Anda di halaman 1dari 5

PERBEDAAN KONSEP ILMU TANAH DENGAN GEOGRAFI TANAH

Oleh Regi Zaky Utama, 1406558784


Ilmu Tanah
Ilmu tanah atau pedologi adalah cabang ilmu yang memadukan gatra ilmu dasar
(kimia, fisika, dan matematika), biologi (botani, zoologi, mikro biologi), ilmu kebumian
(klimatologi, geologi, geografi), dan terapan (produksi pertanian, kehutanan, dan
rekayasa tanah). Ilmu tanah menjembatani penelitian, pengajaran, dan pemanfaatan
tanah. Cabang utama ilmu tanah ialah pedologi dan edafologi.

Pedologi terdiri atas pemerian tanah (inventarisasi sifat dan perilaku tanah);
genesis tanah (asal dan perkembangan tanah); sistematik (klasifikasi tanah
berdasarkan pedogenesis, sebaran, dan fungsi); dan ekologi tanah (tanah

sebagai lingkungan pertumbuhan tanaman, ternak, dan manusia).


Edafologi (ilmu tanah terapan) berhubungan dengan pemanfaatan tanah untuk
pertanian, silvikultur, dan holtikultur; pemahaman kesuburan tanah untuk

memperoleh pertumbuhan tanaman yang lebih baik serta memperbaiki dan


mempertahankan kesuburan (produktivitas).
Pedologi (ilmu tanah) merupakan ilmu yang masih muda dan hanya dimanfaatkan
oleh beberapa pakar ilmuan. Tetapi menurut Yaalon (1992), ilmu tanah gayut dengan
beberapa bidang keilmuan lain, seperti perlindungan dan perubahan keadaan
lingkungan, geomorfologi, atau arkeologi. Secara tradisional, kebanyakan pakar tanah
selalu bekerja dalam bidang pertanian dengaan tujuan untuk mengelola tanah demi
meningkatkan dan mempertahankan produksi pertanian.

Konsep ilmu tanah yang dilandasi keilmuan kimia dan geologi dipelopori oleh
seoprang pakar kimia Jerman, Justus von Liebig, yang selanjutnya melandasi konsep
ilmu tanah yang berkembang di Amerika. Teori keseimbangan yang dikembangkan
adalah bahwa tanah merupakan tempat cadangan hara yang setiap hari diserap
tanaman, yang harus selalu digantikan dengan menggunakan pupuk kandang, kapur,
dan pupuk kimia. Teori ini terkenal dengan sebutan hokum minimum Liebig. Impliksi dari

konsep ini adalah asas produksi tanaman tidak dapat ditingkatkan apabila salah satu
faktor tumbuh menjadi pembatas. Ilmu tanah sampai saat ini dipelajari dengan tujuan
untuk meningkatkan faktor pembatas sampai aras optimum dan bagaimana faktor
pembatas pertumbuhan tanaman tersebut dapat dihilangkan.
Pada tahun 1860, E.W. Hilgard memberikan perhatian terhadap hubungan antara
iklim, tanaman, batuan induk, dan tanah yang terbentuk. Lebih jauh dikatakan bahwa
tanah bukan hanya sekedar media pertumbuhan tanaman, melainkan merupakan tubuh
alam yang bersifat dinamis yang harus selalu dipelajari dan dibuat klasifikasinya.
Ramann (1917) mengembangkan konsep tanah yang dilatarbelakangi oleh konsep
geologi. Tanah merupakan lapisan atas kerak bumi yang melapuk; dalam hal ini tidak
ada pengertian tanah sebagai alat produksi atau kegunaan lainnya. Konsep lain
dikemukakan oleh Joffe (1917) yang memberikan batasan lebih maju bahwa tanah
merupakan kombinasi sifat fisik, kimia, dan biologi. Tanah adalah bangunan alami yang
tersusun atas horizon-horizon yang terdiri atas bahan mineral dan organik, bersifat galir
(tidak padu), dan mempunyai tebal yang tidak sama. Berbeda sama sekali dengan
bahan induk yang ada dibawahnya dalam hal: morfologi, sifat, susunan fisik, bahan
kimiawi, dan laksana-laksana biologi.
Empat definisi diatas masing-masing mempunyai kelemahan. Definisi yang baik
untuk suatu benda alam seperti tanah harus terlepas dari kemungkinan kegunaan,
harus bersifat murni sebagai adanya di alam, dan harus berlaku umum. Batasan yang
cukup baik dikemukakan oleh Glinka (1927), bahwa tanah adalah tubuh alam yang
bebas memiliki ciri morfologi tertentu sebagai hasil interaksi antara iklim, organisme,
bahan induk, relief, dan waktu. Proses pembentukan tanah dipengaruhi oleh 5 faktor
lingkungan.

Geografi Tanah
Geografi Tanah adalah ilmu yang mempelajari tanah tidak hanya sebatas
membahas ruang lingkup tanah secara fisikal, tetapi juga mengaitkan dengan konsep
utama geografi yaitu ruang (space), tempat (place), dan waktu (time). Jadi seorang
geografer memiliki kemampuan untuk menganalisis bagaimana perbedaan :
1. Suatu jenis tanah disatu tempat dengan tempat lainnya (place).
2. Potensi tanah apabila dikaitkan dengan aspek-aspek geografis yang ada
disekelilingnya (space).
3. Suatu jenis tanah bila dibandingkan pada masa lampau (time).
Geografi tanah adalah ilmu yang mempelajari penyebaran jenis-jenis tanah
secara

geografis

dan

dikaitkan

dengan

faktor-faktor

pembentuk

tanahnya

(Hardjowigeno, 2006). Geografi tanah mempelajari sebaran jenis tanah di muka daratan
dan faktor yang menentukan sebaran tersebut. Secara sederhana dapat dinyatakan
sebagai ilmu tanah yang dikaji dari sudut pandang geografi. Kata geografi dalam
geografi tanah merupakan konteks sistem atau metode telaah, bukan konotasi ilmu
(Notohadiprawiro, 1994). Geografi tanah merupakan cabang ilmu geografi yang
mengkaji persebaran satuan-satuan tanah di permukaan bumi, sifat, dan karakteristik

satuan-satuan tanah yang menyelimuti permukaan bumi, dan pemanfaatan tanah untuk
kehidupan (Sartohadi dkk., 2012)
Geografi tanah merupakan ilmu yang mempelajari proses terjadinya tanah,
perkembangan tanah, persoalan tanah, dan penyebaran tanah dipermukaan bumi,
sedangkan morfologi merupakan suatu istilah yang berkaitan dengan keterkaitan
satuan lahan, dimana berdasarkan konsep utama penyusun lahan salah satunya
terdapat tanah, dan apabila kita berbicara terhadap tanah maka definisi terhadap tanah
itu sendiri sangat beragam sesuai dengan sudut pandang ilmu yang menunjangnya
akan tetapi dalam geografi bahwa tanah adalah lapisan hitam tipis yang menutupi
bahan padat kering terdiri atas bahan bumi berupa partikel kecil yang mudah remah,
sisa vegetasi, dan hewan. Dalam sudut pandangnya, geografi tanah mempelajari
konsep tentang sebaran tanah di muka bumi, nantinya akan disederhanakan dalam
bentuk peta.

Sumber
http://geo.fis.unesa.ac.id/web/index.php/en/ilmu-tanah/131-geografi-tanah
Sutanto, Rahman. 2005. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta: Kanisius.