Anda di halaman 1dari 6

Adaptasi Ternak

Faktor-Faktor

yang

melibatkan

1.

proses

adaptasi

terhadap

ternak

antara

Faktor

lain:

Lingkungan

Dalam mempelajari hewan ternak, kita harus mengkaji faktor-faktor lingkungan secara
komprehensif. Hal ini perlu dipahami karena akan terjadi saling interaksi di antara faktor-faktor
lingkungan itu sendiri dan terjadi saling mempengaruhi sebelum faktor-faktor lingkungan
tersebut mempengaruhi hewan ternak. Terjadi saling interaksi di antara sesama mineral-mineral
dengan protein, mineral dengan vitamin, dalam mempengaruhi hewan ternak. Faktor-faktor
lingkungan terutama faktor fisik dan kimia berpengaruh baik secara langsung maupun tidak
langsung

terhadap

tingkat

dan

proses

metabolisme

hewan

ternak.

Adaptasi atau penyesuaian diri ternak terhadap lingkungan merupakan suatu bentuk atau sifat
tingkah laku yang ditujukan untuk bertahan hidup atau melakukan reproduksi dalam suatu
lingkungan tertentu. Lingkungan yang tidak baik dapat mengakibatkan perubahan status
fisiologis ternak yang disebut stres. Ternak yang terkena stres tingkah lakunya akan berubah.
Cara ternak untuk mengatasi atau mengurangi stres adalah dengan penyesuaian diri, baik secara
genetis

maupun

fenotipe.

Ternak akan selalu beradaptasi dengan lingkungan tempat hidupnya. Adaptasi lingkungan ini
tergantung pada ciri fungsional, struktural atau behavioral yang mendukung daya tahan hidup
ternak maupun proses reproduksinya pada suatu lingkungan. Apabila terjadi perubahan maka
ternak akan mengalami stress. Selain itu lingkungan merupakan faktor utama yang
mempengaruhi tingkat produktivitas ternak atau performance selain faktor genetic. Sehingga
lingkungan yang berhubungan langsung dengan performance pada ternak merupakan faktor
terpenting dalam penentuan karakter atau sifat dari ternak. Pada umumnya lingkungan

mempunya presentase yang lebih tinggi dibanding genetic yaitu 70% untuk lingkungan
sedangkan genetic 30%. Sehingga mengambil bagian yang sangat penting dalam membentuk
karakter

ternak.

2.

Faktor

Iklim

Berdasarkan gambaran curah hujan, Mohr (1933) membagi daerah-daerah di Indonesia ke dalam
5

golongan,

yaitu

sebagai

berikut.

1. Daerah basah, yakni daerah yang hampir setiap bulannya mempunyai curah hujan minimal 60
mm.
2. Daerah agak basah, yakni daerah dengan periode kering yang lemah dan terdapat satu bulan
kering.
3. Daerah agak kering, yaitu daerah-daerah yang mengalami bulan-bulan kering sekitar 3-4 bulan
setiap

tahunnya.

4. Daerah kering, yakni daerah yang mengalami bulan-bulan kering yang lamanya mencapai 6
bulan.
5. Daerah sangat kering, yakni daerah dengan masa kekeringan yang panjang dan parah.
Iklim merupakan faktor penentu cirri khas dan pola hidup dari suatu ternak. Iklim sendiri
merupakan bagian terpenting dari penentuan kerja status faali dari ternak. Pengaruh langsung
iklim pada ternak adalah pada produktivitasnya. Penentuan status faali dari ternak sangat penting
untuk diketahui karena dengan mengetahui status faali pada ternak, para peternak dapat
menentukan dan menemukan pengaruh lingkungan pada ternak. Karena pada dasarnya dengan
mengetahui temperature lingkungan, kelembaban, temperature kulit, suhu tubuh, suhu rectal,
respirasi dan denyut jantung, peternak akan dapat mengetahui cara dan pengaruh buruk faktorfaktor iklim terhadap ternak serta untuk mengetahui pada temperature dan kelembaban beberapa

ternak memiliki produktivitas yang baik dan efisien, oleh karena itu perlu adanya pengelolaan
yang lebih lanjut dan intensif. Selain itu iklim juga sangat berpengaruh terhadap hewan ternak.
Beberapa ahli mempelajari pengaruh iklim terhadap objek yang spesifik, di antaranya iklim
berpengaruh terhadap bentuk tubuh (Hukum Bergmann), insulasi pelindung atau kulit dan bulu
(Hukum Wilson), warna (Hukum Gloger), tubuh bagian dalam/internal (Hukum Claude
Bernard),

dan

kesehatan

dan

produksi

ternak.

