Anda di halaman 1dari 10

FFG Bebaskan Anggota dari Narkoba

POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Ada banyak kegiatan yang dilakukan FFG.


Salah satunya ada pertemuan rutin bagi anggota Komunitas FFG, di mana dalam
pertemuan itu salah satunya bernyanyi, bersorak riang, berjoget bersama dengan
musik meriah serta berbagi pengalaman hidup. Tujuannya, untuk
membangkitkan semangat anggota yang sudah lelah selepas bekerja seharian.
Di sejumlah kota di Indonesia hingga luar negeri, demikian Helen, FFG juga
membuat acara rutin yang disebut, Welty Cell. Dalam kegiatan ini, anggotanya
dapat berbagai pengalaman hidup, saling memotivasi satu sama lain, guna
peningkatan kualitas diri.
"Setiap manusia memiliki potensi di dalam dirinya namun terkadang ada yang
tidak menyadari akan potensi itu sehingga seseorang menjalani kehidupannya
dengan biasa- biasa saja dari waktu ke waktu tanpa ada perubahan positif yang
mencolok atau cepat. Dan di FFG, potensi setiap orang itu akan dapat digali dan
dikembangkan oleh orang tersebut," kata Helen.
Ia mengatakan, pada umumnya anggota Komunitas FFG adalah para mantan
(atau yang masih menggunakan) pemakai narkoba, free seks, para kriminalis
dan juga orang-orang yang bermasalah atau memiliki masalah atau sikap dan
perangai buruk dalam kehidupannya.
Namun setelah masuk ke dalam Komunitas FFG apalagi mengikuti sekolah 'tiga
hari' yang bernama Life Changing Bootcamp, maka hal-hal negatif yang pernah
ada dalam kehidupan orang itu akan bisa hilang dengan sendirinya. "Biayanya
Rp 3,5 juta per orang," ujarHelen.

Sejak kegiatan Life Chagning Bootcamp ini digelar empat tahun terakhir,
Komunitas FFG berhasil membebaskan ribuan orang dari ketergantungan
dengan narkoba, alkohol dan rokok.
Bahkan dalam kegiatan ini anggotanya juga dibekali berbagai pelatihan guna
mampu melakukan pengembangan dan potensi diri, melahirkan jiwa
kepemimpinan, motivasi, dan peoples skill.
"Tak perlu ragu saat berkumpul dengan ratusan anggota Komunitas FFG pada
kegiatan Life Changing Bootcamp, karena bahasa pengantar yang digunakan
selama sekolah adalah bahasa Indonesia dengan sembilan transletter yang siap
membantu anggota komunitas dari luar Indonesia," kata Helen.
Dan kegiatan Life Changing Bootcamp rutin digelar tiga bulan sekali minggu.
Tertarik mengikuti 'sekolah kehidupan' Komunitas FFG? Ayo buruan daftar
menjadi anggota Komunitas FFG.
Sumber: http://kupang.tribunnews.com/2014/04/14/ffg-bebaskan-anggota-darinarkoba
Diposkan oleh FANNY CHANDRA di 20.32 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Bootcamp, FFG

Helen Anthonius: Kecanduan Hilang

POS-KUPANG.COM --- Setiap orang pasti memiliki masa lalu yang baik dan
buruk. Dan ada orang yang sudah bisa melupakan masa lalunya yang buruk,
namun ada orang yang masih terus 'akrab, bahkan trauma dengan masa
lalunya.

Trauma itu terus menjadi batu besar yang menghalangi mereka untuk menjalani
kehidupan selanjutnya dengan lebih baik. Ada juga orang yang memiliki perangai
dan kebiasaan buruk yang sulit dilepaskan dalam kehidupannya dan hal ini juga
menjadi penghalang baginya untuk meningkatkan kualitas diri dan kehidupannya
di masa mendatang.
"Saya pernah menjadi pecandu komik. Saat remaja, dewasa hingga menikah pun
saya bisa menghabiskan waktu 5-6 jam sehari untuk membaca komik. Dan lama
kelamaan, saya baru menyadari bahwa kebiasaan itu akhirnya menjadi masalah
dalam kehidupan saya dan keluarga," kata Helen.
Saya sulit mengurangi kebiasaan itu hingga saya menjadi anggota Komunitas
FFG dan akhirnya sekarang saya mampu menghilangkan kebiasaan buruk itu.
Juga sifat buruk saya yang dulu seperti tidak mau mengalah, egois dan
diktator,"kata Helen
Ia mengaku kiini sifat itu sudah bisa dikurangi dan hampir tidak pernah muncul
lagi. Helen sangat bersyukur bisa menjadi salah satu dari anggota Komunitas
FFG. "Saya sangat berharap teman-teman lainnya bisa ikut menjadi anggota
Komunitas FFG, ajak Helen.
Sumber: http://kupang.tribunnews.com/2014/04/14/helen-anthonius-kecanduanhilang
Diposkan oleh FANNY CHANDRA di 20.22 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Bootcamp, FFG

