Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Pielonefritis adalah infeksi saluran kemih ascending yang telah mencapai

pyelum(panggul) dari ginjal (nephros). Pielonefritis umumnya disebabkan oleh


Escherichia coli(bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus besar).
Bakteri ini merupakan penyebab dari 90% infeksi ginjal diluar rumah sakit dan
penyebab dari 50% infeksi ginjaldi rumah sakit. Infeksi biasanya berasal dari daerah
kelamin yang naik ke kandung kemih. Pielonefritis menunjukkan adanya infeksi
bakteri pada parenkim ginjal. Pielonefritis initermasuk dalam infeksi saluran kemih
bagain atas.
Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah
olehaliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter
di tempatmasuknya ke kandung kemih. Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air
kemih (misalnya batu ginjal) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam
ureter, akanmeningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ginjal.
Saluran kemih merupakan tempat yang relatif sering mengalami infeksi pada
bayidan anak kecil. Infeksi saluran kemih (ISK) pada anak sering ditemukan dan
merupakan penyebab kedua morbiditas penyakit infeksi pada anak, sesudah infeksi
saluran napas.Prevalensi pada anak wanita berkisar 3-5 % dan pada anak pria 1%.
Infeksi oleh bakretiGram negatif enterookus merupakan penyebab terbanyak, tetapi
virus dan fungus dapat juga ditemukan pada beberapa penderita. Infeksi berulang
sering terjadi pada penderitayang rentan, atau terjadi karena adanya kelaianan
anatomik atau fungsional saluran kemihyang menyebabkan adanya stasis urin atau
refluk. Refluks vesicoureteral ini merupakanfaktor risiko yang paling penting dalam
terjadinya pielonefritis pada anak-anak. Refluksvesicoureteral terdeteksi pada sekitar

10% sampai 45% dari anak-anak yang memilikigejala ISK. Sekitar 95 % kasus ISK
pada anak-anak adalah akibat dari penyebaranAsenden. Oleh karena itu perlu
pengenalan dini dan pengobatan yang adekuat untuk mempertahankan fungsi ginjal
dan mencegah kerusakan yang lebih lanjut.
1.2

RUMUSAN MASALAH
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apa yang dimaksud dengan penyakit Pielonefritis ?


Apa saja klasifikasi dari penyakit Pielonefritis?
Bagaimana epidemiologi penyakit Pielonefritis?
Apa saja etiologi yang menyebabkan penyakit Pielonefritis?
Bagaimana patofisiologi dari penyakit Pielonefritis?
Bagaimana tanda dan gejala yang ditimbulkan dari penyakit

Pielonefritis?
7. Bagaimana komplikasi yang ditimbulkan dari Pielonefritis?
8. Apa saja diagnosis untuk menegakkan penyakit Pielonefritis?
9. Bagaimana penatalaksanaan dalam penyakit Pielonefritis?
10. Bagaimana prognosis yang dihasilkan dari Pielonefritis?
1.3

TUJUAN MASALAH
1. Mengetahui definisi penyakit Pielonefritis.
2. Mengetahui klasifikasi penyakit Pielonefritis.
3. Mengetahui epidemiologi penyakit Pielonefritis.
4. Mengetahui etiologi penyakit Gagal ginjal kronik..
5. Mengetahui patogenesis/patofisiologi penyakit Pielonefritis.
6. Mengetahui tanda dan gejala penyakit Pielonefritis.
7. Mengetahui komplikasi yang terjadi akibat Pielonefritis.
8. Mengetahui diagnosis penyakit Pielonefritis.
9. Mengetahui penatalaksanaan penyakit Pielonefritis.
10. Mengetahui prognosis penyakit Pielonefritis.
BAB II
PEMBAHASAN

1.1

DEFINISI PIELONEFRITIS

Pyelonefritis

adalah

peradangan

pada

pielum

dengan

manifestasi

pembentukan jaringan parut pada ginjal dan dapat menyebabkan kerusakan pada
ginjal, gagal ginjal, pembentukan abses (misalnya nefrik, perinefrik), sepsis, syok,
atau kegagalan multisistem (Muttaqin. 2011).
Pyelonefritis merupakan suatu infeksi dalam ginjal yang dapat timbul secara
hematogen atau retrograd aliran ureterik (Underwood. 1999).
Pyelonefritis merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus, dan jaringan
interstisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai kandung kemih melalui
uretra dan naik ke ginjal. Meskipun ginjal menerima 20% - 25% curah jantung,
bakteri jarang mencapai ginjal melalui darah; kasus penyebaran secara hematogen
kurang dari 3%.
Pyelonefritis sering sebagai akibat dari refluks uretero vesikal, dimana katup
uretrovresikal yang tidak kompeten menyebabkan urin mengalir baik (refluks) ke
dalam ureter. Obstruksi traktus urinarius yang meningkatkan kerentanan ginjal
terhadap infeksi), tumor kandung kemih, striktur, hyperplasia prostatik benigna, dan
batu urinarius merupakan penyebab yang lain.
Inflamasi pelvis ginjal disebut Pyelonefritis , penyebab radang pelvis ginjal
yang paling sering adalah kuman yang berasal dari kandung kemih yang menjalar
naik ke pelvis ginjal. Pyelonefritis ada yang akut dan ada yang kronis (Tambayong.
2000).
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal, tubulus, dan jaringan
interstinal dari salah satu atau kedua ginjal ( Brunner & Suddarth, 2002).
Pielonefritis adalah inflamasi atau infeksi akut pada pelvis renalis, tubula dan
jaringan interstisiel. Penyakit ini terjadi akibat infeksi oleh bakteri enterit (paling
umum adalah Escherichia Coli) yang telah menyebar dari kandung kemih ke ureter
dan ginjal akibat refluks vesikouretral. Penyebab lain pielonefritis mencakup

obstruksi urine atau infeksi, trauma, infeksi yang berasal dari darah, penyakit ginjal
lainnya, kehamilan, atau gangguan metabolik (Sandra M. Nettina, 2001).
1.2

