Anda di halaman 1dari 37

KATAPENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahNya sebingga penyusun dapat menyelesaikan Kunjungan Kerja Lapangan
dan Workshop yang dilaksanakan pada tanggal 25 April - 28 April 2016. Kegiatan
ini sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Diploma Tiga (D-3)
pada Program Diploma Tiga Akademi Farmasi YARSI Pontianak serta menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi penyusun dalam menghadapi dunia kerja yang
sesungguhnya, laporan ini kami susun setelah melaksanakan Kunjungan Kerja
Lapangan dan Workshop yang merupakan program studi pada semester akhir di
Akademi Farmasi YARSI Pontianak sebagai bukti pertanggung jawaban kami atas
kegiatan yang telah kami laksanakan.
Melalui Kunjungan Kerja Lapangan ini, kami telah mendapatkan berbagai
pengetahuan dan pengalaman. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran serta dan
dukungan dari Pemimbing yang sudah bekerja keras untuk mendidik kami selama
ini. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Hj.Dewi Sutresna TN, Apt selaku Dewan Pembina Penyelenggara
Pendidikan di Akademi Farmasi YARSI Pontianak.
2. Ibu Adhisty Kharisma Justicia,M.Sc.,Apt selaku direktur Akademi
Farmasi YARSI Pontianak.
3. Ibu Dra. Hj. Sri Sumiati.,BA.,SH, selaku pembimbing di Akademi
Farmasi YARSI Pontianak.
4. Seluruh dosen dan staf yang ada di Politeknik Kesehatan Kemenkes
Surakarta.

5. Dan semua pihak yang telah memberikan dukungan serta bantuan


kerjasamanya dalam pelaksanaan Kunjungan Kerja Lapangan ini yang
tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu.
Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
laporan Kunjungan Kerja Lapangan ini, oleh karena itu penyusun menerima
kritik dan saran yang sifatnya membangun demi penyempurnaan laporan ini.
Semoga laporan Kunjungan Kerja Lapangan ini dapat bermanfaat bagi
penyusun khususnya, dan menambah pengetahuan dalam bidang kefarmasian
bagi pembaca pada umumnya.

Pontianak, Mei 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................6
1.1.

Latar Belakang........................................................................................6

1.2.

Tujuan Kunjungan Kerja Lapangan (KKL) dan Workshop....................7

1.2.1.

Tujuan KKL......................................................................................7

1.2.2.

Tujuan Workshop...............................................................................8

1.3.

Tujuan Pembuatan Laporan.......................................................................9

BAB II TINJAUANPUSTAKA........................................................................10
2.1.

Pekerjaan Kefarmasian........................................................................10

2.2.

Gambaran Umum Industri Farmasi......................................................11

2.3.

Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)...............................................11

2.4.

Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB).....................................14

2.5.

Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).....................18

BAB III URAIAN KEGIATAN KUNJUNGAN KERJA LAPANGAN..........22


3.1.

Politeknik Kementerian Kesehatan Surakarta Jurusan Jamu............22

3.1.1.

Visi dan Misi Politeknik Kementerian Kesehatan Surakarta


Jurusan Jamu...................................................................................22

3.1.2.

Tujuan Pendidikan...........................................................................23

3.1.3.

Kegiatan Workshop di Poltekes Kemenkes Surakarta.....................23

3.2.

B2P2TOOT (Balai Besar Tanaman Obat Dan Obat Tradisional). 24

3.2.1.

Visi dan Misi B2P2TOOT.............................................................25

3.2.2.

Kegiatan di B2P2TOOT...............................................................25

3.3.

Jamu PT.SidoMuncul..............................................................................26

3.3.1.

Sejarah Jamu PT.SidoMuncul..........................................................26

3.3.2.

Visi dan Misi Industri Jamu SidoMuncul........................................28

3.3.3.

Kegiatan Di Pabrik Industri Jamu PT.SidoMuncul..........................28

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN..............................................................30


4.1

Poltekes Kemenkes Surakarta Jurusan Jamu...........................................30

4.2

B2P2TOOT.............................................................................................31

4.3

Industri Jamu PT. SidoMuncul................................................................33

BAB V PENUTUP................................................................................................35
5.1.

Kesimpulan............................................................................................35

5.2.

Saran.......................................................................................................35

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................36
LAMPIRAN..........................................................................................................37

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Halaman

Judul

Lampiran 1

Pemberian materi Workshop..............................................................38

Lampiran 2

Produk Hasil Praktikum.................................................................39

Lampiran 3

Etalase Tanaman Obat B2P2TOOT...............................................40

Lampiran 4

Tahapan Pasca Panen Di B2P2TOOT............................................41

Lampiran 5

Pabrik Jamu SidoMuncul...............................................................42

Lampiran 6

Produk PT. SidoMuncul.................................................................43

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang

memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.


Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penanggulangan dan pencegahan gangguan
kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan perawatan termasuk
kehamilan dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu
seseorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk
membuat

keputusan

berdasarkan

pengetahuan

mengenai

hal-hal

yang

mempengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain.


