Anda di halaman 1dari 7

Penanaman modal asing

pendahuluan
Pengertian penanaman modal asing meliputi penanaman modal asing secara langsung yang
dilakukan menurut atau berdasarkan ketentuan-ketentuan Undang-undang ini dan yang
digunakan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia, dalam arti bahwa pemilik modal
secara langsung menanggung risiko dari penanaman modal tersebut. perusahaan yang
dimaksud dalam pasal 1 yang dijalankan untuk seluruhnya atau bagian terbesar di Indonesia
sebagai kesatuan perusahaan tersendiri harus berbentuk Badan Hukum menurut Hukum
Indonesia dan berkedudukan di Indonesia
PETA KONSEP:
Penanaman Modal asing
1. Pengertian Penanaman Modal Asing
2. Bentuk Hukum, Kedudukan dan Daerah Berusaha
3. Badan Usaha Modal Asing
4. TenagaKerja
5. Pemakaian Tanah
6. Jangka Waktu Penanaman Modal Asing, Hak Transfer dan Repatriasi
7. Nasionalisasi dan Kompensasi
8. Kerjasama Modal Asing dan Modal Nasional
A. Pengertian Penanaman Modal Asing
Dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1967 ditegaskan bahwa Pengertian penanaman modal
asing di dalam Undang-undang ini hanyalah meliputi penanaman modal asing secara
langsung yang dilakukan menurut atau berdasarkan ketentuan-ketentuan Undang-undang ini
dan yang digunakan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia, dalam arti bahwa pemilik
modal secara langsung menanggung risiko dari penanaman modal tersebut.
Pengertian modal asing dalam Undang-undang ini menurut pasal 2 ialah :
a. alat pembayaran luar negeri yang tidak merupakan bagian dari kekayaan devisa Indonesia,
yang dengan persetujuan Pemerintah digunakan untuk pembiayaan perusahaan di Indonesia.
b. alat-alat untuk perusahaan, termasuk penemuan-penemuan baru milik orang asing dan
bahan-bahan, yang dimasukkan dari luar ke dalam wilayah Indonesia, selama alat-alat tersebut tidak dibiayai dari kekayaan devisa Indonesia.
c. bagian dari hasil perusahaan yang berdasarkan Undang-undang ini diperkenankan
ditransfer, tetapi dipergunakan untuk membiayai perusahaan di Indonesia.
Adapun modal asing dalam Undang-undang ini tidak hanya berbentuk valuta asing, tetapi
meliputi pula alat-alat perlengkapan tetap yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan di
Indonesia, penemuan-penemuan milik orang/badan asing yang dipergunakan dalam
perusahaan di Indonesia dan keuntungan yang boleh ditransfer ke luar negeri tetapi
dipergunakan kembali di Indonesia.
B. Bentuk Hukum, Kedudukan dan Daerah Berusaha
Menurut pasal 3 UPMA perusahaan yang dimaksud dalam pasal 1 yang dijalankan untuk
seluruhnya atau bagian terbesar di Indonesia sebagai kesatuan perusahaan tersendiri harus
berbentuk Badan Hukum menurut Hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.
Penanaman modal asing oleh seorang asing, dalam statusnya sebagai orang perseorangan,
dapat menimbulkan kesulitan/ketidak tegasan di bidang hukum Internasional. Dengan

