang.
Dalam keadaan termutilasi, penentuan panjang jenazah (tinggi badan)
seseorang, dapat dilakukan melalui beberapa pengukuran, Beberapa
penelitian di FK USU yang pernah dilakukan adalah penentuan tinggi badan
berdasarkan tulang panjang dan ukuran beberapa bagian tubuh yang pernah
diteliti oleh Prof. Dr. Amri Amir,SpF (K) serta penentuan tinggi badan
berdasarkan Formula G.S. Kler dengan menentukan Tinggi Hidung yang
pernah diteliti oleh Dr. H. Mistar Ritonga, SpF.
Pada kasus mutilasi, selain jari-jari tangan/ telapak tangan, kepala juga
menjadi bagian yang paling sering menjadi incaran pelaku kejahatan untuk
dihilangkan, dimana hal tersebut dilakukan tentunya untuk menghilangkan
identitas si korban. Beberapa cara memisahkan bagian tubuh yang sering
terjadi pada kasus mutilasi adalah dengan memisahkan kepala pada daerah
leher, memisahkan tangan pada daerah ketiak, siku ataupun pergelangan
tangan, memisahkan kaki pada daerah paha atau lutut.

(5)(6)

Untuk menentukan tinggi badan dengan lebih baik, maka para ahli telah
merumuskan formula penentuan tinggi badan berdasarkan ukuran panjan
tulang-tulang

panjang.

Oleh

karena

beberapa

formula

dirumuskan

berdasarkan pengukuran orang eropa (barat) maka untuk memakainya pada


orang Indonesia harus dipertimbangkan faktor koreksinya, Perkiraan tinggi
badan dengan mengukur panjang salah satu tulang panjang yang masih
dibungkus otot dan kulit seperti ruas tungkai bawah yang dibentuk oleh 2
tulang panjang; tibia dan fibula, kiranya dapat dilakukan.

I.2 RUMUSAN MASALAH


Apakah ada signifikansi (hubungan) penentuan tinggi badan berdasarkan
panjang tulang tibia pada mahasiswa yang mengikuti kepaniteraan klinik
bagian Forensik di RSUP Kariadi semarang ?
I.3 TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Umum
Untuk mengetahui apakah identifikasi tinggi badan dapat ditentukan
dengan mengukur panjang anggota gerak/alat gerak tubuh.
Tujuan Khusus
Untuk mengetahui apakah dalam menentukan tinggi badan dapat
ditentukan dengan mengukur panjang ruas tulang tibia
I.4 MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, yaitu :
a. Bagi peneliti , diharapkan penelitian ini dapat menambah ilmu pada
bidang anatomi, forensic dan antropometri pada peneliti serta dapat
b.

menerapkan ilmunya.
Bagi pembaca, diharapkan mampu menambah ilmu pengetahuan

mengenai korelasi tulang tulang tibia dengan tinggi badan


c. Bagi bidang ilmu kedokteran, diharapkan penelitian ini dapat menjadi
salah satu sumber data/referensi dalam antropometri dan dipergunakan
sebagai salah satu sumber pengetahuan oleh para dokter-dokter di
Indonesia sebagai salah satu bahan masukan dalam cara menentukan
tinggi badan manusia pada tubuh yang tidak lagi utuh atau sudah
terpotong-potong yang diukur berdasarkan panjang tulang tibia.
d. Bagi peneliti lain, diharapkan dapat menjadi bahan referensi dan acuan
bagi peneliti lain yang ingin meneliti tentang hubungan antara tinggi
badan dengan panjang tulang tibia dengan metode penelitian yang
berbeda.

I.5 KERANGKA TEORI


Tinggi badan merupakan salah satu cirri khas manusia yang memiliki
variasi berbeda pada setiap individu, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
secara umum ada dua faktor, yaitu faktor internal (genetik dan jenis kelamin)
dan faktor eksternal (lingkungan, gizi, obat-obatan dan penyakit).
4

Faktor Internal :
Genetik
Jenis Kelamin

Pertumbuhan Tulang

Faktor Eksternal :
Lingkungan
Gizi
Obat-obatan
Penyakit
I.6 KERANGKA KONSEP

Tinggi Badan

Variabel Independen Panjang Tulang tibia


Variabel Terkendali :
Usia
Jenis Kelamin
I.7 HIPOTESIS

Variabel dependen :
Tinggi Badan
Untuk proses identifikasi dalam menentukan tinggi badan seseorang

(jenazah), maka dapat dilakukan dengan mengukur panjang ruas tulang tibia.

BAB II
TINJAUAN DAN RINGKASAN PUSTAKA

II.1 Kerangka Manusia


Tulang adalah jaringan ikat yang bersifat kaku dan membentuk bagian
terbesar kerangka,serta merupakan jaringan penunjang tubuh utama. Tulang
rawan (kartilago) adalah sejenis jaringan ikat yang bersifat lentur dan
membentuk bagian kerangka tertentu.1,2
Tulang mempunyai beberapa fungsi, antara lain sebagai formasi rangka
yaitu dimana tulang-tulang membentuk rangka tubuh yang menentukan
bentuk dan ukuran tubuh serta menyokong struktur-struktur tubuh yang
5

lain,formasi sendi-sendi yaitu dimana tulang yang berdekatan membentuk


persendian atau sendi-sendi yang bergerak (misalnya articulation humeri)
beberapa sendi yang hanya dapat bergerak sedikit (misalnya articulation tibio
fibularis superior) atau tidak bergerak (misalnya sutura tulang tengkorak)
tergantung dari kebutuhan fungsional, perlekatan otot-otot yaitu dimana
tulang menyediakan permukaannya untuk lekat otot dan tendo serta
ligamentum,sebagai pengungkit yang berfungsi untuk bermacam-macam
aktifitas selama pergerakan,sebagai sokongan yaitu untuk menyokong berat
badan dan memelihara sikap tubuh manusia serta guna menahan gaya tarikan
dan gaya tekanan yang terjadi pada tulang, sebagai proteksi yaitu dimana
tulang-tulang membentuk rongga yang mengandung dan melindungi struktur
yang halus seperti otak, medullaspinalis, jantung, paru, sebangian besar alatalat dalaman perut dan panggul, fungsi tulang selanjutnya sebagai
haemopoesis yaitu tempat pembentukan sel-sel darah merah terutama di sumsum tulang,kemudian ada fungsi imunologis yaitu dimana limfosit B dan
makrofag dibentuk dalam sistem retikuloendhothelial sum-sum tulang,dan
fungsi yang terakhir yaitu untuk menimbun berbagai mineral seperti
kalsium,fosfor,dan magnesium.1,2

Gambar 2.1
Kerangka Tulang Manusia
6

Dapat dibedakan 2 jenis tulang yaitu substansia spongiosa dan substansia


compacta .Perbedaan antara kedua jenis tulang ini ditentukan oleh banyaknya
bahan padat dan jumlah serta ukuran ruangan yang ada di dalamnya. Tulang
kompakta tampak seperti masa yang padat sedangkan tulang spongiosa terdiri
atas anyaman trabekula yang tersusun sedemikian rupa sehingga tahan akan
tekanan dan tarikan yang mengenai tulang.3,4Rangka manusia tersusun atas
206 tulang-tulang anatara lain sebagai berikut.2
Tabel II.1 klasifikasi tulang menurut bagiannya
Bagian kerangka
Kerangka aksial :
Tengkorak
- Cranium
- Wajah
- Tulang Pendengaran
Hyoid
Vertebrae
Sternum
Costae
Kerangka Apendikular
Gelang Bahu
- Clavicula
- Scapula
Ekstremitas superior
Humerus
Radius
Ulna
Ossa carpalia
Ossa metacarpalia
Phalanges
Gelang panggul
Os coxae
Ekstremitas inferior
Femur
Patella
Fibula
Tibia
Ossa tersalia
Ossa metatarsalia
Phalanges
Total

Jumlah Tulang
8
14
6
1
26
1
24

2
2
2
2
2
16
10
28
2
2
2
2
2
14
10
28
206

Perbandingan antara tulang dan tulang rawan dalam kerangka berubah


seiring dengan pertumbuhan tubuh,dimana makin muda usia seseorang maka
makin besar bagian kerangka yang berupa tulang rawan, begitu juga

sebaliknya jika makin tua usia seseorang maka makin besar bagian kerangka
yang berupa tulang.4
Tulang adalah organ yang hidup dan terasa nyeri apabila mengalami
cedera,berdarah apabila patah dan berubah seiring dengan usia. Seperti organ
lain,tulang dilengkapi dengan pembuluh darah dan saraf serta dapat diserang
penyakit.Tulang yang tidak dipakai dengan semestinya akan mengalami atrofi
(pengecilan) misalnya pada extremitas yang lumpuh.Sebaliknya,tulang dapat
terjadi hipertofi (pembesaran) apabila harus menanggung beban berlebih
selama waktu panjang.4
II.2. Klasifikasi Tulang Berdasarkan Bentuk
a. Tulang Panjang
Pada tulang ini, panjangnya lebih besar daripada lebarnya. Tulang ini
mempunyai corpus berbentuk tubular, diafisis, dan biasanya dijumpai
epifisis pada ujung-ujungnya. Selama masa pertumbuhan, diafisis
dipisahkan dari epifisis oleh kartilago epifisis. Bagian diafisis yang
terletak berdekatan dengan kartilago epifisis disebut metafisis. Corpus
mempunyai cavitas medullaris di bagian tengah yang berisi sumsum
tulang. Bagian luar corpus terdiri atas tulang kompakta yang diliputi oleh
selubung jaringan ikat yaitu periosteum. Ujung-ujung tulang panjang
terdiri atas tulang spongiosa yang dikelilingi oleh selapis tipis tulang
kompakta.
Facies artikularis ujung-ujung tulang diliputi oleh kartilago hialin.
Tulang-tulang panjang yang ditemukan pada ekstremitas antara lain tulang
humerus, femur, ossa metacarpi, ossa metatarsal dan phalange
Gambar II.2. Histologi Tulang Panjang (Tortora dan Derrickson, 2011)

b. Tulang Pendek
Tulang-tulang pendek ditemukan pada tangan dan kaki. Contoh jenis tulang ini
antara lain os Schapoideum, os lunatum,dan talus. Tulang ini terdiri atas tulang
spongiosa yang dikelilingi oleh selaput tipis tulang kompakta. Tulang-tulang
pendek diliputi periosteum dan facies articularis diliputi oleh kartilago hialin.
c. Tulang Pipih
Bagian dalam dan luar tulang ini terdiri atas lapisan tipis tulang kompakta,
disebut tabula, yang dipisahkan oleh selaput tipis tulang spongiosa, disebut
diploe. Scapula termasuk di dalam kelompok tulang ini walaupun bentuknya
iregular. Selain itu tulang pipih ditemukan pada tempurung kepala seperti os
frontale dan os parietale.
parietal.
d. Tulang Iregular
Tulang-tulang iregular merupakan tulang yang tidak termasuk di dalam
kelompok yang telah disebutkan di atas (contoh, tulang-tulang tengkorak,
vertebrae, dan os coxae). Tulang ini tersusun oleh selapis tipis tulang kompakta
di bagian luarnya dan bagian dalamnya dibentuk oleh tulang spongiosa.
e. Tulang sesmoid
Tulang sesamoid merupakan tulang kecil yang ditemukan pada tendo-tendo
tertentu, tempat terdapat pergeseran tendo pada permukaan tulang. Sebagian
besar tulang sesamoid tertanam di dalam tendon dan permukaan bebasnya
ditutupi oleh kartilago. Tulang sesamoid yang terbesar adalah patella, yang
terdapat pada tendo musculus quadriceps femoris. Contoh lain dapat ditemukan
pada tendo musculus flexor pollicis brevis dan musculus flexor hallucis brevis,
fungsi tulang sesamoid adalah mengurangi friksi pada tendo, dan merubah arah
tarikan tendo.(3)

