Anda di halaman 1dari 68

Ber-Umrah

Ala
Mazhab Syafi'iy
(Ringkasan Tata Cara Umrah Praktis Dalam Mazhab Syafi'i Disertai
Penjelasan Ringkas Mazhab Lain)

Penyusun
Maulana La Eda, Lc

www.wahdah.or.id

Daftar Isi

Muqaddimah (4)
Definisi dan Hukum Ibadah Umrah (7)
Syarat-Syarat Wajibnya Umrah (8)
1.Apakah Seorang Wanita Disyaratkan Umrah Dengan Ditemani Mahramnya?? (11)
2.Umrahnya Anak Kecil Yang Belum Dewasa (13)

Keutamaan Ibadah Umrah (16)


1.Umrah dan Pengampunan Dosa (16)
2.Umrah dan Doa Yang Mustajab (16)
3.Umrah dan Kemudahan Rezeki (17)
4.Umrah dan Jihadnya Wanita Muslimah (18)
5.Umrah Ramadhan dan Ibadah Haji (18)
Waktu-Waktu Utama Untuk Umrah (20)
1.Umrah di Bulan Ramadhan (20)
2.Umran di Bulan Dzul-Qa'dah (21)
3.Umrah di Bulan-Bulan Haji (22)

Rukun dan Wajib-Wajib Umrah (23)


-Rukun-Rukun Umrah (23)
-Wajib-Wajib Umrah (30)

Saat Berada Di Miqat (31)


Miqat Umrah/Haji (31)

www.wahdah.or.id

Tatacara Ihram/Niat (33)

Larangan-Larangan Ihram Dan Dam/Denda Pelanggarannya (38)


Larangan-Larangan Ihram (38)
Dam Pelanggaran (40)

Hal-Hal Mubah dan Makruh Dalam Ihram (45)


Memasuki Mekah dan Masjidil Haram (48)
Tawaf (50)
Shalat Sunat Thawaf (54)
Sai Antara Shafa dan Marwah (56)
Tahallul Dengan Mencukur / Memangkas Rambut (59)

Refleksi Umrah Dalam Kehidupan (61)


Daftar Pustaka (64)

www.wahdah.or.id

Muqaddimah


, , ,
,:

Salah satu kerinduan terbesar dan cita teragung yang harusnya terpatri dalam jiwa seorang
muslim adalah ziarah ke Rumah Allah (Ka'bah Musyarrafah) di Kota Mekah dengan menunaikan
ibadah haji atau umrah. Ziarah dalam bentuk haji atau umrah ini tidak hanya sebagai bentuk
pemenuhan kewajiban dan ritual ibadah semata, namun dibaliknya terdapat fadhilah dan hikmah
besar yang dikhususkan oleh Allah ta'ala bagi mereka yang menunaikannya.

Ibadah haji yang hanya disyariatkan sekali setahun, merupakan ibadah agung dan salah satu
rukun islam. Namun karena panjangnya kuota antrian tahunan, maka tak banyak yang bisa segera
mendapatkan anugrah untuk menunaikannya walaupun memiliki harta dan kesanggupan. Ia harus
rela menanti bertahun-tahun demi mendapatkan giliran naik haji. Adapun ibadah umrah, maka ia
merupakan ibadah yang tak dibatasi oleh waktu, setiap orang bebas memilih waktu kapan saja
untuk menunaikannya, dan tanpa adanya kuota antrian seperti halnya ibadah haji. Sebab itu,
kerinduan yang semakin menggebu terhadap bangunan impian sejak kecil ini hanya bisa
diwujudkan dengan mudah lewat ibadah umrah.

Hanya saja "banyak orang kaya, tapi belum terpanggil hatinya untuk menunaikan ibadah haji
atau umrah". Ungkapan inilah yang sering penulis dengar dari banyak jamaah haji atau umrah yang
berkunjung ke Tanah Suci, yang menunjukkan bahwa sekedar mengazamkan niat untuk ber-umrah
atau ber-haji adalah sudah merupakan taufiq dan hidayah dari Allah subahanahu wata'ala, apatah

www.wahdah.or.id

lagi bila telah menunaikannya. Namun Alhamdulillah, masyarakat islam Indonesia semakin hari,
semakin banyak dan giat dalam berlomba menunaikan ibadah umrah. Ini tak lain merupakan sebuah
tanda akan banyaknya masyarakat islam yang sudah sadar akan kewajiban dan ajaran agamanya.

Secara langsung, hal ini berdampak pada menjamurnya buku-buku panduan umrah baik dari
tulisan asli bahasa Indonesia ataupun terjemahan. Namun mengingat kebanyakan buku panduan
tersebut adalah panduan praktis dengan beragam mazhab atau pandangan, atau kebanyakannya
hanya menjadi konsumsi jamaah travel-travel tertentu, maka penulis berinsiatif menyusun buku
sederhana ini, tentunya dengan menggabungkan sisi ilmiyah (teori) dan amaliyah (praktek) ibadah
umrah, agar sisi praktisnya sebanding dengan sisi ilmiyah dan kajian dalilnya, sehingga buku ini tak
hanya cocok untuk kalangan masyarakat umum, tapi juga bisa menjadi konsumsi para dai, ustadz,
akademisi, mahasiswa, pelajar, hingga anak-anak.

Adapun pemilihan Mazhab Syafi'i sebagai dasar utama bahasan dalam buku ini, maka memiliki
beberapa alasan diantaranya;

Pertama: Cintanya masyarakat Indonesia terhadap Mazhab Syafi'i, bahkan sejak ratusan tahun
lalu mereka menjadikannya sebagai mazhab resmi dalam tatacara ibadah dan muamalah mereka.
Mengikuti satu mazhab tertentu bukanlah perkara yang tercela, hanya saja tidak diperbolehkan
untuk fanatik buta dan membatasi ukuran kebenaran hanya ada dalam mazhabnya.

Kedua: Kebanyakan buku panduan umrah yang diedarkan oleh travel atau penerbit tertentu
lebih berafiliasi pada Mazhab Hanbali, atau Mazhab Tarjih 1, namun kedua mazhab ini tidaklah
banyak berbeda dengan panduan umrah dalam Mazhab Syafi'i.
1

Sehingga ketika membahas

.Yaitu Mazhabnya kelompok yang tidak mengikuti mazhab tertentu. Mereka memilih pendapat yang
benar -menurut mereka- sesuai dengan kaidah dan ushul pendalilan/istinbath yang mereka anggap benar
dari semua mazhab.

www.wahdah.or.id

panduan umrah dalam Mazhab Syafi'i setidaknya telah mencakup dua mazhab tersebut dalam
banyak bahasannya.

Ketiga: Buku ini juga bertujuan untuk membuktikan bahwa mazhab yang empat adalah mazhab
yang berdasarkan dalil yaitu Al-Quran, Sunnah, dan Ijma'. Karena sebagian orang menganggap
bahwa empat mazhab ini tidak atau kurang sesuai Al-Quran dan Sunnah. Buku ini akan
membuktikan bahwa dalil dan kaidah istinbath/penentuan hukum yang digunakan oleh Mazhab
Syafi'i juga mazhab lainnya adalah valid, terlepas dari relatifitas benar salahnya (raajihmarjuuhnya) hasil akhir atau produk hukum yang disimpulkannya.

Untuk lebih menambah kwalitas buku ini, penulis juga menukil beberapa pendapat mazhab lain
pada catatan kaki, khususnya pada bahasan yang menjadi pusat perbedaan pendapat yang populer
lintas mazhab. Walaupun bahasan buku ini adalah Mazhab Syafi'i dan lebih tertuju pada mereka
yang bermazhab syafi'i, namun isi dan ulasannya juga mencakup pendapat mazhab lain sehingga
diharapkan akan memberikan manfaat secara umum, baik dari segi memperkaya wawasan tentang
umrah ataupun dari segi praktis / amaliyah umrah itu sendiri. Olehnya itu, tak mengherankan bila
literatur yang penulis telaah dalam penulisan buku ini begitu banyak, hanya saja kebanyakannya
tidak dimunculkan dicatatan kaki demi untuk tidak memenuhi setiap halaman buku dengan catatan
kaki tersebut, kalaupun ada maka hanya terbatas pada bahasan-bahasan tertentu yang dianggap
penting. Wallaahu a'lam.
Selamat membaca !

Penulis
Maulana La Eda, Lc

www.wahdah.or.id

Definisi dan Hukum Ibadah Umrah

Secara bahasa umrah artinya ziyarah / mengunjungi. Adapun secara istilah syariat maka berarti:
salah satu jenis ibadah yang dilakukan dengan cara berkunjung ke Baitullah di Kota Makkah
Mukarramah untuk melakukan ihram, tawaf, sai dan memangkas / mencukur rambut, dengan niat
ikhlas dan dengan tujuan mencapai ridha Allah ta'ala. Ibadah ini bisa dilakukan kapan saja, dan
diutamakan waktunya pada bulan-bulan tertentu sebagimana yang akan dijelaskan dalam buku
sederhana ini.

Ibadah umrah hukumnya fardhu 'ain yaitu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan
yang memenuhi syarat kewajibannya, dan hanya wajib sekali seumur hidup. Dalil kewajiban ibadah
umrah bagi setiap muslim dan muslimah begitu banyak, diantaranya:

Pertama: Firman Allah ta'ala:



Artinya : Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah (QS Al-Baqarah: 196).

Ayat ini secara khusus memerintahkan umat islam untuk melaksanakan haji dan umrah dengan
niat ikhlas karena Allah, dan perintah ini menunjukkan hukum wajib.

Kedua: Hadis riwayat Aisyah radiyallahu'anha ia bertanya:

: :
Artinya: Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita wajib berjihad? Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam menjawab: Ya, kaum wanita wajib berjihad (meskipun) tidak ada peperangan di

www.wahdah.or.id

dalamnya, yaitu (ibadah) haji dan umrah. (HR Bukhari: 1520, dan Ibnu Majah: 2901, dengan
lafaz Ibnu Majah).

Ini menunjukkan bahwa seorang wanita muslimah harusnya berusaha untuk melaksanakan
ibadah umrah ini, sebab ia setara dengan ibadah jihad yang diwajibkan atas kaum muslim laki-laki
dalam kondisi tertentu. Keistimewaannya, bila jihad ini terikat dengan waktu dan kondisi tertentu,
maka umrah bagi wanita tidaklah terikat dengan waktu atau kondisi apapun, selama syaratsyaratnya terpenuhi.

Ketiga: Ucapan Ibnu Umar radhiyallahu'anhu, ia berkata: "Tidak seorangpun melainkan ia


memiliki dua kewajiban; haji dan umrah (sekali seumur hidup), wajib keduanya dilaksanakan, dan
barangsiapa yang kemudian menambah lebih dari sekali, maka ia merupakan suatu kebaikan dan
tahawwu' (amalan sunat)". (HR Ibnu Khuzaimah: 3066 , dan Hakim: 1732).

Adapun bagi yang sudah melaksanakannya satu kali, maka hukumnya berubah menjadi sunat
bila ia ingin umrah lagi sebagaimana dalam ucapan Ibnu Umar radhiyallahu'anhu diatas.

Syarat-Syarat Wajibnya Umrah

Ibadah umrah menjadi wajib hukumnya dan dianggap sah bila terkumpul pada sorang diri
seorang muslim lima syarat berikut, yaitu:

1) Beragama islam.
Bila ada pemeluk agama lain yang melaksanakan ibadah umrah maka umrahnya tidak sah, dan
bahkan non muslim dilarang memasuki dua Tanah Suci; Mekah dan Madinah.

www.wahdah.or.id

2) Baligh atau sudah mencapai umur dewasa.


Namun bila ada anak kecil yang melaksanakan umrah, maka apakah umrahnya sah?
Jawabannya: Umrahnya sah, baik masih bayi ataupun sudah mendekati umur dewasa
sebagaimana yang akan dibahas dalam buku ini juga.

3) Berakal.
Artinya ia berakal sehat dan tidak gila.

4) Merdeka,
Yaitu bukan dari golongan hamba sahaya

5) Memiliki kemampuan (istitha'ah) untuk melaksanakan umrah.


Kemampuan ini memiliki empat jenis penting, bila salah satunya tidak terpenuhi dalam diri
seorang muslim maka ibadah umrah belum menjadi wajib atasnya, yaitu:
- Memiliki bekal/biaya yang cukup selama perjalanan pulang perginya.
- Adanya kendaraan/transportasi yang bisa mengantarkannya ke Tanah Suci.
- Adanya kondisi aman dan tidak adanya rawan kecelaan selama perjalanan.
- Kesehatan tubuh.

Jika salah satu dari lima syarat ini tidak terpenuhi dalam diri seorang muslim, maka ibadah
umrah belum menjadi wajib atasnya.

