Anda di halaman 1dari 24

TUGAS PERANCANGAN PABRIK KIMIA

PRA RANCANGAN PABRIK


ETHYLENE OXIDE DARI ETHYLENE DENGAN PROSES
OKSIDASI LANGSUNG DENGAN UDARA
KAPASITAS 57.000 TON PER TAHUN

Oleh :
Nama : Mohamad Rohman
Nama : Muhammad Fahmi Sihab

NIM : 5213413021
NIM : 5213413077

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara berkembang, dalam upaya nya
menuju negara maju di segala bidang, Indonesia harus mampu bersaing
dengan negara-negara industri lain di dunia secara kualitas maupun
kuantitas. Peningkatan tersebut juga terjadi pada industri kimia. Seiring
dengan perkembangan zaman, kebutuhan akan bahan-bahan kimia

Bab 1 Pendahuluan

semakin besar sehingga pembangunan industri kimia perlu untuk


ditumbuh kembangkan. Salah satu bahan kimia yang banyak digunakan
adalah etilen oksida (C2H4O) . Bahan kimia yang juga dikenal sebagai
epoksietan atau oxirane ini banyak digunakan dalam industri kimia dan
farmasi , serta di produksi dari etilen (C2H4) sebagai bahan utamanya.
Kebutuhan etilen oksida (C2H4O) akhir-akhir ini meningkat karena
didirikannya pabrik etilen glycol di kawasan industri Merak. Penggunaan
etilen oksida selain sebagai bahan baku etilen glycol adalah sebagai bahan
insektisida, bahan intermediate pembuatan etanol amine, glycol eter dan
poly etilen oksida. (Kirk and Othmer, 1979) . Bahan baku pembuatan
etilen oksida adalah etilen. Dengan beroperasinya pabrik etilen Chandra
Asri di Merak maka kebutuhan etilen akan mudah diperoleh dan lebih
murah . Keuntungan dengan didirikannya pabrik etilen oksida dapat
mpertumbuhan industri hilir dan membuka lapangan kerja bagi
masyarakat. Beberapa keuntungan dari didirikannya pabrik Etilen Oksida
diantaranya:
1. Menambah pendapatan negara dengan adanya pajak dan
kemungkinan untuk ekspor produk.
2. Terciptanya lapangan pekerjaan, yang berarti akan mengurangi
pengangguran.
3. Memacu
pertumbuhan
1.2

industri-industri

baru

yang

menggunakan bahan baku etilen oksida.


Pemilihan Lokasi Pabrik (Plant Location)
Secara geografis, penentuan lokasi pabrik sangat menentukan
kemajuan serta kelangsungan dari suatu industri baik saat ini maupun
masa yang akan datang. Lokasi berpengaruh terhadap faktor produksi dan
distribusi dari pabrik yang didirikan. Pemilihan lokasi pabrik harus tepat
berdasarkan perhitungan biaya produksi dan distribusi yang minimal serta
pertimbangan sosiologi dan budaya masyarakat di sekitar lokasi pabrik
(Peters et. al., 2004).
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka Pabrik Pabrik etilen
oksida direncanakan didirikan di Kawasan Industri Cilegon, tepatnya di
Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC), Jalan Raya Anyer, Cilegon,

Bab 1 Pendahuluan

Banten. Pemilihan ini dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan baik


secara teknis maupun ekonomis, berdasarkan pertimbangan :

Bab 1 Pendahuluan

1.

Faktor Utama
Faktor ini mempengaruhi secara langsung tujuan utama pabrik
yang meliputi produksi dan distribusi produk. Faktor utama ini meliputi

:
a. Penyediaan Bahan Baku
Bahan baku merupakan kebutuhan utama bagi kelangsungan
produksi suatu pabrik sehingga penyediaan bahan baku sangat
diprioritaskan. Bahan baku etilen direncanakan diperoleh dari PT.
Chandra Asri Petrochemical Center yang terletak di kawasan industri
Cilegon, sedangkan udara di peroleh sekitar pabrik. Dengan letak antara
pabrik dengan bahan baku yang dekat, maka diharapkan penyediaan
bahan baku dapat tercukupi dengan lancar.
b. Letak Pabrik Dengan Daerah Pemasaran
Pabrik etilen oksida terutama ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
dalam negeri. Karena sebagian besar industri di Indonesia masih terpusat
di pulau Jawa, maka pasar potensial adalah pulau Jawa. Hal ini didukung
dengan adanya beberapa industri etilen glikol yang memerlukan bahan
baku Etilen Oksida, seperti PT. Prima Ethycolindo dan PT. Yasa Ganesha
Putra di daerah Merak, yang berjarak tidak jauh dari lokasi pabrik.
c. Sarana Tranportasi
Cilegon berada dalam jalur transportasi Merak-Jakarta, yang
merupakan pintu gerbang pulau Jawa dari Sumatera. Kawasan Industri
KIEC ini juga telah memiliki fasilitas jalan kelas satu, dengan demikian
transportasi darat dari sumber bahan baku, dan pasar tidak lagi menjadi
masalah
d. Tenaga Kerja
Pulau Jawa, khususnya provinsi Banten merupakan daerah dengan
kepadatan penduduk yang cukup tinggi sehingga penyediaan tenaga
kerja, baik tenaga kerja terlatih maupun kasar tidak akan menjadi
masalah. Selain itu penyediaan tenaga ahli juga akan lebih mudah karena
berdekatan dengan ibu kota negara
e. Utilitas

