Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini psikotropika sudah menjadi barang yang biasa ada didalam masyarakat,
sudah tidak menjadi barang yang aneh lagi, bayangkan saja disetiap berita televisi selalu
adaberitatentang narkoba . Peredaran psikotropika saat ini sudah bisa mencapai daerah
yang terpelosok sekalipun, dan mulai dari kalangan bawah sampai yang paling atas juga
ikut menyalahgunakan psikotropika. Psikotropika sebenarnya digunakandidalam bidang
kesehatan dan ilmu pengetahuan.
Psikotropik adalah obat yang bekerja dan mempengaruhi fungsi psikik dan proses
mental.

Psikotropik

terbagi

bagian

yaitu Antipsikosis

(gangguan

mental),

Antiansietas(perasaan cemas), Antidepresi (perasaan putus asa), dan Psikotogenik


(halusinasi). Antipsikosis adalah dapat mengobati gangguan mental pada penderita
skizoprenia mengatasi agresivitas,hiperaktivitas dan labilitas emosinal pasien psikosis.
Antipsikotik menghambat dopamin pada otak sehingga memulihkan gejala psikotik dan
menghambat daerah pemicu kemoreseptor dan pusat muntah(emetik) pada otak sehingga
menghasilkan efek antiemetik. Dosis besar tidak menyebakan anestesi/koma. Antiansietas
= sedatif-hipnotik yang berguna dalam pengobatan sistomatik penyakit psikoneurosis
yang didasari perasaan cemas dan ketegangan mental. Antidepresi adalah obat untuk
mengatasi depresi mental yang biasanya mendadak dan adanya kejadian pencetus.
Psikotogenik adalah obat yang dapat menimbulkan kelainan tingkah laku rasa takut
disertai halusinasi, ilusi, gangguan cara fikir dan perubahan alam perasaan jadi dapat
menimbulkan psikosis.
Psikotropika menurut Undang - Undang RI No. 5/1997 adalah zat atau obat, baik
alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas
mental dan perilaku. Pemakaian Psikotropika yang berlangsung lama tanpa pengawasan
dan pembatasan pejabat kesehatan dapat menimbulkan dampak yang lebih buruk, tidak
saja menyebabkan ketergantungan bahkan juga menimbulkan berbagai macam penyakit
serta kelainan fisik maupun psikis si pemakai, tidak jarang bahkan menimbulkan
kematian.
1.2 Rumusan Masalah

1.
2.
3.
4.

Apa yang dimaksud dengan psikotropika?


Apa saja jenis-jenis psiktropika?
Bagaimana efek pemakaian psikotropika?
Bagaimana petunjuk penggunaan psikotropika?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mahasiswa dapat mengethui apa yang dimaksud dengan psikotropika.
2. Mahasiswa dapat mengethui jenis-jenis psiktropika.
3. Mahasiswa dapat mengethui bagaimana efek pemakaian psikotropika.
4. Mahasiswa dapat mengethui bagaimana petunjuk penggunaan psikotropika.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Psikotropika
Psikotropika adalah zat-zat kimia yang menekan kerja susunan saraf pusat dan
memberikan efek mengkhayal (halusinasi), gangguan cara berpikir, perubahan
emosi/perasaan, dan juga memberikan efek stimulasi (merangsang). Jenis psikotropika
yang dikenal adalah ekstasi dan shabu-shabu. Pada mulanya, obat-obat psikotropika
digunakan

dibidang

kesehatan/medis,

namun

dalam

perkembangannya

sering

disalahgunakan oleh para pemakainya.


Sebenarnya Psikotropika baru diperkenalkan sejak lahirnya suatu cabang ilmu
farmakologi

