Anda di halaman 1dari 10

TUGAS KOMUNIKASI DAN ETIKA PROFESI

KODE ETIK PROFESI AKUNTAN PAJAK

NAMA ANGGOTA KELOMPOK


1.
2.
3.
4.
5.

Heri Kurniawan
Bangun Tri Saputro
Said Ramadhoan Saputra
Sugeng Hidayat
Ariati Trisyani Dewi

041411323011
041411323013
041411323040
041411323061
041411323068

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI (ALIH JENIS)


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2016

BAB 1
PENDAHULUAN

Sebagai seorang akuntan pajak, kode etik profesi akuntan pajak sangat dibutuhkan k
arena profesi ini bekerja atas kepercayaan masyarakat. Peran auditor untuk meningkatkan kre
dibilitas dan reputasi perusahaan sangatlah besar. Di dalam akuntansi memiliki etika yang har
us di patuhi oleh setiap anggotanya yang disebut Kode Etik Profesi Akuntan Publik (sebelum
nya disebut Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik) adalah aturan etika yang harus diter
apkan oleh anggota Institut Akuntan Publik Indonesia atau IAPI (sebelumnya Ikatan Akuntan
Indonesia Kompartemen Akuntan Publik atau IAKAP) dan staf profesional (baik yang anggot
a IAPI maupun yang bukan anggota IAPI) yang bekerja pada satu Kantor Akuntan Publik (K
AP). Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan aturan bagi selu
ruh anggota, baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di lingkungan dunia usaha,
pada instansi pemerintah, maupun di lingkungan dunia pendidikan dalam pemenuhan tanggu
ng-jawab profesionalnya.
Dari penjelasan tentang pentingnya peran akuntan publik tersebut maka penulis terta
rik untuk membahas kasus KPMGSiddharta Siddharta & Harsono yang diduga menyuap paja
k, yang diharapkan dapat memberikan informasi lebih nyata tentang pentingnya etika profesi
akuntansi agar pembaca dapat lebih mudah memahaminya.
KPMG adalah salah satu perusahaan jasa profesional terbesar di dunia. KPMG mem
pekerjakan 104.000 orang dalam partnership global menyebar di 144 negara. Pendapatan ko
mposit dari anggota KPMG pada 2005 adalah US$15,7 miliar. KPMG memiliki tiga jalur lay
anan: audit, pajak, dan penasehat. KPMG adalah salah satu anggotathe Big Four auditors, ber
sama dengan PricewaterhouseCoopers, Ernst & Young danDeloitte. Di Indonesia, KPMG me
miliki partner lokal yaitu KAP Siddharta Widjaja & Rekan yang dipimpin oleh Tohana Widja
ja. KPMG Indonesia berkantor di Wisma GKBI lantai 32-35.

BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Etika Profesi Akuntansi


Etika Profesi Akuntansi yaitu suatu ilmu yang membahas perilaku perbuatan baik dan
buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia terhadap pekerjaan yang
membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus sebagai
Akuntan. Etika (Yunani Kuno: ethikos, berarti timbul dari kebiasaan) adalah sebuah
sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas
yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan
penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.Secara metodologis,
tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika.Etika memerlukan sikap
kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi.Karena itulah etika merupakan suatu
ilmu.Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia.Akan tetapi berbeda
dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut
pandang normatif.Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan
manusia.

2.2 Prinsip-prinsip Etika Profesi Akuntansi


1. Tanggung Jawab profesi
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota
harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua
kegiatan yang dilakukannya. Anggota juga harus selalu bertanggungjawab untuk
bekerja sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi,
memelihara kepercayaan masyarakat dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam
mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara
dan meningkatkan tradisi profesi.
2. Kepentingan Publik
Dimana publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit,
pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak
lainnya bergantung kepada obyektivitas dan integritas akuntan dalam memelihara

berjalannya fungsi bisnis secara tertib. Kepentingan utama profesi akuntan adalah
untuk membuat pemakai jasa akuntan paham bahwa jasa akuntan dilakukan dengan
tingkat prestasi tertinggi sesuai dengan persyaratan etika yang diperlukan untuk
mencapai tingkat prestasi tersebut.Dan semua anggota mengikat dirinya untuk
menghormati kepercayaan publik.Atas kepercayaan yang diberikan publik kepadanya,
anggota harus menunjukkan dedikasi untuk mencapai profesionalisme yang
tinggi.Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus
memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
3. Integritas
Integritas mengharuskan seorang anggota untuk bersikap jujur dan berterus
terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan
publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi.Integritas dapat menerima
kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak
menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.
4. Obyektivitas
Obyektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang
diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak
memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari
benturan kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain. Anggota dalam praktek
publik memberikan jasa atestasi, perpajakan, serta konsultasi manajemen. Anggota
yang lain menyiapkan laporan keuangan sebagai seorang bawahan, melakukan jasa
audit internal dan bekerja dalam kapasitas keuangan dan manajemennya di industri,
pendidikan, dan pemerintah. Mereka juga mendidik dan melatih orang-orang yang
ingin masuk kedalam profesi.Apapun jasa dan kapasitasnya, anggota harus
melindungi integritas pekerjaannya dan memelihara obyektivitas.
5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati,
kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan
pengetahuan dan ketrampilan. Kompetensi menunjukkan terdapatnya pencapaian dan
pemeliharaan suatu tingkat pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan
seorang anggota untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan kecerdikan. Dalam
hal penugasan profesional melebihi kompetensi anggota atau perusahaan, anggota
wajib melakukan konsultasi atau menyerahkan klien kepada pihak lain yang lebih
kompeten. Setiap anggota bertanggung jawab untuk menentukan kompetensi masing
masing atau menilai apakah pendidikan, pedoman dan pertimbangan yang diperlukan
memadai untuk bertanggung jawab yang harus dipenuhinya.