Iklim yang cocok untuk daerah peternakan adalah pada klimat semi-arid. Daerah dengan klimat
ini ditandai dengan kondisi musim yang ekstrim, dengan curah hujan rendah secara relatif dan
musim kering yang panjang. Fluktuasi temperatur diavual dan musim sangat besar, lengas udara
sepanjang tahun kebanyakan sangat rendah dan terdapat intensitas radiasi solar yang tinggi
karena atmosfir yang kering dan lagit yang cerah. Meskipun curah hujan keseluruhan berkisar
antara 254 sampai 508 mm, dapat terjadi lebat bila turun hujan tetapi kejadiannya sangat jarang.
Radiasi sinar matahari terhadap hewan ternak dapat menimbulkan dua bentuk gangguan umum,
yaitu mutasi gen oleh radiasi kosmik dan kerusakan sel kulit oleh sinar ultra violet pada proses
'sunburn'. Hewan ternak mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan
iklim.
3.

Faktor

Suhu

Suhu dan kelembaban udara merupakan faktor-faktor yang penting, karena pengaruhnya sangat
besar terhadap kondisi ternak. Suhu dan kelembaban udara yang tinggi akan menyebabkan stress
pada ternak sehingga suhu tubuh, respirasi, dan denyut jantung meningkat, serta konsumsi pakan
menurun, akhirnya menyebabkan produktivitas ternak rendah. Selain itu faktor suhu berbeda
dengan faktor yang lain yaitu iklim tidak dapat diatur atau dikasai sepenuhnya oleh manusia.
Bila suhu lingkungan berada di atas atau di bawah comfort zone untuk mempertahankan suhu

tubuhnya ternak akan mengurangi atau atau meningkatkan laju metabolisme. Williamson dan
Payne (1968) menjelaskan, pada sapi tropik yang dipelihara pada suhu lingkungan di atas 27C
mekanisme pengaturan panas aktif dan laju pernafasan dan penguapan meningkat
Selain itu suhu dan kelembaban udara merupakan faktor yang mengatur iklim serta adaptasi dan
distribusi dari ternak dan vegetasi. Sebagi contoh, kehidupan ternak sapi diperlukan suhu optimal
diantara 13 sampai 180C dan bila suhu naik diantara 1 100C dari suhu optimalnya, ternak akan
mengalami depresi. Suhu udara dan kelembaban tinggi akan menimbulkan stress akibat kenaikan
suhu tubuhnya. Untuk menurunkan suhu tubuhnya yang naik, maka diperlukan energi tambahan
guna mencapai keseimbangan tubuhnya, efisiensi energi pakan (makanan) menjadi lebih kecil.
4.

Faktor

Ransum/Pakan

Pakan adalah sumber bahan-bahan makanan yang diperlukan untuk menyusun atau meramu
ransum/makanan ternak. Ransum/makanan terdiri atas satu atau lebih jenis bahan yang diberikan
untuk kebutuhan ternak sehari semalam. Setiap pakan ternak yang diberikan harus berkualitas
tinggi yaitu mengandung zat-zat makanan yang terdiri dari protein, karbohidrat, lemak, mineral,
dan

vitamin.

