Anda di halaman 1dari 19

Tugas individu

Asuhan keperawatan post mature

Dosen: Ns mardiani, S.kep MM


Disusun:
Nama : Angga Saputra
Nip

: P05120214033

Clas : IIA/DIII Keperawatan

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN


JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES
BENGKULU 2016

KATA PENGANTAR
1

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
anugerah kepada penyusun untuk dapat menyusun makalah yang berjudul asuhan
keperawatan post mature .
Makalah ini disusun berdasarkan hasil data-data dari media elektronik berupa Internet
dan media cetak. Ucapan terima kasih kepada rekan-rekan kelompok empat yang telah
memberikan partisipasinya dalam penyusunan makalah ini.
Penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua dalam menambah
pengetahuan atau wawasan mengenai keperawatan. Penyusun sadar makalah ini belumlah
sempurna maka dari itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar
makalah ini menjadi sempurna.

Bengkulu, Maret 2016


Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..i
DAFTAR ISI....ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang..1
1.2 Tujuan Penulisan...1
BAB II TINAJUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
2.2. Etiologi
2.3. Patofisiologi
2.4. Manifestasi klinis
2.5. Tanda dan Gejala
2.6. Woc
2.7. Pemeriksaan Penunjang
2.8. Pengaruh Terhadap Ibu dan Bayi
2.9. Penatalaksanaan
2.10. Komplikasi
2.11. Asuhan Keperawatan
2.12 Pemeriksaan Penunjang
2.13. Diagnosa keperawatan
2.14. intervensi keperawatan nanda nic-noc
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTRAKA

BAB I
3

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dari survei demografi dan kesehatan indonesia (SDKI) dan data biro pusat statistik
(BPS), angka kematian ibu dalam kehamilan dan persalinan di seluruh dunia mencapai 515
ribu jiwa pertahun. Ini berarti seorang ibu meninggal hampir setiap menit karena komplikasi
kehamilan dan persalinannya (dr. Nugraha, 2007)
Kematian dan kesakitan ibu sebenarnya dapat dikurangi atau dicegah dengan berbagai
usaha perbaikan dalam bidang pelayanan kesehatan obstetri. Pelayanan kesehatan tersebut
dinyatakan sebagai bagian integeral dari pelayanan dasar yang akan terjangkau seluruh
masyarakat. Kegagalan dalam penangan kasus kedaruratan obstetri pada umumnya
disebabkan oleh kegagalan dalam mengenal resiko kehamilan, keterlambatan rujukan,
kurangnya sarana yang memadai untuk perawatan ibu hamil dengan resiko tinggi maupun
pengetahuan tenaga medis, paramedis, dan penderita dalam mengenal kehamilan resiko tinggi
(krt) secara dini, masalah dalam pelayanan obstetri, maupun kondisi ekonomi (Syamsul,
2003).
1.2 TUJUAN PENULISAN
1. Sebagai bahan acuan mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan mengenai
asuhan keperawatan bayi dan ibu dengan persalinan postmatur
2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak
1.3 RUMUSAN MASALAH
1.

Apa definisi bayi postmatur ?

2.

Bagaimana etiologi postmatur ?

3.

Bagaimana patofisiologi postmatur ?

4.

Apa saja manifestasi klinis persalinan postmatur bagi ibu dan bayi ?

5.

Apa saja komplikasi dari kelahiran postmatur ?

6.

