Anda di halaman 1dari 12

N

S
I
T
E

G
A
M E ndro
O
sa uf
M
E
y
s qi
o
u
R
L
Y ha
i
A
a
ry
r
B
P
Fe nik
a
n

PALEOMAGNETISME
(Kemagnetan Purba)

Adalah studi yang mempelajari


tentang rekaman kemagnetan
batuan pada masa lalu.
Mineral tertentu dalam batuan
menyimpan arah dan intensitas
medan magnet ketika terbentuk.
Rekaman tersebut dapat
memberikan inofrmasi sifat
kemagnetan masa lalu

Substansi mineral
paramagnetik terdiri atas
atom-atom yang memiliki
jumlah elektron ganjil. Medan
magnetik dibangkitkan oleh
gerakan spin dan orbital
elektron. Dalam subkulit yang
memuat elektron
berpasangan, medan
magnetik yang terbentuk
akan saling meniadakan.
Terdapatnya elektronelektron yang tidak
berpasangan pada substansi
paramagnetik menjadikan
atom-atom bersifat magnetik
dan memilikidipol.

Ketika substansi
paramagnetik diletakkan
pada medan magnetik
eksternal yang lemah,
misalnya medan magnet
bumi,dipol-dipolatom akan
bergeser hingga arahnya
sejajar dengan arah medan
eksternal. Inilah yang
disebut induksi magnetik.
Jika medan magnet
eksternal ditiadakan dari
substansi paramagnetik,
maka induksi akan hilang
dandipol-dipolakan kembali
ke posisi asalnya.

Di dalam masing-masing domain akan


terjadi proses penyejajaran padadipoldipolatom yang saling terhubung. Hal ini
membuat domain memiliki arah total
magnetik. Ketika diletakkan pada pengaruh
medan magnetik eksternal, ukuran domain
yang berarah sama dengan medan
eksternal akan lebih besar dari domain
pada arah lainnya. Ketika pengaruh medan
eksternal ditiadakan, domain-domain yang
telah berubah ukuran tidak kembali ke
bentuk semula sehingga substansi
magnetik merepresentasikan arah
pengaruh medan eksternal. Sifat
magnetisasi yang demikian inilah yang
disebut sebagai kemagnetan permanen
atau kemagnetan remanen.
Substansi paramagnetik yang terdiri atas
elektron tak berpasangan dalam jumlah besar
dinamakanferromagnetik.Struktur magnetik
pada substansi tersebut cenderung berubah
menjadi domain-domain magnetik dalam
jumlah besar. Pada domain-domain tersebut
atom-atom akan saling berpasangan akibat
interaksi medan magnetik dari elektronelektron tak berpasangan. Interaksi ini hanya
terjadi pada suhu di bawah suhu Currie, karena
jika suhu telah melampaui suhu Currie maka
tingkat energi pada domain akan menghalangi
terjadinya ikatan magnetik dalam atom
sehingga substansi akan bersifat paramagnetik
biasa.

MAGNETISASI BATUAN

MAGNETISASI REMANEN ALAMI


(NRM)

PENDEKATAN GEOMAGNETIK
Medan geomagnetik berasal dari proses yang dinamis akibat sirkulasi
konvektif muatan listrik di dalam fluida inti luar bumi, yang disebut proses
magnetohydrodynamics
VARIASI SEKULER DAN CARA MEREDUKSINYA
Medan geomagnetik selalu mengalami perubahan terhadap waktu.
Ketidakseragaman ini disebut dengan variasisecular. Akibat fenomena
tersebut arah medan magnetik pada tiap lokasi geografis bumi berubah
secara acak terhadap medan magnet. Perubahan tersebut terjadi dalam
periode ribuan tahun. Dalam studi paleomagnet, efek variasisecularini
dapat direduksi dengan mengumpulkan sampel dari suatu tempat yang
menjangkau interval stratigrafi ribuan tahun dan kemudian merataratakan sampel-sampel data tersebut. Dari proses reduksi ini didapatkan
fakta bahwa medan geomagnetik lampau dibangkitkan oleh kutub-kutub
dengan lokasi yang mendekati sejajar dengan sumbu rotasi.

MEDAN MAGNET LAMPAU DAN SAAT


INI

CARA MEMPERKIRAKAN POSISI KUTUB


PURBA
Parameter paleomagnetik yang didapatkan
dari pengukuran magnetisasi remanen
primer batuan adalah intensitas, azimut,
dan inklinasi geomagnetik pada waktu
dan tempat dimana batuan tersebut
terbentuk. Dengan menggunakan asumsi
modelaxial
geocentric
dipol(model
magnet
batang),
maka
sudut
inklinasiIdapat
digunakan
untuk
menentukan lintang purbaberdasarkan
hubungan 2 tan = tanI. Dengan
diketahuinya lintang purba dan azimut
purba, lokasi semu kutub purba dapat
dihitung. Perhitungan yang dilakukan
harus dikombinasikan dengan penentuan
umur sampel dengan menggunakan
metode radiometrik atau biostratigrafi.
Hasil yang didapatkan dari perhitungan
adalah lokasi semu kutub utara magnetik
pada waktu tertentu pada benua tempat
sampel
didapatkan.
Analisis
paleomagnetik dari sampel-sampel data
lebih lanjut digunakan untuk menentukan
bagaimana posisi kutub semu berpindah
terhadap permukaan bumi.