KLASIFIKASI PIELONEFRITIS
1. Pieolonefritis Akut
Pielonefritis akut biasanya singkat dan sering terjadi infeksi berulang
karenaterapi tidak sempurna atau infeksi baru. Dimana 20% dari infeksi yang
berulangterjadi dua minggu setelah terapi selesai. Infeksi bakteri dari saluran
kemih bagian bawah ke arah ginjal, hal ini akan mempengaruhi fungsi ginjal.
Infeksi saluranurinarius atas dikaitkan dengan selimut antibodi bakteri dalam
urin. Ginjal biasanya membesar disertai infiltrasi interstisial sel-sel inflamasi.
Abses dapatdijumpai pada kapsul ginjal dan pada taut kortikomedularis. Pada
akhirnya, atrofi dan kerusakan tubulus serta glomerulus terjadi (Indra, 2011).
Pielonefritis akut merupakan salah satu penyakit ginjal yang seringditemui.
Gangguan ini tidak dapat dilepaskan dari infeksi saluran kemih. Infeksiginjal
lebih sering terjadi pada wanita, hal ini karena saluran kemih bagian
bawahnya (uretra) lebih pendek dibandingkan laki-laki, dan saluran
kemihnyaterletak berdekatan dengan vagina dan anus, sehingga lebih cepat
mennapai kandung kemih dan menyebar ke ginjal. Insiden penyakit ini juga
akan bertambah pada wanita hamil dan pada usia di atas 4% tahun. 7emikian
pula, penderita kencing manis diabetes mellitus dan penyakit ginjal lainnya
lebih mudah terkenainfeksi ginjal dan saluran kemih (Indra, 2011)
2. Pielonefritis Kronik
Pielonefritis kronis juga berasal dari adanya bakteri, tetapi dapat juga karena
faktor lain seperti obstruksi saluran kemih dan refluk urin. Dapat merusak
jaringan ginjal secara permanen akibat inflamasi yang berulan kali dan
timbulnya parut dan dapat menyebabkan terjadinya renal failure (gagalginjal)
yang kronis. Ginjal pun membentuk jaringan parut progresif, berkontraksidan
tidak berfungsi. Proses perkembangan kegagalan ginjal kronis dari

infeksiginjal yang berulang'ulang berlangsung beberapa tahun atau setelah


infeksi yang gawat.
1.3

EPIDEMIOLOGI PIELONEFRITIS
Pielonefritis adalah penyakit yang sangat umum, dengan 12-13 kasus per

tahun per 10.000 penduduk pada wanita dan 3-4 kasus per 10.000 pada pria. Dan
wanita muda paling mungkin menderita penyakit ini, karena adanya aktivitas seksual.
Bayi dan orang tua juga berisiko tinggi, karena adanya perubahan anatomi dan status
hormonal. Pielonefritis kronis 2 kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan
pada pria. Dan pielonefritis kronis terjadi lebih sering pada bayi dan anak-anak muda
dibandingkan dengan anak yang lebih tua dan orang dewasa (Indra, 2011)
Lebih dari 250.000 kasus terjadi di AS setiap tahun, dan 200.000 diantaranya
memerlukan perawatan di rumah sakit (data 1997). Menurut literatur lain disebutkan
bahwa angka kejadian pielonefritis yaitu 280 kasus per 100.000 perempuan dengan
rentang umur 18 sampai 49 tahun. Sebanyak 7% pasien memerlukan perawatan di
rumah sakit.
1.4

ETIOLOGI PIELONEFRITIS

Penyebab dari pielonefritis meliputi hal-hal sebagai berikut:


1. Uropatogen, agen bakteri, meliputi Escherichia coli, klebsiella, proteus, dan
staphylococcus aureus.
2. Infeksi kandung kemih. Terutama pada kondisi statis kemih akibat batu
saluran kemih, refluks vesikoureter dan penurunan imunitas pada proses
penuaan, serta penigkatan kadar glukosa dalam urine pada pasien diabetes
mellitus dimana akan menyebabkan pertumbuhan bakteri lebih besar. (Afif
Muttaqin & Kumala Sari,2011)

1.4

PATOFISIOLOGI PIELONEFRITIS

Umumnya bakteri seperti Eschericia coli, Streptococus fecalis, Pseudomonas


aeruginosa,dan Staphilococus aureus yang menginfeksi ginjal berasal dari luar tubuh
yang masuk melalui saluran kemih bagian bawah (uretra),merambat ke kandung
kemih, lalu ke ureter (saluran kemih bagianatas yangmenghubungkan kandung kemih
dan ginjal) dan tibalah ke ginjal, yang kemudianmenyebar dan dapat membentuk
koloni infeksi dalam waktu 24-48 jam. Infeksi bakteri pada ginjal juga dapat
disebarkan melalui alat- alat seperti kateter dan bedah urologis. Bakteri lebih mudah
menyerang ginjal bila terdapat hambatan atau obstruksi saluran kemih yang
mempersulit pengeluaran urin, seperti adanya batu atau tumor. Patogenesis ISK
sangat kompleks karena tergantung banyak faktor seperti faktor penjamu dan faktor
organismenya. Bakteri dalam urin bisa berasal dari ginjal, pielum, ureter, vesika
urinaria atau dari uretra. Timbulnya suatu infeksi di saluran kemih tergantung dari
faktor predisposisi dan factor pertahanan tubuh penderita yang masih belum diketahui
dengan pasti.2 Bakteri dalam urin dapat berasal dari ginjal, ureter, vesika urinaria
atau

dariuretra.