kewajiban bentuk badan hukum maka dengan derai-kian akan mendapat ketegasan mengenai
status hukumnya yaitu badan hukum Indonesia yang tunduk pada hukum Indonesia. Sebagai
badan hukum terdapat ketegasan tentang modal y ditanam di Indonesia.
Pemerintah menetapkan daerah berusaha perusahaan-perusa-haan modal asing di Indonesia
dengan memperhatikan perkembangan ekonomi nasional maupun ekonomi daerah, macam
perusahaan. besarnya penanaman modal dan keinginan Ekonomi Nasional dan Daerah (Pasal
4). Dengan ketentuan ini maka dapat diusahakan pembangunan yang merata di seluruh
wilayah Indonesia dengar,
C. Badan Usaha Modal Asing
Dalam pasal 5 UPMA disebutkan, bahwa :
a) Pemerintah menetapkan perincian bidang-bidang usaha yang terbuka bagi modal asing
menurut urutan prioritas, dan menentukan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh penanaman modal asing dalam tiap-tiap usaha tersebut.
b) Perincian menurut urutan prioritas ditetapkan tiap kali pada waktu Pemerintah menyusun
rencana-rencana pembangunan jangka menengah dan jangka panjang, dengan memperhatikan
perkembangan ekonomi serta teknologi.
Bidang-bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal asing secara penguasaan penuh
ialah bidang-bidang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup rakyat banyak
menurut pasal 6 UPMA adalah sebagai berikut :
a. pelabuhan-pelabuhan
b. produksi, transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk umum
c. telekomunikasi
d. pelayaran
e. penerbangan
f. air minum
g. kereta api umum
h. pembangkit tenaga atom
i. mass media.
D. TenagaKerja
Menurut pasal 9 UPMA pemilik modal mempunyai wewenang sepenuhnya untuk
menentukan direksi perusahaan-perusahaan di mana modalnya ditanam.
Kepada pemilik modal asing diperkenankan sepenuhnya menetapkan direksi perusahaannya.
Kiranya hal demikian itu sudah sewajarnya karena penanaman modal asing ingin
menyerahkan pengurusan modal kepada orang yang dipercayanya. Dalam hal kerjasama
antara modal asing dan modal nasional direksi ditetap-kan bersama-sama.
Dalam pasal 10 ditegaskan, bahwa perusahaan-perusahaan modal asing wajib memenuhi
kebutuhan akan tenaga kerjanya dengan warganegara Indonesia kecuali dalam hal-hal
tersebut pada pasal 11. Sedangkan dalam pasal 11 UPMA disebutkan bahwa perusahaanperusahaan modal asing diizinkan mendatangkan atau menggunakan tenaga-tenaga pimpinan
dan tenaga-tenaga ahli warganegara asing bagi jabatan-jabatan yang belum dapat diisi dengan
tenaga kerja warga negara Indonesia.
Perusahaan-perusahaan modal asing berkewajiban menyeleng-garakan atau menyediakan
fasilitas-fasilitas latihan dan pendidikan di dalam atau di luar negeri secara teratur dan terarah
bagi warganegara Indonesia dengan tujuan agar berangsur-angsur tenaga-tenaga warga
negara asing dapat diganti oleh tenaga-tenaga warga negara Indonesia.
E. Pemakaian Tanah
Dalam pasal 14 UPMA disebutkan, bahwa untuk keperluan perusahaan-perusahaan modal

asing dapat diberikan tanah dengan hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai
menurut peraturan perundangan yang berlaku.
Ketentuan pasal 14 ini yang memungkinkan diberikannya tanah kepada perusahaanperusahaan yang bermodal asing bukan saja dengan hak pakai, tetapi juga dengan hak guna
bangunan dan hak guna usaha, merupakan penegasan dari apa yang ditentukan di dalam pasal
55 ayat 2 Undang-undang Pokok Agraria, berhubungan dan pasal 10, 62 dan 64 Ketetapan
MPRS No. XXIII/MPRS/ 1969.
Sesuai dengan ketentuan Undang-undang Pokok Agraria pasal 35, pasal 29 dan pasal 41,
maka hak guna bangunan tersebut dapat diberikan dengan jangka waktu paling lama 30
tahun, yang meng-ingat keadaan perusahaan dan bangunannya dapat diperpanjang dengan
waktu paling lama 20 tahun. Hak guna usaha dapat diberikan dengan jangka waktu paling
lama 25 tahun.
Kepada perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan macam tanaman yang
diusahakannya memerlukan waktu yang lebih lama dapat diberikan hak guna usaha dengan
jangka waktu hak guna usaha tersebut dapat diperpanjang paling lama 25 tahun. Hak pakai
diberikan dengan jangka waktu menurut keperluannya, dengan mengingat pembatasanpembatasan bagi hak guna bangunan dan hak guna usaha tersebut di atas.
F. Jangka Waktu Penanaman Modal Asing, Hak Transfer dan Repatriasi
Pasal 18 UPMA menegaskan, bahwa dalam setiap izin penanaman modal asing ditentukan
jangka waktu berlakunya yang : tidak melebihi 30 (tigapuluh) tahun.
Selanjutnya (menurut Penjelasan Pasal 18 UPMA) diadakan ketentuan-ketentuan sebagai
berikut :
a. Perusahaan Modal Asing harus mengadakan pembukaan ter-sendiri dari modal asingnya;
b. Untuk menetapkan besarnya modal asing maka jumlahnya harus dikurangi dengan jumlahjumlah yang dengan jalan repatriasi telah ditransfer;
c. Tiap tahun perusahaan diwajibkan menyampaikan kepada Pemerintah suatu ikhtisar dari
modal asingnya.
Mengenai hak transfer, dalam pasal 19 UPMA ditetapkan sebagai berikut :
1) Kepada perusahaan modal asing diberikan hak transfer dalam valuta asing dari modal atas
dasar nilai tukar yang berlaku untuk :
a. Keuntungan yang diperoleh modal sesudah dikurangi pajak-pajak dan kewajibankewajiban pembayaran lain;
b. biaya-biaya yang berhubungan dengan tenaga asing yang dipekerjakan di Indonesia;
c. biaya-biaya lain yang ditentukan lebih lanjut;
d. penyusutan atas aht-alat perlengkapan tetap;
e. kompensasi dalam hal nasionalisasi.
2) Pelaksanaan transfer ditentukan lebih lanjut oleh Pemerintah.
modal asing. Dirasakan adil apabila perusahaan-perusahaan yang menggunakan modal asing
tidak diperbolehkan merepatriasi modalnya mentransfer penyusutan selama perusahaanperusahaan itu masih memperoleh kelonggaran-kelonggaran perpajakan dan pungutanpungutan lain. Perlu diterangkan bahwa transfer keuntungan modal asing dapat dilakukan
juga selama perusahaan itu memperoleh kelonggaran-kelonggaran perpajakan dan pungutanpungutan lain.
G. Nasionalisasi dan Kompensasi
Pemerintah tidak akan melakukan tindakan nasionalisasi/pencabutan hak milik secara
menyeluruh atas perusahaan-perusahaan modal asing atau tindakan-tindakan yang
mengurangi hak menguasai atau mengurus perusahaan yang bersangkutan.kecuali jika
dengan Undang-undang dinyatakan kepentingan Negara menghendaki tindakan demikian

