Anda di halaman 1dari 20

A.

B.

PPh Ps.22
Ketentuan yang mengatur
1. Pasal 22 UU PPh
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2010
sebagamana telah diubah dengan Nomor 224/PMK.011/2012
3. Peraturan Dirjen Pajak Nomor Per - 57/PJ/2010
sebagamana telah diubah Nomor Per - 15/PJ/2011
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 253/PMK.03/2008
Pihak yang ditunjuk sebagai pemotong dan Obyek
pemotongannya
1. Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
atas impor barang
2. a. Bendahara Pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran
(KPA)
sebagai pemungut pajak pada Pemerintah Pusat, Pemerintah
Daerah,
Instansi atau lembaga Pemerintah dan lembaga-lembaga
negara lainnya, berkenaan dengan pembayaran atas
pembelian barang
b. Bendahara Pengeluaran
berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang
yang dilakukan dengan mekanisme uang persediaan (UP)
c. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau
pejabat penerbit Surat Perintah Membayar
yang diberi delegasi oleh Kuasa Pengguna Anggaran
(KPA)
berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang kepada
pihak ketiga yang dilakukan dengan mekanisme pembayaran
langsung (LS)
3. Badan Usaha Milik Negara
yaitu badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya
dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang
berasal dari kekayaan negara
yang dipisahkan, yang meliputi :
a. PT Pertamina (Persero),
PT Perusahaan Listrik Negara (Persero),
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk,
PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk,
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk,
PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk,
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk,
PT Adhi Karya (Persero) Tbk,
PT Hutama Karya (Persero),
PT Krakatau Steel (Persero)

4.

5.
6.
7.

8.
C.

b. Bank-bank Badan Usaha Milik Negara


berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang dan/atau
bahan-bahan
untuk keperluan kegiatan usahanya
Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri
semen,
industri kertas, industri baja, industri otomotif, dan industri
farmasi
atas penjualan hasil produksinya kepada distributor di dalam negeri
Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM), Agen Pemegang
Merek (APM), dan importir umum kendaraan bermotor
atas penjualan kendaraan bermotor di dalam negeri
Produsen atau importir bahan bakar minyak, bahan bakar
gas, dan pelumas
atas penjualan bahan bakar minyak, bahan bakar gas, dan pelumas
Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor
kehutanan, perkebunan, pertanian, peternakan, dan
perikanan
atas pembelian bahan-bahan dari pedagang pengumpul untuk
keperluan industrinya atau ekspornya
Wajib Pajak badan
yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah

Tarif Pemotongan PPh Ps.22


1. atas impor barang (PPh Ps.22 Impor)
Tarif :
a. yang menggunakan Angka Pengenal Impor (APl),
sebesar 2,5% (dua setengah persen) dari nilai impor,
kecuali atas impor kedelai, gandum dan tepung terigu
sebesar 0,5% (setengah persen) dari nilai impor
b. yang tidak menggunakan Angka Pengenal Impor (API),
sebesar 7,5% (tujuh setengah persen) dari nilai impor
c. yang tidak dikuasai,
sebesar 7,5% (tujuh setengah persen) dari harga jual lelang
Pemungutan PPh Ps.22 atas impor barang dilaksanakan
dengan cara penyetoran oleh :
a. importir yang bersangkutan, atau

b.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai,


ke kas negara melalui Kantor Pos, bank devisa, atau
bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan
menggunakan formulir Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak
Dalam Rangka Impor (SSPCP) yang berlaku sebagai Bukti
Pemungutan Pajak,
bersifat tidak final (Kode Akun Pajak 411123, Kode Jenis Setoran
100)

PPh Ps. 22 atas impor barang terutang dan dilunasi


bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk.
Dalam hal pembayaran Bea Masuk ditunda atau dibebaskan,
dilunasi pada saat penyelesaian dokumen Pemberitahuan Impor
Barang (PIB)
Kewajiban Pemungut :
a. PPh Ps. 22 atas impor yang disetor oleh importir ke bank
devisa, langsung dibukukan ke Rekening Kas Negara
PPh Ps. 22 atas impor yang dipungut oleh Direktorat Jenderal
Bea dan Cukai, harus disetor dalam jangka waktu 1 (satu) hari
kerja
setelah dilakukan pemungutan
b. Memberikan bukti pungut PPh Ps.22 Impor (SSPCP) kepada
importir
c. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib melaporkan
hasil pemungutannya secara mingguan
paling lama pada hari kerja terakhir minggu berikutnya
ke Kantor Pelayanan Pajak dengan menggunakan SPT Masa
PPh Ps.22
Contoh :
PT Menuju Makmur mengimpor bahan baku dengan Nilai Impor
(CIF + Bea Masuk + Pungutan Pabean Lainnya) Rp 600.000.000,00
Rp

