Anda di halaman 1dari 63

Orbital Complications of

Sinusitis
Pembimbing:
dr. Kot Noordhianta, Sp. THT-KL, M.Kes
Oleh:
Belinda Anabel (2015-061-002)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan THT-KL
RSUD R. Syamsudin SH, Sukabumi
Periode 11 Januari 5 Februari 2016

ABSTRAK
Latar belakang : Meskipun terapi antibiotik moderen

yang diterapkan dalam praktek otorhinolaryngologi,


komplikasi orbita dari sinusitis masih dianggap
merupakan ancaman serius bagi fungsi penting dari
mata, termasuk kehilangan penglihatan, dan yang paling
buruk adalah gejala yang mengancam kehidupan.
Tujuan : Tujuan dari studi ini adalah untuk

mempertimbangkan dan menganalisa pasien yang


ditangani untuk beberapa komplikasi-komplikasi pada
dekade terakhir di rumah sakit kita.
Desain studi : analisis retrospektif kasus

ABSTRAK
Metode : Dalam praktek kita, kasus yang ditangani di rumah

sakit adalah kasus-kasus rhinosinusitis dimana intervensi


operasi diperlukan, atau mereka dengan kecurigaan adanya
komplikasi. Di antara tahun 1999 dan 2009, ada 177 kasus,
grafik klinis yang ditinjau. Kasus yang dihilangkan dari
penelitian ini termasuk jaringan lunak, tulang, dan komplikasi
intrakranial. Diagnosis ditentukan berdasarkan oleh
anamnesis, rhinoskopi anterior, x-ray sinus dengan proyeksi
Waters atau dimana ada kecurigaan menuju komplikasi, dan
CT scan dengan proyeksi koronal dan aksial. Dalam semua
kasus, pengobatan yang intensif dimulai dengan kombinasi
cephalosporin, aminoglikosida, dan Proetz maneuver. Ketika
perbaikan kondisi tidak terjadi dalam 24-48 jam, kita
gabungkan dengan prosedur pembedahan, sebaiknya
frontoethmoidectomy eksternal Lynch-Patterson.

ABSTRAK
Hasil : Dalam studi ini, kami menemukan dari 35 kasus

(19.8%) komplikasi orbita pada rerata usia 25 tahun (jarak:


3-75); Edema palpebral (15), selulitis orbita (10), abses
subperiosteal (6), abses orbita (3), dan trombosis sinus
kavernosus (1). Rerata waktu yang tersisa bagi pasien di
rumah sakit adalah 4.6 hari, 7 hari untuk pasien dengan
komplikasi orbita.
Kesimpulan : komplikasi orbita dari sinusitis dianggap

patologi yang parah. Kemunculan edema di ujung mata


harus segera dievaluasi dan makna untuk mengeksklusi
sinusitis akut harus dipertimbangkan dengan serius.
Diagnosis awal dan pengobaran yang agresif adalah kunci
untuk mengurangi manifestasi klimis yang tidak diinginkan.

INTRODUKSI
Komplikasi dari sinusitis : jaringan lunak,

tulang-tulang sekitar, orbita, dan wilayah


intrakranial.
Jarang terjadi di jaringan lunak, dan lebih
sering terlihat sebagai komplikasi orbita,
tulang, dan intrakranial.
Metode pengobatan komplikasi-komplikasi
sekarang sering diperdebatkan :
konservatif, pembedahan, atau
dikombinasi. Pilihan pembedahan termasuk
endoskopi dan pembedahan terbuka.

METODE
Tinjauan menyeluruh pada rekam medis rumah

sakit di antara tahun 1999-2009.