II.3 Fungsi Tulang


a. Menopang Tubuh
Sistem kerangka adalah sistem yang memberikan bentuk pada tubuh juga
menopang jaringan lunak dan sebagai titik perlekatan tendon dari
sebagian besar otot.
b. Proteksi
Sistem kerangka melindungi sebagian besar organ dalam tubuh yang
sangan penting untuk berlangsungnya kehidupan, seperti otak yang
dilindungi oleh tulang cranial, vertebrae yang melindungi sistem saraf
dan tulang costa yang melindungi jantung dan paru-paru.
c. Mendasari Gerakan
Sebagian besar dari otot melekat pada tulang, dan ketika otot
berkontraksi, maka otot akan menarik tulang untuk melakukan
pergerakan.
d. Homeostasis Mineral (penyimpanan dan pelepasan)
Jaringan tulang menyimpan beberapa mineral khususnya kalsium dan
fosfat yang berkontribusi untuk menguatkan tulang. Jaringan tulang
menyimpan 99% dari kalsium dalam tubuh. Apabila diperlukan, kalsium
akan dilepaskan dari tulang ke dalam darah untuk menyeimbangkan
krisis keseimbangan mineral dan memenuhi kebutuhan bagian tubuh
yang lain.
e. Memproduksi Sel Darah
Sumsum tulang merah adalah tempat dibentuknya sel darah merah,
beberapa limfosit, sel darah putih granulosit dan trombosit.
f. Penyimpanan Trigliserid
Sumsum tulang kuning sebagian besar terdiri dari sel adiposa yang
menyimpan trigliserid (Tortora dan Derrickson, 2011)

10

II.4 Tulang Tibia


Tibia merupakan tulang tungkai bawah yang besar dan terletak
disebelahmedialis,dan merupakan tulang terpanjang di ekstremitas bawah
setelah femur. Tibiajuga dikenal sebagaitulangshinatautulangbetis.Tibia juga
berfungsi sebagai penyangga berat badan. Tibia memiliki sisi-sisi antara
lain,ujung atas lebih besar dan lebih lebar dari pada ujung bawah. Ujung atas
memiliki satu tuberositas yang menonjol kesebelah anterior yang melanjutkan
diri turun ke bawah sebagai pinggir anterior tibia yang tajam (tulang
kering).Ujung bawah mempunyai sebuah maleolus yang mengarah ke
medialis.2,3

Gambar II.3
Anatomi Tulang Tibia
Pada ujung proksimal dari tibia berhubungan dengan tulang femur dan
fibula, sedangkan pada ujung distal dengan fibula dan tulang talus
pergelangan kaki. Tibia dan fibula seperti ulna dan radius yang dihubungkan
oleh sebuah membran interoseus. Ujung proksimal tibia diperluas menjadi
kondilus lateralis dan kondilus medial yang berhubungan dengan kondilus
femur untuk membentuk lateral dan medial tibiofemoral (lutut) sendi.
Kondilus sedikit cekung yang dipisahkan oleh proyeksi ke atas disebut
eminensiainterkondilaris. Tibialistuberositas pada permukaan anterior adalah
titik ligamen patela yang tajam dan dapat dirasakan dibawah kulit sebagai
perbatasan anterior (puncak). Bagian permukaan medial dari ujung distal
membentuk maleolus medial dimana struktur ini berhubungan dengan talus
pada pergelangan kaki.
11

Panjang tulang tibia dapat diukur dari sendi lutut sampai pada sendi
pergelangan kaki. Jika pada kaki yang diukur ternyata terdapat gangguan fisik
misalnya terkena poliomyelitis maka kaki di sisi yang lain dapat digunakan.
Pengukuran dapat diambil saat subjek berdiri bila memungkinkan.5

Gambar 2.4
Titik pengukuran tibia
Tibia sering disebut sebagai berat tulang terkuat bantalan dalam tubuh
manusia. Tibia membawa semua berat badan manusia.Foramen nutrienstibia
yang paling besar pada seluruh kerangka terletak pada permukaan posterior
bagian sepertiga proksimal tulang tersebut dan dari semua tulang panjang
pada tubuh,tibia adalah tulang yang paling sering terjadi fraktur.
II.5 Perkembangan Tulang
Tulang berkembang dengan dua cara antara lain dengan membranosa dan
endochondrial. Pada cara yang pertama,tulang berkembang langsung dari
membrana jaringan ikat. Pada cara yang kedua,mula-mula dibentuk tulang
rawan kemudian diganti oleh tulang.2
12

Tulang

tempurung

kepala

berkembang

dengan

cepat

secara

membranosa pada janin sehingga dapat melindungi otak yang sedang


berkembang. Pada waktu lahir, beberapa daerah kecil dianatara tulang-tulang
tersebut tetap bersifat membran,hal ini memungkinkan tulang-tulang
melakukan sejumlah gerakan tertentu sehingga tengkorak dapat berubah
bentuk sewaktu keluar melewati jalan lahir.2
Tulang panjang estremitas berkembang secara osifikasi endochondrial.
Osifikasi ini merupakan proses yang lambat dan baru selesai pada usia 18-20
tahun atau lebih.2
Pusat pembentukan tulang yang ditemukan pada corpus disebut
diaphysis, sedangkan pusat pada ujung-ujung tulang disebut epiphysis.
Lempeng rawan pada masing-masing ujung yang terletak antara epiphysis
dan diaphysis pada tulang yang sedang tumbuh disebut lempeng epiphysis,
sedangkan bagian diaphysis yang berbatasan dengan lempeng epiphysis
disebut metaphysis.2
II.6 Pertumbuhan tulang
Tulang melalui proses pertumbuhan secara longitudinal dan radial yang
terjadi selama masa kanak-kanak dan remaja, dan proses modeling dan
remodelingselama hidup. Pertumbuhan longitudinal yaitu dimana kartilago
pada daerah epifisis dan metafisis dari tulang panjang akan berproliferasi.
Proses modeling adalah proses tulang mengganti bentuk secara
keseluruhan sebagai respon fisiologi atau respon terhadap beban mekanik.
Proses modeling ini lebih jarang terjadi dibandingkan proses remodeling.
Proses

modeling

mengalami

peningkatan

pada

keadaan-keadaan

hipoparatiroidisme, renal osteodistrofi, atau terapi dengan substansi anabolik.


Proses remodeling tulang proses dimana tulang mengalami
pembaharuan mempertahankan kekuatan tulang dan keseimbangan mineral.
Proses remodeling terjadi dengan cara menghilangkan tulang-tulang lama dan
menggantinya dengan matriks protein yang baru.6,7
Pertumbuhan tulang yang normal pada orang dewasa tergantung pada
beberapa faktor atara lain termasuk asupan makanan yang cukup mineral,
vitamin, serta tingkat kecukupan beberapa hormon. Mineral berupa kalsium
dan fosfor dibutuhkan dalam masa pertumbuhan tulang, seperti halnya
megnesium dan fluorida juga diperlukan selama remodeling tulang. Vitamin
yang dapat membantu proses perkembangan tulang antara lain seperti vitamin
A yang berfungsi merangsang aktifitas osteoblas, vitamin C diperlukan untuk
sintesis kolagen, vitamin D membantu membangun tulang dengan
13

meningkatkan penyerapan kalsium dari makanan dalam saluran pencernaan


ke alam darah, vitamin K dn B12 juga dibutuhkan untuk sintesis protein
tulang. Hormon yang paling penting dalam pertumbuhan tulang adalah
Insulin Growth Factor (IGFs) yang diproduksi oleh jaringan hati dan tulang.
IGF merang osteoblas untuk membantu pembelahan sel pada epifisis dan
periosteum dan meningkatkan sintesis protein yang dibutuhkan untuk
pembentukan tulang baru. Hormon tiroid (T3 dan T4) dari kelenjar tiroid juga
merangsang osteoblas, selain itu juga hormon insulin dari pankreas yang
berfungsi mendorong pertumbuhan tulang dengan meningkatkan sintesis
protein tulang.4
II.7 Tinggi badan
II.7.1 Definisi
Tinggi badan adalah hasil pengukuran maksimum panjang tulang dengan
jarak vertikal, yaitu diukur dari titik tertinggi dikepala (cranium) yang disebut
vertex ke titik terendah dari tulang calcaneus yang menyentuh lantai,dimana
pengukuran tinggi badan diukur pada saat berdiri secara tegak lurus dalam
sikap anatomi dan kepala berada dalam posisi sejajar dengan lantai serta mata
menatap lurus kedepan.20 Tinggi badan bergantung pada faktor genetik dan
lingkungan.8
Tinggi badan dapat dipakai sebagai parameter paling penting bagi keadaan
terdahulu dan keadaan sekarang apabila umur tidak diketahui dengan tepat.
Tinggi badan juga merupakan ukuran kedua yang penting,karena dengan
menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan maka faktor umur dapat
dikesampingkan.
Struktur tubuh manusia disusun oleh berbagai macam organ yang tersusun
sedemikian rupa dan saling berhubungan satu dengan yang lain,sehingga
terbentuk tubuh manusia seutuhnya,dan kerangka adalah struktur keras
pembentuk tinggi badan. Pada autopsi yang dilakukan oleh ahli
forensik,sering dilkukan pada tubuh yng sudah dalam keadaan rusak atau
terpotong-potong,dan disebutkan bahwa dengan pengukuran tulang-tulang
panjang dapat memperkirakan tinggi badan orang tersebut. 6,8
Dalam pengukuran tinggi badan, penting juga dilakukan perhitungan BMI
dan perhitungan luas permukaan tubuh dimana hal tersebut juga tidak
terhindar dari penilaian status gizi. Index Massa Tubuh (IMT) atau BodyMass
14