(Pasal 21).
Jika diadakan tindakan seperti tersebut pada pasal 21 maka Pemerintah wajib memberikan
kompensasi/gantirugi yang jumlah, macam dan cara pembayarannya disetujui oleh kedua
belah pihak sesuai dengan asas-asas hukum internasional yang berlaku. Apabila antara kedua
belah pihak tidak terdapat persetujuan mengenai jumlah, macam dan cara pembayaran
kompensasi tersebut maka akan diadakan arbitrasi yang putusannya mengikat kedua belah
pihak.
Untuk menjamin ketenangan bekerja modal asing yang ditanam di Indonesia maka dalam
pasal ini ditetapkan bahwa Pemerintah tidak akan melakukan nasionalisasi terhadap
perusahaan modal asing, kecuali jika kepentingan negara menghendakinya. Tindakan
demikian itu hanya dapat dilakukan dengan Undang-undang serta dengan pemberian
kompensasi menurut prinsip-prinsip Hukum Internasional.
H. Kerjasama Modal Asing dan Modal Nasional
UPMA daJam pasal 23 menegaskan, bahwa daJam bidang-bidang usaha yang terbuka bagi
modal asing dapat diadakan kerja-sama antara modal asing dengan modal nasional dengan
mengingat ketentuan dalam pasal 3 di atas.
Pemerintah menetapkan lebih lanjut bidang-bidang usaha, bentuk-bentuk dan cara-cara
kerjasama antara modal asing dan modal nasional dengan memanfaatkan modal dan keahlian
asing dalam bidang ekspor serta produksi barang-barang dan jasa-jasa.
Pengertian modal nasional dalam Undang-undang ini meliputi modal Pemerintah Pusat dan
Daerah, Koperasi dan modal swasta nasional.
Adapun keuntungan yang diperoleh perusahaan modal asing sebagai hasil kerjasama antara
lain modal asing dan modal nasional tersebut pada pasal 23 setelah dikurangi pajak-pajak
serta kewajiban-kewajiban lain yang harus dibayar di Indonesia, diizinkan untuk ditransfer
dalam valuta asli dari modal asing yang bersangkutan seimbang dengan bagian modal asing
yang ditanam (Pasal 24).
Pertanian Oleh Petani Untuk Pertanian