Bagaimana penatalaksanaan postmatur

BAB II
Tinjauan teoritis
2.1. Definisi
Post matur adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau 42 minggu lengkap.
Diagnosa usia kehamilan didapatkan dengan perhitungn usia kehamilan dengan rumus
Naegele atau dengan penghitungan tinggi fundus uteri ( Kapita Selekta Kedokteran jilid 1).
Menurut (Achadiat 2004:32) Kehamilan postmatu lebih mengacu pada janinnya,
Dimana dijumpai tanda-tanda seperti kuku panjang, kulit keriput, plantara creases yang
sangat jelas, tali pusat layu dan terwarnai oleh mekonium.(Varney Helen, 2007).
2.2. Etiologi
Etiologi belum diketahui secara pasti namun faktor yang dikemukaan adalah
hormonal, yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup
bulan sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. Faktor lain seperti herediter,
karena postmaturitas sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu (Rustam, 1998).
Menjelang persalinan terdapat penurunan progesteron, peningkatan oksitosin tubuh
dan reseptor terhadap oksitosin sehingga otot rahim semakin sensitif terhadap rangsangan.
Pada kehamilan lewat waktu terjadi sebaliknya, otot rahim tidak sensitif terhadap
rangsangan, karena ketegangan psikologis atau kelainan pada rahim (Manuaba, 1998).
Menurut Sujiyatini (2009), etiologinya yaitu penurunan kadar esterogen pada
kehamilan normal umumnya tinggi. Faktor hormonal yaitu kadar progesterone tidak cepat
turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin
berkurang. Factor lain adalah hereditas, karena post matur sering dijumpai pada suatu
keluarga tertentu. Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian
menurun setelah 42 minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta.
Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen
dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta
berkurang sampai 50%. Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi.
Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. Risiko kematian
perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi, yaitu 30% prepartum, 55% intrapartum, dan 15%
postpartum.
Beberapa faktor penyebab kehamilan lewat waktu adalah sebagai berikut :
5

a. Kesalahan dalam penanggalan, merupakan penyebab yang paling sering.


b. Tidak diketahui.
c. Primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan.
d. Defisiensi sulfatase

plasenta atau anensefalus, merupakan penyebab

yang jarang terjadi.


e. Jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan predisposisi.
f. Faktor genetik juga dapat memainkan peran.
2.3. Patofisiologi
Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan oksitosin sehingga tidak menyebabkan
Adanya his, dan terjadi penundaan persalinan. Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah
Plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2 /O2 sehingga janin
mempunyai resiko asfiksia sampai kematian dalam rahim (Manuaba, 1998).
Sindroma postmaturitas yaitu kulit keriput dan telapak tangan terkelupas,
tubuh panjang dan kurus, vernic caseosa menghilang, wajah seperti orang tua, kuku panjang,
tali pusat selaput ketuban berwarna kehijauan. Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada
kehamilan 34-36 minggu dan setelah itu terus mengalami penurunan. Pada kehamilan
postterm dapat terjadi penurunan fungsi plasenta sehingga bisa menyebabkan gawat janin.
Bila keadaan plasenta tidak mengalami insufisiensi maka janin postterm dapat tumbuh terus
namun tubuh anak akan menjadi besar (makrosomia) dan dapat menyebabkan distosia bahu.
Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan oksitosin sehingga tidak menyebabkan
adanya his, dan terjadi penundaan persalinan. Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah
Plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2 /O2 sehingga janin
mempunyai resiko asfiksia sampai kematian dalam rahim (Manuaba, 1998).
Sindroma postmaturitas

yaitu kulit keriput dan telapak

tangan terkelupas,

tubuh panjang dan kurus, vernic caseosa menghilang, wajah seperti orang tua, kuku panjang,
tali pusat selaput ketuban berwarna kehijauan. Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada
kehamilan 34-36 minggu dan setelah itu terus mengalami penurunan. Pada kehamilan
postterm dapat terjadi penurunan fungsi plasenta sehingga bisa menyebabkan gawat janin.
Bila keadaan plasenta tidak mengalami insufisiensi maka janin postterm dapat
6

tumbuh terus namun tubuh anak akan menjadi besar (makrosomia) dan dapat menyebabkan
distosia bahu.

2.4. Manifestasi klinis


1. Terhadap Ibu:
Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosis karena :
a.

Aksi uterus tidak terkoordinir.

b. Janin besar.
c.

Moulding kepala kurang.

Maka akan sering dijumpai : partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu
dan perdarahan postpartum. Hal ini akan menaikan angka mordibitas dan mortalitas.
2. Terhadap janin
Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 43 minggu tiga kali lebih besar
dari kehamilan 40 minggu karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin.
Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi: berat badan janin dapat bertambah
besar, tetap dan ada yang berkurang, sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang
bisa terjadi kematian janin dalam kandungan.
Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas, yaitu berupa kulit keriput,
mengelupas lebar-lebar, sianosis, badan kurus yang menunjukan pengurasan energi,
dan maturitas lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. Kulit keriput telihat sekali
pada bagian telapak tangan dan telapak kaki. Kuku biasanya cukup panjang. Biasanya
bayi postmatur tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang
turun dibawah persentil ke-10 untuk usia gestasinya. Banyak bayi postmatur Clifford
mati dan banyak yang sakit berat akibat asfiksia lahir dan aspirasi mekonium. Berapa
bayi yang bertahan hidup mengalami kerusakan otak
Insidensi sindrom postmaturitas pada bayi berusia 41, 42, dan 43 minggu
masing-masing belum dapat ditentukan dengan pasti. Syndrome ini terjadi pada
sekitar 10% kehamilan antara 41 dan 43 minggu serta meningkat menjadi 33% pada
44 minggu. Oligohidramnion yang menyertainya secara nyata meningkatkan
kemungkinan postmaturitas.