Bila syarat-syarat umrah telah terpenuhi, apakah wajib menyegerakan pelaksanaannya, atau
boleh menundanya ?

www.wahdah.or.id

Imam Al-Syafi'i rahimahullah berkata: "Rentang waktu kewajiban haji adalah dari sejak ia
memiliki kemampuan hingga ia wafat". Rentang waktu ibadah haji ini sama halnya dengan umrah.
Bahkan beliau juga berkata: "Waktu umrah (bagi yang mampu) adalah sesuai kehendaknya".2
Ucapabn beliau ini menunjukkan bolehnya seseorang menunda umrah walaupun telah memiliki
kemampuan untuk itu, karena nash atau dalil perintah berumrah adalah mutlak artinya tidak
memberikan ikatan pada waktu tertentu. Tidak adanya ikatan waktu umrah ini menunjukkan bahwa
waktu pelaksanaan umrah ini tergantung pada kehendak orang yang mampu melaksanakannya yaitu
bolehnya menunda pada waktu kapan saja. Namun tentunya yang lebih utama bagi seorang muslim
adalah menyegerakan pelaksanaan ibadah dan ketaatan kepada Allah ta'ala sebagaimana dalam
firman-Nya: "Dan bersegeralah kepada ampunan dari Tuhanmu, dan surga yang luasnya seluas
langit dan bumi, disediakan untuk orang-orang yang bertakwa" (QS Aali Imran: 133). Dan juga
demi menghindari adanya halangan yang bisa saja terjadi bila ditunda seperti sakit atau meninggal
dunia. Wallaahu a'lam.

Adapun orang cacat yang memenuhi syarat-syarat diatas dan bisa melakukan perjalanan safar,
maka tetap memiliki kewajiban untuk melaksanakan umrah dengan cara ditemani oleh anggota
keluarganya, atau bila tidak, maka ia harus menyewa seseorang untuk menuntunnya selama safar
dan menunaikan umrah.

Sedangkan orang tua yang sudah lemah, atau orang sakit yang tidak diharap lagi kesembuhannya
serta tidak bisa melakukan safar seperti kena stroke, maka ia tetap wajib umrah, dengan meminta
orang lain untuk mengumrahkan atas namanya atau dalam istilah popular: dibadalkan. Ia harus
meminta orang lain baik dengan membayarkan biaya umrahnya atau tidak- agar dibadalkan
pelaksanaan umrahnya atas nama dirinya. Ini sesuai hadis shahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu
berkata:
2

.Mukhtashar Al-Muzani: 8/159 (Dicetak diakhir Kitab Al-Umm).

www.wahdah.or.id

10

. :
:

Artinya: "Bahwa ada seorang wanita dari Kabilah Khats'am berkata : Ya Rasulallah,
sesungguhnya bapakku ketika datang kewajiban haji, beliau dalam keadaan sangat tua tidak lagi
mampu untuk naik kendaraannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam - bersabda : "
hajikanlah ia " (HR Jama'ah)

Apakah Seorang Wanita Wajib Umrah Ditemani Mahramnya??

Seorang wanita muslimah yang memenuhi lima syarat umrah diatas; wajib atasnya untuk
melaksanakan umrah walaupun tanpa ditemani oleh salah seorang mahramnya, karena Nabi
shallallahu'alaihi wasallam dalam hadis kewajiban haji dan juga umrah, hanya mensyaratkan
adanya bekal/biaya yang cukup dan kendaraan/alat transportasi yang bisa mengantarkannya.
Sebaiknya ia harus ditemani oleh mahramnya yang laki-laki, dan bila tidak ada maka boleh
melakukan perjalanan ibadah umrah dengan ditemani rombongan kaum muslimah lainnya atau
pihak travel yang amanah dan terpercaya3. Dalil bolehnya wanita berumrah tanpa adanya mahram
ini adalah:

1) Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam terhadap Adi bin Hatim radhiyallahu'anhu:


3 . Ini merupakan pendapat Mazhab Syafi'i dan Maliki yaitu tidak mensyaratkan adanya mahram dalam
safar umrah atau haji, adapun Mazhab Hanafi dan Hanbali maka mereka mensyaratkan dan mewajibkan
wanita muslimah ditemani mahram ketika umrah atau haji, dengan berdalil: sabda Rasulullah
shallalahu'alaihi wasallam :
Artinya: Tidak boleh seorang wanita bepergian kecuali bersama mahram (HR.Bukhari: 1862 )

www.wahdah.or.id

11


Artinya: Wahai Ady, apabila anda punya umur panjang, niscaya engkau akan melihat
seorang wanita dalam haudaj (tandu di atas unta) pergi dari Hirah untuk thawaf di Kabah
dalam keadaan tidak takut kepada seorangpun kecuali kepadaAllah (HR.Bukhari: 3595 )
Hadits ini mengabarkan adanya sebuah kondisi dimasa depan- yang pasti terjadi, yaitu
keluarnya wanita tanpa mahram dari negerinya menuju Mekah tanpa mahram, sekaligus
menunjukkan bolehnya wanita pergi tanpa muhrim dalam kondisi aman.
2) Perintah Umar bin Khaththab radhiyallahu'anhu dan perbuatan para istri Nabi shallallahu'alaihi
wasallam :

Artinya: Bahwa Umar bin Khattab pada hajinya yang terakhir telah mengizinkan istriistri Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam untuk menunaikan ibadah haji (tanpa muhrim),
lalu Umar memerintahkan Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf untuk menyertai
mereka dalam haji tersebut". ( HR. Bukhari: 1860 )
3)

Safar untuk umrah merupakan jenis safar yang wajib sehingga tidak mensyaratkan adanya
mahram, sama halnya dengan safar jauh tanpa mahram demi menghadiri pengadilan.

4) Adapun hadis tentang perintah Rasul kepada sahabatnya agar membatalkan jihad dan menemani
istrinya untuk haji sebagaimana dalam hadis Muttafaq 'Alaih, maka hanya bersifat anjuran dan
sunat, bukan kewajiban sebab Rasul hanya menyuruhnya demikian dan tidak menghalangi
wanita itu dari safar haji, serta tidak mencela atau mengharamkan perihal safar istrinya tanpa
mahram. Wallaahu a'lam.
Bila seorang isteri ingin umrah, sedangkan suaminya tidak bisa menemaninya, maka ia wajib
www.wahdah.or.id

12

meminta izin darinya. Adapun sang suami maka tidak boleh menghalanginya bila umrah istrinya
tersebut merupakan umrah wajib (baik umrah islam/pertama kali atau umrah nadzar), sebab
seseorang tidak boleh dihalangi dari melaksanakan kewajiban. Sedangkan apabila umrah istrinya
tersebut hanyalah umrah sunat, maka sang suami boleh mengizinkan dan boleh melarangnya, sebab
hal tersebut hanyalah perkara sunat, sedangkan tinggal bersama suami dan melayani keperluannya
merupakan hal yang wajib.

Umrahnya Anak Kecil Yang Belum Dewasa

Seorang anak kecil atau yang belum dewasa tidak diwajibkan atasnya ibadah umrah ataupun
haji, namun umrah atau hajinya hanyalah berstatus sunat dan sah, apabila ia telah beranjak dewasa
maka wajib baginya untuk mengulang haji atau umrahnya sekali lagi bila ia memiliki kemampuan.
Dengan dalil hadis Ibnu Abbas:


Artinya: Barangsiapa yang telah melakukan ibadah haji pada saat ia masih kecil, kemudian ia
baligh, maka wajib melakukan haji lagi. (HR Al Baihaqi dalam Sunan Kubra, 5/156, hadis ini
dinilai shahih oleh Ibnu Hajar dalam Fathul-Bari: 7/159).
Hukum ibadah hajinya anak kecil ini sama halnya dengan ibadah umrahnya. Adapun hadis
anjuran untuk mengumrahkan sang anak ini, maka diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa beliau
berkata:
.
: . . : . :
:
.

www.wahdah.or.id

13

Artinya: "Dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau pernah bertemu dengan
sekelompok orang yang berkendaraan di Rawha, lalu ia bertanya, Siapakah kalian?" Mereka
menjawab, Kami adalah kaum muslimin. Kemudian mereka bertanya, Siapakah tuan? Beliau
menjawab, Aku adalah Rasulullah. Kemudian ada seorang wanita yang mengangkat seorang
anak kecil (yang masih menyusui, -pen) di hadapan beliau lalu bertanya, Apakah jika anak ini
berhaji, hajinya sah? Beliau menjawab, Ya dan untukmu juga ada pahalanya. (HR. Muslim no.
1336).
Menghajikan anak ini, sama halnya dengan mengumrahkannya, karenanya tetap sunat bagi
orang tua untuk mengajak putera puterinya untuk menunaikan ibadah umrah agar mereka bisa
belajar dan mengetahui tatacara praktek umrah sebelum melaksanakan umrah wajib ketika
menginjak dewasa, juga untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Allah, Rasul-Nya, dan Tanah Suci
Mekah dan Madinah. Selain itu, orangtua juga bisa mendapatkan pahala berlipat dari umrahnya
sang anak tersebut.
Dalam praktek rangkaian amalan umrah, seorang anak terbagi dalam dua jenis:
Pertama: Anak yang belum mumayyiz (berakal).
Yaitu anak yang belum mengerti tentang perihal ibadah umrah dan belum bisa dipahamkan
padanya tatacara ibadah ini. Batas usianya biasanya 5 atau 6 tahun kebawah. Ia hendaknya
diniatkan umrah oleh orangtuanya ketika berada di Miqat, dan dibolehkan baginya untuk melanggar
larangan-larangan ihram, seperti berpakaian biasa, berwangi-wangian, dan larangan lainnya, karena
ia belum dikenakan dam (semacam denda pelanggaran) bila melanggar larangan-larangan ihram. Ia
juga hendaknya tetap melakukan rangkaian amalan umrah seperti tawaf, sai, dan mencukur rambut,
tentunya melalui peran orangtua atau yang membawanya.
Kedua: Anak yang sudah mumayyiz (berakal).
www.wahdah.or.id

14

Yaitu anak yang sudah bisa diajarkan tentang rangkain ibadah umrah ini. Anak jenis ini sudah
wajib mengikuti tatacara umrah orang dewasa, yaitu melaksanakan rukun-rukun dan kewajiban
umrah secara sempurna. Ia wajib berniat dan bertalbiyah dari Miqat dengan seizin serta bimbingan
orangtuanya, wajib memakai dua pakaian ihram, serta tidak boleh melanggar larangan-larangan
ihram. Wajib baginya untuk menyempurnakan pelaksanaan rangkaian amalan umrah hingga
selesai/tahallul dengan mencukur atau memangkas rambut. Bila ia melanggar salah satu dari
larangan-larangan ihram maka dalam Mazhab Syafi'iyah ia dikenakan dam (denda pelanggaran)
ihram karena ia telah berakal dan memahami tuntunan syariat- dan dam tersebut wajib dibayar
oleh wali atau orangtuanya, Wallaahu a'lam.4

.Lihat: al-Majmu': 7/341

www.wahdah.or.id

15

Keutamaan Ibadah Umrah

Sebagai ibadah yang menggabungkan semua jenis pengorbanan yaitu dari pengorbanan harta,
jiwa, waktu, hingga tenaga, ibadah umrah sudah pasti memiliki banyak fadhilah dan keistimewaan
yang besar disisi Allah ta'ala, diantaranya:

1) Umrah dan Pengampunan Dosa

Tidak diragukan bahwasanya disetiap rangkaian ibadah umrah terdapat moment-moment yang
sangat utama dalam hal mendapatkan pahala dan ampunan dari Allah ta'ala, sehingga secara umum
ibadah umrah merupakan salah satu ibadah yang tidak hanya bertujuan meningkatkan kwalitas iman
dan takwa kepada Allah ta'ala, namun juga untuk meningkatkan kwantitas pahala dan menghapus
dosa-dosa masa lalu yang pernah dilakukan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu'alaihi
wasallam bersabda:


Artinya: Antara umrah satu ke umrah lainnya adalah penebus dosa antara keduanya, dan
haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga. (HR Bukhari: 1773 dan Muslim: 437).

2) Umrah dan Doa Yang Mustajab


Sebuah ibadah seperti umrah yang sarat dengan makna pengorbanan dan rasa letih, tentunya
memiliki berkah tersendiri dalam mustajabnya doa-doa yang dipanjatkan dalam setiap rangkaian
amalan pelaksanaannya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda:

www.wahdah.or.id

16


Artinya: Jamaah haji dan umrah adalah utusan Allah, apabila mereka berdoa, Allah akan
mengabulkannya, dan apabila mereka meminta ampun Allah akan mengampuninya.(HR Nasaai:
5/113, Ibnu Majah: 2892, Ibnu Hibban: 3692 dan Ibnu Khuzaimah: 2511).

Walaupun hadis ini agak lemah namun kandungan maknanya shahih, sebab haji dan umrah
merupakan dua ibadah yang agung, dilaksanakan ditempat yang suci lagi sangat mustajab untuk
berdoa yaitu Kota Mekah dan Masjidil Haram.