Pembahasan
Keberadaan penanaman modal asing di Indonesia mempunyai pengaruh besar terhadap
pembangunan di Indonesia. Jumlah Investor Asing dipengaruhi oleh political will
Pemerintah, jaminan perlindungan dan kepastian hukum bagi kegiatan penanaman modal
tersebut. Keberadaan investor asing mempunyai dampak positif dan negatif bagi Negara
Indonesia. Dampak positif nya adalah 1) pertumbuhan ekonomi meningkat, 2) penyediaan
lapangan kerja, 3) pengembangan industri substitusi import untuk menghemat devisa, 4)
pengembangan industri yang mendukung ekspor, 5) pembangunan daerah tertinggal. Dampak
negatif: 1) potensi adanya praktek ekonomi tidak wajar seperti monopoli, 2) timbulnya
sengketa karena perbedaan sistem hukum, 3) adanya informasi yang asimtris antara PMA dan
pengusaha nasional. Permasalahan yang muncul dari adanya sengketa penanaman modal
dapat diselesaikan melalui musyawarah mufakat, pengadilan, ADR dan Arbitrase. Khusus
untuk sengketa antara Investor asing dengan Pemeerintah Republik Indonesia dapat
diselesaikan melalui Lembaga Arbitrase ICSID ataupun ICC.
Latar Pemodal Asing dengan Pertumbuhan Ekonomi Secara teori, PMA berpengaruh positif
terhadap pembangunan ekonomi atau pertumbuhan ekonomi pada khususnya di negara tuan
rumah lewat beberapa jalur (Gambar 1). Pertama, lewat pembangunan pabrik-pabrik baru

(PP) yang berarti juga penambahan output atau produk domestic bruto (PDB), total ekspor
(X) dan kesempatan kerja (KK). Ini adalah suatu dampak langsung. Pertumbuhan X berarti
penambahan cadangan devisa (CD) yang selanjutnya peningkatan kemampuan dari negara
penerima untuk membayar utang luar negeri (ULN) dan impor (M). Kedua, masih dari sisi
suplai, namun sifatnya tidak langsung, adalah sebagai berikut:
adanya PP baru berarti ada penambahan permintaan di dalam negeri terhadap barang-barang
modal, barang-barang setengah jadi, bahan baku dan input-input lainnya.
Jika permintaan antara ini sepenuhnya dipenuhi oleh sektor-sektor lain (SSL) di dalam negeri
(tidak ada yang diimpor), maka dengan sendirinya efek positif dari keberadaan atau kegiatan
produksi di pabrik-pabrik baru tersebut sepenuhnya dinikmati oleh sektor-sektor domestik
lainnya; jadi output di SSL tersebut mengalami pertumbuhan. Ini berarti telah terjadi suatu
efek penggandaan dari keberadaan PMA terhadap output agregat di negara penerima.
Dalam kata lain, semakin besar komponen M dari sebuah proyek PMA, atau semakin besar
kebocoran dari keterkaitan produksi antara PMA dengan ekonomi domestik, semakin kecil
efek penggandaan tersebut.
Ketiga, peningkatan kesempatan kerja akibat adanya pabrik-pabrik baru tersebut berdampak
positif terhadap ekonomi domestik lewat sisi permintaan: peningkatan kesempatan kerja
menambah kemampuan belanja masyarakat dan selanjutnya meningkatkan permintaan di
pasar dalam negeri. Sama seperti kasus s ebelumnya, jika penambahan permintaan konsumsi
tersebut tidak serta merta menambah impor, maka efek positifnya terhadap pertumbuhan
output di sektor-sektor domestik sepenuhnya terserap. Sebaliknya, jika ekstra permintaan
konsumsi tersebut adalah dalam bentuk peningkatan impor, maka efenya nihil. Bahkan jika
pertumbuhan impor lebih pesat daripada pertumbuhan ekspor yang disebabkan oleh adanya
PMA, maka terjadi defisit neraca perdagangan. Ini berarti kehadiran PMA memberi lebih
banyak dampak negatif daripada dampak positif terhadap negara tuan rumah.
Keempat, peran PMA sebagai sumber penting peralihan teknologi dan knowledge lainnya.
Peran ini bisa lewat dua jalur utama.

Pertama, lewat pekerja-pekerja lokal yang bekerja di perusahaan-perusahaan PMA.


Saat pekerja-pekerja tersebut pindah ke perusahaan-perusahaan domestik, maka
mereka membawa pengetahuan atau keahlian baru dari perusahaan PMA ke
perusahaan domestik.

Kedua, lewat keterkaitan produksi atau subcontracting antara PMA dan perusahaanperusahaan lokal, termasuk usaha kecil dan menengah, seperti kasus PT Astra
Internasional dengan banyak subkontraktor skala kecil dan menengah.

penutup
Dewasa ini hampir di semua negara, khususnya negara berkembang membutuhkan modal
asing. Modal asing itu merupakan suatu hal yang semakin penting bagi pembangunan suatu
negara. Sehingga kehadiran investor asing nampaknya tidak mungkin dihindari. Yang
menjadi permasalahan bahwa kehadiran investor asing ini sangat dipengaruhi oleh kondisi
internal suatu negara, seperti stabilitas ekonomi, politik negara, penegakan hukum.