Indonesia sebagai Negara berkembang berusaha untuk mewujudkan
kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan yang menyeluruh, terarah dan
terpadu di segala bidang kesehatan, pembangunan kesehatan diarahkan agar
tercapai kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi seluruh

masyarakat agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Salah satu
usaha yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam
bidang kesehatan ialah dengan jalan menyediakan obat yang bermutu dan
terdistribusi secara merata, mudah diperoleh dengan harga terjangkau oleh
masyarakat.
Industri farmasi sebagai produsen obat memiliki tanggung jawab dalam
menjamin tersedianya produk obat yang bermutu, aman dan berkhasiat. Guna
mewujudkan

tersedianya

obat

bermutu,

maka

industri

farmasi

harus

memperhatikan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan lain yang dapat
mempengaruhi mutu dari obat yang diproduksi.
Pemerintah melalui Surat keputusan menteri RI No. 43/ MENKES/ SK III
1998 tentang Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), maka industri farmasi
dituntut untuk menerapakan pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik dan Benar.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan perencanaan, pengadaan tahap
produksi, pengawasan mutu, pendistribusian, sanitasi higinies, bangunan,
peralatan, personalia, dan administrasi harus dikembalikan sedemikian rupa
sehingga tujuan industri dapat tercapai.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka Akademi Farmasi Pontianak
melakukan kunjungan ke Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta, B2P2TOOT,
dan kunjungan ke Industri Jamu PT.SidoMuncul melalui program kunjungan kerja
lapangan (KKL). Program pendidikan ini berguna bagi calon Ahli Madya Farmasi
sebagai bekal pengetahuan dan wawasan yang luas. Dalam mengikuti KKL
mahasiswa dapat melihat, mengetahui menerima dan menyerap informasi
kesehatan dibidang kefarmasian, dengan demikian institusi pendidikan kesehatan

dapat mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Berdasarkan


peraturan pemerintahan (PP) No. 66 tahun 2010 tentang pendidikan.

1.2.

Tujuan Kunjungan Kerja Lapangan (KKL) dan Workshop


1.2.1. Tujuan KKL
1. Meningkatkan, memperluas, dan memantapkan keterampilan yang
membentuk kemampuan mahasiswa sebagai bekal untuk memasuki
lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan program pendidikan yang
ditetapkan.
2. Mengenai kegiatan penyelenggara program kesehatan masyarakat secara
menyeluruh baik ditinjau dari aspek administrasi, teknis maupun social
budaya.
3. Memberikan

kesempatan

kepada

mahasiswa

untuk

mendapatkan

pengalaman kerja yang nyata dan langsung secara terpadu dalam


melaksanakan kegiatan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit dan
penyuluhan obat kepada masyarakat.
4. Menumbuh kembangkan dan memantapakan sikap etis, profesionalisme
dan nasionalisme yang diperlukan mahasiswa untuk memasuki lapangan
kerja sesuai dengan bidangnya.
5. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memasyarakatkan diri
pada suasana atau iklim lingkungan kerja yang sebenarnya.
6. Meningkatkan, memperluas dan memantapkan proses penyerapan
teknologi baru dari lapangan kerja ke institusi pendidikan atau sebaliknya.
7. Memperoleh masukan dan umpan balik guna memperbaiki dan
7

mengembangkan serta meningkatkan penyelenggara pendidikan Akfar


Yarsi Pontianak.
8. Memberi kesempatan masuk penempatan kerja.
1.2.2. Tujuan Workshop
1. Mahasiswa dapat memahami macam-macam tanaman obat atau jamu.
2. Mengetahui berbagai macam sediaan jamu.
3. Mengetahui berbagai macam teknologi pembuatan sediaan jamu.
4. Memahami tentang formula kecantikan.
5. Memahami tentang formula jamu.
6. Mengetahui tentang pelayanan kecantikan.
7. Mengetahui cara-cara penyiapan simplisia (Botani).
1.3.

Tujuan Pembuatan Laporan


1. Mahasiswa mampu memahami, memantapkan dan mengembangkan
materi pelajaran yang diperoleh di institusi pendidikan dan diterapkan
pada lapangan kerja.
2. Mahasiswa mampu mencari alternative pemecahan masalah kefarmasian.
3. Mengumpulkan data guna kepentingan institusi pendidikan dan dirinya.
4. Menambah

pembendaharaan perpustakaan institusi untuk menunjang

peningkatan pengetahuan mahasiswa lainya.

BAB II
TINJAUANPUSTAKA
2.1.