Beberapa

predisposisi

pielonefritis

adalah

obstruksi

urin,

kelainanstruktur, urolitiasis, benda asing, refluks. Bakteri uropatogenik yang melekat


pada pada sel uroepitelial, dapat mempengaruhi kontraktilitas otot polos dinding
ureter,dan

menyebabkan

gangguanAsystem

ureter.

Melekatnya

bakteri

ke

seluroepitelial, dapat meningkatkan virulensi bakteri tersebut (Hanson, 1999 dalam


Kusnawar, 2001)
Mukosa kandung kemih dilapisi oleh glypoprotein mucin layer yang berfungsi
sebagai anti bakteri. Rusaknya lapisan ini akibat dari mekanisme invasi bakteri
seperti pelepasan toksin dapat menyebabkan bakteri dapat melekat,membentuk koloni
pada permukaan mukosa, masuk menembus epitel dan selanjutnya terjadi
peradangan. Bakteri dari kandung kemih dapat naik ke ureter dan sampai ke ginjal
melalui lapisan tipis cairan (films of fluid), apalagi bila ada refluks vesikoureter
maupun refluks intrarenal. Bila hanya vesika urinaria yang terinfeksi, dapat
mengakibatkan iritasi dan spasme otot polos vesika urinaria,akibatnya rasa ingin

miksi terus menerus (urgency) atau miksi berulang kali(frekuensi), dan sakit waktu
miksi (disuria). Mukosa vesika urinaria menjadi edema, meradang dan perdarahan
(hematuria). Infeksi ginjal dapat terjadi melalui collecting system. Pelvis dan ginjal
dapat rusak, baik akibat infeksimaupun oleh tekanan urin akibat refluks berupa atrofi
ginjal. Pada pielonefritis akut dapat ditemukan infeksi dalam parenkim ginjal, ginjal
dapat

membengkak,

infiltrasi

lekosit

polimorfonuklear

dalam

jaringan

interstitial,akibatnya fungsi ginjal dapat terganggu. Pada pielonefritis kronik akibat


infeksi, adanya produk bakteri atau mediator toksik yang dihasilkan oleh sel yang
rusak, mengakibatkan parut ginjal (renal scarring) (Hanson, 1999 dalam Kusnawar,
2001)

Patofisilogi pielonefritis akut


Pada pielonefritis akut, inflamasi menyebabkan pembesaran ginjal yang tidak
lazim. Korteks dan medula mengembang dan multipel abses. Kalik dan pelvis ginjal
juga akan berinvolusi. Resolusi dari inflamasi menghsilkan fibrosis dan scarring.
Pielonefritis kronis muncul stelah periode berulang dari pielonefritis akut. Ginjal

mengalami perubahan degeneratif dan menjadi kecil serta atrophic. Jika destruksi
nefron meluas, dapat berkembang menjadi gagal ginjal.
Keadaan-keadaan yang mempengaruhi infeksi saluran kemih, yaitu:
1. Jenis kelamin dan aktivitas seksual
Uretra perempuan tampaknya lebih cenderung didiami oleh basil gram
negatif, karena letaknya di atas anus, ukurannya pendek (kira-kira 4 cm), dan
berakhir dibawah labia. Pijatan uretra, seperti yang terjadi selama hubungan
seksual menyebabkan masuknya bakteri kedalam kandung kemih dan hal
yang penting dalam infeksi saluran kemih pada perempuan muda. Buang air
kecil setelah hubungan seksual terbukti menurunkan resiko sistisis, mungkin
karena tindakan ini meningkatkan eradikasi bakteri yang masuk selama
hubungan seksual.
2. Kehamilan
Kecenderungan infeksi saluran kemih bagian atas selama kehamilan
disebabkan oleh penurunan kekuatan ureter, penurunan kekatan ureter, dan
inkompetensi sementara katup vesikoureteral yang terjadi selama hamil.
3. Sumbatan
Adanya halangan aliran bebas urin seperti tumor, striktura, batu atau hipertrofi
prostat yang menyebabkan hidronefrosis dan peningkatan frekuensi infeksi
saluran kemih yang sangat tinggi. Super infeksi pada sumbatan saluran kemih
dapat menyebabkan kerusakan jaringan ginjal yang cepat.
4. Disfungsi neurogenik kandung kemih
Gangguan saraf yang bekerja pada kandung kemih, seperti pada jejas korda
spinalis, tabes dorsalis, multipel sklerosis, diabetes, atau penyakit lain dapat
berhubungan dengan infeksi saluran kemih. Infeksi dapat diawali oleh
penggunaan kateter untuk drainase kandung kemih dan didukung oleh stasus
urin dalam kandung kemih untuk jangka waktu yang lama.
5. Refluks vesikoureteral
Keadaan ini didefinisikan sebagai refluks urin dari kandung kemih ke-ureter
dan kadang sampai pelvis renal. Hal ini terjadi selama buang air kecil atau
dengan peningkatan tekanan pada kandung kemih. Refluks vesikoureteral