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) =

600.000.000,00

PPh Ps.22 Impor 2,5%


PPN Impor 10%
Jumlah pembayaran
(penyelesaian PIB melalui bank devisa)

15.000.000,00
60.000.000,00
675.000.000,00

2.

atas pembelian barang yang dilakukan


oleh Bendahara Pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran
(KPA),
Bendahara Pengeluaran, dan
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat penerbit
Surat Perintah Membayar yang diberi delegasi oleh Kuasa
Pengguna Anggaran (KPA)
Tarif :
sebesar 1,5% (dua setengah persen)dari harga pembelian (tidak
termasuk PPN)
PPh Ps.22 atas pembelian barang dimaksud terutang dan dipungut
pada saat pembayaran,
Surat Setoran Pajak berlaku sebagai Bukti Pemungutan Pajak,
bersifat tidak final
Kewajiban Pemungut :
a. PPh Ps. 22 yang dipungut
wajib disetor ke kas negara melalui Kantor Penerima
Pembayaran
yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan,
pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran
(dengan menggunakan Surat Setoran Pajak yang telah diisi
atas nama rekanan serta ditandatangani oleh pemungut pajak,
Kode Akun Pajak 411122, Kode Jenis Setoran 900)
b. Memberikan bukti pungut PPh Ps.22 (SSP) kepada rekanan
c. Melaporkan hasil pemungutan dan penyetoran PPh Ps.22
paling lama 14 (empat belas) hari setelah Masa Pajak berakhir
ke Kantor Pelayanan Pajak dengan menggunakan SPT Masa

PPh Ps.22
Contoh :
Bendahara suatu Instansi pemerintah melakukan pembelian
computer dan peralatannya dari Rekanan CV Computindo seharga
Rp 22.000.000,00
termasuk PPN, pembayarannya melalui KPPN
Rp

DPP =
100/110 X Rp 22.000.000,00
PPh Ps.22 1,5%
PPN 10%
Jumlah pembayaran
Jumlah yang diterimakan kepada CV
Computindo

3.

20.000.000,00
300.000,00
2.000.000,00
22.000.000,00
19.700.000,00

Atas pembelian barang yang dilakukan oleh


Badan Usaha Milik Negara tertentu dan Bank-bank Badan
Usaha Milik Negara
Tarif :
sebesar 1,5% (dua setengah persen)dari harga pembelian (tidak
termasuk PPN)
PPh Ps.22 atas pembelian barang dimaksud terutang dan dipungut
pada saat pembayaran,
Surat Setoran Pajak berlaku sebagai Bukti Pemungutan Pajak,
bersifat tidak final
Kewajiban Pemungut :
a. PPh Ps. 22 yang dipungut
wajib disetor ke kas negara melalui Kantor Penerima
Pembayaran
yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan,
paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah masa pajak
berakhir
(dengan menggunakan Surat Setoran Pajak yang telah diisi
atas nama rekanan serta ditandatangani oleh pemungut pajak,
Kode Akun Pajak 411122, Kode Jenis Setoran 100)

b.
c.

Memberikan bukti pungut PPh Ps.22 (SSP) kepada rekanan


Melaporkan hasil pemungutan dan penyetoran PPh Ps.22
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir
ke Kantor Pelayanan Pajak dengan menggunakan SPT Masa
PPh Ps.22
Contoh :
Divisi Keuangan suatu BUMN melakukan pembelian mesin dan
peralatannya
dari PT Sarana Usaha seharga Rp 200.000.000,00 tidak termasuk
PPN.
Rp

DPP =
PPh Ps.22 1,5%
PPN 10%
Jumlah pembayaran
Jumlah yang diterimakan kepada PT Sarana
Usaha

4.