Bab 1 Pendahuluan

Kebutuhan sarana penunjang seperti listrik dapat dipenuhi dengan


adanya transmisi dari PLN unit Suralaya sebesar 3000 MW dan dengan
cadangan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dimiliki oleh
Grup Krakatau Steel, sedangkan air dapat diperoleh dari Water Treatment
Plant pihak pengelola KIEC, sebesar 2000 liter/detik. 1 Selain dapat pula
2.

diperoleh dari sumber air tanah.


Faktor Penunjang
a. Kondisi Tanah dan Daerah
Kondisi tanah relatif masih luas dengan struktur tanah yang
kuat dan datar. Sejak awal areal ini memang direncanakan sebagai
kawasan industri, sehingga tanah di sekitarnya cukup stabil. Dengan
didukung iklim yang stabil sepanjang tahun, tentunya pemilihan lokasi di
tempat ini akan sangat menguntungkan.

b. Perluasan Areal Pabrik


KIEC memiliki areal kosong seluas 3300 hektar. Dengan areal
yang luas ini, maka masih memungkinkan untuk memperluas areal
pabrik dimasa yang akan datang jika diinginkan.
c. Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah, khususnya perhatian pemerintah daerah
Banten terhadap industri cukup baik. Hal ini ditandai dengan
kebijaksanaan pengembangan industri dalam hubungannya dengan
pemerataan kesempatan kerja dan hasil-hasil pembangunan yang berhasil
menumbuhkan iklim investasi yang baik di Banten.
d. Sarana Penunjang Lain
KIEC sebagai kawasan industri telah memiliki fasilitas terpadu
seperti perumahan, rumah sakit, sarana olah raga dan rekreasi, sarana
kesehatan, dan sebagainya. Sehingga walaupun perusahaan nantinya
harus membangun fasilitas-fasilitas untuk karyawannya sendiri, namun
beban perusahaan untuk membangun sarana penunjang jauh lebih rendah
1

KIEC Web Site( http://www.kiec.com/)

Bab 1 Pendahuluan

dibanding membangun di kawasan tersendiri. Selain itu jaringan telepon,


drainase dan keamanan juga telah disediakan oleh pihak pengelola KIEC

Kawasan Industri Cilegon, tepatnya


di Krakatau Industrial Estate
Cilegon (KIEC), Jalan Raya Anyer,
Cilegon, Banten

Gambar 1.1 Pemilihan Lokasi Pabrik


1.3

Kapasitas Pabrik
Didalam penentuan kapasitas produksi, faktor faktor yang harus

dipertimbangkan antara lain jumlah konsumsi produk, pasokan bahan baku yang
akan digunakan, dan kapasitas produksi pada titik Break Even Point (BEP), maka
dilakukan analisa untuk mendapatkan kapasitas produksi perancangan.
Kebutuhan etilen oksida dalam negeri dapat diketahui melalui proyeksi
kebutuhan etilen oksida tiap tahun dan Proyeksi ketersediaan bahan baku
1.3.1 Proyeksi Kebutuhan Etilen Oksida di Indonesia
Proyeksi kebutuhan etilen oksida di Indonesia dapat diperoleh dari regresi
data impor dan ekspor etilen oksida. Data diperoleh impor etilen oksida dari
Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai berikut pada tabel 1.1.
Tabel 1.1. Data impor etilen oksida tahun 2011-2015 di Indonesia
Tahun
2011

Impor etilen oksida (ton)

Laju Peningkatan Impor

2012

40,621
44,116

8,60 %

2013

74,498

68,86 %

2014

79,903

7,26 %

Bab 1 Pendahuluan

2015

162,63

103,54 %
Sumber : (www.bps.go.id)

Sampai saat ini sudah ada beberapa pabrik etilen oksida yang didirikan di
Amerika Serikat dengan berbagai proses. Kapasitas terbesar yaitu 668.000
ton/tahun oleh perusahaan Union Carbide

Taft, Lousiana, Amerika sedangkan

kapasitas terkecilnya yaitu 45.000 ton/tahun oleh perusahaan Sun Refining


Claymont, Daleware, Amerika .Permintaan global etilen oksida dan etilen glikol
tumbuh 4,52% setiap ahunnya sampai tahun 2020.

