Anda di halaman 1dari 7

Semakin hari sepak terjang sebagian mahasiswa semakin dikenal oleh

masyarakat, bukan karena prestasi yang dicapai juga bukan karena ide-ide
cemerlang yang dimiliki melainkan karena keanarkisan serta kericuhan sebagian
mahasiswa. Menilik satu demi satu abjad dari kata mahasiswa itu sendiri pastilah
siswa yang memiliki wawasan luas, berintelektual tinggi, memiliki critical
thinking yang tajam dan terpenting memikirkan secara matang konsekuensi atas
tindakan yang ingin dilakukan.
Tak semua mahasiswa-mahasiswa yang mengadakan unjuk rasa atau
demonstrasi berakhir pada kericuhan. Beberapa dari mahasiswa berunjuk rasa
dalam barisan yang tertib dalam formasi yang rapi. Semua tergantung komitmen
dari gerakan atau organisasi yang diikuti serta kesadaran dari diri mahasiswa
masing-masing.
Jack New Field (1971): pemuda adalah sebagai komunitas kecil yang
memiliki kekuatan untuk merubah sejarah, karena perubahan sejarah dimulai dari
kelompok kecil. Mereka masuk kategori Minority Profetik, kecil tetapi bertindak.
Dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta jiwa, maka kelompok
masyarakat usia antara 15-35 tahun, diperkirakan berjumlah lebih dari 78-90 juta
jiwa atau 37-40 persen.
Organisasi merupakan unit sosial (atau pengelompokan manusia) yang
sengaja dibentuk kembali dengan penuh pertimbangan dalam rangka mencapai
tujuan-tujuan tertentu. Secara sederhana organisasi mempunyai tiga unsur, yaitu
ada orang-orang, ada kerjasama, dan ada tujuan bersama.
Kerjasama adalah suatu perbuatan bantu-membantu atau suatu perbuatan
yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama
merupakan salah satu jembatan dalam menyamakan persepsi. Tanpa penyampaian
persepsi sebuah organisasi tak akan mudah berfungsi.
Tujuan

merupakan

arah

atau

sasaran

yang

dicapai.

Tujuan

menggambarkan tentang apa yang akan dicapai, yang diharapkan. Tujuan


merupakan titik akhir tentang apa yang harus dikerjakan. Tujuan juga

menggambarkan kebijaksanaan (policy), strategi, anggaran (budgeting), dan


peraturan-peraturan (regulation) yang telah ditetapkan.
Amitai (1982) efektivitas organisasi diukur dari tingkat sejauh mana ia
berhasil mencapai tujuannya, efisiensi organisasi dari segi jumlah sumber daya
yang dipergunakan untuk menghasilkan suatu unit masukan (unit of output).
Efisiensi akan semakin meningkat apabila biaya (sumber daya yang
dipergunakan) menurun. Pengukuran terhadap efektivitas dan efisiensi dapat
menimbulkan problem yang cukup rumit. Apabila suatu organisasi mempunyai
tujuan yang terbatas dan konkrit, secara komparatif biasanya efektivitas mudah
diukur.
Tetapi apabila organisasi sudah terbentuk, organisasi akan mempunyai
kebutuhannya sendiri, dan terkadang menyebabkan organisasi malah harus tunduk
kepada kebutuhan tersebut. Sebut saja masalah keuangan yang menyebabkan
organisasi yang pada akhirnya menjadi abdi organisasi, dan bukan tuan
organisasi.
Fungsi organisasi sendiri telah diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1985 yang menyatakan bahwa organisasi berfungsi sebagai
wadah penyalur kegiatan sesuai kepentingan anggotanya. Wadah pembinaan dan
pengembangan anggotanya dalam usaha mewujudkan tujuan organisasi. Wadah
peran serta dalam usaha menyukseskan pembangunan nasional.
Pembangunan adalah usaha bersama bangsa untuk mencapai masyarakat
adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Organisasi juga berfungsi sebagai sarana
penyalur aspirasi anggota dan sebagai sarana komunikasi sosial timbal-balik antar
anggota dan antar-organisasi kemasyarakatan, dengan organisasi kekuatan sosial
politik, badan permusyawaratan dan perwakilan rakyat pemerintah.
Sejarah organisasi-organisasi di Indonesia sendiri pun, mendapat apresiasi
tersendiri di hati masyarakat. Tahapan-tahapan sejarah kepeloporan organisasi
Indonesia, 1908 mendirikan Boedi Oetomo, 1928 dengan Sumpah Pemuda,
sebagai dasar kokoh perwujudan kemerdekaan, 1966 mempelopori perubahan
politik yang dramatis, 1998 melengserkan rezim Orde baru.

