Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN DASAR BUDIDAYA TANAMAN

MULSA DAN PEMULSAAN

Oleh :

Nama
NIM
Kelas
Asisten
Prodi

: Nadya Awaliah
: 155040201111216
:G
: Fachrurozi Ubaidillah
: Agroekoteknologi

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Usaha pertanian yang efektif adalah memadukan penggunaan sumber daya
alam terutama iklim dan tanah. Dalam pertanian, tidak hanya tanam dan pola
tanam yang harus diperhatikan. Selain melakukan tanam dan pola tanam yang
baik, pemberian mulsa juga perlu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan dan
perkembangan tanaman secara optimal yang nantinya mampu meningkatkan
kualitas dan kuantitas pada lahan dan tanaman yang dibudidayakan.
Mulsa adalah proses atau praktik yang meliputi tanah untuk membuat
lebih pada kondisi yang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman dan
perkembanngan. Tujuan dari pemberian mulsa ini adalah melindungi agregat
tanah dari percikan air hujan, menekan pertubuhan gilma pada sekitar tanaman
budidaya, mengurangi dan masih banyak lagi tujuan dari mulsa ini. Oleh karena
itu perlu diketahui lebih lanjut mengenai mulsa dan pemulsaan sehingga kita
dapat memaksimalkan penggunaannya pada lahan berdasarkan kesesuaiannya
dengan kondisi lingkungan.

1.2 Tujuan

Tujuan kegiatan praktikum mulsa dan pemulsaan adalah untuk mengetahui


pengaruh penggunaan mulsa dan kegiatan pemulsaan terhadap pertumbuhan
tanaman Ubi Jalar.

2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Mulsa (minimal 3)

Menurut Setjanata, S. (1983), mulsa adalah material penutup tanaman


budidaya yang dimaksudkan untuk menjaga kelmbaban tanaman tersebut
tumbuh dengan baik.

Menurut Buckman dan Brandy (1969) dalam Utomo (2007) bahwa mulsa
adalah semua bahan yang digunakan pada permukaan tanah terutama
untuk menghalangi hilangnya air karena penguapan atau untuk mematikan
tanaman pengganggu.

Menurut Barron (1981) Mulsa ialah sisa tanaman, lembaran plastik, atau
susunan batu yang disebar di permukaan tanah. Mulsa berguna
untuk melindungi permukaan tanah dari terpaan hujan, erosi, dan menjaga
kelembaban, struktur, kesuburan tanah, serta menghambat pertumbuhan
gulma (rumput liar).

2.2 Fungsi Pemulsaan (minimal 3)


1. Terhadap tanaman
Dengan adanya mulsa diatas permukaan tanah , benih gulma akan
sangat terhalan. Akibatnya tanaman akan bebas tumbuh tanpa
kompetisi ddengan gulma dalam peyerapan hara mineral tanah.
2. Terhadap kestabilan agregat tanah
Dengan adanya bahan mulsa diatas permukaan tanah, energi air
hujan akan ditanggung oleh bahan mulsa tersebut sehingga agregat
tanah tetap stabil dan terhindar dari proses penghancuran. Semua jenis
mulsa dapat digunakan untuk tujuan mengendalikan erosi.
3. Terhadap kimia tanah
Fungsi langsung mulsa terhadap sifat kimia tanah terjadi melalui
pelapukan bahan-bahan mulsa. Fungsi ini hanya terjadi pada jenis
mulsa yang mudah lapuk seperti jerami padi, alang-alang , rumputrumputan.
4. Manfaat terhadap ketersediaan air tanah
Pemulsaan dapat mencegah evaporasi. Dalam hal ini air yang
menguap dari permukaan tanah akan ditahan oleh bahan mulsa yang
jatuh kembali ketanah. Akibatnya lahan yang ditanam tidak

kekurangan air karena penguapan air ke udara hanya terjadi melalui


proses transpirasi.
5. Terhadap pemeliharaan tanaman
Pemulsaan dapat memperkecil perlakuan pemupukan katrena
hanya dilakukan sekali saja yaitu sebelum saat panen. Demikian juga
dengan penyiraman perlakuannya hanya dilakukan sekali saja , dan
kegiatan penyiangan tidak perlu dilakukan pada keseluruhan lahan,
melainkan hanya pada lubang tanam satu sekitar batang tanaman.
(Setjanata, 1983)

2.3 Macam-Macam Mulsa


Menurut Harist, A. (2000), terdapat beberapa jenis-jenis mulsa antara lain :
Mulsa terdiri atas 2 jenis, yaitu mulsa organic dan mulsa anorganik.
a.

