Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN PRAKTIKUM INSTALASI LISTRIK INDUSTRI

PANEL KONTROL WASTE WATER PUMPING STATION

Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan untuk
mata kuliah Praktikum Instalasi Listrik Industri pada semester V
Program Studi D3 Teknik Listrik Jurusan Teknik Elektro

Oleh:

Aji Muharam Somantri


NIM : 111321005

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


2013

KATA PENGANTAR
Puji Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah

melimpahkan

rahmat

dan

karunia-Nya

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan laporan praktikum yang berjudul WASTE WATER PUMPING


PANEL STATION (SISTEM PENGOLAHAN AIR LIMBAH). Laporan ini
disusun untuk memenuhi syarat kelulusan mata kuliah praktikum pada semester V
di Program Studi D3 Teknik Listrik Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri
Bandung.
Penulis menyadari bahwa dari awal sampai akhir pembuatan laporan ini
tidak lepas dari doa dan restu kedua orang tua yang selalu memberikan motivasi
dan kasih sayangnya sehingga penyusunan laporan ini dapat terselesaikan dengan
baik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. DwiSeptianto,
SST.,M.Eng., Bapak Toto Tohir, S.T., dan Bapak Nanang Mulyono, S.T.,
M.T. selaku dosen pembimbing praktikum yang selalu memberikan bantuan dan
pengarahan kepada penulis ketika sedang melaksanakan praktikum sehingga
penulis bisa memahami dan mengerti serta bisa menyelesaikan penyusunan
laporan praktikum instalasi listrik industri ini dengan baik dan lancar.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini masih banyak kekurangan,
untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk
bekal dan kesuksesan di masa yang akan datang, dan untuk perbaikan dalam
penyusunan laporan kedepannya. Harapan penulis semoga laporan praktikum ini
dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Bandung, Desember 2013

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan Laporan.......................................................................... 2
1.3 Kegiatan Selama Praktikum....................................................................... 2
1.4 Ruang Lingkup Bahasan ............................................................................ 3
1.5 Sistematika Penulisan Laporan .................................................................. 3

BAB II LANDASAN TEORI ....................................................................... 4


2.1 Peralatan dan Bahan .................................................................................. 4
2.2 Komponen yang Digunakan ...................................................................... 5
2.3 Macam-macam Komponen dan Kegunaannya ......................................... 9
2.4 Komponen Proteksi ................................................................................... 12

BAB III LANGKAH KERJA DAN PRINSIP KERJA .............................. 14


3.1 Deskripsi Umum Rangkaian Waste Water Pumping Station Panel .......... 14
3.2 Langkah Kerja ........................................................................................... 15
3.3 Deskripsi Kerja Rangkaian ........................................................................ 16
3.3.1 Keadaan Normal ............................................................................. 17
3.3.2 Keadaan Tidak Normal ................................................................... 17
3.3.3 Keadaan Over Limit ........................................................................ 18
3.3.4 Keadaan Over Load ........................................................................ 18
3.3.5 Kerja Pompa Secara Bergantian ( Change Over ) .......................... 18

BAB IV EVALUASI PEMASANGAN......................................................... 20


4.1 Labeling System ......................................................................................... 20
4.1.1 Labeling Komponen........................................................................ 20
ii

4.1.2 Teknik Perancangan Dan Pemeliharaan Model Label.................... 21


4.2 Penerapan Standar ..................................................................................... 24
4.3 Wiring......................................................................................................... 28
4.3.1 Wiring Control ................................................................................ 28
4.3.2 Wiring Simulator............................................................................. 32
4.4 Sistem Proteksi........................................................................................... 33

BAB V PENUTUP.......................................................................................... 34
5.1 Kesimpulan ................................................................................................ 34
5.2 Saran........................................................................................................... 34

LAMPIRAN ................................................................................................... 35

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Air limbah merupakan suatu zat yang berbahaya bagi lingkungan. Air

limbah yang tidak diolah dengan baik dan kemudian langsung dibuang ke alam
tentu saja akan merusak alam yang pada akhirnya merugikan manusia. Berbagai
bencana seperti banjir, penyakit dan sebagainya dapat terjadi jika air limbah tidak
ditangani dengan baik. Banyaknya limbah yang mencemari lingkungan (terutama
sungai) seringkali membawa dampak negatif bagi masyarakat, terutama
masyarakat yang tinggal di lingkungan sungai. Apalagi apabila terjadi luapan
aliran sungai, air sungai yang berbahaya tersebut bisa masuk ke rumah-rumah.
Selain mencemari, limbah juga menimbulkan bau yang tidak sedap dan sangat
berbahaya apabila terkonsumsi oleh manusia maupun hewan. Untuk itu, pihak
industri harusnya bertanggung jawab terhadap limbah cair produksinya. Caranya
adalah melakukan penetralan limbah cair tersebut. Oleh karena itu, perlu
dirancang suatu sistem yang dapat membuat air limbah yang tadinya berbahaya
menjadi air limbah bersih yang aman jika dibuang ke alam.
Pada semester 5 mahasiswa Teknik Elektro Program studi D3 Teknik
Listrik dihadapkan dengan mata kuliah praktikum perancangan Waste Water
Pump Station pada mata kuliah Praktikum Instalasi Listrik Industri. Waste Water
Pump Station ini merupakan rancangan penanganan air limbah yang berfungsi
mamindahkan dan mengatur limbah dari satu kolam penampungan ke kolam
penampungan berikutnya secara otomatis untuk kemudian menjalani proses
pengolahan air limbah selanjutnya. Waste Water Pump station memang bukanlah
sistem yang benar-benar dapat mangubah limbah menjadi aman untuk lingkunagn.
Akan tetapi merupakan salah satu sistem yang berfungsi sebagai pengatur aliran
limbah sehingga melancarkan proses pengolahan air limbah.

Panel Kontrol Waste Water Pumping Station ini dibuat sebagai pengendali
atau pusat pengoperasian pompa air yang terdiri dari 2 buah pompa air yang cara
kerjanya tergantung pengaturan pelampung (bandul) yang mengerjakan limit
switch dari pengisian air. Pompa air bekerja secara otomatis dengan bantuan timer
on delay dan floating switch yang memerintahkan pompa untuk bekerja.
Bekerjanya pompa terbagi menjadi 3 level, yaitu level 1 pompa 1 atau pompa 2
yang bekerja, level 2 kedua pompa yang bekerja dan level 3 atau level overlimit
kedua pompa bekerja dan menyebabkan alarm overlimit bekerja.