terjadi jika gerakan retrograd zat radio opak atau radioaktif dapat ditunjukkan
melalui sistouretrogram selama buang air kecil. Gangguan anatomis
pertemuan vesikoureteral menyebabkan refluks bakteri dan karena itu
terjadilah infeksi saluran kemih.
6. Faktor virulensi bakteri
Faktor virulensi bakteri mempengaruhi kemungkinan strain tertentu, begitu
dimasukkan ke dalam kandung kemih, akan menyebabkan infeksi traktus
urinarius. Hampir semua strain E.coli yang menyebabkan pielonefritis pada
pasien dengan traktus urinarius normal secara anatomik mempunyai pilus
tertentu yang memperantarai perlekatan pada bagian digaktosida dan
glikosfingolipid yang ada di uroepitel. Strain yang menimbulkan pielonefritis
juga biasanya merupakan penghasil hemolisin, mempunyai aerobaktin dan
resisten terhadap kerja bakterisidal dari serum manusia.
7. Faktor genetik
Faktor genetik penjamu mempengaruhi kerentanan terhadap infeksi urinarius.
Jumlah dan tipe reseptor pada sel uroepitel tempat bakteri dapat menempel
dan dapat ditentukan, setidaknya sebagian, secara genetik (Stamm, 1999).
1.5

MANIFESTASI KLINIK PIELONEFRITIS


Gejala pada klien dengan pielonefritis biasanya timbul secara tiba-tiba berupa

demam, menggigil, nyeri di punggung bagian bawah, mual dan muntah. Selain itu,
beberapa penderita menunjukkan gejala infeksi saluran kemih bagian bawah biasanya
sering berkemih dan nyeri ketika berkemih. Bisa terjadi pembesaran salah satu atau
kedua ginjal. Kadang otot perut berkontraksi kuat. Bisa terjadi kolik renalis, dimana
penderita merasakan nyerihebat yang disebabkan oleh kejang ureter. Kejang bisa
terjadi karena adanyairitasi akibat infeksi atau karena lewatnya batu ginjal. Pada
anak-anak, gejala infeksi ginjal seringkali sangat ringan dan lebih sulit untuk dikenali.
Pada infeksi menahun (pielonefritis kronis), nyerinya bersifat samar dan demam
hilang timbul atau tidak ditemukan demam sama sekali. Pielonefritis kronis hanya
terjadi pada penderita yang memiliki kelainanutama, seperti penyumbatan saluran

kemih, batu ginjal yang besar atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam
ureter (pada anak kecil). Pielonefritis kronis pada akhirnya bisa merusak ginjal
sehingga ginjal tidak dapat berfungsisebagaimana mestinya (gagal ginjal). Berikut
tanda dan gejala pielonefritis akutdan pielonefritis kronis.
Pielonefritis akut :

Demam
Menggigil
nyeri panggul
nyeri tekan pada sudut kostovetebral (CVA)
lekositosis
adanya bakteri dan sel darah putih pada urin
disuria
biasanya terjadi pembesaran ginjal disertai infiltrasi interstisial sel-sel

inflamasi.
Pielonefritis kronis
tanpa gejala infeksi, kecuali terjadi eksaserbasi.
Keletihan
sakit kepala
nafsu makan rendah
poliuria
haus yang berlebihan
kehilangan berat badan
infeksi yg menetap menyebabkan jaringan parut di ginjal, disertai gagal ginjal
pada akhirnya.
1.6
1.

DIAGNOSA PIELONEFRITIS

PEMERIKSAAN FISIK DAN DIAGNOSTIK


Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik pasien meliputi pemeriksaan tentang keadaan umum pasien
dan pemeriksaan urologi. Seringkali kelainan-kelainan di bidang urologi
memberikan manifestasi penyakit umum (sistemik), atau tidak jarang pasienpasien urologi kebetulan menderita penyakit lain. Semua keadaan di atas

10

mengharuskan kita sebagai perawat untuk memeriksa keadaan umum pasien


secara menyeluruh. Pada pemeriksaan urologi harus diperhatikan setiap organ
mulai dari pemeriksaan ginjal, buli- buli, genetalia eksternal, dan pemeriksaan
neurologi. Pemeriksaan ginjal Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui
adanya pembesaran atau pembengkakan pada daerah pinggang atau abdomen
sebelah atas dan mengkaji ada atau tidaknya nyeri tekan. ginjal teraba
membesar . nye Pemeriksaan Buli-Buli Pada pemeriksaan buli-buli
diperhatikan adanya benjolan/massa atau jaringan parut bekas irisan/operasi
di suprasimfisis. Pemeriksaan Genetalia Eksterna Pada inspeksi genetalia
eksterna diperhatikan kemungkinan adanya kelainan pada

penis/urethra

antara lain : mikropenis, makropenis, hipospadia, kordae, epispadia, stenosis


pada meatus urethra eksterna, dll. Pemeriksaan Neurologi Ditujukan untuk
mencari kemungkinan adanya kelainan neurologik yang mengakibatkan
kelainan pada sistem urogenetalia, seperti pada lesi motor neuron atau lesi
saraf perifer yang merupakan penyebab dari buli-buli neurogen.
a) Inspeksi
Dapat dilihat ada atau tidaknya pembesaran pada daerah pinggang atau

b)

abdomen sebelah atas


Ekspresi atau mimik wajah meringis
Pasien tampak menggigil
Pasien tampak memegang area pinggang atau abdomen
Pasien tampak tidak bisa menahan BAK
Palpasi
Palpasi ginjal dilakukan secara bimanual yaitu dengan memakai dua
tangan. tangan kiri diletakkan di sudut kosto-vertebra untuk
mengangkat ginjal ke atas sedangkan tangan kanan meraba ginjal dari
depan.
Terdapat nyeri pada pinggang dan perut
Adanya pembengkakan ginjal (ginjal membesar)
Dahi dan kulit tubuh teraba panas