Mulsa Organik
Mulsa organik adalah mulsa yang berasal dari bahan-bahan alami yang
mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa
organik diberikan setelah tanaman/bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik
adalah dan lebih ekonomis (murah), mudah didapatkan, dan dapat terurai
sehingga menambah kandungan bahan organik dalam tanah. Berikut adalah
contoh mulsa organik :
1. Mulsa sisa tanaman
Mulsa ini terdiri dari bahan organik sisa tanaman (jerami padi,
batang jagung), pangkasan dari tanaman pagar, daun-daun dan ranting
tanaman. Bahan tersebut disebarkan secara merata di atas permukaan
tanah setebal 2-5 cm sehingga permukaan tanah tertutup sempurna.

2. Mulsa serpihan kayu

Serpihan kayu yang diperoleh dari pemotongan pohon besar yang


digunakan sebagai pekerjaan sampingan yang dijadikan sebagai
mulsa. Pohon cabang dan batang besar agak kasar setelah chipping
dan cenderung digunakan sebagai mulsa setidaknya tiga inci tebal,
Serpihan kayu yang paling sering digunakan di bawah pohon dan
semak belukar.

Gambar 1. Mulsa dari serpihan kayu


3. Mulsa potongan rumput
Potongan

rumput,

dari

memotong

rumput

kadang-kadang

dikumpulkan dan digunakan di tempat lain sebagai mulsa. Potongan


rumput yang padat dan cenderung tikar ke bawah, sehingga dicampur
dengan daun pohon atau kompos kasar untuk memberikan aerasi dan
untuk memfasilitasi dekomposisi mereka tanpa pembusukan bau.

Gambar 2. Mulsa dari Potongan rumput


b.

Mulsa Anorganik
Mulsa anorganik adalah mulsa yang terbuat dari bahan-bahan sintetis yang

sukar/tidak dapat terurai. Mulsa anorganik dipasang sebelum tanaman/bibit


ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam. Mulsa anorganik ini harganya

relatif mahal, terutama mulsa plastik hitam perak yang banyak digunakan dalam
budidaya cabai atau melon. fungsi mulsa plastik ini dapat memantulkan sinar
matahari secara tidak langsung untuk menghalau hama tungau, thrips dan apahid,
selain itu mulsa plastik digunakan dengan tujuan menaikkan suhu dan
menurunkan kelembapan di sekitar tanaman serta menghambat munculnya
penyakit yang disebabkan oleh bakteri.Berikut adalah contoh mulsa anorganik :
1. Mulsa plastik hitam perak
Mulsa plastik hitam perak yang banyak digunakan dalam budidaya
cabai atau melon. fungsi mulsa plastik ini dapat memantulkan sinar
matahari secara tidak langsung untuk menghalau hama tungau, thrips dan
apahid, selain itu mulsa plastik digunakan dengan tujuan menaikkan suhu
dan menurunkan kelembapan di sekitar tanaman-ini dapat menghambat
munculnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

Gambar 3. Mulsa plastik hitam perak


2. Mulsa plastik
Mulsa plastik adalah lembaran plastik penutup lahan tanaman budi
daya yang bertujuan untuk melindungi permukaan tanah dari erosi,
menjaga kelembaban dan struktur tanah, serta menghambat pertumbuhan
gulma. Mulsa plastik termasuk jenis mulsa anorganik karena terbuat dari
bahan polietilena berdensitas rendah yang dihasilkan melalui poses
polimerisasi etilen dibawah tekanan tinggi. Penggunaan mulsa plastik
banyak digunakan pada budi daya tanaman dengan sistem intensifikasi
produksi, seperti tanaman hortikultura jenis sayur-sayuran.