Menurut Research and

Markets, diperkirakan permintaan etilen oksida mencapai 32,4 juta ton pada 2020
dari 19,9 juta ton pada tahun 2009 sementara pertumbuhan permintaan etilen
glikol dunia sebagai industri yang paling besar mengkonsumsi etilen oksida
sebesar 5,49% tiap tahun, meningkat dari 18,93 juta ton di tahun 2009 menjadi
34,09 juta ton di tahun 2020. Dari peningkatan itu, pasar Asia mengambil 35%
bagian dari kebutuhan etilen oksida dunia dan 63% bagian dari kebutuhan etilen
glikol dunia (www.chemicals-technology.com).
Beberapa perusahaan produsen etilen oksida di amerika dapat dilihat pada
tabel 1.2
Tabel 1.2. Data Kapasitas Pabrik Etilen Oksida di Amerika
Pabrik
BASF
DOW
Union Carbide
Hoechst-Celanase
Olin
Oxy Petrochemicals
Sun Refining
Eastman
PD Glycols
Quantum
Shell
Texaco

Lokasi
Geismar, Lousiana
Plaquermine, Lousiana
Taft, Lousiana
Clear Lake, Texas
Brandenburg, Kentucky
Bayport, Texas
Claymont, Daleware
Longview, Texas
Beaumont, Texas
Morris, Illinois
Geismar, Lousiana
Port Neches, Texas

Kapasitas (ton/th)
218.000
227.000
668.000
209.000
50.000
250.000
45.000
91.000
202.000
113.000
364.000
332.000
Sumber : (Kirk - Othmer,1998)

Penentuan kapasitas ditentukan melalui regresi data impor dan ekspor ,


regresi data impor dapat dilihat pada gambar 1.2

Bab 1 Pendahuluan

Gambar 1.2. Kebutuhan Impor Etilen Oksida di Indonesia


Dari grafik diperoleh persamaan regresi :
Y = 6E+07ln(x) - 4E+08
Dimana :
Y = kebutuhan (kg)
X = tahun rencana produksi
Diperkirakan kebutuhan pada tahun 2025
Y = 6E+07ln(2025) - 4E+08
Y = 56799499 kg
Y = 56799,499 ton
Regresi data ekspor dapat dilihat pada gambar 1.3

Gambar 1.3. Kebutuhan Ekspor Etilen Oksida di Indonesia


Dari grafik diperoleh persamaan regresi :
Y = 954263ln(x) - 7E+06
Dimana :
Y = kebutuhan (kg)
X = tahun rencana produksi

Bab 1 Pendahuluan

Diperkirakan kebutuhan ekspor pada tahun 2025


Y = 954263ln(2025) - 7E+06
Y = 265114,33 kg
Y = 265,11433 ton
Dari hasil regresi tersebut dapat dilihat bahwa peluang kapasitas 2025 dapat
dintentukan melalui kebutuhan ekspor dan Impor .
Peluang kapasitas = Impor - Ekspor
Peluang kapasitas = (56799,499 ton 265,11433 ton )
Peluang kapasitas = 56534,38 ton 57000 ton (Perhitungan)
1.3.2 Ketersediaan Bahan Baku
Bahan baku etilen oksida adalah etilen dan oksigen. Etilen dapat
diperoleh dengan kerja sama dengan PT. Chandra Asri Petrochemical
Center yang memiliki kapasitas produksi etilen sebanyak 522.000 ton per
tahun. Sebagai cadangan supply dapat dilakukan kerjasama dengan
Petrochemical Corporation of Singapore, Pte. Ltd. yang memiliki
1.3.3

kapasitas produksi etilen sebanyak 1.010.000 ton per tahun.


Kapasitas Minimal Produksi
Pabrik yang didirikan harus berada diatas kapasitas minimal.
Kapasitas pabrik baru yang menguntungkan adalah berkisar antara 50.000
hingga 250.000 ton per tahun. Tabel 1.3 berikut menunjukkan kapasitas
pabrik etilen oksida di Amerika.
Tabel I.1 Kapasitas Pabrik Etilen Oksida di Amerika Serikat
Produsen
Sun Olin

Kapasitas (ton/tahun)
45.000

Eastmann

88.000

Shell

122.000

BASF Wyandote

144.000

Celanese

181.000
Sumber : (Kirk - Othmer,1998)

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka pabrik akan


didirikan pada tahun 2025 dengan kapasitas sebesar 57000 ton per tahun yang
diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengurangi
ketergantungan impor.
1.4
1.4.1

