Anda di halaman 1dari 26

PRESENTASI KASUS

ASMA BRONKIAL

Oleh: dr. Keumalasari


RSUD Yuliddin Away

Identitas Pasien

Nama
: By. H
Umur
: 47 tahun
Jenis kelamin
: Perempuan
Tanggal masuk
: 6 Januari 2013
Tanggal Pemeriksaan: 7 Januari 2013

ANAMNESA
Pasien datang ke RSUD Yuliddin Away dengan keluhan sesak
nafas sejak 2 hari SMRS. Keluhan dirasakan semakin
memberat 1 hari SMRS. Pasien juga mengeluhkan batuk
berdahak, lemas dan pusing sejak 2 hari yang lalu. Pasien
mengaku dada terasa berat, sulit tidur dan lebih nyaman
dengan posisi duduk.
Sebelumnya pasien sudah mulai mengalami sesak sejak 1
tahun terakhir. Sesak terutama dirasakan pasien saat
kelelahan dan pada malam hari atau saat suasana dingin.
Sesak semakin sering dialami pasien sejak 3 bulan terakhir.
Pasien menyangkal pernah berobat ke dokter sebelumnya.
Pasien menyangkal pernah mengalami sesak napas sejak
kecil.

Riwayat kesehatan/penyakit
alergi (+), HT (-), DM (-)

Riwayat Penyakit Keluarga


adik os penderita asma

Riwayat pemakaian obat


disangkal

Riwayat pekerjaan
pasien pembuat priok tanah yang di bakar

Pemeriksaan Fisik
STATUS PRESENT
Tanda Vital:
Keadaan umum
: Lemah
Kesadaran
: compos mentis
Heart Rate
: 112x/mnt
Respiratory rate
: 30x/mnt
Suhu
: afebris

Status General

KEPALA
Bentuk: Kesan Normocephali
Rambut
: Berwarna hitam, sukar dicabut
Mata : pupil bulat isokor, refleks cahaya (+/+), konj. Palp
inf pucat
(-/-), sklera ikterik (-/-)
Telinga : Sekret (-/-), perdarahan (-/-)
Hidung: Sekret (-/-), perdarahan (-/-), NCH (-/-)
MULUT
Bibir
: Pucat (-), Sianosis (-)
Gigi geligi : Karies (-)
Lidah : Beslag (-), Tremor (-)
Mukosa
: Basah (+)
Tenggorokan : Tonsil dalam batas normal
Faring : Hiperemis (-)

PARU-PARU
Inspeksi
Palpasi
kiri
Perkusi
Auskultasi

: Simetris, retraksi (+)


: Fremitus taktil paru kanan sama dengan paru
: Sonor pada kedua lapangan paru
: vesikuler (N/N), Rhonki (-/-) Wheezing (+/+)

JANTUNG
Inspeksi
: Tidak tampak pulsasi ictus cordis
Palpasi
: Teraba pulsasi ictus cordis di ICS
VI linea axillaris anterior.
Perkusi
: Batas Atas Jantung : ICS III
Batas Kanan Jantung : LPSD
Batas Kiri Jantung
: LMCS
Auskultasi
: Bunyi jantung I > II, reguler.

ABDOMEN

Inspeksi
Palpasi
Lien
teraba
Perkusi
(-)
Auskultasi

: kesan simetris, distensi (-)


: distensi (-), nyeri tekan (-),
tidak teraba, hepar tidak
: Shifting dullness (-), undulasi
: peristaltik usus (N)

GENITALIA : Tidak ada kelainan


ANUS

: Tidak ada kelainan

Pemeriksaan Penunjang

Radiologi

Diagnosa sementara
Asma bronkial persisten ringan

Usul pemeriksaan
Pemeriksaan Diftell
Pemeriksaan fungsi paru dengan Spirometri
Pemeriksaan arus puncak ekspirasi dengan
alat peak flow rate meter
Uji reversibilitas (dengan bronkodilator)
Uji alergi (skin prick test)
Uji provokasi bronkus, untuk menilai
ada/tidaknya hiperaktivitas bronkus