yakni

psikofarmakologi

yang

khusus

mempelajari

psikofarma

ataupsikotropik. Dalam United Nationconference for Adoption of Protocol on


Psychotropic Substance disebutkan batasan-batasan zat psikotropik adalah bentuk bahanbahan yang memiliki kapasitas menyebabkan :
Keadaan ketergantungan
Depresi dan stimulan susunan saraf pusat (SSP)
Menyebabkan halusinasi
Menyebabkan gangguan fungsi motorik atau persepsi
Menurut undang-undang nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika, dalam pasal
1butir 1 disebutkan, bahwa Psikotropika adalah zat atau obat. baik alamiah maupun
sintesis bukan narkotika. Yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif
padasusunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental
danprilaku.
2.2 Jenis Jenis Psikotropika
A. Menurut Farmakologi
Obat-obat yang menekan fungsi-fungsi psikis tertentu di SSP
1. Obat Golongan Neuroptika
Disebut juga obat antipsikotika, adalah obat-obat yang menekan fungsi psikis
tertentu, tanpa menekan fungsi-fungsi umum seperti berpikir dan berkelakuan
normal. Obat-obatan ini dapat meredakan emosi dan agresi yang pada umumnya diderita oleh psikosis, yaitu penderita penyakit jiwa seperti schizophrenia.
2. Obat Golongan Transquillizer
Golongan ini merupakan obat-obat penenang yang berkhasiat selektif terutama
pada bagian obat yang menguasai emosi-emosi kita, yakni system limbis dan
menekan SSP. Bedanya dengan neuroptika adalah bukan merupakan
antipsikotika.
Obat-obat yang menstimulir (merangsang) fungsi-fungsi tertentu di SSP
1. Obat Golongan Anti depressive
Obat yang dipergunakan untuk menghilangkan, memperbaiki dan meringankan gejala-gejala suasana jiwa seperti murung dan lain sebagainya.
2. Obat Golongan Psikostimulansia
Obat ini memiliki kemampuan untuk mempertinggi inisiatif, kewaspadaan
serta prestasi fisik dan mental, rasa letih dapat diminimalisir bahkan
dihilangkan. Termasuk dalam golongan ini adalah amfetamin-amfetamin serta
doping yang lain.
B. Menurut Penggunaan Klinis
1. Psikotropika Golongan I
Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan
tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan

sindroma ketergantungan disebut juga antipsikosis. Obat-obat yang termasuk


golongan ini adalah :

Antipsikosis bermanfaat pada terapi psikosis akut maupun kronik, suatu gangguan
jiwa yang berat. Ciri terpenting obat antipsikosis ialah :

Berefek antipsikosis, yaitu berguna mengatasi agresifitas, hiper aktifitas dan


labilas emosional pada pasien psikoksis.
Dosis besar tidak menyebabkan, yang dalam ataupun anastesia.
N
o

NAMA LAZIM

BROLAMFETAMINA

2
3
4
5
6
7
8
9
10

ETISIKLIDINA
ETRIPTAMINA
KATINONA
LISERGIDA
MEKATINONA
PSILOSIBINA
PROLISIKLIDINA
TENAMFETAMINA
TENOKSILIDINA

NAMA LAIN
DOB , DET , DMA dan
DMHP
DMT
DOET
PCE
LSD dan MDMA
4-metilaminoreks
Psilosina dan psilotsina

Dapat
menimbulkan
gejala

TMA

ekstrapiramidal yang refesible atau irvesible. Pada neuroleptic yang lebih baru,
efek asmping ini minimal sehingga anti psikopik menurut efek samping
eksrapiramidal yang di timbulkan terbagi menjadi antipsikotik yang tipikal
(efek samping ekstrapiramidal yang nyata) dan psikotik yang atipikal (efek

samping ekstra pyramidal yang minimial).


Tidak ada kecenderungan untuk menimbulkan ketergantungan psikis

2. Psikotropika Golongan II
Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan
dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan dan sering
disebut juga antiansietas.
Antiansietas berguna untuk pengobatan simtomatik penyakit psikoneurosis
dan juga untuk terapi tambahan penyakit stomatik dengan ciri antiansietas

(perasaan cemas) serta ketegangan mental. Obat-obat yang termasuk golongan ini
adalah :
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

NAMA LAZIM
AMFETAMIN
DEKSAMFETAMIN
FENETILINA
FENMETRAZINA
FENSIKLIDINA
MEKLOKUALON
METAMFETAMINA
RASEMAT
METAKUALON
METILFENIDAT
SEKOBARBITAL
ZIPEPPROL

NAMA LAIN

PCP
Levometamina

3. Psikotropika Golongan III


Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi
dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang
mengakibatkan sindroma ketergantungan disebut juga antidepresi.
Antidepresi adalah obat untuk mengatasi atau mencegah depresi mental.
Depresi didefenisikan sebgai gangguan mental dengan penuruan mood,
kehilangan minat atau perasaan senang adanya perasaan bersalah atau rendah diri,
gangguan tidur atau penurunan selera makan, sulit konsentrasi atau kelemahan
fisik.Gangguan ini dapat menjadi kronik atau kambuh dan menggangu aktivitas
pasien. Pada keadaan terburuk dapat mencetuskan bunuh diri, suatu kejadian fatal
yang dewasa ini semakin sering terjadi.Perbaikan depresi ditandai dengan
perbaikan alam perasaan, betambahnya aktivitas fisik dan kewaspadaan mental,
nafsu makan, dan pola tidur yang lebih baik dan berkurangnya keinginan untuk
bunuh diri. Obat-obat yang termasuk golongan ini adalah :