Gambar 4. Mulsa menggunakan mulsa plastik


2.11 Kelebihan dan Kekurangan Jenis Mulsa
Menurut Fithriadi (1997), kelebihan dan kekurangan dari beberapa jenis
mulsa yaitu :
a) Mulsa organik
Kelebihan mulsa organik yaitu dapat diperoleh secara bebas dan gratis,
selain itu mulsa ini memiliki efek menurunkan suhu tanah. Mulsa organik
juga mampu mengonservasi tanaman pengganggu dan juga dapat menambah
bahan organik tanah mudah lapuk detelah rentang waktu tertentu.
Mulsa organik tidak hanya memiliki kelebihan tetapi juga memiliki
kekurangan yaitu tidak tersedia sepanjang musim tanam, tetapi hanya saat
musim panen tadi karena yang dipakai pada mulsa organik ini adalah jerami
padi. Mulsa organik ini hanya tersedia disekitar sentra budidaya padi
sehingga daerah yang jauh dari pusat budidaya padi membutuhkan biaya
ekstra untuk transportasi. Mulsa organik juga tidah dapat digunakan lagi
untuk masa tanam berikutnya, yaitu hanya dapat digunakan untuk satu kali
masa saja.
b) Mulsa Anorganik
Kelebihan dari mulsa anorganik adalah mulsa ini dapat diperoleh setiap
saat. Dan mulsa ini juga memiliki sifat yang beragam terhadap suhu tanah
tergantung plastik. Mulsa ini juga dapat menekan erosi, mudah diangkut
sehingga dapat digunakan di setiap tempat, serta dapat menekan dan terhindar
tanaman pengganggu seperti gulma-gulma. Mulsa juga memiliki kelebihan
dapat digunakan lebih dari satu musim tanam tergantung bahan mulsa.

Kekurangan dari mulsa plastik adalah mulsa plastik tidak memiliki efek
menambah kesuburan tanah karena sifatnya sukar lapuk dan harganya relatif
mahal.
2.3 Teknik Budidaya Ubi Jalar
Menurut Juanda (2000) Teknik Budidaya Ubi jalar dapat dilakukan dengan
cara sebagai berikut :
1. Penjarangan dan penyulaman
Selama 3 (tiga) minggu setelah ditanam,penanaman ubi jalar harus diamati
kontinu,terutama bibit yang mati atau tumbuh secara abnormal.Bibit yang mati
harus segera disulam.Cara menyulam adalah dengan mencabut bibit yang
mati,kemudian diganti dengan bibit yang baru,dengan menanam sepertiga
bagian pangkal setek ditimbun tanah.Penyulaman sebaiknya dilakukan pad
pagi atau sore hari,pada saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu udara
tidak terlalu panas. Bibit (setek) untuk penyulaman sebelumnya dipersiapkan
atau ditanam ditempat yang teduh.
2. Penyiangan
Pada sistem tanam tanpa mulsa jerami,lahan penanaman ubi jalar biasanya
mudah ditumbuhi rumput liar (gulma).Gulma merupakan pesaing tanaman ubi
jalar,terutama dalam pemenuhan kebutuhan akan air,unsur hara, dan sinar
matahari.Oleh karena itu,gulma harus segera disiangi.Bersama-sama kegiatan
penyiangan

dilakukan

pembubunan,yaitu

menggemburkan

tanah

gundulan,kemudian ditimbunkan pada gundulan tersebut.


3. Pembubunan
Penyiangan dan pembubunan tanah biasanya dilakukan pada umur 1 bulan
setelah tanam,kemudian diulang saat tanaman berumur 2 bulan.Tata cara
penyiangan dan pembubunan meliputi tahap-tahap sebagai berikut:
a. Bersihkan rumput liar (gulma) dengan kored atau cangkul secara
hati-hati agar tidak merusak akar tanaman ubi jalar.
b.Gemburkan tanah sekitar guludan dengan cara memotong lereng
guludan,kemudian tanahnya diturunkan kedalam saluran antar
guludan.

c.Timbunkan kembali tanah guludan semula,kemudian lakukan


pengairan hingga tanah cukup basah.
2.5 Penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak pada Ubi Jalar
Mulsa adalah material penutup tanaman budidaya yang dimaksudkan
untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan
penyakit sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik. Mulsa
dibedakan menjadi dua macam dilihat dari bahan asalnya, yaitu mulsa organik
dan anorganik. Mulsa organik berasal dari bahan-bahan alami yang mudah
terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa organik
diberikan setelah bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik adalah dan lebih
murah, mudah didapatkan, dan dapat terurai sehingga menambah kandungan
bahan organik dalam tanah. Contoh mulsa organik adalah alang-alang atau
jerami, ataupun cacahan batang dan daun dari tanaman jenis rumput-rumputan
lainnya. Mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar atau
bahkan tidak dapat terurai. Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik,
mulsa plastik hitam perak (MPHP) atau karung (Kusumasiwi, 2011). MPHP
terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan berwarna perak di bagian atas dan warna
hitam dibagian bawah dengan berbagai keuntungan.
Warna perak pada mulsa akan memantulkan cahaya matahari sehingga
proses fotosintesis menjadi lebih optimal, kondisi pertanaman tidak terlalu
lembab, mengurangi serangan penyakit, dan mengusir serangga-serangga
penggangu tanaman seperti Thirps dan Aphids. Sedangkan warna hitam pada
mulsa akan menyerap panas sehingga suhu di perakaran tanaman menhadi
hangat. Akibatnya, perkembangan akar akan optimal. Selain itu warna hitam
juga mencegah sinar matahari menembus ke dalam tanah sehingga benihbenih gulma tidak akan tumbuh (kecuali teki dan anak pisang) (Sonhaji, 2007).
Mulsa berguna untuk melindungi permukaan tanah dari terpaan hujan, erosi,
dan menjaga kelembaban, struktur, kesuburan tanah, serta menghambat
pertumbuhan gulma.
Dengan menggunakan MPHP, perlakuan pemupukan dapat diperkecil
karena hanya dilakukan sekali saja yaitu saat sebelum panen. Pemberian pupuk