Index (BMI) adalah suatu alat bantu untuk mengetahui status gizi seseorang.
Index Massa Tubuh tersedia dalam kriteria Asia Pasifik dan WHO. Terdapat
perbedaan kategori dalam kriteria Asia Pasifik dan WHO. Kriteria Asia
Pasifik diperuntukkan untuk orang-orang yang berdomisili di daerah Asia,
karena Index Massa Tubuhnya lebih kecil sekitar 2-3 kg/m2 dibanding orang
Afrika, orang Eropa, orang Amerika, ataupun orang Australia. Rumus Index
Massa Tubuh adalah : Berat Badan (dalam kg) / Tinggi Badan (dalam m2).
BMI berdasarkan Kriteria Asia Pasifik :

IMT : < 18,5 (Underweight)


IMT : 18,5 s/d < 23 (HealthyWeight)
IMT : 23 s/d < 25 (Overweight)
IMT : 25 s/d < 30 (ObeseClass I)
IMT : >= 30 (ObeseClass II)

Namun ada beberapa keterbatasan dalam memperoleh informasi tentang


tinggi badan seseorang misalnya pada orang tua, pasien dengan penyakit
kritis, atau pasien yang sulit bergerak. Dalam situasi ini,metode visual
merupakan salah satu metode yang paling umum digunakan untuk menebak
tinggi seseorang. Adapun saran yang digunakan untuk memprediksi tinggi
badan yaitu dengan pengukuran antropometri seperti panjang ulnaris, tinggi
lutut, dan rentang tangan.9
Tinggi badan seseorang dapat diperkirakan dari panjang tulang-tulang
tertentu,salah satunya adalah tulang tibia dengan menggunakan rumus yang
dibuat oleh banyak ahli antara lain rumus Antropologi Ragawi UGM, rumus
Trotter dan Gleser, rumus Djaja Surya Atmadja. Rumus Antropologi Ragawi
UGM untuk pria dewasa (Jawa) adalah tinggi badan = 879 + 2,12 y (tibia
kanan) atau tinggi badan = 847 + 2,22 y (tibia kiri) dimana semua ukuran
dalam satuan mm. Rumus Trotter dan Gleser untuk Mongoloid yaitu 2,39
(tib) + 81,45 ( 3,27cm). Rumus Djaja Surya Atmadja untuk populasi dewasa
muda di Indonesia yaitu, pada pria TB = 75,9800 + 2,3922 (tib) ( 4,3572
cm), sedangkan pada wanita TB = 77,4717 + 2,1889 (tib) ( 4,9526).1
Tulang yang diukur dalam keadaan kering biasanya lebih pendek 2 mm
dari tulang yang segar, sehingga dalam menghitung tinggi badan perlu
diperhatikan hal tersebut. Rata-rata tinggi pria lebih besar dari wanita, maka
perlu ada rumus yang terpisah antara pria dan wanita.10
Keadaan pertumbuhan skeletal dapat digambarkan lewat tinggi badan
seseorang. Pada keadaan normal,pertumbuhan tinggi badan seiring dengan
15

pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan seseorang tidak seperti berat


badan,dimana tinggi badan relatif kurang sensitif pada masalah kekurangan
gizi dalam waktu singkat tetapi pengaruhnya akan terlihat dalam waktu yang
relatif lama.
II.7.2 Peran jenis kelamin, ras, dan umur pada struktur
Laki-laki dewasa cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan
perempuan dewasa, dan mempunyai tungkai yang lebih panjang dimana
tungkai laki-laki lebih besar serta otot-otot yang lebih besar. Tulang panjang
laki-laki lebih panjang dan lebih masif dibandingkan dengan tulang wanita
yang dimana perbandingannya yaitu 100:90.1,13 Laki-laki mempunyai lemak
subkutan yang lebih sedikit sehingga mempunyai bentuk tubuh yang lebih
angular. Wanita dewasa cenderung lebih pendek dan mempunyai tulangtulang yang lebih kecil serta otot-otot yang lebih sedikit.Wanita mempunyai
lebih banyak lemak subkutan, penimbunan lemak terdapat pada payudara,
panggul, dan paha sehingga perempuan terlihat lebih bulat.3
Kira-kira hingga mencapai umur 10 tahun, anak laki-laki dan
perempuan tumbuh dengan kecepatan yang hampir sama. Sekitar umur 12
thun, anak laki-laki sering mulai tumbuh lebih cepat dibanding dengan anak
perempuan sehingga kebanyakan remaja laki-laki lebih tinggi dari remaja
perempuan.3
Telah dilakukan beberapa penelitian untuk mengetahui tinggi badan rerata
pada laki-laki di beberapa negara, kemudian diklasifikasikan menjadi
beberapa ukuran tinggi dari kerdil hingga raksasa. Beberapa peneliti
memiliki standar nilai berbeda pada ukuran ketinggian tersebut (Tabel II.1).
Tabel II.2. Tinggi badan rerata laki-laki menurut beberapa peneliti
(Indriati, 2010).
Laki-laki
Vallois

Martin

Montandon

Vandervael

Kerdil

<125

<130

<135

<125

Sangat Pendek

130-149,9

135-146,9

125-155

Pendek

125-159,9

150-159,9

147-158,9

155-161

Sub-Medium

160-164,9

160-163,9

159-162,9

161,5-167,5

Medium

164-166,9

163-166,9

168-174

16

Supra-medium

165-169,9

167-169,9

167-170,9

174,5-180,5

Tinggi

170-199,9

170-179,9

171-182,9

181-187

Sangat Tinggi

180-199,9

183-194,9

187-200

Raksasa

>200

>200

>195

>200

Pada masa yang lalu, para ilmuwan telah menggunakan setiap tulang
kerangka manusia dari femur sampai metakarpal dalam menentukan tinggi
badan. Para ilmuwan telah mendapat kesimpulan bahwa tinggi badan dapat
ditentukan bahkan dengan tulang yang kecil, meskipun mereka mendapati
sebuah kesalahan kecil dalam penelitian mereka (Krishan, 2006).
Perbedaan ras juga dapat menentukan bentuk dan ukuran seseorang
dimana pada orang Afrika dan Skandinavia cenderung memiliki postur yang
tinggi karena memiliki tungkai yang panjang, sedangkan orang Asia
cenderung lebih pendek karena memiliki tungkai yang pendek. Kepala orang
Eropa Tengah dan Asia cenderung bulat dan lebar.3
II.8 Kelainan rangka tubuh
Dalam pengukuran tinggi badan, perlu diketahui juga kelainan-kelainan
rangka tubuh yang dapat mempengaruhi tinggi badan seseorang. Kelainankelainan ini dapat mengakibatkan perubahan bentuk tulang belakang yang
disebabkan oleh kebiasaan duduk dengan posisi yang salah. Akibat kesalahan
postur dan sikap menyebabkan trauma pada tulang belakang seperti
terjadinya deformitas misalnya skoliosis, kifosis, maupun lordosis. Orang
yang duduk pada posisi miring atau menyandarkan tubuh pada salah satu sisi
tubuh akan menyebabkan ketidakseimbangan tonus otot yang mengakibatkan
terjadinya skoliosis.
Skoliosis adalah

kelainan-kelainan

pada

rangka

tubuh

berupa

kelengkungan tulang belakang dimana terjadi pembengkokan tulang belakang


kearah samping kiri atau kanan, atau kelainan tulang belakang yang
berbentuk C atau S. Tanda umum skoliosis antara lain tulang bahu yang
berbeda, tulang belikat yang menonjol, lengkungan tulang belakang yang
nyata, panggul yang miring, perbedaan antara ruang lengan dan tubuh.
Pertumbuhan merupakan faktor resiko terbesar terhadap memburuknya
pembentukan tulang belakang. Lengkungan skoliosis idiopatik kemungkinan
akan berkembang seiring pertumbuhan. Biasanya semakin waktu kejadian
pada anak yang struktur lengkungannya sedang berkembang maka semakin
17

serius prognosisnya. Pada umumnya struktur lengkungan mempunyai


kecenderungan yang kuat untuk berkembang secara pesat pada saat
pertumbuhan dewasa, tetapi skoliosis tidak akan memburuk dalam waktu
singkat. Skoliosis dapat menyebabkan berkurangnya tinggi badan jika tidak
diobati. 22
II.9 Formula Pengukuran Tinggi Badan
Telah terdapat beberapa perhitungan tentang tinggi badan rerata yang
dilakukan di beberapa belahan dunia. Beberapa diantaranya adalah rumus
Karl Pearson, Trotter dan Gleser, Dupertuis dan Hadden, juga rumus
Antropologi Ragawi UGM (Yudianto dan Kusuma, 2010).
2.9.1 Formula Karl Pearson
Formula ini telah dipakai luas diseluruh dunia sejak tahun 1898. Formula
ini membedakan formula untuk laki-laki dan perempuan untuk subjek
penelitian kelompok orang-orang Eropa dengan melakukan pengukuran
pada tulang-tulang panjang yang kering seperti tulang femur, humerus,
tibia dan radius (Yudianto dan Kusuma, 2010). Tabel 2 menunjukan
rumus yang digunakan pada laki-laki.

Tabel II.3. Formula Karl Pearson untuk Laki-laki (Yudianto dan Kusuma,
2010).
Laki-laki
TB = 81.306 + 1.88 x F1.
TB = 70.641 + 2.894 x HI.
TB = 78.664 + 2.376 x TI.
TB = 85.925 + 3.271 x RI.
TB = 71.272 + 1.159 x (F1 + T1).
TB = 71.443 + 1.22 x (F1 + 1.08 x TI).
TB = 66.855 + 1.73 x (H1 + R1).
TB = 69.788 + 2.769 x (H1 + 0.195 x R1).