Pekerjaan Kefarmasian
8

Pekerjaan kefarmasian merupakan salah satu unsur yang mendukung


berjalannya satu program kesehatan. Lulusan farmasi sanggup bekerja dalam
banyak dan berbagai macam bidang yang menyangkut ilmu-ilmu farmasi dan segi
farmasi terapan. Lapangan kerja ahli farmasi mencakup penelitian farmasi dan
perusahaan pembuatan serta distribusi dan sebenarnya pada setiap tahap fungsi
pengmbangan, produksi, pemasaran dan pengelohan produk obat. Ahli farmasi
berperan aktif dalam tugas Negara dalam bidang-bidang pengaturan, pengadaan,
distribusi dan penggunaan obat. Lembaga-lembaga pengajaran memanfaatkan ahli
farmasi dalam pendidikan dan bukan saja melatih mahasiswa farmasi tetapi juga
mahasiswa pada lapangan pekerjaan kesehatan terapan lainnya.
Pada saat ini lulusan farmasi mendapatakan tambahan pengetahuan
beberapa ilmu dasar seperti dalam bidang kimia organic, dan analitik atau dalam
bidang mikrobiologi atau biokimia, dan atas dasar kepentingan dan latar belakang
mereka sanggup bekerja secara efektif dalam penelitian farmasi. Para ahli farmasi
dengan gelar yang lebih tinggi dalam ilmu-ilmu dasar maupun ilmu farmasi atau
dalam bidang-bidang lain seperti pelaksanaan perawatan kesehatan, pemasaran
perundang-undangan obat-obatan, membantu pengusaha-pengusaha industri pada
masing-masing biang keahlian mereka.
Dalam pekerjaan kepemerintahan ahli farmasi dapat terlibat dalam
pekerjaan administrasi seperti dalam program pengembangan dalam penerapan
kesehatan dalam rancangan dan pelaksanaan peraturan yang berhubungan dengan
standar mutu obat. Praktek pembuatan yang baik, dan praktek pengendaraan serta
pengggunaan obat dan mereka yang dalam profesinya bekerja pada rumah sakit
dan klinik-klinik pemerintah, serta lembaga-Iembaga kesehatan khusus.

2.2.

Gambaran Umum Industri Farmasi


Industri farmasi menurut Surat keputusan Menteri Kesehatan RI No.

1799/MENKES/PER/XII/2010 merupakan industri obat jadi dan industri bahan


baku obat. Industri obat jadi adalah industri yang menghasilkan suatu produk yang
telah melalui seluruh tahap pembuatan. Industri bahan baku tersebut ialah semua
bahan baik yang berkhasiat yang digunakan dalam pengolahan obat dengan
standar mutu sebagai bahan farmasi. Defmisi dari obat jadi yaitu sediaan atau
paduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki
sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa,
pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan.

2.3.

Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)

Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) bertujuan untuk menjamin obat
yang dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai
dengan tujuan penggunaannya. Pada pembuatan obat, pengendalian menyeluruh
sangat esensial untuk menjamin konsumen menerima obat yang bermutu tinggi.
Pembuatan secara sembarangan tidak dibenarkan bagi produk yang digunakan
untuk menyelamatkan jiwa, memulihkan kesehatan atau memelihara kesehatan.
Tidaklah cukup bila produk jadi hanya sekedar lulus dari serangkaian
pengujian tetapi yang lebih penting, mutu harus dibentuk ke dalam produk
tersebut. Mutu obat bergantung pada bahan awal, bahan pengemas, proses

10

produksi dan pengendalian mutu, bangunan, peralatan yang dipakai, dan personil
yang terlibat (CPOB, 2006). Aspek dalam CPOB meliputi:
1. Manajemen Mutu
Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar tercapai
tujuan CPOB dan tidak menimbulkan resiko yang membahayakan
penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Untuk
mencapai tujuan tersebut maka diperlukan manajemen mutu. Unsur dasar
manajemen mutu adalah: Infrastruktur atau sistem mutu yang tepat,
mencakup struktur organisasi, prosedur, proses, dan sumber daya.
Tindakan sistematis diperlukan untuk mendapatkan kepastian
dengan tingkat kepercayaan tinggi, sehingga produk yang dihasilkan akan
selalu memenuhi persyaratan yang ditetapkan (CPOB, 2006).
Dari unsur diatas, sistem manajemen mutu di industri farmasi
mencakup antara lain:
Struktur organisasi mutu, termasuk kewenangan pemastian mutu
dan pengawasan mutu:

Pengendalian perubahan

Sistem pelulusan batch

Penanganan penyimpangan

Pengolahan ulang

11

Inspeksi diri dan audit eksternal

Pelaksanaan program kualifikasi dan validasi

Personalia

Sistem dokumentasi (Manajemen Farmasi Industri, 2007).

Aspek yang saling berkaitan membangun manajemen mutu terdiri


dari pemastian mutu, CPOB, pengawasan mutu, dan pengkajian mutu
produk. Pemastian mutu adalah totalitas semua pengaturan yang dibuat
dengan tujuan untuk memastikan bahwa obat yang dihasilkan memenuhi
persyaratan mutu dan tujuan pemakaiannya.

CPOB adalah bagian dari pemastian mutu yang memastikan obat


dibuat dan dikendalikan secara konsisten untuk mencapai standar mutu
yang sesuai dengan tujuan penggunaan dan dipersyaratkan dalam izin edar
serta spesifikasi produk. CPOB mencakup produksi dan pengawasan mutu.

Pengawasan mutu adalah bagian dari CPOB yang berhubungan


dengan pengambilan sampel, spesifikasi dan pengujian. Organisasi,
dokumentasi dan prosedur pelulusan yang memastikan bahwa pengujian
yang diperlukan dan relevan telah dilakukan sehingga bahan yang belum
diluluskan tidak digunakan serta produk yang belum diluluskan tidak
dijual sebelum mutunya dinilai memenuhi syarat.
12

Setiap industri farmasi hendaklah mempunyai fungsi pengawasan


mutu. Fungsi ini hendaklah independen dari bagian lain. Personil
pengawasan mutu hendaklah memiliki akses ke area produksi untuk
melakukan pengambilan sampel dan investigasi bila diperlukan.

