Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM PRODUKSI TANAMAN INDUSTRI

ACARA IV
PEMBIBITAN TANAMAN KARET KLON PB.260

Disusun oleh
Nama : Mudrik Gusti S.
Npm

: E1J014110

Coas

: Iwan Syaputra

Dosen : Hermansya
Shift

: kami 08.00 wib

LABORATORIUM AGRONOMI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyediaan bibit yang baik dan bermutu menjadi syarat mutlak yang harus
diperhatikan. Bahan tanam untuk perbanyaakan vegetatif suatu tanaman sehingga ciri-ciri
dari tanaman tersebut merupakan ciri dari dari tanaman induknya. Untuk memperoleh
tanaman yang seragam di pangandalam satu petak ditanam lebih dari satu, disamping
memerlukan cara tanam dan pemeliharaan yang baik juga memerlukan bibit yang baik
sebagai batang bawah.
Okulasi atau penempelan merupakan salah satu metode perbanyakan tanaman yang
sudah lazim digunakan pada tanaman tertentu, misalnya pada tanaman karet. Okulasi
mempunyai tuuan untuk menempelkan mata tunas sebagai batang atas kepada batang bawah,
yang masing-masing mempunyai sifat berlainan, sehingga dengan adanya penempelan tadi
akan mendapatkan sifat gabungan yang lebih baik.
Tanaman hasil okulasi maka kesesuaian batang atas dan batang bawah mutlak harus
diketahui, hal ini dapat berdampak terhadap pertubuhan dan hasil tanaman.
Teknik okulasi dapat dibedakan menjadi empat bagian yaitu : okulasi T, okulasi Forket,
okulasi H dan okulasi segi empat.
1.2 Tujuan
Mempersiapkan batang bawah bibit tanaman karet yang bermutu

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Stum okulasi mata tidur (OMT) adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan
mata okulasi terpilih. Stum okulasi mata tidur tahan hidup seragam, mudah dikemas, mudah
diatur dan mudah diangkut. Stump mini yaitu panjang stump 50 cm dengan kulit batang telah
berwarna coklat, stump ini telah berumur 12-18 bulan setelah pemotongan. Okulasi tinggi
yaitu merupakan okulasi mata tidur yang tidak dipindahkan ke kebun dan mata enters
dibiarkan bertunas, serta tunas ini dipelihara selama 24-36 bulan di pembibitan. Panjang
stump 250-300 cm. Stump tinggi okulasi membutuhkan waktu 3-4 tahun sedangkan bibit
yang lainnya antara 1-2 tahun.(Laxman Joshi, 2005)
Okulasi langsung terhadap anakan karet dilapangan secara teknis dapat dilakukan
dibawah tajuk dengan naungan ringan. Keberhasilan okulasi dan pertumbuhan tunas setara
dengan di tempat tajuk terbuka, khususnya untuk klon PB260. Pertumbuhan tunas secara
nyata dipengaruhi oleh tajuk dan faktor faktor kompetisi lainnya yang ada. Okulasi langsung
dibawah tajuk lebat tidak disarankan untuk dilakukan. Diantara dua klon yang diuji, PB260
sedikit lebih baik dari RRIC100. Hal ini memberikan petunjuk bahwa kedua klon ini,
sebagaimana klon klon lainnya yang dipakai, telah dipilih berdasarkan penampilannya di
tempat terbuka dan bebas dari persaingan sekelilingnya. Uji coba terhadap berbagai klon
untuk okulasi dibawah tajuk dengan berbagai kondisi akan dapat memberikan informasi
penampilan klon pada kondisi diatas. Manipulasi terhadap ukuran tajuk dilakukan secara hati
hati dan pengurangan pengaruh vegetasi di atas tanah terhadap tanaman baru akan dapat
menambah keberhasilan tumbuh dan pertumbuhan tanaman yang diokulasi langsung.
(Soedharoedjian. 1983)
Pengendalian gulma di perkebunan karet merupakan keharusan, sebab gulma merupakan
salah satu faktor penentu keberhasilan usaha perkebunan karet. Jika gulma dibiarkan tumbuh
bersamaan dengan tanaman karet, akan menimbulkan kerugian. Kehadiran gulma
menyebabkan pertumbuhan tanaman tertekan, terutama tanaman karet di pembibitan dan
tanaman belum menghasilkan (TBM). Fakta ini terjadi karena gulma menyaingi tanaman
dalam penyerapan unsur hara, air, cahaya matahari, dan ruang tempat tumbuh. Selain itu
beberapa jenis gulma mengeluarkan zat allelopat melalui akar dan daun yang berpengaruh
buruk menghambat pertumbuhan tanaman. Gulma juga mempersulit pekerjaan pemeliharaan
tanaman, bahkan adakalanya menjadi tempat perlindungan hama dan penyakit tanaman
(Sianturi.2001).