18

TB = 68.397+ 1.03 x F1 + 1.557 x HI


TB = 67.049 + 0.913 x F1 + 0.6 x T1 + 1.225 x HI 0.187 x RI

Keterangan:
F1 = Panjang maksimal tulang femur
H1 = Panjang maksimal tulang humerus
T1 = Panjang maksimal tulang tibia
R1 = Panjang maksimal tulang radius

II.9.2 Formula Trotter Glesser (1952)


Formula ini memakai subjek penelitian orang-orang Amerika kulit hitam
(negro) dan kulit putih yang berusia antara 28-30 tahun (tabel 3). Pertama
sekali diteliti pada tahun 1952 oleh Trotter (Yudianto dan Kusuma, 2010).
Tabel II.4. Formula Trotter Glesser (1952) (Yudianto dan Kusuma, 2010).
Laki-laki kulit Putih

Laki-laki kulit Hitam

63.05 + 1.31 (femur + Fibula)


3.63 cm.
67.09 + 1.26 (femur + tibia)
3.74 cm.
75.50 + 2.60 fibula 3.86 cm.

67.77 + 1.20 (femur + fibula)


3.63 cm.
71.75 + 1.15 (femur + tibia)
3.68 cm.
72.22 + 2.10 femur 3.91 cm.

65.53 + 2.32 femur 3.94 cm.

85.36 + 2.19 tibia 3.96 cm.

81.93 + 2.42 tibia 4.00 cm.

80.07 + 2.34 fibula 4.02 cm.

67.97 + 1.82 (humerus + raditis)


4.31 cm.
66.98 + (humerus + ulna)
4.37 cm.
78.10 + 2.89 humerus
4.57 cm.

73.08 + 1.66 (humerus + raditis)


4.18 cm.
70.67 + 1.65 (humerus + ulna)
4.23 cm.
75.48 + 2.88 humerus
4.23 cm.

79.4 +

85.4

2
3.79 radius 4.66 cm.
75.5 +

3
+ 3.32 radius 4.57 cm.
82.7

3.76 ulna 4.72 cm.

+ 3.20 ulna 4.74 cm.

II.9.3. Formula Trotter-Glesser (1958).


Formula ini memakai subjek penelitian kelompok laki-laki ras mongoloid.
Pada tabel 4 ditunjukan bahwa ada 10 rumus total dengan 6 rumus
menggunakan masing-masing dari tulang panjang, dan 4 rumus yang lain
dengan penjumlahan dari beberapa tulang panjang (Yudianto dan
19

Kusuma, 2010).
Tabel II.5 . Formula Trotter-Glesser (1958) (Yudianto dan Kusuma, 2010).
Tinggi Badan
2.68 X (H1) + 83.2 4.3
3.54 X (R1) + 82.0 4.6
3.48 X (U1) + 77.5 4.8
2.15 X (F1) + 72.6 3.9
2.39

X (T1) + 81.5 3.3

2.40

X (Fi1) + 80.6 3.2

1.67

X (H1 + R1) + 74.8 4.2

1.68

X (H1 + U1) + 71.2 4.1

1.22

X (F1 + T1) + 70.4 3.2

1.22

X (F1 + Fi1) + 70.2 3.2

Catatan:
Angka dengan tanda adalah nilai standard error, yang dapat dikurangi atau
ditambah pada nilai yang diterima dari kalkulasi. Makin kecil SE, makin
tepat taksiran menurut rumus regresi
II.10 Ilmu kedokteran forensik
Ilmu kedokteran forensik atau yang dikenal juga dengan nama legal
medicine adalah salah satu cabang spesialistik dari ilmu kedokteran yang
mempelajari pemnfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan hukum serta
keadilan.Ilmu kedokteran forensik telah dikenal sejak zaman Babilonia,yang
mencatat ketentuan bahwa dokter pada saat itu mempunyai kewajiban untuk
memberi kesembuhan bagi para pasiennya dengan ketentuan ganti rugi bila
hal tersebut tidak tercapai.1
Dalam perkembangannya, ilmu kedokteran forensik tidak sematamata bermanfaat dalam urusan penegakan hukum dan pengadilan, tetapi juga
bermanfaat dalam segi kehidupan bermasyarakat lainnya misalnya dlm
membantu penyelesaian klaim asuransi,dan membantu upaya keselamatan
kerja dengan pengumpulan data.1
20

Di masyarakat sering terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang


menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Untuk pengusutan dan penyidikan
serta penyelesaian masalah hukum di tingkat lebih lanjut sampai di
pengadilan, diperlukan bantuan berbagai ahli di bidang terkait untuk
memperjelas peristiwa serta keterkaitan antara tindakan yang satu dengan
yang lain dlam rangkaian peristiwa tersebut. Jika terdapat korban dalam
peristiwa tersebut, baik dalam keadaan hidup mupun yang meninggal,maka
diperlukan seorang ahli dalam bidang kedokteran untuk memberikn
penjelasan bagi pihak yang menangani kasus tersebut. Dokter yang
membantu dalam proses peradilan, berbekal pengetahuan kedokteran yang
terhimpun dalam kazanah Ilmu Kedokteran Forensik.1
Dalam menjalankan fungsi sebagai dokter yang diminta untuk
membantu dalam pemeriksaan kedokteran forensik oleh penyidik, maka
dokter

tersebut

dituntut

oleh

undang-undang

untuk

menggunakan

pengetahuan dengan sebaik-baiknya. Yang dilakukan oleh dokter yang


diminta oleh penyidik adalah melakukan pemeriksan kedokteran forensik
terhadap seseorang, baik pada korban yang masih hidup, korban yang sudah
mati, maupun terhadap bagian tubuh atau benda yang diduga berasal dari
tubuh manusia. 1
Dalam suatu perkara pidana yang menimbulkan korban, dokter di
harapakan dapat menemukan kelainan dan penyebab yang terdapat pada
tubuh korban. Pada korban yang meninggal, dokter diharapkan dapat
menjelaskan penyebab kematian dan bagaimana mekanisme terjadinya
kematian tersebut, serta membantu dalam perkiraan saat kematian dan
perkiraan cara kematian. Untuk menjawab hal-hal tersebut, dalam bidang
ilmu kedokteran forensik dipelajari mediko-legal, tanatologi, traumatologi,
toksikologi, teknik pemeriksaan dan segala sesuatu yang terkait untuk
kepentingan peradilan serta kepentingan yang dapat bermanfaat bagi
masyarakat.1
Seorang

pemeriksa

dibidang

forensik

sering

diminta

untuk

mengidentifikasi setiap kasus yang ditemukansperti halnya sisa-sisa kerangka


dan potongan tubuh yang dibawa untuk dilakukan pemeriksaan. Kebutuhan
dalam mengidentifikasi biasanya diperlukan pada kasus-kasus pembunuhan,
bunuh diri, ledakan bom,perang, serangan teroris, kecelakaan pesawat udara,
kecelakaan kereta, becana alam seperti tsunami, banjir, dan gempa bumi.5
21

Tujuan utama dalam pemeriksaan adalah untuk mengidentifikasi korban yang


meninggal sehubungan dengan jenis kelamin,tinggi badan, ras, dan umur.
Proses identifikasi dianggap membantu mempersempit penyelidikan karena
berfokus pada korban dimana dengan mengidentifikasi bagian tubuh korban
tersebut maka dapat diperkirakan tinggi badan lewat tulang korban.5
Sejak tahun 1925, kedokteran forensik merupakan bagian dari
peraturan pemeriksaan medis.Hingga abad ke-19,kodekteran forensik
membentuk disiplin kesehatan masyarakat. Eduard V Hofmann adalah wakil
pertama yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk kedokteran forensik,ia
mendefinisikan kedokteran forensik sebagai disiplin yang menangani masalah
dalam hukum perdata dan pidana yang hanya dapat dijawab dengan bantuan
pengetahuan medis. Kedokteran forensik dianggap telah mengalami
perubahan teruma berlaku dari kedokteran forensik klinis dimana makna dan
orientasi kedokteran forensik klinis tegas dipengaruhi oleh kondisi hukum
dan organisasi umum. Tugas yang dilakukan oleh sebagian besar ahli forensik
yaitu beberapa berkonsentrasi pada daerah khusu dari evaluasi dibidang
hukum sosial,sipil, dan lalu lintas.11,12
II.11 Identifikasi Forensik
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan
membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Menentukan
identitas personal dengan tepat sangat penting dalam penyidikan karena jika
adanya kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses peradilan. Peran
identifikasi terutama pada jenazah yang tidak dikenal, jenazah yang telah
membusuk, rusak, hangus terbakar, dan pada kecelakaan masal, serta bencana
alam yang mengakibatkan banyak korban yang mati. Selain itu,identifikasi
forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak,
bayi yang tertukar atau diragukan orang tuanya.10
Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode identifikasi
sidik jari, viseual, dokumen, pakaian dan perhiasan, medik, gigi, serologik
dan secara eksklusi. Namun akhir-akhir ini dikembangkan juga metode
identifikasi DNA.10
Pemeriksaan sidik jari yaitu dengan membandingkan sidik jari jenazah
dengan data sidik jari antemortem. Sampai saat ini,pemeriksaan sidik jari
merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi ketepatannya untuk
menentukan identitas seseorang. Metode visual dilakukan dengan cara
22

memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang merasa kehilangan anggota