200.000.000,00
3.000.000,00
20.000.000,00
220.000.000,00
197.000.000,00

Atas penjualan hasil produksinya kepada distributor di


dalam negeri
oleh Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha
industri semen,
industri kertas, industri baja, industri otomotif, dan industri
farmasi
Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri baja
adalah industri baja yang merupakan industri hulu,
termasuk industri hulu yang terintegrasi dengan industri antara dan
industri hilir
Tarif :
a. penjualan semua jenis semen
sebesar 0,25% (nol koma dua puluh lima persen)
b. penjualan kertas

sebesar 0,1% (nol koma satu persen)


b. penjualan baja
sebesar 0,3% (nol koma tiga persen)
c. penjualan semua jenis kendaraan bermotor beroda dua
atau lebih
sebesar 0,45% (nol koma empat puluh lima persen)
d. penjualan semua jenis obat
sebesar 0,3% (nol koma tiga persen)
dari dasar pengenaan pajak Pajak Pertambahan Nilai
PPh Ps.22 terutang dan dipungut pada saat penjualan
(Pemungutan PPh Ps. 22 bersifat tidak final)
Kewajiban Pemungut :
a. menerbitkan Bukti Pemungutan PPh Ps.22 (atas nama
distributor)
dalam rangkap 3 (tiga) :
1) lembar kesatu untuk Wajib Pajak (distributor)
2) lembar kedua sebagai lampiran SPT Masa PPh Ps.22
3) lembar ketiga sebagai arsip
b. PPh Ps. 22 yang dipungut harus disetor ke kas negara
melalui Kantor Penerima Pembayaran
yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan,
paling lama tanggal 10 (sepuluh)
bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir
(dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atas nama industri,
Kode Akun Pajak 411122, Kode Jenis Setoran 100)

c.

Melaporkan pemungutan dan penyetoran PPh Ps.22


dengan menggunakan SPT Masa PPh Ps.22 ke Kantor
Pelayanan Pajak
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir
Contoh :
Penjualan semen oleh Pabrikan PT Tigapilar pada bulan Juli 2013,
diantaranya kepada distributornya PT Perantara
dengan harga jual (tidak termasuk PPN) Rp 1.000.000.000,00
Rp

DPP
PPN 10%

1.000.000.000,00
100.000.000,00

PPh Ps.22 0,25%


Jumlah yang harus dibayar oleh PT Perantara

5.

2.500.000,00
1.102.500.000,00

Atas penjualan kendaraan bermotor di dalam negeri


oleh Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM), Agen
Pemegang Merek (APM), dan importir umum kendaraan
bermotor
Tarif :
sebesar 0,45% (nol koma empat puluh lima persen)
dari dasar pengenaan pajak Pajak Pertambahan Nilai
PPh Ps.22 terutang dan dipungut pada saat penjualan
Kewajiban Pemungut :
a. menerbitkan Bukti Pemungutan PPh Ps.22 (atas nama pembeli)

dalam rangkap 3 (tiga) :


1) lembar kesatu untuk Wajib Pajak (pembeli)
2) lembar kedua sebagai lampiran SPT Masa PPh Ps.22
3) lembar ketiga sebagai arsip
b. PPh Ps. 22 yang dipungut harus disetor ke kas negara
melalui Kantor Penerima Pembayaran
yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan
paling lama tanggal 10 (sepuluh)
bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir
(dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atas nama penjual,
Kode Akun Pajak 411122, Kode Jenis Setoran 100)
c. Melaporkan pemungutan dan penyetoran PPh Ps.22
dengan menggunakan SPT Masa PPh Ps.22 ke Kantor
Pelayanan Pajak
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir
Contoh :
PT BMV sebagai Importir Umum menjual mobil CBU kepada Alex di
Malang
dengan harga jual (tidak termasuk PPN) sebesar Rp
12.000.000.000,00
(PT BMW melakukan pembelian mobil ini berdasarkan pesanan
dengan pihak produsen di luar negeri).
Rp

DPP
PPN 10%
PPn BM 40%
PPh Ps.22 0,45%
Jumlah yang harus dibayar oleh Alex

6.