Donna Rissi: Mengatasi Trauma Masa Lalu

POS-KUPANG.COM --- Mantan Putri NTT tahun 2009, Donna Rissi


mengatakan, Komunitas FFG menjadikan hidupnya bisa lebih berarti saat ini.
Gadis kelahiran 11 November 1990, ini mengaku memiliki sejumlah sifat yang
buruk dan trauma pribadi masa lalu yang mempengaruhinya untuk bisa
melangkah ke depan.
"Saya punya trauma masa lalu yang sangat menyiksa kehidupan yang saya
jalani. Akibatnya, saya menjadi seorang pribadi yang egois, pendendam," ujar
Donna.
Ia mengatakan, sifatnya itu menjadi akar dari lahirnya sifat-sifat buruk yang lain.
Namun setelah menjadi anggota Komunitas FFG dan mengikuti sekolah tiga hari
pada Februari 2014 lalu di Jakarta, Donna bisa melupakan trauma masa lalunya.
"Kini saya menjadi manusia baru yang bisa menatap kedepan dan menjalani
kehidupan ini dengan semangat dan harapan baru yang lebih baik. Bootcamp
membuat saya menjadi lebih percaya diri untuk meraih masa depan yang lebih
baik. Tuhan melakukan perkara yang luar biasa dalam kehidupan saya, ujarnya.
Sumber: http://kupang.tribunnews.com/2014/04/14/donna-rissi-mengatasitrauma-masa-lalu
Diposkan oleh FANNY CHANDRA di 20.12 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Bootcamp, FFG

Komunitas FFG Ubah Minus Jadi Plus

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Meski baru sekitar 10 tahun terbentuk,


Komunitas Freedom Faithnet Global (FFG) sudah memiliki jutaan anggota yang
berasal dari 60 negara di dunia. Dan banyak anak asal NTT pun sudah menjadi
anggota komunitas FFG ini. Sebut saja Helen Anthonius dan Donna Rissi, warga
Kota Kupang.
Dalam perbincangan dengan Pos Kupang, Helen dan Donna menceritakan
keunikan dan keistimewaan Komunitas FFG bagi kehidupan mereka saat ini.
Helen menjelaskan, Komunitas FFG didirikan oleh Onggy Hianata dari Indonesia
dan W.S. Yong, dan Mystere Teh dari Malaysia, sekitar 10 tahun lalu dengan
nama Faithnet. Dan sejak pertengahan 2009, ia merangkul Freedom
International untuk bergabung. Mulai saat itu, nama komunitas itupun menjadi
Freedom Faithnet Global (FFG).
Komunitas FFG menjadi semacam sekolah informal bagi para anggota. Dan jika
di sekolah formal lebih ditekankan pada kemampuan intelegensi, maka di FFG
lebih menekan pada aspek kecerdasan emosional. Karena tanpa kecerdasan
emosional yang tinggi maka orang dengan IQ tinggi sekalipun akan pasti gagal
dalam kehidupannya di masyarakat.
Komunitas FFG tersebar di lebih dari 35 negara. Anggotanya terdiri dari mereka
yang memiliki visi dan misi untuk kehidupan, memberikan ruang untuk tumbuh