juga akan lebih sedikit karena persaingan tanaman dengan gulma bisa
dikurangi serta berkurangnya penguapan pupuk akibat penyinaran matahari
karena terhalang oleh warna hitam mulsa, jadi unsur hara akan tetap tersedia.
Persaingan tanaman Ubi Jalar dengan gulma dalam mendapatkan unsur hara
juga menyebabkan produksi tanaman Ubi Jalar dapat meningkat bahkan
berbeda nyata dengan produksi Ubi Jalar tanpa mulsa. Produksi cabai merah
menggunakan MPHP mencapai 20-40 ton per hektar (Rukmana, 1994),
sementara jika tanpa menggunakan mulsa produksinya hanya mencapai 16 ton
per hektar (Prajnanta, 2002).Intensitas penyiraman dalam budidaya Ubi Jalar
dengan MPHP juga akan lebih sedikit karena penggunaan MPHP bisa menjaga
kelembaban dan suhu tanah. Selain itu kegiatan penyiangan tidak perlu
dilakukan pada keseluruhan lahan, melainkan hanya pada lubang tanam atau
sekitar batang tanaman. Berbeda dengan budidaya tanaman Ubi Jalar yang
tidak menggunakan MPHP, penyiangan dilakukan diseluruh bagian bedengan
serta dapat mengakibatkan kerusakan akar akibat dari kurang hati-hati pada
saat menyiang bagian yang dekat perakaran tanaman.
Dengan demikian, pengaruh pemakaian mulsa pada budidaya tanaman Ubi
Jalar sangat besar dalam meningkatkan produktivitasnya.Secara umum,
penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat meningkatkan suhu rizosfir yang
ditutupi mulsa dibanding tanpa mulsa (Fahrurrozi and Stewart, 1994 ;
Fahrurrozi et al., 2001). Peningkatan suhu tanah di bawah mulsa plastik hitam
perak lebih rendah dibanding dengan suhu tanah di bawah mulsa plastik hitam.
Meskipun di daerah tropis, peningkatan suhu tanah relatif tidak diinginkan,
tetapi peningkatan suhu tanah akan meningkatkan aktivitas mikroorganisme
tanah dalam menguraikan bahan organik yang tersedia (Fahrurrozi et al.,
2001), sehingga terjadi penambahan hara tanah dan pelepasan karbon dioksida
melalui lubang tanam.

3. BAHAN DAN METODE


3.1 Alat dan Bahan
A. Alat:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Cangkul
Meteran
Tugal
Penggaris
Gembor
Alat tulis
Kamera
Kaleng susu

: Untuk mengolah tanah


: Untuk mengukur jarak tanam
: Untuk melubangi tanah
: Untuk mengukur tinggi tanaman
: Untuk menyiram tanaman
: Untuk mencatat hasil pengamatan
: Untuk dokumentasi
: Untuk melubangi mulsa

B. Bahan:

1.
2.
3.
4.
5.

Plastik hitam perak : Sebagai bahan pemulsaan


Bibit Ubi Jalar
: Sebagai bahan tanam
Pupuk urea
: Sebagai bahan pemupukan
Pupuk SP36
: Sebagai bahan pemupukan
Pupuk KCL
: Sebagai bahan pemupukan

3.2 Cara Kerja (diagram alir)


Siapkan alat4.dan bahan
5.
6.
7.
Separuh dari setiap petak lahan pertanaman ubi jalar diberi mulsa
plastic hitam perak8.pada guludannya
9.
Pilih setengah bagian dari petakan lahan ubi jalar kemudian pasang
10.
mulsa plastik hitam perak di atas permukaan tanah (guludan)
sepanjang
11.lajur

12.
13. bersamaan lalu kedua ujung
Ujung ujung mulsa plastik ditarik secara
dipasak dengan menggunakan pasak dari bambu
14.