Tinjauan Pustaka
Macam-Macam Proses

Bab 1 Pendahuluan

Etilen oksida pertama kali disintesis oleh Wurtz tahun 1859 dan
kemudian dikenal dengan proses klorohidrin. Produksi pertama etilen
oksida secara komersial dimulai tahun 1914 hingga sekarang. Tahun 1931,
Lefort mengembangkan proses oksidasi langsung yang menggeser
keberadaan proses klorohidin hingga sekarang.
a. Proses Klorohidrin
Proses klorohidrin terdiri atas dua reaksi utama yaitu reaksi
pembentukan etilen klorohidrin dan reaksi pembentukan etilen oksida dari
etilen klorohidrin.
Reaksinya adalah :
C2H4 + HOCl HOCH2CH2Cl

Pers. I.2

HOCH2CH2Cl + Ca(OH)2 C2H4O + CaCl + 2H2O


Pers. I.3
Reaksi pertama berlangsung dalam reaktor packed tower pada
tekanan 2-3 atm dan suhu 27 43oC dengan yield teoritis antara 85-90
persen. Pada reaktor pertama ini perlu pengendalian yang cermat untuk
menekan terbentuknya produk reaksi samping, yaitu etilen diklorida.
Produk dari reaktor pertama yang berupa cairan etilen klorohidrin yang
keluar dari dasar reaktor selanjutnya direaksikan dengan slurry Ca(OH) 2
dalam reaktor hidrolisa pada 100oC. Yield reaksi kedua adalah 90 95 %.
Hasil reaktor kedua berupa uap etilen oksida yang kemudian
dikondensasikan untuk diembunkan dan kemudian dialirkan ke inti
pemurnian.
b. Proses Oksidasi Langsung
Proses oksidasi katalitik etilen menjadi etilen oksida didasarkan
pada penemuan Lefort yang telah diterapkan untuk produksi skala besar.
1. Oksidasi Langsung dengan Oksigen Teknis
Dalam proses ini terjadi reaksi utama yaitu pembentukan etilen
oksida dan reaksi samping menghasilkan karbon dioksida dan air.
Reaksi utama :
C2H4 + O2 C2H4O
Pers. I.4
Reaksi samping :
C2H4 + 3O2 2CO2 + 2H2O
Pers. I.5
Reaksi dijalankan dalam reaktor fixed bed multitube pada tekanan
10 20 atm dan temperatur 220 280oC dengan menggunakan katalis

Bab 1 Pendahuluan

10

perak. Konversi per pass dijaga rendah sekitar 15 % untuk mendapatkan


selektivitas yang tinggi, yaitu 75 %. Selain terbentuk etilen oksida, juga
terbentuk produk samping berupa gas CO2 dan H2O dengan kandungan
CO2 yang tinggi. Hal ini menyebabkan diperlukannya rangkaian CO 2
absorber dan CO2 stripper untuk mengurangi kadar CO2 sebelum gas
keluar dapat direcycle kembali ke dalam reaktor. Selain itu untuk
mencegah efek eksplosivitas etilen terhadap oksigen, maka perlu
penambahan nitrogen dalam siklus reaktor.
2. Oksidasi Langsung dengan Udara
Dari segi reaksi, pada dasarnya sama dengan menggunakan
oksigen teknis, yaitu dijalankan pada temperatur 220 280oC dan tekanan
10 30 atm dengan katalis perak. Konversi per pass bisa lebih tinggi,
yaitu sekitar 65 % dengan selektivitas 75 %. Dengan digunakannya udara
dengan kadar nitrogen tinggi, maka tidak memerlukan gas diluen khusus
karena nitrigenerasi udara berfungsi sebagai diluen untuk mencegah
eksplosivitas dan juga pendingin selama reaksi. Namun demikian, dengan
digunakannya udara sebagai oksidan yang mengandung banyak nitrogen,
maka diperlukan purging sebagian reaktan yang tidak bereaksi sebelum
direcycle dalam reaktor untuk mencegah akumulasi nitrogen dalam
reaktor.
c. Proses Celanese
Proses ini dikembangkan dari proses oksidasi langsung. Dengan
proses ini, konversi reaksi dapat ditingkatkan menjadi 80,9% dengan
selektivitas 82,6 %. Oksigen, etilen dan gas recycle dimasukkan dalam
sebuah reaktor katalitik multi tube untuk membentuk etilen oksida. Dari
reaktor, gas yang mengandung etilen oksida dilewatkan absorber. Hasil
atas dilewatkan seksi CO2 removal sehingga dihasilkan CO2 dan hasil
bawah berupa etilen oksida. Proses ini dapat menggunakan oksigen
komersial maupun udara. Untuk plant yang menggunakan udara, reaktor
yang digunakan ada 2 buah, reaktor untuk yaitu tempat terjadinya reaksi
dan reaktor untuk purging. Adanya CO2 dalam reaktor utama dari udara
akan menurunkan yield 10 30 %. Etilen oksida dengan kadar CO 2 yang