Sejak awal berdirinya, organisasi mahasiswa sudah terbagi dalam dua


aliansi, kanan dan kiri. Aliansi kanan cenderung berdasar pada nilai-nilai agama
dan moralitas sehingga meskipun melakukan gerakan besar-besaran, namun tetap
rapih dan tertata. Sedangkan aliansi kiri cenderung mengusung nilai-nilai revolusi
yang memaklumkan adanya korban jiwa di dalamnya.
Jika isu yang diusung sama, maka akan melakukan pergerakan yang sama
meski dengan masing-masing model yang membedakan dari tiap organisasi
adalah dominasinya. Jika didominasi gerakan kanan, maka kecenderungan akan
rusuh dan memakan korban akan sangatlah kecil. Sebaliknya, jika organisasi
didominasi aliansi kiri, maka siap-siaplah dengan sejumlah korban jiwa yang
bergelimpangan.
Hubungan antara sesama organisasi di atur oleh Negara; hukum, lembagalembaga

adminstratif,

pengadilan

dan

komisi-komisi

pengatur

lainnya

memberikan batas-batas tertentu sampai di mana organisasi dapat bertindak dan


melakukan interaksi.
Interaksi antara berbagai organisasi di dalam masyarakat manapun pada
hakikatnya tidak pernah diatur secara eksklusif menurut satu pola saja. Hal ini
disebabkan karena kebutuhan masyarakat selalu beraneka ragam sehingga di
dalam masyarakat totaliter pun semua interaksi organisasi tidak mungkin
dipadukan menurut satu pola, masing-masing masyarakat memiliki ciri serta
perbedaan tersendiri.
Organisasi mahasiswa sebagian besar terjebak dengan pragmatisme
politik sesaat. Orientasi sebuah organisasi untuk memperebutkan sebuah
kekuasaan begitu kuat dan jauh dari kepentingan jangka panjang. Ketika
reformasi membawa perubahan, organisasi-organisasi tersebut terbengkalai karena
para mahasiswanya gagap dan gamang terhadap perubahan tersebut. Sehingga
mereka bingung memilih identitas.
Organisasi

mahasiswa semakin sibuk dengan isu-isu yang elitis dan

cenderung tidak fokus. Terjadi pemberangusan terhadap nilai-nilai demokrasi di


organisasi lewat penangkapan aktivis-aktivis demokrasi, terjadi pengilusian

terhadap organisasi mahasiswa oleh pemerintah dengan mengkampanyekan


organisasi mahasiswa sebagai organisasi moral semata.
Sudah

menjadi

kewajiban

organisasi-organisasi

berperan

secara

konstruktif dan holistic, bukan parsial dikotomis. Organisasi yang ada tidak perlu
terjebak dalam kubangan paham materialistis, konsumtif dan hedonis, sebagai
konsekuensi invasi capital yang mengglobal.
Nilai lebih dalam organisasi mahasiswa hanyalah bermakna bahwa di
dalam organisasi, mahasiswa ditempa dan dipenuhi syarat-syarat akan
pemahaman terhadap masyarakat dan persoalan-persoalannya, pemihakan pada
rakyat, serta kecakapan-kecakapan dalam mengolah massa.
Perubahan harus dimulai dari sekarang. Sebab jika tidak, organisasi akan
ketinggalan zaman. Organisasi yang tidak mengikuti perubahan zaman, mereka
tidak bisa bekerja efektif, efisien, produktif, dan menguntungkan. Dan akan terus
kehilangan ruh nya sebagai aspirasi dan penggerak masyarakat.
Studi mengenai organisasi harus lebih ditingkatkan agar dapat
memecahkan masalah pengorganisasian organisasi. Problem tersebut hendaknya
jangan diremehkan. Sebagaimana diketahui, masyarakat modern semakin banyak
terdiri dari berbagai organisasi yang besar.
Langkah yang harus diambil organisasi sebagai pelopor dari perubahan
terdiri dari mengadakan pengkajian terhadap berbagai macam perubahan di luar
organisasi, mengadakan identifikasi, penetapan atas perubahan, penentuan
strategi, dan evaluasi terhadap hasil perubahan. Setiap organisasi apapun akan
dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi di luar organisasi.