3) Umrah dan Kemudahan Rezeki


Pengorbanan harta, waktu, dan jiwa dalam pelaksanaan ibadah haji dan umrah ternyata
mendatangkan berkah tersendiri dalam perihal rezeki dan karunia Allah ta'ala. Ibnu Masud
radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


Artinya: Kerjakanlah secara urut antara haji dan umrah, maka keduanya menghilangkan
kefakiran dan dosa, sebagaimana pandai besi menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan
tidak ada pahala haji mabrur selain surga. (HR Tirmidzi: 810, dan beliau berkata: hadis hasan
shahih)
Secara tekstual, keutamaan dalam hadis ini hanya bisa didapatkan dengan menyandingkan dua
amalan ini; haji dan umrah dalam waktu berdekatan, namun tidak menutup kemungkinan
keutamaan ini juga didapatkan oleh mereka yang melaksanakan ibadah umrah saja, Wallaahu a'lam.

www.wahdah.or.id

17

4) Umrah dan Jihadnya Wanita Muslimah


Dari Aisyah radhiyallahu'anha:
: : :
Artinya: Aku (Aisyah) berkata: Ya Rasulullah, apakah perempuan ada kewajiban berjihad?
Beliau menjawab:Atas mereka jihad yang tidak ada perang di dalamnyahaji dan umrah. (HR
Ibnu Majah: 2901 , dan Ahmad: 25322, dengan sanad shahih).
Hadis ini mengisyaratkan secara jelas bahwa ibadah haji atau umrah bagi seorang muslimah
setara dengan keluar berjihad dijalan Allah ta'ala, bahkan apabila ia wafat dalam keadaan haji atau
umrahm maka ia terhitung sebagai orang yang mati syahid dijalan Allah ta'ala. Hal ini disebabkan
karena dalam ibadah haji ataupun umrah seorang wanita yang fitrahnya lemah dituntut untuk
berjuang melaksanakan amalan yang tidak begitu ringan baginya. Inilah salah satu keutamaan yang
Allah istimewakan bagi kaum muslimah.

5) Umrah Ramadhan dan Ibadah Haji

Diantara fadhilah umrah yang sering dicari dan dinginkan umat islam adalah umrah pada bulan
Ramadhan yang pahalanya menyamai pahala ibadah haji, sebagaimana dalam hadis Ibnu Abbas
radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada seorang wanita
Anshar:

www.wahdah.or.id

18

Artinya: Umrah pada bulan Ramadhan seperti ibadah haji (HR Bukhari: 1782 dan Muslim:
1256). Dalam lafaz Bukhari: "Bila telah tiba Ramadhan, maka umrahlah, karena umrah dalam
bulan Ramadhan sama dengan haji".

www.wahdah.or.id

19

Waktu-Waktu Utama Untuk Umrah

Ibadah umrah merupakan salah satu ibadah yang tidak dibatasi oleh waktu, kapanpun seseorang
ingin menunaikannya, maka ia bebas memilih waktu sekehendaknya bila ia memang memiliki
kemampuan untuk melaksanakan safar ke Kota Mekah. Namun ibadah umrah ini memiliki
keutamaan khusus dan keistimewaan yang lebih bila dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, yaitu:

1) Umran Di Bulan Ramadhan

Ramadhan merupakan bulan yang paling utama dan teragung, sehingga semua amal ibadah
sangat dianjurkan dilaksanakan didalamnya, dan ini semakin dianjurkan bila ibadah tersebut
dilaksanakan di tempat paling utama yaitu Mekah dan Masjidil Haram. Selain itu, dalil khusus
fadhilah pelaksanaan umrah di bulan Ramadhan juga sangat istimewa, sebagaimana dalam hadis
Ibnu Abbas diatas ya:

Artinya: Umrah pada bulan Ramadhan seperti ibadah haji (HR Bukhari: 1782 dan Muslim:
1256). Dalam lafaz Bukhari: "Bila telah tiba Ramadhan, maka umrahlah, karena umrah dalam
bulan Ramadhan sama dengan haji".

Imam Nawawi rahimahullah berkata: "Artinya umrah (ramadhan) ini setara dengan pahala
ibadah haji saja, dan bukan bermaksud menyamainya dari segala segi, sebab apabila ia termasuk
orang yang wajib haji, lalu berumrah dibulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak akan bisa
mengganti (atau menjatuhkan kewajiban) hajinya".5
5

.Syarah Shahih Muslim: 9/2

www.wahdah.or.id

20

Hadis ini dijadikan oleh para ulama Mazhab Syafi'iyah sebagai dalil bahwa umrah yang paling
utama sepanjang tahun adalah umrah dalam bulan Ramadhan.6

2) Umrah Di Bulan Dzul-Qa'dah

Sebagian ulama menyatakan bahwa umrah yang paling utama adalah pada bulan Dzul-Qa'dah
karena Nabi shallallahu'alaihi wasallam melaksanakan semua ibadah umrahnya pada bulan ini. Dan
Allah tidaklah memilihkan waktu untuk umrah Nabi-Nya kecuali waktu yang paling utama,
ditambah lagi dengan status Dzul-Qa'dah sebagai salah satu dari bulan-bulan haji.

Walaupun keutamaan umrah di Dzul-Qa'dah ini shahih, namun umrah dalam bulan Ramadhan
tetaplah yang paling utama.

Para imam Mazhab Syafi'iyah rahimahumullah berkata: "Sangat

dianjurkan untuk melaksanakan umrah pada bulan-bulan haji (Syawal, Dzul-Qa'dah, dan DzulHijjah), dan juga dibulan RamadhanAl-Mutawalli dan selainnya berkata: "Umrah dalam bulan
Ramadhan lebih utama dari bulan-bulan lainnya dalam setahun karena adanya hadis diatas (hadis
keutamaan umrah Ramadhan)".7

Dzul-Qa'dah merupakan salah satu bulan-bulan haji yang juga dianjurkan untuk pelaksanaan
umrah didalamnya, namun karena memiliki keistimewaan tersendiri dari selainnya, maka saya
khususkan dipembahasan ini, adapun umrah dibulan-bulan haji secara umum, maka pembahasannya
pada poin berikut.

6
7

.Lihat: Al-Majmu': 7/148


. Al-Majmu': 7/148

www.wahdah.or.id

21

3) Umrah Di Bulan-Bulan Haji

Bulan-bulan haji adalah Syawal, Dzul-Qa'dah dan Dzulhijjah. Dinamakan bulan haji karena
dekatnya bulan ini dengan waktu pelaksanaan ibadah haji. Umrah yang merupakan haji kecil,
tentunya akan lebih utama dilaksanakan pada bulan-bulan haji, seperti halnya ibadah haji. Hal ini
telah dinyatakan oleh para ulama termasuk para Imam Mazhab Syafi'iyah yang telah dinukil diatas.
Wallaahu a'lam.

Bila seorang muslim tidak bisa melaksanakan umrah diwaktu-waktu paling mulia dan utama
ini, maka ia tetap disunatkan untuk melaksanakannya dibulan-bulan lain, walaupun tentunya
keutamaannya tidak seperti yang ada dalam bulan-bulan ini.

www.wahdah.or.id

22

Rukun dan Wajib-Wajib Umrah

1. Rukun-Rukun Umrah

Rukun umrah adalah rangkaian amalan dalam pelaksanaan ibadah umrah yang apabila salah
satunya tidak dilaksanakan maka umrahnya tidak sah, dan tidak bisa digantikan atau ditebus dengan
dam atau fidyah baik ditinggalkan secara sengaja ataupun tidak. Rukun-rukun umrah ini ada lima,
berikut penjelasannya secara ringkas:

Pertama: Ihram.

Yaitu berniat dalam hati menyengaja untuk memulai ibadah umrah. Ini sesuai hadis yang
popular muttafaq 'alaih: "Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya" . Tempat ihram
adalah di Miqat, dan diwajibkan bagi yang berihram untuk ibadah umrah agar memakai dua helai
pakaian ihram sebelum berniat ihram, serta disunatkan untuk membaca Talbiyah secara jahr/keras
bagi laki-laki, dan secara sir/berbisik bagi perempuan, yaitu: "Labbaika 'Umratan". Manfaatnya
adalah untuk lebih meyakinkan diri akan ketegasan niat tersebut dan menghilangkan adanya
keraguan dalam perihal nita. Penjelasan secara panjang lebar tentang tata cara ihram ini akan kami
bahas dalam bahasan "Ketika Anda di Miqat" dalam buku ini, insyaa Allah.

Kedua: Tawaf Umrah.

Yaitu beribadah dengan cara mengelilingi Ka'bah tujuh kali putaran dengan cara tertentu demi
menyempurnakan rangkaian amalan umrah. Ini sesuai dengan perintah Allah ta'ala:

www.wahdah.or.id

23

Artinya: Dan hendaklah mereka melakukan tawaf di rumah yang tua itu (Kabah). (QS AlHajj: 29)
Tawaf ini memiliki syarat-syarat tertentu agar bisa dilakukan secara sah, yaitu:
1) Suci dari hadas dan najis.
Tubuh seorang yang tawaf harus suci dari najis dan hadas baik yang besar ataupun kecil.
Pakaiannya, atau lantai Masjidil Haram yang ia injak ketika tawaf harus suci dari adanya najis.
Dalam hadis, Aisyah menuturkan:



Artinya: "Sesungguhnya yang pertama sekali dilakukan Nabi shallallahu'alaihi wasallam
ketika tiba (di masjid al-Haram) adalah berwudhu, kemudian beliau melakukan tawaf di
Baitullah" (HR. Bukhari: 1641 dan Muslim: 1235)
2) Menutup aurat sebagaimana menutupnya ketika shalat.
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:

Artinya: "Janganlah ada yang tawaf di Al-Bait (Ka'bah) dengan telanjang" (HR Bukhari:
1622, dan Muslim: 1347).
Auratnya laki-laki adalah antara pusar dan lutut, sedangkan auratnya wanita adalah seperti
halnya aurat dalam shalat yaitu semua jasadnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bila aurat
keduanya tersingkap secara sengaja maka tawafnya dengan dalam keadaan tersingkap auratnya
tersebut tidak sah, dan wajib kembali mengganti tawafnya yang auratnya tersingkap tersebut
tanpa harus memulai tawaf lagi dari awal karena tawaf sebelumnya yang tanpa tersingkap

www.wahdah.or.id

24

auratnya dihitung sah. Adapun kalau tersingkap karena tidak sengaja, maka tidak membatalkan
tawaf, dengan syarat harus segera ditutup.
3) Memulai tawaf dari Hajar Aswad.
Wajib memulai tawaf dari Hajar Aswad atau tempat yang sejajar dengannya bila berada
jauh darinya, dan bila ia memulai sebelum Hajar Aswad maka tawafnya tersebut tidaklah sah
hingga tiba di Hajar Aswad, dan dari situlah ibadah tawaf dianggap sah.
4) Tawaf wajib dilaksanakan dalam Masjidil Haram.
Tidak boleh tawaf diluar Masjid, karena Nabi shallallahu'alaihi wasallam melakukannya dalam
masjid.
5) Wajib menyempurnakan tujuh kali putaran tawaf.
Yaitu bermula dari Hajar Aswad dan berakhir pula di Hajar Aswad. Bila tidak sampai tujuh
putaran, maka tawafnya tidak sah, karena Nabi shallallahu'alaihi wasallam melakukan tawaf
tujuh putaran dan bersabda:

Artinya : Ambillah dari ku amalan-amalan haji (dan umrah) kalian (HR Muslim:
1297).
6) Melakukan tawaf dengan menjadikan Ka'bah sebelah kirinya.
Bila ia tawaf dengan menjadikan Ka'bah sebelah kanannya, maka tawafnya tidak sah,
demikian pula melakukan tawaf dengan menghadap atau membelakangi Ka'bah, hukumnya
tidak sah. Dalam hadis Jabir:

www.wahdah.or.id

25



Artinya: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sampai di Makkah, beliau
mendatangi hajar Aswad dan menciumnya, kemudian beliau berjalan ke sebelah kanannya
(menjadikan Hajar Aswad dan Ka'bah sebelah kirinya). Beliau melakukan arraml (lari-lari
kecil) sebanyak tiga kali, dan berjalan biasa empat kali (HR. Muslim no. 1218)
7) Tawafnya semuanya dilakukan diluar Ka'bah dan Hijr.
Hijr merupakan bagian Ka'bah, hanya saja tidak diberi dinding, sebab pada saat renovasi
Ka'bah pada zaman jahiliyah, biaya renovasinya dari harta halal hanya mencukupi bangunan
Ka'bah yang sekarang, sehingga bagian Hijr pun dibiarkan terbuka. Oleh karena itu, bila
bertawaf lewat dalam Hijr maka tidak dinamakan tawaf/mengelilingi karena ia dianggap masuk
kedalam Ka'bah.
Tawaf ini memiliki fadhilah yang besar, diantaranya disebutkan dalam hadis shahih:
,
Artinya: Siapa yang thawaf tujuh kali di Rumah Allah (Kabah) ini lalu melakukannya tanpa
kekurangan dan tambahan, maka seperti memerdekakan budak, Tidaklah ia meletakkan kakinya
dan mengangkat kakinya yang lain melainkan Allah hapuskan darinya satu kesalahan dan catatkan
untuknya satu kebaikan. (HR. Tirmidzi: 959 dan berkata: hadis hasan).
Peringatan: wajib bagi yang ingin tawaf agar berniat tawaf ketika melaksanakannya, karena
amalan ibadah itu tergantung pada niatnya.
Tatacara tawaf secara terperinci berikut sunat-sunatnya akan dijelaskan lebih detail dalam
bahasan "Ketika Di Masjidil Haram" dalam buku ini juga, insyaa Allah.

www.wahdah.or.id

26

Ketiga: Sai antara Shafa dan Marwah.