MEDAN MAGNET LAMPAU DAN SAAT


INI

Penelitian mengenai arah kemagnetan purba pada aliran lava yang


diambil di Eropa dan Asia pada tahun 1950-an menunjukkan bahwa arah
kemagnetan untuk batuan batuan yang berumur muda cocok dengan
arah medan magnet bumi saat ini, akan tetapi arah kemagnetan
(magnetic alignment) pada aliran lava yang lebih tua ternyata
menunjukkan arah kemagnetan yang sangat bervariasi dengan
perbedaan yang cukup besar. Berdasarkan hasil ploting dari posisi yang
terlihat
sebagai
kutub
magnet
utara
untuk
benua
Eurasia
mengindikasikan bahwa selama 500 juta tahun yang lalu, lokasi-lokasi
dari kutub utara magnet bumi secara berangsur berpindah-pindah. Hal ini
merupakan bukti kuat bahwa kutub magnet bumi telah mengalami
berpindahan / bermigrasi. Perpindahan arah kutub magnet ini dikenal
sebagai Pole Magnetic Wandering yaitu arah kutub magnet yang
berkelana / berpindah pindah.

PENGAPUNGAN BENUA DAN


PALEOMAGNETISME

Mineral yang kaya akan unsur besi, seperti magnetite banyak terdapat
dalam aliran lava yang berkomposisi basaltis. Saat suatu lava yang
berkomposisi basaltis mendingin (menghablur) dibawah temperatur Curie
( 580 derajat C), maka butiran butiran yang kaya akan unsur besi akan
mengalami magnetisasi dengan arah medan magnet yang ada pada saat
itu.
Sekali batuan tersebut membeku maka arah kemagnetan (magnetisasi)
yang dimilikinya akan tertinggal di dalam batuan tersebut. Arah
kemagnetan ini akan bertindak sebagai suatu kompas ke arah kutub
magnet yang ada.
Jika batuan tersebut berpindah dari tempat asalnya, maka kemagnetan
batuan tersebut akan tetap pada arah aslinya.
Sebaliknya, apabila arah kutub magnet dianggap tetap pada posisi seperti
saat ini maka penjelasannya adalah bahwa benua yang mengalami
perpindahan atau pengapungan.

PENGAPUNGAN BENUA DAN


PALEOMAGNETISME

Penemuan
mutakhir
dari
penelitian
paleomagnetik yaitu dalam setiap pengamatan
didapatkan setengah dari sampel menunjukkan
arah magnetisasi remanen primer yang
berbeda 180odari arah normal. Kendati ada
kemungkinan terjadi pembalikan kemagnetan
oleh material batuan itu sendiri, diyakini telah
terjadi fenomena luar biasa, yakni pembalikan
polaritas medan geomagnetik. Medan magnet
dapat tetap dalam keadaan normal selama
jutaan tahun, kemudian dalam interval ratusan
tahun berikutnya kutub utara magnetik menjadi
kutub selatan magnetik. Pembalikan polaritas
terjadi dengan acak, tetapi memberikan
dampak pada seluruh wilayah di bumi secara
serentak. Oleh karena itu, kombinasi antara
periode
pembalikan
polaritas
dengan
penanggalan radiometrik atau penanggalan
paleontologi dapat menghasilkan skala waktu
polaritas.

PEMBALIKAN KUTUB
MAGNET

MAGNETOSTRATIGRAFI

Menggunakan
sejarah
pembalikan
polaritas
pembalikan medan magnet
bumi yang terekam dalam
batuan untuk menentukan
usia batuan.

Bagian Dari

Data paleomagnetik harus dikombinasikan dengan anomali magnet linier lantai samudera
untuk dapat mengidentifikasi dengan akurat posisi kutub purba dan ekuator purba.
Rekonstruksi posisi relatif benua dalam kurun waktu kurang dari 200 juta tahun yang lalu
(zamanMesozoicakhir) dapat dilakukan dengan menggunakan informasi yang rinci
tentang evolusi cekungan samudera berdasarkan anomali magnet linier lantai samudera.
Namun untuk rekonstruksi pada kurun waktu lebih dari 200 juta tahun yang lalu hanya
dapat dilakukan dengan data paleomagnetik dan hubungan geologi karena tidak ada
lantai samudera yang berumur lebih dari 200 juta tahun yang lalu.

Rekonstruksi paleogeografi

Lowrie, William. 2007. Fundamentals of Geophysics. New York: Cambridge


University Press.
Yudipena. 2016. Kemagnetan Purba (Paleomagnetik). Diunduh
http://yudipena.blogspot.co.id/2016/01/kemagnetan-purbapaleomagnetik.html.

dari

Referensi