12.000.000.000,00
1.200.000.000,00
4.800.000.000,00
54.000.000,00
18.054.000.000,00

Atas penjualan bahan bakar minyak, bahan bakar gas, dan


pelumas
oleh produsen atau importir bahan bakar minyak, bahan
bakar gas, dan pelumas
Tarif :
a. Bahan Bakar Minyak

1)

sebesar 0,25% (nol koma dua puluh lima persen)


untuk penjualan kepada SPBU Pertamina
2) sebesar 0,3% (nol koma tiga persen)
untuk penjualan kepada SPBU bukan Pertamina dan Non
SPBU
3) sebesar 0,3% (nol koma tiga persen)
untuk penjualan kepada selain 1) dan 2)
dari penjualan tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai
b. Bahan Bakar Gas
sebesar 0,30% dari penjualan tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai
c. Pelumas
sebesar 0,30% dari penjualan tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai
PPh Ps. 22 atas penjualan hasil bahan bakar minyak, gas dan
pelumas
terutang dan dipungut pada saat penerbitan Surat Perintah
Pengeluaran Barang (delivery order)
Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 atas penjualan bahan
bakar minyak, gas dan pelumas kepada :
penyalur/agen, bersifat final,
selain penyalur/agen, bersifat tidak final
Surat Setoran Pajak berlaku sebagai Bukti Pemungutan Pajak,
Kewajiban Pemungut :
a. PPh Ps. 22 yang dipungut harus disetor ke kas negara
melalui Kantor Penerima Pembayaran
yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan
paling lama tanggal 10 (sepuluh)
bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir
(dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atas nama
pembeli,
Kode Akun Pajak 411122, Kode Jenis Setoran 401,
PPh Ps. 22 bersifat final
Kode Akun Pajak 411122, Kode Jenis Setoran 100,
PPh Ps. 22 bersifat tidak final)

b.
c.

Memberikan bukti pungut PPh Ps.22 (SSP) kepada pembeli


Melaporkan pemungutan dan penyetoran PPh Ps.22

dengan menggunakan SPT Masa PPh Ps.22 ke Kantor


Pelayanan Pajak
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir
Contoh :
PT BBM sebuah SPBU Pertamina melakukan pembelian premium
bersubsidi
dengan harga jual (tidak termasuk PPN dan PBBKB)
sebesar Rp 2.000.000.000,00
Rp

DPP =
PPN 10%
PPh Ps.22 0,25%
PBBKB 5%
Jumlah yang harus dibayarkan oleh PT BBM
kepada PT PERTAMINA

2.000.000.000,00
200.000.000,00
5.000.000,00
100.000.000,00
2.305.000.000,00

7.

Atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau


ekspor
oleh badan usaha industri atau eksportir
yang bergerak dalam sektor kehutanan, perkebunan,
pertanian, peternakan, dan perikanan
Pedagang pengumpul adalah badan atau orang pribadi
yang kegiatan usahanya :
a.
mengumpulkan hasil kehutanan, perkebunan, pertanian,
peternakan, dan perikanan, dan
b. menjual hasil tersebut kepada badan usaha industri dan
eksportir
yang bergerak dalam sektor kehutanan, perkebunan,
pertanian, peternakan, dan perikanan
Tarif :
sebesar 0,25% (nol koma dua puluh lima persen)
dari harga pembelian tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai
PPh Ps.22 atas pembelian bahan-bahan dari pedagang pengumpul
terutang dan dipungut pada saat pembelian
(Pemungutan PPh Ps. 22 bersifat tidak final)
Kewajiban Pemungut :
a. menerbitkan Bukti Pemungutan PPh Ps.22 (atas nama penjual)
dalam rangkap 3 (tiga) :
1) lembar kesatu untuk Wajib Pajak (penjual)
2) lembar kedua sebagai lampiran SPT Masa PPh Ps.22
3) lembar ketiga sebagai arsip pemungut pajak yang
bersangkutan
b. PPh Ps. 22 yang dipungut harus disetor ke kas negara
melalui Kantor Penerima Pembayaran
yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan
paling lama tanggal 10 (sepuluh)
bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir
(dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atas nama
pembeli,
Kode Akun Pajak 411122, Kode Jenis Setoran 100)
c. Melaporkan pemungutan dan penyetoran PPh Ps.22
dengan menggunakan SPT Masa PPh Ps.22 ke Kantor
Pelayanan Pajak
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir

Contoh :
PT Upaya Makmur dalam bulan Maret 2013 melakukan pembelian
bahan
dari CV Agromina (supplier komoditi pertanian)
untuk keperluan industri & ekspor, sebesar Rp 110.000.000,00
termasuk PPN.
Atas pembayaran ini, PT Upaya Makmur memungut PPh Ps.22
sebesar 0,25%
Rp

Dasar Pengenaan Pajak


100/110 X Rp 110.000.000,00
PPh Ps.22
0,25% X Rp 100.000.000,00
PPN
= 0,25% X Rp 100.000.000,00
Jumlah yang harus dibayar oleh PT Upaya
Makmur
PPh Ps.22 yang harus dipungut
oleh PT Upaya Makmur
Jumlah yang diterimakan kepada CV
Agromina

100.000.000,00
250.000,00
10.000000,00
110.000.000,00
250.000,00
109.750.000,00

8.