Penatalaksanaan
UMUM
Bedrest
Diet MB
KHUSUS
Bedrest
O2 2-3 liter/i (rebreathing)
Ventolin nebulizer 2-3x/hari
IVFD Dextrose 5% 20 gtt/i
Inj. Dexamethason 1 amp/8 jam
Inj. Ranitidine 1 amp/12 jam
Cetirizin 1x1
Ambroxol syr 3xCth II

Prognosa
Quo ad vitam
Quo ad sanactionam
Quo ad functionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

Subjektif

Pasien datang ke RSUD Yuliddin Away dengan keluhan


sesak nafas sejak 2 hari SMRS. Keluhan dirasakan semakin
memberat 1 hari SMRS. Pasien juga mengeluhkan batuk
berdahak, lemas dan pusing sejak 2 hari yang lalu. Pasien
mengaku sulit tidur dan lebih nyaman dengan posisi duduk.
Sebelumnya pasien sudah mulai mengalami sesak sejak 1
tahun terakhir. Sesak terutama dirasakan pasien saat
kelelahan dan pada malam hari atau saat suasana dingin.
Sesak semakin sering dialami pasien sejak 3 bulan terakhir.
Pasien menyangkal pernah berobat ke dokter sebelumnya.
Pasien menyangkal pernah mengalami sesak napas sejak
kecil.

Objektif

Hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan


penunjang mendukung diagnosis Asma persisten ringan. Pada
kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan:
Gejala klinis berupa sesak napas dan batuk. Sesak napas
yang dialami pasien saat malam hari disertai dengan batuk
menunjukkan adanya reaksi inflamasi yang disebabkan oleh
faktor pencetus. Reaksi inflamasi ini menyebabkan
penyempitan saluran napas oleh edema, sumbatan mukus,
dan spasme otot bronkus.
Gejala batuk dan sesak menandakan adanya penyempitan
pada saluran napas yang kecil. Sedangkan mengi
menandakan adanya penyempitan disaluran napas besar.
Gejala sesak yang semakin sering dalam beberapa bulan
terakhir (>2x/bulan) menunjukkan asma persisten ringan.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan napas yang cepat


(RR 30x/menit), mengi, suara napas tambahan
(wheezing), ekspirasi memanjang, serta retraksi
suprasternal. Gejala-gejala ini mendukung diagnosis
penyakit asma.

Pada pemeriksaan penunjang foto thorak pada pasien ini


tidak dapat dibaca dengan jelas karena underexposed.
Pemeriksaan laboratorium darah didapatkan haemoblobin
dan KGDS yang rendah (10,1 gr/dl dan 136 mg/dl), hal ini
sejalan dengan keadaan pasien yang lemas dan pucat,
namun tidak menunjang penegakan diagnosa asma
bronkial.
Pemeriksaan lain yang dapat menggambarkan suatu Asma
bronkial adalah spirometri dan uji provokasi bronkus,
namun tidak tersedia di RS.

Penalaran Klinis
Asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalan
nafas yang melibatkan berbagai sel inflamasi.
Dasar penyakit ini adalah hiperaktivitas bronkus
dalam berbagai tingkat, obstruksi jalan nafas, dan
gejala pernafasan (mengi dan sesak) yang bersifat
non-reversible. Yang ditandai adanya mengi
episodik, batuk dan rasa sesak di dada akibat
penyumbatan jalan nafas, termasuk kedalam
penyakit saluran pernapasan kronik.

Faktor penyebab terjadinya asma

Rangsangan alergi (menghirup bahan alergen atau setelah


mengkonsumsi bahan alergik tersebut)
Rangsangan bahan toksik dan iritan (kelompok ini meliputi asap
rokok, polutan pembuangan pabrik, asap obat nyamuk, uap cat,
bahan kimia dan logam platina atau nikel)
Infeksi (pada umumnya infeksi virus, bakteri dan jamur memicu
timbulnya serangan asma namun dapat pula bertindak sebagai
bahan alergen)
Obat (golongan terbanyak adalah penisilin)
Ig E (Ig E dibentuk juga setempat oleh sel plasma dalam selaput
lender saluran nafas dan cerna. Bila kadar IgE pada penderita
asma dengan kelainan lambung meningkat, ternyata hal ini
menyebabkan penderita lebih rentan dan lebih sering dapat
serangan asma atau lebih berat)
Penyebab lain (faktor fisik dan psikologi).