Yaitu berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah. Dalilnya sebagai rukun adalah Firman Allah
ta'ala:

Artinya: "Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka
barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya
mengerjakan sa'i antara keduanya. dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan
kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui". (QS
Al-Baqarah: ).
Juga dalam hadis yang hasan, Nabi kita bersabda: "Telah diwajibkan atas kamu sai, maka
laksanakanlah sai". (HR Ahmad: 27463).

Agar dilakukan dengan sah, maka sai harus memenuhi syarat-syarat berikut:
1) Hendaknya sai didahului oleh tawaf.
Artinya tawaf harus dikerjakan terlebih dahulu, lalu mengerjakan sai, karena ibadah sai
memang tidak boleh dilakukan kecuali setelah tawaf. Sebab Nabi kita melakukan tawaf dahulu
sebelum sai, dan kita wajib mengikuti petunjuk beliau sebagaimana dalam sabdnya: Ambillah
dari ku amalan-amalan haji (dan umrah) kalian (HR Muslim: 1297) .
2) Sai harus secara tertib/berurutan.
Yaitu dimulai di bukit Shafa dan diakhiri di bukit Marwah, sebagaimana diurutkan
penyebutannya oleh Allah ta'ala dalam ayat diatas: "Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah
sebahagian dari syi'ar Allah". Sesuai sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam:
www.wahdah.or.id

27

"Hendaknya kita memulai (sai) dari bukit yang disebutkan Allah terlebih dahulu (dalam AlQuran)", lalu beliau memulai (sai) dari Shafa" (HR Nasai: 2961).
3) Sai wajib dilakukan dengan tujuh kali.
Dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, dan dari Marwah ke Shafa dihitung sebagai sai
kedua, kemudian dari Shafa ke Marwah lagi dihitung sebagai sai ke tiga, demikian seterusnya
hingga tujuh kali putaran sai yang berakhir di Marwah.
4) Harus melakukan sai ditempat yang disediakan untuk sai.
Imam Nawawi rahimahullah menukil bahwa para ulama Mazhab Syafi'iyah tidak
membolehkan melakukan sai diluar tempat sai yang disediakan, bila ia sai diluar tempat sai
tersebut maka sainya tidak sah, karena sai itu dikhususkan pada tempat sai, sehingga tidak boleh
dilakukan ditempat lain, seperti halnya tawaf.8
Tatacara sai dan sunat-sunatnya insyaa Allah akan dibahas secara detail dalam bahasan "Ketika
Di Masjidl Haram" dalam buku ini.

Keempat: Mencukur (Halq) atau memangkas (Taqshir) rambut.


Dalam hadis Jabir radhiyallahu'anhu, ia berkata:

Artinya: "Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya untuk
menjadikan haji mereka sebagai umrah dan agar mereka melakukan thawaf lalu mencukur pendek
8

.Al-Majmu': 8/76

www.wahdah.or.id

28

rambut mereka dan bertahallul, kecuali yang membawa hadyu/dam" (HR Bukhari: 1652)
Tentunya perintah Nabi dalam hadis ini hukumnya wajib dilakukan, utamanya yang berkaitan
dengan mencukur atau memangkas rambut. Dalam suatu hadis, Nabi telah menyebutkan
fadhilahnya, dan bahwasanya mencukur bisa mendatangkan tiga rahmat, sedangkan memangkasnya
hanya mendatangkan satu rahmat:
:
: :
:

:
:
Artinya: "Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambut mereka. Para Sahabat
berkata: Dan orang-orang yang memendekkan juga, ya Rasulullah? Beliau berkata: Ya Allah
rahmatilah orang-orang yang mencukur. Mereka berkata lagi: Orang-orang yang memendekkan juga, ya Rasulullah? Beliau berkata lagi: 'Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang
mencukur' Mereka berkata lagi: Orang-orang yang me-mendekkan juga, ya Rasulullah? Beliau
berkata: Dan juga orang-orang yang memendekkan. (HR Bukhari: 1728 dan Muslim: 1302).

Penjelasan terperinci tentang tatacara mencukur atau memangkas rambut ini akan dibahas pada
poin tahallul dalam buku ini, insyaa Allah.

Kelima: Melaksanakan rukun 1 sampai 4 diatas secara berurutan.

Yaitu dengan mendahulukan ihram dahulu, lalu melakukan tawaf, sai, dan berakhir pada Halq
(mencukur rambut) atau Taqshir (memangkasnya). Dalil dari wajibnya menngurutkan pelaksanaan
rukun-rukun ini adalah sesuai dengan amalan Nabi kita shallallahu'alaihi wasallam dalam ibadah
haji dan umrah.

www.wahdah.or.id

29

2. Wajib-Wajib Umrah

Wajib-wajib umrah adalah rangkaian amalan umrah yang apabila ditinggalkan, maka harus
diganti atau ditutupi dengan dam / fidyah (semacam denda), dan ibadah umrahnya tetaplah sah.
Namun apabila wajib-wajib umrah ini ditinggalkan secara sengaja tanpa alasan yang dibenarkan
syariat, maka orangnya berdosa, dan wajib bertaubat kepada Allah ta'ala, serta juga membayar
dam / fidyah dan umrahnya tetap sah insyaa Allah. Wajib-wajib umrah hanya ada dua, yaitu:

Pertama: Bagi laki-laki, wajib memakai pakaian ihram dari Miqat/tempat yang ditentukan
untuk mengawali amalan-amalan ihram baik untuk haji atau umrah. Adapun bagi kaum wanita
maka dari Miqat ini, ia tidak dibolehkan memakai penutup wajah dan berkaos tangan. Aisyah
radhiyallahu anha berkata: Wanita muhrim memakai dari pakaian apa saja yang dia kehendaki
kecuali pakaian yang terkena wars (tanaman kuning yang dipakai untuk mewarnai kain) atau
zafaran, dan tidak boleh memakai burqu (sesuatu yang dipakai menutupi wajah sehingga hampir
menutup mata), tidak menutup mulut, dan menjulurkan kain di atas wajahnya jika dia
menginginkan.

(HR.

Baihaqi:9050,

dengan

sanad

shahih).

Bila seorang laki-laki melewati Miqat tanpa memakai pakaian ihram maka ia wajib membayar
dam dan umrahnya tetap sah bila ia membayar dam tersebut. Penjelasan tentang Miqat dan perkara
dam akan dibahas insyaa Allah.

Kedua: Menjauhkan diri dari segala larangan (mahdzhuraat) ihram. Larangan-larangan ihram
ini akan dibahas pada pembahasan selanjutnya, insyaa Allah.

www.wahdah.or.id

30

Saat Berada Di Miqat

Miqat Umrah/Haji

Bagi umat islam yang berada diluar batas Miqat ini, maka harus mengawali amalan-amalan
ihramnya dari miqat-miqat tersebut sesuai dengan miqat yang berada diarah jalannya menuju
Mekah. Misalnya, penduduk Kota Madinah dan seluruh negeri diutara Mekah, miqat untuk
mengawali rangkaian amalan ihram ini adalah Dzul-Hulaifah yang sekarang populer dengan nama
Bir Ali, dan didirikan disana sebuah masjid yang dikenal dengan nama Masjid Miqat. Adapun dari
bagian selatan atau tenggara Kota Mekah seperti India, Indonesia, Yaman, dll maka Miqat mereka
adalah Yalamlam atau tempat yang setentangannya, sehingga bila pesawat telah berada ditentangan
Yalamlam, niat ihram segera diniatkan dan pakaian ihram harus sudah dikenakan. Alangkah
bagusnya, bila pakaian ihram ini dikenakan sejak di Jakarta bila mendahulukan ziarah ke Kota
Mekah sebelum Madinah. Adapun jamaah yang mendahulukan Kota Madinah, maka miqat mereka
adalah miqatnya penduduk Madinah, yaitu Bir Ali, sehingga mereka hanya memakai pakaian ihram
di Madinah saja.

Adapun penduduk yang berada dalam batas Miqat, seperti Jedah, atau sekitar Mekah, maka
cukup berniat dan memakai pakaian ihram dari tempat kediamannya masing-masing. Abdullah bin
Abbas meriwayatkan:




Artinya: Sesungguhnya Nabi shallallahu'alaihi wasallam telah menetapkan miqat

www.wahdah.or.id

31

Dzulhulaifah bagi warga Madinah, Juhfah bagi warga Syam, Qarnulmanazil bagi warga Najd, dan
Yalamlam bagi warga Yaman. Tempat-tempat itu berlaku bagi warga masing-masing tempat itu dan
bagi yang datang ke tempat-tempat itu dari tempat-tempat lain , yang ingin berhaji dan berumrah.
Dan orang yang berada di luar tempat-tempat itu berihram dari mana saja tempat ia menetap,
sehingga warga Makkah berihram dari Makkah. (HR Bukhari: 1526, dan Muslim: 1181).

www.wahdah.or.id

32

Tatacara Ihram

Seorang jamaah umrah yang telah berada di Miqat disunnahkan untuk melaksanakan hal-hal
berikut:

Pertama: Mandi dan membersihkan diri dengan niat mandi ihram; termasuk mencukur bulu
yang perlu dicukur seperti kumis, ketiak, atau bulu kemaluan. Ini sangat disunnahkan dalam ibadah
umrah atau haji baik termasuk bagi wanita haid dan anak-anak. Bila merasa bahwa waktu singgah
atau lewatnya kendaraan di Miqat sangatlah singkat maka mandi dan membersihkan diri ini bisa
dilakukan dihotel, dan hal inilah yang biasanya dilakukan oleh jamaah umrah zaman sekarang. Dalil
mandi dan membersihkan diri ini adalah hadis Zaid bin Tsabit radhiyallahu'anhu bahwa "Rasulullah
shallallahu'alaihi wasallam melepaskan pakaiannya dan mandi untuk berihram (HR Tirmidzi:
830 dan berkata: hadisnya hasan gharib).

Kedua: Setelah mandi dan membersihkan diri baik diMiqat atau dihotel sewaktu masih di
Madinah (bagi yang ziarah ke Madinah dahulu), maka bagi laki-laki disunatkan untuk memakai dua
helai pakaian ihram berwarna putih. Sebagaimana dalam hadis shahih: Pakailah yang putih dari
pakaian-pakaianmu, karena sesungguhnya itu sebaik-baik pakaianmu. Dan kafanilah orang-orang
matimu dengannya. (HR Abu Dawud: 3878).

Adapun kaum wanita maka dibebaskan untuk memakai pakaian sekehendaknya asal pakaian
tersebut tidak menampakkan aurat, atau bukan merupakan pakaian yang mencolok dan dianggap
berhias. Kaum wanita juga dilarang untuk memakai cadar/penutup wajah dan kaos tangan. Aisyah
radhiyallahu anha berkata: Wanita muhrim memakai dari pakaian apa saja yang dia kehendaki
kecuali pakaian yang terkena wars (tanaman kuning yang dipakai untuk mewarnai kain) atau

www.wahdah.or.id

33

zafaran, dan tidak boleh memakai burqa (sesuatu yang dipakai menutupi wajah sehingga hampir
menutup mata), tidak menutup mulut, dan menjulurkan kain di atas wajahnya jika dia
menginginkan. (HR. Baihaqi:9050, dengan sanad shahih).

Ketiga: Bagi laki-laki disunatkan untuk memakai wewangian dibadannya pada saat memakai
kain ihram, dan tidak boleh memakaikannya pada pakaian ihramnya. Hal ini telah dilakukan oleh
Nabi kita shallallahu'alaihi wasallam sebagaimana dalam hadis Aisyah ia berkata: "Dahulu saya
memberikan wewangian pada (badan) Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dikarenakan ia akan
berihram, itu sebelum ia berniat ihram" (HR Bukhari: 1539 dan Muslim: 1189).

Keempat: Sebelum berniat ihram di Miqat, disunatkan untuk melakukan shalat dua rakaat.
Bila ketika tiba di Miqat bertepatan dengan shalat wajib, maka ia cukup shalat wajib lalu berniat
ihram setelahnya. Namun bila tidak, maka ia hendaknya melakukan shalat dua rakaat sunat untuk
masuk kedalam ihram. Ini sesuai dengan sabda Rasul: "Malam ini, seseorang (malaikat) utusan
dari Rabbku mendatangiku dan berkata: shalatlah pada lembah yang berkah ini (yaitu lembah
Aqiq yang berada di Miqat Dzul-Hulaifah)". (HR Bukhari: 1534)

Kelima: Boleh berniat ihram untuk ibadah umrah ini sejak dihotel, tapi yang lebih utama
adalah berniat ihram ini ketika berada di Miqat dengan menghadap kiblat. Niat ihram di Miqat ini
hendaknya diniatkan dalam hati sembari melafalkan talbiyah pertanda masuk dalam ibadah umrah
secara lisan. Bagi kaum laki-laki disunatkan untuk mengeraskan bacaan talbiyah ini, sedangkan
bagi kaum wanita maka disunatkan untuk mengucapkannya dengan berbisik saja, tanpa mengangkat
suaranya. Talbiyah tersebut adalah: "Labbaika 'Umratan". (Saya memenuhi panggilan-Mu untuk
menunaikan ibadah umrah). Atau "Labbaikallaahumma bi'umratin" (Ya Allah, saya memenuhi
panggilan-Mu untuk menunaikan ibadah umrah).

www.wahdah.or.id

34

Bila ia mencukupkan niat ihram untuk umrah ini dalam hati tanpa mengucapkan talbiyah ini,
maka tidak mengapa. Niat ihram dan ucapan talbiyah ini disunatkan diucapkan ketika sudah berada
diatas kendaraan di Miqat, dan sudah bersiap untuk bertolak menuju Mekah. Dari Ibnu Umar:
"Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengucapkan talbiyah (dan berniat ihram) ketika sudah
berada diatas onta (kendaraannya)". (HR Bukhari: 1515 dan Muslim: 1187).

Seorang yang berniat ihram dibolehkan untuk mensyaratkan niatnya dalam hati dan
mengucapkannya dengan lisan, hal ini dikenal dengan istilah "Al-Isytiraath Fi Al-Ihram" yaitu
meniatkan adanya syarat tertentu dalam niat ihramnya. Caranya adalah berniat dalam hati: "bila
dijalan menuju Mekah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan -seperti sakit keras, kecelakaan atau
lainnya- yang bisa menghalangi saya dari pelaksanaan rangkaian amalan umrah maka pada saat
itulah saya tahallul / keluar dari ihram". Hal ini harusnya diucapkan secara lisan ketika
mengucapkan lafaz talbiyah untuk umrah, yaitu dengan lafaz: "Labbaika 'Umratan, Wa In
Habasani Haabisun, Wa Muhilli Min Haitsu Habastani" ((Ya Allah, saya memenuhi panggilan-Mu
untuk menunaikan ibadah umrah, dan bila ada halangan yang menghalangiku dari amalan-amalan
umrah ini, maka waktu tahallul saya adalah ketika halangan itu Engkau takdirkan atasku).

Dalil dari perkara ini adalah: Aisyah radhiyallahu'anha berkata: Nabi shallallahu'alaihi
wasallam mendatangi Dhuba'ah binti Az-Zubair, maka ia berkata (kepada Nabi): "Wahai Rasulullah,
saya ingin melaksanakan haji namun saya sakit, (apa yang harus saya lakukan) ?, Beliau bersabda:
:
Artinya: "Laksanakanlah haji dan persyaratkanlah (saat berniat): Sesungguhnya waktu
tahallul saya adalah ketika halangan itu Engkau takdirkan atasku". (HR Bukhari: 5089 dan
Muslim: 1207).

www.wahdah.or.id

35

Faedah dari adanya isytirath niat umrah ini adalah bila hal yang tidak diinginkan tersebut
terjadi maka orang tersebut langsung tahallul pada saat itu juga dan boleh mengerjakan laranganlarangan ihram tanpa harus membayar dam/denda tertentu.

Keenam: Dalam perjalanan menuju Mekah, disunatkan untuk memperbanyak talbiyah dan
zikir serta doa baik dalam keadaan berdiri, duduk, bersandar ataupun berbaring. Talbiyah yang
disunatkan dalam perjalanan menuju Mekah adalah talbiyah Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam:


Labaikallaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innalhamda wannimata laka
walmulk, laa syariika laka.

Artinya: Aku memenuhi seruan-Mu Ya Allah, aku memenuhi seruan-Mu, aku memenuhi
seruan-Mu, tidak ada sekutu bagiMu, aku memenuhi seruan-Mu, sesungguhnya segala pujian dan
kenikmatan hanya milikMu demikian juga kekuasaan, tidak ada sekutu bagiMu. (HR Bukhari:
1549).
Bagi kaum laki-laki disunatkan untuk mengeraskan bacaan talbiyah ini, sedangkan bagi kaum
wanita maka disunatkan untuk mengucapkannya dengan berbisik saja, tanpa mengangkat suaranya.
Talbiyah ini hukumnya sunat muakkadah, dan memiliki fadhilah yang besar, yaitu sebagaimana
dalam hadis shahih: "Tidak ada dari orang yang membaca talbiyah ketika sedang membaca
talbiyah kecuali semua benda di sebelah kanan dan kirinya ikut membaca talbiyah, terdiri dari
batu, pohon, bongkahan sehngga menembus bumi disana dan di sana. (HR Tirmidzi: 828, dan
Ibnu Majah: 2921).

www.wahdah.or.id

36

Talbiyah ini hendaknya dibaca sebanyak-banyaknya sampai melihat Ka'bah. Bila jamaah
singgah dihotel terlebih dahulu, maka tetap dianjurkan untuk bertalbiyah, baik dihotel ataupun
menuju Masjidil Haram untuk tawaf, dan dihentikan talbiyahnya ketika melihat Ka'bah.

Setelah tiap kali selesai mengucapkan talbiyah disunatkan bershalawat kepada Nabi
Muhammad shallallahu'alaihi wasallam, serta memohon surga dan ridha Allah dan berlindung
kepada-Nya dari api neraka.9

Ketujuh: Sejak awal niat ihram dari Miqat, seorang jamaah umrah hendaknya harus
memperhatikan larangan-larangan ihram (Mahzdhuraat Ihram) selama beribadah umrah. Laranganlarangan tersebut tidak boleh dilanggar hingga selesai tahallul yang ditandai dengan mencukur atau
memangkas rambut. Pembahasan tentang larangan-larangan ihram akan dibahas pada bahasan
berikut insyaa Allah.

.Dalilnya adalah HR Syafi'i dalam Al-Umm (1/307), dan Daruquthni (2507). Hadisnya dianggap dhoif
oleh Hafidz Ibnu Hajar Al-'Asqalani, namun amalan ini dipraktekkan dan dianggap sebagai sunnah oleh
banyak ulama syafi'iyah dan juga Ibnu Taimiyah (Majmu' Fatawa: 26/115).

www.wahdah.or.id

37

Larangan-Larangan Ihram Dan Dam/Denda Pelanggarannya

Larangan-Larangan Ihram

1) Bagi laki-laki dilarang memakai pakaian yang berjahitan yang melingkungi badan seperti
sarung, celana, kaos tangan/kaki, baju dll.

2) Bagi laki-laki, juga tidak boleh menutup kepalanya dengan topi, peci, serban atau semacamnya.
Dalil poin satu dan dua ini adalah hadis Ibnu Umar radhiyallahu'anhuma, ia berkata: Rasulallah
shallallahu'alaihi wasallam ditanya: Apa yang seharusnya dipakai oleh seorang muhrim. Beliau
bersabda: Orang (laki-laki) yang berihram tidak boleh memakai gamis, tidak boleh memakai
kopiah, tidak boleh memakai celana, tidak boleh memakai serban, tidak boleh memakai khuf
(sepatu) kecuali kalau tidak menemukan sandal maka hendaklah ia memotong khuf itu di
bawah mata kaki. Tidak boleh (memakai) pakaian yang dikenai zafaron dan waros
(wewangian) (HR Bukhari: 5803).

3) Bagi kaum wanita, maka dilarang untuk menutup wajahnya dengan cadar atau semacamnya,
dan memakai kaos tangan. Sebagaimana dalam hadis Ibnu Umar bahwa Rasul shallallahu'alaihi
wasallam bersabda: "Wanita yang sedang ihram tidak boleh menutup mukanya, dan tidak boleh
memakai dua kaos tangan" (HR Bukhari: 1838).
Namun bila seorang wanita bercadar berada pada kondisi dimana ia harus menutup wajahnya;
seperti didekatnya ada kaum laki-laki yang bisa memandangnya, maka ia boleh menutup
wajahnya sesuai kesepakatan ulama. Namun penutup wajah tersebut adalah kain yang
dijulurkan dari atas kepalanya ke wajahnya, bukan dalam bentuk cadar atau burqa' (penutup
wajah yang berlobang dikedua matanya).
www.wahdah.or.id

38

Adapun larangan umum bagi laki-laki dan wanita, maka pada poin 4 10 berikut;

4) Dilarang untuk memakai wewangian baik dibadan ataupun dipakaian, sebagaimana dalam
hadis dilarangan pertama diatas. Kecuali bila masih diawal ihram dan sebelum berniat ihram,
maka laki-laki boleh memakai pakaian pada badan saja bukan pada pakaian ihram (lihat: poin
ketiga dari tatacara ihram).

5) Dilarang mencukur / memangkas rambut atau bulu badan lainnya sebanyak tiga helai atau
lebih. Allah ta'ala berfirman:


Artinya: dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum hadyu sampai di tempat
penyembelihannya (QS Al-Baqarah: 196)
Istilah "sya'run" atau rambut dalam bahasa Arab biasanya ditujukan untuk bulu yang
berjumlah tiga atau lebih.
6)

Dilarang bagi laki-laki dan wanita untuk memakai minyak pada rambut, dan khusus laki-laki
dilarang juga untuk meminyaki jenggot. Hal ini dilarang karena merupakan salah bentuk
bermewah-mewahan dalam memelihara rambut. Adapun pada badan maka tidak mengapa
selama minyak tersebut tidak bercampur dengan wewangian.

7)

Dilarang memotong kuku baik kuku kaki ataupun tangan sebanyak tiga kuku atau lebih.
Dalilnya; karena diqiyaskan (disamakan hukumnya) dengan mencukur rambut.

8) Tidak boleh melangsungkan akad pernikahan, baik sebagai orang yang menikah, atau yang
menikahkan, atau menjadi wakil dalam pernikahan. Dalilnya, dari Utsman radhiyallahu'anhu
www.wahdah.or.id

39

bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:



Artinya: "Orang yang ihram tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan (menjadi wali
atau wakil) dan tidak boleh melamar" (HR Muslim: 1409).
9) Tidak boleh bersetubuh atau melakukan cumbuan (foreplay). Allah ta'ala berfirman:





Artinya: Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan
haji, maka tidak boleh rafats (berbuat cabul), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam
masa mengerjakan haji (QS Al-Baqarah:197)
10) Tidak boleh berburu dan membunuh binatang darat yang liar dan halal dimakan. Allah ta'ala
berfirman:


Artinya: Dan diharamkan atas kamu binatang buruan darat selagi kamu berihram.
(QS Al-Maidah: 96)

Dam Pelanggaran Atas Larangan-Larangan Ihram Diatas

Dam pelanggaran atas larangan-larangan diatas ada beberapa macam, yaitu:

1) Dam untuk pelanggaran berikut:

www.wahdah.or.id

40

-Mencukur atau mencabut atau memangkas tiga helai bulu atau lebih
-Memotong tiga kuku atau lebih
-Memakai minyak rambut
-Memakai pakaian berjahit
-Memakai wewangian pada pakaian atau pada badan setelah niat ihram
-Melakukan cumbuan/foreplay antara suami istri.

Bila melakukan salah satu dari pelanggaran-pelanggaran diatas maka seorang yang ihram wajib
membayar dam atau fidyah dengan memilih salah satu dam atau denda pelanggaran berikut:
-Menyembelih seekor kambing
-Atau Berpuasa tiga hari
-Atau Memberikan makanan pokok pada enam orang fakir miskin, masing-masing setengah
sha' (1,5 liter) makanan pokok berupa beras atau lainnya. Secara keseluruhan ia memberikan: 3
sha' / 9 liter.

Dalil perkara ini adalah firman Allah ta'ala:



Artinya, "Jika ada di antara kamu yang sakit atau mendapat gangguan di kepalanya (lalu ia
bercukur), maka dia wajib membayar fidyah, yaitu: puasa, bersedekah atau berkurban." (QS
Al-Baqarah: 196).

Juga hadis: bahwa seseorang mengadu kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam tentang
gangguan yang ada dikepalanya, maka beliau bersabda: "Cukurlah rambutmu, dan berikanlah
makanan enam sha' pada enam orang miskin atau berpuasalah tiga hari atau sembelihlah satu
ekor kambing" (HR Muslim: 1201).

www.wahdah.or.id

41

2) Dam membunuh binatang liar.

Orang ihram yang membunuh binatang buruan -yang ada tandingannya dengan binatang
peliharaan-, maka fidyahnya adalah salah satu dari tiga hal berikut:
-Menyembelih dan menyedekahkan binatang yang serupa dengan binatang tersebut.
-Atau menaksir harganya dengan uang dan membelikan bahan pangan seharga uang tersebut
seterusnya didistribusikan kepada orang-orang miskin, masing-masing satu mud.
-Atau puasa sejumlah satu mud dari nilai makanan tersebut dengan catatan setiap mud satu
hari.

Orang yang membunuh binatang buruan yang tidak ada tandingannya pada binatang peliharaan,
fidyahnya dapat memilih antara memberi makanan senilai binatang yang terbunuh atau puasa
sejumlah satu mud dari nilai makanan tersebut. Dalil dam jenis ini adalah firman Allah:






Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membunuh hewan buruan,
ketika kamu sedang ihram (haji atau umrah). Barang siapa di antara kamu membunuhnya
dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan
buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang adil di antara kamu sebagai hadyu yang
dibawa ke Ka'bah, atau kaffarat (membayar tebusan) dengan memberi makan kepada orangorang miskin, atau berpuasa, seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, agar dia
merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan

www.wahdah.or.id

42

barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah
Mahaperkasa lagi memiliki (kekuasaan untuk) menyiksa". (QS Al-Maidah: 95).

3) Dam bersetubuh.
Orang ihram yang bersetubuh sebelum menyelesaikan rangkaian amalan umrahnya, maka
umrahnya langsung batal, namun tetap wajib baginya untuk membayar dam satu ekor onta
sesuai kesepakatan ulama. Dam ini diqiyaskan (disamakan hukumnya) dengan bersetubuh
ketika haji karena umrah dan haji merupakan ibadah yang sama-sama memiliki rukun tawaf
dan sai. Ibnul-Mundzir rahimahullah berkata: "Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa
ibadah haji (termasuk umrah) tidaklah fasid (atau batal) dengan melakukan salah satu darinya
(larangan-larangan ihram) pada waktu ihram kecuali jimak (maka ia membuatnya batal)".10

Selain itu, ia juga diwajibkan untuk mengganti ibadah umrahnya tersebut dengan melaksanakan
umrah lagi sesegera mungkin, kalau ia sampai menundanya maka ia berdosa, sebagaimana
yang ditetapkan oleh Khalifah Umar dan Ali radhiyallahu'anhuma11.

10 .Al-Isyraf: 3/200
11 .Lihat: Al-Bayan Fi Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (4/220).

www.wahdah.or.id

43

4) Dam Ihshar.
Dam jenis ini bukan karena adanya pelanggaran terhadap larangan-larangan ihram, namun
karena disebabkan oleh "ihshar" yaitu terhalangi dari menyempurnakan rangkaian amalan
umrah baik karena terjadi peperangan dijalan ke Mekah, atau karena sakit keras atau
kecelakaan. Bila dalam kondisi seperti ini, padahal ia telah niat ihram maka ia dianjurkan untuk
tahallul saja dari umrahnya dengan menyembelih seekor kambing ditempat ia terhalangi
tersebut, serta mencukur atau memangkas rambutnya dengan niat tahallul. Setelah itu ia bisa
melakukan larangan-larangan ihram. Ini sesuai firman Allah ta'ala:

Artinya: jika kamu terkepung (oleh musuh), maka (sembelihlah) korban yang mudah
didapat..(QS. Al-Baqarah: 196)

www.wahdah.or.id

44

Hal-Hal Mubah dan Makruh Dalam Ihram

Perkara yang dibolehkan dalam keadaan ihram banyak sekali, seseorang boleh melakukan apa
saja asal tidak melanggar salah satu dari larangan ihram yang disebutkan diatas. Hanya saja ada
beberapa perkara mubah yang mungkin saja masih menimbulkan keraguan bila dikerjakan, atau
bahkan banyak orang awam yang menganggapnya sebagai larangan ihram, padahal tidak demikian.
Diantara perkara tersebut adalah:

1) Bagi laki-laki dibolehkan menutup wajahnya ketika ihram baik dengan masker, topeng, ataupun
lainnya. Hal ini telah dilakukan oleh Utsman dan Zaid bin Tsabit ketika ihram sebagaimana
diriwayatkan Imam Syafi'i12.

2) Seorang wanita bercadar dibolehkan menutup wajahnya ketika berada pada kondisi dimana ia
harus menutup wajahnya seperti didekatnya ada kaum laki-laki yang bisa memandangnya,
maka ia boleh menutup wajahnya sesuai kesepakatan ulama. Namun penutup wajah tersebut
adalah kain yang dijulurkan dari atas kepalanya ke wajahnya, bukan dalam bentuk cadar atau
burqa' (penutup wajah yang berlobang dikedua mata).
Aisyah radhiyallahu anha berkata: Wanita muhrim memakai dari pakaian apa saja yang dia
kehendaki kecuali pakaian yang terkena wars (tanaman kuning yang dipakai untuk mewarnai
kain) atau zafaran, dan tidak boleh memakai burqu (sesuatu yang dipakai menutupi wajah
sehingga hampir menutup mata), tidak menutup mulut, dan menjulurkan kain di atas wajahnya
jika dia menginginkan. (HR. Baihaqi:9050, dengan sanad shahih).
Juga berkata: Adalah para pengendara melewati kami sedangkan kami bersama Rasulullah
shallallahu'alaihi wasallam dalam keadaan ber-ihram. Jika mereka lewat di samping kami,
12 .Dalam Al-Umm (7/255) dan Baihaqi dalam Al-Kubra (9088), dan atsar ini dinilai shahih oleh Imam
Nawawi dalam Al-Majmu' (7/268).

www.wahdah.or.id

45

maka salah satu diantara kami melabuhkan jilbabnya dari kepalanya agar menutupi
wajahnya. Dan tatkala mereka telah berlalu, kami pun membukanya kembali. (HR Abu Daud:
1833)13

3) Memakai pelembab bibir atau celak yang tidak mengandung parfum atau wewangian, karena ia
adalah jenis minyak yang boleh dioleskan ke tubuh, selama tidak mengandung parfum.

4) Boleh mandi dan membersihkan diri tapi dengan tidak memakai sabun atau sampo atau odol
yang harum atau mengandung wewangian karena ia sama hukumnya dengan minyak yang
mengandung wewangian yang telah dihukumi tidak boleh dipakai oleh orang yang ihram.

5) Memakai kacamata, gelang identitas, jam, ikat pinggang, tas, dan masker penutup hidung dari
debu.

6) Mengganti kain ihram atau mencucinya tapi dengan tanpa sabun yang wangi.

7) Boleh membekam atau dibekam dengan syarat tidak membuat bulu-bulu badan tercabut. Dalam
hadis Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu:

Artinya: "Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam berbekam sedang ia sedang ihram" (HR
Bukhari; 1835).

Adapun diantara hal-hal makruh ketika ihram adalah:

13 .Walaupun hadis ini dhoif, namun kandungan maknanya shahih didukung oleh HR Baihaqi yang
sebelumnya.

www.wahdah.or.id

46

12345-

Melakukan debat,
Memandang wajah istri dengan syahwat,
Menggaruk kepala dengan kuku karena dikhawatirkan bisa membuat rambut tercabut,
Menyisir rambut dan janggut, agar tidak ada bulu yang tercabut.
Makan atau minum ketika tawaf.

www.wahdah.or.id

47

Memasuki Mekah dan Masjidil Haram

Orang yang ihram dengan menjauhi larangan-larangan ihram dan mengetahui hal-hal mubah
selama ihram tersebut, bila tiba di Mekah hendaknya segera bergegas menuju Masjidil Haram
untuk melakukan tawaf, namun tentunya bila singgah terlebih dahulu di hotel untuk istrahat dan
ingin sama-sama dengan rombongan maka sangat dibolehkan. Namun selama belum berada di
Masjidil Haram, ia tetap disunatkan memperbanyak bacaan talbiyah.

Setelah itu ia kemudian menuju Masjidil Haram, ketika memasuki Masjidil Haram, hendaknya
membaca doa masuk Masjid pada umumnya, dan langsung menuju Ka'bah untuk melakukan
tawaf. Ketika melihat Ka'bah,

disunatkan baginya untuk berdoa. Para ulama syafi'iyah

menyatakan bahwa sunat hukumnya berdoa mengangkat tangan ketika melihat Ka'bah dengan
dalil hadis: "Pintu-pintu langit terbuka, dan doa menjadi mustajab pada empat waktu; tatkala
pertemuan dua pasukan (antara kaum muslimin dan kuffar) dalam jihad fi sabilillah, tatkala
turunnya hujan, tatkala shalat, dan tatkala melihat Ka'bah". (HR Thabrani: 7713)14. Sebagian
salaf termasuk Imam Syafi'i rahimahullah menyatakan sunatnya berdoa ketika melihat Ka'bah
ini dengan mambaca beberapa doa, diantaranya yang terkenal adalah doa:

(Allaahumma zid haadzal-baita tasyriifan wa ta'dzhiman wa takriiman wa mahaabatan, wa zid
min syarafihi wa karamihi min man hajjahu aw I'tamarahu tasyriifan wa takriiman wa
ta'dzhiiman wa birran)
Artinya: "Ya Allah tambahkanlah kemulyaan, keagungan, kehormatan dan karisma Bait
(Ka'bah) ini, dan tambahkanlah bagi orang-orang yang telah memulyakan dan
mengagungkannya dari mereka yang melaksanakan Haji dan Umroh kemulyaan, keagungan,
kehormatan dan kebaikannya".15
14 . Walaupun hadis ini dhoif namun sebagian ulama mengamalkannya dan meyakini bahwa matan hadis ini
shahih dan bisa diamalkan.
15 .Lihat: Al-Umm: 2/183. Doa ini sebenarnya merupakan riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu'alaihi

www.wahdah.or.id

48

Bacaan talbiyah selama menuju Masjidil Haram dihentikan tatkala memulai tawaf, baik
memulainya dengan mencium Hajar Aswad, mengusapnya atau memberikan isyarat padanya,
karena Nabi shallallahu'alaihi wasallam berhenti talbiyah ketika mengusap Hajar Aswad
(memulai tawaf)".16

wasallam; hadisnya dhoif karena sanad hadisnya munqathi'/terputus, tapi sebagian salaf tetap melihatnya
sebagai sunnah dan mempraktekkannya. Wallaahu a'lam.
16 .HR Tirmidzi: 919, dan berkata: hadisnya hasan shahih.

www.wahdah.or.id

49

Tawaf

Sebelum melaksanakan tawaf, wajib memeriksa diri terlebih dahulu, apakah sudah berwudhu
atau belum, karena syarat tawaf harus suci dari hadas. Setelahnya segera menuju tempat yang
sejajar dengan Hajar Aswad untuk memulai tawaf dengan menjadikan Ka'bah disebelah kiri.

Juga hendaknya menutup seluruh auratnya karena menutup aurat merupakan syarat sah tawaf
karena tawaf merupakan suatu ibadah seperti shalat yang diwajibkan menutup aurat
didalamnya, lalu berniat dalam hati untuk melakukan ibadah tawaf, dan meniatkannya sematamata ikhlas karena mengharap ridha Allah ta'ala sembari menghadirkan sikap khusyu' dan
ketundukan kepada Allah dalam setiap amalan tawafnya.

Sebelum tawaf juga disunatkan melakukan idhthiba' yaitu berselempang dengan cara
menampakkan pundak kanan agar tidak tertutupi kain ihram. Hal ini telah dilakukan oleh
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam sebagaimana dalam hadis Ibnu Abbas.17

Bila telah tiba di Hajar Aswad atau tempat yang sejajar dengannya, maka bila sanggup
hendaknya mengusap sambil mencium Hajar Aswad18 dan meletakkan dahi padanya masingmasing tiga kali19, bila tidak mampu maka cukup mengusapnya dengan tangan atau tongkat lalu
mencium tangan atau ujung tongkat tersebut 20, dan bila tidak mampu karena banyaknya orang

17 .Dalam Sunan Abi Daud (1889) dengan sanad shahih.


18 .Dalil mengusap sambil mencium Hajar Aswad ini adalah HR Bukhari (1611) dari Ibnu Umar berkata:
"Saya melihat beliau shallallahu'alaihi wasallam mengusapnya (Hajar Aswad) dan menciumnya".
19 .Mencium Hajar Aswad dan meletakkan dahi (bersujud) diatasnya sebanyak tiga kali; merupakan amalan
Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu. (HR Syafi'i: 2/186 dan Baihaqi: 9224, dan dianggap shahih oleh Imam
Nawawi dalam Al-Majmu': 8/33).
20.Dalam Shahih Muslim (1268): Nafi' berkata: Saya melihat Ibnu Umar mengusap Hajar Aswad dengan
tangannya lalu mencium tangannya, lalu berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya sejak saya
melihat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam melakukannya". Juga dalam Shahih Muslim (1275):
Abu Thufail berkata: "Saya melihat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam melakukan tawaf dengan
mengendarai ontanya, beliau mengusap Hajar Aswad dengan tongkatnya lalu mencium tongkat

www.wahdah.or.id

50

maka cukup diberi isyarat dengan mengangkat tangan kanan kearahnya 21 sambil membaca
"Bismillaah, Wallaahu akbaru"22. Lalu disunatkan memulai tawaf ini dengan membaca doa23:

(Bismillaah Wallaahu akbaru, Allahumma iiamanan bika watasdiiqan bikitabika
wawafaa-an biahdika wattibaaan lisunnati nabiyyika Muhammadin shallallaahu alaihi
wasallam).
Artinya : "Ya Allah, aku tawaf ini karena beriman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu
dan memenuhi janji-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad shallallahu'alaihi
wasallam".
Doa diatas yaitu: (Bismillaah Wallaahu akbaru, Allahumma iiamanan bika watasdiiqan
bikitabika wawafaa-an biahdika wattibaaan lisunnati nabiyyika Muhammadin shallallaahu
alaihi wasallam), disunatkan untuk dibaca setiap kali melewati Hajar Aswad.
Setelahnya ia segera mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali putaran. Putarannya bermula dari
arah Hajar Aswad dan berakhir padanya juga. Dalam tujuh putaran ini ia disunatkan tidak
berhenti untuk istrahat, atau makan atau minum, karena ia sedang berada dalam proses ibadah
dan munajat kepada Allah ta'ala, namun kalau seseorang perlu untuk itu, maka hukumnya
boleh.

tersebut".
21 .Memberikan isyarat ini telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam sebagaimana dalam
HR Bukhari (1632)
22 .Doa ini diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu'anhuma bahwa ia membacanya tatkala mengusap
Hajar Aswad. HR Ahmad: 4628, dan hadis ini dihukumi shahih oleh Ibnu Hajar dalam At-Talkhis: 2/537.
23 .Doa ini diriwayatkan oleh Thabarani dalam Al-Awsath: 492, 5486, dan Baihaqi: 9252, dari beberapa
sahabat Nabi seperti Ali, dan Ibnu Umar radhiyallahu'anhuma. Doa ini telah disunatkan pengucapannya
oleh jumhur ulama, serta disebutkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dan beliau menyatakan bahwa ia
merupakan doa yang masyhur dari para sahabat. (lihat: Majmu' Fatawa: 26/121).

www.wahdah.or.id

51

Pada 3 tawaf pertama disunatkan bagi laki-laki untuk melakukan tawaf dengan berlari-lari kecil
(Raml), bila tidak sanggup karena banyaknya orang maka cukup berjalan biasa saja. Adapun
pada 4 tawaf terakhir maka tetap disunatkan untuk berjalan biasa. Inilah yang dilakukan oleh
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam tatkala tawaf umrah.24

Dalam tawaf ini sangat dianjurkan untuk banyak berzikir, membaca Al-Quran dan banyak berdoa
kepada Allah dengan doa apapun, baik dengan doa berbahasa arab maupun yang berbahasa
Indonesia. Namun tentunya doa yang paling utama adalah doa yang seringkali diucapkan oleh
Nabi kita shallallahu'alaihi wasallam, dan berdoa dalam tawaf ini lebih utama daripada
membaca Al-Quran dan berzikir.

Setiap melewati Rukun Yamani yaitu sudut Ka'bah yang terletak sebelum sudut tempat Hajar
Aswad, maka disunatkan untuk mengusap Rukun Yamani tersebut, lalu mencium tangan yang
digunakan mengusap tersebut. Bila tidak sanggup karena banyak orang, maka silahkan lewati
saja tanpa harus memberinya isyarat tertentu. Ibnu Umar radhiyallahu'anhuma berkata: "Saya
tidak mendapati Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengusap (rukun) Ka'bah kecuali dua
rukun (yaitu Rukun Hajar Aswad dan Rukun Yamani)".25

Setiap kali berada diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad disunatkan memperbanyak doa:

(Rabbana aatina fiddunyaa hasanah, wafil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaabannaar)
Artinya: Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di
akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.
24 . HR Bukhar: 1644 dan Muslim: 1218
25 .HR Bukhari: 1609

www.wahdah.or.id

52

Setiap kali melewati Hajar Aswad atau tempat yang sejajar dengannya, maka disunatkan untuk
menciumnya, bila tidak mampu maka cukup menyentuhnya dengan tangan, dan bila tidak
mampu karena banyaknya orang maka cukup diberi isyarat dengan mengangkat tangan kanan
kearahnya sambil membaca doa: (Bismillaah Wallaahu akbaru, Allahumma iiamanan bika
watasdiiqan bikitabika wawafaa-an biahdika wattibaaan lisunnati nabiyyika Muhammadin
shallallaahu alaihi wasallam).
Orang yang tawaf juga diharapkan selalu menghitung jumlah tawaf yang telah ia lakukan agar
tawafnya tidak kurang atau lebih, bila dalam tawafnya ia mengalami keraguan pada jumlah
tawafnya, maka hendaknya meyakini jumlah yang lebih sedikit. Misalnya ragu apakah
tawafnya sudah empat atau lima, maka hendaknya langsung meyakini bahwa tawafnya masih
empat, dan seterusnya.

Pada akhir putaran ketujuh, saat tiba di Hajar Aswad maka tidak perlu memberikan isyarat
padanya, tetapi langsung saja keluar dari Tawaf. Bagi laki-laki maka sudah harus menutup
kembali pundaknya dengan kain ihram seperti biasanya.

Bila ditengah tawaf shalat wajib didirikan, maka harus segera berhenti terlebih dahulu untuk
shalat wajib, setelahnya baru melanjutkan tawafnya yang tersisa, dan tidak memulai tawaf lagi
dari awal.

www.wahdah.or.id

53

Shalat Sunat Thawaf

Setelah tawaf, disunatkan shalat sunat dua rakaat dibelakang Maqam Ibrahim walaupun agak jauh
darinya. Ini sesuai firman Allah:


Artinya: "Dan jadikanlah sebagian dari makam Ibrahim menjadi tempat sembahyang." (QS
Al-Baqarah: 125).

Bila sulit mengerjakannya dibelakang Maqam Ibrahim dikarenakan banyaknya orang, maka
hendaknya shalat ditempat mana saja dalam Masjidil Haram. Tatacara shalat sunat tawaf ini
adalah seperti shalat sunat pada umumnnya, hanya saja diniatkan bahwa shalat ini adalah shalat
dua rakaat thawaf, serta disunatkan untuk membaca surat Al-fatihan dan Al-Kafirun pada rakaat
pertama dan surat Al-fatihah dan Al-Ikhlas pada rakaat kedua26.
Bila shalat tawaf ini terlupakan sehingga tidak dikerjakan, maka boleh dikerjakan kapan saja
dan dimana saja bila telah mengingatnya.27

Setelah shalat sunat tawaf ini, disunatkan untuk berdoa memohon kepada Allah tentang kebaikan
dunia dan akhirat28, kemudian beranjak untuk meneguk air zam-zam dan membasahi kepala
dengannya, sebagaimana yang juga dilakukan oleh Nabi kita shallallahu'alaihi wasallam29.

26 .Dalil bacaan shalat sunat tawaf ini ada dalam HR Muslim: 1218, dari sahabat Jabir radhiyallahu'anhu.
27 .Lihat: Fathul-Bari: 3/487
28 .Adapun mazhab kebanyakan ulama adalah tidak berdoa setelah shalat sunat tawaf karena Rasulullah
shallallahu'alaihi wasallam tidak melakukannya, melainkan langsung menuju Hajar Aswad setelahnya.
Akan tetapi bila seseorang berdoa karena doa itu disunatkan kapan dan dimana saja, maka tidak mengapa
insyaa Allah. Wallaahu a'lam.
29 .Hadisnya dalam Shahih Muslim: 1218

www.wahdah.or.id

54

Lalu menuju Hajar Aswad untuk menciumnya atau mengusapnya bila mampu 30. Jika tidak
mampu karena banyaknya orang, maka langsung saja menuju Mas'aa atau tempat sai untuk
melakukan sai.

30 . Hadisnya dalam Shahih Muslim: 1218

www.wahdah.or.id

55

Sai Antara Shafa dan Marwah

Sebelum menaiki bukit Shafa hendaknya kembali berwudhu bila wudhunya telah batal, namun
hal ini hanya disunatkan karena sai tanpa berwudhu itu hukumnya boleh sesuai kesepakatan
para ulama dan merupakan pendapat para sahabat secara umum termasuk Ibnu Umar, Aisyah
dan Ummu Salamah31. Alasannya karena sai adalah suatu ibadah tersendiri yang tak berkaitan
dengan Ka'bah secara langsung.
Ketika sedang menaiki bukit Shafa hendaknya membaca:

(Inna Ash-Shafa Wal Marwata Min Sya'aairillaah).
Artinya: "Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah". (QS AlBaqarah; 158).

Lalu bila tiba diatas Shafa, menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan sembari banyak
memuji Allah ta'ala, dan disunatkan membaca doa Rasulullah dibawah ini32:
, , ,



(Allaahu akbaru, Allaahu akbar, Allaahu akbar, Laailaaha illallaahu wahdahu laa
syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai-in qadiir,
laailaahaillallaahu wahdahu anjaza wa'dahu wa nashara 'abdahu wa hazamal ahzaaba
wahdahu)
Artinya: " Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan yang

31 .Lihat: Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: 14386, dan 14397.


32 .Doa ini ada dalam HR Muslim: 1218

www.wahdah.or.id

56

berhak disembah kecuali Allah dengan keesaanNya, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan,
dan segala pujian, dan Allah menguasai segala sesuatu. Tiada Tuhan yang berhak disembah
kecuali Allah dengan keesaanNya, Dia telah membuktikan janjiNya, menolong hambaNya dan
mengalahkan musuhNya dengan keesaanNya".
Doa ini hendaknya dibaca tiga kali, diselingi dengan membaca doa-doa lain
sekehendaknya33. Bila membacanya kurang dari tiga kali maka tidak apa-apa.

Setelahnya, turun dari Shafa lalu melakukan sai umrah sebanyak tujuh kali sai. Putaran sai dari
Shafa ke Marwah terhitung putaran pertama, dan putaran sai dari Marwah ke Shafa terhitung
putaran kedua, dan seterusnya hingga putaran sai ketujuh yang berakhir di Marwah.

Dalam perjalanan sai, disetiap mendapati dua tanda lampu berwarna hijau hendaknya bagi lakilaki berlari-lari kecil, dan hanya berjalan biasa saja pada sebelum atau setelah jarak yang
memiliki tanda lampu hijau tersebut hingga sampai di Marwah dan menaikinya34.

Bila tiba di Marwah, hendaknya menaiki Marwah lalu menghadap kiblat dan berdoa
sebagaimana tatacara doa dan lafaz doa yang dilakukan diatas Shafa sebelumnya.

Dalam sai tidak diwajibkan adanya zikir atau bacaan tertentu, namun orang yang tawaf atau sai
hendaknya membaca doa, atau zikir apa saja, atau membaca Al-Quran. Tentunya sambil
memperhatikan adanya doa-doa atau zikir sunat yang bersumber dari Nabi shallallahu'alaihi
wasallam sebagaimana yang disebutkan diatas. Diantara doa yang disunatkan adalah doa Ibnu
Mas'ud dan Ibnu Umar radhiyallahu'anhuma35:

33 .Berdoa dengan doa yang kita kehendaki disunatkan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam
sebagaimana beliau lakukan dalam HR Muslim: 1218 dan 1780.
34 .Dalam HR Muslim: 1218
35 .HR Ibnu Abi Syaibah: 15565 dan 15570, dengan sanad shahih.

www.wahdah.or.id

57

(Rabbighfir warham wa antal-a'azzul akram)


Artinya: Wahai Rabb kami ampunilah dan rahmatilah

(kami), krn sesungguhnya

Engkaulah Yang Maha Teragung dan Termulia.


Tujuh putaran sai disunatkan dilakukan berturut-turut tanpa diselingi istrahat yang panjang, sebab
ini adalah ibadah yang mestinya dilakukan dengan penuh khusyu' dan ketundukan kepada Allah
ta'ala. Namun apabila perlu istrahat, makan atau minum maka tidak apa-apa.

Setelah putaran terakhir selesai yaitu di Marwah, maka tidak disunatkan berdoa, namun cukup
melewati Marwah saja, dan kemudian keluar dari Masjid untuk mencukur atau memangkas
rambut. Wallaahu a'lam.

www.wahdah.or.id

58

Tahallul Dengan Mencukur / Memangkas Rambut

Bila telah menyelesaikan sai, maka sudah waktunya mencukur rambut, atau memangkasnya
untuk tahallul (keluar dari ibadah umrah) yang setelahnya dibolehkan melakukan laranganlarangan ihram. Yang paling utama adalah mencukur atau memangkas seluruh rambut yang
tumbuh dikepala tanpa terkecuali, dan batas minimal kebolehannya/sahnya adalah memotong
tiga helai rambut.

Yang paling utama adalah mencukur rambut secara keseluruhan, karena Nabi telah mendoakan
rahmat atas mereka sebanyak tiga kali, dan hanya satu kali mendoakan rahmat bagi mereka
yang memangkasnya: Dari Ibnu Umar: "Bahwasanya Rsulullah sallallahu alaihi wasallam
bersabda: Ya Allah rahmatilah orang yang mencukur kepalanya . Mereka berkata : Dan
orang yang memendekkan juga wahai Rosulullah ! beliau bersabda : Ya Allah rahmatilah
orang yang mencukur rambutnya . Mereka berkata : Dan orang yang memendekkan juga
wahai rosulullah ! beliau bersabda : Ya Allah, rahmatilah orang yang mencukur rambutnya
. Mereka berkata : Dan yang memendekkan juga wahai Rosulullah ! beliau bersabda : dan
yang memendekkannya juga . (HR Bukhari: 1727 dan Muslim: 1301).

Bila menggunting atau mencukur tiga helai rambut maka telah dianggap sah, dan ia bisa tahallul
yaitu keluar dari ibadah umrah, serta halal untuk melakukan larangan-larangan ihram. 36

36 .Mazhab yang empat telah sepakat bahwa yang paling utama adalah mencukur atau memangkas seluruh
bagian rambut, namun mereka berbeda pendapat pada minimal sahnya memangkas rambut ini, Mazhab
Hanafiyah berpendapat batas minimal sahnya adalah mencukur/memangkas seperempat rambut kepala,
bila kurang dari itu maka tidak sah. Adapun Mazhab Maliki dan Mazhab Hanbali, maka mereka
mewajibkan mencukur/memangkas seluruh rambut kepala tanpa terkecuali dengan dalil adanya perintah
mencukur/memangkas secara mutlak tanpa membatasi sebagiannya. Tentunya pendapat
memangkas/mencukur seluruh rambut ini harusnya dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian dalam
beribadah agar bisa mendapatkan pahala umrah secara sempurna, Wallaahu a'lam.

www.wahdah.or.id

59

Sedangkan orang yang botak atau tidak tumbuh rambutnya sama sekali, maka ia disunatkan
menyentuhkan pisau cukur atau silet cukur pada kepalanya sesuai pendapat banyak ulama37.

Adapun kaum wanita maka hanya memangkas rambutnya, minimal tiga helai sepanjang atau
seukuran ruas jari atau sekitar itu, namun yang lebih utama adalah memangkas seluruh
rambutnya, dengan cara mengumpulkan seluruh rambutnya lalu dipangkas sepanjang ukuran
ruas jari atau kurang darinya38. Wallaahu a'lam.

Dengan mencukur atau memangkas rambut ini maka telah selesailah rangkaian amalan umrah,
dan sudah dibolehkan untuk melakukan larangan-larangan ihram yang sebelumnya diharamkan
bagi orang yang ihram.

37 .Lihat: Al-Majmu': 8/212


38 . Memangkas rambut wanita seukuran ruas jari ini diriwayatkan dari perkataan Ibnu Umar
radhiyallahu'anhu dalam Al-Mushannaf; 12909.

www.wahdah.or.id

60

Refleksi Umrah Dalam Kehidupan39

Umrah adalah salah satu proses tarbiyah (pembinaan) yang mengajarkan dan membentuk nilai-nilai
luhur dalam kehidupan seorang muslim. Seorang muslim yang cerdas akan berusaha mencermati
nilai dan norma tersebut serta berupaya dengan gigih untuk merefleksikannya dalam kehidupan
sehari-hari. Diantara beberapa nilai yang ditanamkan oleh ibadah umrah bagi kaum muslimin
adalah:

Pertama: Umrah membina kaum muslimin untuk menjadi pribadi yang tangguh dalam keimanan
dan tauhid. Bagaimana tidak? Kalimat talbiyah yang senantiasa dikumandangkan saat berihram
adalah esensi dari tauhid dan inti dari keimanan kepada Allah, kalimat talbiyah memiliki makna
yang sangat agung dan akan menggoreskan pengaruh yang sangat dalam bagi yang mencermatinya:


Labaikallaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innalhamda wannimata laka
walmulk, laa syariika laka.
Aku memenuhi seruan-Mu Ya Allah, aku memenuhi seruan-Mu, aku memenuhi seruan-Mu, tidak
ada sekutu bagiMu, aku memenuhi seruan-Mu, sesungguhnya segala pujian dan kenikmatan hanya
milikMu demikian juga kekuasaan, tidak ada sekutu bagiMu.

Inilah makna yang sangat agung bagi kalimat talbiyah yang berkonsekwensi menjadi hamba yang
bertauhid secara mutlak dengan melaksanakan segala jenis ibadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.

39 .Tulisan Ustadz Lukman Hakim. Lc di Buku "Ketika Tanah Suci Berbicara": hal. 92-94

www.wahdah.or.id

61

Kedua: tawaf merupakan cerminan dari kepatuhandan ketundukan yang total kepada Allah Azza
wa Jalla, proses mengitari Ka'bah tujuh kali tanpa mengetahui hikmah dibaliknya merupakan tanda
ketaatan dan keimanan kepada Allah. Hal ini mengajarkan sifat seorang muslim sejati ketika
dihadapkan pada perintah dan larangan dari Allah, hendaknya ia patuh dan taat pada perintah dan
larangan tersebut kendati tidak mengetahui hikmah dan manfaat dibalik itu semua, Allah berfirman:






Artinya : "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mu'min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka
pilihan (yang lain) tentang urusan mereka" (QS Al-Ahzab: 36).

Ketiga: Putihnya pakaian ihram hendaknya mengingatkan kita akan pentingnya kesucian hati dari
kegelapan syirik dan kekelaman amalan yang tidak memiliki dasar dalam syariah. Menyadarkan
kita akan pentingnya kebersihan lisan dari ucapan kotor dan keji, serta kemurnian akhlak dan sikap
kita dari tabiat yang tercela. Selain itu, warna putih merupakan warna kain kafan yang akan
menyelimuti kita ketika wafat. Setinggi apapun jabatan yang disandang, sepanjang apapun pangkat
yang disematkan, sebanyak apapun harta yang dikumpulkan, pada akhirnya ia akan diselimuti
dengan sehelai kain putih ketika meninggal dunia. Pakaian ihram seharusnya mengkondisikan
untuk memperbanyak mengingat kematian yang akan lebih mengokohkan keimanan dan
menguatkan ketakwaan.

Keempat: Proses Sai antara dua bukit Shafa dan Marwah, adalah napak tilas peri kehidupan ibunda
Nabi Ismail ketika mencari air untuk sang putera tercinta. Sai bukan bentuk nostalgia "cengeng"
dengan sejarah, namun ibadah ini mendiktekan sebuah pelajaran kepada seoran muslim yang ingin

www.wahdah.or.id

62

menggapai tingginya cita-cita ; sikap gigih dan pantang menyerah dalam upaya merealisasikan citacita nam tinggi, yang selanjutnya disempurnakan dengan hiasan tawakkal kepada Allah subahanahu
wata'ala.

www.wahdah.or.id

63

Daftar Pustaka

1. Asnaa Al-Mathaalib Fi Syarhi Raudhah Al-Thalib ; Syaikh Al-Islam Zakarya bin Muhammad
Al-Anshari (926 H), Dar Al-Kitab Al-Islami.
2. Al-Bayan Fi Madzhab Al-Imam Al-Syafi'I ; Al-Allamah Abu Al-Husain Al-'Imrani (558 H),
Dar Al-Minhaj, Jeddah, 2000 M.
3. Fathu Al-'Aziz bi Syarhi Al-Wajiz, Al-Imam Abdul-Karim bin Muhammad Al-Raafi'I (623 H),
Dar Al-Fikr, Beirut.
4. Fath Al-Bari Fi Syarhi Shahih Al-Bukhari ; Al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar Al-'Asqalani
(852 H), Dar Al-Ma'rifah, Beirut, 1379 H.
5. Fiqh Islam, KH Sulaiman Rasjid (1976 M), Sinar Baru Algensindo, Bandung, cet. 52, 2012 M.
6. Haasyiyah Al-Bajuri Ala Ibni Qasim Al-Ghazzi : Al-'Allamah Ibrahim Al-Bajuri (1277 H/1860
M), Dar Al-Ihya' Turats Al-'Arabi, Beirut, cet.1, 1996 M.
7. Al-Idhah Fi Manasik Al-Hajj Wa Al-'Umrah ; Al-Imam Yahya bin Syarf Al-Nawawi (676 H),
Dar Al-Basyair Al-Islamiyah, Beirut, cet.2, 1994 M.
8. Irwa' Al-Ghalil Fi Takhriij Ahaadits Manar Al-Sabil : Al-'Allamah Muhammad Nashiruddin AlAlbani (1420 H), Al-Maktab Al-Islami, Beirut, cet. 2, 1985 M.
9. Al-Isyraf 'Ala Madzaahib Al-'Ulamaa' ; Al-Imam Abu Bakr Muhammad Ibn Al-Mundzir (319
M), Maktabah Makkah Al-Tsaqafiyah, UEA, 2004 M.
10. Jami' Al-Tirmidzi : Al-Imam Muhammad bin 'Isa Al-Tirmidzi (279 M), Mushthafa Al-Baabi
Al-Halabi, Mesir, cet.2, 1975 M.
11. Ketika Tanah Suci Berbicara: Tim Ilmiyah Markaz Inayah Riyadh, Maktab Jaaliyah Naseem,
Kota Riyadh Arab Saudi, cet.2, 2015 M.
12. Majmu' Al-Fatawa ; Syaikh Al-Islam Ahmad bin Abdil-Halim Ibnu Taimiyah (728 H),
Mujamma' Al-Malik Fahd, Madinah Munawwarah, cet.3, 2005 M.
13. Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab : Al-Imam Yahya bin Syarf Al-Nawawi (676 H), Dar AlFikr.
14. Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim bin Al-Hajjaj ; Al-Imam Yahya bin Syarf Al-Nawawi (676
H), Dar Al-Ihya' Turats Al-'Arabi, Beirut, 1392 H.
15. Al-Mughni ; Al-Imam Muwaffaq Al-Din Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad Ibnu Qudamah
Al-Maqdisi (620 H), Maktabah Al-Qahirah, Kairo, 1968 M.
16. Al-Mughni Fi Fiqh Al-Hajj wa Al-'Umrah : Syaikh Dr. Sa'id bin Abdul-Qadir Ba Syanqar, Dar
Ibnu Hazm, cet.10, 2006 M.
www.wahdah.or.id

64

17. Mughni Al-Muhtaaj : Al-'Allamah Muhammad bin Ahmad Al-Khathib Al-Syarbini (977 H),
Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyah, Beirut, cet.1, 1994 M.
18. Mukhtashar Al-Muzani : Al-Imam Ismail bin Yahya Al-Muzani (264 H), Dar Al-Ma'rifah,
Beirut, cet.1, 1990 M.
19. Mushannaf AbdurRazzaq : Al-Imam AbdurRazaq bin Humam Al-Shan'ani (211 H), Al-Maktab
Al-Islami, Beirut, cet.1, 1403 H.
20. Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: Al-Imam Abu Bakr Abdullah bin Muhammad Ibnu Abi Syaibah
Al-'Absi (236 H), Maktabah Al-Rusyd, Riyadh, cet.1,1409 H
21. Al-Mustadrak 'Ala Al-Shahihain; Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah Ibn AlBayyi' Al-Hakim (405 H), Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyah, Beirut, cet.1, 1990 M.
22. Al-Mu'jam Al-Kabir; Al-Imam Sulaiman bin Ahmad Al-Thabarani (360 H), Maktabah Ibnu
Taimiyah, Kairo, cet.2, 1994 M.
23. Al-Mu'jam Al-Awsath ; Al-Imam Sulaiman bin Ahmad Al-Thabarani (360 H), Dar AlHaramain, Kairo.
24. Nihaayah Al-Muhtaaj ; Al-'Allamah Syamsuddin Muhammad Al-Ramli (1004 H), Dar Al-Fikr,
Beirut, 1984 M.
25. Raudhah Al-Thalibin ; Al-Imam Yahya bin Syarf Al-Nawawi (676 H), Al-Maktab Al-Islami,
Beirut, cet.3, 1991 M.
26. Shahih Bukhari ; Al-Imam Syaikh Al-Islam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari
(256 H), Dar Thauq Al-Najah, cet.1, 1422 H.
27. Shahih Ibnu Hibban : Al-Imam Abu Hatim Muhammad bin Hibban Al-Busti (354 H), AlRisalah, Beirut, cet.3, 1993 M.
28. Shahih Ibnu Khuzaimah ; Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin Ishaq Ibnu Khuzaimah AlNaisaburi (311 H), Al-Maktab Al-Islami, Beirut.
29. Shahih Muslim ; Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj Al-Naisaburi (261 H), Dar Ihya' Al-Turats
Al-'Arabi, Beirut.
30. Silsilah Al-Ahaadits Al-Shahihah ; Al-'Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani (1420 H),
Maktabah Al-Ma'arif, Riyadh, 2002 M.
31. Sunan Abu Daud ; Al-Imam Abu Daud Sulaiman bin Al-Asy'ats Al-Sijistani (275 H), AlRisalah, Beirut, cet.1, 2009 M.
32. Sunan Al-Daruquthni ; Al-Imam Abu Al-Hasan Ali bin Umar Al-Daruquthni (385 H), AlRisalah, Beirut, cet.1, 2004 M.
33. Sunan Ibnu Majah ; Al-Imam Muhammab bin Yazid Ibnu Majah Al-Qazwaini (273 M), Al-

www.wahdah.or.id

65

Risalah, 2009 M.
34. Sunan Al-Nasai ; Al-Imam Abu AbdurRahman Ahmad bin Syu'aib Al-Nasai (303 H), Maktabah
Al-Mathbu'ah Al-Islamiyah, Halb, cet.2, 1986 M.
35. Al-Sunan Al-Kubra ; Al-Imam Abu Bakr Ahmad bin Al-Hasan Al-Baihaqi (458 H), Dar AlKutub Al-'Ilmiyah, Beirut, cet.3, 2003 M.
36. Al-Talkhis Al-Habir ; Al-Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar Al-'Asqalani, Dar Al-Kutub
Al-'Ilmiyah, cet.1, 1989 M.
37. Al-Umm : Al-Imam Al-Kabir Abu Abdillah Muhammad bin Idris Al-Syafi'i (204 H), Dar AlMa'rifah, Beirut, 1990 M.

www.wahdah.or.id

66

Wahdah Islamiyah adalah sebuah Organisasi Massa (Ormas) Islam yang mendasarkan
pemahaman dan amaliyahnya pada Al Quran dan As Sunnah sesuai pemahaman As Salaf Ash-Shalih
(Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah). Organisasi ini bergerak di bidang dawah, pendidikan, sosial,
kewanitaan, informasi, kesehatan dan lingkungan hidup.

1.
2.

MISI
Menegakkan syiar Islam dan menyebarkan pemahaman Islam yang benar.
Membangun persatuan umat dan ukhuwah Islamiyah yang dilandasi semangat taawun
(kerjasama) dan tanashuh (saling menasehati).

3. Mewujudkan institusi/lembaga pendidikan dan ekonomi yang Islami dan berkualitas.


4. Membentuk generasi Islam yang Rabbani dan menjadi pelopor dalam berbagai bidang
kehidupan.

www.wahdah.or.id

67