Atas penjualan barang yang tergolong sangat mewah oleh


Wajib Pajak badan
a. pesawat udara pribadi
dengan harga jual lebih dari Rp 20.000.000.000,00
b. kapal pesiar dan sejenisnya
dengan harga jual lebih dari Rp 10.000.000.000,00
c. rumah beserta tanahnya
dengan harga jual atau harga pengalihannya
lebih dari Rp 10.000.000.000,00 dan luas bangunan lebih dari
500m2
d. apartemen, kondominium, dan sejenisnya
dengan harga jual atau harga pengalihannya
lebih dari Rp 10.000.000.000,00 dan/atau
luas bangunan lebih dari 400m2
e. kendaraan bermotor roda empat
pengangkutan orang kurang dari 10 orang
berupa sedan, jeep, sport utility vehicle (suv),
multi purpose vehicle (mpv), minibus dan sejenisnya
dengan harga jual lebih dari Rp 5.000.000.000,00 dan
dengan kapasitas silinder lebih dari 3.000 cc
Tarif :
sebesar 5% dari harga jual (tidak termasuk PPN dan PPnBM)
Pemungutan PPh Ps. 22 bersifat tidak final
Kewajiban Pemungut :
a. menerbitkan Bukti Pemungutan PPh Ps.22 dalam rangkap 3
(tiga) :
1) lembar kesatu untuk Wajib Pajak (pembeli)
2) lembar kedua sebagai lampiran SPT Masa PPh Ps.22
3) lembar ketiga sebagai arsip pemungut pajak yang
bersangkutan
b. PPh Ps. 22 yang dipungut harus disetor ke kas negara
melalui Kantor Penerima Pembayaran
yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan
paling lama tanggal 10 (sepuluh)
bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir
(dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atas nama penjual,
Kode Akun Pajak 411122, Kode Jenis Setoran 100)
c. Melaporkan pemungutan dan penyetoran PPh Ps.22
dengan menggunakan SPT Masa PPh Ps.22 ke Kantor
Pelayanan Pajak

paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir

Contoh :
Penjualan apartemen oleh pengusaha property PT Realita
kepada Sdr. Marzuki
(direktur pemasaran perusahaan exim PT Lautan Emas),
Harga jual (termasuk PPN 10% dan PPn BM 20%) Rp
14.300.000.000,00
Rp

DPP
100/130 X Rp 14.300.000.000,00
PPN 10%
PPn BM 20%
PPh Ps.22 5%
Jumlah yang harus dibayar oleh Sdr. Marzuki

11.000.000.000,00
1.100.000.000,00
2.200.000.000,00
550.000.000,00
14.850.000.000,00

D.

Pengecualian dari Pemungutan PPh Ps.22


1. Impor barang dan atau penyerahan barang
yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan
tidak terutang Pajak Penghasilan
Pengecualian dari Pemungutan PPh Ps.22
dinyatakan dengan Surat Keterangan Bebas Pajak Penghasilan Pasal 22
yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak

2.

Impor barang yang dibebaskan


dari pungutan Bea Masuk dan/atau Pajak Pertambahan Nilai :
a. barang perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang
bertugas
di Indonesia berdasarkan asas timbal balik
b. barang untuk keperluan badan internasional beserta
pejabatnya yang bertugas
di Indonesia dan tidak memegang paspor Indonesia yang
diakui dan
terdaftar dalam peraturan menteri keuangan yang mengatur
tentang tata cara pemberian pembebasan bea masuk dan
cukai atas impor barang
untuk keperluan badan internasional beserta para pejabatanya
yang bertugas di Indonesia
c. barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal,
sosial, kebudayaan atau untuk kepentingan penanggulangan
bencana
d. barang untuk keperluan museum, kebun binatang, konservasi
alam dan
tempat lain semacam itu yang terbuka untuk umum
e. barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan
f. barang untuk keperluan khusus kaum tunanetra dan
penyandang cacat lainnya
g. peti atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah
h. barang pindahan
i. barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas
batas, dan barang kiriman sampai batas jumlah tertentu

j.
k.