Penanaman modal memberikan keuntungan kepada semua pihak, tidak hanya bagi investor
saja, tetapi juga bagi perekonomian negara tempat modal itu ditanamkan serta bagi negara
asal para investor. Pemerintah menetapkan bidang-bidang usaha yang memerlukan
penanaman modal dengan berbagai peraturan. Selain itu, pemerintah juga menentukan
besarnya modal dan perbandingan antara modal nasional dan modal asing. Hal ini dilakukan
agar penanaman modal tersebut dapat diarahkan pada suatu tujuan yang hendak dicapai.
Bukan haya itu seringkali suatu negara tidak dapat menentukan politik ekonominya secara
bebas, karena adanya pengaruh serta campur tangan dari pemerintah asing.
Berbagai strategi untuk mengundang investor asing telah dilakukan. Hal ini didukung oleh
arah kebijakan ekonomi dalam TAP MPR RI Nomor IV/MPR/1999 salah satu kebijakan
ekonomi tersebut adalah :
mengoptimalkan peranan pemerintah dalam mengoreksi ketidaksempurnaan pasar dengan
menghilangkan seluruh hambatan yang mengganggu mekanisme pasar, melalui regulasi,
layanan publik, subsidi dan insentif yang dilakukan secara transparan dan diatur dengan
undang-undang.
Kebijakan mengundang modal asing adalah untuk meningkatkan potensi ekspor dan
substitusi impor, sehingga Indonesia dapat meningkatkan penghasilan devisa dan mampu
menghemat devisa, oleh karena itu usaha-usaha di bidang tersebut diberi prioritas dan
fasilitas. Alasan kebijakan yang lain yaitu agar terjadi alih teknologi yang dapat mempercepat
laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional Indonesia.
Upaya pemerintah untuk mencari modal asing agar mau kembali menanamkan modalnya di
Indoensia sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Ditambah lagi sejak
krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1998, penanaman modal di Indonesia semakin
menurun. Jangan menarik investor, menjaga investor yang sudah ada saja belum maksimal,
misalnya dengan tutupnya perusahaan asing seperti PT. Sony Electornics Indonesia pada 27
Nopember 2002. Terlebih lagi pada tahun 2003 yang lalu, hal ini dikarenakan adanya invasi
Amerika ke Irak serta mewabahnya penyakit sindrom pernafasan akut. Hal ini menimbulkan
ketidak pastian perekonomian dunia dan berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia
terutama terhadap penanam modal, padahal pemerintah telah mencanangkan tahun 2003 ini
sebagai tahun investasi.
Untuk bisa memenuhi harapan tersebut, pemerintah, aparat hukum dan komponen masyarakat
dituntut untuk segara menciptakan iklim yang kondusif untuk investasi. Menyadari
pentingnya penanaman modal asing, pemerintah Indonesia menciptakan suatu iklim
penanaman modal yang dapat menarik modal asing masuk ke Indonesia. Usaha-usaha
tersebut antara lain adalah dengan mengeluarkan peraturan-peraturan tentang penanaman
modal asing dan kebijaksanaan pemerintah yang pada dasarnya tidak akan merugikan
kepentingan nasional dan kepentingan investor.
Usaha pemerintah untuk selalu memperbaiki ketentuan yang berkaitan dengan penanaman
modal asing antara lain dilakukan dengan memperbaiki peraturan dan pemberian paket yang
menarik bagi investor asing. Pada akhirnya harus tetap diingat bahwa maksud diadakannya
penanaman modal asing hanyalah sebagai pelengkap atau penunjang pembangunan ekonomi
Indonesia. Pada hakekatnya pembangunan tersebut harus dilaksanakan dengan ketentuan
swadaya masyarakat, oleh karena itu pemerintah harus bijaksana dan hati-hati dalam
memberikan persetujuan dalam penanaman modal asing agar tidak menibulkan

ketergantungan pada pihak asing yang akan menimbulkan dampak buruk bagi negara ini
dikemudian hari.
Daftar pustaka
http://www.fh.unej.ac.id/v1/index.php/publikasi/penelitian/172-tinjauan-yuridis-terhadappenanaman-modal-asing-di-indonesia
http://petanitangguh.blogspot.com/2010/06/penanaman-modal-asing.html
http://www.endz4shared.co.cc/2010/04/perkembangan-penanaman-modal-asing-di.html

http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/06/tujuan-penanaman-modal-asing.html

Anda mungkin juga menyukai