Anda di halaman 1dari 11

PUSKESMAS ELLY

UYO
SOP

KUSTA
Pengertian

JUDUL SOP
KUSTA
Tanggal Terbit

Ditetapkan
Kepala UPTD Puskesmas

dr.
Nip.
Defenisi
Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik, dan
penyebabnya

ialah

mycobacterium

leprae

yang

bersifat

intraselular obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu


kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian dapat
ke organ lain kecuali susunan saraf pusat.
Gambaran klinis
Didapatkan 3 tanda kardinal, dimana jika salah satunya ada, sudah
cukup untuk menetapkan diagnosis dari penyakit kusta, yakni :
a) Lesi kulit yang anestesi ,
Kelainan kulit/lesi dapat

berbentuk

bercak

putih

(hipopigmentasi) atau kemerahan (eritema) yang mati rasa


(anestesi)
b) Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi
saraf.
Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari
peradangan saraf tepi (neuritis perifer) kronis.
Gangguan fungsi saraf ini bisa berupa:
1. Gangguan fungsi sensoris : mati rasa
2. Gangguan fungsi motoris : kelemahan (paresis) atau
kelumpuhan (paralisi) otot
3. Gangguan fungsi otonom : kulit kering dan retak-retak.
c) Ditemukannya m. Leprae di dalam kerokan jaringan kulit

(slit skin smear) sebagai bakteriologis positif.


Pemeriksaan Fisik
Inspeksi pasien dapat dilakukan dengan penerangan yang
baik, lesi kulit juga harus diperhatikan dan juga dilihat kerusakan
kulit. Palpasi dan pemeriksaan dengan menggunakan alat alat
sederhana yaitu jarum untuk rasa nyeri, kapas untuk rasa raba,
tabung reaksi masing masing dengan air panas dan es, pensil
tinta Gunawan (tanda Gunawan) untuk melihat ada tidaknya
dehidrasi di daerah lesi yang dapat jelas dan dapat pula tidak dan
sebagainya. Cara menggoresnya mulai dari tengah lesi, yang
kadang kadang dapat membantu, tetapi bagi penderita yang
memiliki

kulit

berambut

sedikit,

sangat

sukar

untuk

menentukannya.
Lahir dan tinggal di daerah endemik kusta dan mempunyai
kelainan kulit yang tidak sembuh dengan pengobatan rutin,
terutama bila terdapat keterlibatan saraf tepi.
Pemeriksaan Saraf Tepi
Untuk saraf perifer, perlu diperhatikan pembesaran,
konsistensi dan nyeri atau tidak. Hanya beberapa saraf yang
diperiksa yaitu N.fasialis, N.aurikularis magnus, N.radialis, N.
Ulnaris, N. Medianus, N. Poplitea lateralis, N. Tibialis posterior.
Pada pemeriksaan saraf tepi dapat dibandingkan saraf bagian kiri
dan

kanan,

adanya

pembesaran

atau

tidak,

pembesaran

reguler/irreguler, perabaan keras/kenyal, dan yang terakhir dapat


dicari adanya nyeri atau tidak. Pada tipe lepromatous biasanya
kelainan sarafnya billateral dan menyeluruh sedangkan tipe
tuberkoloid terlokalisasi mengikuti tempat lesinya.
Untuk mendapat kesan saraf mana yang mulai menebal
atau sudah menebal dan saraf mana yang masih normal,

diperlukan pengalaman yang banyak.


Cara pemeriksaan saraf tepi
a. N. Aurukularis magnus
Pasien disuruh menoleh ke samping semaksimal mungkin,
maka saraf yang terlibat akan terdorong oleh otot di bawahnya
sehingga acapkali sudah bisa terlihat bila saraf membesar. Dua jari
pemeriksa diletakkan di atas persilangan jalannya saraf tersebut
dengan arah otot. Bila ada penebalan, maka pada perabaan secara
seksama akan menemukan jaringan seperti kabel atau kawat.
Jangan lupa membandingkan antara yang kiri dan yang kanan.
b. N. Ulnaris

Tangan yang diperiksa harus santai, sedikit fleksi dan


sebaiknya diletakkan di atas satu tangan pemeriksa. Tangan
pemeriksa yang lain meraba lekukan di bawah siku (sulkus nervi
ulnaris) dan merasakan, apakah ada penebalan atau tidak. Perlu
dibandingkan antara yang kanan dan yang kiri untuk melihat
adanya perbeedaan atau tidak.
c. N. Paroneus lateralis

Pasien duduk dengan kedua kaki menggantung, diraba di


sebelah lateral dari capitulum fibulae, biasanya sedikit ke
posterior.
Tes Fungsi Saraf
a. Tes Sensoris
Gunakan kapas, jarum, serta tabung reaksi berisi air hangat
dan dingin
b. Tes Otonom
Berdasarkan adanya gangguan berkeringat di makula anestesi
pada penyakit kusta, pemeriksaan lesi kulit dapat dilengkapi

dengan tes anhidrosis.


c. Tes Motoris (Voluntary muscle test)
Cara memeriksa:
Mula-mula periksa gerakan dari motorik yang akan diperiksa:

-. Periksa fungsi saraf ulnaris dengan merapatkan jari kelingking


pasien. Peganglah jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis pasien,
lalu mintalah pasien untuk merapatkan jari kelingkingnya. Jika
pasien dapat merapatkan jari kelingkingnya, taruhlah kertas
diantara jari kelingking dan jari manis, mintalah pasien untuk
menahan kertas tersebut. Bila pasien mampu menahan coba tarik
kertas tersebut perlahan untuk mengetahui ketahanan ototnya.