Tinjauan kembali

MKPI
E
nnev
ddnn
a
aPai
l
PnSku
gaOa
jgis
i

d ee
gae
aatt
f i nn
e at
tsk
is a i

e y
a
na
u kr i
m
p
r nn
r e ga
a
a n s i

i
n

Mengadakan pengkajian, perubahan yang terjadi di luar organisasi itu


mencakup berbagai bidang politik, ekonomi, teknologi, hukum, sosial budaya dan
sebagainya. Perubahan tersebut mempunyai dampak terhadap organisasi, baik
yang bersifat negatif maupun positif.
Dampak bersifat negatif apabila perubahan itu menjadi hambatan bagi
kelancaran, perkembangan dan kemajuan organisasi. Dampak bersifat positif
apabila perubahan itu dapat memperlancar kegiatan, perkembangan dan kemajuan
organisasi, atau dalam bentuk kesempatan-kesempatan baru yang tidak tersedia
sebelumnya.
Baik dampak yang bersifat positif maupun negatif kedua-duanya
merupakan pendorong bagi pemimpin untuk mengatur strategi. Oleh karena itu
pemimpin organisasi harus bersifat reaktif terhadap berbagai perubahan yang
terjadi di luar organisasi.
Mengadakan identifikasi, yang perlu diidentifikasi adalah dampak
perubahan-perubahan yang terjadi dalam organisasi. Perubahan perlu diteliti,
dianalisis dan dipecahkan.
Menetapkan perubahan, keyakinan didasarkan atas hasil pengkajian dan
identifikasi dari berbagai perubahan yang terjadi di luar organisasi yang
mempunyai dampak terhadap kehidupan organisasi.
Menentukan strategi, menurut Siagian (1983,219), pada umumnya strategi
yang terbuka untuk melakukan perubahan adalah strategi yang bersifat
menyeluruh dan dilakukan secara simultan serta strategi yang bersifat parsial dan
dilaksanakan secara incremental.
Strategi untuk memperkenalkan perubahan dapat dilakukan dengan
mempergunakan pendekatan unilateral (unilateral approach) yang lebih
menekankan pada keputusan pimpinan organisasi. Komunikasi berlangsung dari
atas ke bawah, jadi anggota tidak memberikan kontribusi kepada program
perubahan yang telah dibuat oleh pimpinan organisasi.

Pendekatan delegasi (delegation approach) menekankan kepada partisipasi


dari bawah, anggota diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam
program perubahan.
Melakukan evaluasi, apabila hasil perubahan sesuai dengan harapan berarti
berpengaruh positif terhadap organisasi, dan apabila sebaliknya berarti
berpengaruh negatif. Apabila hasil perubahan itu bersifat negatif, pimpinan
organisasi harus melakukan koreksi total terhadap sehala keputusan, baik
keputusan yang diambil sebelum perubahan dilaksanakan maupun keputusan yang
diambil pada saat perubahan.
Apabila hasil pelaksanaan perubahan itu bersifat positif berarti langkah
perubahan itu dapat terus dilaksanakan dengan memperhatikan implikasi yang
bersifat negatif dan menghambat pelaksanaan perubahan.

Budaya organisasi. Darsono prawironegoro.jakarta.diadit media.2006


modern

organization.

bradjaguna.1982.

amitai

etzioni.

Penerbit

UI-press

dan

pustaka