Pengkajian mutu produk secara berkala hendaklah dilakukan


terhadap semua obat terdaftar dengan tujuan untuk membuktikan
konsistensi proses, kesesuaian dari spesifikasi bahan awal, bahan
pengemas dan obat jadi. Pengkajian mutu produk secara berkala biasanya
dilakukan tiap tahun, dengan mempertimbangkan hasil kajian ulang
sebelumnya.

Industri farmasi dan pemegang izin edar, bila berbeda, hendaknya


melakukan evaluasi terhadap hasil kajian, dan suatu penilaian hendaklah
dibuat untuk menentukan apakah tindakan perbaikan dan pencegahan
ataupun validasi ulang harus dilakukan.

Alasan tindakan perbaikan hendaklah didokumentasikan. Tindakan


pencegahan dan perbaikan yang telah disetujui hendaklah diselesaikan
secara efektif dan tepat waktu.

2.4.

Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB)

CPKB adalah seluruh aspek kegiatan pembuatan kosmetika yang bertujuan


untuk menjamin agar produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan

13

mutu yang ditetapkan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Yang termasuk ke


dalam CPKB adalah:

1. Sistem manajemen mutu

2. Personalia

3. Bangunan

4. Peralatan

5. Sanitasi & Hygene

6. Produksi

7. Pengawasan mutu

8. Dokumentasi

9. Audit internal

10. Penyimpanan

11. Kontrak produksi dan pengujian

12. Penanganan keluhan

14

13. Penarikan produk

Cara pembuatan yang baik atau good manufacture practices (GMP)


merupakan tool untuk pembuatan produk sehingga dihasilkan produk yang
aman, bermutu dan bermanfaat. Prinsip yang diterapkan di dalam GMP adalah
mencegahterjadinya kontaminasi silang baik dari sisi kimia, fisika maupun
mikrobiologi dan konsistensi produk terjamin baik keamanan, mutu dan
manfaatnya. Di bidangkosmetik,dikenal dengan sebutan Cara Pembuatan
Kosmetik yang Baik atauCPKB.

Kualitas produk kosmetika sangat bergantung pada kualitas bahan


bakunya.Panduan CPKB mencakup persyaratan yang harus dimiliki oleh bahan
baku yangharus sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati dan memiliki
kualitas yang konsisten. Persyaratan ini memerlukan kesetaraan pada parameter
kimiawi danfisika dan kemurnian mikroba. Sebagaimana telah dijelaskan
sebelumnya, bahan baku kosmetik danbahancampuran memerlukan perlindungan
dari kontaminasi mikroba selama transportasi, penyimpanan dan produksi. Bahan
baku yang terkontaminasi akan mengintroduksimikroba ke dalam proses sehingga
produk dapat memiliki muatan mikroba berlebih(overload),akhirnya bahan
pengawet yang diberikan ke dalam produk tidak memadai dan tidak efektif
lagi.Oleh karena itu, kondisi esensial bagi manufaktur kosmetik adalah
denganmenggunakan

bahan

bakuyang

memiliki

kemungkinan

terkecil

muatankontaminasi mikrobanya, jika memungkinkan hanya 10 CFU (Colony

15

Forming Unit) per gram. Lebih lanjut lagi, spesifikasi yang harus diterima oleh
pemasok dapat menjamin ketiadaan mikroorganisme patogen potensial dan
material bioaktif lainnya.
Kompatibilitas ingredient (bahan baku) dengan pengemas haruslah
dipastikan.Wadah yang tersedia haruslah dapat diidentifikasi secara jelas dan
memiliki informasi berikut: nama produk, nomor batch, nomor item, berat kotor
( gross) dan bersih.
Perizinan Produksi Kosmetika

Izin produksi adalah izin yang harus dimiliki oleh pabrik kosmetika
untukmelakukan kegiatan pembuatan kosmetika. Industri kosmetika adalah
industri yang memproduksi kosmetika yang telah memiliki izin usaha industri
atau tanda daftar industri sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Perizianan

produksi

kosmetika

sesuai

dengan

Permenkes

No.1175/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Izin Produksi Kosmetika. Adapun izin


produksi dibedakan atas 2 (dua) golongan sebagai berikut :

a. Golongan A yaitu izin produksi untuk industri kosmetika yang dapat


membuat semua bentuk dan jenis sediaan kosmetika.

b. Golongan B yaitu izin produksi untuk industri kosmetika yang dapat


membuat

bentuk

dan

jenis

sediaan

menggunakan teknologi sederhana.

16

kosmetika

tertentu

dengan

Adapun tahapan dalam perizinan produksi kosmetik :

1. Pemohon mengajukan permohonan produksi kosmetika ke direktur


jenderal (tembusan kepada kepala badan, kepala dinas dan kepala balai).

2. Paling lama 7 hari kerja dilakukan evaluasi persyaratan administrasi oleh


kepala dinas.

3. Paling lama 7 hari dilakukan pemeriksaan oleh kepala balai terhadap


pemenuhan CPKB, higine industri kosmetik, dan dokumentasi.

4. Paling lama 14 hari kerja setelah evaluasi dinyatakan lengkap, kepala


dinas setempat wajib menyampaikan rekomendasi kpd dirjen dengan
tembusan kepada kepala badan.

5.

Paling lama 14 hari kerja setelah pemeriksaan pemenuhan CPKB, kepala


balai waijb menyampaikan hasil pemeriksaan kepada kepala badan dgn
tembusan kpd kepala dinas dan dirjen.

