Anda di halaman 1dari 5

1.

Jelaskan perbedaan sistem pencernaan pada unggas dan ruminansia


Pembahasan Proses dan Sistem Pencernaan Pada Unggas (Aves) Secara Lengkap Seperti halnya pada vertebrata lainnya, sistem pencernaan pada kelas aves, seperti unggas
lainnya, tersusun atas saluran dan kelenjar pencernaan. Kelas Aves memiliki metabolisme yang
tinggi untuk berbagai aktivitas, seperti terbang yang membutuhkan energi yang besar. Untuk itu,
ayam dan anggota kelas aves lainya memiliki sistem pencernaan yang sederhana guna segera
memperoleh energi, dan melakukan sebuah adaptasi pada organ-organ tertentu dalam rangka
mengurangi massa tubuh. Di dalam tubuh unggas, pencernaan terjadi secara mekanik dan
kimiawi. Adapun proses pencernaan pada Unggas adalah sebagai berikut:
1.

Paruh/Mulut

Ayam dan unggas lainnya tidak memiliki bibir dan pipi. Muut mengalami modifikasi
menjadi paruh dengan struktur yang keras dan tajam tersusun atas zat tanduk. Bentuk paruh pada
burung dan unggas berbeda-beda tergantung pada jenis makanannya. Paruh berperan dalam
penggambilan makanan yang akan masuk ke dalam rongga mulut. Ayam dan unggas lainnya
tidak memiliki gigi sehingga makanan tidak dikunyah di dalam mulut. Peniadaan gigi ini
merupakan salah satu cara mengurangi massa tubuh. Kelenjar ludar mensekresikan saliva ke
dalam rongga mulut untuk membasahi makanan agar mudah ditelan. Saliva mengandung enzim
pencernaan yang akan memecah makanan secara kimiawi. Lidah membantu proses penelanan
dan mendorong makanan menuju esofagus.
2.

Esofagus

Tabung fleksibel

menghubungkan mulut dengan tembolok dan dengan ventrikulus,

mengantarkan makanan yang masuk ke dalam mulut menuju tembolok. Dinding esofagus
menghasilkan lendir yang mengandung zat antimikroba, membunuh bakteri yang ikut tertelan
bersama makanan. Esofagus mengalami pelebaran yang disebut tembolok untuk membentuk
kantung penyimpan makanan dalam beberapa waktu.

3. Tembolok crop
Tembolok (crop) merupakan pelebaran dari esofagus. Berbentuk kantung yang berperan
sebagai tempat penyimpanan makanan untuk sementara waktu. Disini, makanan mengalami
proses pencernaan dan perlu diketahui, bahwa tembolok tidak menghasilkan enzim pencernaan,
namun enzim pencernaan dari dalam mulutlah yang melanjutkan pencernaan di dalam tembolok.
4.

Lambung proventrikulus

Makanan yang disimpan di tembolok secara perlahan oleh esofagus dialirkan ke dalam
lumen lambung proventrikulus. Pro berarti sebelum, dan ventrikulus berarti lambung,
artinya lambung sebelum lambung (empedal). Pada golongan aves, ada 2 jenis lambung
proventrikulus dan ventrikulus (empedal).
Proventrikulus disebut juga sebagai lambung yang sesungguhnya, seperti halnya pada
manusia. Hal ini karena proventrikulus menghasilkan getah lambung yang melaksanakan fungsi
pencernaan secara kimiawi dan oleh karena itu proventrikulus disebut juga sebagai perut
kelenjar. Getah lambung mengandung enzim-enzim pencernaan (seperti pepsin) dan asam
klorida (HCL) yang memecah makanan menjadi partikel-partikel yang lebih kecil.
5.

Empedal/Ventrikulus

Lambung ini dikenal sebagai lambung mekanik. Tersusun atas otot-otot yang kuat guna
menggerus makanan yang terlumat oleh enzim-enzim pencernaan dari mulut dan proventrikulus.
Terdapat massa kerikil/pasir kecil di dalam empedal untuk membantu mengunyah makanan
yang masuk. Karena ayam dan unggas lainnya tidak memiliki gigi, maka keberadaan
kerikil/pasir ini menggantikan fungsi gigi dalam mengunyah makanan. Kerikil/pasir ini dapat
ikut tergerus akibat gerakan otot-otot empedal dan asam klorida dari proventrikulus. Oleh karena
itu, ayam akan memakan kerikil-kerikil kecil untuk menggantikan keberadaan kerikil/pasir
tersebut. Kandungan mineral yang terdapat kerikil/pasir/batu kecil akan diserap oleh saluran
pencernaan ayam guna memenuhi kebutuhan mineral, salah satunya adalah kandungan kalsium
di dalam batu kapur yang sangat dibutuhkan untuk membentuk cangkang telur. Dinding empedal
dilapisi oleh selaput tipis yang berguna untuk melindungi dari paparan asam kuat HCL dari
proventrikulus.

6.