2.5. Tanda dan Gejala


a.

Gerakan janin jarang (secara subjektif kurang dari 7x / 20 menit atau secara

objektif kurang dari 10x / menit.


b. Pada bayi ditemukan tanda lewat waktu yang terdiri dari:
Stadium I : kulit kehilangan vernix caseosa dan terjadi maserasi
sehingga kulit menjadi kering, rapuh dan mudah terkelupas.
Stadium II : seperti stadium I, ditambah dengan pewarnaan mekoneum
(kehijuan di kulit).
Stadium III: seperti stadium I, ditambah dengan warna kuning pada kuku,
kulit dan tali pusat.
a. Berat badan bayi lebih berat dari bayi matur.
b. Tulang dan sutura lebih keras dari bayi matur
c. Rambut kepala lebih tebal.

2.6. Woc
Faktor hormonal
-

Kadar progestron
Kortisol
Faktor herediter

Kehamilan <42 Minggu


Placenta mengkerut
Pungsi plasenta menurun
Suplai o2 berkurang
Nutrisi berkurang

janin mengkompensasilemak
Dan karbohidrat sendiri

Gangguan nutrisi
Lemak sub cutan menurun
Kulit menglupas kehilangan
Sub cutan

integritas

Hipotermia

2.7. Pemeriksaan Penunjang


9

USG : untuk mengetahui usia kehamilan, derajat maturitas plasenta.


Kardiotokografi : untuk menilai ada atau tidaknya gawat janin.
Amniocentesis : pemeriksaan sitologi air ketuban.
Amnioskopi

: melihat kekeruhan air ketuban.

Uji Oksitisin : untuk menilai reaksi janin terhadap kontraksi uterus.


Pemeriksaan kadar estriol dalam urine.
Pemeriksaan sitologi vagina.
2.8. Pengaruh Terhadap Ibu dan Bayi
Ibu
Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosia karena kontraksi uterus
tidak terkoordinir, janin besar, molding kepala kurang, sehingga sering dijumpai
partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, perdarahan post partum
yang mengakibatkan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas.
Bayi
Jumlah kematian janin atau bayi pada kehamilan 42 minggu 3x lebih besar
dari kehamilan 40 minggu. Pengaruh pada janin bervariasi, biantaranya berat janin
bertambah, tetap atau berkurang,
2.9. Penatalaksanaan
Setelah usia kehamila lebih dari 40-42 minggu, yangterpenting adalah
monitoring janin sebaik baiknya.
Apabila tidak ada tanda tanda insufisiensi plasenta, persalinan
spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat.
Lakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan kematangan cervik, apabila
sudah matang, boleh dilakukan induksi persalinan.
Persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama
akan sangat merugikan bayi, janin postmatur kadang kadang besar dan
kemungkinan disproporsi cephalopelvix dan distosia janin perlu
diperhatikan. Selain itu janin post matur lebih peka terhadap sedative dan
narkosa.
Tindakan operasi section caesarea dapat dipertimbangkan

bila

padakeadaan onsufisiensi plasenta dengan keadaan cervix belum


10

matang, pembukaan belum lengkap, partus lama dan terjadi gawat


janin, primigravida tua, kematian janin dalam kandungan,pre eklamsi,
hipertensi menahun, anak berharga dan kesalahan letak janin.
2.10. Komplikasi
Kemungkinan komplikasi pada bayi postmatur :

Hipoksia
Hipovolemia
Asidosis
Sindrom gawat nafas
Hipoglikemia
Hipofungsi adrenal.

