Anda di halaman 1dari 8

PEMILIHAN PRESIDEN SECARA LANGSUNG

Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa
kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang
Dasar. Salah satu wujud dari kedaulatan rakyat adalah penyelenggaraan Pemilihan
Umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden yang dilaksanakan secara
demokratis dan beradab melalui partisipasi rakyat seluas-luasnya berdasarkan asas
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
Pasal 6A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan
bahwa Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung
oleh rakyat. Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh Partai
Politik atau Gabungan Partai Politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan
Pemilihan Umum.
Untuk menjamin pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden yang berkualitas,
memenuhi derajat kompetisi yang sehat, partisipatif, dan dapat
dipertanggungjawabkan perlu dibentuk suatu Undang-undang tentang Pemilu
Presiden dan Wakil Presiden yang sesuai dengan perkembangan demokrasi dan
dinamika masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Oleh karena itu
perlu dilakukan penggantian terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003
tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.
Undang-Undang ini mengatur mekanisme pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden untuk menghasilkan Presiden dan Wakil Presiden yang memiliki integritas
tinggi, menjunjung tinggi etika dan moral, serta memiliki kapasitas dan kapabilitas
yang baik. Untuk mewujudkan hal tersebut, dalam Undang-Undang ini diatur
beberapa substansi penting yang signifikan antara lain mengenai persyaratan Calon
Presiden dan Wakil Presiden wajib memiliki visi, misi, dan program kerja yang akan
dilaksanakan selama 5 (lima) tahun ke depan. Dalam konteks penyelenggarakan
sistem pemerintahan Presidensiil, menteri yang akan dicalonkan menjadi Presiden
atau Wakil Presiden harus mengundurkan diri pada saat didaftarkan ke Komisi
Pemilihan Umum. Selain para Menteri, Undang-Undang ini juga mewajibkan kepada
Ketua Mahkamah Agung, Ketua Mahkamah Konstitusi, Pimpinan Badan Pemeriksa
Keuangan, Panglima Tentara Nasioanal Indonesia, Kepala Kepolisian Negara
Republik Indonesia, dan Pimpinan Komisi Pembrantasan Korupsi harus
mengundurkan diri apabila dicalonkan menjadi Presiden dan Wakil
Presiden. Pengunduran diri para pejabat negara tersebut dimaksudkan untuk
kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan terwujudnya etika politik
ketatanegaraan. Untuk menjaga etika penyelenggaraan pemerintahan,
gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, atau walikota/wakil walikota perlu
meminta izin kepada Presiden pada saat dicalonkan menjadi Presiden atau Wakil
Presiden.
Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia terpilih adalah pemimpin bangsa,
bukan hanya pemimpin golongan atau kelompok tertentu saja, untuk itu, dalam
rangka membangun etika pemerintahan terdapat semangat bahwa Presiden atau
Wakil Presiden terpilih tidak merangkap jabatan sebagai Pimpinan Partai Politik yang
pelaksanaannya diserahkan kepada masing-masing Partai politik.

Lembaga Kepresidenan
Hasil perubahan UUD 1945 yang berkaitan langsung dengan kekuasaan presiden
dan wakil presiden, adalah pembatasan kekuasaan Presiden sebagaimana diatur
dalam Pasal 7 (lama), yang berbunyi Presiden dan Wakil Presiden memegang
jabatannya selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali. Penegasan
didalam Pasal 7 dipandang terlalu fleksibel untuk ditafsirkan. Bahkan Soeharto
pernah mengatakan, tentang beberapa kali seseorang dapat menjabat Presiden
sangatlah bergantung pada MPR.
Jadi tidak perlu dibatasi, asal masih dipilih oleh MPR, ia dapat terus menjabat
Presiden dan / atau Wakil Presiden. Dan Soeharto lah yang telah menikmati
kebebasan jabatan itu karena ia sendiri yang membuat tafsir atas UUD, MPR tinggal
mengamininya. Kemudian, Pasal 7 diubah, yang bunyinya menjadi : Presiden dan
Wakil Presiden memegang Jabatannya selama lima tahun, dan sesudahnya dapat
dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa
jabatan. Perubahan pasal ini dipandang sebagai langkah yang tepat untuk
mengakhiri perdebatan tentang periodisasi jabatan Presiden dan Wakil Presiden.
Aspek perimbangan kekuasaan hubungan antara Presiden dan DPR, Presiden dan
Mahkamah Agung tampak dalam perubahan Pasal 13 dan 14. Perubahan terhadap
pasal-pasal ini dapat dikatakan sebagai pengurangan atas kekuasaan Presiden yang
selama ini dipandang sebagai hak prerogratif. Perubahan Pasal 13 berbunyi sebagai
berikut :
(1) . Dalam hal mengangkat duta, Presiden memperhatikan pertimbangan Dewan
Perwakilan Rakyat.
(2). Presiden menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan
pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat.
Adanya pertimbangan dari Dewan Perwakilan Rakyat pada ayat (1), ini penting
dalam rangka menjaga obyektifitas terhadap kemampuan dan kecakapan
seseorang pada jabatan tersebut. Karena ia akan menjadi duta dari seluruh rakyat
Indonesia di negara lain dimana ia ditempatkan pada khususnya dan di mata
Internasional pada umumnya. Adanya pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Pada
ayat (2), dipandang sangat tepat karena hal ini penting bagi akurasi informasi untuk
kepentingan hubungan baik antara kedua negara dan bangsa.
Perubahan Pasal 14 berbunyi sebagai berikut :
(1). Presiden memberikan grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan
pertimbangan Mahkamah Agung.
(2). Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan
Dewan Perwakilan Rakyat.
Alasan perlunya Presiden memperhatikan pertimbangan dari Mahkamah Agung
dalam pemberian grasi dan rehabilitasi adalah pertama, grasi dan rehabilitasi itu
adalah proses yustisial dan biasanya diberikan kepada orang yang sudah
mengalami proses, sedang amnesti dan abolisi ini lebih bersifat proses