secara mental dan spiritual untuk masa depan yang lebih baik bagi pribadi,
keluarga, golongan dan negaranya. Komunitas ini tidakmengenal perbedaan
agama, ras, dan politik. Hingga kini, di Indonesia anggota FFG sekitar 80.000.
Perkembangan komunitas ini luar biasa. Anggotanya tersebar di puluhan negara
di lima benua. Dari Asia, sebut saja, Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam,
Hongkong, Arab Saudi, dan Iran. Dari benua Afrika, ada Kamerun, Afrika
Selatan, Pantai Gading, Ghana dan Kongo.
Anggota yang berasal dari Eropa juga tak sedikit. Mereka berasal dari Jerman,
Inggris, Belanda, dan Austria. Lalu, ada juga anggota dari Australia dan Brasil di
benua Amerika.
Dan banyak sekali manfaat positif yang diperoleh anggota ketika masuk menjadi
anggota Komunitas FFG ini.
Pasalnya, Komunitas FFG bukan sekedar komunitas biasa namun FFG menjadi
sekolah kehidupan yang bisa diikuti setiap orang - tak pandang usia - dalam
waktu singkat untuk bisa mengubah kehidupnya dari yang dulunya buruk alias
negatif menjadi terlahir kembali alias positif.
Karena itu, kata Helen, seseorang yang benar-benar ingin merubah
kehidupannya menjadi lebih baik, ingin merubah sifat buruknya menjadi sifat
baik, ingin 'berdamai' dan memafkan masa lalunya, mau meningkatkan kualitas
hidup, atau menjadi memimpin dan wirausaha maka Komunitas FFG menjadi
pilihan.
"Artinya, FFG bisa merubah hal-hal negatif (minus) yang ada dalam diri setiap
orang menjadi hal-hal positif (plus) sehingga kehidupan kita bisa menjadi lebih
positif dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan orang banyak. Setelah
bergabung dengan Komunitas FFG ini, maka perilaku buruk seseorang bisa
dirubah menjadi baik," jelas Helen.
Ia mengatakan, bagi yang ingin tahu banyak tentang Komunitas FFG, bisa
membuka youtobe: bootcamp value yourlife by ffg.
Jangan ragu menjadi anggota Komunitas FFG.

Sumber: http://kupang.tribunnews.com/2014/04/14/komunitas-ffg-ubahminus-jadi-plus
Diposkan oleh FANNY CHANDRA di 20.07 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Bootcamp, FFG
MINGGU, 16 FEBRUARI 2014

Setiap orang punya beban kehidupan. Yes ada solusinya.


Setiap orang punya beban kehidupan: depresi, percobaan bunuh diri, cepat marah, kecanduan
rokok, alkohol, kecanduan judi, game, pornografi, selingkuh, kecanduan obat-obatan,
terintimidasi orang atau kelompok, pukul anak, kekerasan rumah tangga, keluarga broken
home.
Sadar atau tidak kita dan teman-teman kita mengalami hal tersebut, tidak mendapatkan
jawaban, putus asa, merasa gagal dalam karier, serta merasa rendah diri.
Apakah ada jawabannya? Apakah ada pertolongan? Apakah ada harapan? Bebas dari beban
hidup.
Temukan jawabannya di...
Video Value Your Life - A Life Changing BootCamp

FFG: Mengembangkan kualitas dan berbagi nilai positif


FREEDOM FAITHNET GLOBAL: Wealty Cell, Komunitas FFG, Bootcamp, D&A Nite,
dan FFG Berbagi Kasih
oleh: Herry Prasetyo | Selasa, 20 Desember 2011 | 11:05 WIB

Sebuah ruangan di lantai lima Citywalk Sudirman, Jakarta, begitu gegap gempita, Kamis
(15/12) malam lalu. Lebih dari 700 orang berkumpul. Dengan penuh antusias dan gembira,
mereka bersorak riang dan berjoget diiringi dentuman musik nan rancak.
Jangan keburu membayangkan ratusan orang itu tengah dugem di sebuah diskotek. Soraksorai dan tarian malam itu sebetulnya adalah acara pembuka untuk membangkitkan semangat

orang-orang tersebut. Dan, memang betul. Meski mulanya tampak letih selepas bekerja
seharian, mereka menjadi kembali bersemangat.
Begitulah cara Freedom Faithnet Global (FFG) memulai kegiatannya. Acara malam itu yang
juga dihadiri anggota komunitas ini dari sejumlah negara, merupakan pertemuan rutin bagi
anggota yang digelar tiap Kamis malam. Tak cuma di Jakarta, acara yang disebut Welty Cell ini
juga diadakan serentak di kota-kota lain di seluruh Indonesia. Termasuk di beberapa kota di luar
negeri.
Welty Cell adalah salah satu kegiatan rutin FFG. Dalam acara ini, mereka tak sekadar
berkumpul. Lebih dari itu, acara tersebut merupakan ajang berbagai pengalaman hidup,
sekaligus menjadi kesempatan bagi anggota komunitas untuk belajar berbagai hal, mulai dari
motivasi diri, kepemimpinan, hingga kewirausahaan.
Pengembangan kualitas manusia memang menjadi tujuan utama FFG. Komunitas ini didirikan
oleh Onggy Hianata, W.S. Yong, dan Mystere Teh. Dua nama terakhir merupakan motivator asal
Malaysia.
Menurut Onggy, manusia merupakan aset paling berharga, baik bagi perusahaan, lingkungan,
maupun negara. Jika setiap orang bisa meningkatkan kualitas hidupnya, lingkungan di
sekitarnya turut memiliki kualitas yang tinggi. Pekerjaan untuk membangun manusia berkualitas
bukanlah hal mudah. Karena itulah, ia terinspirasi membangun FFG.
Komunitas ini pun menjadi semacam sekolah informal bagi para anggota. Berbeda dengan
sekolah formal yang lebih menekankan pada intelegensi, Onggy bilang, sekolah informal ini
lebih menekankan pada aspek kecerdasan emosional. Orang dengan IQ tinggi tanpa
kecerdasan emosional yang tinggi tentu akan gagal di masyarakat, ujar Onggy.
Onggy mulai merintis komunitas ini sejak sepuluh tahun lalu. Waktu itu, namanya cuma
Faithnet. Namun, sejak pertengahan 2009, ia merangkul Freedom International untuk
bergabung. Mulai saat itu, nama komunitas itu pun menjadi Freedom Faithnet Global.
Perkembangan komunitas ini bisa dibilang luar biasa. Kini, anggota yang terdaftar di FFG
mencapai lebih dari 100.000 orang. Memang, anggota yang aktif paling-paling hanya sekitar
5.000 hingga 10.000 orang. Tetapi, jumlah sebanyak itu tentu cukup mengesankan.
Tak cuma itu, komunitas ini telah melebarkan sayap hingga ke 50 negara di lima benua. Dari
Asia, sebut saja, Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, Hong Kong, Arab Saudi, dan Iran. Dari
benua Afrika, ada Kamerun, Afrika Selatan, Pantai Gading, Ghana, serta Kongo.
Anggota yang berasal dari Eropa juga tak sedikit. Mereka berasal dari Jerman, Inggris,
Belanda, dan Austria. Lalu, ada juga anggota dari Australia dan Brasil di benua Amerika.
Jumlah anggota di seluruh dunia lebih dari satu juta orang, klaim Yulianny, aktivis FFG.
Anggota dari luar negeri pun tak sekadar mengikuti kegiatan di negara mereka masing-masing.
Mereka juga antusias datang ke Indonesia untuk mengikuti acara FFG yang bertajuk Life
Changing Bootcamp.
Inisiasi anggota
Bootcamp termasuk kegiatan inti FFG. Acara ini menjadi semacam inisiasi bagi mereka yang
mau masuk menjadi anggota komunitas. Kegiatan yang sudah dimulai sejak sekitar delapan
tahun lalu ini rutin digelar setiap dua bulan sekali di kawasan Puncak, Bogor.
Tema acara bootcamp adalah Value Your Life. Pemilihan tema ini tentu bukan tanpa alasan.
Onggy menjelaskan, setiap orang pada dasarnya mencintai kedamaian dan peduli kepada

orang lain. Cuma, karena berbagai kepentingan baik bisnis maupun politik, sikap dasar tersebut
seringkali hilang.
Dengan Life Changing Bootcamp, Onggy menuturkan, orang diajak untuk berubah dan kembali
peduli terhadap sesama. Dengan metode simulasi selama tiga hari, peserta digiring untuk
membongkar berbagai kepentingan yang selama ini menjadi beban hidupnya. Mengubah cara
pandang terhadap hidup menjadi individu yang tangguh, tuturnya.
Yulianny mengisahkan, banyak anggota yang mengikuti kegiatan bootcamp benar-benar
mengalami berbagai perubahan hidup. Kebiasaan-kebiasaan buruk pun menghilang selepas
acara tersebut. Seperti merokok, minum-minuman keras, ataupun trauma-trauma tertentu
hilang, ungkap dia.
Yulianny menganalogikan bootcamp seperti sebuah komputer yang direset ulang. Anggota
komunitas yang mengikuti kegiatan ini akhirnya bisa menemukan potensi mereka yang
sebenarnya. Bandar dan pecandu narkoba pun berhenti memakai barang haram itu setelah
mengikuti bootcamp.
Memang, Onggy mengakui, tak semua orang merasakan manfaat yang sama. Ada juga yang
tak mengalami perubahan apa pun selepas mengikuti acara tersebut. Tergantung masingmasing peserta. Sebab, perubahan dan nilai positif bisa diperoleh jika datang dengan pikiran
terbuka. Namun, kegiatan ini bukan tempat mesin cuci otak, tegas Onggy.
Perubahan paska mengikuti bootcamp juga dirasakan Yamal Hasmanan. Presiden direktur
sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti ini menjadi anggota FFG sejak
pertengahan 2009 lalu. Ibarat mobil, saya seperti melakukan reengine dan siap untuk melaju di
sirkuit apa pun, paparnya.
Salah satu perubahan kecil yang dialami Yamal adalah lenyapnya kebiasaan merokok.
Padahal, ia termasuk perokok aktif selama 25 tahun. Baik di mobil, di rumah, maupun di kantor,
dia tak bisa meninggalkan kebiasaan tersebut.
Setelah mengikuti bootcamp selama tiga hari, Yamal merasa harus berubah. Dan, perubahan
paling mudah yang bisa dilakukannya adalah berhenti merokok. Padahal, sebelumnya, berhenti
merokok ia anggap sebagai hal yang paling sulit untuk dilakukan.
Tentu saja, perubahan hidup Yamal tak cuma soal rokok. Dia mengaku, banyak hal positif yang
diperolehnya. Menjadi lebih sabar, misalnya. Padahal sebelumnya, Yamal termasuk orang yang
arogan dan tak sabaran. Ia pun merasa makin mesra dengan keluarganya.
Sebagai orang nomor satu di perusahaannya, Yamal juga sebelumnya harus menjaga jarak dan
citra di depan para karyawannya. Kini, ia selalu tersenyum dan menyapa semua karyawan, dari
satpam hingga office boy. Karyawan saya sekarang menjuluki saya funky director, katanya
bangga.
Bagi anggota FFG, perubahan ke arah yang lebih baik tidak hanya dinikmati sendiri saja. Bagi
komunitas ini, nilai-nilai positif yang mereka dapat harus disebarkan kepada sesama, baik di
lingkungan keluarga, kerja, maupun sosial.
Inilah yang dirasakan Sudarmono Djoko Nugroho yang menjadi anggota FFG sejak
pertengahan 2008 lalu. Mulanya, hanya istrinya, Ary Hellya, yang ikut FFG. Ia sendiri tak tertarik
dengan kegiatan sang istri. Saya juga semula tidak mendukung kegiatan tersebut karena
kesannya cuma menghabiskan waktu, ungkapnya.
Berbagi kasih

Namun, suatu ketika, Sudarmono dipaksa untuk mengikuti sebuah kegiatan FFG yang dikenal
dengan nama D&A Nite. Acara ini merupakan seminar yang diadakan tiap tiga bulan sekali. Tak
jauh dengan Welty Cell, kegiatan ini juga berisi mengenai pengembangan diri, kepemimpinan,
komunikasi, dan kewirausahaan.
Nah, saat mengikuti acara tersebut, Sudarmono mendengarkan testimoni dari salah seorang
anggota. Kisah yang memilukan itu ternyata mampu menyentuh kebekuan hati Sudarmono
selama ini. Tanpa sadar, ia pun menangis.
Padahal, lama sudah Sudarmono tak bisa menangis. Bahkan, saat anaknya meninggal dunia
sekali pun, dia tak menitikkan air mata. Kematian, bagi Sudarmono, adalah sebuah takdir yang
tak perlu ditangisi. Namun, malam itu, saya menangis dan merasa hidup saya ternyata masih
begitu beruntung, aku Sudarmono.
Peristiwa malam itu benar-benar mengubah pria yang menduduki jabatan vice president
business development sebuah perusahaan kontraktor minyak dan gas asing ini. Sejak itu,
Sudarmono bergiat di komunitas tersebut dan aktif mengajak teman-teman dan koleganya
bergabung.
Tak cuma sampai di situ. Sudarmono pun menularkan nilai-nilai positif yang ia peroleh kepada
orang-orang di sekitarnya. Sebab itu, ruang kantornya selalu terbuka untuk siapa pun yang
memiliki masalah. Ia juga menjadi semakin banyak membantu orang lain. Bagi saya,
kebahagiaan adalah jika kita bermanfaat buat lingkungannya, ujar Sudarmono.
Salah satu kegiatan nyata komunitas ini lainnya adalah FFG Berbagi Kasih yang diadakan
setiap tiga bulan sekali. Kegiatan ini serupa bakti sosial untuk membantu orang-orang yang
membutuhkan, seperti panti asuhan maupun panti jompo. Bukan cuma membantu materi, tapi
juga mengajak mereka ngobrol, imbuh Onggy.
Raoul Rubben, salah satu anggota FFG asal Kamerun, mengakui manfaat besar yang ia
peroleh dari komunitas ini. FFG sudah memberikan banyak perubahan yang berarti bagi diri
dan hidupnya. Karena itu, Saya berharap sekali, bendera FFG bisa berkibar di seluruh Afrika,
ujar pria yang berprofesi sebagai dokter ini.
Sumber Mingguan KONTAN, Edisi 19 - 25 Desember 2011