N
O
1
2
3
4
5
6
7

NAMA LAZIM
AMOBARBITAL
BUPRENOFRINA
BUTALBITAL
FLUNITRAZEPAM
CLUTETIMIDA
KATINA
PENTAZOSINA

NAMA LAIN

Pseudo efedrin

8
9

PENTOBARBITAL
SIKLOBARBITAL

4. Psikotropika Golongan IV
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam
terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
mengakibatkan sindroma ketergantungan dan sering disebut juga antimania.
Antimania adalah obat yang kerjanya terutama mencegah naik turunnya mood
pada pasien gangguan bipolar (sindrom manic-depresi). Litium karbonat
merupakan prototip obat golongan ini. Disamping itu ada obat-obat lain yang juga
bermanfaat untuk keadaan ini yaitu :
N
O
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

NAMA LAZIM

NAMA LAIN

ALLOBARBITAL
ALPRAZOLAN
DIAZEPAM
FENOBARBITAL
KLOBAZAM
LORAZEPAM
MAZINDOL
OKSAZEPAM
OINAZEPAM
TETRAZEPAM

2.3 Efek Pemakaian Psikotropika


Zat atau obat psikotropika ini dapat menurunkan aktivitas otak atau merangsang
susunan saraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku, disertai dengan timbulnya
halusinasi (mengkhayal), ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan alam perasaan dan
dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi(merangsang) bagi
para pemakainya. Pemakaian psikotropika yang berlangsung lama tanpa pengawasan dan
pembatasan pejabat kesehatan dapat menimbulkan dampak yang lebih buruk, tidak saja
menyebabkan ketergantungan bahkan juga menimbulkan berbagai macam penyakit serta
kelainan fisik maupun psikis si pemakai, tidak jarang bahkan menimbulkan kematian.
Apabila dilihat dari pengaruh penggunaannya terhadap susunan saraf pusat manusia,
psikotropika dapat dikelompokkan menjadi :
a. Depresant

Bekerja mengendorkan atau mengurangi aktifitas susunan saraf pusat


(Psikotropika Golongan 4), contohnya antara lain : Sedatin/Pil BK, Rohypnol,
b.

Magadon,Valium, Mandrak (MX).


Stimulant
Bekerja mengaktif kerja susan saraf pusat, contohnya amphetamine, MDMA, Netil MDA & MMDA. Ketiganya ini terdapat dalam kandungan Ecstasi.

c.

Hallusinogen
Bekerja menimbulkan rasa perasaan halusinasi atau khayalan contohnya licercik
acid dhietilamide (LSD), psylocibine, micraline. Disamping itu Psikotropika
dipergunakan karena sulitnya mencari Narkotika dan mahalharganya. Penggunaan
Psikotropika biasanya dicampur dengan alkohol atauminuman lain seperti air mineral,
sehingga menimbulkan efek yang sama denganNarkotik

2.4 Petunjuk Penggunaan Psikotropika


Variasi biologi dan patologi usia lanjut sangat luas. Oleh sebab itu pada penggunaan
obat psikotropika, walaupun dimulai dengan dosis rendah diikuti dengan kenaikan dosis
secara bertahap, pada akhir terapi besar dosis mungkin 30-50% lebih tinggi dan dosis
umumnya. Bila perbaikan telah dicapai, terapi dilanjutkan selama 12 bulan, kemudian
dosisnya diturunkan perlahan-lahan selama beberapa bulan. Dosis pemeliharaan diberikan
sebesar 1/2 dosis terapi untuk menghindari timbulnya efek samping. Bila timbul efek
samping pengobatan dihentikan.
Penggunaan antiansietas seperti benzodiazepin dapat menimbulkan efek yang cukup
besar pada susunan saraf pusat karena meningkatnya sensitivitas target organ pada usia
lanjut, disamping terjadi penyimpangan disposisi obat. Penggunaan semua jenis
benzodiazepin secara berulang akan diakumulasi sampai derajat tertentu, sehingga dapat
menyebabkan sedasi berlebih, berkurangnya gairah seks dan berkurangnya tingkat energi
secara umum. Gejala-gejala tersebut dapat dianggap bukan sebagai gejala akibat
penggunaan benzodiazepin tetapi merupakan proses normal pada usia lanjut.
Efek samping lain yang perlu diperhatikan yaitu penggunaan benzodiazepin pada
depresi ata demensia ringan/subklinis, karena diperkirakan dapat memperberat keadaan
dan sering menimbulkan florid delirium.
Efek samping sebenarnya dapat dikurangi dengan mengatur dosis dan frekuensi
pemberian sesuai dengan waktu paruh obat. Derivat benzodiazepin yang mempunyai
waktu paruh panjang, seperti flurazepam, diazepam, klordiazepoksid, klorazepat,
prazepam dan halozepam dianjurkan diberikan dalam dosis kecil dengan interval
pemberian yang panjang. Derivat dengan waktu paruh pendek, seperti oxazepam,

