Anda di halaman 1dari 22

Bentuk obat

Dan
penulisan resep

Oleh
Drs. Bambang Sidharta, Apt.MS

Bagian Farmasi
Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya
Rumah Sakit Umum Dr Saiful Anwar
Malang

1. Pemilihan bentuk obat


Dalam memberikan terapi obat terhadap pasien, selain penetapan jenis
obat, dosis obat, cara pemberian dan frekwensi pemberian yang tepat , maka
pemilihan bentuk obat yang tepat akan berpengaruh terhadap keberhasilan
terapi obat
Pemilihan bentuk obat yang tepat berpengaruh terhadap:
1. Kepatuhan pasien dalam minum atau menggunakan obat
2. Kemudahan , kenyaman pasien dalam pemakain/penggunaan obat
3. Tercapainya tujuan terapi
4. Kesembuhan pasien lebih cepat
Bentuk

obat

yang

mudah

diberikan

pada

pasien,

tidak

menimbulkan kesulitan atau memberikan rasa yang tidak enak pasien


tentunya akan menjadikan pasien patuh dalam menggunakan atau minum
obat sehingga tercapai tujuan terapi
Sebagai contoh pemberian obat bentuk puyer ( meskipun ada pro dan
kontra ) pada anak dengan kombinasi beberapa macam obat, selain
penentuan jenis dan dosis obat lebih tepat

tentunya pemberian lebih

mudah dibanding pemberian beberapa tablet atau kapsul maupun sirup


lebih dari

1 macam kemasan obat. Begitu pula dengan pemberian

kombinasi beberapa macam obat dalam satu kapsul pada usia lanjut lebih
memudahkan pasien dalam minum obat .
Untuk menentukan bentuk obat yang sesuai dengan kebutuhan pasien perlu
diperhatikan :
1.

sifat bahan obat,


Sebagai contoh
-

Bahan obat yang higroskopis, sebaiknya dibuat bentuk potio ( obat


minum) atau lotio, bukan bentuk kapsul, tablet atau puyer

Bahan obat yang iritasi lambung, misalnya asetosal, eritromisin dibuat


tablet enterocoated

Eritromisin kaplet ( eritromisin stearat) pahit, maka bila dkehendaki


obat bentuk sirup atau pulvers dipilih eritromisin etil suksinat yang
kurang pahit

2.

stabilitas obat,

Sebagai contoh :
-

Antibiotika yang tidak stabil dalam larutan untuk bentuk potio dibuat
sirup kering ( ampicillin , amoksisilin, cefadroxil,cefixim,

eritromisin,

thiamfenikol ), untuk bentuk injeksi juga dalam wadah vial bentuk


kering.
-

Asetosal dalam bentuk potio tidak stabil, sehingga dibuat dalam bentu
tabletromisin

3.

umur pasien,
Pada pasien anak , bentuk obat potio atau pulvers lebih mudah diberikan
dibanding tablet. Bentuk pulvers relatif lebih mudah diberikan dibanding
obat bentuk potio dengan jumlah obat lebih dari satu

4.

lokasi kerja obat,


Jenis obat yang sama dengan bentuk yang berbeda dapat diberikan pada
lokasi berbeda dengan tujuan terapi yang berbeda juga
Contoh, pemberian Metronidazol
-

Untuk

trichomoniasis , bentuk obat yang diberikan tablet, ovula,

vaginal tablet,
-

Untuk Amoebiasis, digunakan bentuk tablet, sirup

Untuk bakteri anaerob digunakan bentuk tablet, sirup, supositoria,


injeksi

5.

keadaan umum pasien


Pada pasien yang tidak sadar lebih baik diberikan obat bentuk injeksi,
supositoria atau bila digunakan obat peroral bentuk obat pulvers melalui
Naso gastric tube

6.

tujuan terapi.
Untuk mendapat efek terapi lokal biasanya digunakan salep, cream, lotion,
solution, supositoria sedang untuk efek sistemik diberikan tablet, kapsul,
potio, injeksi, supositoria
Jenis obat yang sama dengan bentuk

yang berbeda dapat digunakan

untuk terapi yang tidak sama.