177 pasien sinusitis.
Kasus yang masuk ke dalam rumah sakit adalah
kasus rhinosinusitis yang membutuhkan intervensi
pembedahan, terutama dimana nyeri intens yang
dirasakan, dan kecurigaan berkembangnya
komplikasi.
Kita tidak memasukkan komplikasi pada jaringan
lunak, tulang, dan daerah intrakranial semenjak
hanya menunjukkan satu atau dua kasus dari
keseluruhan.
Diagnosis ditentukan berdasarkan oleh anamnesis,
rhinoskopi anterior, x-ray sinus dengan proyeksi
Waters atau dimana ada kecurigaan menuju

METODE
Pengobatan yang intensif dimulai dengan

kombinasi cephalosporin, aminoglikosida, dan


modifikasi prosedur Proetz sesuai dengan
pedoman baru-baru ini.
Ketika perbaikan kondisi pasien tidak terjadi
dalam waktu 24-48 jam, kita mengintervensi
dengan prosedur pembedahan, diutamakan
frontoethmoidectomy eksterna dan kombinasi
dengan teknik Lynch-Patterson, karena ini
mengijinkan pembukaan lebar, drainase baik,
dan jalan masuk yang jelas ke cavum nasi.
Pada analisis materi klinik, kami memasukkan
usia, jenis kelamin, pengobatan konservatif
dibandingkan dengan intervensi pembedahan

HASIL
177 kasus : 35 kasus komplikasi orbita.

Kasus termuda adalah anak berusia 3


tahun, dimana yang tertua adalah berusia
75 tahun. . Rerata usia adalah 25.3. Rerata
waktu lama tinggalnya pasien di rumah
sakit adalah 4.6 hari, dimana adalah 7 hari
bagi pasien-pasien dengan komplikasi
orbita.
Komplikasi orbita dari sinusitis dibagi
secara primer oleh Hubert pada tahun
1937,
tapi
adalah
Chandler
yang
mengkategorikan mereka di tahun 1970,
diikuti oleh modifikasi lanjut.

HASIL
Klasifikasi

Chandler dan Moloney tetap


merupakan yang tersering digunakan hingga
sekarang. Modifikasi dibuat dalam hubungan
dengan temuan dalam CT-scan dan MRI. Kami
mengacu
pada
klasifikasi
Chandler;
bagaimanapun, pada tabel 1 semua klasifikasi
dimasukkan. Perbedaan antara dua sistem
hanya muncul pada daerah palpebra.
Pada studi kami, kami menemukan 35 kasus
(19.8%) dengan komplikasi orbital.

HASIL

HASIL
Lamina Papyracea, dimana membagi

orbita dengan ruang nasal, adalah


lapisan tulang yang tipis. Di dalam situ ada
pembuluh-pembuluh darah kecil yang tipis,
yang memperkenankan penyebaran infeksi
yang agresif pada orbita. Tidak ada
pembuluh darah ini yang memiliki katup;
sehingga ada percepatan penyebaran
infeksi.
Pasien laki-laki mendominasi pasien-pasien
wanita dengan rasio 2:1.

HASIL

HASIL
Studi ini menggunakan klasifikasi Chandler

mengenai komplikasi orbita dari sinusitis


karena kesederhanaannya, meskipun klasifikasi
didesain sebelum adanya pencitraan komputer.
Komplikasi paling tersering adalah edema
palpebra, dimana Moloney menunjukkan
sebagai
selulitis
preseptal
lebih
sering
ditemukan pada anak-anak. Kelopak mata
atas menjadi bengkak dan hiperemis
akibat tersumbatnya drainase vena dari
sinus ethmoid.

HASIL
Chemosis dan proptosis tidak hadir, biasanya kedua

ini mengindikasikan infeksi postseptal.


Penglihatan tetap tidak terpengaruh dan bola mata
bergerak di semua arah. Biasanya, edema lebih
sering terlihat pada pagi hari dan tetap ada
sepanjang hari, dengan sedikit reduksi.
Ketika edema tidak membaik, terlihat adanya
inflamasi postseptal di dalam cavum orbita.
Penampakkan proptosis mengindikasikan
infeksi orbita terdahulu terhadap selulitis.
Proptosis layaknya chemosis, mengindikasikan
penyebaran proses inflamasi pada anterior orbita.
Pergerakan bola mata mulai terbatas, dan
penglihatan mulai melemah akibat penekanan
pada saraf optik. Pengobatan konservatif tidak