11

c) Perkusi Dilakukan dengan memberikan ketokan pada sudut kostovertebra (yaitu sudut yang dibentuk oleh kosta terakhir dengan tulang

2.
a.

vertebra).
Terdengar suara tenderness
d) Auskultasi
Suara usus melemah seperti ileus paralitik
Permeriksaan Diagnostic dan Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Urinalisis Merupakan pemeriksaan yang

paling

sering

dikerjakan pada kasus-kasus urologi. Pemeriksaan ini meliputi


uji : Makroskopik dengan menilai warna, bau, dan berat jenis
urine, Kimiawi meliputi pemeriksaan derajat keasaman/PH,
protein, dan gula dalam urine , Mikroskopik mencari
kemungkinan adanya sel-sel, cast (silinder), atau bentukan lain
di dalam urine.
Pada pasien yang menderita pielonefritis saat pemeriksaan
urinalisis ditemukan adanya piuria, bakteriuria (terdapat bakteri
di dalam urine), dan hematuria (terkandung sel-sel darah merah

di dalam urine).
Pemeriksaan Darah Pemeriksaan darah rutin terdiri atas
pemeriksaan kadar hemoglobin, leukosit, laju endap darah,
hitung jenis leukosit, dan hitung trombosit. Pada pasien dengan
pielonefritis , hasil pemeriksaan darah rutinnya menunjukkan
adanya leukositosis (menurunnya jumlah atau kadar leukosit di

dalam darah) disertai peningkatan laju endap darah.


Test Faal Ginjal Beberapa uji faal ginjal yang sering diperiksa
adalah pemeriksaan kadar kreatinin, kadar ureum, atau BUN
(blood urea nitrogen) , dan klirens kreatinin. Pemeriksaan
BUN, ureum atau kreatinin di dalam serum merupakan uji faal
ginjal yang paling sering dipakai di klinik. Sayangnya kedua
uji ini baru menunjukkan kelainan pada saat ginjal sudah

12

kehilangan 2/3 dari fungsinya. Maka daripada itu, pasien


pielonefritis baru akan menunjukkan adanya penurunan faal

ginjal bila sudah mengenai kedua sisi ginjal.


Kultur Urine Pemeriksaan ini dilakukan bila ada dugaan
infeksi saluran kemih. Pada pria, urine yang diambil adalah
sample urine porsi tengah ( mid stream urine) , pada wanita
sebaiknya diambil melalui kateterisasi, sedangkan pada bayi
dapat diambil urine dari aspirasi suprapubik atau melalui alat
penampung urine. Jika didapatkan kuman di dalam urine,
dibiakkan di dalam medium tertentu untuk mencari jenis
kuman dan sekaligus sensitifitas kuman terhadap antibiotika
yang diujikan. Pada pasien dengan

b.

pielonefritis, hasil

pemeriksaan kultur urinenya terdapat bakteriuria.


Pemeriksaan Radiologi (Pencitraan)
Foto Polos Abdomen Foto polos abdomen atau KUB (Kidney
Ureter Bladder)

adalah foto skrinning untuk pemeriksaan

kelainan-kelainan urologi. Pasien dengan pielonefritis , pada


hasil pemeriksaan foto polos abdomen menunjukkan adanya
kekaburan dari bayangan otot psoas dan mungkin terdapat

bayangan radio-opak dari batu saluran kemih.


Pielografi Intra Vena (PIV) Pielografi Intra Vena (PIV) atau
Intravenous Pyelography (IVP)

atau dikenal dengan Intra

Venous Urograph atau urografi adalah foto yang dapat


menggambarkan keadaan sistem urinaria melalui bahan kontras
radio-opak. Pencitraan ini dapat menunjukkan adanya kelainan
anatomi dan kelainan fungsi ginjal. Hasil pemeriksaan PIV
pada pasien pielonefritis terdapat bayangan ginjal membesar
dan terdapat keterlambatan pada fase nefrogram. Adapun
pemeriksaan radiologi lainnya yang juga berkaitan dengan
urologi, antara lain : -

13

Sistografi Adalah pencitraan buli-buli dengan memakai


kontras. Dari sistogram dapat dikenali adanya tumor
atau bekuan darah di dalam buli-buli. Pemeriksaan ini
juga dapat untuk menilai adanya inkontinensia stress
pada wanita dan untuk menilai adanya refluks vesikoureter.
Uretrografi Adalah pencitraan urethra dengan memakai
bahan kontras. pemeriksaan ini dilakukan untuk
mengetahui dan menilai panjang striktura urethra,
trauma urethra, dan tumor urethra atau batu non-opak
pada urethra. Pielografi Retrograd (RPG) Adalah
pencitraan sistem urinaria bagian atas (dari ginjal
hingga ureter) dengan cara memasukkan kontras radioopak langsung melalui kateter ureter yang dimasukkan
transurethra.
Pielografi Antegrad Adalah pencitraan sistem urinaria
bagian atas dengan dengan cara memasukkan kontras
melalui sistem saluran (kaliks) ginjal.
1.7

KOMPLIKASI PIELONEFRITIS

3 komplikasi penting dapat ditemukan pada Pyelonefritis akut:

Nekrosis papilla ginjal. Sebagai hasil dari proses radang, pasokan darah
pada daerah medula akan terganggu dan akan diikuti nekrosis papilla
ginjal, terutama pada penderita diabetes atau pada tempat terjadinya

obtruksi.
Pionefrosis. Terjadi apabila ditemukan obstruksi total pada ureter yang
dekat sekali dengan ginjal. Cairan yang terbendung dalam pelvis dan
System

kaliks

mengalami

supurasi,

peregangan akibat adanya pus.