2. Bentuk obat dan cara penulisan resep


Untuk mendapatkan obat di apotek baik untuk keperluan praktek maupun
untuk pasien individu, seorang dokter harus menulis permintaan dalam
bentuk resep

Resep yang lengkap mencakup :


1. Nama dokter
2. Surat Izin Praktek/Surat Penugasan
3. Alamat dan telepon tempat praktek
4. Waktu praktek
5. Tempat & tanggal penulisan
6. Nama dan dosis Obat
7. Bentuk obat yang diminta
8. Aturan pakai
9. Paraf / tanda tangan
10.Nama, umur, berat badan pasien
11.Alamat pasien ( RS : Nomor regester )
Nama obat
Untuk menulis nama obat yang benar dalam

resep agar tidak menimbulkan

duplikasi pengertian nama obat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,
antara lain :
1. Hindari

penulisan

nama

obat

dengan

nama

kimia

atau

rumus

bangun,karena dengan menulis nama kimia, akan sulit menghafalkan


nama obat dan mungkin menimbulkan kesulitan bagi apotek dalam
penyediaan obat
2. Gunakan nama generik
Penulisan nama obat dalam bentuk generik lebih mudah penyediaan obat
pasien, karena dengan penulisan nama generik tidak menimbulkan
duplikasi pemberian obat dan memberikan keleluasaan pasien untuk
memilih obat yang terjangkau
3. Tulis nama obat dengan lengkap, jangan disingkat, karena bila disingkat
dapat menimbulkan

pengertian yang berbeda dan secara psikologis

pasien lebih percaya kalau nama obat ditulis dengan lengkap


Misalnya :
-

Parasetmol bukan ditulis Pct

Chlorpeniramin maleat bukan CTM

Dektromethorphan HBr bukan DMP

Diphenilhidantoin bukan Dph ( bisa diartikan Diphenhidramin )

4. Hindari kombinasi obat dengan golongan dan kahasiat sama


Pemberian nama obat dengan khasiat yang sama bisa menimbulkan
potensiasi bahkan intoksikasi, kalau menginginkan kombinasi beberapa

macam obat hendaknya dipilih kombinasi obat yang dapat meningkatkan


efek terapi dan menurunkan kemungkinan efek samping
5. Jangan menggunakan sediaan lepas lambat untuk pulvers
Sediaan lepas lambat ( SR,LA,Retard ) dibuat dengan formulasi agar obat
dalam saluran pencernaan dilepas dengan pelan-pelan sehingga absorbsi
obat secara bertahap dan efek kerja obat lebih lama. Bila sediaan ini
dibuat pulvers yang dalam pembuatannya harus digerus maka sistem
lepas lambatnya akan rusak.
6. Urutan penulisan nama obat :
a.

nama obat,

b.

kekuatan,

c.

bentuk,

d. kemasan
Contoh :
R/ Asam Mefenamat 500 mg kaplet No I
R/ Amoksisillin 250 mg sirup Fl No I
R/ Gentamisin 80 mg injeksi amp No
R/ Ampicillin 1 gram injeksi vial No
R/ Diazepam 5 mg Rectal tube No
R/ Hidrocortison 2,5 % cream tube No
R/ Oralit 200ml sak No.
Urutan penulisan resep :
1. Remidium Cardinale :
- causa
- simtomatik
2. Remidium ajuvan
3. Vehikulum
Obat simtomatik dipisahkan bila :
- Gejala penyakit mudah sembuh/timbul
- Untuk terapi penyakit kronis
- Digunakan waktu tertentu
- Membantu memudahkan minum obat lain
Contoh :
R/ Amoksisilin