HASIL

HASIL
Komplikasi

lainnya
adalah
abses
subperiosteal
orbita,
dimana
terbentuk akumulasi pus diantara
tulang
orbita
dengan
periorbita
biasanya di antara lamina papyracea
dan periorbita. Proptosis, chemosis, dan
ada keterbatasan pergerakkan bola mata,
tapi bola mata membuat bola mata beralih
ke lateral bawah. Nyeri dirasakan ketika
sudut superior-medial orbita disentuh.
Semua kasus pada jajaran ini adalah pasien
dengan usia 20, semua yang menjalani
intervensi pembedahan di bawah proteksi

HASIL
Ketika kasus selulitis orbita tidak mendapat pengobatan yang

tepat, edema inflamasi dapat berkembang menjadi inflamasi


purulent. Akumulasi pus mulai pada jaringan adiposa
retroorbital. Ini adalah komplikasi yang lebih parah karena
dapat menyusun untuk trombosis septik dari sinus kavernosus,
atau lewatnya infeksi melalui rute saraf ke ruang intrakranial.
Selain
gejala
yang
telah
disebutkan,
exophthalmos,
optalmoplegia
dan
melemahnya
atau
hilangnya
penglihatan juga dapat terjadi. Pasien merasakan nyeri yang
konstan dan mata yang terkena lebih sensitif untuk disentuh.
Ada tiga kasus dalam jajaran ini, satu di bawah usia 20 tahun.
Hanya satu pasien kehilangan penglihatan. Dia ditangani di
klinik oftalmologi, dan setelah beberapa hari kemudian masuk di
departemen otorhinolaringologi. Ketika masuk dalam perawatan
kami, pandangan sudah hilang. Titik mulanya adalah
frontoethmoiditis akut.

HASIL
Ketika infeksi bakteri tidak berhenti, atau jika pengobatan

ditunda, infeksi akan mengikuti vena orbita menuju sinus


cavernosus. Hanya ada satu kasus dengan komplikasi
orbita yang melibatkan edema kelopak mata bilateral,
dan ada kecurigaan trombosis septik sinus kavernosus.
Semua sinus pada satu sisi dan abses orbita terbuka.
Pasien-pasien muda, terutama anak-anak merespon lebih
baik terhadap pengobatan konservatif. Ini adalah
pengamatan yang berdasarkan pengobatan lain, namun
kasus kami biasanya datang dengan edema palpebra
inflamasi. Dalam kasus lain komplikasi orbita dimana
pengobatan
konservatif
tidak
memperlihatkan
perkembangan besar terhadap gejala dalam 24 jam
pertama, kami berpindah ke pembedahan.

HASIL
Sebagai kesimpulan, meskipun klasifikasi mereka,

komplikasi
orbita
dari
sinusitis
seharusnya
dipertimbangkan patologi yang parah. Mereka
mengancam nyawa dan juga mengancam
kualitas hidup pasien. Kemunculan edema
pada sudut mata dalam kasus sinusitis akut
harus dikenali segera harus dipertimbangkan
dengan serius.
Komplikasi sinusitis, meskipun akut atau kronis,
muncul sebagai morbiditas yang parah, dimana
kadang berakibat fatal. Diagnosis awal dan terapi
yang agresif merupakan kunci pengurangan
manifestasi klinis yang tidak diinginkan.

SINUSITIS

ANATOMY

SINUS MAKSILARIS
Embriologi
sinus pertama yang berkembang, dimulai dari

sebuah tangkai sepanjang permukaan


inferolateral lempeng ethmoid pada kapsul
hidung pada usia kehamilan 65 hari
Pertumbuhan bifasik
Periode 1 : selama 3 tahun pertama kehidupan
Periode 2 : mulai antara usia 7-12 tahun, selesai
pada usia 18 tahun
Pertumbuhan berupa pneumatisasi yang
meluas ke lateral hingga dinding lateral orbita,
dan ke arah inferior menginvasi prosesus
alveolaris mengikuti erupsi gigi permanen