14

sehingga

ginjal

mengalami

Abses perinefrik. Pada waktu infeksi mencapai kapsula ginjal dan meluas
ke dalam jaringan perirenal, terjadi abses perinefrik (Underwood, 2002:
669)

Komplikasi pielonefritis kronis mencakup :

penyakit ginjal stadium akhir (mulai dari hilangnya progresifitas nefron

akibat inflamasi kronik dan jaringan parut),


hipertensi
dan pembentukan batu ginjal (akibat infeksi kronik disertai organisme
pengurai urea, yang mangakibatkan terbentuknya batu).

(Brunner &

Suddarth, 2002: 1437)


PENCEGAHAN PIELONEFRITIS
Untuk membantu perawatan infeksi ginjal, berikut beberapa hal yangharus

1.8

dilakukan:
minumlah

banyak

air

(sekitar

2,5

liter

untuk

membantu

pengosongankandung kemih serta kontaminasi urin.


Perhatikan makanan (diet) supaya tidak terbentuk batu ginjalc
banyak istirahat di tempat tidur
terapi antibiotika
Untuk mencegah terkena infeksi ginjal adalah dengan memastikan tidak

pernah mengalami infeksi saluran kemih, antara lain dengan memperhatikan cara
membersihkan setelah buang air besar, terutama pada wanita. Senantiasa
membersihkan dari depan ke belakang, jangan dari belakang ke depan. Hal tersebut
untuk mencegah kontaminasi bakteri dari feses sewaktu buang air besar agar tidak
masuk melalui vagina dan menyerang uretra.Pada waktu pemasangan kateter harus
diperhatikan kebersihan dan kesterilan alat agar tidak terjadi infeksi.
1.9

PENATALAKSANAAN PIEOLONEFRITIS

Ada 3 prinsip penatalaksanaan:

Memberantas infeksi
Menghilangkan faktor predisposisi

15

Memberantas penyulit
Pengobatan pielonefritis akut, untuk bayi dengan ISK dan untuk anak dengan

ISK disertai gejala sistemik infeksi, setelah sampel urin diambil untuk dibiakkan,
diberi antibiotik parenteral (tanpa menunggu hasil biakan urin) untuk mencegah
terjadinya parut ginjal. Sebaiknya anak dirawat di rumah sakit terutama bula disertai
tanda toksik. (Alantas,2002)
Pemberian antibiotik parenteral diteruskan sampai 3-5 hari atau sampai 48
jam penderita bebas demam, kemudian dilanjutkan dengan pemberian oral selama 1014 hari,disesuaikan dengan hasil biakan urin dan uji sensitivitasnya. Biakan urin
ulang dilakukan setelah 48 jam tidak makan obat untuk melihat hasil pengobatan,
apakah bakteriuria masih ada. Antibiotik profilaksis diberikan sampai dilakukan
MSU, dan bila ditemukan refluks antibiotik profilaksis diteruskan. (Alantas,2002)
Tabel Dosis antibiotika parenteral (A), oral (B), dan profilaksis (C)
Obat
(A) Parenteral
Ampisilin

Dosis mg/kgBB/hari
100

Frekuensi/ (umur bayi)


tiap 12 jam (bayi < 1 minggu)
tiap 6-8 jam (bayi > 1 minggu)

Sefotaksim

150

Gentamisin

dibagi setiap 6 jam


tiap 12 jam (bayi < 1 minggu)
tiap 8 jam (bayi > 1 minggu)

Seftriakson

75

Seftazidim

150

dibagi setiap 6 jam

Sefazolin

50

dibagi setiap 8 jam

Tobramisin

dibagi setiap 8 jam

100

dibagi setiap 6 jam

Ticarsilin

sekali sehari

(B) Oral

16

Rawat jalan antibiotik oral (pengobatan standar)


Amoksisilin

20-40 mg/kgBB/hari

q8h

Ampisilin

50-100 mg.kgBB/hari

q6h

Augmentin

50 mg/kgBB/hari

q8h

Sefaleksin

50 mg/kgBB/hari

q6-8h

(C) Terapi propilaksis

Sefiksim

4 mg/kg

q12h

1x malam hari

Nitrofurantoin*

6-7 mg/kgBB/hari

q6h

1-2 mg/kg

Sulfisoksazole*

120-150 mg

q6-8h

50 mg/kg

Trimetoprim*

6-12 mg/kg

q6h

2 mg/kg

Sulfametoksazole

30-60 mg/kg

q6-8h

10 mg/kg

* Tidak direkomendasikan untuk neonatus dan penderita dengan insufisiensi ginjal

Infeksi ginjal akut setelah diobati beberapa minggu biasanya akan sembuh
tuntas. Namun residu infeksi bakteri dapat menyebabkan penyakitkambuh kembali
terutama pada penderita yang kekebalan tubuhnya lemah seperti penderita diabetes
atau adanya sumbatan/hambatan aliran urin misalnya oleh batu, tumor dan
sebagainya.

Penatalaksanaan medis menurut Barbara K. Timby dan Nancy E.