1.2

Tujuan Penulisan Laporan


Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah :
1) Setelah melaksanakan praktikum, mahasiswa diharapkan dapat merancang
dan merangkai rangkaian kontrol pengolahan limbah yang ada di industri.
2) Mahasiswa diharapkan dapat melakukan penelusuran atau menganalisa
Mahasiswa

diharapkan

mampu

melakukan

penelusuran

atau

menganalisa jika pada sistem terjadi gangguan (trouble).


3) Menumbuhkan kepercayaan diri pada mahasiswa jika di lapangan
berhadapan dengan masalah (trouble).

1.3

Kegiatan Selama Praktikum


Selama melaksanakan praktikum instalasi listrik industri jadwal

praktikum kami tiap minggunya adalah sebagai berikut :


Tabel 1.1 jadwal pelaksanaan praktikum instalasi listrik industri

NO

HARI PRAKTIKUM

JAM PRAKTIKUM

Selasa

13.00 18.20 WIB


07.00 12.20 WIB

Rabu
13.00 18.20 WIB

Kamis

13.oo 18.20 WIB

1.4

Ruang Lingkup Bahasan


Dalam penyusunan laporan hasil praktikum instalasi listrik industri yang

berjudul Waste Water Pumping Station Panel ini kami hanya membahas dan
melaporkan tentang langkah kerja rangkaian, deskripsi kerja rangkaian, keadaan
normal ketika sistem sedang beroperasi, keadaan tidak normal ketika sistem
sedang beroperasi, kondisi ketika terjadi over limit, kondisi ketika terjadi over
load, dan deskripsi kerja pompa ketika sedang beroperasi secara bergantian
(Change over).

1.5

Sistematika Penulisan Laporan


1) Bab satu, pendahuluan, membahas tentang latar belakang, tujuan, kegiatan
selama praktikum, ruang lingkup bahasan dan sistematika penulisan
laporan.
2) Bab dua, landasan teori, membahas materi-materi yang berhubungan
dengan topik praktikum yang dilakukan, diantaranya peralatan dan bahan
praktikum,

komponen

yang

digunakan,

macam-macam

kegunaan

komponen yang digunakan dan komponen proteksi.


3) Bab tiga, langkah kerja dan prinsip kerja, membahas tentang langkah
kerja rangkaian waste water pumping station panel, diantaranya adalah
tentang langkah kerja rangkaian, deskripsi kerja rangkaian, keadaan
normal ketika sistem sedang beroperasi, keadaan tidak normal ketika
sistem sedang beroperasi, kondisi ketika terjadi over limit, kondisi ketika
terjadi over load, dan deskripsi kerja pompa ketika sedang beroperasi
secara bergantian (Change over).
4) Bab empat, evaluasi pemasangan, membahas tentang tatacara pembuatan
labeling, diantaranya labeling komponen dan teknik perencanaan dan
pemeliharaan model label. Penerapan standar yang digunakan, wiring
control dan wiring simulator sera penjelasan tentang sistem proteksi yang
digunakan.
5) Bab lima, membahas tentang kesimpulan dari praktikum yang telah
dilakukan dan saran.
3

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Peralatan dan Bahan


Daftar peralatan dan bahan yang digunakan dalam praktikum instalasi

listrik industri ini adalah sebagai berikut :


NO

NAMA BARANG

JUMLAH

Tang Kombinasi

Tang Kupas

Tang Lancip

Tang Pemotong

Obeng Plus Besar

Obeng Plus Sedang

Obeng Plus Kecil

Obeng Minus Besar

Obeng Minus Sedang

10

Obeng Minus Kecil

11

Gunting potong

12

Cutter

13

Avo Meter

14

Relay Tester

2.2

Komponen yang Digunakan


Daftar komponen yang digunakan dalam praktikum instalasi listrik

industri adalah sebagai berikut :

NO

NAMA

SPESIFIKASI

BARANG

SATUAN
/UNIT

JUMLAH

Merk. Schneider
Type C

MCB 3 Fasa

Vkontak

= 240 440 Vac

IKontak

= 10 A

Pole

= 3 Pole

Pcs

set

set

Set

Set

Breaking Capacity= 10 KA
81mm x 54mm x 76mm
Irating

=6A

Vfuse holder = 48 V
2

Fuse

Type

= D II

Irating

= 10 A

Vfuse holder = 220 V


Type

= D II

Merk Omron MK3-P-I


VKontak = 220 V
Vcoil

= 220 V

Ikontak

Relay

=3

IEC 255
Merk Commat CR 310
VKontak = 220 V
Vcoil

= 48 V

Ikontak

=3

IEC 255
Merk. Telemeccanique
Vkontak = 380 V
4

Kontaktor

Vcoil

= 220 V

NO

=2

NC

=2

Pcs

Set

Pcs

Set

IEC 947
Merk. LR4D 13
Vkerja

= 220 V

Setting Arus = 2,5 A


5

TOLR

NO = 1
NC = 1
Ui 750 V ` Uimp 6 KV
IEC 947
Step-Down; VDE 0550
220V/48V
Type. ST 500/X

Transformator

Frekuensi = 50 Hz
Pri ; 220 V 11 V-2,48 A
Sec ; 48 V-10,4 A
On Delay / Travail
Type AH3-N
VKontak = 380 Vac

Time Delay

Vcoil

Relay

NO = 1

= 220 V

NC = 1
0,1 30 Sec.
5 A Ressistive

Off Delay
VKontak = 220 Vac
Vcoil

= 48 V

NO = 1

Set

Pcs

Pcs

Pcs

Pcs

NC = 1
1 50 Sec.
Ikontak

Merk Mextech
8

Hour Counter

220 V 240 V
Frekuensi = 50 Hz.
Jml Digit = 12
VKontak = 220 Vac

Impuls

Vcoil

= 220 Vac

Ikontak

NO = 1
NC = 1
Rotary Switch :
VKontak = 380 Vac
10

Switch

IKonak

= 25 A

Pole

= 3 Pole

Floating Switch :
VKontak = 48 Vac
11

Wiring Duck

Ukuran Lebar 8cm

Meter

4M

12

Profil-G

Ukuran Lebar 5 Cm

Meter

4M

Set

Complete Set.
13

Lampu Indikator

48 Vac
Warna Hijau

Complete Set.
48 Vac

Set

Warna Hijau

Pcs

Warna Merah

Pcs

V kontak = 220 V

Pcs

Pcs

Warna Merah

14

15

Push Button

Sakelar Tunggal

V kerja = 48 V
16

Pilot Lamp

Daya < 5 Watt


Kode Warna = merah, hijau

17

Dioda

Type. IN4001-4009

Pcs

18

Not Return Valve

V = 220 V

Pcs

Meter

Secukupnya

Meter

Secukupnya

Meter

Secukupnya

Pcs

2,5 mm2 , 6 mm2


Kode warna ; merah,
kuning, hitam, dan biru.
Jenis NYAF
19

Kabel

1,5 mm2
Kode warna ; Abu-abu
Jenis NYY
3 x 2,5mm2
Kode warna ; merah,
kuning, hitam

20

Buzzer

V kontak = 220 V

21

2.3

Line Up Terminal

V kerja = 220 V; 1,5mm2,


2,5mm2

Set

Secukupnya

Macam-macam Komponen dan Kegunaannya


Dalam pembuatan panel control Waste Water Pumping Station Panel

terdapat beberapa komponen yang mempunyai kegunaan sebagai berikut :


1) MCB
Berfungsi sebagai pengaman gangguan hubung singkat dan arus beban
lebih.