Parasetaomol
Dekstromethorpan
Khlortimeton
Vitamin B compl
Sacharum Lactis
Mfpulv dtd no XV
S 3 dd pulv I , h pc
R/ Metoklopramid
Mf pulv dtd No X
S prn muntah 3 dd Pulv I, h ac

Jumlah/ dosis obat


Untuk penulisan jumlah obat yang tepat, terdapat ketentuan sebagai berikut :L
1. Jumlah obat hindari penulisan angka decimal yaitu ,
- kurang 1 gram tulis miligram (500 mg, bukan 0,5 g)
- kurang 1mg tulis microgram (100 mcg, bukan 0,1 mg )
2. Penulisan angka pecahan :
tablet bukan 0,5 tablet

3. Jangan

menyingkat gram dengan gr (gr = granum = 65 mg ) tetapi

dengan g atau gm

4. Jangan menyingkat satuan mikrogram, nanogram, unit dengan Ug, Ng, U


5. Obat cairan, dalam

mL, bukan cc atau cm 3

6. Hindari pemberian obat terlalu banyak / lama, kecuali untuk pasien kronis
7. Gunakan dosis efektif terkecil, bila dosis obat dalam rentang terapi
8. Satuan dosis obat dalam g, mg atau mcg bukan /
kecuali bila kandungan obat lebih dari satu

Contoh :
R/ Dextromethorphan Hbr

10 mg

bukan
R/ DMP
R/ Actifed

2/3 tablet
tablet

1/3 / tablet/ kapsul ,

9. Bila kekuatan obat lebih dari satu, tulis dengan lengkap,


Contoh :
R/ Luminal 50 mg tablet No. LX
S 3 dd tab I
bukan
R/ Luminal tablet No LX
S 3 dd tab I
R/ Cefotaxim 1gram inj Vial No II
S imm
bukan
R/ Cefotaxim vial inj No II
S imm
Catatan :
Bila ada bentuk obat dengan kekuatan lebih dari satu, tetapi ditulis tanpa
kekuatan ( mg/g ), maka oleh apotek pasien diberikan obat dengan kekuatan
terkecil
Contoh :
R/ Luminal tablet No XC
S 3 dd tab I
Tablet luminal yang ada di apotek 15, 30, 50 dan 100 mg, maka oleh apotek
pasien tersebut diberi yang 15 mg, padahal pemberian luminal dalam kasus ini
kemungkinan untuk antikonvulsan pada pasien epilepsi yang memerlukan dosis
50 mg untuk sekali pemberian
Aturan pakai
1. Bentuk obat potio ,
-

S 3 dd Cth I ( 5 ml ),
sebaiknya tidak menggunakan C atau sendok makan, karena ukuran
sendok makan di masyarakat tidak sama ( 8, 10, 12 Ml ) sehingga dosis
obat tidak akurat

Jangan gunakan aturan pakai tidak jelas


R/ Parasetamol sirup Fl No. I
Simm
R/ Amoksisilin sirup Fl No I
S Prn 3 dd Cth 1/3

2. Bentuk tablet/kaplet/kapsul
-

S 4 dd tab I, 1 h pc

Jangan gunakan aturan pakai menyulitkan pasien


S 3 dd tabl 1/3
S 4 dd kaps

Aturan pakai yang jelas, bedakan AP dan Signa

Jangan menyingkat aturan pakai dengan bahasa Indonesia


Contoh :
S kp p&s tab I ( kalau perlu pagi dan sore 1 tablet )
S jp mst tab I ( jika perlu malam sebelum tidur 1 tablet )

Beri batasan bila aturan pakai prn ( pro renata : bila perlu )
Contoh :
S prn 2dd kap I
jangan
S prn kap I, bila ditulis seperti ini , maka dalam sehari pasien

dapat minum obat lebih


Besar dari dosis maksimal yang diperlukan
-

Jangan menggunakan aturan pakai terlalu panjang


Contoh :
R/ Prednison tablet No. L
S 3 dd tablet V ( 3 hari )
3 dd tablet IV ( 3 hari )
3

dd tablet III ( 3 hari ) ..... Dst ( model tappering off )