17

6.

Paling lama 7 hari kerja kepala badan memberikan rekomendasi kepada


kepala dirjen.

7.

Bila dalam 30 hari kerja surat permohonan diterima oleh kepala balai dan
kepala dinas tidak dilakukan evaluasi, pemohon dapat membuat surat
pernyataan siap berproduksi kepada dirjen dengan tembusan kepala badan,
kepala dinas dan kepala balai.

8.

Dalam waktu 14 hari kerja setelah rekomendasi atau surat permintaan


diterima, Dirjen menyetujui, menunda atau menolak izin produksi.

Izin produksi industri kosmetika Golongan A diberikan dengan


persyaratan:

a. Memiliki apoteker sebagai penanggungjawab

b. Memiliki fasilitas produksi sesuai dengan produk yang akan dibuat

c. Memiliki fasilitas laboratorium

d. Wajib menerapkan CPKB

18

Izin produksi industri kosmetika Golongan B diberikan dengan


persyaratan:
a. Memiliki

sekurang-kurangnya

tenaga

teknis

kefarmasian

sebagai

penanggung jawab.
b. Memiliki fasilitas produksi dengan teknologi sederhana sesuai produk
yang akan dibuat.
c. Mampu menerapkan higiene sanitasi dan dokumentasi sesuai CPKB.

2.5.

Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB)


Obat tradisional merupakan produk yang dibuat dari bahan alam yang

jenis dan sifat kandungannya sangat bergam sehingga untuk menjamin mutu obat
tradisional diperlukan cara pembuatan yang dengan lebih memperhatikan proses
penanganan bahan baku.
Cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) meliputi seluruh aspek
yang menyangkut pembuatan obat tradisional, yang bertujuan untuk menjamin
agar produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah
ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Mutu produk tergantung dari
bahan awal, proses produksi dan pengawasan mutu, bangunan, peralatan dan
personalia yang menangani. Adapun aspek dalam CPOB meliputi:
1. Sistem Manajemen Mutu
Dalam penerapan sistem manajemen mutu hendaklah dijabarkan
strktur organisasi, tugas dan fungsi, tanggung jawab, prosedurprosedur, intruksi-intruksi kerja, proses dan sumber daya.
Sistem mutu hendaklah dibentuk dan disesuaikan dengan kegiatan
perusahaan, sifat dasar produk-produknya, dan hendaklah diperhatikan

19

aspek penting yang diterapkan dalam pedoman CPOTB ini.


Pelaksanaan sistem mutu hendaklah menjamin bahwa apabila
diperlukan dapat dilakukan pengambilan contoh bahan awal, produk
antaran, produk ruahan dan produk jadi, serta dilakukan pengujian
terhadapnya untuk menentukan diluluskan atau ditolak, yang
didasarkan atas hasil uji dan kenyataan-kenyataan yang dijumpai
berikatan dengan mutu.
2. Personalia
Personalia hendaklah mempunyai pengetahuan, pengalaman,
keterampilan dan kemampuan yang sesuai dengan tugas dan fungsinya,
dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Personalia hendaklah dalam
keadaan sehat dan mampu menangani tugas yang dibebankan kepadanya.
Semua personalia yang langsung terlibat dalam kegiatan pembuatan
hendaklah dilatih dalam pelaksanaan pembuatan sesuai dengan prinsipprinsip cara pembuatan obat yang baik, hendaklah dijabarkan kewenagan
dan tanggung jawab personil-personil lain yang ditunjuk untuk
menjalankan pedoman cpob dengan baik.
3. Bangunan
Bangunan industri obat tradisional hendaklah menjamin aktifitas
industri dapat berlangsung dengan aman.
4. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan produk hendaklah
memiliki rancangan bangun kontruksi yang tepat, ukuran yang memadai
serta ditempatkan dengan tepat, sehingga mutu yang dirancang bagi tiap

20

produk terjamin secara seragam dari batch ke batch, serta untuk


memudahakan pembersihan dan perawatannya. Sarana pengolahan produk
hendaklah dilengkapai dengan peralatan sesuai dengan proses pembuatan
dan bentuk sediaan yang dibuat.
5. Sanitasi dan Higiene
Dalam pembuatan produk hendaklah diterapakan tindakan sanitasi
dan hygiene yang meliputi bangunan, peralatan dan perlengkapan,
personalia, bahan dan wadah serta faktor lain sebagai sumber pencemaran
produk.
6. Penyiapan Bahan Baku
Setiap bahan baku yang digunakan untuk pembuatan hendaklah
memenuhi persyaratan yang berlaku.
7. Pengolahan dan Pengemasan
Pengolahan dan pengemasan hendaklah dilaksanakan dengan
mengikuti cara yang telah ditetapkan oleh industri sehingga dapat
menjamin produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan yang
berlaku.
8. Pengawasan Mutu
Pengawasan mutu merupakan bagian yang esensial dari cara
pembuatan obat tradisional. Rasa keterkaitan dan tanggung jawab semua
unsur dalam semua rangkaian pembuatan adalah mutlak untuk
menghasilkan produk yang bermutu mulai dari bahan awal sampai pada
produk jadi. Untuk keperluan tersebut bagian pengawasan mutu
hendaklah merupakan bagian yang tersendiri. Sistem pengawasan mutu