Faktor pakan berpengaruh terhadap podukivitas ternak, menurut para ahli bahwa produktivitas
ternak di suatu daerah dapat dilihat dari ketersediaan pakan di daerah tersebut. Apabila ternak di
daerah tersebut produktivitasnya rendah maka kualitas dan kuantitas pakan yang tersedia
keadaannya rendah pula. Dan perlu diperhatikan pula faktor pakanpun dipengaruhi oleh keadaan
lingkungan. Daerah yang ditempati oleh ternak harus ada kecocokan satu sama lainnya, yang
kemudian ditunjang dengan ketersediaan pakan yang cukup baik kualitas maupun kuantitasnya
untuk memenuhi kebutuhan hidup ternak. Dengan terjadi saling ketergantungan satu sama lain
dan masing-masing saling membantu, maka produktivitas ternak di daerah tersebut akan

menampilkan
Indicator

performans
kebehasilan

yang

adaptasi

terhadap

baik.

ransum

antara

lain:

Semakin banyak ransum yang dimakan heat increment tinggi pada saat proses pencernaan
(terutama

pakan

kasar)

Heat increment sangat mengganggu ternak pada saat udara panas lesu cekaman panas
penampilan

Dalam
Nafsu

turun

(produksi

kondisi
makan

udara
naik,

5.

dingin

konsumsi

naik,

rendah)
heat

increment

produksi

Faktor

rendah

Perkandangan

Pemeliharaan ternak terkurung dalam kandang adalah salah satu ciri khas peternakan modern,
terutama pada ternak monogastrik. Ini merupakan salah satu faktor lingkungan ternak yang
sangat penting diperhatikan di daerah tropis. Dengan mengandangkan ternak, penyebaran
penyakit terutama penyakit zoonosis dapat lebih terkendali, pelayanan ternak lebih mudah,
kerusakan lingkungan dapat diminimalkan dan mikroklimat yang terbaik bagi ternak dapat
diusahakan. Kandang ternak harus memenuhi kebutuhan fisik maupun fisiologis ternak, tahan
lama, hemat energi (tenaga, air), dan hemat lahan. Lahan untuk lokasi kandang perlu ditentukan
dengan memperhatikan luas, topografi, permukaan air tanah, dan jarak dari pemukiman,
sedangkan bangunan kandang harus memenuhi kebutuhan ternak sesuai dengan golongan atau
status biologis ternak, yakni bentuk bangunan, luas lantai, tata letak, arah dan jenis bahan
bangunan.
Pada

peternakan

modern

dikenal

1.
2.

tiga

tipe

perkandangan,

Kandang
Kandang

yaitu

sebagai

berikut.
klimatik.

lingkungan

terkontrol.

3.

Kandang

tipe

kenel

(kennel).

Syarat faktor-faktor fisik bangunan kandang ternak untuk daerah tropis adalah sebagai berikut.
1. Bahan bangunan harus tahan lama, relatif murah dan berdaya pantul tinggi terhadap sinar.
2. Berkemampuan rendah menyimpan beban panas yang berasal dari tubuh ternak.
3. Kemiringan atap cukup biasanya 30-45 derajat sehingga ternak terlindung dengan baik
terhadap

panas

sinar,

hujan,

dan

angin.

4. Sirkulasi udara terjamin dengan baik sehingga udara tak sehat dapat ke luar dan udara segar
dapat

masuk.

5. Arah memanjang (poros) bangunan kandang adalah Timur-Barat, berbeda dengan arah
bangunan

di

daerah

subtropis/temperat

ataupun

beriklim

dingin.

6. Ada dua tipe lantai kandang, yaitu: (a) Lantai polos (solid floor); (b) Lantai berbilah (slotted
floor)
Hal yang perlu diperhatikan dalam menyelaraskan ternak dengan perkandangannya adalah
pembatasan jumlah pemeliharaan ternak. Dalam memelihara ternak perlu adanya pembatasan
jumlah yang dipelihara, hal ini perlu diperhatikan oleh karena bila jumlah yang dipelihara dalam
satu satuan luas besar maka akan berpengaruh terhadap produksi ternak. Seperti yang
dikemukakan oleh Salisbury dan Salisbury bahwa semakin besar/tinggi jumlah ternak yang
dipelihara., maka bobot tubuh yang dihasilkan akan semakin kecil, yang sebagian besar
disebabkan insiden penyakit. Apabila dilihat dari segi produksi energi maka semakin besar
jumlah pemeliharaan ternak maka semakin besar panas lingkungan sekitarnya sehingga ternak
lebih terkonsentrasi untuk menghalau panas dari luar tubuh, akibatnya untuk pertumbuhannya
akan terganggu.