15.
Lubangi mulsa dengan kaleng yang
dipanaskan untuk memasukkan
tanaman ubi jalar
16.

Menanami dengan17.
tanaman ubi jalar

18.
Amati perbedaan pertumbuhan dan
19.hasil panen dari tanaman yang
diberi mulsa dan yang tidak diberi mulsa hingga tanaman panen

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Data Hasil Pengamatan
4.1.1 Panjang Tanaman Ubi Jalar
Berikut adalah tabel data hasil pengamatan rata-rata panjang tanaman ubi
jalar pada usia 2 sampai 7 minggu setelah tanam (mst), dengan pengaruh pola
tanam tanpa mulsa dan dengan mulsa plastik hitam perak.
Tabel 1. Perbandingan Rata-Rata Panjang Tanaman Ubi Jalar dengan Perlakuan
Tanpa Mulsa dan Penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak
Panjang Tanaman (cm)
Pola Tanam
2 mst
3 mst
4 mst
5 mst
6 mst
7 mst
29.1
30.5
40.5
69.8
Tanpa Mulsa
MPHP

26.0

30.8

39.8

60.5

Dari data diatas dapat dilihat bahwa panjang kedua tanaman ubi jalar tanpa
mulsa dan dengan MPHP selalu mengalami pertambahan panjang disetiap
minggunya. Tanaman ubi jalar dengan perlakuan tanpa mulsa di mnggu kedua
memiliki panjang 29,1 cm, pada minggu ketiga 30,5 cm, pada minggu ke empat
setelah tanam 40,5 cm, dan pada minggu ke lima setelah tanam 69,8 cm.
sedangkan, untu tanaman ubi jalar dengan perlakuan penggunaan MHPH didapat
panjang tanaman pada 2 minggu setelah tanam yaitu 26 cm, pada 3 minggu
setelah tanam yaitu 30,8 cm, pada minggu ke empat setelah tanam 39,8, dan pada
minggu kelima setelah tanam 60,5 cm. Dapat dilihat bawa panjang tanaman tanpa
mulsa memiliki panjang yang lebih panjang dibandingkan dengan perlakuan
dengan penggunaan mulsa plastic hitam perak. Berikut adalah perbandingan
grafik kenaikan panjang tanaman ubi jalar.

Gambar 1. Perbandingan Rata-Rata Panjang Tanaman Ubi Jalar dengan


Perlakuan Tanpa Mulsa dan Penggunaan Mulsa Plastik Hitam
Perak
4.1.2 Jumlah Daun Tanaman Ubi Jalar
Berikut adalah tabel data hasil pengamatan rata-rata jumlah daun tanaman
ubi jalar pada usia 2 sampai 7 minggu setelah tanam (mst), dengan pengaruh pola
tanam tanpa mulsa dan dengan mulsa plastik hitam perak.
Tabel 1. Perbandingan Rata-Rata Jumlah Daun Tanaman Ubi Jalar dengan
Perlakuan Tanpa Mulsa dan Penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak
Jumlah Daun
Pola Tanam
2 mst
3 mst
4 mst
5 mst
6 mst
7 mst
27.8
49.5
90.5
16.5
Tanpa Mulsa
MPHP

10.3

22.0

47.3

92.0

Dari data diatas dapat dilihat bahwa jumlah daun kedua tanaman ubi jalar
tanpa mulsa dan dengan MPHP selalu mengalami pertambahan jumlah daun
disetiap minggunya. Tanaman ubi jalar dengan perlakuan tanpa mulsa di minggu
kedua memiliki rata-rata jumlah daun sebanyak 16,5 helai , pada minggu ketiga
27,8 helai, pada minggu ke empat setelah tanam 49,5 helai, dan pada minggu ke
lima setelah tanam 90,5 helai. Sedangkan, untuk tanaman ubi jalar dengan
perlakuan penggunaan MHPH didapat rata-rata jumlah daun tanaman pada 2
minggu setelah tanam yaitu 10,3 helai, pada 3 minggu setelah tanam yaitu 22
helai, pada minggu ke empat setelah tanam 47,3 helai, dan pada minggu kelima
setelah tanam 92 helai. Dapat dilihat bawa jumlah daun tanaman tanpa mulsa
memiliki jumlah daun yang lebih banyak di dua minggi setelah tanam hingga
empat minggu setelah tanam dibandingkan dengan perlakuan dengan penggunaan
mulsa plastic hitam perak. Namun, pada minggu ke lima setelah tanam jumlah
daun tanaman ubi jalar menggunakan MHPH memiliki jumlah daun yang lebih
banyak dibandingkan dengan ubi jalar tanpa mulsa. Berikut adalah perbandingan
grafik kenaikan jumlah daunpada tanaman ubi jalar.