2) Fuse
Berfungsi sebagai pengaman dari gangguan arus beban lebih.

3) Relay
Berfungsi

sebagai

sakelar

yang

bekerja

berdasarkan

prinsip

elektromagnetik.

4) Kontaktor
Berfungsi

untuk

menjalankan

motor

agar

pompa

dapat

bekerja/penghubung tegangan jala-jala dengan motor. Atau fungsi


bebasnya adalah sebagai saklar daya.

5) TOLR
Berfungsi sebagai proteksi untuk motor listrik dari gangguan arus beban
lebih dengan menggunakan prinsip kerja thermal ( bimetal ).

6) Transformator
Berfungsi untuk mentransformasikan tegangan 220 V ke tegangan 48 V.
Dilakukan penurunan tegangan berkenaan dengan media zat yang

dikerjakan (dalam hal ini adalah zat cair). Apabila ada arus bocor ke
limbah, dan tersentuh manusia, masih aman. Karena besarnya tegangan
sentuh yang diizinkan adalah dibawah 50 V.

7) Main Switch
Berfungsi sebagai pemutus aliran listrik yang akan disuplai untuk
pengontrolan panel agar dapat difungsikan atau dijalankan.

8) Time Delay Relay ( On Delay )


Berfungsi untuk mendelay kerja pompa berkenaan dengan jarak pompa
dengan media limbah yang akan dipindahkan.

9) Time Delay Relay ( Off Delay )


Berfungsi pada saat test run. Jadi operator hanya menekan sesaat, tetapi
pompa bekerja lebih lama.

10) Hour Counter


Berfungsi untuk menuntukan berapa lama waktu operasi dari pompa yang
dibutuhkan. Hour counter juga bisa dijadikan parameter keseimbangan
kerja pompa.

11) Impuls
Berfungsi untuk melakukan pergantian kerja pompa di level 1 yang
bertujuan untung keseimbangan kerja kedua pompa (berkaitan dengan
maintenance dan life time pompa). Kerjanya dikoordinasikan dengan
floating switch level 1 dan relay.

12) Wiring Duck


Berfungsi untuk jalur koneksi peletakan kabel pada saat melakukan wiring.

10

13) Profil-G
Berfungsi sebagai plat penyangga komponen yang dipasang di dalam box
panel.

14) Lampu Indikator


Berfungsi untuk memudahkan operator di dalam monitoring kerja pompa,
apakah pompa bekerja normal atau ada gangguan. Apabila ada gangguan,
dikaitkan kerjanya dengan buzzer.

15) Sakelar Push Button


Berfungsi Sebagai Saklar untuk pengoperasian, mematikan alarm, test run,
test lamp, dll.

16) Dioda
Fungsi dioda :
a) Pada posisi forward berfungsi sebagai penyearah
b) Pada kondisi reverse berfungsi sebagai current blocking
Yang dipakai pada rangkaian kontrol waste pumping station adalah fungsi
nomor B. Fungsinya berkenaan dengan kinerja lampu indikator. Misalkan,
apabila terjadi Overload pada pompa 1, maka hanya indikator overload
pompa 1 saja yang menyala.

17) Floating Switch


Berfungsi sebagai saklar pelampung yang menandakan bahwa air telah
mencapai level tertentu, atau sebagai saklar penentu level.

18) No Return Valve


Berfungsi sebagai penahan air, agar ketika air yang sudah naik ke pipa
atas, tidak turun kembali atau kembali ke kolam 1.

11

19) No Flow Counter


Berfungsi untuk mengontrol ada/tidaknya aliran air dan memberikan
indikasi agar sistem berhenti atau terjadi gangguan.

20) Selector Switch Mode Operation Pump


Mempunyai 2 fungsi :
1. Impuls: digunakan untuk pengecekan alat/pompa dan peralatan/pompa
dalam keadaan siap dioperasikan (hanya sesaat).
2. Auto : digunakan untuk pengoperasian secara automatis.

21) Buzzer
Berfungsi untuk menandakan air telah mencapai level yang tertinggi/level
overlimit, dan menandakan adanya gangguan pada system.

2.4

Komponen Proteksi
Dalam perangkaian panel control Waste Water Pumping Station Panel

terdapat beberapa komponen proteksi yang berfungsi untuk pengaman komponen


yang digunakan dalam pembuatan panel control pengolahan air limbah ini. Fungsi
dari komponen proteksi ini adalah sebagai berikut :
1) MCB/Fuse
MCB dan Fuse pada panel control Waste Water Pumping Station Panel
digunakan sebagai pengaman komponen dari kerusakan dan pengaman
dari gangguan arus hubung singkat dan arus beban lebih.
Fuse digunakan sebagai pengaman komponen dari gangguan arus beban
lebih, ada 3 buah fuse yang digunakan dalam pembuatan panel control
Waste Water Pumping Station Panel ini. pada outgoing (netral 48 V dan
line 48 V) dipasang fuse berkenaan dengan media yang dikerjakan (dalam
hal ini media yang dikerjakan adalah limbah). Tujuannya adalah apabila
terkena tegangan, limbah akan menjadi penghantar, dikhawatirkan akan
terjadi hubung singkat, sehingga apabila dipasang fuse maka komponen
dalam hal ini trafo tidak akan mengalami kerusakan akibat gangguan tadi.

12

Yang akan terjadi adalah fuse akan putus terlebih dahulu, sehingga
komponen yang terpasang aman.

2) Thermal Overload Relay ( TOLR )


Digunakan sebagai pengaman pada motor bila terjadi beban lebih.