Pemeliharaan

tanaman

belum

menghasilkan

(TBM)

Karet

dilakukan

dengan

pembersihan gulma disepanjang barisan tanaman karet dengan radius 1 m, daerah ini harus
bersih dari gulma, selanjutnya dilakukan pemupukan dengan cara menyebar pupuk pada alur
tanaman. Maksud dari pengendalian gulma adalah untuk melindungi tanaman pokok terhadap
tumbuhan pengganggu (gulma) berupa rumput rumputan dan perdu perdu yang tumbuh
liar disekitar tanaman pokok tersebut. Pemupukan pada tanaman belum menghasilkan
mempunyai beberapa tujuan Antara lain : (1) untuk memperoleh tanaman yang tumbuh subur,
cepat dan sehat, sehingga cepat tercapainya matang sadap, (2) agar tanaman cepat cepat
menutup sehingga dapat menekan pertumbuhan gulma (Setyamidjaja 1993).
Penyakit karet sering menimbulkan kerugian ekonomis di perkebunan karet. Kerugian
yang ditimbulkan tidak hanya berupa kehilangan hasil akibat kerusakan, tanaman, tetapi juga
biaya yang dikeluarkan dalam upaya pengendaliannya. Oleh karena itu, langkah-langkah
pengendalian secara terpadu dan efisien guna memperkecil kerugian akibat penyakit tersebut
perlu dilakukan. Lebih dari 25 jenis penyakit menimbulkan kerusakan di perkebunan karet.
Penyakit tersebut dapat digolongkan berdasarkan nilai kerugian ekonomis yang ditimbulkan
(Anwar, 2001).

BAB III
METODOLOGI
2.1 Alat dan bahan
Bahan yang digunakan meliputi : bibit asal biji klon PB-260, polibag ukuran 15x20
cm, pupuk kandang, atapi rumbia, bambu, tiang pancang.
Alat yang digunakan meliputi : Cangkul, sekop, cetok, meteran, gembor siram.
2.2 Cara kerja
1. Membuka polbag dengan posisi terbalik
2. Mencampur tanah da pupuk kandang dengan perbandingan 1:4
3. memasukkan tanah sampai sepertiga polibag, selanjutnya mencabut bibit tersebut dengan
ahti hati dari edengan perkecambahan
4. memasukkan bibit tadi ke dalam polibag yang telah disiapkan
5, variabel yang diamati : tinggi tanaman, jumlah helai daun, jumlah tangkai daun, diameer
bibit