keluarga atau temannya tetapi cara ini hanya efektif pada jenazah yang belum
membusuk sehingga masih mungkin untuk dikenali wajah dan bentuk
tubuhnya. Pemeriksaan dokumen seperti kartu identitas (KTP, SIM, Paspor,
dll) yang kebetulan dijumpai dala saku pakaian yang dikenakan oleh jenazah
tersebut tetapi perlu diperhatikan bahwa pada kecelakaan masal,dokumen
yang terdapat dalam tas atau dompet yang berada dekat jenazah belum tentu
adalah milik jenazah yang bersangkutan. Pemeriksaan pakaian dan perhiasaan
yang dikenakan jenazah dapat membantu identifikasi walaupun jenazah sudah
mengalami pembusukkan dengan mengetahui merek, nama pembuat, ukuran,
inisial nama pemilik, dan badge serta khusus pada anggota ABRI masalah
identifikasi dipermudah dengan adanya nama serta NRP yang tertera pada
kalung logam yang dipakainya. Identifikasi medik dengan menggunakan data
tinggi badan, berat badan, warna rambut, warna mata, cacat atau kelainan
khusus, tatu (rajah). Metode ini mempunyai nilai tinggi oleh karena selain
dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan cara atau modifikasi
(termasuk pemeriksaan dengan sinar-X),sehingga ketepatannya cukup tinggi
bahkan pada tengkorang atau kerangkapun masih dapat dilakukan dengan
metode identifikasi ini. Pemeriksaan gigi meliputi pencatatan data gigi
(odontogram) yang meliputi data tentang jumlah, bentuk, susunan, tambalan,
protesa, dll serta pemeriksaan rahang yang dapat dilakukan dengan
menggunakan pemeriksaan manual, sinar-X, dan pencetakan gigi serta rahang
oleh karena setiap individu memiliki susunan gigi yang khas. Pemeriksaan
serologik bertujuan untuk menentukan golongan darah jenazah dengan
memeriksa rambut, kuku, dan tulang. Metode eksklusi digunakan pada
kecelakaan masal yang dapat diketahui identitasnya, misalnya penumpang
pesawat udara, kapal laut, dan sebagainya.10
II.12 Antropologi
Antropologi forensik didefinisikan sebagai bidang studi yang
berhubungan dengan pemeriksaan bahan yang diyakini sebagai manusia
untuk menjawab pertanyaan medis hukum,termasuk yang terkait dengan
identifikasi.Tujuan utama dari antropologi forensik adalah untuk rekonstruksi
dari sebuah osteobiografi yang terdiri dari satu set atribut biologis untuk
23

memperkirakan identifikasi seseorang dengan menentukan beberapa hal


seperti jenis kelamin,usia, dan tinggi badan.16. Tetapi dari beberapa aspek
diatas,yang paling dipelajari dari antropologi forensik adalah penentuan jenis
kelamin dan estimasi tinggi badan.
Kerangka yang dikumpulkan dapat mengembangkan

bidang

antropologi forensik dalam pengembangan teknik untuk menangani berbagai


polpulasidiseluruh dunia. Teknik antropologi menggunakan serangkaian
sistem kerangka manusia yang terdokumentasi dengan baik. Teknik-teknik ini
terutama bertanggung jawab untuk identifikasi jenazah.13
Selama bertahun-tahun, para antropolog mempelajari sisa kerangka
tubuh manusia untuk mempertimbangkan ukuran tubuh manusia termasuk
berat

badan,

tinggi

badan,

dan

jenis

kelamin

sebagai

parameter

biodemography manusia.
Antropologi telah menjadi salah satu bidang yang paling cepat
berkembang dari ilmu-ilmu forensik. Studi antropologi di masa depan telah
diarahkan untuk menggunakan mayat segar agar dapat lebih memahami
identitas mayat tersebut pada suatu populasi besar.peranan para antropolog
forensik yaitu pada proses pengidentifikasian jenazah dan dalam proses
rekonsiliasi. Peran antropolog penting sehubungan dengan mengidentifikasi
sisa kerangka manusia dan embedakan manusia dari sia-sisa nonmanusia,memberi informasi tentang jenis kelamin dan usia manusia tersebut
serta mengkonfirmasi atau menyangkal kemungkinan-kemungkinan yang
tidak sesuai dengan keluarga dari kerangka tersebut.14
II.13 Antropometri Forensik
Antropometri adalah serangkaian teknik pengukuran sistematis yang
mengungkapkan secara kuantitatif dimensi tubuh manusia dan kerangka.
Tujuan utama menggunakan antropometri dalam ilmu kedokteran forensik
adalah untuk membantu lembaga penegakan hukum dalam mencapai identitas
personal dalam kasus penemuan sisa-sisa manusia yang tidak diketahui.

24

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Rancangan Penelitian


Metode penelitian dengan menggunakan cross sectional yang bertujuan untuk mencari
formula atau rumus yang menunjukan hubungan antara panjang ruas tulang tibia dengan tinggi
badan, yaitu dengan melakukan pengukuran panjang ruas tulang tibia kanan dan tinggi badan
terhadap 103 sampel yang diperiksa untuk kemudian data tersebut dimasukan kedalam metode
penelitian dengan menggunakan uji pearson dan regresi linear
III.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Bagian Instalasi Forensik RS Umum

Pusat Dokter Kariadi

Semarang.Waktu penelitian dari tanggal 24 November 2015 sampai tanggal 4 Desember 2015
yang meliputi studi kepustakaan, pengumpulan data, pengumpulan sampel penelitian dan
penulisan.
III.3 Populasi Penelitian
Populasi penelitian adalah orang-orang atau mahasiswa yang melaksanakan kepaniteraan
klinik bagian forensik di RS Umum Pusat Dokter Kariadi dalam rentang waktu periode 30
November 2015 hingga 4 Desember 2015
III.4 Sampel dan Cara Pemilihan Sampel
Sampel adalah orang- orang (lakilaki dan perempuan) yang berusia 21 tahun keatas yang
memenuhi kriteria untuk dilakukan penelitian, yang terdapat dalam populasi penelitian.
III.5 Besar Sampel
Sampel adalah mahasiswa yang melaksanakan kepaniteraan klinik bagian forensik di RS Umum
Pusat Dokter Kariadi dalam rentang waktu periode 30 November 2015 hingga 4 Desember 2015

25

dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Metode yang digunakan untuk menentukan besar sampel
yaitu menggunakan sampling jenuh yaitu sejumlah 103 orang.
III.6 Kriteria Penelitian
Kriteria Inklusi:
Kriteria penerimaan (faktor inklusi) didasarkan pada seseorang (laki-laki dan perempuan),
berusia sama dengan atau diatas 21 tahun, tidak pernah mengalami patah tulang-tulang (seperti
kaki, tangan, maupun tulang punggung), tidak memiliki cacat fisik kelainan tulang bawaan sejak
lahir, serta tidak memiliki penyakit yang berhubungan dengan tulang seperti polio.
Kriteria Eksklusi:
Sedangkan kriteria penolakan (faktor eksklusi) didasarkan pada orang-orang yang memiliki
ukuran tinggi badan yang tidak normal, seperti manusia kerdil/cebol, orang-orang yang tidak
bisa berdiri sempurna, baik oleh karena faktor umur (pre-lansia),atau karena penyakit.
III.7 Ijin Subjek Penelitian
Semua pengukuran yang dilakukan telah mendapat ijin dari subjek penelitian setelah terlebih
dahulu mendapat penjelasan tentang maksud, tujuan, cara dan persetujuan dari subjek (informed
consent) dari penelitian yang dilakukan sesuai dengan Lembar Penjelasan Kepada Subjek
Penelitian (Terlampir)
III.8 Instrumen Penelitian
Adalah alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan data yang terdiri dari:
1. Lembar data hasil pengukuran
2. Tinggi badan diukur dengan stature meter/growth chart
3. Panjang tibia diukur dengan meteran
III.9 Cara Kerja Penelitian
1. Pengumpulan data subjek penelitian dilakukan meliputi: nama, umur, jenis kelamin, status
perkawinan, pekerjaan, suku bangsa, alamat.
2. Pemeriksaan terhadap kondisi tubuh untuk kelayakan pengukuran yang memenuhi criteria
inklusi dan eksklusi
3. Pengukuran terhadap tinggi badan, dan panjang tibia
4. Menentukan rumus regresi tentang hubungan antara tinggi badan dengan panjang tulang tibia
26

III.10 Batasan Operasional


1. Pengukuran dilakukan dengan mengukur hubungan antara titik-titik anatomis tubuh
manusia
2. Tinggi badan diukur mulai dari puncak kepala (vertex) sampai ke tumit (heel) pada saat
tubuh dalam posisi badan berdiri tegak lurus sempurna dan kepala berada dalam posisi
Dataran Frankfurt
3. Panjang tulang tibia diukur mulai dari lutut (bagian paling proximal dari condylus medialis
tibia) sampai ke bagian tumit (paling distal dari maleolus medialis). Pengukuran dilakukan
dengan posisi peserta berdiri dengan salah satu kaki dan kaki yang diukur diletakkan diatas
kursi dengan posisi lutut di semi fleksi.
4. Menentukan rumus regresi tentang hubungan antara tinggi badan dengan panjang tulang
tibia
III.11 Pengolahan dan Analisis Data
Hasil pengamatan akan disajikan dalam data deskriptif dengan menguraikan presentase data
hasil pengukuran serta rumus regresi hubungan antara tinggi badan dengan panjang tulang tibia
secara umum, berdasarkan panjang tungkai kanan serta berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan
perempuan yang kemudian data ini disajikan dalam bentuk tabel

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

27

IV.1.

HASIL PENELITIAN
Penelitian penentuan tinggi badan berdasarkan panjang tibia ini dilakukan terhadap 103

orang (70 orang laki-laki dan 33 orang perempuan) yang dilakukan pada seluruh dokter muda
departemen forensik dan medikolegal Fakultas Kedokteran UNDIP / RSUP Dr.Kariadi pada
tanggal 2 Desember 2015 yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Data yang diambil berupa
tinggi badan (dalam sentimeter) dan panjang tibia (dalam sentimeter). Berikut akan dipaparkan
hasil penelitian yang sudah didapatkan :
Tabel IV.1. Sebaran Responden Secara Umum
Jenis Pengukuran
Mean Tinggi Badan
Mean Panjang Tibia
Tinggi Badan Minimum
Panjang Tibia Minimum
Tinggi Badan Maksimum
Panjang Tibia Maksimum
Jumlah

Hasil
162,7 cm
37,8 cm
145 cm
32 cm
181 cm
44 cm
103 orang

Dari tabel 1 diatas didapatkan data bahwa jumlah responden sebanyak 103 orang, dengan ratarata tinggi badan 162,7 cm dan rata-rata panjang tibia 162,7 cm, dengan tinggi badan minimum
145 cm, maksimal 181 cm. panjang tibia minum didapatkan 32 cm dan panjang tibia maksimum
didapatkan 44 cm.
Tabel IV.2. Sebaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total

N
33
70
103

%
32
68
100

Dari tabel 2 didapatkan data bahwa jumlah responden wanita lebih banyak dari laki-laki dengan
persentase responden wanita sebesar 68% dan responden Laki-laki sebanyak 32%.
Tabel IV.3.Perbandingan Tinggi Badan Laki-laki dan Perempuan
Pengukuran
N
Tinggi badan laki-laki 33
Tinggi
badan 70