-. Periksa fungsi saraf medianus dengan meluruskan ibu jari ke


atas. Minta pasien mengangkat ibu jarinya ke atas. Perhatikan ibu
jari apakah benar-benar bergerak ke atas dan jempolnya lurus. Jika
pasien dapat melakukannya, kemudian tekan atau dorong ibu jari

pada bagian telapaknya.

-. Periksa fungsi saraf radialis dengan meminta pasien untuk


menggerakkna pergelangan tangan ke belakang. Uji kekuatan otot
dengan mencoba menahan gerakan tersebut.

-. Periksa fungsi saraf peroneus communis dengan meminta pasien


melakukan gerakan fleksi pada pergelangan kaki dan minta juga
pasien untuk melakukan gerakan ke lateral, lalu nilai kekuatan
ototnya dengan mencoba untuk menahan gerakan tersebut.

Gambar 1. Lesi Kulit Dapat Berupa Makula Atau Plak Dan


Pada Bagian Tengah Dapat Ditemukan Lesi Yang Regresi
Atau Central Clearing.

Diagnosis banding
Diagnosis banding pada kusta tergantung dari bentuk
efloresensinya. Pada lesi berbentuk makula maka diagnosis

bandingnya adalah
Vitiligo
Lesi pada vitiligo

mengalami

depigmentasi,

pada

lepra

depigmentasi yang terjadi tidak pernah total atau komplit seperti

pada vitiligo.
Pityriasis alba
Pada pityriasis alba terdapat hipopigmentasi yang seringkali sulit
dibedakan

dengan

lepra,

namun

pada

pityriasis

alba

permukaannya biasanya bersisik dan tidak ada afb (acid fast

bacillus).
Pityriasis versikolor
Pada pityriasis versikolor tidak selalu bersisik, dan daerah
distribusinya pada punggung dan dada serta gambaran makulanya

berbeda dengan pada lepra.


Tinea korporis
Pada tinea korporis lesi dirasakan sangan gatal dan bisa terdapat
vesikel pada pinggirannya dan pada kerok kulit didapatkan jamur.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaaan bakterioskopik, sediaan dari kerokan jaringan
kulit atau usapan mukosa hidung yang diwarnai dengan
pewarnaan bta ziehl neelson.
Pemeriksaan serologik, didasarkan terbentuk antibodi pada tubuh
seseorang yang terinfeksi oleh m.leprae. Pemeriksaan serologik
adalah mlpa (mycobacterium leprae particle aglutination), uji
elisa dan ml dipstick, pcr.
Tes lepromin adalah tes non spesifik untuk klasifikasi dan

prognosis lepra tapi tidak untuk diagnosis. Tes ini berguna untuk
menunjukkan sistem imun penderita terhadap m. Leprae.
Tujuan

Prosedur ini dibuat untuk pedoman pengobatan pasien kusta di


Puskesmas

Kebijakan

Dibawah Pengawasan dan Tanggung Jawab Dokter Puskesmas

Prosedur

Penatalaksanaan
Tujuan utama yaitu memutuskan mata rantai penularan
untuk

menurunkan

insiden

penyakit,

mengobati

dan

menyembuhkan penderita, mencegah timbulnya penyakit, untuk


mencapai tujuan tersebut, strategi pokok yg dilakukan didasarkan
atas deteksi dini dan pengobatan penderita.
Dengan memakai regimen pengobatan MDT (multi drug
treatment). Kegunaan MDT untuk mengatasi resistensi dapson
yang semakin meningkat, mengatasi ketidakteraturan penderita
dalam berobat, menurunkan angka putus obat pada pemakaian
monoterapi dapson, dan dapat mengeliminasi persistensi kuman
kusta dalam jaringan.
Unit Terkait

Poli umum

Referensi

Menurut Pedoman Nasional Program Pengendalian Penyakit


Kusta Tahun 2012

Tabel 1. Bagan Diagnosis Klinis Menurut WHO (Kosasih, 2010)


Pb (pausibasilar)
Lesi kulit (makula yang 1-5 lesi
datar, papul yang

Mb (multibasilar)
>5 lesi

Hipopigmentasi/eritema

Distribusi lebih

Distribusi tidak simetris

simetris

(menyebabkan

Hilangnya sensasi yang

Hilangnya sensasi

hilangnya

jelas

kurang jelas

Hanya satu cabang saraf

Banyak cabang saraf

Negatif

Positif

Indeterminate (i),

Lepromatosa (ll),

tuberkuloid (t),

borderline lepromatous

borderline tuberkuloid

(bl), mid borderline

(bt)

(bb)

meninggi, infiltrate,
plak eritem, nocus)
Kerusakan saraf

sensasi/kelemahan otot
yang dipersarafi oleh
saraf yang terkena
Bta

Tipe

Tabel 2. Regimen Mdt Pada Kusta Pausibasiler (Pb)

Rifampicin

Dapson

600 mg/bulan
Dewasa

Diminum di depan petugas

100 mg/hr diminum di rumah

kesehatan
450 mg/bulan

Anak-anak

Diminum di depan petugas

(10-14 th)

50 mg/hari diminum di rumah

kesehatan

Tabel 3. Regimen Mdt Pada Kusta Multibasiler (Mb)


Rifampicin

Dapson

Lamprene
300 mg/bulan diminum di

600 mg/bulan
Dewasa

diminum di depan
petugas kesehatan

100 mg/hari
diminum di rumah

depan petugas kesehatan


dilanjutkan dgn 50
mg/hari diminum di
rumah

150 mg/bulan diminum di


Anak-anak

450 mg/bulan
diminum di depan

(10-14 th)

petugas

50 mg/hari diminum
di rumah

depan petugas kesehatan


dilanjutkan dg 50 mg
selang sehari diminum di
rumah

Gambar 3. Alur Diagnosis Kusta