21

hendaklah di rancang dengan tepat untuk menjamin bahwa tiap produk


mengandung bahan dengan mutu yang benar dan di buat pada kondisi
yang tepat serta mengikuti prosedur standar sehingga produk tersebut
senantiasa memenuhi persyaratan produk jadi yang berlaku.
9. Dokumentasi
Dokumentasi pembuatan produk merupakan bagian dari sistem
informasi manajemen yang meliputi spesifikasi, label atau etiket,
prosedur, metode dan intruksi catatan dan laporan serta jenis dokumentasi
lain yang diperlukan dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian serta
evaluasi seluruh rangkaian kegiatan pembuatan produk. Dokumentasi
sangat penting untuk memastikan bahwa setiap petugas mendapat intruksi
secara rinci dan jelas mengenai bidang tugas yang harus dilaksanakannya,
sehingga memperkecil resiko terjadinya salah tafsir dan kekeliruan yang
biasanya timbul karena hanya mengandalkan komunikasi lain.

BAB III
URAIAN KEGIATAN KUNJUNGAN KERJA LAPANGAN

Kunjungan industri farmasi dilakukan pada tanggaL 25-28 April 2016.


Adapun pelatihan dan industri farmasi yang dikunjungi antara lain :
1. Politeknik Kementerian Kesehatan Surakarta Jurusan Jamu
2. B2P2TOOT
3. Industri pabrik PT.Sidomuncul.

3.1.

Politeknik Kementerian Kesehatan Surakarta Jurusan Jamu

22

3.1.1. Visi dan Misi Politeknik Kementerian Kesehatan Surakarta


Jurusan Jamu
a. Visi
Menghasilkan tenaga kesehatan sebagai jamulog profesional yang
kompeten, unggul, dan kompetitif ditingkat global.
b. Misi
1. Menyelenggarakan Pendidikan Diploma III Jamu dengan dilandasi
kemampuan pengobatan dasar jamu.
2. Menyelenggarakan Pendidikan dasar-dasar fannasi dan pelayanan
Jamu,

serta landasan

penguasaan ilmu, keterampilan

dan

pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang jamu


melalui Tri Darma Perguruan Tinggi.
3. Mengembangkan tata kelola penyelenggaraan pendidikan D III
Jamu yang mandiri, akuntabel dengan jaminan mutu.
4. Menyelenggarakan

upaya

pengabdian

masyarakat

melalui

peneparan IPTEK dalarn pelayanan dan pendidikan dibidang jamu.


5. Mengembangkan upaya kemitraan dan kewirausahaan dalam
menunjang peningkatan mutu pendidikan D III Jamu.
3.1.2.

Tujuan Pendidikan
Tujuan Pendidikan D-lll jamu adalah menghasilkan lulusan Jamulog

(Herbalis) dengan gelar AHLI MADYA JAMU yang mempunyai kompetensi:


1. Mampu mengelola unit pelayanan bidang klinik Jamu.
2. Mampu memberikan layanan Jamu(herbal) dalam lingkup:
1) Peningkatan Kesehatan

23

2) Pencegahan penyakitl masalah kesehatan


3) Pemeliharaan kesehatan
4) Pemulihan kesehatan
5) Mampu mendidik, memberi penyuluhan dan melatih dalam layanan
Jamu.
6) Mampu melaksanakan penelitian dalam bidang pengembangan
Jayanan Jamu.
3.1.3. Kegiatan Workshop di Poltekes Kemenkes Surakarta
Kegiatan workshop di Poltekes Kemenkes Surakarta dilakukan selama 2
hari dimuali pada tanggal 25-26April 2016. Adapun kegiatan yang dilakukan
selama workshop di Poltekes Kemenkes Surakarta antara lain:
Tanggal 25April 2016 :
1. Registrasi
2. Pembukaan dan penyambutan oleh Direktur/PDI Ketua Jurusan Jamu
3. Penyampaian Materi tentang kewirausahaan, kecantikan antiaging, K3,
Teori Formula kecantikan, Formula sediaan, Perijinan, dan Pengenalan
TOI (Tanaman Obat Indonesia)
4. Tanya Jawab
Tanggal 26 April 2016 :
1. Praktikum botani dan TPP.
2. Praktikum formulasi kecantikan.
3. Praktikum formulasi jamu
4. Praktikum kecantikan.

24

3.2.

B2P2TOOT (Balai Besar Tanaman Obat Dan Obat Tradisional)


Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat

Tradisional (B2P2TOOT),Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI


pada awalnya tahun 1948 berupa rintisan koleksi tanaman obat Hortus Medicus
Tawangmangu.Pada tahun 1963- 1968 berada di bawah koordinasi Badan
Pelayanan Umum Farmasi dan kemudian pada tahun 1968-1975 dibawah
Direktorat Jenderal Farmasi (Lembaga Fannasi Nasional). Pada tahun 1975-1979
kebijakan Pemerintah menetapkan Hortus Medicus di bawah pengawasan
Direktorat Pengawasan Obat Tradisionil, Ditjen POM, Depkes RI.
Berdasarkan SK Menteri Kesehatan No. 149IMenkesiSKlIV178 pada
tanggal 28 April 1978 status kelembagaan berubah menjadi Balai Penelitian
Tanaman Obat (BPTO) yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan
Litbang Kesehatan. Selanjutnya berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI. No.
491/Per/Menkes/VII/2006 tertanggal 17 Juli 2006, BPTO meningkat status
kelembagaanya menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat
dan Obat Tradisional (B2P2TOOT).
3.2.1.