2.11. Asuhan Keperawatan


a. Pengkajian
Data Subjektif:
1) Identitas
Meliputi
suku

nama,

jenis kelamin,pekerjaan,

status kewarganegaraan,

bangsa, pendidikan, alamat.

2) Keluhan utama

Kehamilan belum lahir setelah melewati 42 minggu.

Gerak janin makin berkurang dan kadang-kadang berhenti sama sekali.

Berat badan ibu mendatar atau menurun.

Air ketuban terasa berkurang.

Gerak janin menurun.

3) Riwayat Menstruasi
4) Riwayat Obstetri
Mengkaji riwayat obstetri dahulu meliputikehamilan, persalinan, nifas, anak
serta KB yang pernah digaunakan. Termasuk didalanya riwayat TT, serta
penyulit yang dialami.

5) Riwayat kehamilan sekarang

11

Mengkaji keluhan yang yang dirsakan pasien selama kehamilan ini.


Digunakan sebagai identifikasi masalah pasien. Banyaknya pemeriksaan
antenatal yang dilakukan.
6) Riwayat kesehatan
Penyakit kronis yang dapat mempengaruhi terjadinya Postterm.
7) Riwayat kesehatan keluarga
Mendeteksi masalah yang berkaitan dengan factor genetic, sebagai indikasi
penyakit yang diturunkan oleh orang tua.
8) Pola kehidupan sehari-hari
Meliputi kebiasaan sehari-hari yang dilakukan pasien.
Data Objektif:
1) Pemeriksaan umum
Secara umum ditemukan gambaran kesadaran umum, dimana kesadaran
pasien sangat penting dinilai dengan melakukan anamnesa. Selain itu
pasien sadar akan menunjukkan tidak adanya kelainan psikologis dan
kesadaran umum juga mencakup pemeriksaan tanda- tanda vital, berat badan,
tinggi badan , lingkar lengan atas yang

bertujuan untuk mengetahui

keadaan gizi pasien.


2) Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Mata: Periksa konjungtiva dan sklera untuk menentukan apakah ibu
anemia tidak,
Muka : edema atau tidak
Leher : apakah terdapat pembesaran kelenjar baik kelenjar tiroid
maupun limfe
Dada : bagaimana keadaan putting susu, ada tidaknya teraba massa
atau tumor tanda-tanda kehamilan (cloasma gravidarum, aerola
mamae, calostrum),
Abdomen : dilihat pembesaran perut yang sesuai dengan usia
kehamilan, luka bekas operasi,
Genitalia :Dilihat genetalia bagian

luar oedem

pengeluaran pervaginam
Ekstremitas :Atas maupun bawah tidak oedem
Palpasi

12

atau tidak serta

Abdomen :Gerak janin makin berkurang dan kadang-kadang


berhenti sama sekali

Dengan menggunakan cara Leopold:


Leopold I : Untuk menentukan TFU dan apa yang terdapat
dibagian fundus (TFU dalam cm) dan kemungkinan teraba
kepala atau bokong lainnya, normal pada fundus teraba
bulat, tidak melenting, lunak yang kemungkinan adalah bokong

janin
Leopold II: Untuk menentukan dimana letaknya punggung
janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada dinding

perut klien

sebelah kiri maupun

teraba,

kanan kemungkinan

punggung, anggota gerak, bokong atau kepala.


Leopold III: Untuk menentukan apa yang yang terdapat
dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah terpegang oleh
PAP, dan normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah

kepala.
Leopold IV: Untuk

menentukan

seberapa jauh

masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan


perlimaan untuk menentukan seberapa masuknya ke PAP.
Auskultasi
Untuk mendengar DJJ dengan frekuensi normal 120-160 kali/menit,
irama teratur atau tidak, intensitas kuat, sedang atau lemah.
Apabila persalinan disertai gawat janin, maka DJJ bisa kurang
dari 110 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menit dengan
irama tidak teratur.
Perkusi
Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan
kekurangan vitamin B atau penyakit saraf, intoksikasi magnesium
sulfat.
2.12 Pemeriksaan Penunjang
a) USG untuk menilai usia kehamilan, oligohidramnion, derajat maturitas plasenta.
13

b) KTG untuk menilai ada tidaknya gawat janin


c) Penilaian warna air ketuban dengan amnioskopi atau amniotomi (tes tanpa
tekanan, dinilai apakah reaktif atau tidak dan tes tekanan oksitosin )
d) Pemeriksaan sitologi vagina dengan indeks kariopiknotik > 20%
b). Diagnosa keperawatan
2.13. Diagnosa keperawatan
Ketidak seimbang nutrisi b/d Nutrisi berkurang
Hipotermi b/d hilangnya lemak sub cutan
Gangguan integritas kulit b/d kulit menglupas