6. Kerahasiaan
Setiap Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan
informasi tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional
yang diberikannya, anggota bisa saja mengungkapkan kerahasiaan bila ada hak atau
kewajiban professional atau hukum yang mengungkapkannya.Kewajiban kerahasiaan
berlanjut bahkan setelah hubungan antar anggota dan klien atau pemberi jasa berakhir.
7. Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang
baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.Kewajiban untuk
menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh
anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga,
anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.
8. Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar
teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan
berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari
penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan
obyektivitas.Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah
standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Internasional Federation of
Accountants, badan pengatur, dan pengaturan perundang-undangan yang relevan.

BAB III
PEMBAHASAN DAN ANALISIS

September tahun 2001, KPMGSiddharta Siddharta & Harsono harus menanggung m


alu. Kantor akuntan publik ternama ini terbukti menyogok aparat pajak di Indonesia sebesar
US$ 75 ribu. Sebagai siasat, diterbitkan faktur palsu untuk biaya jasa profesional KPMG yan
g harus dibayar kliennya PT Eastman Christensen, anak perusahaan Baker Hughes Inc. yang t
ercatat di bursa New York.
Berkat aksi sogok ini, kewajiban pajak Eastman memang susut drastis. Dari semula
US$ 3,2 juta menjadi hanya US$ 270 ribu. Namun, Penasihat Anti Suap Baker rupanya waswas dengan polah anak perusahaannya. Maka, ketimbang menanggung risiko lebih besar, Ba
ker melaporkan secara suka rela kasus ini dan memecat eksekutifnya.
Badan pengawas pasar modal AS, Securities & Exchange Commission, menjeratnya
dengan Foreign Corrupt Practices Act,undangundang anti korupsi buat perusahaan Amerika d
i luar negeri. Akibatnya, hampir saja Baker dan KPMG terseret ke pengadilan distrik Texas.
Namun, karena Baker mohon ampun, kasus ini akhirnya diselesaikan di luar pengadilan. KP
MG pun terselamatkan.
Kasus suap pajak ini seharusnya tidak boleh terjadi, jika setiap akuntan menerapkan
pemahaman dan menerapkan etka secara mendalam dan secara profesionalisme. Pekerjaan pr
ofesional harus dilakukan dengan sikap profesional juga, dengan melandaskan pada standar et
ika dan moral tertentu. Kasus penyuapan ini sangatlah ironis karena pengungkapannya malah
dilakukan oleh pemegang otoritas pasar modal Amerika Serikat (SEC). Berdasarkan kasus ya
ng terjadi di KPMG maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi adanya pelanggaran kode eti
k profesi akuntansi diantaranya sebagai berikut:
1. Prinsip Integritas
Integritas mengharuskan seorang akuntan untuk bersikap jujur dan berterus terang ta
npa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak bole
h dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Namun, akuntan telah berusaha menyuap untuk kepent
ingan klien. Disini sangat terlihat bahwa ia telah mengabaikan integritasnya sebagai akuntan
publik.

2. Prinsip Obyektifitas
Dalam hal ini KPMGSiddharta Siddharta & Harsono bersikap tidak obyektif, karena c
enderung berat sebelah untuk membela salah satu kliennya. PT Easman Christensen agar men
dapatkan keringanan pembayaran pajak, dan kemudian akuntan mengusulkan pada PT Easma
n Christensen untuk menyuap pada pejabat pajak Indonesia. Hasilnya adalah kewajiban pajak
yang seharusnya $3,2 juta menyusut hanya $270 ribu saja.
3. Prinsip Kepentingan Publik
Atas kepercayaan yang diberikan publik kepadanya, seorang akuntan harus secara terus m
enerus menunjukkan dedikasi mereka untuk mencapai profesionalisme yang tinggi. Dalam ha
l ini, akuntan didalam KPMG telah mengorbankan kepentingan public demi kepentingan klie
n semata. Dengan berusaha menyuap kliennya.
4. Prinsip Kompetensi serta Sikap Kecermatan dan Kehati-hatian Profesional
KPMGSiddharta Siddharta & Harsono tidak berlaku dengan hatihati karena tidak me
mpertimbangan efek buruk yang terjadi atas tindakan yang dilakukannya, yaitu kerugian yang
harus ditanggung negara demi keuntungan kliennya dan kelangsungan jasa akuntannya agar d
igunakan terus oleh kliennya, PT Easman Christensen. Kemampuan profesionalnya tidak dig
unakan untuk tindakan yang positif, tapi ke tindakan yang negatif, yaitu mengelabui, mengak
ali, mensiasati, dan menyuap petugas pajak, sehingga hal tersebut jelas dinlai sangat tidak pro
fesional.
5. Prinsip Perilaku Profesional
Akuntan harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik d
an menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. Dalam hal ini, akuntan tidak bersi
kap profesional karena menyarankan hal yang tidak harus dilakukan yaitu menyuap pejabat p
ajak demi mendapatkan keringanan pajak, bersekongkol dengan pejabat pajak sehingga meng
akibatkan kerugian negara.