Usus halus (Intestine)


Seperti halnya pada manusia, usus halus pada ayam terbagi menjadi tiga bagian,

duodenum, jejenum, dan ileum. Duodenum, dikenal juga kenal loop duodenum karena
bentuknya yang melengkung merupakan muara bagi sekret yang dikeluarkan oleh kelenjar
pencernaan, hati, dan pankeas. Hati mengeluarkan garam empedu yang membantu dalam
pencernaan lemak dan penyerapan vitamin yang larut dalam lemak (vit. A,D,E,K). Pankreas
mensekresikan enzim-enzim pencernaan ke dalam lumen duodenum. Enzim-enzim ini berperan
dalam pemecahan makromolekul makanan, karbohidrat, lemak, dan protein. Dinding duodenum
menghasilkan enzim erepsin yang membantu memecah senyawa protein serta enzim pemecah
disakarida karbohidrat.
Pemecahan makanan oleh enzim-enzim dari duodenum tetap berjalan ktika makanan
menyusuri saluran sepanjang 120cm serta disebut sebagai jejenum. Divertikulum Merckel,
semacam tonjolan yang keluar pada permukaan luar saluran pencernaan merupakan tanda
perbatasan antara jejenum dengan ileum. Divertikulum Merckel ini merupakan tempat
menempelnya kantung kuning telur (yolk sacs) pada ayam betina. Peyerapan sari-sari makanan
berlangsung di ileum yang mengandung banyak pembuluh darah dan pembuluh limfa dengan
juntaian vili dipermukaan dinding ileum membantu memperluas wilayah penyerapan nutrisi.

7.

Sekum
Merupakan 2 saluran buntu yang menonjol keluar pada persimpangan antara usus halus

dengan usus besar. Sekum berkembang baik pada unggas pemakan tumbuhan (herbivora),
sedangkan pada unggas ataupun burung pemakan hewan (karnivora) sekum berukuran sangat
pendek. Sekum berperan dalam proses penyerapan air dan memfermentasi partikel makanan.
Terdapat populasi bakteri selulotik pada sekum yang menghasilkan enzim selulase guna
memecah selulosa serat dari tumbuhan menjadi karbohidrat sederhana sehingga dapat diserap
oleh tubuh. Keberadaan bakteri probiotik ini sangat menguntungkan bagi kedua pihak, selain itu
dengan hadirnya bakteri ini akan menghalau hadirnya bakteri patogen seperti Salmonella sp.
Lebih jauh, sekum akan kosong pada dua atau tiga hari sekali.

8.

Usus besar (Colon)


Ini adalah saluran pendek yang merupakan saluran terakhir dari sistem pencernaan seekor

ayam. Sebagian besar air akan diserap di dalam usus besar. Selanjutnya akan bermuara di rektum
dan akan dibuang melalui kloaka.
9.

Kloaka
Ayam dan beberapa vertebrata lainnya tidak memiliki anus, melainkan memiliki saluran

pembuangan yang disebut kloaka. Anus merupakan lubang yang khusus membuang sisa
makanan dari sistem pencernaan. Sedangkan kloaka adalah muara akhir pembuangan dari
saluran urin, saluran reproduksi, dan saluran pencernaan. Urine dan feses akan dikeluarkan
secara bersamaan. Feses ayam dan unggas lainnya mengandung buangan nitrogen hasil
pemecahan protein yaitu asam urat (ditujukan dengan warna bercak putih pada feses ). Populasi
bakteri probiotik juga akan ikut terbuang bersama feses. Biasanya, anak ayam akan memakan
kotoran induknya guna memperoleh populasi bakteri ini untuk sistem pencernaan mereka.

Non Ruminansia (unggas)


Ternak nonruminansia tergolong pada ternak monogastrik, yaitu ternak yang memiliki
lambung tunggal. Sistem perncernaan ternak ini tidak sempurna dibandingkan dengan ternak
ruminansia.
Ruminansia
Ruminansia merupakan binatang berkuku genap subordo dari ordoArtiodactyla disebut
juga mammalia berkuku. Nama ruminan berasal dari bahasa Latin "ruminare" yang artinya
mengunyah kembali atau memamah biak, sehingga dalam bahasa Indonesia dikenal dengan
hewan memamah biak. Hewan ruminansia umumnya herbivora atau pemakan tanaman, sehingga
sebagian besar makanannya adalah selulose, hemiselulose dan bahkan lignin yang semuanya
dikategorikan sebagai serat kasar. Hewan ini disebut juga hewan berlambung jamak
ataupolygastric animal, karena lambungnya terdiri atas rumen, retikulum, omasum dan
abomasum. Rumen merupakan bagian terbesar dan terpenting dalam mencerna serat kasar.
Ruminansia mempunyai kemampuan yang unik yakni mampu mengkonversi pakan
dengan nilai gizi rendah menjadi pangan berkualitas tinggi. Proses konversi ini disebabkan oleh
adanya proses Microbial fermentation atau fermentasi microbial yang terjadi dalam rumen.

Proses ini mengekstraksi zat makanan dari pakan menjadi pangan tersebut melalui berbagai
proses metabolisme yang dilakukan oleh mikroorganisme. Populasi mikroba yang terdiri atas
bacteria,

protozoa,

fungi

dan

kapang

melakukan

fermentasi

yang

dikenal

dengan enzymatic transformation of organic substances, karena mikroba tersebut menghasilkan


berbagai enzim (Steve Bartle, 2006). Peranan mikroorganisme dalam saluran pencernaan
ruminansia sangat penting, karena untuk merombak selulosa diperlukan enzim selulase yang
hanya dibentuk dalam tubuh mikroorganisme. Melalui proses simbiose mutualisme,
mikroorganisme memanfaatkan sebagian bahan yang diambil ruminansia sebagai induk semang
dan digunakan untuk perkembangbiakan mikroorganisme, selanjutnya mikroorganisme
membantu memfermentasi bahan tersebut yang menghasilkan bahan lain yang mampu
dimanfaatkan oleh induk semang. Mikroorganisme ini yang terdiri atas bakteri, protozoa, dan
jamur, dapat merupakan sumber protein berkualitas tinggi bagi induk semang