Bab 1 Pendahuluan

11

berlebih biasanya terutama digunakan sebagai bahan baku pembuatan


etilen karbonat. Untuk reaksi dengan menggunakan oksigen kemurnian
tinggi, reaktor yang digunakan hanya satu. CO2 yang ada dalam sistem
lebih sedikit karena oksidator tidak mengandung CO2. Perbandingan
proses pembuatan etilen oksida dapat dilihat pada tabel 1.4
Tabel. 1.4 Perbandingan Proses Pembuatan Etilen Oksida
Oksidasi dengan
Oksigen

Celanese

Mc Ketta
1984
85% 95%
27-43 0C
2-3 bar
-

Oksidasi dengan
Udara
Kirk-Othmer,
1998
75-80 %
220 - 277 0C
10-20 bar
Katalis Perak

Kirk-Othmer, 1998

Celanese

75-82 %
220 - 235 0C
20-30 bar
Katalis Perak

80 %
130-255 0C
16 bar
Katalis Perak

CaCl,Air

CO2,H2O,N2

CO2,H2O,N2

CO2,H2O,N2

Klorohidrin
Keterangan
Yield
Suhu
Tekanan
Katalis
Produk
Samping

Sumber : (Kirk - Othmer,1998)


Dari keempat proses tersebut dipilih pembuatan etilen oksida dengan
proses oksidasi berbasis udara dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Investasi awal tidak terlalu tinggi
2. Konversi yang dihasilkan cukup besar dengan resiko terkecil
3. Pemisahan produk utama dan produk samping tidak terlalu sulit.
Proses oksidasi langsung, merupakan proses paling sederhana dan bahan
yang digunakan tidak terlalu berbahaya. Kelemahan proses ini adalah konversi
etilen keluar reaktor yang rendah. Hal ini diatasi dengan melakukan recycle gas
keluar reaktor yang telah diambil etilen oksidanya, kemudian mencampur dengan
umpan awal.
1.5

Kegunaan Produk
Etilen oksida umumnya digunakan sebagai bahan pensteril yang
baik. Dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk mensterilkan bahanbahan seperti pakaian, perabot rumah tangga, dan bahkan bulu binatang.
Etilen oksida juga digunakan sebagai pestisida. Di dunia kedokteran etilen
oksida dikenal luas sebagai desinfektan peralatan bedah, bahan-bahan

Bab 1 Pendahuluan

12

plastik, dan alat-alat lain yang tidak tahan panas sehingga tidak dapat
disterilkan dengan uap pada suhu tinggi.2
Etilen oksida selain untuk penggunaan langsung, juga dapat
digunakan sebagai bahan baku pembuatan :
1.

Monoetilen Glycol, dihasilkan dari reaksi etilen oksida dengan


air, merupakan agen antibeku yang digunakan pada mesin-mesin,
Juga

digunakan

untuk

bahan

baku

produksi

polietilen

terephthalate (PET), dan sebagai cairan penukar panas.


2.

Dietilen Glycol, merupakan agen pelunak yang digunakan pada


gabus, lem, dan kertas. Juga digunakan sebagai solven dan agen
de-icing pada pesawat terbang maupun bandara.

3.

Trietilen Glycol, merupakan agen humectant yang juga


digunakan sebagai solven, pernis dan pengering gas. Sering
digunakan sebagai drying agent pada pengolahan gas alam.

4.

Tetraetilen Glycol, merupakan agen ekstraksi yang digunakan


dalam ekstraksi hidrokarbon aromatik.

5.

Polietilen Glycol, digunakan sebagai bahan baku pembuatan


kosmetik, farmasi, pelumas, solven, bahan penunjang pembuatan
keramik dan bahan pembuat perekat maupun tinta cetak.

6.

Polietilen oksida (Polyox), dihasilkan dengan reaksi polimerisasi


dengan melibatkan logam golongan IIA dan IIIA. Digunakan
dalam bidang pertanian, agen koagulasi dan bahan pengemas.

McKetta,1976

Bab 1 Pendahuluan

13

7.

Etilen Glycol Ether, dihasilkan dari reaksi etilen oksida dengan


alkohol. Digunakan sebagai minyak rem, detergen, solven cat.
Sering juga digunakan untuk bahan pengekstrak bagi SO 2, H2S,
CO2, dan merkaptan dari gas alam.

8.

Ethanolamine, dihasilkan dari reaksi etilen oksida dengan


amonia. Digunakan sebagai bahan kimia dalam proses akhir
tekstil, kosmetik, sabun, detergen dan pemurnian gas alam.

9.