SINUS MAKSILARIS (2)


Ukuran
Saat lahir
Dewasa

: 7 x 4 x 4 mm
: 34 x 33 x 23 mm
Volume (dewasa) : 14.75 mL

SINUS MAKSILARIS (3)


Basis dibentuk oleh dinding lateral rongga nasal
Apex langsung mengarah pada prosesus zigomatikus
Atap sinus memisahkan sinus dari rongga orbita
Lantai sinus dibentuk oleh prosesus alveolaris tulang maksila

dan palatum durum


Dinding anterior berhubungan dengan fossa caninus dan

memisahkan sinus dari pipi


Dinding posterior membatasi sinus dengan isi rongga

infratemporal dan fossa pterigomaksilaris

SINUS MAKSILARIS (4)


Anak
Lantai sinus berada pada atau di atas lantai

bagian interior nasal


Dewasa
Lantai sinus berada 5-10 mm di bawah lantai

bagian interior nasal


Berbatasan dengan gigi molar 1 dan 2,

dengan dipisahkan oleh membran mukosa

SINUS MAKSILARIS (5)


Vaskularisasi
Cabang arteri dari maksilaris interna termasuk

cabang infraorbital dan lateral nasal dari


sphenopalatina, palatina descenden, dan arteri
alveolar superior anterior-posterior
Inervasi
sensasi mukosa dari hidung lateroposterior dan

cabang alveolar superior dari saraf infraorbital,


semua berasal dari saraf kranial V2

SINUS ETHMOIDALIS
Embriologi
Bulan ke-3 gestasi
Sel ethmoid anterior pertama kali muncul sebagai
evaginasi dari dinding hidung lateral di meatus media
sepanjang infundibulum ethmoid yang sedang
berkembang
Bulan ke-4 gestasi
sel ethmoid posterior berkembang dari pertumbuhan

meatus superior

SINUS ETHMOIDALIS (2)


Sel ethmoid
Terletak pada rongga nasal superior
Dipisahkan dengan orbita oleh lamina

papyraceae
Anterior
Di depan dan di bawah perlekatan concha media

pada dinding nasal lateral

Posterior
Di belakang dan di atas perlekatan concha media

pada dinding nasal lateral

SINUS ETHMOIDALIS (3)


Ukuran
Lahir
Anterior

: 2 x 4 x 2 mm
Posterior : 4 x 5 x 2 mm

Usia 12 tahun
Anterior
: 20 x 22 x 10 mm
Posterior : 20 x 20 x 10 mm
10-12 sel pada setiap sisi

SINUS ETHMOIDALIS (4)


Vaskularisasi
Cabang nasal dari arteri sfenopalatina dan arteri

ethmoid anterior-posterior, cabang arteri oftalmika


dari sistem karotis interna
Inervasi
Cabang nasal posterior dari saraf maksilaris (saraf

kranial V2)
Cabang ethmoidal anterior dan posterior dari saraf

oftalmika (saraf kranial V1)

SINUS FRONTALIS
Embriologi
Bulan ke-4 gestasi
Sel ethmoid paling anterosuperior memanjang ke

atas pada resesus frontalis, terjadi pada usia gestasi


4 bulan
Pada lima tahun pertama kehidupan, sinus ini

secara perlahan menginvasi os. Frontalis


Ukuran
17 x 28 x 27 mm
Volume 6-7 mL

SINUS FRONTALIS (2)


Vaskularisasi
Cabang supratoklear dan suborbital arteri

oftalmika; drainase vena ke dalam sinus


kavernosus
Inervasi
sensasi mukosa berasal dari cabang

supratoklear dan supraorbital saraf frontalis


(saraf kranial V1)

SINUS SPHENOIDALIS
Embriologi
Bulan ke-4 gestasi
Evaginasi mukosa resesus sphenoethmoidalis

selama bulan ketiga kehamilan


Pneumatisasi os. Sphenoidalis dimulai pada usia
3 tahun, berproses lebih cepat setelah usia 7
tahun, bentuk akhir selesai pada usia 18 tahun
Ukuran
23 x 20 x 17 mm
volume 7.5 mL