BAB VI
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari pembahasan kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa kode etik
profesi akuntansi yang telah dilanggar, yaitu :
1.

Dengan memanipulasi laporan keuangan, secara langsung telah melanggar etika


tanggung jawab profesi dan perilaku professional

2. Selain itu, melanggar etika kepentingan publik karena telah mengesampingkan


kepentingan publik.
3. Kompetensi dan kehati-hatian profesional telah di langgar, karena tidak cukup
berhati-hati

dalam

menentukan

kebenaran

material

dari

pernyataan

atau

keterangannya dalam laporan keuangan.


4. Pelanggaran integritas telah dilakukan, ini ditunjukkan dari sikap ketidakjujuran dan
tidak berterus terang dengan keadaan keuangan perusahaan yang sebenarnya.

5.2 Solusi
Beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh manajemen PT Eastman Christensen
sehingga tidak terjadi praktek manajemen laba yang akan menjatuhkan citra perusahaan dan
tentu saja secara makro tidak merugikan perekonomian indonesia, antara lain :
a. Implementasi Good Corporate Governance yang baik
Terjadinya kesalahan terkait kata diaudit pada laporan keuangan yang
dipublikasikan,

oleh dewan direksi diakui sebagai suatu kelalaian, mereka

menyampaikan alasan bahwa komisaris yang seharusnya memeriksa laporan


keuangan tersebut terlalu sibuk sehingga tidak memperhatikan kata-kata diaudit. Hal
ini juga dipertegas oleh hasil pemeriksaan yang disampaikan melalui siaran pers
pemeriksaan laporan keuangan. Hal ini menunjukkan lemahnya tata kelola perusahaan
sehingga harus dievaluasi.

Kemudian terkait komposisi dalam jajaran dewan direksi dan komisaris.


Seharusnya ada perwakilan dari pemilik minoritas. Hal ini tentu saja untuk
mewujudkan salah satu prinsip good corporate governance yakni prinsip keadailan.
Bahkan penetapan komisaris sangat kontradikitf dengan aturan yang melarang
komisaris berasal pemegang saham mayorits atau pengendali. Beberapa prinsip good
corporate governance yang perlu diperhatikan dan diimplementasikan dengan baik
oleh perusahaan antara lain :

Transparancy
Akuntabilitas
Keadilan
Responibilitas.
Prinsip-prinsip di atas adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk

memonitor masalah kontrak dan membatasi perilaku oppurtunitic managmen untuk


melakukan praktek manajemen laba.
b. Kejelasan kontrak tujuan penilaian
Banyak opini yang menyayangkan permasalahannya terletak pada hasil penilaian
kembali AYDA oleh penilai independen, terutama mereka yang memiliki latar
belakang sebagai penilai. Menurut mereka, seharusnya ada kejelasan kontrak
mengenai tujuan dari perusahaan menggunakan jasa penilaian darinya. Sehingga tidak
terjadi hal seperti ini yang berakibat buruk bagi perusahaan dan citra profesi jasa
penilai. Seharusnya manajemen memberikan kejelasan tujuan dari penilaian kepada
penilai independen, sehingga konteks dan hasilnya nanti jelas.
Terkait dengan itu, Ahmadi Hadibroto menyarankan sebaiknya di masa yang akan
datang manajemen diwajibkan untuk menyatakan secara spesifik dan konkrit tujuan
dari penilaian, jangan hanya bersifat himbauan. Hal ini dapandang penting mengingat
begitu signifikannya pengaruh tujuan penilaian terhadap hasil penilaiannya nanti.
c. Pengawasan yang lebih ketat oleh dewan komisaris
Adanya laporan yang audited dan unaudit menunjukkan pengawasan yang lemah
dari dewan komisaris yang tugas pokok dan fungsinya adalah dalam hal laporan
keuangan. Adanya perbedaan pernyataan yang terjadi antara laporan keuangan
publikasian dengan yang dikirim ke BEJ merupakan kelalaian dewan komisaris. Hal

itu tidak akan terjadi andai saja dewan komisaris yang proses pemilihannya juga
sudah kontradiktif dengan aturan tidak melakukan kelalaian.

Anda mungkin juga menyukai