Nonionic Surfactant, dihasilkan dari reaksi etilen oksida dengan


alkilphenol, alkilmerkaptan atau polipropilen glikol. Digunakan
sebagai bahan pengemulsi pada proses polimerisasi, bahan dasar
industri surfaktan, pembuatan kertas dan daur ulang. 3

10.

Turunan Lain, misalnya akrilonitril yang dihasilkan dari reaksi


etilen oksida dengan etilen cyanohidrin atau urethane yang
dihasilkan dari reaksi etilen oksida dengan propilen oksida.

Hasil produksi dari pabrik ini terutama ditujukan pada industri etilen
glikol sehingga etilen oksida yang diproduksi akan memiliki spesifikasi
seperti etilen oksida yang digunakan untuk pembuatan etilen glikol.
1.6 Sifat-Sifat Fisis dan Kimia Bahan Baku dan Produk
1.6.1 Bahan Baku
1. Etilen (C2H4 )
a. Sifat Fisika
Tabel 1.5 Sifat Fisika Etilen (C2H4 )

Sifat Fisika
Rumus molekul
Berat molekul
Titik didih pada 1 atm (oC)
3

Keterangan
C2H4
28,05
-103,9

McKetta, 1976

Bab 1 Pendahuluan

14

Titik lebur pada 1 atm (oC)


-169,1
Suhu kritis (oC)
9,9
Tekanan kritis (atm)
50,5
Berat jenis (kg/l)
0,5684
Viskositas cairan (cp)
0,715
Panas laten penguapan (kcal/g)
113,39
Panas laten peleburan (kcal/g)
28,547
Panas pembakaran (kcal/g)
12.123,70
Konduktivitas thermal (Btu/Jft2F)
0,011
Sumber : (Perry, 2008)
b. Sifat Kimia
1. Polimerisasi
Etilen dapat dipolimerisasikan dengan cara memutuskan
ikatan rangkapnya dan bergabung dengan molekul etilen yang
membentuk molekul yang lebih besar pada tekanan dan temperatur
tertentu.
n (CH2=CH2) (-CH2-CH2-)n

Pers.

2. Oksidasi
Etilen dapat dioksidasi sehingga akan menghasilkan
senyawa-senyawa etilen oksida, etilendioksida, etilen glikol.
CH2= CH2 + O2 C2H4O

Pers.

Etilen dapat juga dioksidasi oleh asam asetat dan oksigen


menghasilkan vinil asetat dengan katalis palasium, alumina-silika
pada temperatur 175 200 oC dan tekanan 0,4 1 Mpa.
CH2=CH2+CH3COOH+O2 H2C=CHOCOCH3+H2O

Pers.

3. Alkilasi
Etilen dapat dialkilasi dengan katalis tertentu, misalnya
alkilasi fiedel-craft, mereaksikan etilen dengan benzena untuk

Bab 1 Pendahuluan

15

menghasilkan produk etilbenzen dengan katalis AlCl3 pada suhu


400oC.
CH2= CH2 +C6H6 C6H5C2H5

Pers.

4. Klorinasi
Etilen dapat diklorinasi oleh klorin menjadi dikloro etan dan
dengan klorinasi lanjutan akan terbentuk trikloroetan.
CH2= CH2 + Cl2 ClCH2CH2Cl

Pers.

ClCH2CH2Cl + Cl2 CH2ClCHCl2 + HCl

Pers.

5. Oligomerisasi
Etilen dapat dioligomerisasi, misalnya menjadi Linear Alfa
Olefini (LAO), C10 C14 dengan rantai lurus dan alifatik alkohol.
Reaksi dijalankan pada suhu 80 120oC dengan tekanan 20 Mpa.
Al(C2H5)3 + n C2H4 AlR1R2R3

Pers.

6. Hidrogenasi
Etilen dapat dihidrogenisasi secara langsung dengan katalis
nikel pada suhu 300oC.
C 2H4 + H2 C2H6

Pers.

Atau direaksikan dengan katalis platina atau paladium pada suhu


kamar.
7. Adisi
Etilen klorohidrin terbentuk melalui reaksi adisi antara
etilen dengan asam hipoklorit pada suhu 20 30 oC dan tekanan 2,5
atm.

Bab 1 Pendahuluan

16

HOCl + C2H4 CH2OHCH2Cl

Pers.

2. Oksigen
a. Sifat Fisika
Tabel 1.6 Sifat Fisika Oksigen (O2 )

Sifat Fisika
Berat molekul
Berat jenis (gr/ml)
Titik didih pada 1 atm (oC)
Titik lebur pada 1 atm (oC)
Suhu kritis (oC)
Tekanan kritis (atm)
Volume kritis (m3/mol)
b.