3. Bentuk oinment/cream/lotio
S ue ( Signa usus externus, pemakaian luar )
S uc ( Signa usus coknitus, pemakaian diketahui )
S olkeskan tipis
4. Bentuk injeksi
S imm ( Signa in manum medicine, serahkan dokter )
S pro inj ( signa pro injeksi, untuk injeksi )
5. Bentuk supositoria
S 2 dd supp I

Ketentuan lain

Tiap resep mulai dengan R/ dan akhiri dengan tanda penutup dan paraf /
tanda tangan

Tulis nama, umur dan berat badan pasien dengan jelas

Tulis nomor regester pasien

Penulisan resep jangan ragu, merobek/ mencoret kertas R/ yang salah

Sebelum diserahkan ke keluarga pasien, baca dan teliti kembali kebenaran


resep

Berikan KIE, al : nama obat, khasiat, bentuk, aturan pakai, efek samping
dan pantangannya

Contoh :
dr Riski Husada Prima, Sp A ( K )
SIP : 077/DS/99
Praktek : Jl Merapi No. 2 Telp 7777777 Malang

Inscriptio

Kantor : Lab Ilmu Kesehatan Anak RSSA


-------------------------------------------------------------Malang , 22 Mei 2006
R / Thiamfenikol

300 mg

Amoksisilin
Dextromethorphan HBr
Pseudophedrin HCL
Chlorpheniramin maleat
Vitamin B kompleks

275 mg
7,5 mg
20 mg

Presciptio

2 mg
tab

Saccharum Lactis
mfla pulv dtd

R Cardinale

R Adjuvan

qs

Vehicula

No XV

S 3 dd pulv I , 1 h pc habiskan
-------------,, ----------------

prf

---------------------------------------------------------------------Pro

: An Samone ( 6 th/ 22 kg )

Alamat : Jl. Tidore 33 Malang

Pembagian bentuk Sediaan Obat


Obat padat

Signatura
subscriptio

a.

Pulvis

e. Kaplet

b.

Pulvers

f. Suppositoria

c.

Kapsul

g. Ovula

d.

Tablet

h. Pilulae

Obat setengah padat


a.

Salep/unguentum c. Cream

b.

Linimentum

d. Gel

Obat cair
a.

Potio

f . Guttae ( tetes )

b.

Lotio

- Guttae ophthalmicae

c.

Injeksi

- Gutaae auricurales

d.

Aerosol

e.

Nebulizer

- Guttae nasales
- Oral drop

A. Obat padat
1. Pulvis atau serbuk

Merupakan campuran yang homogen bahan obat yang relatif kering,


digunakan obat dalam ( per oral ) maupun obat luar

Pulvis obat dalam:


R / Oralit 200 sak no X
S 1 sak dalam 1 gelas air minum, ad libit
R/ Antacida pulv sak no XV
S 3 dd pulv I, h ac
R/ Carbocystein 200 mg pulv sak no. X
S Prn 3 dd Pulv I

Pulvis Obat luar :


R/ Bedak Salicil 2 %

50 gram

S ue
R/ Neomicin- Bacitracin powder btl no I
S uc
R/ Acidum Salicylicum
Mentholum

1 %
0,5 %

Camphor

2,0 %

Zink oxida

5,0 %

Talcum venetum

ad 100

Mfla pulv adspers


S ue

2. Pulvers

Merupakan serbuk terbagi berupa bungkus kecil dalam kertas, digunakan


sebagai obat luar maupun obat dalam

a.