Manifestasi penyumbatan jalan napas pada


asma disebabkan oleh bronkokonstriksi,
hipersekresi mukus, edema mukosa, infiltrasi
seluler, dan desquamasi sel epitel serta sel
radang. Berbagai rangsangan alergi dan
rangsangan nonspesifik, akan adanya jalan
napas yang hiperreaktif, mencetuskan respon
bronkokonstriksi dan radang.

Klasifikasi derajat asma berdasarkan gambaran


klinis secara umum pada orang dewasa

Planning
Penatalaksanaan asma pada prinsipnya diklasifikasikan menjadi:
Penatalaksanaan asma akut/ saat serangan
Penatalaksanaan asma jangka panjang
Penatalaksanaan untuk asma eksaserbasi akut:
Penilaian Awal
- Anamnesis
- Pemeriksaan fisik
- APE atau VEP1
- Saturasi Oksigen

Terapi Awal
- Inhalasi 2-agonis kerja cepat secara terus menerus selama 1 jam.
- Oksigen sampai tercapai saturasi O 2 90% (95% pada anak-anak)
- Steroid sistemik jika tidak ada respon segera. Atau jika pasien sebelumnya sudah
menggunakan steroid oral atau jika keparahan sudah berat.
- Sedasi merupakan kontra-indikasi terapi asma eksaserbasi.

Penilaian Ulang (setelah 1 jam) APE dan saturasi O 2.


Ketika serangan asma tidak respon terhadap pengobatan
yang biasa, maka penderita harus dirumahsakitkan (Total
Bed Rest) :
Oksigen 2 3 liter/menit untuk mengurangi hipoksia yang
merupakan hasil dari serangan puncak asma.
Salbutamol nebulizer (Beta 2 agonist kerja singkat),
biasanya dikombinasikan dengan ipratropium (antikolinergik)
Steroid sistemik, oral atau intra vena (prednisone,
prednisolon,
metilprednisolon,
dexametason,
atau
hidrokortison), hati-hati dapat memperberat kelainan
lambung bahkan menimbulkan perdarahan.

Penatalaksanaan asma jangka panjang


bertujuan untuk mengontrol asma dan
mencegah
serangan.
Pengobatan
disesuaikan dengan
klasifikasi beratnya
asma. Prinsip pengobatan jangka panjang:
- Edukasi
- Obat asma (pengontrol dan pelega)
- Menjaga kebugaran

Pendidikan:
Dilakukan pada pasien dan keluarga pasien
untuk membantu mencegah seringnya
kekambuhan dan mengatasi serangan asma.
Keluarga
perlu
diberikan
penjelasan
mengenai penyakit asma bronkial, mengenali
pencetusnya,
serta
mengetahui
cara
penanganannya dengan tepat. Dukungan
keluarga juga diperlukan untuk pengontrolan
pasien agar kualitas hidup pasien tidak
semakin menurun.

Konsultasi:
Dijelaskan perlunya konsultasi dengan spesialis
Penyakit Paru. Penjelasan mengenai faktor-faktor yang
berperan dalam terjadinya serangan asma beserta
prognosis pada pasien ini. Selain itu perlu diberikan
penjelasan mengenai cara mengatasi serangan asma
dan pengobatan jangka panjang. Oleh karena itu, pasien
beserta keluarga perlu diedukasi untuk penatalaksanaan
awal Asma Bronkial, yaitu:
- Pengenalan gejala oleh pasien dan segera mencari
pertolongan medis
- Segera membawa pasien ke unit kesehatan terdekat
- Melakukan terapi

TERIMA KASIH