SINUS SPHENOIDALIS (2)


Superior
nervus optikus, hipofisis

Posterior
Pons

Ekternal dan lateral


sinus kavernosus, fisura orbita superior,

arteri karotis, dan beberapa saraf kranial

SINUS SPHENOIDALIS (3)


Vaskularisasi
cabang dari arteri sfenopalatina dan arteri

etmoidalis posterior
Inervasi
Saraf ethmoidalis posterior dari saraf kranial

V1
Cabang nasal dan sfenopalatina saraf kranial

V2

KOMPLEKS OSTEOMEATAL
Suatu unit fungsional yang terdiri dari

ostium sinus maksilaris, sel ethmoid


anterior dan ostiumnya, ethmoid
infundibulum, hiatus semilunaris dan
meatus media

FAKTOR PREDISPOSISI
Host

Lingkungan

Genetik/kongenital
Cystic fibrosis
Immotile cilia syndrome

Infeksi: virus, bakteri, dan


jamur

Alergi/kondisi imunitas
(malnutrisi)

Trauma

Abnormalitas anatomi

Bahan kimia yang berbahaya

Penyakit sistemik yang


mengganggu imunitas tubuh

Iatrogenik
Obat (kortikosteroid jangka
panjang, kemoterapi)
Operasi

Endokrin
Metabolik
Keganasan

FISIOLOGI
Hidung dan sinus paranasal merupakan

tempat terkumpulnya udara di dalam tulang


tengkorak anterior.
Sinus paranasal berhubungan dengan rongga

hidung melalui lubang lubang kecil.


Rongga hidung dan sinus paranasal dilapisi

oleh epitel bertingkat torak bersilia, yang


mengandung sel goblet dan kelenjar hidung
penghasil sekret hidung yang membuat
hidung tetap lembab

FISIOLOGI (2)
Seluruh sinus paranasal normalnya dibersihkan oleh

transpor mukosiliar
Partikel dan bakteri dapat terperangkap di dalam

mukus, dilarutkan oleh enzim lisosim dan laktoferin,


dibawa ke dalam esofagus
Kompleks osteomeatal
kepatenan ostium mempengaruhi komposisi dan

sekresi
ostium yang terbuka sistem pembersihkan mukosiliar
dengan mudah membersihkan partikel dan bakteri

PATOFISIOLOGI
Obstruksi ostium sinus
ISPA oleh virus, alergi, zat iritan, atau

barotrauma edema sekunder dari inflamasi


menutup pembukaan sinus (reversibel)
Ostium tersumbat
penyumbatan aliran normal dari sinus

penumpukan sekresi sinus


abnormalitas dari kuantitas atau konsistensi hasil
sekresi sinonasal gangguan pada sistem
mukosiliar
hipoksia lokal dalam rongga sinus

pertumbuhan bakteri lebih cepat

PATOFISIOLOGI (2)
Gangguan fungsi siliar
Primary ciliary dyskinesia atau sindrom

Kartagener
luka akibat zat iritan atau trauma operasi
studi pada hewan : produk bakterial dan
mediator endogen dari proses inflamasi
merusak aktivitas silia epitel

PATOFISIOLOGI (3)
Viskositas dan elastisitas mukus meningkat
Cystic fibrosis atau dehidrasi berat

perubahan dalam transpor air dan elektrolit


Produksi mukus meningkat
Zat iritan, alergen, paparan udara dingin,

atau ISPA oleh virus peningkatan produksi


mukus hingga melampaui batas clearance
mukosiliar

MANIFESTASI KLINIS
Gejala subjektif
hidung tersumbat, kongesti, dan rasa penuh
sekret hidung/postnasal drip, biasanya

mukopurulen
nyeri wajah/nyeri tekan wajah, nyeri kepala dan
berkurang/hilangnya kemampuan fungsi
penghidu
gejala respiratorik lain : iritasi faring, laring dan
trakea menyebabkan radang tenggorokan
gejala sistemik: malaise dan demam
gejala lebih spesifik dan hebat pada rinosinusitis
akut