politik. Kedua, grasi dan rehabilitasi itu lebih banyak bersifat perorangan,
sedangkan amnesti dan abolisi biasanya bersifat massal. Mahkamah Agung (MA)
sebagai lembaga peradilan tertinggi adalah lembaga negara paling tepat
memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai hal itu karena grasi
menyangkut putusan hakim sedangkan rehabilitasi tidak selalu terkait dengan
putusan hakim.
Perubahan Pasal 15 berbunyi sebagai berikut : Presiden memberi gelar, tanda
jasa, dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan Undang-Undang.
Perubahan pasal ini berdasarkan perimbangan agar Presiden dalam memberikan
berbagai tanda kehormatan kepada siapapun (baik warga negara, orang asing,
badan atau lembaga) didasarkan pada Undang-Undang yang merupakan hasil
pembahasan DPR bersama Pemerintah sehingga berdasarkan pertimbangan yang
lebih obyektif.
Perubahan lain terjadi pada mekanisme pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
sebagaimana diatur dalam Pasal 6, yang sebelumnya Presiden dan Wakil Presiden
dipilih oleh MPR dengan suara terbanyak, berubah menjadi Presiden dan Wakil
Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat, (Pasal 6 A
ayat(1) ). Ayat (3) menyatakan Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang
mendapatkan suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara dalam pemilihan
umum dengan sedikitnya duapuluh persen suara di setiap provinsi yang tersebar di
lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil
Presiden.
Pasal 6A ayat (4) tentang putaran ke dua pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
apabila diputaran pertama tidak ada kandidat yang terpilih, maka dikembalikan ke
rakyat untuk dipilh secara langsung. Rumusannya berbunyi: Dalam hal tidak ada
pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih, dua pasangan calon yang
memperolah suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih
oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara terbanyak
dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden.
Pasal 6A ayat (4) ini menjadi dasar hukum dalam penyelenggaraan pemilihan
Presiden dan Wakil Presiden secara langsung pada putaran kedua (second round).
Ketentuan ini merupakan jalan keluar (scape clousul) yang hanya dijalankan jika
dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tidak ditemui persyaratan perolehan
suara sebagaimana ditentukan dalam Pasal 6A ayat (3).
Adanya perubahan dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung
oleh rakyat diharapkan rakyat dapat berpartisipasi secara lengsung menentukan
pilihannya sehingga tidak mengulang kekecewaan yang pernah terjadi pada pemilu
1999. Presiden dan Wakil Presiden akan memiliki otoritas dan legitimasi yang
sangat kuat karena akan dipilih langsung oleh rakyat.
Perubahan UUD 1945 mengenai alasan pemberhentian Presiden dan / atau Wakil
Presiden dalam massa jabatannya diatur dalam Pasal 7A, rumusannya berbunyi
sebagai berikut : Presiden dan / atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam
massa jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan

Perwakilan Rakyat, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum


berupa penghianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat
lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti memenuhi syarat sebagai
Presiden dan /Wakil Presiden.
Adapun prosedur pemberhentian Presiden dan / atau Wakil Presiden dalam massa
jabatannya, diatur dalam Pasal 7B, yang rumusannya berbunyi sebagai berikut :
Usul pemberhentian Presiden dan / atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh Dewan
Perwakilan Rakyat Kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dengan terlebih
dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa,
mengadili dan memutus pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan
/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum berupa penghianatan
terhadap korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela,
dan/ atau pendapat bahwa Presiden dan / atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi
syarat sebagai Presiden dan /atau Wakil Presiden.
Kajian Pasal 2 UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden ditinjau secara
Organisasi.
a. Skema kajian Organisasi
Organisasi: Kerjasama untuk mencapai tujuan: Lahir Organisasi yang terorganisir
dan Organisasi yang tidak terorganisir.
b. Analisis Pasal 2 Undang-Undang Pemilihan Presiden
Pasal 2 UU No. 42 Tahun 2008, berbunyi sebagai berikut : Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden dilaksanakan secara efektif dan efisien berdasarkan asas langsung, umum,
rahasia, jujur dan adil.
Ketentuan Pasal 2 UU No. 42 Tahun 2008, merupakan pelaksanaan dari Pasal 6A
ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi: Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu
pasangan secara langsung oleh rakyat.
Kelemahan Pemilihan Presiden secara langsung ditinjau secara organisasi adalah
sebagai berikut :
1. Sistem pemilihan Presiden langsung hanya akan mempersentasikan suara dari
pulau jawa.
Tidak dapat dipungkiri adanya kenyataan bahwa suara pemilih terbesar ada dipulau
jawa, yang sebagian besar tentunya dihuni oleh suku bangsa jawa.Walaupun belum
ada pembuktian konkrit untuk dugaan ini, logika yang mendasarinya cukup bisa
diterima. Dengan begitu bisa diterima pula asumsi bahwa peluang kandidat yang
berasal dari jawa untuk memenangkan pemilihan akan lebih besar dibandingkan
kandidat dari suku bangsa diluar suku bangsa jawa, dan tentunya ini akan
menimbulkan dampak turunan terhadap semakin mencuatnya sentimen anti jawa
dari suku suku bangsa lainya yang terutama ada diluar jawa.
Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, dibeberapa negara seperti Nigeria dan
Kenya yang juga menghadapi persoalan pluralitas kemasyarakatan yang komplek,

disusun suatu sistem pemilu yang mewajibkan sepasang kandidat untuk


memperoleh dukungan lintas kelompok yang luas (crossection). Kandidat Presiden
tidak hanya harus memenangkan masyoritas plural dari suara yang ada, akan tetapi
secara geografis juga harus memperoleh jumlah tertentu dari suara disejumlah
provinsi. Persyaratan distribusi perolehan suara secara geografis ini sekaligus
menuntut para kandidat Presiden untuk melalakukan kampanye lintas regional dari
daerah asal mereka sendiri atau bahkan lintas etnis. Dari praktek-praktek tersebut
diharapkan timbulnya legitimasi yang lebih menyeluruh bagi setiap pemenang
pemilihan Presiden.
2. Sistem ini akan mengurangi fungsi dan peran MPR secara signifikan
Dalam sebuah sistem pemerintahan Presidensil yang menganut sistem perwakilan
bikameral , fungsi MPR memang tidak akan sama lagi dengan yang ada dalam
konstitusi. MPR yang terdiri dari dua kamar DPR dan DPD akan lebih terkonsentrasi
pada fungsi legislasi dan fungsi kontrol, yang sebenarnya bila dilihat dari ruang
lingkup dan jangkauan dari wewenangnya ( scope and domain outhority ) lebih baik
dan lebih signifikan dalam proses penyelenggaraan negara dan pemerintahan
sehari-hari. Mengenai tidak adanya lagi legitimasi MPR untuk meminta
pertanggungjawaban Presiden. Mekanisme impachmentakan lebih nyata dan lebih
konsisten dengan sistem Presidensial, dibandingkan dengan mekanisme
pertanggungjawaban Presiden yang lebih bersifat abstrak dan kenyataannya hanya
berupa laporan (report) akhir tahun massa jabatan semata. Sehingga tidaklah tepat
kiranya bila dikatakan bahwa sistem pemilihan Presiden langsung otomatis akan
meminggirkan peran dan kedudukan MPR dalam berhadapan dengan Presiden.
3. Sistem ini akan memperlemah kedudukan DPR
Meningkatnya legitimasi Presiden tidak berakibat langsung bagi melemahnya
kedudukan DPR. Legitimasi Presiden yang kuat memang merupakan satu hal yang
menjadi tujuan pokok dari sistem presidensial. Namun bukan berarti DPR dan
tentunya juga DPD dalam sebuah sistem perwakilan bikameral akan tetap bisa
berperan dalam memberi arah dan mengawasi kinerja Presiden, melalui wewenangwewenang yang secara konstitusional dimilikinya.Perubahan yang justru akan
ditimbulkan adalah terciptanya kondisi yang lebih baik bagi pelaksanaan
mekanisme checks and balances, dalam penyelenggaraan negara dan
pemerintahan, karena DPR dan DPD semakin tidak diberi peluang untuk
menyalahgunakan kekuasaan yang ada padanya.
4. Sistem Pemilihan ini akan mengurangi atau membatasi kemungkinan
dibentuknya suatu pemerintahan koalisi.
Secara teoritis sistem pemerintahan Presidensial tidak mengenal pemerintahan
koalisi. Hanya sistem parlementer dan sistem semi parlementer yang membuka
peluang bagi model pemerintahan tersebut. Pada dasarnya alternatif pemerintahan
koalisi merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan persoalan kebuntuan
proses politik yang terjadi di parlemen sebagai akibat dari tidak adanya partai
pemenang mayoritas dalam pemilihan anggota parlemen, sehingga dua atau lebih
partai politik terpaksa bergabung (Coalition). Untuk membentuk kabinet yang akan