2.14. intervensi keperawatan nanda nic-noc

14

Diagnosa

Noc

o
1

Ketidak

Kriteria hasil:

seimbangan
nutrisi kurang
dari kebutuhan
tubuh

Nic
-

Adanya peningkatan
berat badan sesuai
kebutuhan
Berat badan ideal
Mampu

Kolaborasi dengan tim


gizi untuk kalori yang di

butuhkan pasien
Yakin diet yang dimakan
mengandung tinggi serat
untuk mencegah

mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda tanda

konstipasi
Monitor jumlah nutrisi

malnutrisi
Menunjukan

dan kandungan kalori


Berikan informasi

kebutuhan nutrisi
BB pasien dalam batas

normal
Monitor interaksi anak

dan orang tua


Jadwal pengobatan dan

tindakan saat makan


Monitor kulit kering dan

perubahan pigmentasi
Monitor pertumbuhan

dan perkembangan
Catat adanya edema,

peningkatan fubgsi
pengecapan dari
menelan
Tidak terjadipenurunan
berat badan yang bearti

hiperemik, hipertonik,
papila lidah dan cavitas
oral

Kriteria hasil:
2

Hipotermi b/d
hilangnya lemak
sub cutan

Monitor suhu setiap 2 jam


Monitor TD, nadi, dan

RR
Monitor warna dan suhu

kulit
Tingkatkan cairan dan

intekae cairan dan nutrisi


Ajarkan pasien untuk

Suhu tubuh dalam


rentang normal
Nadi dan RR dalam
rentang normal

mengurangi keletihan
-

15

akibat panas
Monitor frekuensi dan

irama pernapasan
Monitor suara paru

monitor sianosis perifer


Kolaborasi dengan
doketer pemberian
antioeretik jika

diperlukan
Monitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,

peningkatan sianosstik)
Identifikasi penyebab
perubahan vital sign

Jaga kebersihan kulit agar

tetap bersih dan kering


Mobilisasi pasien (ubah

posisi setiap 2 jam sekali)


Monitor kulit akan

adanya kemerahan
Oleskan lotion atau

kriteria hasil yang diharapkan:


3

Gangguan

Integrita kulit yang baik

kerusakan

bisa dipertahankan

integritas kulit

(sensasi, elastis,

b/d kulit

temperatur, hidrasi,

menglupas

minyak baby oil pada

pigmentasi)
Tidak ada luka/lesi

daerah yang tertekan


Monitor aktivitas dan

mobilitas pasien
Monitor status nutrisi

pasien
Membersihkan, dan
memantau dan

pada kulit
Perfusi jaringan baik
Menunjukan
pemahaman dalam
peroses perbaikan kulit
dan mencegah
terjadinya cidera
berulang
Mampu melindungi
kulit dan
16

meningkatkan proses
penyembuhan pada luka
-

jaitan yang tertutupi


Monitor proses

kesembuhan daerah insi


Monitor tanda dan gejala
pada daerah insi

mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami

BAB III
Penutup
17

3.1 KESIMPULAN
Postmatur menunjukan atau menggambarkan keadaan janin yang lahir telah
melampaui batas waktu persalinannya, sehingga dapat menyebabkan beberapa komplikasi.
(Buku Pengantar Kuliah Obsetri: hal 450). Kehamilan lewat bulan, suatu kondisi antepartum,
harus dibedakan dengan sindrom pasca maturitas, yang merupakan kondisi neonatal yang
didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir.

Daftar pustaka

18

asuhan-keperawatan-bayi-prematur-pdf.html
http://www.scribd.com/doc/218506857/Askep-Pada-Bayi-Post-Matur#scribd
http://www.academia.edu/8463423/Asuhan_Keperawatan_dengan_bayi_Post_Matur
https://www.scribd.com/doc/87054293/postmatur

19