Gambar 2.

4.1.3

Perbandingan Rata-Rata Jumlah Daun Tanaman Ubi Jalar dengan


Perlakuan Tanpa Mulsa dan Penggunaan Mulsa Plastik Hitam
Perak
Jumlah Batang Tanaman Ubi Jalar

Tabel 1. Perbandingan Rata-Rata Jumlah Batang Tanaman Ubi Jalar dengan


Perlakuan Tanpa Mulsa dan Penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak
Jumlah Batang
Pola Tanam
2 mst
3 mst
4 mst
5 mst
6 mst
7 mst
4.8
6.5
6.3
5.3
Tanpa Mulsa
MPHP

1.5

2.5

6.0

6.0

Dari data diatas dapat dilihat bahwa jumlah batang kedua tanaman ubi jalar
tanpa mulsa dan dengan MPHP selalu mengalami pertambahan jumlah batang
disetiap minggunya. Tanaman ubi jalar dengan perlakuan tanpa mulsa di minggu
kedua memiliki rata-rata jumlah batang sebanyak 5,3 batang , pada minggu ketiga
4,8 batang, pada minggu ke empat setelah tanam 6,5 batang, dan pada minggu ke
lima setelah tanam 6,3 batang. Sedangkan, untuk tanaman ubi jalar dengan
perlakuan penggunaan MHPH didapat rata-rata jumlah daun tanaman pada dua
minggu setelah tanam yaitu 1,5 batang, pada 3 minggu setelah tanam yaitu 2,5
batang, pada minggu ke empat setelah tanam 6 batang, dan pada minggu kelima
setelah tanam batang. Dapat dilihat bawa jumlah batang tanaman tanpa mulsa
memiliki jumlah batang yang lebih banyak di dua minggu setelah tanam namun
mengalami perontokan atau gugur rata-rata jumlah batang di tiga minggu setelah
tanam dan pada minggu ke empat jumlah batang kembali naik namun pada
minggu ke lima setelah tanam jumlah batang kembali mengalami penurunan.

Sedangkan untuk tanaman ubi jalar dengan menggunakan MPHP memiliki ratarata jumlah batang yang lebih sedikit dibandingkan ubi jalar tanpa mulsa namun
jumlah batang tidak pernah mengalami penurunan atau selalu meningkat. Berikut
adalah perbandingan grafik kenaikan jumlah batang pada tanaman ubi jalar.

Gambar 3.

Perbandingan Rata-Rata Banyak Batang Tanaman Ubi Jalar


dengan Perlakuan Tanpa Mulsa dan Penggunaan Mulsa
Plastik Hitam Perak
4.2 Pembahasan

Berdasarkan data hasil pengamatan dan gambar grafik dapat dilihat bahwa
penggunaan mulsa sangat berpengaruh pada pertumbuhan ubi jalar seperti
panjang tanaman, jumlah daun, dan jumlah batang atau ranting tanaman ubi jalar.
Dapat dilihat bahwa tinggi tanaman ubi jalar yang menggunakan MPHP memiliki
tinggi yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan panjang ubi jalar tanpa mulsa.
Namun pada jumlah daun pada tanaman ubi jalar yang lebih banyak dengan
perlakuan MPHP daripada jumlah daun ubi jalar tanpa mulsa. Menurut Sonhaji
(2007) warna perak pada mulsa akan memantulkan cahaya matahari sehingga
proses fotosintesis menjadi lebih optimal dan jumlah daun merupakan salah satu
indicator dari proses fotosintesis. Sedangkan untuk jumlah ranting batang tanaman
ubi jalar tanpa pemulsaan memiliki jumlah rata-rata akhir yang lebih besar
dibandingkan dengan ubi jalar pemulsaan. Namun, ubi jalar dengan pemulsaan
memiliki jumlah ranting batang yang terus meningkat disetiap minggunya namun

jumlah batang ubi jalar tanpa pemulsaan mengalami pengguguran atau rontok
pada tiga minggu setelah tanam, Hal tersebut dikarenakan perbedaan suhu dan
kelembaban pada tanaman ubi jalar Seperti pernyataan Wurr (1997) bahwa suhu
tanah tidak hanya mempengaruhi hasil, tetapi juga mempengaruhi saat tumbuh,
saat inisiasi, bentuk daun, jumlah daun dan struktur percabangan . Selain itu
Purwowidodo (1983) juga menjelaskan bahwa untuk mengendalikan penguapan
air maka