menjalankan roda pemerintahan sehari-hari.Alternatif lainnya adalah pemerintahan


minoritas yang merupakan suatu cara lain untuk memecah kemandegan politik atas
sebab yang sama. Perbedaannya adalah pemerintahan minoritas hanya diisi oleh
orang-orang berasal dari satu partai politik saja, yang pada umumnya adalah peraih
suara terbanyak diantara partai-partai politik peraih suara lainanya.
Munculnya fenomena dalam pemerintahan Abdurrahman Wahid yang diisi oleh
orang-orang yang memiliki latar belakang partai politik yang berbeda-beda,
sehingga seolah-olah merupakan kabinet koalisi, tidak dapat mengabaikan
kenyataan bahwa wewenang untuk menentukan seseorang diangkat dan
diberhentikan sebagai menteri hanya dimiliki oleh Presiden Abdurrahman Wahid.
Hal itu terpangkat dengan jelas pada saat terjadinya pemberhentian dan
pengangkatan beberapa menteri di massa awal pemerintahan Gus Dur. Oleh karena
itu, perlu disadari bahwa tidak akan pernah terjadi suatu pemerintahan koalisi bila
konstitusi RI tetap menganut sistem presidensial, meskipun sistem pemilihan
presiden tetap dilakukan di MPR. Fenomena pada kabinet pelangi Gus Dur mungkin
bisa terulang di masa depan, namun kenyataan dalam hal itu hanyalah wujud dari
strategi dan kebijakan politik presiden tidak dapat dipungkiri.
5. Sistem pemilihan ini akan memakan biaya besar
Sistem pemilihan presiden langsung yang ideal memang akan mengeluarkan biaya
yang relatif lebih besar dibandingan dengan pemilihan presiden tidak langsung. Hal
itu dikarenakan dalam pemilihan presiden langsung yang ideal, waktu pelaksanaan
pemilu presiden berbeda dengan waktu pelaksanaan pemilu anggota
legislatif. Dasar pemikirannya adalah untuk meminimalisasi terjadinya coattail
effect. Namun, dengan keterbatasan dana yang dimiliki negara saat ini, kiranya
waktu pemilihan presiden dan waktu pemilihan anggota legislatif untuk sementara
dapat dilakukan secara bersamaan.Sehingga penambahan biaya yang harus
dikeluarkan dapat ditekan seminimal mungkin. Selain itu, kondisi pendanaan yang
terbatas ini juga harus menjadi bahan pertimbangan pokok untuk menciptakan
sistem pemilu yang lebih sederhana hanya satu putaran, namun menghasilkan
tingkat legitimasi yang memadai bagi kandidat yang memenangkan pemilihan.
Kajian Pasal 5 (p) UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pilpres ditinjau dari Stratifikasi
a. Skema kajian Stratifikasi
Berhubungan dengan harta kekayaan / sosial ekonomi : uang, benda
bernilaiekonomi, tanah, kekuasaan, IPTEK, Kesolehan dalam agama, keturunan
keluarga, terhormat dan sebagainya.
b. Analisis Pasal 5(p) UU No. 42 tentang Pilpres.
Pasal 5(p) UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pilpres berbunyi : Persyaratan menjadi
calon Presiden dan calon Wakil Presiden adalah berpendidikan paling rendah tamat
sekolah menengah atas, Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Madrasah Aliyah Kejuruan ( MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