Visi dan Misi B2P2TOOT


a. Visi
Menjadi Institusi Unggulan dan Referensi Nasional dalam Bidang
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional.
b. Misi
Menghasilkan Iptek dan Informasi Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Obat dan Obat Tradisional yang Berkulaitas berdasarkan
Kaidah Ilmiah dan Etika.

25

3.2.2. Kegiatan di B2P2TOOT


Kegiatan kunjungan ke B2P2TOOT dilakukan pada tanggal 27 April 2014.
Adapun kegiatan yang dilakukan selama kunjungan antara lain :
1. Acara penyambutan dari pihak B2P2TOOT
2. Kata sambutan dari pihak B2P2TOOT dan Akademi Farmasi Yarsi
Pontianak
3. Penjelasan tentang profil B2P2TOOT
4. Kunjungan ke etalase tanaman obat dikebun obat B2P2TOOT
5. Kunjungan ke ruangan instalasi paska panen pembuatan simplisia
6. Kunjungan ke museum obat tradisional.

3.3.

Jamu PT.SidoMuncul

3.3.1. Sejarah Jamu PT.SidoMuncul


PT. SidoMuncul bermula dari sebuah industri rumah tangga
pada tahun 1940, dikelola oleh Ibu Rahkmat Sulistio di Yogyakarta,
dan dibantu oleh tiga orang karyawan. Banyaknya permintaan
terhadap kemasan jamu yang lebih praktis, mendorong beliau
memproduksi jamu dalam bentuk yang praktis (serbuk), seiring
dengan kepindahan beliau ke Semarang , maka pada tahun 1951
didirikan perusahan sederhana dengan nama SidoMuncul yang berarti
"Impian yang terwujud" dengan lokasi di Jl. Mlaten Trenggulun.

26

Dengan produk pertama dan andalan, Jamu Tolak Angin, produk jamu
buatan Ibu Rakhmat mulai mendapat tempat di hati masyarakat sekitar
dan permintaannyapun selalu meningkat.
Dalam perkembangannya, pabrik yang terletak di Jl. Mlaten
Trenggulun ternyata tidak mampu lagi memenuhi kapasitas produksi
yang besar akibat permintaan pasar yang terus meningkat, dan di tahun
1984 pabrik dipindahkan ke Lingkungan Industri Kecil di Jl.
Kaligawe, Semarang.
Guna mengakomodir demand pasar yang terus bertambah,
maka pabrik mulai dilengkapi dengan mesin-mesin modern, demikian
pula jumlah karyawannya ditambah sesuai dengan kapasitas yang
dibutuhkan (kini jumlahnya mencapai lebih dari 2000 orang).
Untuk mengantisipasi kemajuan dimasa datang, dirasa perlu untuk
membangun unit pabrik yang lebih besar dan modern, maka di tahun
1997 diadakan peletakan batu pertama pembangunan pabrik baru di
Klepu, Ungaran oleh Sri Sultan Hamengkubuwono ke-10 dan
disaksikan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan saat itu,
Drs. Wisnu Kaltim.Pabrik baru yang berlokasi di Klepu, Kec. Bergas,
Ungaran, dengan luas 29 Ha tersebut diresmikan oleh Menteri
Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia, dr. Achmad
Sujudi pada tanggal 11 November 2000. Saat peresmian pabrik,
SidoMuncul sekaligus menerima dua sertifikat yaitu Cara Pembuatan
Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Obat yang
Baik (CPOB) setara dengan farmasi, dan sertifikat inilah yang

27

menjadikan PT. SidoMuncul sebagai satu-satunya pabrik jamu


berstandar farmasi. Lokasi pabrik sendiri terdiri dari bangunan pabrik
seluas 7 hektar, lahan Agrowisata ,1,5 hektar, dan sisanya menjadi
kawasan pendukung lingkungan pabrik.
Secara pasti PT. SidoMuncul bertekad untuk mengembangkan
usaha di bidang jamu yang benar dan baik. Tekad ini membuat
perusahaan menjadi lebih berkonsentrasi dan inovatif. Disamping itu
diikuti dengan pemilihan serta penggunaan bahan baku yang benar,
baik mengenai jenis, jumlah maupun kualitasnya akan menghasilkan
jamu yang baik.
Untuk mewujudkan tekad tersebut, semua rencana pengeluaran
produk baru selalu didahului oleh studi literatur maupun penelitian
yang intensif, menyangkut keamanan, khasiat maupun sampling pasar.
Untuk memberikan jaminan kualitas, setiap langkah produksi mulai
dari barang datang , hingga produk sampai ke pasaran, dilakukan
dibawah pengawasan mutu yang ketat.
Seluruh karyawan juga bertekad untuk mengadakan perbaikan
setiap saat, sehingga diharapkan semua yang dilakukan dapat lebih
baik dari sebelumnya.
3.3.2. Visi dan Misi Industri Jamu SidoMuncul
a. Visi
Menjadi industri jamu yang dapat memberikan manfaat pada
masyarakat dan lingkungan.
b. Misi