Mean
171,30 cm
158,7 cm

Sd
7.10927
5.62630

perempuan

28

Dari tabel 3 didapatkan hasil bahwa rata-rata tinggi badan laki-laki lebih tinggi daripada
perempuan yaitu tinggi badan rata-rata laki-laki adalah 171,30 cm sedangkan tinggi badan ratarata perempuan adalah 158,7 cm.
Tabel IV.4. Perbandingan Panjang Tibia Laki-laki dan Perempuan
Pengukuran
N
Panjang tibia laki-laki 33
Panjang
tibia 70

Mean
40,2 cm
37 cm

Sd
1.87113
1.86220

perempuan
Dari tabel 4 didapatkan hasil bahwa rata-rata panjang tibia laki-laki lebih panjang dari
perempuan dengan rata-rata panjang tibia 40,2 cm ,sedangkan rata-rata tinggi badan perempuan
adalah 37 cm
Tabel IV.5. Hubungan Panjang Tibia Perempuan dengan Tinggi Badan
Pengukuran
Panjang
perempuan

Pearson Correlation N
(r)
tibia 0,797

70

P
0,000

dengan

tinggi badan
Dari tabel 5 didapatkan hasil terdapat hubungan (korelasi) yang kuat antara panjang tibia pada
perempuan dengan tinggi badan dengan nilai r = 0,797

Tabel IV.6. Hubungan Panjang Tibia Laki-laki dengan Tinggi Badan


Pengukuran

Pearson Correlation N

(r)
Panjang tibia laki-laki 0,634

33

P
0,000

dengan tinggi badan


Dari tabel 6 didapatkan hasil terdapat hubungan (korelasi) yang kuat antara panjang tibia pada
laki-laki dengan tinggi badan dengan nilai r = 0,634
Tabel IV.7. Hubungan Panjang Tibia Laki-Laki dan Perempuan dengan Tinggi Badan
Pengukuran

Pearson Correlation N

P
29

(r)
Panjang tibia laki-laki 0,866
dan

103

0,000

perempuan

dengan tinggi badan


Dari tabel 7 didapatkan hasil terdapat hubungan (korelasi) yang sangat kuat antara panjang tibia
pada laki-laki dengan tinggi badan dengan nilai r = 0,866.
Tabel IV.8. Hubungan Panjang Tibia dengan Tinggi Badan berdasarkan Regresi Linier
Pengukuran
Konstanta
Panjang Tibia

B
51.669
2.933

SE
6.403
0.169

Beta
0.866

P
0.000
0.000

Dari tabel 8 didapatkan rumus regresi yang menunjukkan hubungan yang kuat antara panjang
tibia dengan tinggi badan ,yaitu : TB = 51.669 + 2.993 (Panjang Tibia)
Tabel IV.9. Hubungan Panjang Tibia pada Perempuan dengan Tinggi Badan berdasarkan
Regresi Linier
Pengukuran
Konstanta
Panjang Tibia

B
62.345
2.622

SE
8.849
0.241

Beta
0.797

P
0.000
0.000

Dari tabel 8 didapatkan rumus regresi yang menunjukkan hubungan yang kuat antara panjang
tibia dengan tinggi badan ,yaitu : TB = 62.345 + 2.622 (Panjang Tibia Perempuan)
Tabel IV.10. Hubungan Panjang Tibia pada Pria dengan Tinggi Badan berdasarkan
Regresi Linier
Pengukuran
Konstanta
Panjang Tibia

B
94.605
1.906

SE
16.824
0.418

Beta
0.634

P
0.000
0.000

Dari tabel 8 didapatkan rumus regresi yang menunjukkan hubungan yang kuat antara panjang
tibia dengan tinggi badan ,yaitu : TB = 94.605+ 1.906(Panjang Tibia Pria)
IV.2.

PEMBAHASAN

30

Dari hasil penelitian ini didapatkan jumlah sampel sebanyak 103 orang, dimana sebagian
besar dari sampel adalah wanita dengan jumlah sampel sebanyak 70 orang, dan sampel laki-laki
berjumlah sebanyak 33 orang.
Dari jumlah sampel yang diteliti didapatkan hasil bahwa baik panjang tibia maupun
tinggi badan pada laki-laki lebih tinggi dan lebih panjang dari yang dipunyai oleh
perempuan.Untuk tinggi badan, merujuk kepada teori yang menyatakan bahwa perbandingan
tinggi badan laki-laki dan perempuan adalah 100:90. Persesuaian tersebut diperoleh data bahwa
dari 70 sampel wanita didapatkan rata-rata tinggi badan 158,7 cm dan pada 33 sampel pria
didapatkan rata-rata tinggi badan yaitu 171,3 cm.
Berdasarkan hasil penelitian diatas juga dapat kita ketahui bahwa terdapat hubungan yang
kuat antara panjang tibia dan tinggi badan, baik pada pria dan wanita maupun secara
keseluruhan. Dari ketiga pengujian dengan menggunakan metode pearson correlation didapatkan
bahwa ketiga-tiganya menunjukkan hubungan yang kuat (nilai pearson correlation (r) minimal
0,60), bahkan ketiga dilakukan pengujian secara keseluruhan (penggabungan antara laki-laki dan
wanita) didapatkan hubungan yang sangat kuat (nilai r > 0.80) antara panjang tibia dan tinggi
badan, sehingga tim peneliti tertarik untuk melakukan pengujian dengan metode regresi linier
agar dapat ditemukan sebuah formulasi untuk memperkirakan tinggi badan dengan mengetahui
panjang dari tibia.
Dengan metode regresi linier, didapatkan hasil formulasi untuk pengukuran tinggi badan
berdasarkan dari panjang tibia secara keseluruhan tanpa memandang jenis kelamin, dan
didapatkan rumus yaitu :TB = 51.669 + 2.993 (Panjang Tibia), Tingkat akurasi ketepatan
pengukuran berdasarkan rumus ini didapatkan cukup kuat yaitu sebesar 86,6%, dan telah
dilakukan pengujian dengan metode ANOVA dan didapatkan hasil p = 0.000 yang menyatakan
bahwa rumus ini telah layak untuk digunakan. Jika dapat diketahui jenis kelamin nya, maka
dapat digunakan formulasi untuk wanita adalah: TB :TB Perempuan = 62.345 + 2.622
(Panjang Tibia Perempuan)dengan tingkat akurasi ketepatan 79,7% ,dan untuk Pria formulasi
nya adalah : TB Pria = 94.605 + 1.906 (Panjang Tibia Pria)dengan tingkat akurasi ketepatan
63,4%. Kegunaan nya seperti yang telah dijabarkan pada bab sebelum nya, diharapkan pada
beberapa kasus, misal : kasus mutilasi, dimana didapatkan tulang tibia, diharapkan hanya dengan
menemukan tulang tibia saja sudah dapat memprediksi tinggi tubuh korban, sehingga penelitian
kasus dapat dipersempit lingkunya dengan harapan dapat mengidentifikasi korban lebih cepat.
31

Peneliti mencoba membandingkan formulasi regresi liner yang penulis dapatkan dari
penelitian ini untuk dibandingkan dengan formulasi pengukuran tinggi badan berdasarkan
panjang tibia yang sudah ada sebelumnya yaitu berdasarkan Formulasi Amri Amir.
Peneliti mencoba mengambil 2 sampel dari responden yang peneliti dapatkan untuk
dibandingkan antara Formulasi peneliti dan Formulasi Amri Amir. (Untuk tinggi badan tanpa
memandang jenis kelamin)
Formulasi Amri Amir: 1.12 x Panjang Tibia + 124.88
Formulasi Berdasarkan Penelitian Peneliti : 51.669 + 2.993 x Panjang Tibia
Contoh Responden Sampel No 28 Pria, Panjang Tibia: 40 cm, Tinggi Badan: 171 cm.
Berdasarkan Formulasi Amri Amir dengan Panjang Tibia 40 cm, maka apabila dimasukkan ke
dalam formulasi akan didapatkan 1.12 x 40 + 124.88 = 169,68 cm
Berdasarkan Formulasi hasil penelitian peneliti didapatkan apabila dengan Panjang Tibia 40 cm,
maka apabila dimasukkan ke dalam formulasi akan didapatkan 51.669 + 2.993 X 40 cm = 171,38
cm
Kedua formulasi diatas ternyata memberikan hasil yang cukup baik jika dibandingkan dengan
kondisi sebenarnya, formulasi dari Amri Amir memprediksi sebesar 169,68 cm berdasarkan
panjang tibia responden, dengan selisih 1,32 cm. Formulasi dari peneliti memprediksi 171,38 cm
dengan selisih 0,38 cm.
Dengan Responden Kedua, yaitu Responden Sampel No 17 Wanita dengan panjang tibia 38 cm
dan tinggi 165 cm.
Berdasarkan formulasi Amri Amir dengan Panjang Tibia38 cm, maka akan didapatkan perkiraan
tinggi yaitu 1.12 x 38 + 124.88 = 167.44 cm
Berdasarkan formulasi dari hasil penelitian peneliti dengan panjang tibia 37 cm, maka akan
didapatkan perkiraan tinggi yaitu 51.669 + 2.993 x 38 cm = 165,4 cm
Kedua formulasi diatas juga memberikan hasil yang baik pada pengukuran pada contoh sampel
wanita diatas, formulasi dari Amri Amir memberikan selisih 2,44 cm dari tinggi sesungguhnya
pada sampel diatas, dan formulasi dari peneliti memberikan selisih 0,4 cm dari tinggi badan yang
sesungguhnya.
Berikut disajikan dalam bentuk tabel perbandingan pengukuran dengan formulasi Amri Amir dan
formulasi dari peneliti :

32

Tabel IV.11 Perbandingan Formulasi Rumus Peneliti dengan Formulasi sebelumnya yaitu
Formulasi Amri Amir untuk mengukur tinggi badan berdasarkan panjang tibia tanpa
memandang jenis kelamin
Jenis Rumus
Sampel No 28 (Pria)
Sampel
No
17 Ket
(Wanita)
Rumus Peneliti
171,38 cm
167,44 cm
Mendekati
sesungguhnya
Formula Amri Amir
169,68 cm
165,4 cm
Mendekati
sesungguhnya
Tinggi Sesungguhnya 171 cm
165 cm
Untuk tinggi badan berdasarkan jenis kelamin, peneliti juga mencoba membandingkan antara
rumus peneliti dengan formulasi yang sudah ada sebelum nya:
Pengukuran Tinggi Badan Wanita Berdasarkan Panjang Tibia :
Rumus Peneliti :TB Perempuan = 62.345 + 2.622 (Panjang Tibia Perempuan)
Formulasi Parikh : TB Perempuan = Panjang Tibia x 4.46
Formulasi Djaja Surya Atmadja : TB Perempuan = 77.4717 + 2.1889 x Panjang Tibia
Sampel No 8 Perempuan, Panjang Tibia : 36 cm, Tinggi Badan : 156 cm
Rumus Peneliti : 62.345 + 2.622 x 36 = 156.737 cm
Rumus Parikh : 160,56 cm
Rumus Djaja Surya Atmadja : 156,27 cm
Sampel No 50 Perempuan, Tinggi Badan : 155 cm, panjang tibia 35 cm
Rumus Peneliti : 62.345 + 2.622 x 35 = 154,115
Rumus Parikh :156,1 cm
Rumus Djaja Surya Atmadja : 154,0285 cm
Berikut, disajikan dalam bentuk tabel:
Tabel IV.12 Perbandingan Formulasi Rumus Peneliti dengan Formulasi sebelumnya yaitu
Formulasi Parikh dan Formulasi Djaja Surya Atmadja untuk mengukur tinggi badan
berdasarkan panjang tibia pada jenis kelamin perempuan
Jenis Rumus
Sampel
No
8 Sampel
No
50 Ket
Perempuan,Panjang
Perempuan, Panjang
Tibia : 36 cm
Tibia : 35 cm
Rumus Peneliti
156,737 cm
154,115 cm
Mendekati
sesungguhnya
Rumus Parikh
160,56 cm
156,1 cm
Mendekati
sesungguhnya
Rumus Djaja Surya 156,27 cm
154,0285 cm
Mendekati
Atmadja
sesungguhnya
Tinggi Sesungguhnya 156 cm,
155 cm
Pengukuran Tinggi Badan Pria Berdasarkan Panjang Tibia:
Rumus Peneliti :TB Pria = 94.605 + 1.906 (Panjang Tibia Pria)
Formulasi Parikh : TB Pria = Panjang Tibia x 4.49
Formulasi Djaja Surya Atmadja : TB Pria = 75,9800 + 2,3922 x Panjang Tibia
33

Sampel No 16 Pria, tinggi badan = 175 cm, panjang tibia = 42 cm


Rumus Peneliti : 94.605 + 1.906 x 42 = 174.657 cm
Rumus Parikh =188,58 cm
Rumus Djaja Surya Atmadja = 176.4524 cm
Sampel No 22 ,tinggi badan = 168 cm ,panjang tibia = 38 cm
Rumus Peneliti : 94.605 + 1.906 x 38 = 167,033 cm
Rumus Parikh : 170,62 cm
Rumus Djaja Surya Atmadja = 166.8836 cm

Tabel IV.13 Perbandingan Formulasi Rumus Peneliti dengan Formulasi sebelumnya yaitu
Formulasi Parikh dan Formulasi Djaja Surya Atmadja untuk mengukur tinggi badan
berdasarkan panjang tibia pada jenis kelamin laki-laki
Jenis Rumus

Sampel No 16Pria Sampel No 22 Pria, Ket


,Panjang Tibia : 42 cm Panjang Tibia : 38 cm
Rumus Peneliti
174.657 cm
167,033 cm
Mendekati
sesungguhnya
Rumus Parikh
188.58 cm
170,62 cm
Mendekati
sesungguhnya
Rumus Djaja Surya 176.4524 cm
166,8836 cm
Mendekati
Atmadja
sesungguhnya
Tinggi Sesungguhnya 175 cm
168 cm

Dari hasil analisa diatas, baik rumus yang telah ada sebelumnya yaitu formula Amri Amir
,formulasi Parikh,rumus Djaja Surya Atmadja, maupun rumus yang dibuat berdasarkan
penelitian peneliti menunjukkan hasil yang cukup signifikan dan akurat untuk memprediksi
tinggi badan berdasarkan panjang tulang tibia, sehingga rumus regresi yang dibuat oleh peneliti,
diharapkan dapat menambah perbendaharaan baru dalam hal penentuan tinggi badan berdasarkan
panjang tulang tibia, terutama pada kaki bagian bawah yang masih lengkap (masih dibungkus /
dibalut oleh kulit). Demikian pentingnya rumus penelitian ini, oleh karena diteliti pada sampel
yang masih lengkap dan memungkinkan terjadi pada korban-korban mutilasi dengan kondisi
tubuh yang masih utuh (belum menjadi tulang belulang/kerangka).

34

BAB V
PENUTUP
V.1 KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan korelasi
yang kuat antara panjang tibia dan tinggi badan baik pada perempuan maupun laki-laki dan dapat
ditentukan perkiraan tinggi badan seseorang berdasarkan panjang tulang tibia berdasarkan jenis
kelamin laki-laki dan perempuan yaitu dengan mempergunakan rumus regresi :

Bila jenis kelamin tidak diketahui :

TB = 51,669 + 2,993(Panjang tibia)


Bila jenis kelamin diketahui :
TB = 62,345 + 2,622(Panjang Tibia perempuan)
35

TB = 94,605 + 1,906 (Panjang Tibia Laki-laki)


V.2 SARAN
1. Kiranya dapat dilakukan penelitian terhadap beberapa panjang ruas tubuh lainnya dengan
sampel yang lebih besar pula untuk memperoleh rumus regresi yang lebih akurat dan lebih
lengkap.
2. Perlu dilakukan ulasan, kajian, dan penelitian agar dapar diperkirakan hubungan tinggi badan
pada kelompok umur dibawah 21 tahun.
3. Perlu kiranya penelitian lebih lanjut khusus berdasarkan suku-suku yang ada di Indonesia
untuk melengkapi data antropometri di Indonesia, seperti yang dilakukan di India.
4. Perlu kiranya penelitian lebih lanjut mengenai uji perbedaan pada panjang tulang tibia dengan
panjang tulang femur dalam menentukan tinggi badan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Budiayanto A, Wididatama W, Sudiono S, Winardi T, Munim A, Sidhi, etal.Ilmu Kedokteran


Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
1997. P. 1, 197-200
2. Hartanto H, Listiawati E, Suyono YJ, Susilawati, Nisa TM Prawira J, etal. Anatomi klinik untuk
Mahasiswa Kedokteran. 6thed. 2006. p. 31-5
3. KrishanKanthropometry in forensicmedicineandforensicscience forensicanthropometry. Intern
J ForensicSci 2007;2(1) doi.105580/1dce

36

4. Tortora

GJ,

Derrickson

B.

Principlesofanatomyandphysiology:

Organization,

supportandmovement, and control systemofthe human body. 2009. p. 175-219


5. Krishan K, Kanchan T, DiManggio JA. A study oflimbassymetryandits effect on estimation of
stature in forensic casework. For SciIntl 2010; 200: 181.e1181.e5
6. Ahmed AA. Estimationof sex from the lower limb measurements of Sudanese adults. For SciIntl
2013; 229: 169.e1-169.e7
7. Pollak S. Clinical forensic cmedicine and its main field so factivityfrom the from the foundation
of the Germansocietyof legal medicine until today. For SciIntl 2004; 144: 269-283
8. Lignitz E. The history of forensic medicine in times of the Weimar republic andnationalsocialism
anapproach. For SciIntl 2004; 144: 113-124
9. Clarke B. Normal bone anatomy and physiology. Clin J Am SocNephrol 2008; 3
doi.10.2215/CJN.04151206.
10. McEvoy BP, Visscher PM. Geneticsof human height. EconHumBiol 2009:7:294-306.
11. Chittawatanarat K, Pruenglampoo S, PhD, Trkulhoon V, Ungpinitpong W, Patumanond J. Height
prediction from anthropometri clenghtparameters in Thaipeople. Asia Pac J ClinNutr 2012;21
(3):347-354
12. Canda A. Stature estimation from body segment lenghts in youngadultsapplication to people
with physical disabilitiesJ PltysiolAnthropo2009; 28: 71-82
13. Yousafzai AK, Filteau SM, Wirz SL, Cole TJ. Compatisonofarmspan, armlenghtandtibilenght as
predictors of actual heightofdisabled andn ondisabledchildren in Dharavi, Mumbai, India. Europ
J ClinNutrition (2003) 57, 12301234
14. Lindsay R, Cosman F, Zhou H, Bostrom MP, Shen VW. Cruz JD, etal. A novel
tetracyclinelabelingschedulefor

longitudinal

evaluationoftheshort-term

effectsofanabolictherapywith a singleiliaccrestbonebiopsy:earlyactionofteriparatide. J Bone


MinerRes 2006; 21(3):366-73.

37

LAMPIRAN

INFORMED CONSENT
PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Selamat Pagi/Siang/Sore
Perkenalkan kami dari kelompok FK UPN dan FK TRISAKTI bermaksud melakukan penelitian
mengenai PENENTUAN TINGGI BADAN BERDASARKAN PANJANG TULANG TIBIA .
Penelitian ini dilakukan untuk memenuhi tugas dan syarat ujian dalam kepaniteraan klinik
Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro RSUP Dr. Kariadi
Semarang.

38

Kami berharap Saudara/i bersedia menjadi responden dalam penelitian ini dimana akan
dilakukan pendataan tentang biodata Saudara/i yang terkait dengan penelitian ini. Semua
informasi Saudara/i berikan terjamin kerahasiaannya.
Saudara/i akan dilakukan pengukuran panjang tulang kering dan tinggi badan. Saudara/i akan
diminta untuk berdiri dengan posisi tegak dengan tidak menggunakan alas kaki dengan
punggung menempel pada alat antropometer lalu akan diukur tinggi badan dari ujung kepala
sampai ujung kaki. Kemudian untuk pengukuran tulang kering Saudara/i akan dilakukan
pengukuran dengan menggunakan meteran, diukur dengan mengukur jarak antara bagian paling
proximal dari condylus medialis tibia sampai ke bagian paling distal dari maleolus medialis.
Pengukuran dilakukan dengan posisi peserta berdiri dengan salah satu kaki dan kaki yang diukur
diletakkan diatas kursi dengan posisi lutut di semi fleksi.
Setelah Saudara/i membaca maksud dan kegiatan penelitian diatas, maka kami mohon untuk
mengisi nama dan tanda tangan dibawah ini.
Saya setuju untuk ikut serta dalam penelitian ini.
Nama

:_________________________________________

Umur

:_________________________________________

Tanda Tangan :_________________________________________

____________________________

Semarang,__________________2015

Tanda Tangan dan Nama Peneliti


Biodata Responden untuk Penelitian PENENTUAN TINGGI BADAN BERDASARKAN
PANJANG TULANG TIBIA
Nama

:.................................................................................................................

Usia

:.................................................................................................................

Tempat Tanggal Lahir :.................................................................................................................


Alamat asal

:.................................................................................................................
..................................................................................................................

Nomor HP

:.................................................................................................................

Asal FK

:.................................................................................................................

39

Jenis Kelamin

:.................................................................................................................

Periode Siklus Forensik :..............................................................................................................


Riwayat Penyakit yang berhubungan dengan tulang :.................................................................
Tinggi Badan

: ................................................................................................................

Panjang Tibia

:.................................................................................................................

Lampiran Data RespondenPerempuan


FK UNDIP
NO
1
2
3
4
5
6
7
8

NAMA
C
M
A
J
A
A
M
B

JENIS
KELAMIN
P
P
P
P
P
P
P
P

TINGGI
BADAN
176 cm
150 cm
162 cm
145cm
150cm
150cm
153cm
156cm

PANJANG
TIBIA
41 cm
38 cm
38 cm
32 cm
35cm
35cm
37cm
36cm

FK
Atmajaya
40

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
FK UNIB
1
2
3
4
FK
UKRIDA
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
FK UKI
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

S
A
I
T
Y
E
D
M
F
J
C
E

P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P

157cm
157cm
151cm
158cm
157 cm
165cm
173cm
167cm
165cm
155cm
155cm
165cm

36cm
35cm
36cm
36cm
36cm
38cm
40cm
40cm
38cm
37cm
37cm
37cm

A
F
U
I

P
P
P
P

161 cm
160cm
156cm
158cm

38cm
37cm
38cm
35cm

L
F
S
O
G
M
M
V
B
O
S
E
R

P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P

155cm
162cm
151cm
156cm
163cm
163cm
151cm
171cm
162cm
153cm
155cm
161cm
164cm

37cm
38cm
34cm
37cm
37cm
38cm
35cm
40cm
38cm
34cm
34cm
37cm
37cm

L
F
G
M
C
G
N
R
F
G
P

P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P

166cm
160cm
155cm
164cm
154cm
160cm
159cm
163cm
158cm
161cm
157cm

37cm
39cm
37cm
38cm
37cm
38cm
37cm
40cm
37 cm
37cm
37cm
41

12
13
14
15
16
FK
TRISAKTI
1
2
3
4
5
6
7
FK
ABDURA
B
1
2
3
4
FK UPN
1
2
3
4
5
6

A
I
B
A
M

P
P
P
P
P

154cm
155cm

36cm
35 cm

158cm
165cm

37cm
39cm

D
B
O
T
N
F
P

P
P
P
P
P
P
P

161cm
165cm
158cm
159cm
150cm
156cm
158cm

37cm
38cm
35cm
35cm
34cm
36cm
37cm

N
D
D
N

P
P
P
P

152cm
154cm
151cm
154cm

34cm
34cm
34cm
35cm

A
A
R
N
K
L

P
P
P
P
P
P

158cm
156cm
171 cm
164 cm
166cm
161 cm

35cm
37cm
41 cm
39cm
37cm
36cm

Lampiran Data RespondenPria


FK
UNDIP
NO
1
2
3
4

NAMA
G
D
R
H

JENIS
KELAMIN
L
L
L
L

TINGGI
BADAN
170cm
179cm
163cm
178cm

PANJANG
TIBIA
39cm
44cm
40cm
43cm

L
L

178cm
172 cm

41cm
40 cm

FK
Atmajaya
1 N
2 S

42

3
4
5
6
7
8

A
E
K
A
F
I

L
L
L
L
L
L

165 cm
165cm
170cm
176cm
175 cm
171 cm

40 cm
40 cm
40 cm
41 cm
40 cm
41cm

1 G
2 J

L
L

174 cm
168cm

43 cm
40 cm

1
2
3
4
5
6
7

K
A
R
H
R
S
H

L
L
L
L
L
L
L

181 cm
175cm
174 cm
165cm
181cm
!79cm
175cm

44cm
42cm
39cm
39cm
40cm
42cm
38cm

1
2
3
4

J
T
L
I

L
L
L
L

168cm
163cm
160cm
173cm

38cm
39cm
38cm
39cm

T
F
Y
H
I

L
L
L
L
L

172cm
170cm
171 cm
163cm
166cm

43cm
40cm
40 cm
35cm
40cm

H
M
I

L
L
L

170cm
175cm
168cm

39cm
41cm
40cm

FK UNIB

FK
UKRIDA

FK UKI

FK
TRISAKT
I
1
2
3
4
5
FK UPN
1
2
3

43

HUBUNGAN PANJANG TIBIA DAN TINGGI BADAN PRIA

44

45

Case Processing Summary


Cases
Valid
N

Missing
Percent

Total

Percent

Percent

TinggiBadanPria

33

100.0%

.0%

33

100.0%

PanjangTibiaPria

33

100.0%

.0%

33

100.0%

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova
Statistic

df

Shapiro-Wilk
Sig.

Statistic

df

Sig.

.972

33

.533

.927

33

.029

TinggiBadanPria

.081

33

.200

PanjangTibiaPria

.218

33

.000

a. Lilliefors Significance Correction


*. This is a lower bound of the true significance.

Correlations
TinggiBadanPria
TinggiBadanPria

Pearson Correlation

PanjangTibiaPria
.634**

Sig. (2-tailed)

.000

N
PanjangTibiaPria

Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)

33

33

.634**

.000

33

33

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Model Summary
Model
R
dimen

R Square
.634a

.402

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate
.383

4.421

sion0

a. Predictors: (Constant), PanjangTibiaPria

46

ANOVAb
Model
1

Sum of Squares

df

Mean Square

Regression

407.053

407.053

Residual

605.917

31

19.546

1012.970

32

Total

Sig.
.000a

20.826

a. Predictors: (Constant), PanjangTibiaPria


b. Dependent Variable: TinggiBadanPria

Coefficientsa
Model

Standardized
Unstandardized Coefficients
B

(Constant)
PanjangTibiaPria

Std. Error
94.605

16.824

1.906

.418

Coefficients
Beta

.634

Sig.
5.623

.000

4.564

.000

a. Dependent Variable: TinggiBadanPria

TB : 94.605 + 1.906 (Panjang Tibia Pria)

HUBUNGAN PANJANG TIBIA DAN TINGGI BADAN PADA PEREMPUAN

47

48

Case Processing Summary


Cases
Valid
N

Missing
Percent

Total

Percent

Percent

TinggiBadan

70

100.0%

.0%

70

100.0%

PanjangTibiaPerempuan

70

100.0%

.0%

70

100.0%

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova
Statistic

df

Shapiro-Wilk
Sig.

Statistic

df

Sig.

TinggiBadan

.102

70

.069

.976

70

.210

PanjangTibiaPerempuan

.171

70

.000

.956

70

.015

a. Lilliefors Significance Correction

Correlations
PanjangTibiaPere
TinggiBadan
TinggiBadan

Pearson Correlation

mpuan
1

Sig. (2-tailed)
N
PanjangTibiaPerempuan

Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N

.797**
.000

70

70

.797**

.000
70

70

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

49

Correlations
PanjangTibiaPere
TinggiBadan
TinggiBadan

Pearson Correlation

mpuan
.797**

Sig. (2-tailed)

.000

N
PanjangTibiaPerempuan

Pearson Correlation

70

70

**

.797

Sig. (2-tailed)

.000

70

70

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Model Summary
Model
R
dimen

Std. Error of the

Square

Estimate

R Square
.797a

Adjusted R

.636

.631

3.62735

sion0

a. Predictors: (Constant), PanjangTibiaPerempuan

ANOVAb
Model
1

Sum of Squares
Regression
Residual
Total

df

Mean Square

1562.721

1562.721

894.722

68

13.158

2457.443

69

F
118.769

Sig.
.000a

a. Predictors: (Constant), PanjangTibiaPerempuan


b. Dependent Variable: TinggiBadan

50

Coefficientsa
Model

Standardized
Unstandardized Coefficients
B

(Constant)
PanjangTibiaPerempuan

Std. Error
62.345

8.849

2.622

.241

Coefficients
Beta

.797

Sig.
7.045

.000

10.898

.000

a. Dependent Variable: TinggiBadan

TB : 62.345 + 2.622 (Panjang Tibia Perempuan)


HUBUNGAN PANJANG TIBIA DAN TINGGI BADAN PADA PRIA DAN WANITA

51

Case Processing Summary


Cases
Valid
N

Missing
Percent

Total

Percent

Percent

TinggiBadan

103

100.0%

.0%

103

100.0%

PanjangTibiaKeseluruhan

103

100.0%

.0%

103

100.0%

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova
Statistic

Df

Shapiro-Wilk
Sig.

Statistic

df

Sig.

TinggiBadan

.093

103

.027

.972

103

.026

PanjangTibiaKeseluruhan

.123

103

.001

.971

103

.022

a. Lilliefors Significance Correction

52

Correlations
PanjangTibiaKese
luruhan
PanjangTibiaKeseluruhan

TinggiBadan

Pearson Correlation

.866**

Sig. (2-tailed)

.000

N
TinggiBadan

Pearson Correlation

103

103

**

.866

Sig. (2-tailed)

.000

103

103

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).


Coefficientsa
Model

Standardized
Unstandardized Coefficients
B

(Constant)

Std. Error
51.669

6.403

2.933

.169

PanjangTibiaKeseluruhan

Coefficients
Beta

.866

Sig.
8.069

.000

17.378

.000

a. Dependent Variable: TinggiBadan

Model Summary
Model
R
dimen

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate

R Square
.866

.749

.747

4.18222

sion0

a. Predictors: (Constant), PanjangTibiaKeseluruhan

ANOVAb
Model
1

Sum of Squares

df

Mean Square

Regression

5282.244

5282.244

Residual

1766.591

101

17.491

Total

7048.835

102

F
301.998

Sig.
.000a

a. Predictors: (Constant), PanjangTibiaKeseluruhan


b. Dependent Variable: TinggiBadan

53

Persamaan Regresi Linier : 51.669 + 2.993 (Panjang Tibia)

54