Smith tahun 2007:

Mengurangi demam dan nyeri dan menentukan obat-obat antimicrobial seperti


trimethroprim-sulfamethoxazole (TMF-SMZ, Septra), gentamycindengan atau

tanpa ampicilin, cephelosporin, atau ciprofloksasin (cipro)selama 14 hari


Merilekskan otot halus pada ureter dan kandung kemih, meningkatkan rasa
nyaman, dan meningkatkan kapasitas kandung kemih menggunakan
obatfarmakologi

tambahan

antispasmodic

dan

sepertioxybutinin (Ditropan) dan propantheline (Pro-Banthine)

17

anticholinergic

Pada kasus kronis, pengobatan difokuskan pada pencegahan kerusakanginjal


secara progresif

Terapi acute uncomplicated pyelonefritis:


1. Pada infeksi yang disebabkan patogen E. Coli:
First-line: fluoroquinolones:
Ciprofloxacin:
Dosis: 500mg 2 kali sehari selama 14 hari;
Levofloxacin:
Dosis: 250mg 1 kali sehari selama 10 hari; Kontraindikasi: wanita
hamil dan anak-anak
Second-line: Trimethroprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX):
Dosis: 1 Double strength tablet, 2 kali sehari, selama 14 hari.
2. Pada infeksi yang disebabkan patogen bakteri gram-positif:
Amoxicillin atau amoxicillin-clavulanic acid:
Dosis: 500mg, setiap 8 jam, selama 14 hari
Tabel Penggunaan Obat untuk Pielonefritis Akut

1.10

PROGNOSIS

Pielonefritis

akut

Prognosis

pielonefritis

memperlihatkan penyembuhan klinis maupun


terhadap antibiotic.

18

baik

bila

bakteriologis

Pielonefritis kronis Bila diagnosis pielonefritis kronis terlambat


dan kedua ginjal telah menyusut

pengobatan konserfatif

semata-mata untuk mempertahankan faal jaringan ginjal yang


masih utuh
1.11

PENYELESAIAN KASUS

A. KASUS
Nyonya WS wanita berusia 26 tahun, yang sebelumnya fit dan baik, dalam 2
hari ini menggigil tiba-tiba, disertai dengan demam tinggi dan nyeri pada
sendi dan otot termasuk nyeri pinggang, yang membuatnya lebih sakit jika
bergerak. dia juga mengeluh mual, kehilangan appetide, dan sakit kepala.
Hasil pemeriksaan:
Suhu: 38,5 oC
Urinalisis - tanda hematuria terang, dan bau yang tidak enak
Kreatinin serum : 136 mol/l (normal : 65-115 mol/l)
Urea serum : 8,4 mmol/l (normal: 3,0-6,5 mmol/l)
Dokter menyarankan untuk melakukan tes darah lengkap, termasuk U&E,
perhitungan sel darah lengkap, kultur darah, sampel untuk urinalisis dan
kultur, dan USG ginjal. Diagnosis pyielonephritis bakteri akut dibuat, yang
kemudian dikonfirmasi ketika kultur urin tumbuh Escherichia coli.
Nyonya WS diresepkan ciprofloxacin, awalnya 400mg dua kali sehari dengan
infus intravena, mengkonversi setelah 48 jam untuk dosis 500mg dua kali
sehari secara oral untuk total perawatan 14 hari.
B. Penyelesaian kasus dengan metode SOAP
i.
Subjective
Nama
: Ny. WS
Umur
: 26 tahun
Jenis Kelamin :Perempuan
Gejala : Menggigil, demam, nyeri pada sendi dan otot, nyeri
pinggaang, mual, dan sakit kepala.

19

Riwayat pengobatan

: di resepkan ciprofloxacin 400mg dua

kali sehari secara intravena, kemudian setelah 48 jam diberikan


ii.

iii.

ciprofloxacin 500mg dua kali sehari selama 14 hari


Objective
Suhu: 38,5 oC
Urinalisis - tanda hematuria terang, dan bau yang tidak enak
Kreatinin serum : 136 mol/l (normal : 65-115 mol/l)
Urea serum : 8,4 mmol/l (normal: 3,0-6,5 mmol/l)
Assessment
Berdasarkan gejala dan pemeriksaan terhadap data klinik
pasien, maka pasien didiagnosa menderita Infeksi Saluran
Kemih bagian atas ( Pyelonephritis akut).

iv.

Plan
a. Tujuan terapi
Tujuan Terapi Jangka Pendek :
menghilangkan bakteri penyebab infeksi saluran kemih
Menghilangkan gejala dengan cepat
Tujuan Terapi Jangka Panjang :
Mencegah terjadinya infeksi ulangan (rekurensi)
Mencegah komplikasi dari penyakit infeksi saluran
kemih
Mengurangi morbiditas dan mortalitas.
b. Terapi nonfarmakologi
Minum air putih dalam jumlah yang banyak agar urine

yang keluar juga meningkat(merangsang diuresis).


Buang air kecil sesuai kebutuhan untuk membilas

mikroorganisme yang mungkin naik ke uretra.


Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim
dan saluran kencing agar bakteri tidak mudah

berkembang biak.
Tidak menahan bila ingin berkemih.
c. Terapi farmakologi
Ciprofloxacin 400 mg dua kali sehari secara infus
intravena, lalu setelah 48 jam berikan ciprofloxacin
dosis 500 mg dua kali sehari secara oral selama 14 hari

20

perawatan. Digunakan untuk menghilangkan bakteri

penyebab infeksi
Paracetamol tab 3 dd 1 tablet @500 mg, diberikan bila
nyeri dan demam. Digunakan untuk menhilangkan
nyeri kepala, nyeri sendi dan otot, nyeri pinggang, serta

menurunkan demam.
d. Monitoring
monitoring terhadap penggunaan antibiotik
melakukan kultur bakteri di dalam urine, jika dari hasil
kultur jumlah bakteri <10.000 CFU/ml maka pasien
dinyatakan hanya terkontaminasi dan pada keadaan ini
pasien tidak perlu diterapi dengan antibiotik, tetapi jika
jumlah

bakteri

>10.000

CFU/ml

maka

pasien

dinyatakan masih terinfeksi oleh bakteri dan terapi

e. KIE

perlu dilanjutkan.
Monitoring suhu tubuh.
Memberikan edukasi tentang penyakit pielonefritis
pada pasien ataupun keluarga pasien.
Memberikan informasi, instruksi, dan peringatan
kepada pasien dan keluarganya tentang efek terapi dan

efek samping yang mungkin timbul selama pengobatan.