Kontroversi syarat menjadi calon presiden dan wakil presiden berpendidikan paling
rendah setingkat SMA atau yang sederajat. Sebagaimana yang diatur dalam Pasal 5
(p) UU Pilpres, adalah adanya keinginan berbagai pihak agar persyaratan calon
presiden dan wakil presiden ditingkatkan pendidikannya dari SMA atau yang
sederajat menjadi Lulusan S1 ( Sarjana).
Keinginan tersebut meniadakan roh aturan-aturan pokok konstitusi, setiap ayat
yang bertentangan dengan semangat konstitusi sesungguhnya merupakan
pelanggaran. Syarat lulus S1 bertentangan dengan Pasal 6 ayat (1) UUD 1945 yang
berbunyi : Calon Presiden dan Wakil Presiden harus WNI sejak kelahirannya dan
tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri, tidak
pernah mengkhianati negara, serta mampu secara rokhani dan jasmani untuk
melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai presiden dan wakil presiden.
Adalah setengah benar premis lulusan sarjana berwawasan luas dan memliliki
kemampuan analisis. Itulah wawasan dan kemampuan yang bermanfaat untuk
mengambil keputusan yang tepat. Yang jelas pendidikan bukan variabel
mutlak.Masih ada variabel lain yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang
mumpuni seperti kejujuran, integritas serta keberanian mengambil
keputusan. Semua kualitas itu kiranya tidak didapatkan dari pendidikan formal yang
kian kapitalistik dan pragmatis.
Kualitas kepribadian itu justru lebih dominan dibentuk dilingkungan mulai dari
keluarga hingga sosialisasi dalam masyarakat. Belajar hidup bermasyarakat itulah
universal kehidupan rakyat tidak mungkin jabatan yang harus mempunyai
pendidikan seperti jadi Jaksa Agung, Hakim, dan Polisi. Untuk mengisi jabatan itu
tidak menggeluti bidang hukum adalah kebodohan bila tidak mengharuskan
kapasitas dan kompetensi seorang sarjana hukum. Karena jabatan itu harus
mempunyai keahlian dalam bidang hukum bila tidak maka akan terjadi kerusakan
hukum atau kekacauan hukum. Dengan demikian, inilah jabatan yang tidak
mencerminkan demokrasi secara luas.
Syarat sarjana untuk seorang calon presiden adalah tuntuntan yang mengadaada.Presiden adalah jabatan yang membutuhkan bobot kepemimpinan lebih
dominan dari pada keahlian. Karena itu, ini adalah jabatan yang bisa diisi oleh
mereka yang memiliki kapabilitas dan kapasitas serta kecakapan memimpin. Jelas
ini bukan jabatan spesialis, tapi generalis.
Karena itu, kembalikan saja pada perintah dan semangat konstitusi dalam
menentukan calon presiden. Janganlah dikarang-karang syarat yang mengganjal
calon tertentu agar memuluskan calon yang lain. Undang-Undang harus
dikembalikan pada asas dasarnya yang impersonal. Supremasi hukum mengandung
hakikat bahwa manusia harus taat kepada undang-undang, bukan undang-undang
yang taat kepada kemauan manusia atau untuk kepentingan kelompok politik
saja.Hanya dengan begitu supremasi hukum dapat ditegakkan.
Kajian Pasal 9 UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pilpres
a. Skema kajian Morfologi

Morfologi : Hukum lebih berpihak kepada mereka yang berada dalam kehidupan
sosial tinggi ( dalam hal ini adalah Partai Politik ).
b. Analisis Pasal 9 UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pilpres.
Bunyi Pasal 9 UU No. 42 Tahun 2008, berbunyi : Pasangan calon diusulkan oleh
partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang memenuhi
persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 %(dua puluh persen ) dari jumlah kursi
DPR atau memperoleh 25 % ( dua puluh lima persen ) dari suara sah nasional dalam
pemilu anggota DPR, sebelum pelaksanaan pemilu Presiden dan Wakil Presiden.
Ketentaun tersebut tidak bertentangan dengan konstitusi dan tidak diskriminatif
walaupun beberapa partai politik menyatakan keberatan bahkan sampai
mengajukan uji material atau judicial review ke Mahkamah Konstitusi.

Anda mungkin juga menyukai