DIAGNOSIS
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan lengkap kepala dan leher,

rinoskopi anterior
Dapat ditemukan sekret mukopurulen,
edema, defleksi septal, dan polip
Meatus media bisa terlihat dengan
pemberian dekongestan

DIAGNOSIS (2)
The Rhinosinusitis Task Force of the American

Academy of Otalaryngology-Head and Neck


Surgery (AAO-HNS)
Faktor mayor dan minor
Dipertimbangkan sinusitis
2 atau lebih faktor mayor

atau
1 mayor dan 2 minor

DIAGNOSIS (3)
Faktor Mayor

Faktor Minor

Nyeri wajah/nyeri tekan wajah*

Nyeri kepala

Kongesti wajah

Demam (pada kasus non-akut)

Obstruksi nasal

Halitosis

Sekret hidung/purulen/post-nasal Fatique


drip
Hyposmia/anosmia

Nyeri pada gigi

Sekret purulen di rongga nasal


pada pemeriksaan

Batuk

Demam (hanya rhinosinusitis


akut)**

Nyeri telinga/nyeri tekan/rasa


penuh pada telinga

* nyeri pada wajah/nyeri tekan wajah saja tidak dapat menegakkan


diagnosa rhinosinusitis tanpa adanya gejala atau tanda mayor lainnya
**demam pada sinusitis akut saja tidak dapat menegakkan diagnosa
sinusitis akut tanpa adanya gejala atau tanda mayor lainnya

DIAGNOSIS (4)
Endoskopi
Sekret mukopurulen pada kompleks

osteomeatal dan resesus sphenoethmoidalis,


edema, eritema, polip/polipoid jaringan, dan
krusta
Untuk menegakkan diagnosis dan mengambil
bahan kultur pada meatus media pada
rinosinusitis bakterial akut

DIAGNOSIS (5)
Pencitraan dengan CT scan
sensitivitas hingga 90%, spesifisitas hingga 80%

gold standard
Potongan koronal 4mm atau lebih tipis
Rinosinusitis akut
poliposis

Rinosinusitis kronik
penebalan mukosa, perselubungan sinus, poliposis, dan
air fluid level
Rinosinusitis jamur
gambaran rinosinusitis kronik dengan micetoma (fungal

ball) yang radioopak dalam rongga sinus, umumnya


unilateral disertai pendorongan dinding sekeliling

DIAGNOSIS (6)
Pencitraan dengan MRI
terlalu sensitif terhadap perubahan mukosa

hidung overdiagnosis
angka positif palsu mencapai 40%
lebih baik daripada CT untuk mengevaluasi
masa jaringan lunak pada sinus dan
peradangan jaringan lunak akibat komplikasi
dari sinus terutama menyangkut perluasan
ke intrakranial atau intraorbital

DIAGNOSIS BANDING
Rhinitis virus
tidak ditemukan sekret purulen dalam

rongga hidung
sinusitis biasanya memburuk setelah 5 hari
atau berlangsung lebih dari 10 hari

DIAGNOSIS BANDING (2)


Nyeri kepala dan migrain
migrain: nyeri kepala seperti ditusuk-tusuk,

unilateral, durasi 4-72 jam, dapat muncul


dengan atau tanpa gejala neurologis seperti
gangguan visual atau baal, respon baik
terhadap alkaloid ergot
nyeri sinus biasanya konstan sepanjang hari

DIAGNOSIS BANDING (3)


Keganasan pada sinus
Biasanya lebih jarang terjadi
riwayat obstruksi nasal dan epistaksis

unilateral
perubahan visus, defisit saraf kranial
bisa dibedakan dengan CT scan dan
endoskopi nasal (gambaran unilateral dan
terlihat erosi tulang)