Memberikan edukasi kepada pasien untuk meminum
obat sesuai jadwal yang diberitahukan oleh dokter atau
petugas kesehatan lain untuk mencegah terjadinya

resistensi.
Memberikan edukasi kepada pasien untuk istirahat yang
cukup serta serta memperbanyak mengkonsumsi air
putih.

21

Memberikan edukasi kepada pasien akan betapa


pentingnya

menjaga

khususnya pada wanita.

22

keberssihan

organ

intim

BAB III
PENUTUP
3.1

KESIMPULAN

Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal dimana terjadi


reaksi inflamasi pada pielum dan parenkim ginjal yang sifatnya akut maupun
kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2

minggu. Pielonefritis kronis merupakan lanjutan dari pielonefritis akut


Refluks vesicoureteral ini merupakan faktor risiko yang paling penting dalam
terjadinya pielonefritis pada anak-anak. Refluks vesicoureteral terdeteksi pada

sekitar 10% sampai 45% dari anak-anak yang memiliki gejala ISK.
Penyebabadalah Escherichia coli (70-80%). Penyebab yang lainnya seperti:
Klebsiella, Proteus, Staphylococcus saphrophyticus, coagulase-negative
staphylococcus,

Pseudomonas

aeroginosa,

Streptococcus

fecalis

Streptococcus agalactiiae, Proteus species jarang ditemukan.


Infeksi akut/kronik vesika urinaria akibat infeksi yang

dan

berulang

mengakibatkan perubahan pada dinding vesika dan dapat mengakibatkan


inkompetensi dari katup vesikoureter. Akibat rusaknya katup ini, urin dapat
naik kembali ke ureter terutama pada waktu berkemih (waktu kontraksi
kandung kemih). Akibat refluks ini ureter dapat melebar atau urin sampai ke
ginjal

dan

mengakibatkan

kerusakan

pielum

dan

perenkim

ginjal

(pielonefritis).
Pada pielonefritis akut terjadi demam yang timbul mendadak, menggigil,
malaise, muntah, sakit panggul atau perut, nyeri tekan di daerah
kostovertebral, leukositosis, piuria dan bakteriuria. Biasanya disertai dengan
adanya toksik sistemik. Demam dan iritabel adalah gejala paling umum yang
ditunjukkan pada bayi yang memiliki pielonefritis. Temuan lain termasuk
nafsu makan yang buruk, letargi dan nyeri perut.

23

Anak-anak dengan pielonefritis kronik seringkali tidak bergejala. Hipertensi

arterial biasanya berkaitan dengan jaringan parut ginjal


Penegakan diagnosis pielonefritis akut dilihat dari gejala dan tanda yang
biasanya diadahului oleh disuria, urgensi dan sering berkemih yang
menunjukkan bahwa infeksi dimulai pada bagian bawah traktus urinarius.

Adanya silinder leukosit membuktikan infeksi terjadi di dalam ginjal.


Diagnosis pielonefritis ktronik biasanya ditegakkan apabila

pasien

memperlihatkan gejala insufisiensi ginjal kronik atau hipertensi, atau temuan


proteinuria saat pemeriksaan rutin. Anamnesis yang teliti pada beberapa kasus
lain, mungkin dapat, menemukan adanya riwayat disuria, sering kencing atau
kadang-kadang nyeri pada selangkangan yang tidak jelas. Kebanyakan pasien

tidak memiliki gejala sampai penyakit mencapai tahap lanjut.


Pengobatan pielonefritis akut, disertai gejala sistemik infeksi, setelah sampel
urin diambil untuk dibiakkan, diberi antibiotik parenteral (tanpa menunggu
hasil biakan urin) untuk mencegah terjadinya parut ginjal. Sebaiknya anak

dirawat di rumah sakit terutama bula disertai tanda toksik.


Pemberian antibiotik parenteral diteruskan sampai 3-5 hari atau sampai 48
jam penderita bebas demam, kemudian dilanjutkan dengan pemberian oral
selama

10-14

hari,disesuaikan

dengan

hasil

biakan

urin

dan

uji

sensitivitasnya. Biakan urin ulang dilakukan setelah 48 jam tidak makan obat
untuk melihat hasil pengobatan, apakah bakteriuria masih ada. Antibiotik
profilaksis diberikan sampai dilakukan MSU, dan bila ditemukan refluks
antibiotik parofilaksis diteruskan

DAFTAR PUSTAKA

24

Alatas, dkk., 2004. Buku Ajar Nefrologi Anak. Edisi 2. Ikatan Dokter anak Indonesia,
Jakarta.
Arif, Muttaqin. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta :
Salemba

Medika

Burnner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Kperawatan Medikal Bedah. EGC : Jakarta
Nettina, Sandra M., 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran.
EGC, Jakarta.
Price, Slvia A. Lorraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Volume

2. Edisi 6. EGC. 2005. Jakarta. Halaman 921-924

Underwood. 1999. Patologi Umum dan Sistemik. Edisi 2. Jakarta : EGC


Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta :EGC

25