13

BAB III
LANGKAH KERJA DAN PRINSIP KERJA

3.1

Deskripsi Umum Rangkaian Waste Water Pumping Station Panel


Sistem pengolahan air limbah yang dirancang dalam pembuatan panel

control Waste Water Pumping Station Panel dibagi menjadi tiga bagian/tahapan
atau bisa juga dikategorikan kedalam tiga level yang menyatakan ketinggian
limbah, dimana pada setiap level akan mendapatkan respons kerja sistem
rangkaian yang berbeda, untuk lebih jelasnya, deskripsi umum sistem kerja
rangkaian panel control Waste Water Pumping Station Panel adalah sebagai
berikut :
1) Apabila limbah telah mencapai Level 1, maka salah satu pompa (pompa 1
atau pompa 2) akan bekerja. Jika limbah tersebut pasang-surut/ berada
pada daerah Level 1 maka kedua pompa tersebut akan bekerja secara
bergantian.
2) Apabila volume limbah yang dikeluarkan bertambah banyak sehingga
limbah telah mencapai Level 2, maka kedua pompa akan bekerja secara
bersamaan untuk mempercepat proses penyaluran air ke kolam
penampungan air limbah selanjutnya. Jika volume air telah berkurang
maka pompa yang bekerja terakhir akan berhenti bekerja, sedangkan
pompa yang satunya tetap bekerja untuk terus mengurangi volume air
sampai distribusi pemompaan air limbah ke tangki atau kolam
penampungan selanjutnya berjalan normal atau bahkan sampai habis. Jika
limbah tersebut pasang-surut pada daerah Level 2, maka pompa yang
terakhir bekerja yang akan kembali beroperasi, selanjutnya jika volume
mencapai level 2 dan volume air limbah terus berkurang dari level 2 maka
pompa yang terakhir beroperasi akan berhenti sampai ketinggian air

14

limbah mencapai Level 1 maka pompa akan kembali bekerja secara


bergantian.
3) Pada saat volume limbah sangat banyak hingga mencapai Level 3 (Level
Over Limit) maka selain kedua pompa tetap akan bekerja memompakan
limbah ke kolam penampungan selanjutnya, system akan memberi
informasi kepada operator secara otomatis untuk segera membuka pintu
cadangan agar limbah tidak meluap keluar dari kolam penampungan.
Indikasi ini akan ditandai dengan berbunyinya alarm tanda volume air
limbah telah mencapai Over Limit. Untuk mematikan alarm cukup dengan
menekan tombol alarm off pada panel.

3.2

Langkah Kerja
1) Dalam mengoperasikan panel control Waste Water Pumping Station Panel
langkah pertama yang harus dilakukan adalah menjalankan sakelar utama
sehingga sakelar on dan terhubung ( saklar pada posisi I ).
2) Naikkan MCB.
3) Selanjutnya lakukan pengecekan pada masing-masing pompa apakah
tegangan sudah masuk ke rangkaian atau belum, caranya yaitu dengan
memutar Mode Operation Pump ke posisi imp, jika lampu tanda pada
simulator menyala berarti tegangan sudah masuk ke rangkaian.
4) Langkah selanjutnya kedua Mode Operation Pump untuk pompa satu dan
pompa dua diputar menunjuk posisi Auto. Dengan tujuan rangkaian
terhubung ke kedua pompa, dan menjukan bahwa kedua pompa sudah
siap bekerja.
5) Apabila air dalam penampungan volumenya bertambah dan mencapai
floating switch 1 (level 1) yang disimulasikan dengan saklar tunggal, maka
salah satu pompa akan bekerja. Jika terjadi pasang surut pada level 1 maka
pompa 1 dan 2 akan bekerja secara bergantian, yang dikendalikan oleh
saklar impuls (d14). Apabila volume air dalam penampungan terus
bertambah dan mencapai Floating Switch 2 (level 2) yang di simulasikan
dengan saklar tunggal, maka pompa l dan pompa 2 akan bekerja, sehingga

15

pada level ini kedua pompa bekerja bersama-sama. Apabila pada level ini
volume air berkurang, maka pompa yang terakhir bekerja akan di matikan
kembali. Apabila volume air masih terus bertambah dan mencapai batas
over limit (level over limit) yang di simulasikan oleh push botton, maka
alarm level overlimit dan lampu indikator pada panel akan bekerja. Yang
mengindikasikan bahwa air dalam penampungan mencapai over limit
untuk segera dilakukan tindakan selanjutnya. Untuk mematikan alarm ini
menggunakan push botton NC pada panel.

3.3

Deskripsi Kerja Rangkaian


Simulasi dari Waste Water Pumping yaitu simulasi untuk memindahkan

air dari satu tangki ke tangki yang lain menggunakan 2 buah pompa. Sistem ini
bekerja secara otomatis dan manual. Kerja secara manual yaitu pompa bisa
dijalankan kapan pun sesuai dengan kehendak operator. Kerja secara otomatis
yaitu pompa bekerja tanpa menggunakan operator, yang sebelumnya sudah
disetting pada peralatan simulasi waste water pumping yang digunakannya.
Simulasi ini bekerja dengan asumsi tangki dikondisikan pada 4 Level. Level satu
yaitu kedua pompa belum ada yang bekerja. Level dua salah satu pompa bekerja
dan apabila terjadi naik turun level air pada level dua maka kerja pompa
bergantian antara pompa satu dengan pompa dua. Level tiga kedua pompa
bekerja, dan jika air naik terus sampai pada level empat maka overlimit bekerja
dengan ditandai lampu indikator dan bunyi alarm serta valve akan membuka
secara otomatis untuk membuang air ke tangki cadangan dan kedua pompa tetap
bekerja.
Mode test run yaitu untuk memudahkan operator mengetahui pompa mana
yang sedang bekerja dengan melihat lampu indikator run pump 1 atau pump 2
yang menyala. Prinsip kerja test run dengan menggunakan push button dan relay
off delay. Ketika push button ditekan sekali, maka relay off delay akan bekerja
dan menghubungkan kontak off delay sehingga operator dapat mengetahui pompa
mana yang sedang bekerja dengan melihat lampu indikator yang menyala pada
pintu panel.

16

Mode test lamp yaitu untuk mengetahui apakah lampu indikator pada pintu
panel dalam keadaan baik atau rusak sebelum digunakan pada proses kerja
rangkaian. Jika ada lampu indikator yang rusak maka operator akan dengan
mudah mengetahuinya dan segera menggantinya dengan yang baru.
Pemasangan pentanahan pada pintu panel, badan panel, rangka panel dan
trafo daya sangat perlu karena bertujuan mengamankan rangkaian dari arus bocor
dan untuk keselamatan operator apabila menjalankan operasi Waste Water
Pumping.

3.3.1 Keadaan Normal


Pada keadaan normal, pompa akan tetap bekerja meskipun setting waktu
timer d11 untuk pompa 1 dan timer d16 untuk pompa 2 telah habis. Untuk
mengoperasikan agar rangkain bekerja pada keadaan normal, maka timer d11 dan
d16 harus di setting lebih besar dari seting timer On Delay (flow controller) pada
papan simulasi. Sehingga arus yang masuk ke coil kontaktor C21 atau C23 pada
saat setting timer d11 dan d16 habis telah di gantikan oleh flow controller, yang
disimulasikan oleh timer On Delay pada papan simulasi. Sehingga arus yang
masuk ke koil kontaktor C21 dan C23 sekarang melewati flow controller tidak
lagi melewati timer d11 dan d16. Pada kenyataannya dilapangan setting waktu
timer On Delay pada papan simulasi diasumsikan sebagai waktu yang diperlukan
oleh air dalam melewati sebuah pipa untuk naik sampai menyentuh flow
controller sehingga kontak flow controller menutup untuk menggantikan kontak
timer d11 dan d16 untuk melewatkan arus menuju koil kontaktor C21 dan C23.

3.3.2 Keadaan Tidak Normal


Pada keadaan tidak normal, pompa 1 dan 2 akan mati bersamaan dengan
habisnya setting waktu pada timer d11 untuk pompa 1 dan d16 untuk pompa 2.
Kondisi ini terjadi karena setting waktu timer d11 dan d16 lebih kecil dari timer
On Delay pada papan simulasi. Hal ini di asumsikan karena tidak adanya air yang
menyentuh flow controller sehingga kontak flow controller belum menutup. Pada
keadaan ini maka alarm 1/alarm No Flow dan lampu indikator No Flow pada

17

panel akan bekerja. Untuk mematikan alarm ini dengan memutar Mode Operation
Pump menunjuk angka 0.

3.3.3 Keadaan Over Limit


Keadaan over limit ini akan terjadi apabila air telah mencapai level 3, dan
floating switch menekan saklar level tiga yang akan mengaktifkan relay d37
bekerja dan mengakibatkan lampu indikator over limit menyala dan alarm
overlimit bekerja yang kemudian akan memberitahukan operator untuk membuka
valve yang akan mengalirkan air ke penampungan cadangan.

3.3.4 Keadaan Overload


Keadaan over load terjadi apabila pompa mendapat arus beban lebih dan
akan mengindikasikan pompa untuk berhenti, terjadinya pemberhentian pompa ini
disertai dengan menyalanya lampu indikator OL pada pintu panel. kemungkinan
letak antara motor dengan pompa jauh, untuk mengetahui pompa bekerja atau
tidak, maka dilengkapi dengan rangkaian test lampu sebagai indikator pompa 1
dan pompa 2 bekerja atau tidak. Yaitu menggunakan Off Delay, dengan menekan
tombol Test Run Pump berupa Push Button NO maka lampu indikator akan
menyala jika pompa bekerja, dan akan mati kembali sesuai setting pada timer Off
Delay-nya. Untuk mengetahui keadaan lampu indikator pada panel baik atau tidak
maka dengan menekan tombol Test Lamp pada panel berupa push botton NO,
maka semua lampu indikator yang ada pada panel akan menyala.

3.3.5 Kerja Pompa Secara Bergantian ( Change Over )


Dalam mengerjakan praktikum Instalasi listrik industri untuk perancangan
dan wiring panel control Waste Water Pumping Station Panel terdapat salah satu
prinsip kerja pompa yang sistem kerjanya secara bergantian ( change Over ).
Untuk lebih jelasnya penjelasan mengenai prinsip kerja pompa secara bergantian
akan coba dijelaskan secara detail pada paragraph selanjutnya.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah posisikan selector pompa 1 dan
2 (b10 & b15) pada posisi auto. Pompa akan bekerja secara bergantian

18

dikarenakan level air pada tangki naik turun dimisalkan pada level 2. Pertama
apabila floating switch pompa 1 (b11) terendam air maka pompa yang akan
bekerja yaitu pompa 2 hal ini dikarenakan ketika (b11) menutup maka arus akan
masuk ke impuls (d14) dan kontak impuls akan menutup dan koil (d15) bekerja.
Saat koil (d15) bekerja semua kontak (d15) akan berubah dari posisi awal, karena
perubahan kontak (d15) itulah maka pompa 2 yang pertama bekerja. Ketika level
air turun lagi maka floating switch (b11) akan membuka dan pompa 2 mati. Tetapi
kontak impuls (d14) masih menutup karena untuk buka tutup kontak impuls (d14)
hanya jika impuls diberi sekali arus sesaat saja. Lalu level air naik lagi dan (b11)
menutup kembali kemudian meng energize impuls (d14) dan kontaknya membuka
dan pompa 2 yang bekerja kembali karena kontak (d15) belum berubah. Saat level
air turun lagi pompa 2 mati. Kemudiaan air naik kembali, pada saat ini pompa 1
yang bekerja karena kontak impuls (d14) meng energize koil (d15) dan semua
kontak (d15) akan berubah kembali pada posisi awal.
Kegagalan change over bisa disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
1. Koil dan kontak (d15) ada yang rusak jadi tidak bisa bekerja dengan baik.
2. Impuls sudah rusak.
3. Koneksi pada saat melakukan wiring dan terminasi tidak baik ( tidak
kencang secara mekanik dan electric ).
4. Kesalahan pembacaan kontak NO, NC (d15).
5. Baut-baut pada kontak (d15) ada yang longgar sehingga koneksi tidak
lancar dan tidak bisa bekerja dengan baik.

19

BAB IV
EVALUASI PEMASANGAN

4.1

Labeling System

4.1.1 Labeling Komponen


Sistem pelebelan ini pada dasarnya adalah pemberian identifikai setiap
komponen dalam suatu system sehingga dapat dibedakan secara mudah posisi,
jenis dan lokasi pemasanganya. Lebel ini dicetak diatas kertas stiker ataupun
alumunium foilyang diberi lapisan perkat. Menurut setandart IEC, pelebelan
dibuat dengan 3 digit identifikasi yang merupakan kombinasi huruf dan angka
sebagai berikut.
XXX

Digit III
Digit II
Digit I

Digit I

: bernotasi huruf A-Z yang di tulis dengan hurup besar. Notasi ini

menunjukan jenis dari komponen yang bersngkutan.

Digit II : berupa notsi angka yang menunjukan nomor urut dari setiap jenis
komponen yang sama.

Digit III : berupa notasi hurup A-Z yang ditulis dengan hurup besar. Notasi ini
menunjuka fungsi dari komponen yang bersangkutan.

20

1)

Label kawat hantaran


System pelabelan ini pada dasarnya adalah pemberian identifikasi setiap

ujung kawat penghantar yang digunakan dalam suatu system. Lebel hantaran
dipasang dengan acuan :
a) Setiap potongan kawat penghatar yang digunakan diberi tanda dengan notasi
nomor hantaran yang sama pada kedua ujungnya.
b) Setiap penghantar yang terhubung pad titikyang sama diberi notasi nomor
hantaran yang sama.
c) Penghatar masukan dan keluaran pada setiap anak kontak sakelar diberi notasi
nomor hantaran yang berbeda.

2)

Label fungsi
System pelabelan ini pada dasarnya adalah pemberian identifikasi fungsi

setiap komponen operasional yang menjadi tanggung jawab operator. Komponen


operasional yang tercakup dalam pengertian ini adalah actualed botton, CB alat
ukur dan alat monitoring kinerja system lainnya. Label fungsi dinyatakan dengan
nama fungsi dari komponen yang besangkutan dalam suatu system dan bukan
dinyatakan dengan nama komponennya.

4.1.2 Teknik perancangan dan pemilihan model label


1)

Label komponen
Label komponen dirancang dan dibuat dengan mengikuti notasi yang

terdapat pada diagram rangkaiannya. Notasi labelnya dibuat persis sama dengan
notasi yang terdapat pad diagram rangkaiannya. Label ini umumnya dicetak
sendiri (tidak dijual bebas di pasaran) dengan cara:
a) Dicetak di atas alumunium foil dan diberi lapisan perekat.
b) Dicetak diatas kertas setiker.
c) Gunakan atau cat yang tidak tidak mudah luntur/terhapus.

21

2)

Label kawat hantaran


Label kawt penghantar dirancang dan dibuat denagn mengikuti ketentuan

pada pon 3.2 diatas dan disesuaikan dengan kondisi serta kompleksitas
sistemnya. Label ini dirancang dengan tahanan proses sebagai berikut:
a) Rancangrancang system penomoran hantaran dengan acuan diagram
rangkaian system yang bersnagkutan.
b) Jika system beroprasi dengan lebih dari stu tegangan keja, maka
rancanglah sistem penomoran yang berbeda pad setiap kelompok
tegangan kerjanya. Hal ini dilakuka agar dapat secar hantaran-hantarn
yang beroprasi pada tegangan kerja yang berbeda.
c) Buatlah system penomoran dengan notasi angkasecar berurutan dimulai
dari 1 ribuandalm format 3 atau 4 digit sesusi banyaknya potongan
penghantar yang digunakan dan tetap memperhatikan pemenuhan poin
2b diatas.

Model label yang digunakan dapat dipilih dari beberapa bentuk label
berikut:
1) Label kain
Label jenis ini terbuat dari bahan dasar kainberperekat yang terlah
tercetak system penomoran hantaran diatasnya. Label ini dapat dijumpai
dalam bentuk bundel/buku yang pada setiap halamanya memuat sejumlah
strip-strip kecil yang dapat dilepaskan ( semacam setiker) dan direkatkan
pada setiap penghantar sesuai kebutuhannya.

2) Label pelastik/PVC
Label jenis ini terbuat dari bahan dasar pelastik atau PVC berbentuk
selong song yang telah dictek system penomoran hantaran diatasnya.
Label jenis ini dapat dijumpai dalam bentuk untaian selongsong kecilkecil dengan ukuran diameter yang sesuai dengan ukuran penghantarnya.

22

3) Label fungsi
Label fungsi dirancang dan dibuat sesuai daengan fungsi komponen
operasional yang terdapat dalam suatu system. Notasi labelnya dibuat
dengan cara:
1) Dicetak diatas allumunium foil berperekat
2) Dicetak langsung pada plat dudukan komponen operasional (sablon)
4) Pemasangan label
Label dipasang dengan mengikuti petunjuk pemasangan berikut ini:
JENIS LABEL

FUNGSI

PETUNJUK PEMASANGAN
1. Label dipasang didalam panel
sehingga tidak terlihat tanpa
membuka cover protection
2. Label

Label Komponen

dipasang

pada

Sebagai pedoman

komponen

teknisi perakit dan

sedemikian rupa sehinga mudah

teknisi pemeliharaan
dalam melakukan
pelacaka gangguan

atau

bodi

dudukannya

terlihat/ditemukan

dari

sisi

depan panel.
3. Label tidak boleh dipasang
diatas name plate,plat saklar
atur, tombol riset dan knop
pengatur

komponen

yang

bersangkutan
1. Label dipasang pada setiap
Sebagai pedoman
Label Kawat
Hantaran

teknisi perakit dan


teknisi pemelihaan
dalam melakukan
pelacakan gangguan

ujung penghantar dengan jarak


0,5-1

cmdari

ujung

isolasi

hantarannya.
2. Setiap potong kawat penghantar
memiliki nomor yang sama
pada kedua ujungnya.
3. Ujung-ujung penghantar yang

23

bernomor

sama

dihubungkan

dapt

pada

titik

sambung atau terminal yang


sama. Namun hindari memasng
ujung penghantar yang berbeda
nomor pada titik smabung atau
terminal yang sama.
4. Label

direkatkan

pada

setiap

potongan

penghantar

akan

dipasang

dihubungkan

saat

atau

pada

titik

sambungan/terminal.
1. Label dipasang pada sisi depan
plat dudukan komponen dan
berdekatan denga komponen
yang bersangkutan.
Sebagai pedoman
Label Fungsi

2. Label

harus

dapat

dibaca

bagi operator dalam

dengan tanpa membuka cover

pengoprasian sistem

protection
3. Label tidak boleh menutupi plat
sakelar atur, tombol riset dan
knop

penghantar

komponen

yang bersangkutan.

4.2

Penerapan Standar
Kode Warna push-button, Iluminated push-button dan Indicator Light
Arti dari kode warna pada peralatan kendali dan lampu tanda harus

dipahami secara jelas oleh operator guna menghindari kesalahan operasi atau
interpretasi. Penggunaan kode warna telah distandardisasi sesuai spesifikasi yang
berlaku. Kode warna push-button, illuminated dan lampu tanda yang digunakan

24

pada peralatan listrik telah dipublikasi dalam bulletin VDE 0113/12 dan IEC
Publ.204.
Tabel 1. Kode Warna Push Button

WARNA

ARTI

APLIKASI ( typical )
1. Untuk menghentikan operasi satu
motor listrik atau lebih.
2. Untuk menghentikan operasi bagian
dari suatu mesin/sistem.
3. Untuk menghentikan catu energi
peralatan

Stop Off

penjepit

magnetis

(Magnetic Clamping Device).


4. Untuk menghentikan siklus proses
(Ketika operator menekan tombol
pada

saat

proses

sedang

berjalan,mesin akan berhenti setelah


siklus proses yang sedang berjalan
diselesaikan secara lengkap).

Merah
Emergency Off (Push
button berbentuk
cendawan merah dari
tipe berpengunci /
latched-type sebaiknya
hanya digunakan untuk
penghentian darurat.
Latar belakangnya yang
harus berwarna kuning

1. Penghentian Darurat (Emergency


stop)
2.Memutus Suplai energi pada kasus
pemanasan lebih (overheating) yang
membahayakan.

dapat dibentuk dengan


lapisan cat atau
menambahkan lapisan

25

plat dibawahnya)

1. Untuk memutuskan catu energi pada


rangkaian kendali (ketersediaan catu
daya).
2. Untuk mengawali beroperasinya satu
atau lebih motor-motor untuk fungsifungsi bantuan (auxiliary functions).

Hijau atau
Hitam

Start,On,Inch

3. Untuk mengaktifkan suatu bagian


dari mesin.
4. Untuk

memberikan

peralatan

catu

pemegang

magnetis

(magnetic

energi
penjepit

Clamping

Devices).
5. Inching atau jogging.
Start of return

Kuning

1. Mengembalikan

elemen-elemen

movement outside the

mesin/sistem ke titik awal siklus

normal working cycle

sebelum siklus tersebut diselesaikan

or Start of a movement

secara tuntas.

to suppress dangerous
2. Mengaktifkan

conditions.

push-button

warna

kuning dapat membatalkan fungsi lain


yang telah ditetapkan sebelumnya.
Fungsi
Putih atau

yang

spesifik
tidak

lain

dicukupi

Biru Terang oleh kode-kode warna


diatas.

1. Mengendalikan fungsi-fungsi bantu


yang

tidak

secara

langsung

berhubungan dengan siklus kerja.


2. Mereset relay-relay proteksi.

26

Tabel 2. Kode Warna Lmapu Tanda

WARNA

ARTI

APLIKASI ( typical )
a. Indication that the machine has been
stopped by action of a protective
device,e.g.

Merah

Abnormal Conditions

because

of

overload,overtravel or because of
another fault.
b. Indication for the operator stop the
machine e.g.because of overload.
a. Machine ready to start.
b. All necessary auxiliary devices are in
working order.The various units are in
their initial position and the hydraulic

Hijau

Machine Ready to Start

pressure or the voltage of converter


have the specified values.
c. The

working

cycles

has

been

completed and the machine is ready


for a new start.

Kuning
(Amber)

1. A
Perhatian (Caution)

variable

(current,temperature)

Mencapai nilai-nilai batasnya.


2. Sinyal bagi siklus otomatik

Putih

Circuit Energized

Sakelar utama pada posisi ON


1. Pemilihan kecepatan atau arah putar.

Tanpa
Warna

Operasi Normal

2. Individual drives and auxiliary are in


operation.
3. Mesin sedang beroperasi.

27

4.3

Wiring

4.3.1 Wiring Control


0

a
48
b

220 V

c
d

E 04

E 05
MCB

10 A

10A

MCB
e

FUSE

f
g
h
MO7
220/ 48V
50 VA

i
j
K 21

K 23

B 01
25A

l
m

F 21

F 71
2A

F 23

n
o
p
q

Badan Panel

Pintu Panel

Rangka Panel

48 V

220 V

u
v

R S T N

P
E

U V WE

U VW E

w
x
y
z
0

28

29

20

29

a
48 V

48 V

220 V

220 V

b
c
d
e
95

95

98

f 23

f 21
96

f 21

96

97

g
h
i
j
k
53

53

83

k 21

k 23

54

6
d 22

84

83

k 21

54

d 30

k 23

84

m
n
28

30

34

32

o
n 25

n 26

n 29

n 28

q
27

29

31

33

r
a1

15

a1
h

s
48 V

k 21 a2

2
h

d 22
k 23 a2

16

17
d 24

h 25

h 26

h 29

d 27
h 18

10

18

48 V

t
220 V

220 V

Beban lebih untuk p 1

NO NC
5
5
5
24 17
28

x
27

21

23

30

z
0

NO NC
18
35

P 2 kerja

NO NC
4
4
4
22
25

P 1 kerja

30

30

39

a
48 V

48 V

220 V

220 V

b
c
b 38
Alarm
off

d
11

e
98

k 23

b 31

b 31

b 37

d 32

97

4
d 37

d 37
1

g
12

h
i

36
n 39

j
k

35

l
m
9

13

o
4

4
d 17

d 12

6
d 30

d 27

5
d 35

d 37

11

q
10

14

r
A

d 32

d 35

s
48 V

h 39

d 37

48 V

10

10

t
220 V

220 V
u
v

NO NC
36 17

NO NC
2x38
39

NO NC
36

NO NC
34

Level batas
terendah

Pemilih alarm

Beban
lebih

Lampu
pengetesan

Level tertinggi

31

4.3.2 Wiring Simulator

32

4.4

Sistem Proteksi
Sistem Proteksi yang digunakan dalam panel control Waste Water

Pumping Station Panel adalah :


1) MCB dan TOR untuk mengamankan motor.
2) Fuse untuk mengamankan rangkaian kontrol dan trafo.
3) Pembumian sistem TN untuk mengamankan arus bocor pada panel.
4) Tegangan sentuh karena bodi, pintu, rangka terpasang pembumian.

33

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa
system pengaturan pembuangan air limbah ini terdapat tiga kondisi penting
yaitu :
1. Keadaan normal, pada kondisi ini semua pompa bekerja normal.
2. Keadaan tidak normal, dimana pompa akan mati setelah bekerja terlebih
dahulu beberapa saat. Pada kondisi ini diartikan bahwa pada pipa
pompa tidak ada aliran. Pada kondisi ini lampu indikator pada panel akan
menyala dan alarm berbunyi.
3. Keadaan Over Load, pompa akan berhenti bekerja karena pada pompa
terjadi beban lebih, artinya arus yang mengalir ke motor lebih besar dari
arus setting pada thermal over load relay. Pada kondisi ini lampu indicator
pada panel akan menyala dan alarm berbunyi.

5.3 Saran
Pada proses merangkai panel control, sambungan antara tiap komponen
harus kencang karena ini berpengaruh terhadap kerja system. Labeling pada
kabel control harus benar ini akan berguna pada saat terjadi trouble shooting.
Masing-masing orang harus memiliki satu set peralatan lengkap mulai dari
peralatan utama peralatan bantu dan alat ukur.

34

LAMPIRAN

35

ANALISA DAN JAWABAN PERTANYAAN PERSENTASI

Analisis Rangkaian
Pada analisis rangkaian ini akan di jelaskan alasan-alasan dari rangkaian tersebut
dari mulai alur kerja sistem sampai kepada penggunaan komponen dengan spesifikasi
yang ada di rangkaian itu sendiri. Dalam rangkaian ini, sistem menggunakan dua
tegangan yaitu 220 V dan 48 V, sistem bekerja secara pararel yang artinya apabila
salah satu mati maka sistem tidak akan berfungsi .
Dalam rangkaian control ini, kabel yang digunakan adalah kabel NYAF
dengan ukuran 1,5 mm2 dengan warna abu-abu, karena untuk kontrol harus
menggunakan kabel dengan warna selaian warna fasa, netral dan PE.
Dalam system ini, system disupply dengan tegangan 380 V, karena motor yang
digunakan adalah motor dengan tegangan kerja 3 fasa, 380 V. Tapi dalam
kenyataannya pada praktikum instalasi listrik industry ini menggunakan tegangan
kerja 220 V, karena yang disimulasikan hanyalah rangkaian controlnya saja.
Bagaimana system ini bias bekerja secara manual, dan ataupun otomatis.
Untuk mengetahui sistem berada pada level berapa maka digunakan dua buah
saklar dan satu buah push button yang berada pada papan simulator yang
dihubungkan dengan selector Pump 1 dan Pump 2 yang ada dipanel, kemudian untuk
mengontrol system dalam keadaan normal atau tidak normal maka disini
menggunakan kontaktor yang menggunakan ON Delay dan kontaktor yang
menggunakan kontak bantu dan TOLR, Fungsi dari kontaktor yang menggunakan
ON Delay yaitu kita bisa mencoba sistem dalam keadaan normal dan tidak normal
dengan mengatur antara ON Delay dalam panel dengan On Delay yang ada pada
simulator dan fungsi dari kontaktor yang menggunakan TOLR yaitu sebagai
pengaman bagi motor apabila terjadi Over Load pada motor maka dalam sistem ini

36

apabila terjadi Over Load maka sistem akan memberikan sinyal lewat alarm,
selanjutnya untuk mengatur apabila terjadi air naik turun maka disini menggukan
impuls yang dihubungkan dengan relai, kemudian untuk melihat apakah motor itu
sedang ON atau OFF maka disini menggunakan Valve yang disimulasikan dengan
lampu jadi apabila motor bekerja maka lampu tersebut akan bekerja, lampu tersebut
menggunakan tegangan 48V dengan menggunakan dioda yang berfungsi sebagai
pemblok arus yang masuk kedalam lampu tersebut, antar lampu dalam rangkaian ini
dihubungkan yang berfungsi untuk mengetest lampu apakah lampu mati atau tidak,
selanjutnya dalam rangkaian ini juga menggunakan OFF Delay yang berfungsi untuk
mematikan motor dengan waktu tertentu. Dalam rangkaian ini juga menggunakan
push button dan alarm yang berfungsi untuk Over limit artinya bila pada system
terjadi level maksimum maka alarm bekerja yang disimulasikan dengan menekan
push button.

Analisa Jawaban Pertanyaan Persentasi


1. Apa fungsi dipasangnya dioda pada rangkaian panel control Waste Water
Pumping ?
Jawaban :
Dioda disini berfungsi atau difungsikan untuk block tegangan pada rangkaian.
Misalkan pada kondisi test run dan test lamp. Semua diode yang dipasang pada
rangkaian ini salah satu kaki diode dipasang parallel dengan diode yang lain dan
dihubungkan dengan push botton b31 ( test lamp ), hal ini bertujuan agar ketika
operator ingin mengetahui kondisi lampu indicator dengan menekan tombol test
lamp sekali, maka semua lampu indicator pada pintu panel akan menyala karena
semua kaki diode dipasang parallel dengan push botton b31. Sedangkan diode ini
akan berfungsi sebagai block tegangan apabila pada kondisi test run , misalkan
pada saat pompa 1 sedang bekerja, maka apabila kita menekan push botton test
run, pada pintu panel lampu yang akan menyala adalah lampu P1, karena adanya
diode yang dipasang sehingga diode yang lain akan memblock tegangan dari
tegangan yang mengalir pada rangkaian pompa 1 ini, sehingga lampu yang
menyala pada saat ditekan push botton test run hanya lampu indicator P1.
37

2. Apa yang akan terjadi apabila salah satu diode dipasang terbalik ? apakah jawaban
dan analisa saudara pada jawaban pertanyaan sebelumnya masih berlaku atau
berbeda analisanya ? jelaskan !
Jawaban :
I

220 v

n 13

n 19

n 25

n 26

n 28

n 29

n 39

Keterangan :
= Arah Aliran Arus Loop ( loop tertutup )

Gambar rangkaian dioda diatas merupakan gambar pemasangan dioda pada


rangkaian panel control waste water pumping station panel apabila di gambar ulang
dan dikeluarkan dari rangkaian aslinya.
Dioda n28 adalah dioda yang dipasang terbalik pada rangkaian, dioda n28 ini
adalah dioda yang dipasang untuk blok tegangan pada rangkaian run P2. analisa
rangkaian apabila kondisi salah satu dioda terbalik adalah :

-Pada kondisi test Run :


Pada saat pompa satu sedang bekerja ( n25 ), maka apabila operator menekan
tombol test run pada pintu panel seharusnya lampu yang menyala hanya lampu p1.
Tetapi karena ada salah satu dioda yang dipasang terbalik maka kondisi yang akan
terjadi adalah Semua lampu indikator pada pintu panel akan menyala, karena
adanya dioda yang dipasang terbalik ( n28 ) sehingga arus akan mengalir melalui
anoda-katoda pada dioda n28 dan akan menyalakan semua lampu indikator pada
38

pintu panel karena kaki dioda antara dioda satu dengan yang lainnya dipasang
paralel.

-Pada kondisi test Lamp :


Apabila rangkaian dalam keadaan standby ( belum ada motor pompa yang
dioperasikan ), maka apabila operator menekan tombol test run pada pintu panel
maka semua lampu indikator akan menyala karena adanya dioda yang dipasang
secara paralel yang dihubungkan pada semua fasa lampu indikator dan diparalel
terhadap push botton b 31 ( test lamp ).
Pada kondisi rangkaian apabila salah satu dioda dipasang terbalik, analisa
rangkaian saya maka semua lampu indikator pada pintu panel akan tetap menyala,
karena adanya arus lup pada rangkaian antar dioda ( lihat gambar dioda diatas ),
sehingga arus tidak lewat dan masuk melalui katoda dioda n28, tetapi akan masuk
melalui anoda dioda n28 dengan adanya arus lup pada rangkaian ( loop tertutup ).

39