28

1. Meningkatkan mutu pelayanan di bidang herbal tradisional


2. Mengembangkan research / penelitian yang berhubungan dengan
pengembangan pengobatan dengan bahan-bahan alami.
3. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya membina
kesehatan melalui pola hidup sehat, pemakaian bahan-bahan alami
dan pengobatan secara tradisional.
4. Ikut mendorong pemerintah / instansi resmi agar lebih berperan
dalam pengembangan pengobatan tradisional.
3.3.3. Kegiatan Di Pabrik Industri Jamu PT.SidoMuncul
Kunjungan ke pabrik Industri Jamu PT.SidoMuncul dilakukan pada
tanggal 28 April 2016. Adapun kegiatan yang dilakukan selama kunjungan di
pabrik Jamu PT.SidoMuncul antara lain :
1. Acara penyambutan dari pihak pabrik Jamu PT.SidoMuncul.
2. Kata sambutan dari pihak pabrik Jamu PT.SidoMuncul dan pihak
Akademi Farmasi Yarsi Pontianak.
3. Pemberian Materi Tentang Profil dan Sejarah Jamu PT.SidoMuncul.
4. Kunjungan ke pabrik Jamu PT.SidoMuncul untuk melihat proses
pembuatan/proses produksi secara langsung
5. Diskusi singkat dan tanya jawab oleh pihak Jamu PT.SidoMuncul.
6. Penyerahan cindera mata baik dari pihak Akademi Farmasi Yarsi
Pontianak maupun dari pihak Jamu PT.SidoMuncul.
7. Foto bersama bersamaan dengan penutupan oleh pihak Politeknik
Kementerian Kesehatan Surakarta.

BAB IV

29

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kunjungan industri merupakan suatu kegiatan untuk mengenalkan


mahasiswa terhadap lingkungan kerja diwilayah industri farmasi. Melalui
kegiatan kunjungan industri farmasi diharapkan mahasiswa mendapatkan
tambahan ilmu serta melihat langsung sistematis kegiatan yang dilakukan di
industri farmasi.
Mahasiswa tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan secara teoritis saja
melainkan dengan melakukan kunjungan industri farmasi mahasiswa mampun
menjalankan tugasnya secara profesional. Perkenalan terhadap lingkungan kerja
diwilayah industri farmasi merupakan salah satu saran dalam rangka
meningkatkan sikap profesional.
4.1 Poltekes Kemenkes Surakarta Jurusan Jamu
Kunjungan ke Poltekes Kemenkes Surakarta dilaksanakan pada tanggal 25
sampai 26 April 2016. Paada tanggal 25 April 2016 kami disambut hangat dan
baik dari pihak Poltekes Kemenkes Surakarta jurusan jamu. Selanjutnya kegiatan
dilakukan yaitu materi kewirausahaan disampaikan oleh bapak Indarto AS., S.
Pd., M. Kes, materi Kecantikan anti aging disampaikan oleh ibu Nutrisia
Aquariushinta Sayuti, M. Sc., Apt, materi K3 disampaikan oleh bapak Sigit Tri
Ambarwanto, S. Kep. Ns, materi Teori Formulasi Sediaan Kecantikan
disampaikan oleh ibu Youstiana DR., M. Si, materi Teori Formulasi Sediaaan
disampaikan oleh bapak Drs. Agus Winarso, M. Kes., Apt, materi Perijinan
disampaikan oleh ibu Indri Kusuma Dewi, M. Sc., Apt yang terakhir materi
pengenalan TOI disampaikan oleh Bambang Yunianto, SKM, M. Kes.

30

Pada tanggal 26 April 2016 kegiatan yang dilakukan yaitu praktikum


pembuatan sediaan yang dilakukan di Laboratorium Poltekes Kemenkes
Surakarta. Selanjutnya melihat sediaan jamu yang dibuat oleh Mahasiwa Poltekes
Kemenkes Jurusan Jamu.
Bahan aktif yang digunakan dalam pembuatan sediaan jamu tersebut adalah
ekstrak tanaman yang memiliki khasiat sebagai obat yaitu kunyit, temulawak,
jahe, secang, lengkuas, jintan hitam dan lain-lain. Sediaan jamu yang dibuat pada
pratikum yaitu membuat formula jamu, serbuk lulur tradisional, body scrub
tradisional, body butter tradisional, sirup secang, wedang beras kencur, dan
wedang uwuh. Kemudian pratikum dilanjutkan pada pelayanan jamu dalam
kecantikan yaitu melakukan facial dan massage.
4.2 B2P2TOOT
Kunjungan B2P2TOOT dilaksanakan pada tanggal 27 April 2016. Kegiatan
yang dilakukan adalah KKL ke Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) di Tawangmangu. B2P2TOOT
merupakan sebuah institusi yang bergerak dalam bidang penelitian serta
pengembangan ilmu kesehatan khususnya mengenai herbal. Selain itu
B2P2TOOT tidak hanya memiliki kebun tanaman obat tapi juga memiliki
Iaboratorium untuk penelitian bahkan klinik Hortua Medicus dengan jumlah
pasien rata-rata 30-50 pasien perhari.
Kegiatan pertama yang kami lakukan yaitu sambutan yang diberikan oleh
pihak B2P2TOOT. