Anda di halaman 1dari 15

STATUS PASIEN PSIKOTIK

ILMU KESEHATAN JIWA


RSJD AMINO GONDOHUTOMO

Disusun oleh:
Rio Jaya Abadi
112012084
Pembimbing: dr. Linda K. Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
SEMARANG
2014

Status Kasus Psikiatri


I. PEMERIKSAAN RIWAYAT PSIKIATRI
Alloanamnesis di lakukan melalui telepon terhadap kakak kandung nya .
Alloanamnesis diperoleh dari :
1. Nama

: Tn.R

2. Umur

: 47 Tahun

3. Alamat

: Karang rayang,grobogan

4. Pekerjaan

: Wiraswasta

5. Hubungan dengan pasien

: Kakak kandung

A. Identitas Pasien
Nama

: Sdri. R

Umur

: 25 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Karyawati pabrik

Status perkawinan

: Belum menikah

Agama

: Islam

Suku bangsa

: Jawa

Alamat

: Karang rayang,Grobogan

Pendidikan Terakhir

: SMA

Tanggal lahir

: 30 Januari 1989

No. CM

: 056489

Tanggal pemeriksaan

: 16 Maret 2014

B. Keluhan Utama
Keluhan keluarga: Marah marah setiap hari tanpa sebab
Keluhan pasien : Marah marah karena merasa kakak ipar nya yang bernama mbak yun jahat
kepada dirinya dan tidak suka dengan dirinya.
Autoanamnesis dan alloanamnesis dilakukan pada tanggal 15 Maret 2014 pukul 11.00
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada 4 Januari 2008,keluarga pasien tiba-tiba di telepon oleh rekan kerja pasien. Mereka
mendapat kabar bahwa pasien tiba-tiba bertingkah laku tidak normal di tempat kerja.
Sebelumnya, dikatakan seminggu sebelumnya pasien bermimpi bertemu dengan bapaknya.
Di dalam mimpi dikatakan bahwa hanya pasien yang dapat menolong bapaknya,tetapi pasien
tidak tahu harus menolong apa terhadap bapaknya. Setelah ada nya mimpi itu, pasien merasa
ketakutan dan merasa ingin menjadi orang yang baik. Sejak saat itu, pasien mulai bertingkah
aneh. Keluarga ditelepon oleh teman teman kerja pasien, bahwa pasien di tempat kerjanya
bertingkah aneh dan abnormal. Pasien marah-marah di tempat kerja nya. Lalu pasien
dijemput pulang oleh keluarga.Beberapa hari di rumah, sikap pasien juga tetap tidak
mengalami perubahan,pasien jadi sering marah-marah tanpa sebab dan tiba-tiba menangis
tanpa sebab. Pasien mengatakan bahwa ia sering mendengar ada suara-suara yang membisik
ditelinganya tapi tidak ada orang atau wujudnya, pasien juga mengatakan bahwa sering
merasa ada yang menyentuh dan meraba-raba tangan serta kaki nya dan seperti ada yang
mencium pipi dan bibirnya. Setelah kejadian mimpi tersebut,pasien juga merasa ada yang
memasuki diri dan pikiranya dan terkadang pikiranya seperti tertarik keluar dan dirinya
seperti ada yang mengendalikanya. Pasien sulit tidur,makan,minum,dan mandi masih baik
tapi harus di suruh terlebih dahulu. Waktu luang digunakan untuk beristirahat dirumah dan
lebih banyak melamun. Hubungan dengan keluarga dan lingkungan sekitar masih baik.
Karena kondisi pasien yang tidak mengalami perubahan juga, pada tanggal 8 Januari 2008
keluarga pasien membawa pasien ke Rumah Sakit Jiwa Amino Gondohutomo dan pasien di
rawat inap di RSJ. Selama sakit,pasien mendapat terapi Risperidone 2x2mg,dan
Trihexylphenidil 2x2mg( GAF : 60)
Pasien hanya di rawat 1bulan dan kemudian di perbolehkan pulang. Kemudian,pasien kontrol
pada bulan februari. Pasien masih tampak bingung dan sering murung dan terlihat sedih dan
menangis tanpa sebab. Pasien masih sering mendengar suara-suara bisikan pada telinganya
tanpa terlihat wujudnya. Makan,minum dan mandi masih baik tetapi harus di suruh,waktu
luang digunakan kebanyakan untuk melamun dan kadang menangis sendiri. Hubungan
keluarga dan lingkungan masih baik. Untuk bulan-bulan selanjutnya,pasien kontrol teratur di

RSJD Amino Gondohutomo. Terapi yang diberikan masih sama Risperidone 2x2mg dan
Trihexylphenidil 2x2mg(GAF:60)
Pada tahun 2010,pasien kembali di rawat inap di RSJD Amino Gondohutomo. Keluarga
membawa kembali pasien ke rumah sakit setelah 1hari,pasien di dapatkan suka bicara
sendiri dan bicaranya cenderung ngelantur. Pasien bercerita kalau pasien merasa ada yang
mengejar-ngejar dirinya dan pasien merasa bila ada orang-orang yang sedang berbicara itu
seperti bahwa dirinya sedang di bicarakan oleh orang itu. Dirinya juga merasa malu,karena
sering keluar masuk rumah sakit jiwa,jadi pasien merasa minder dan cenderung tertutup.
Pasien masih dapat bekerja. Makan,minum dan mandi masih baik,waktu luang digunakan
untuk beristirahat,hubungan dengan keluarga dan lingkungan juga masih baik. Terapi yang
diberikan Risperidone 2x2mg dan Trihexylphenidil 2x2mg (GAF:60)
Pasien tetap kontrol teratur ke RSJ. Namun pada bulan Juni 2013,saat pasien kontrol lagi ke
RSJ,keluaga pasien menjelaskan keluhan mereka bahwa 2bulan belakangan pasien
mengamuk dan suka berbicara sendiri dan tertawa sendiri. Pasien juga sering sulit untuk
tidur. Pasien sering marah marah dan sampai memecahkan barang. Pasien merasa disakiti
oleh keluarga dan merasa punya pacar bernama felix. Sering membakar baju dan sampai
memukul ibu nya. Pasien merasakan bahwa ada yang mengontrol dirinya dan merasa ada
yang mengejar-ngejar diri nya. Pasien juga merasa sering melihat bayangan bayangan yang
tidak jelas,dan pasien juga merasa kalau orang-orang suka membicarakan dirinya.
Makan,minum,dan mandi sudah tidak bisa disuruh lagi. Waktu luang tidak dipergunakan
dengan baik. Hubungan keluarga jadi tidak baik karena pasien memukul ibu nya sendiri dan
sudah tidak bekerja. (GAF:20). Pasien setelah keluar rumah sakit,kemudian kontrol teratur
lagi ke RSJ.
Pada tanggal 12 Maret 2014,pasien kembali di bawa ke RSJ Amino Gondohutomo oleh
keluarga di karenakan selama 3hari pasien sulit tidur dan terasa pusing karena mendengar
suara-suara kucing dan ayam yang dirasa pasien sangat mengganggu. 2hari smrs,pasien tiba
tiba kembali marah-marah tanpa sebab dan mengamuk tanpa sebab. Pasien merasa,keluarga
nya yang bernama mbak yun,yang notabene adalah istri dari kakaknya yang pertama itu
berbuat jahat pada dirinya dan keluarganya. Pacarnya yang bernama felix juga direbut oleh
mbak yun untuk dijodohkan kepada keponakanya yang lain. Pasien merasa ada mendengar
suara-suara yang dibisikan ke telinganya dan juga melihat bayangan-bayangan seperti
pocongan. Kemudian pasien merasa kalau orang-orang itu sering membicarakan dirinya dan
seakan-akan tahu tentang apa yang di pikirkan olehnya dan merasa ada orang yang selalu
mengejar-ngejar dirinya. Pasien juga merasa kalau ada yang mengendalikan dirinya tetapi

pasien mampu menahan agar tidak menuruti apa yang diperintahkan oleh kekuatan tersebut.
Pasien sudah tidak bekerja lagi. Pasien juga tidak mau minum obat karena bila minum
obat,pasien jadi tidak bisa tidur. Makan,minum dan mandi harus di ingatkan. Waktu luang
digunakan untuk lebih banyak berisitirahat. Pasien juga tidak mau bersosialisasi lagi
( GAF::30)
D. Riwayat Penyakit Dahulu
1. Riwayat psikiatri :
Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini dan belum pernah mengalami
gangguan jiwa sebelumnya. Belum pernah ada remisi sejak tahun 2008 pasien mengalami
gangguan jiwa.
2. Riwayat penyakit medis umum:
-

Riwayat kejang
Riwayat diabetes mellitus
Riwayat Asma
Riwayat trauma
Riwayat hipertensi

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal

Riwayat keinginan untuk bunuh diri dan agresivitas

: Agresif

Riwayat penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang

: tidak pernah

E. Kurva Perjalanan Penyakit

70
60
50
40
Column2

30
20
10
0
39448

39479

2010

41426

41699

F. Riwayat Pramorbid
1. Pranatal dan Perinatal
Tidak terdapat kelainan pada ibu pasien selama masa kehamilan dan
persalinan. Pasien lahir cukup bulan, dilahirkan secara normal pervaginam dengan
ditolong oleh bidan di rumah. Berat badan saat lahir tidak diketahui. kelainan fisik,
maupun cacat bawaan tidak ada. Di asuh oleh orang tua dan di beri ASI sampai umur
9bulan.
2. Masa kanak awal (0-3 tahun)
Pasien diasuh oleh kedua orang tuanya. Pertumbuhan dan perkembangan
pasien sesuai dengan usianya. Data lengkap tidak didapatkan.
3. Masa kanak pertengahan (3-7 tahun)
Pasien tidak bersekolah taman kanak-kanak, masuk ke sekolah dasar pada
umur 7 tahun.
4. Masa kanak akhir (7-11 tahun)
Pasien bersekolah SD di dekat rumahnya, pergaulan dengan teman-temannya
baik, tidak punya masalah dengan teman ataupun gurunya dan tidak pernah tinggal
kelas.
5. Masa remaja (12-18 tahun)
Pasien melanjutkan

sekolahnya

sampai

ketingkat

SMA.

Menurut

keluarga,pasien termasuk murid yang cerdas. Di SMA, pasien masuk kedalam kelas
IPA dan lulus UAN. Pasien tidak pernah ada masalah dengan teman maupun guru
selama di sekolah.
6. Masa dewasa
a. Riwayat pendidikan
Pasien bersekolah hingga kelas tamat SMA dan tidak pernah bermasalah dengan
temannya, atau guru disekolah.
b. Riwayat pekerjaan
Pasien pernah bekerja sebagai karyawati di sebuah aparel di kota Semarang dan
tidak pernah kerja di tempat lain

c. Riwayat keagamaan

Pasien beragama Islam. Ibadah pasien dilakukan sesuai dengan kewajiban. Dan
pasien tidak pernah mempelajari ilmu yang menyimpang dari nilai agamanya
(sesat). Selama sakit pasien jadi jarang menjalankan shalat 5 waktu.
d. Riwayat perkawinan
Pasien belum menikah.
e. Riwayat kemiliteran
Pasien tidak pernah mengikuti kegiatan kemiliteran/perang.
f. Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum ataupun dipenjara akibat
melanggar hukum.
g. Riwayat sosialekonomi
Sebelum sakit,pasien merupakan orang yang mudah bergaul dengan orang dan
di lingkungan pekerjaanya juga pasien merupakan orang yang mudah
bersosialisasi. Pasien sebelum sakit bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri.
Kesan perekonomian cukup.
h. Riwayat hidup sekarang
Pasien tinggal bersama kakak beserta istri kakaknya dan bersama orang tua
nya. Hubungan nya agak kurang harmonis terhadap kakak iparnya karena ia
merasa kakak iparnya jahat kepada ia dan orang tua nya. Riwayat psikoseksual
Riwayat pelecehan/penyiksaan seksual tidak pernah dialami pasien. Pasien
berpakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Dan pasien mengaku tidak pernah
memiliki perilaku seksual yang menyimpang.
7. Fantasi, impian, dan nilai
Pasien memikirkan keadaan finansial ekonomi nya agar anaknya bisa
merasakan hidup lebih baik daripada sekarang.

8. Riwayat keluarga

Keterangan:
= perempuan

= Meninggal dunia

= laki-laki

= pasien dengan gangguan jiwa

=tinggal serumah

II. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 16 Maret 2014 di bangsal arimbi RSJD Amino Gondo
Hutomo Semarang pada pukul 11.00 Wib.
A. GAMBARAN UMUM
1. Penampilan
Pasien perempuan, postur tubuh sedang, terlihat sesuai dengan usianya saat
ini. Kebersihan serta kerapihan diri cukup baik. Kulit sawo matang. Pasien
duduk tenang, saat wawancara pasien melihat tatapan pemeriksa.
2. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Hiperaktif
:(- )
Normoaktif
:(+)
Hipoaktif
:(- )
Stupor
:(- )
Gelisah
:(- )
Berkoordinasi
:(- )

perseverasi
verbigenasi
echolalia
echopraxia
negativisme aktif
gerakan otomatif

:(-)
:(- )
:(- )
:(- )
:(- )
:(- )

Stereotipik
Maniseren
Grimaseren
Ambivalensi
Giggling
Tak berkoordinasi

:(:(:(:(:(:(-

)
)
)
)
)
)

3. Sikap terhadap pemeriksa


Indifferent
:(- )
Apatis
:(- )
Kooperatif
:(+)
Negativisme pasif
:(- )
Dependent
:(- )
Infantil
:(- )
Rigid
:(- )

gerakan autochlon
kleptomania
pyromania
gerakan impulsive
portomania
mutisme

:(:(:(:(:(:(-

)
)
)
)
)
)

curiga
berubah-ubah
tegang
pasif
aktif
katalepsi
permusuhan

:(:(:(:(:(:(:(-

)
)
)
)
)
)
)

4. Kontak positif wajar, dapat dipertahankan dan sikap terhadap pemeriksa


kooperatif.
B. KEADAAN MOOD DAN AFEK
1. Mood
Disforik
:(-)
Eutimi
: (+ )
Hipertimi
:(-)
Hipotimi
:(-)
2. Afek
Serasi
Tidak serasi
Terbatas

:(+)
:(- )
:(- )

paratimi
:(tension
:(parkilotimia : ( depersonalisasi: ( -

)
)
)
)

tumpul : ( - )
labil : ( - )
datar : ( - )

3. Reaksi emosional
Stabilitas
: Stabil
Pengendalian
: Cukup
Kesungguhan
: Sungguh-sungguh
Empati
: Dapat dirasakan
Dalam dangkalnya : Cukup
Skala diferensial
: Cukup
Arus emosi
: Cukup
4. Emosi lain
Kecemasan : ( - )
Panik
Ketakutan
:(-)
Apatis
Ketegangan : ( - )
Ambivalensi
5. Gangguan psikologi yang berhubungan dengan mood
Anoreksia
:(-)
Hipersomnia
Hiperfagia
:(-)
Variasi diurnal
Insomnia
:(+)
Penurunan libido

:(-)
:(-)
:(-)
:(-)
:(-)
:(-)

Konstipasi

:(-)

C. PEMBICARAAN
Kualitas : cukup
Kuantitas : cukup
D. SENSORIUM DAN KOGNITIF
1. Kesadaran
: jernih
2. Orientasi
a. Waktu
: baik
b. Tempat: baik
c. Personal
: baik
d. Situasional
: baik
3. Daya ingat
a. Segera
b. Jangka pendek
c. Jangka panjang
4. Konsentrasi
5. Perhatian
6. Kemampuan visuospatial
7. Kemampuan baca tulis
8. Pemikiran abstrak

: baik
: baik
: baik
: baik
: tidak mudah teralihkan
: baik
: baik
: baik

E. GANGGUAN PERSEPSI
Halusinasi
ilusi
Visual
:(+)
visual
Auditorik : ( + )
auditorik
Olfaktorik : ( - )
olfaktorik
Gustatorik : ( - )
gustatorik
Taktil
:(-)
taktil
Haptik
:(-)
Autoskopi : ( - )
Kinestetik : ( - )
F. GANGGUAN PROSES PIKIR
1. Bentuk pikir
: Non-realistis
2. Arus pikir

:(-)
:(-)
:(-)
:(-)
:(-)

Flight of idea

:(-)

perseverasi

:(-)

Asosiasi longgar

:(-)

verbigenasi

:(-)

Inkoherensi

:(-)

blocking

:(-)

Sirkumstansial

:(-)

retardasi

:(-)

Tangensial

:(-)

irrelevant

:(-)

Neologisme

:(-)

lancar

:(+)

3. Isi pikir
a. Thought of echo
Thought of insertion

:(-)
:(-)

b.

c.

d.
e.
f.
g.

Thought of withdrawal : ( - )
Thought of broadcasting
:(+)
Delusion of control
:(+)
Delusion of influence
:(-)
Delusion of passivity
:(-)
Delusion of perception : ( - )
Waham kebesaran
:(-)
Waham berdosa
:(-)
Waham kejar
:(+)
Waham curiga
:(+)
Waham cemburu
:(-)
Waham magik mistik
:(-)
Waham rendah diri
:(-)
Waham hipokondrik
:(-)
Obsesi
:(-)
Preokupasi
:(-)
Obsesif kompulsif
:(-)
Phobia
:(-)

G. PENGENDALIAN IMPULS
H. DAYA NILAI

: baik
: baik

I. TILIKAN / INSIGHT
Derajat tilikan yang dimiliki pasien : Tilikan 1
1. Menyangkal sepenuhnya bahwa ia mengalami penyakit/gangguan.
2. Sedikit memahami adanya penyakit pada dirinya dan membutuhkan
pertolongan dan pada saat yang bersamaan pasien sekaligus menyangkal
penyakitnya.
3. Pasien menyadaridirinya sakit namun menyalahkan orang lain atau penyebab
eksternal atau faktor organik sebagai penyebabnya.
4. Pasien menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan namun tidak memahami
penyebab sakitnya.
5. Intellectual insight : pasien menerima kondisi dan gejala-gejala sebagai bagian
dari penyakitnya dan hal ini disebabkan oleh gangguan yang ada dalam diri
pasien , namun tidak menerapkan pemahamannya ini untuk melakukan sesuatu
selanjutnya (misalnya perubahan gaya hidup)
6. Emotional insight : pasien memahami kondisi yang ada dalam dirinya seperti
tilikan derajat 5 namun pasien juga memahami perasaan dan tujuan yang ada
dalam pasien sendiri dan orang yang penting dalam kehidupan pasien. Hal ini
menyebabkan adanya perubahan perilaku.

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LANJUTAN


A. Pemeriksaan Fisik Umum
1. Keadaan umum
: baik
2. Kesadaran
: jernih, Compos Mentis
3. Tanda vital
Tekanan darah
: 130/80 mmHg
Nadi
: 84x / menit
Napas
: 20 x / menit
Suhu
: 36,8C
4. Kepala
: Normocephali
5. Mata
: dalam batas normal
6. Leher
: dalam batas normal
7. Thorax :
Cor
: Tidak ditemukan kelainan
Pulmo
: Tidak ditemukan kelainan
8. Abdomen
: Tidak ditemukan kelainan
9. Extremitas
: Tidak ditemukan kelainan
B. Pemeriksaan Neurologis
1. Refleks Psikologi
2. Refleks Patologis
3. Refleks neurologis

: Dalam batas normal


: Dalam batas normal
: Dalam batas normal

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. EKG
2. EEG
3. Foto rontgen
4. CT scan
5. Tes psikologis

: Normal sinus rythym


: tidak dilakukan
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan

V. FORMULASI DIAGNOSTIK
Seorang perempuan,berusia 25 tahun,agama islam,suku jawa,bekerja sebagai karyawati
pada pabrik aparel di kota Semarang,dan belum menikah dengan pendidikan terakhir
adalah tamatan Sma di Semarang,datang ke Ugd Rsjd Amino Gondohutomo oleh kakak
kandung nya dengan keluhan sejak 3hari smrs,pasien terasa sulit tidur karena mendengar
suara-suara kucing dan ayam dan pasien sering marah-marah dan mengamuk tanpa sebab.
Keluhan pasien tersebut dialami pasien pertama kali pada tahun 2008. Sampai sejauh ini
pasien sudah di rawat inap 3 kali dengan keluhan yang sama.Pasien mendengar suarasuara bisikan di telinganya dan suka melihat bayangan seperti tengkorak atau pocongan.
Pasien juga merasa seperti di kejar-kejar dan merasa curiga kalau banyak yang
membicarakanya.
Dari alloanamnesis didapatkan bahwa keluarga pasien mengaku bahwa pertama kali
pasien mengalami perubahan sikap dan perilaku pada tahun 2008 dimana pasien merasa

bermimpi bahwa harus menolong ayah nya dan seakan ada yang memasuki tubuhnya dan
terkadang menarik pikiranya keluar. Pasien sering kontrol di rumah sakit jiwa di bawa
oleh keluarganya. Pasien sudah bolak balik keluar rumah sakit jiwa dan pernah di rawat
dirumah sakit jiwa sebanyak 3 kali. Pasien mendapatkan terapi Risperidone 2x2mg,
Trihexylphenidine 2x2mg. Selama ini,menurut keluarga,pasien dirasa belum pernah
sembuh atau sikap dan tingkah laku nya kembali ke seperti sebelum sakit.
Pada autoanamnesis yang dilakukan,didapatkan gambaran umum dengan kerapihan dan
kebersihan cukup,perilaku yang kooperatif kepada pemeriksa dan aktivitas psikomotor
yaitu perilaku yang normoaktif dan sikap kooperatif dan kontak psikis ( + ) dan dapat
dipertahankan, moodnya euthym,afek serasi atau aprropriate,kualitas pembicaraan
cukup,kuantitasnya juga cukup,tidak didapatkan adanya gangguan persepsi pada pasien.
Bentuk pikiran non-realistik,arus pikir lancar,kesadaran jernih, terdapat gangguan tidur
pada pasien akibat keluhan yang dirasakan pasien dan akibat minum obat. Pasien juga
merasa bahwa ada suara-suara tanpa ada nya wujud yang jelas di telinganya dan sering
melihat ada nya bayangan atau pocongan. Pasien juga merasa bahwa ada yang sering
mengejar-ngejar dia dan ada yang ingin jahat pada dirinya. Pasien juga sering merasa
bahwa orang dapat membaca pikiranya dan ada yang mengontrol dirinya. Pasien juga
sering marah-marah tanpa sebab. Hal seperti ini sudah ia rasakan dan ia sadar bahwa
sering marah-marah dan timbul keluhan ini sejak tahun 2008,dan pasien mengatakan
sering kontrol dan pernah tidak mau minum obat karena ia merasa tidak bisa tidur setelah
konsumis obat tersebut. Hal ini dapat di simpulkan dari gejala tersebut memenuh kriteria
diagnosis aksi I F20.0 Gangguan skizofrenia paranoid berkelanjutan
Pada

riwayat

premorbid

semenjak

pasien

dilahirkan,

pada

masa

anak

awal,pertengahan,masa anak akhir serta dewasa didapatkan pasien orang yang mudah
bergaul,terbuka dan bersosialisasi dengan baik. Sehinggal menurut PPDGJ III memenuhi
aksis II tidak ada diagnosis.
Pada riwayat penyakit fisik dana pemeriksaan fisik pasien tidak ditemukan riwayat
penyakit medis,sehinggal menurut PPDGJ III memenuhi kriteria diagnosis aksis III tidak
ada diagnosis.
Dari alloanamnesis tidak didapatkan masalah yang jelas dan berkaitan dengan sakit yang
dialami pasien. Sehingga diagnosis aksis IV tidak ada diagnosis.
Dari alloanamnesis didapatkan bahwa pasien sudah tidak bekerja sebagai karyawati di
tempat kerjanya lagi. Waktu luang tidak bisa di manfaatkan dengan baik,kadang
digunakan untuk melamun. Makan,minum, dan mandi harus di suruh. Hubungan keluarga

agak tidak baik karena pasien sering membanting-banting barang dan mengamuk tanpa
sebab, dan pasien sudah tidak mau bersosialisasi lagi. Sehingga menurut PPDGJ III
memenuhi kriteria aksis V GAF : 30
Diagnosis
Aksis I

: F20.00 Skizofrenia paranoid berkelanjutan

Dd : F 22.0 Paranoia
Aksis II

: tidak ada diagnosis

Aksis III : tidak ada diagnosis


Aksis IV : tidak ada diagnosis
Aksis V

: GAF sebelum masuk Rumah Sakit : 20


GAF saat di periksa

: 30

GAF mutakhir

: 40

VII. PERENCANAAN PENATALAKSANAAN


A. Farmakoterapi:
Risperidone 2x2mg
B. Non farmakologi
Psikoterapi
Keluarga : Memberitahu keluarga pasien mengenai keadaan pasien dan
perkembanganya.
Perilaku : Pasien di himbau untuk tidak marah-marah lagi dan untuk lebih bisa
mengontrol dirinya dan hilangkan pikiran pikiran negatif terhadap orang-orang disekitarnya
Suportif

: Motivasi untuk minum obat secara teratur.

VIII. PROGNOSIS
Baik:
1. Faktor pencetus jelas
2. Onset akut
3. Usia 15-25 tahun
4. Gejala positif menonjol
5. Riwayat sosial ekonomi dan pramobid baik
6. Menikah
7. Sistem pendukung yang baik
8. Status ekonomi baik
9. Tidak ada kekambuhan
10. Tidak ada keluarga sakit jiwa

(-)
(-)
()
()
()
(-)
(-)
()
(-)
()

Buruk
1. Faktor pencetus tidak jelas
2. Onset kronis
3. Usia dibawah 15 tahun dan diatas 75 tahun
4. Gejala negatif menonjol
5. Riwayat sosial ekonomi dan premorbid buruk
6. Tidak menikah
7. Sistem pendukung sosial yang buruk
8. Status ekonomi buruk
9. Kekambuhan
10. Ada keluarga yang sakit jiwa

Prognosis: dubia at malam

()
()
(-)
()
(-)
()
()
(-)
()
(-)