l.

m.
n.
o.

p.

q.
r.

sesuai dengan ketentuan perundang-undangan kepabeanan


barang yang diimpor oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah
Daerah
yang ditujukan untuk kepentingan umum
persenjataan, amunisi, dan perlengkapan militer, termasuk
suku cadang
yang diperuntukkan bagi keperluan pertahanan dan keamanan
negara
barang dan bahan yang dipergunakan untuk menghasilkan
barang
bagi keperluan pertahanan dan keamanan negara

vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan program Pekan


Imunisasi Nasional (PIN)
buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran
agama
kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau,
kapal angkutan penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda,
kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan
suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat
keselamatan manusia yang diimpor dan digunakan oleh
Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional atau perusahaan
penangkapan ikan nasional
pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan
penerbangan atau
alat keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau
pemeliharaan
yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Angkutan Udara
Niaga Nasional
kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan
atau pemeliharaan serta prasarana yang diimpor dan
digunakan oleh PT Kereta Api Indonesia
peralatan yang digunakan untuk penyediaan data batas dan
foto udara
wilayah Negara Republik Indonesia
yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia

s.

barang untuk kegiatan hulu Minyak dan Gas Bumi


yang importasinya dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja
Sama

Pengecualian dari pemungutan PPh Ps.22 tetap berlaku


dalam hal barang impor tersebut dikenakan tarif bea masuk sebesar 0%(nol
persen)
Ketentuan sebagaimana dimaksud dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai
yang tata caranya diatur oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai
dan/atau
Direktur Jenderal Pajak

3.

Impor sementara, jika pada waktu impornya nyata-nyata


dimaksudkan
untuk diekspor kembali
Ketentuan sebagaimana dimaksud dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai
yang tata caranya diatur oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai
dan/atau
Direktur Jenderal Pajak

4.

Impor kembali (re-impor), yang meliputi barang-barang yang telah


diekspor kemudian diimpor kembali dalam kualitas yang sama atau
barang-barang
yang telah diekspor untuk keperluan perbaikan, pengerjaan dan
pengujian,
yang telah memenuhi syarat yang ditentukan oleh Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai
dilakukan tanpa Surat Keterangan Bebas (SKB)

5.

Pembayaran yang dilakukan oleh pemungut pajak :


a. bendahara pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA),
bendahara pengeluaran, dan
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau
pejabat penerbit Surat Perintah Membayar
yang diberi delegasi oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA),
yang jumlahnya paling banyak Rp 2.000.000,00 (dua juta
rupiah) dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-

b.

c.

pecah
Badan Usaha Milik Negara tertentu dan Bank-bank Badan
Usaha
Milik Negara
yang jumlahnya paling banyak Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta
rupiah) dan tidak merupakan pembayaran yang terpecahpecah
pembayaran untuk :
1) pembelian bahan bakar minyak, bahan bakar gas,
pelumas,
benda-benda pos
2) pemakaian air dan listrik
dilakukan tanpa Surat Keterangan Bebas (SKB)

6.

Emas batangan yang akan diproses untuk menghasilkan barang


perhiasan
dari emas untuk tujuan ekspor
Pengecualian dari Pemungutan PPh Ps.22
dinyatakan dengan Surat Keterangan Bebas Pajak Penghasilan Pasal 22
yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak

7.

Pembayaran untuk pembelian barang sehubungan dengan


penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
dilakukan tanpa Surat Keterangan Bebas (SKB)

E.

Lain-lain
1. Penunjukan Pemungut PPh Pasal 22
dilakukan tanpa Surat Keputusan Kepala KPP (secara otomatis)
2. Besarnya tarif pemungutan PPh Ps.22 yang diterapkan terhadap
Wajib Pajak yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak
lebih tinggi 100% (seratus persen) daripada tarif yang diterapkan
terhadap Wajib Pajak yang dapat menunjukkan Nomor Pokok Wajib
Pajak
3. Peraturan Menteri Nomor 154/PMK.03/2010
sebagamana telah diubah dengan Nomor 224/PMK.011/2012

mulai berlaku setelah 60 (enam puluh) hari


terhitung sejak tanggal diundangkan (sejak tanggal 26 Desember
2012)