PENATALAKSANAAN
Antibiotik
25% S. pneumoniae resisten terhadap penicilin,

makrolid, dan trimethoprim/sulfamethoxazole


30% H. influenzae dan hampir seluruh M.
catarrhalis memproduksi -laktamase
Rinosinusitis bakterial akut
Durasi terapi : 10-14 hari
Amoxicillin/clavulanate(1.75-4 g/250mg/hari)
Amoxicillin (1.5-4 g/hari)
Cefpodoxime atau cefuroxime atau cefdinir

Rinosinusitis kronis
Durasi terapi : 3 6 minggu

PENATALAKSANAAN (2)
Nasal spray dan irigasi
Nasal steroid spray
Menurunkan inflamasi mukosa dan memperkecil
ukuran polip
Nasal saline irrigation
Mencegah akumulasi krusta nasal dengan menjaga
mukosa tetap lembab
Memfasilitasi proses clearance mukosiliar

PENATALAKSANAAN (3)
Steroid sistemik
Mengurangi inflamasi mukosa

Dekongestan sistemik
Simptomatik

PENATALAKSANAAN (4)
Operasi sinus
Functional endoscopic sinus surgery
Konstriksi osteomeatal
Mukosa sinus yang abnormal penyembuhan terhambat
dan hilangnya fungsi silia normal
Komplikasi : rusaknya dinding orbita, prolaps lemak orbita
ke dalam rongga nasal, perdarahan, hematoma orbita,
kompresi nervus opticus, kebutaan, kerusakan cribriform
plate menyebabkan cerebrospinal fluid leak, herniasi
kranial, meningitis, atau perdarahan intrakranial
Open sinus surgery
Caldwell-Luc antrostomy
Insisi sublabial sinus maksilaris
Pembuatan jendela drainase ke rongga nasal

KOMPLIKASI
Infeksi orbital
Rongga orbita dan sinus ethmoid dipisahkan oleh

lamina papyracea yang sangat tipis


Sistem vena oftalmikus : tidak memiliki katup,
berhubungan dengan vena ethmoid
Edema palpebra
Tidak ada gangguan pergerakan ekstraokular, visus

normal
Terapi : antibiotik oral
Selulitis orbita
Infeksi pada jaringan lunak yang terletak lebih

posterior daripada septum orbita

KOMPLIKASI (2)
Abses subperiosteal
Akumulasi pus di bawah periosteum dari lamina

papyracea
Terapi : drainase abses dan sinus
Abses orbita
Akumulasi pus di orbita, gangguan gerakan

ekstraokular, eksoftalmus, perubahan visus


Terapi : drainase abses dan sinus
Trombosis sinus kavernosus
Bilateral, chemosis, sluggish pupillary response,

ophtalmoplegia, kebutaan, tanda meningeal,


komplikasi intrakranial lainnya

KOMPLIKASI (3)
Meningitis
Biasanya infeksi menyebar dari sinus

ethmoid atau sphenoid


Kernig sign, Brudzinski sign
CT scan resolusi tinggi dengan kontras pada
otak
CT scan sinus
Lumbal punksi
Terapi : antibiotik intravena dan operasi
drainase sinus

KOMPLIKASI (4)
Abses epidural
Akumulasi material purulen di antara tulang

tengkorak dan duramater


Biasanya infeksi berasal dari sinus frontal
Lebih lanjut penyebaran langsung atau
hematogen empyema subdural abses
otak
Terapi : drainase abses dan sinus, antibiotik
jangka panjang

KOMPLIKASI (5)
Potts Puffy tumor
infeksi sinus frontal menyebar ke sumsum

tulang dari os. Frontal osteomyelitis


dengan destruksi tulang massa dengan
konsistensi lunak pada dahi
Terapi
drainase
debridement

PROGNOSIS
Sinusitis akut
Sangat baik
70 % pasien sembuh tanpa terapi
Antibiotik oral dapat mempercepat penyembuhan

Sinusitis kronis
Jika ada kelainan anatomis dan dapat diperbaiki

dengan pembedahan prognosis baik


90% pasien mengalami perbaikan setelah operasi
Tetapi tetap ada kemungkinan relaps sehingga
dibutuhkan terapi pencegahan

THANK YOU