Pulvers obat luar :


R/ Kalium Permanganas 1
Mf pulv dtd No. VII
S 1 bungkus dalam 1 L air
Untuk rendam duduk
atau
S uc atau S un

b. Pulvers obat dalam

Pulvers pada anak


Anak Butong, umur 5 th, berat badan 18 kg. Oleh dokter didiagnosa ISPA

dan
diterapi dengan Amoksisillin ( 30 50 mg/kg/ hr ), Parasetamol ( 3060
mg/ kg/hr) ,
Dektromethorphan Hbr ( 1 2 mg/kg/hr ), Chlorpheniramain maleat
( 0,09 mg / kg/X ) dan
Pseudophedrin HCL ( 1 mg/kg/X )
R /Amoksisillin
Parasetamol
Dektromethorphan HBr
Pseudophedrin
Chlorpphenirramin Mal
Glukose
Mf pulv dtd no XV
S 3 dd pulv I habiskan
R / Amoksisillin
Parasetamol
Dektromethorphan HBr

200 mg
175 mg
6 mg

Chlorpphenirramin Mal

1,5 mg

Pseudophedrin HCl

17,5 mg

Glukose

qs

Mf pulv dtd no XV
S 3 dd pulv I habiskan

Pulvers pada orang dewasa


R/ Antasida DOEN

1 tablet

Simetikon

30 mg

Ekstrak Belladonae

10 mg

Diazepam

1 mg

Mf pulv dtd No XXX


S 3 dd pulv I , 1 2 h pc
R/ Parasetamol

400 mg

Codein

20 mg

Luminal

15 mg

Mf pulv dtd No XV
S prn 3 dd Pulv I pc ( nyeri )
atau
S 3 dd pulv I pc , prn nyeri

3. Kapsul
Keuntungan obat dalam kapsul:

Dapat menutupi rasa tidak enak, pahit atau amis

Bahan obat bisa tunggal atau kombinasi

Dosis obat dapat sesuai kebutuhan

Lebih mudah minumnya / ditelan


Penulisan resep

a. Obat tunggal
R/ Thiamfenikol 500 mg kapsul no XXI
S 3 dd kap I
Atau
R/ Kapsul Thiamfenikol 500 mg No. XXI
S 3 dd Kap I
R/ Cetirizine 10 mg kapsul No. X
S 1dd Kap I
R/ Codipront 30 mg kapsul No X

( Incidal OD )

S 2 dd kap I (Sediaan lepas lambat ( sustained


release ) mengandung Kodein

Istilah Lepas lambat : prolong action, times release, times span, retard,
long Acting, sustained release.

b. Obat kombinasi
R/ Asetaminophen

350 mg

Dekstromethorphan HBr

10 mg

Chlortrimeton

1 mg

Phenylpropanolamin
Guanesin

12,5 mg
50 mg

Mf pulv dtd no XV
da in kapsul
S Prn 3 dd kaps I
R/ Parasetamol
Amitriptilin

300 mg
5 mg

Diazepam
Coffein

1 mg
20 mg

Mf pulv da in kaps dtd No. XXI


S Prn 3 dd kaps I ( nyeri kepala )

4. Tablet / kaplet
Keuntungan obat bentuk tablet :

Lebih cepat penulisan resep oleh dokter

Lebih cepat pelayanan obat oleh apotek

Praktis mudah dibawa kemana-mana

Lebih mudah ditelan


Kerugian obat bentuk tablet :

Komposisi tetap, sulit menerapkan terapi individual

Dosis obat belum tentu sesuai untuk tiap individu

Waktu hancur n waktu disolusi obat tidak memenuhi syarat


a.

Tablet untuk obat luar


R/ Nystatin 100.000 IU Vag .tab. No. VII
S 1 dd vag tab I , hs
R/ Formalin 500 mg tablet No. XX
S uc

b.Tablet untuk obat dalam ( per oral )

Dragee
R/ Neurotropic vitamin dragee no XII
mis: Neurobion dragee
S 2 dd dragee I - 1 h pc