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
7 april 2016
Nama

Tinggi

Jumlah daun

Jumlah

Diameter
batang
0,33
0,25
0,22
0,45

tanaman
48
49
8
53

4
2
0
8

tangkai
22
1
0
4

33
35
16
50

0
2
0
8

0
1
0
4

04
0,34
0,30
0,44

20
48
27
28

4
6
0
2

1
3
0
1

0,2
0,25
0,23
0,45

II

III

14 april 2016
Nama

Tinggi

Jumlah daun

Jumlah

Diameter
batang
0.32
0.25
0.22
0,45

tanaman
48
49
8
53

4
2
0
8

tangkai
2
1
0
4

33
35
26
50

0
2
0
8

0
1
0
4

0,4
0,34
0,30
0,4

20
48
27
28

4
6
0
2

2
3
0
1

0,2
0,25
0,23
0,45

II

III

21 april 2016
Nama

Tinggi

Jumlah daun

Jumlah

Diameter

tanaman
48
8
54
33

II

III

4
2
0
8

tangkai
2
1
0
4

batang
0,32
0,25
0,22
0,45

33
34
26

0,4
0,34
0,40

50
10
48
27

8
4
6
0

4
2
3
0

0,4
0,2
0,25
0,23

28

0.45

28 april
Nama

Tinggi

Jumlah daun

Jumlah

Diameter

4
2
0
8

tangkai
2
1
0
4

batang
0,33
2,25
0,45
0,22

45
46
26

0,4
0,34
0,40

50
20
48
27

4
2
6
0

4
2
3
2

0,4
0,2
0,25
0,23

28

0,45

tanaman
47
48
8
54

II

III

5 mei
Nama

Tinggi

tanaman
47
49
0
53

Jumlah daun
4
3
0
8

Jumlah

Diameter

tangkai
2
1

batang
0,32
0,25
0,22
0,45

33
35

0
2

0,4
0,34

50
20
48
27

8
4
6
0

4
2
3
0

0,4
0,2
0,25
0,23

28

0,45

II

III

12 mei
Nama

Tinggi

Jumlah daun

Jumlah

Diameter

tangkai
2
1
3

batang
0,33
0,24
0,23
0,46

tanaman
46
48
7
50

4
2
0
6

33
35
26

0
2
0

2
1
0

0,4
0,34
0,41

50
21
48
27

8
4
6
0

4
2
3
0

0,4
0,2
0,26
0,24

28

0,44

II

III

4.1 Pembahasan
Tanaman karet adalah tanaman tahunan yang dapat tumbuh sampai umur 30 tahun. Habitus
tanaman ini merupakan pohon dengan tinggi tanaman dapat mencapai 15-20 meter. Modal
utama dalam pengusahaan tanaman ini adalah batang setinggi 2,5 sampai 3 meter dimana
terdapat pembuluh latek.

Praktikum kali ini yaitu mengamati pertumbuhan dan perawatan tanamn karet
TBMPengamatan dilaksanakan di sekitar lab agronomi universitas bengkulu,varuietas bibit
karet yang digunakan yaitu Klon PB-260, tanaman ini diamati dari tangggal 4 mei 2016 12
april 2016 praktikum ini digunakan untuk mempersiapkan bibit karet siap tanam, variabel
yang diamati yaitu tinggi batang, diamter batang, jumlah helai daun jumlah tangkai daun.
Pengukuran diameter batang menggunakan jangka sorong , sedangkan tinggi batang
menggunakan meteran, selama pengamtan dilaksanakan terdapat tanaman yang mati ini
kemungkinan dikarenakan tanaman mengalami kekeringan yang mungkin perawatan tidak
dilakukan dengan rutin, ada pula tanaman yang tak memiliki daun dikarenakan rontok tetapi
batang tetap hidup , pada minggu berikutnya batang yang tidak memiliki daun tumbuh daun
baru muda yang masih sangat kecil, yang menandakan tanaman tersebut tidak mati.tanaman
karet ini diletakkan dibawa naungan atap rumbia yang bertujuan agar tanaman tidak terpapar
matahari seharian, perawatan yang dilakukan terhadap karet yaitu pembuangan gula yang ada
karena gulma dapat mengganggu kelancaran pertumbuhan tanaman karena nutri tanah diserap
pula oleh gulma. Penyakit yang biasa terdapat pada tanaman karet yang sudah menghasil
adalaah kering alur sadap, jamur akar putih. Pemberian pupuk juga mempengaruhi
pertumbuhan tanaman karet TBM praktikum yagn dilaksanakan menggunakan pupuk ua
mutiara dan pupuk kandang, yang di aplikassikan melingkar disekitar tanaman dengan jarak
minimal 20 cm

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
-

Penyakit yang sering terjadi pada tanaman karet adalah penyakit jamur

akar putih, kering alur


-

sadap dan jamur upas.

Tanaman tbm seharusnya dirawat secara rutin agar pertumbuhannya tidak


terhambat.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C., 2001. Pusat penelitian karet, Mig Crop: Medan
Setyamidjaja D. 1993. Seri Budidaya Karet. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Sianturi, H. S. D., 2001. Budidaya Tanaman Karet. Universitas Sumatera Utara Press, Medan.