penggunaan mulsa

merupakan

bahan yang

potensial

untuk

mempertahankan suhu, kelembaban tanah, kandungan bahan organik, mengurangi


jumlah dan kecepatan aliran permukaan, meningkatkan penyerapan air dan
mengendalikan pertumbuhan gulma . Dikarenakannya optimalnya proses
fotosintesis juga dapat menjadi penyebab atau faktor perbedaan tinggi pada
tanaman ubi jalar tersebut. Sedangkan warna hitam pada mulsa akan menyerap
panas sehingga suhu disekitar perakaran tanaman menjadi hangat. Selain itu
warna hitam juga mencegah sinar matahari menembus kedalam tanah sehingga
benih-benih gulma tidak akan tumbuh.Sesuai dengan pernyataan Mawardi
(2000) , bahwa pertumbuhan akar yang baik akan mempengaruhi pertumbuhan
tajuk tanaman. Akar akan menyerap air tanah dan unsur hara yang selanjutnya
diangkut melalui jaringan xylem menuju organ-organ yang akan mensintesisnya
dalam suatu proses yang disebut fotosintesis. Akar juga akan menyuplai CO2 dari
tanah sehingga dapat meningkatkan laju fotosinteis. Selanjutnya, hasil fotosintesis
(fotosintat) akan di transpor ke seluruh jaringan tanaman melalui jaringan floem
dan akan bergerak dua arah yaitu ke arah atas dan bawah menuju daerah
pemanfaatannya. Pergerakan substansi ke atas akan membantu pertumbuhan tajuk
(pucuk dan daun) sehingga tanaman akan lebih tinggi.

KESIMPULAN

Pada praktikum pemulsaan dapat diperoleh hasil bahwa tanaman


ubi jalar yang menggunakan mulsa plastic hitam perak (MPHP) memiliki
jumlah daun yang lebih banyak dibandingankan dengan tanaman ubi jalar
tanpa pemulsaan dan juga jumlah ranting atau batang yang terus tumbuh
dan bertambah disetiap minggunya dibandingkan dengan ubi jalar tanpa

pemulsaan yang jumlah batangnya mengalami penurunan dan kenaikan.


Hal ini diakibatkan dari penggunaan mulsa hitam plastic perak yang
memiliki manfaat dapat menjaga kelembaban suhu tanah dan kandungan
bahan organic tanah yang dapat mempengaruhi jumlah daun, struktur
percabangan, dan juga inisiasi tanaman ubi jalar tersebut.
Sedangkan untuk panjang tanaman ubi jalar, dimana didapat hasil
ubi jalar tanpa mulsa memiliki rata-rata panjang yg lebih besar
dibandingkan dengan ubi jalar dengan mulsa plastic hitam perak dikarena
ubi jalar merupakan tanaman dengan bentuk akar merambat. Jadi, jika
tidak menggunakan mulsa akar ubi jalar akan bebas tumbuh tidak
beraturan. Adanya mulsa mencegah akar-akar yang tidak diperlukan. Jika
akar pada tanaman ubi jalar berjumlah banyak maka ubi yang dihasilkan
tidak akan tumbuh maksimal (besar).

DAFTAR PUSTAKA
Baron, J.J. and S.F. Gorske. 1981. Soil carbon dioxide level as affected by plastic
mulches. Proc. Natl. Agr. Plastic Congress. 16:149-155.
Buckman, Harry O and Brandy, Nile C. 1969. The Nature and Properties of Soils.
7th Edn., The Macmillan Company, p 486-487.
Fahrurrozi, K.A. Stewart, S. Jenni. 2001. The early gowth of muskmelon in
mini-tunnel

containing

thermal-water

dioxide concentration in the tunnel. J.

tube. I. The

carbon

Amer Soc. For Hort. Sci.