Enterocoated tablet
R/ Diclofenac 50 mg tablet No. XV
S prn 2 dd tab I , h pc

Tablet hisap = Lozenges


R/ Dequalinium tablet

No. XII

S 4 dd tab I , hisap

Tablet sub lingual


R/ Isosurbid dinitrat 5 mg tablet No. XX
S mane et vesp tablet I, sub lingual

Tablet Sustain release


R/ Avil retard tablet

No V

S 1 dd tabl I

Tablet hisap = Lozenges


R/ Dequalinium tablet

No. XII

S 4 dd tab I , hisap

Tablet sub lingual


R/ Isosurbid dinitrat 5 mg tablet No. XX
S mane et vesp tablet I, sub lungual

Tablet Sustain release


R/ Avil retard tablet
S 1 dd tabl I

No V

5. Suppositoria dan ovula

Suppositoria per analia, ovula per vagianal, kedua bentuk obat ini dengan
pembawa yang meleleh pada suhu tubuh.

Efek sistemik
R/ Metronidazole 1000 mg supp No. V ( antimikroba anaerobe )
S 1 dd supp I an
R/ Piroksikam 10 mg suppositoria

No. VI

S Prn 2 dd supp I , nyeri hebat

Efek lokal
R/ Anti Hemmorhoid Supp no. III
S 1 dd supp I an atau hs

R/ Bisakodil 10 mg supp No I
S 1 dd supp I, prn sulit BAB
R/ Metronidazol Nistatin Ovula No. VII ( untuk

Trichomoniasis & candidiasis

)
S 1 dd Ovulla I, malam

B. Bentuk obat Setengah padat


Umumnya digunakan sebagai obat luar untuk terapi

( anti infeksi, anti

radang, analgesik, alergi, anti jamur, anti septik ) sebagian kecil untuk
obat per oral ( anti jamur, anti septik )

1. Unguentum / salep / oinment


R/ Salep 2-4

10 g ( mengandung As Salisilat 2 % dan

S ue
R/ Menthol

Sulfur 4 % Vaselin album ad 10 g)


1,0 %

Camphora

2,5 %

Methyl salisilat

5,0 %

Ol Cayuputi

4,0 %

Parafin solid

10 %

Vaselin alb

ad 50

S ue

2. Cream dan Gel/jelly


R/ Hidrocortison 2,5 % cream tube I
S ue, oleskan tipis-tpis

R/ Oksitetracyclin 3 % cream tube I


S ue
R/ Ketoconazol 2 % cream tube I
S ue
R/ Myconazol 2 % oral gel tube I
S 3 dd Cth I , kulum-kulum kemudian telan
R/ Diklofenac 1 % gel tube No I
S 2 dd ue, oleskan pada daerah yang sakit

3. Salep mata/ eye ointment/ opthalmic oinment /


Occulenta
R/ Gentamisin 0,3 % eo tube No. I
S 3 dd Occul DS
R/ Chloramfenicol 1 % SM tube No I
S 3 dd salep mata kiri

4. Liniment

Merupakan bentuk sediaan kental atau cair yang dioleskan pada kulit

Dapat berupa larutan dalam minyak atau emulsi cair


R/ Minyak gondopura 50 ml
S ue
R/ Benzilbenzoat emulsion 100ml
S ue

C. Sediaan Cair
1. Potio

Merupakan obat cair digunakan per oral, masuk ke saluran cerna

Bentuk potio : solutio ( larutan ), suspensi maupun emulsi berupa sirup


jadi maupun sirup kering.

a. Obat tunggal
R/ Khloramfenikol sirup fl No. I sirup antibiotika, sediaan jadi
S 3 dd Cth I ( 5 ml )
R/ Erithromycin sirup fl No I

sirup antibiotika, sirup kering

S 3 dd Cth I ( 5ml ) pc
R/ Parasetamol elixir fl No I

sirup dengan pelarut alkohol

S 3 dd Cth I ( 5 ml ) prn panas


b. Obat kombinasi
Cara penulisan komposisi obat minum ( potio )

Tulis semua komponen obat, korigen ( sirup 10

50 %) ,

vehikulum ( air )

Tentukan aturan pakai , misalnya 3 kali sehari 1 sendok teh ( 5 ml )

Tentukan berapa hari obat akan diberikan

Hitung jumlah obat minum keseluruhan, misalnya obat untuk 4 hari


pemakaian 3 dd Cth I ( 5 ml ). Jumlah obat = 4 x 3 x 5 ml = 60 ml

Hitung dosis tiap komponen obat, dengan mengalikan dosis perkali


dan jumlah perkali minum, misalnya bila ad 60 ml , dosis obat x 12
( 60 ml : 5 ml ).

Bulatkan dosis obat , sesuaikan dengan ukuran bentuk obat yang


tersedia.

Bila digunakan potio obat jadi, maka dosis obat jadinya disesuaikan
kebutuhan, misalnya Amoksisilin sirup per sendok teh mengandung
125 mg sedang kebutuhan pasien ummur 6 th /20 kg adalah 200
mg, maka ditambah Amoksisilin ( 200 mg-125 mg ) x 12

Contoh

Pasien Anak Amak umur 6 thn, berat badan 20 kg dengan ISPA diberi obat
seperti pada kasus contoh pulvers ( lihat pulvers )
R/

Amoksisilin
Parasetamol
Dekstromethorphan
Chlorpheniramin Mal
Pseudophedrin
Sirup simplex
Mf potio ad

60 ml

( sebagai pelarut aqua )

S 3 dd Ct I (5ml)
R/

Amoksisilin

200 x 12 = 2400 mg

Parasetamol

200 x 12 = 2400 mg

Dekstromethorphan

0/3 x 12

Chlorpheniramin Mal

1,8 x 12 = 21,6 mg

= 80 mg

Pseudophedrin

20 x 12 = 240 mg

Sirup simplex

20% X 60 = 12 ml

Mf potio ad

60 ml

S 3 dd Ct I (5ml)
Penulisan resepnya
R/

Amoksisilin

2500

mg

Parasetamol

2500

mg

Dekstromethorpan

82,5 mg

Chlorpheniramin Mal

20 mg

Pseudophedrin

240 mg

Sirup simplex

12,5 ml atau qs

Mf potio ad

60 ml

S 3 dd Cth I ( 5 ml )
Pro : Anak Amak
umur : 6 thn
berat badan 20 kg
Atau
R/ Amoksisilin sirup fl

No I

Adde
Amoksisillin

900

mg ( dibulatkan 1000 mg )

Parasetamol

2500

Dekstromethorpan

mg

82,5 mg

Chlorpheniramin Mal

20

Pseudophedrin

240 mg

Mf potio ad

60 ml

mg

S 3dd Cth I ( 5 ml )

2. Lotio

Merupakan obat cair yang digunakan untuk obat luar, bentuk solutio,
emulsi maupun suspensi.
R/ Povidon iodin solution 60 ml fl No. I
S ue
R/ Povidon iodin gargle 100 ml fl No I
S 3 dd garg
R/ Nistatin

2 tablet

Borax gliserin

10 ml

Mf lotio
S 3 dd ue oleskan bibir
R/ Caladril lotion 60 ml fl No. I
S 3 dd ue

3. Obat tetes/guttae

Umumnya berupa sediaan cair larutan atau campuran cairan dengan


cairan yang homogen dan tidak mengendap.

Pemakaian dibantu alat penetes.

Dapat diberikan sebagai obat minum atau obat luar.

Tetes Internasional/standard 1ml = 20 tetes

a. Guttae ophthalmicae / TM / ED
Syarat Eye drop
1. Steri ( bebas bakteri )l
2. Jernih ( tidak keruh )
3. Isohidris ( ph 7,4 )
4. Isotonis ( tekanan osmose sama dengan Normal Saline )
Pelarut :
- Air
- Minyak nabati
R / Khloramfenikol 0,5 % ED fl No I
S 6 dd gtt I ODS
R/ Atropin Sulfat 1 % TM fl No. I
S 2 dd gtt I OD
R/ Y rins Fl No I
S 3 dd collyrium

b. Guttae auricurales / TT
Syarat Ear drop :
-

Pelarut yang digunakan bukan air, tapi minyak atau gliserin

Jernih atau mengandung zat padat yang terdisdpers


larutan

Steril

Antibiotika, antiseptik,lokal anestesi


R/ Gentamisin gtt auric / TT fl No I

dalam

S 3 dd gtt III auric dextra


R/ Perhidrol 3 % 25 ml
S 3 dd cuci telinga
R/ Carbo gliserin 10 ml
S 3 dd gtt V auric sin

c. Guttae nasales / TH
Syarat Nose drop :
- Pelarut air , bukan minyak
- Jernih
- Isotonis
Bentuk :
-

Drop / tetes

- Semprot / spray
Antihistamin, dekongestan
R/ Glukophedrin 1 % nose drop 10 ml
S 3 dd gtt II
R/ Otrivin adult Nose drop fl No I
S 3 dd gtt II nasal
R/ Afrin nasal spray fl No I
S 3 dd nasal spray

d. Oral drop
-

Cairan / larutan jernih

Digunakan penetes dengan dosis tetes atau ml

Antibiotika, antipiretika, antiemetika, anti anemia, vitamin, antiseptika,


iodine
R/ Parasetamol drop fl No. I
S 3 dd 0.8 ml, prn panas
R/ Multivitamin drop fl No I
S mane 0,5 ml
R/ Solutio lugoli 30 ml
S 3 dd gtt V ( dalam 1 gelas air )

4. Injectio

Sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang
harus dilarutkan atau disuspensikan segera sebelum digunakan

Diberikan secara parenteral, dengan cara suntikan menembus/merobek


jaringan ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir.
KEUNTUNGAN:

Onset cepat

Efek obat dapat diperkirakan dengan baik

Bioavailabilitas (hampir) sempurna

Tidak dipengaruhi Saluran cerna

Membantu untuk penderita sakit keras atau koma


KERUGIAN:

Nyeri

Efek psikologis (takut disuntik)

Kesalahan pemberian/dosis sulit dikoreksi

Hanya dapat dilakukan oleh dokter/ perawat


Pemberian & wadah Injectio
Pemberian secara:

Subkutan

- intramuskular

intravena bolus

- infus ( iv drips)

Intraarteri

- intraspinal

intratekal,

- intracisternal,

intraarticular,

- intracardial,

intrapleural,
-

- intradermal,

intraperitoneal (dialisis).
Wadah:
a. Single dose

: ampul, vial, fles/botol/bag

b. Multple dose : vial


Pelarut injeksi

Umumnya digunakan air

Syarat air untuk pelarut injeksi


1.

Steril

2.

Bidestilata

3.

Demineralisata

4.

Bebas pirogen

5.

Jernih

Contoh obat injeksi


R/ Atropin Sulfas inj amp no L
Simm
R/ Morphin 10 mg inj amp no I ( satu )
Simm
R/ Ampicillin 1000 mg inj vial no. V
R/ Gentamicin 80 mg inj vial No. III
R/ Duradril inj vial No. III
R/ Infus Dextrose 5% Fl No X
R/ Infus Normal salin no. IV

5. Aerosol

Sistem koloid zat cair atau zat padat yang terdispersi halus dalam gas.

Gas dapat dicairkan dengan tekanan dan mempunyai kekuatan untuk


menyemprotkan obat keluar dari wadah melalui katup.

Keuntungan:

Relatif mudah dipakai

Tidak terkontaminasi

Dosis terukur

Aerosol (inhalasi) bekerja lebih cepat dan efek samping lebih sedikit

dibanding sediaan oral


-

Obat tidak terpengaruh/rusak oleh asam lambung

Contoh spray
R/ Ventolin Spray fl No. I
S Prn 3 dd puff I
R/ Bricasma inh fl no. I
SUC
R/ Berotex aerosol fl No. I
R/ Inflamid semprot fl No. I
R/ Alupent aerosol dosis terukur Fl No I