lorazeparu dan aiprazolam juga memerlukan pengurangan dosis walaupun tidak banyak
berpengaruh pada usia lanjut. Sedativa hipnotika sering pula digunakan oleh usia lanjut
dengan indikasi gangguan pola tidur. Biasanya terapi diberikan bila gangguan tidur cukup
serius, dalam hal ini perlu dilakukan evaluasi selama pengobatan.
Pengelolaan Psikotropika
Pengelolaan psikotropika juga diatur secara khusus mulai dari pengadaan sampai
pemusnahan untuk menghindari terjadinya kemungkinan penyalahgunaan obat tersebut.
Pelaksanaan pengelolaan psikotropika di Apotek meliputi :

a. Pemesanan Psikotropika
Pemesanan psikotropika dengan surat pemesanan rangkap 2, diperbolehkan lebih
dari 1 item obat dalam satu surat pesanan, boleh memesan ke berbagai PBF.
b. Penerimaan Psikotropika
Penerimaan Psikotropika dari PBF harus diterima oleh APA atau dilakukan
dengan sepengetahuan APA. Apoteker akan menandatangani faktur tersebut
setelah sebelumnya dilakukan pencocokan dengan surat pesanan. Pada saat
diterima dilakukan pemeriksaan yang meliputi jenis dan jumlah Psikotropika
yang dipesan
c. Penyimpanan Psikotropika
Penyimpanan obat psikotropika diletakkan di lemari yang terbuat dari kayu (atau
bahan lain yang kokoh dan kuat). Lemari tersebut mempunyai kunci (tidak harus
terkunci) yang dipegang oleh Asisten Apoteker sebagai penanggung jawab yang
diberi kuasa oleh APA.
d. Pelayanan Psikotropika
Apotek hanya melayani resep psikotropika dari resep asli atau salinan resep yang
dibuat sendiri oleh Apotek yang obatnya belum diambil sama sekali atau baru
diambil sebagian. Apotek tidak melayani pembelian obat psikotropika tanpa resep
atau pengulangan resep yang ditulis oleh apotek lain.
e. Pelaporan Psikotropika
Laporan penggunaan psikotropika dilakukan setiap bulannya melalui SIPNAP
(Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika). Asisten apoteker setiap bulannya
menginput data penggunaan psikotropika melalui SIPNAP lalu setelah data telah
terinput data tersebut di import. Laporan meliputi laporan pemakaian narkotika
untuk bulan bersangkutan (meliputi nomor urut, nama bahan/sediaan, satuan,
persediaan awal bulan). pasword dan username didapatkan setelah melakukan
registrasi pada dinkes setempat.

f. Permusnahan psikotropik
Menurut pasal 53 UU No.5 tahun 1997 tentang psikotropika, pemusnahan
psikotropika dilakukan apabila:

Kadaluarsa.

Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan atau
pengembangan ilmu pengetahuan.

Berkaitan dengan tindak pidana.

Sehubungan dengan pemusnahan psikotropika, apoteker wajib membuat Berita


Acara dan disaksikan oleh pejabat yang ditunjuk dalam 7 hari setelah mendapat
kepastian.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Njc xjm

DAFTAR PUSTAKA

Sartono, Drs, 2001. Racun dan Keracunan. Widya Medika, Jakarta

Kisdaryeti.2012.Bahan Ajar Farmokologi.STIK Bina Husada.Palembang.Sumatera Selatan


Kisdaryeti.2012.Psikotropik.STIK Bina Husada.Palembang.Sumatera Selatan
Kisdaryeti.2012.Sedatif-Hipnotik. STIK Bina Husada.Palembang.Sumatera Selatan