126:757-763.
Fithriadi, Riri, dkk. 1997. Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering di Indonesia.
Harist, A. 2000. Petunjuk Pnggunaan Mulsa. Jakarta: Penebar Swadaya.
Juanda, D., dan B. Cahyono. 2000. Ubi jalar: Budidaya dan analisis usaha
tani. Yogyakarta: Kanisius. 82 hal
Kusumasiwi, A.W.P. 2011. Panduan Sukses Bertanam Ubi Jalar. Skripsi Fakultas
Pertanian (Jurusan Budidaya Pertanian UGM).
Mawardi. 2000. Pengujian mulsa plastik pada tanaman melon. Agrista 2: 175180
Purwowidodo,1982. Hortikultura Aspek Budidaya. UI Press : Jakarta. pp. 485.
Prajnanta, F. 2002. Kiat Sukses Bertanam Ubi Jalar di Musim Hujan. Depok:
Penebar Swadaya.
Rukmana R. 1995. Bertanam Semangka Sistem Mulsa Plastik . Trubus, Feb.1995,
No.303.
Rukmana,

R.

1994.

Budidaya

Cabai

Hibrida

Sistem

Mulsa

Plastik.Yogyakarta:Kanisius.
Setjanata, S.1983. Perkembangan Penerapan Pola Tanam dan Pola Usahatani
dalam Usaha Intensifikasi.
Sonhaji,A, 2007. Mengenal dan Bertanam Ubi Jalar. Bandung: Gaza Publishing.
Wurr, D,C.E., C.C. Hole., J.R. Fellows, J. Milling, J.R. Lynn, P. OBrian. 1997.
The effect of some environmental factors on potato tuber number. Pot.
Res. 40:297-306.

LAMPIRAN
Lampiran 1. Data Pengamatan Ubi Jalar 20 April 2016
Tanpa
Mulsa
Tanaman
C2
C3
C4
C8
Jumlah
Rata2

Panjang
Batang
(cm)

Banyak
Daun

Banyak
Cabang

27.0
29.0
33.5
27.0

21.0
16.0
15.0
14.0

8.0
4.0
5.0
4.0

116.5
29.1

66.0
16.5

21.0
5.3

Panjang
Batang
(cm)

Banyak
Daun

Banyak
Cabang

19.0
43.0
23.5
18.5

7.0
6.0
14.0
14.0

1.0
0.0
2.0
3.0

104.0
26.0

41.0
10.3

6.0
1.5

Dengan
Mulsa
Tanaman
B3
B4
B5
B9
Jumlah
Rata2

Lampiran 2. Data Pengamatan Ubi Jalar 27 April 2016


Tanpa
Mulsa
Panjang
Batang
(cm)

Banyak
Daun

Banyak
Cabang

25.5
35.5
32
29

28
44
19
20

4
5
5
5

122
30.5

111
27.75

19
4.75

Tanaman

Panjang
Batang
(cm)

Banyak
Daun

Banyak
Cabang

B3

20

12

Tanaman
C2
C3
C4
C8
Jumlah
Rata2
Dengan
Mulsa

B4
B5
B9
Jumlah
Rata2

48
35
20

19
40
17

2
5
2

123
30.75

88
22

10
2.5

Lampiran 3. Data Pengamatan Ubi Jalar 4 Mei 2016


Tanpa
Mulsa
Tanaman
C2
C3
C4
C8
Jumlah
Rata2

Panjang
Batang
(cm)

Banyak
Daun

Banyak
Cabang

39
49
37
37

56
66
37
39

6
11
4
5

162
40.5

198
49.5

26
6.5

Panjang
Batang
(cm)

Banyak
Daun

Banyak
Cabang

24
55
53
27

40
31
75
43

4
5
9
6

159
39.75

189
47.25

24
6

Dengan
Mulsa
Tanaman
B3
B4
B5
B9
Jumlah
Rata2

Lampiran 4. Data Pengamatan Ubi Jalar 11 Mei 2016


Tanpa
Mulsa
Tanaman
C2
C3
C4
C8
Jumlah
Rata2

Panjang
Batang
(cm)

Banyak
Daun

Banyak
Cabang

77
88
74
40

98
89
89
86

7
9
3
6

279
69.75

362
90.5

25
6.25

Dengan
Mulsa
Tanaman
B3
B4
B5
B9
Jumlah
Rata2

Panjang
Batang
(cm)

Banyak
Daun

Banyak
Cabang

55
60
80
47

74
58
150
86

6
5
6
7

242
60.5

368
92

24
6

Peta Tanaman Pengamatan Kelompok G2 Ubi Jalar (Bedengan dengan


Menggunakan Mulsa dan Tanpa Mulsa)

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 2 3 4 5 6 7 8 9

C
ARAH PULANG

1 2 3 4 5 6 7
8 9 10
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Keterangan:
Bedengan A dan D tepi

Bedengan A dan B dengan mulsa

Bedengan B dan C tengah

Bedengan C dan D tanpa mulsa

Hijau yang diteliti


Merah mati

Lampiran Dokumentasi