Keterangan
32,0
1,426 (-252,2oC)
-183
-218,4
-118,4
49,8
0,073
Sumber : (Perry, 2008)

Sifat Kimia
1. Bereaksi dengan etilen pada suhu 200 -280oC dan tekanan 10 -30
atm membentuk etilen oksida
CH2= CH2 + O2 C2H4O

Pers.

Bereaksi dengan hidrokarbon membentuk CO2 dan H2O.


CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O

Pers.

Dalam keadaan oksigen minim terjadi reaksi tidak sempurna :


CH4 + 3/2O2 CO + 2H2O

Pers.

1.6.2 Produk
1. Etilen Oksida
a. Sifat Fisika
Tabel 1.5 Sifat Fisika Etilen Oksida (C2H4O )
Sifat Fisika
Rumus molekul
Berat molekul
Wujud dalam kondisi kamar
Titik didih pada 1 atm (oC)
Titik lebur pada 1 atm (oC)
Suhu kritis (oC)
Tekanan kritis (MPa)
Volume kritis (m3/kg)
Berat jenis kritis (kg/l)

Bab 1 Pendahuluan

Keterangan
C2H4O
44,054
Gas
10,4
-112,5
196,18
7,191
0,00319
314

17

Kapasitas panas,cair 20oC(kJ/kgK)


Kapasitas panas,gas 20oC(kJ/kgK)
Panas laten peleburan (kJ/kg)
Panas pembakaran (kJ/kg)
Auto ignition temperature (oC)
Indeks bias

2
1,1
117,5
-27.649
429
1,359
Sumber : (Perry, 2008)

b. Sifat Kimia
Etilen oksida adalah senyawa yang reaktif. Biasanya reaksinya
dimulai dari terbakarnya struktur cincin dan umumnya bersifat eksotermis.
Suatu ledakan dapat terjadi jika etilen oksida dalam bentuk uap
mendapatkan pemanasan yang berlebihan.
1. Dekomposisi
Etilen oksida dalam bentuk gas akan mulai terdekomposisi
pada 400oC membentuk CO, CH4, C2H2, H2 atau CH3COH.
Langkah pertama yang terjadi adalah isomerisasi menjadi
asetaldehid.
2. Adisi oleh atom hidrogen labil
Etilen bereaksi dengan senyawa yang mengandung
atom hidrogen yang labil dan membentuk gugus hidroksi etil
XH-C2H4O XC2H4OH

Pers.

Contoh senyawa XH ini adalah HOH, H 2NH, HRNH,


R2NH, RCOOH, RCONH2, HSH, ROH, NCH dan B2H6 (R= aril,
alkil). Reaksi berlangsung makin cepat dengan adanya asam atau
basa.
3. Adisi menjadi ikatan rangkap

Bab 1 Pendahuluan

18

Etilen oksida dapat bereaksi dengan senyawa-senyawa


berikatan rangkap membentuk senyawa siklis, misalnya dengan
CO2.
Reaksi :

Pers.
4. Isomerisasi katalitik
Etilen

oksida

dapat

bereaksi

membentuk

asetaldehid dengan bantuan katalis perak pada suhu 170 300oC.


C2H4O CH3COH

Pers.

5. Reduksi menjadi etanol


Etilen oksida dapat direduksi menjadi etanol dengan
katalis Ni, Cu dan Cr pada Al2O3.
C2H4O + H2 C2H5OH

Pers.

6. Reaksi dengan pereaksi Grignard


Etilen oksida dapat bereaksi dengan pereaksi grignard
membentuk senyawa dengan gugus hidrosil primer
C2H4O + RMgX + H2O RC2H4OH + MgOHX
1.7

Pers.

Uraian Proses
Secara garis besar, proses pembuatan ethylene oxide dari ethylene
Gambar 1.5 dapat dikelompokkan menjadi 3 tahapan, yaitu :
1. Tahap Penyiapan Bahan Baku
2. Tahap Sintesa Etilen Oksida
3. Tahap Pemurnian Produk

Bab 1 Pendahuluan

19

Penjelasan dari masing-masing unit adalah sebagai berikut ;


1. Tahap Penyiapan Bahan Baku
Tahapan ini bertujuan untuk:
a. Mengubah fase etilen yang disimpan dalam bentuk cair menjadi
fase gas, agar sesuai dengan fase reaksi yang terjadi di reaktor.
Dalam hal ini etilen disimpan dalam bentuk cair pada suhu -45 oC
dan tekanan 13,1 bar.
b. Udara pada tekanan 1 bar dan suhu 30 oC dinaikkan tekanannya
dengan kompresor 2 stage sampai diperoleh tekanan 17,1 bar.
Kemudian udara, gas etilen dan gas recycle dicampur dan
dinaikkan suhunya sampai suhu 250oC. Selanjutnya reaktan siap
masuk ke dalam reaktor pada tekanan 17,1 bar.
2. Tahap Sintesa Etilen Oksida
Tahap sintesa etilen osida ini bertujuan untuk mereaksikan reaktan
membentuk Etilen Oksida. Reaksi berlangsung dalam sebuah reaktor jenis
fixed bed multi tube yang di dalam tube-nya berisi katalis perak. Reaksi
berlangsung pada fase gas pada suhu 250-277 o C dan tekanan 17,1 bar.
Karena reaksi bersifat eksotermis, maka reaksi disertai dengan pelepasan
panas. Akibatnya akan terjadi peningkatan suhu. Untuk mencegah hal
tersebut digunakan pendinginan. Pendingin berupa saturated water dan
menghasilkan saturated steam untuk pemanas alat-alat penukar panas..
Hasil ekspansi kemudian didinginkan oleh E-102. Karena ada sebagian air
mengembun kemudian dipisahkan di separator (S-01). Fraksi cair
disalurkan ke unit pengolahan limbah, sedangkan fraksi gas masuk ke
dalam absorber (ABS-01) yang beroperasi pada suhu 40o C dan tekanan 3
bar.
3. Tahap Pemurnian Hasil
Tahap ini bertujuan untuk memisahkan produk yaitu etilen oksida
dari campuran gas dan kemudian dimurnikan hingga mencapai komposisi
yang diinginkan. Gas keluaran reaktor yang telah didinginkan akan masuk
ke absorber. Di sini etilen oksida akan diserap oleh air sebagai absorben.
Air penyerap masuk dari puncak menara dan melarutkan etilen oksida.
Hasil serapan ini kemudian dimasukkan ke dalam sebuah menara distilasi

Bab 1 Pendahuluan

20

(D-101). Hasil atas menara distilasi adalah produk etilen oksida dengan
kemurnian 99,7%.
Setelah dikondensasi, sebagian hasil atas akan dikembalikan ke
menara distilasi sebagai refluk sedangkan lainnya akan disimpan di tangki
etilen oksida pada kondisi cair. Dalam perhitungan neraca massa, etilen
yang dibutuhkan untuk produksi etilen oksida sebanyak 6944,44 kg/jam
adalah 6375,57 kg/jam dan oksigen sebanyak 8142,33 kg/jam, sehingga
produk etilen oksida dalam satu tahun mencapai 57.000 ton.

Bab 1 Pendahuluan

21

ETILEN
3244,88 kg/jam

GAS KELUAR
215157,9 kg/jam

AIR

ETILEN

110000 kg/jam

6385, 84 kg/jam

ETILEN OKSIDA
PRE-HEATER

SEPARATOR

REAKTOR

ABSORBERR

6944,44 kg/jam

UDARA

34954,75 kg/jam
AIR
1635,75 kg/jam
Reaksi pembentukan Etilen oksida

dengan metode Oksidasi

KOLOM
DISTILASI

langsung dengan Udara


Reaksi utama :
C2H4 + O2

C2H4O .............(1)

Reaksi samping :
C2H4 + 3O2 2CO2 + 2H2O ............(3)
Gambar 1.5 Blok Flow Diagram Pembentukan Etilen Oksida dengan Metode Oksidasi dengan Udara

Bab 1 Pendahuluan

AIR
110.000 kg/jam

22

Gambar 1.6 Proses Flow Diagram Pembentukan Etilen Oksida dengan Metode Oksidasi dengan Udara

Bab 1 Pendahuluan

23

DAFTAR PUSTAKA

Coulson, J.M. and Richarsond J.F., 1985, An Introduction to Chemical


Engineering Design, Volume 6, Pergamon Press, Oxford.
Kirk, K.E and Othmer, V.F., 1978, Encyclopedia of Chemical Technology, John
Wiley and Sons, New York.
Levenspiel, O., 1972, Chemical Reaction Engineering, John Wiley and Sons, New
York.
Mc. Ketta, J.J and Cunningham, W.A., 1976, Encyclopedia of Chemical
Engineering and Design, Marcel Dekker Inc., New York.
Perry, R.H and Green, D.W, 1986, Perrys Chemical Engineers HandBook, 6th
edition, Mc Graw-Hill Book Co., New York.
Smith, J.M, and Van Ness, H.C., 1975, Introduction to Chemical Engineering
Thermodynamics, 5th edition, Mc. Graw-Hill Kogakusha Ltd, Tokyo.
http://www.bps.co.id . Data Ekspor-Impor Etilen Oksida. diakses tanggal 10 April
2016. Pukul 07.00
http://www.chemicals-technology.com Data Perkembngan Kebutuhan Etilen
Oksida. diakses tanggal 10 April 2016. Pukul 07.00

Bab 1 Pendahuluan

24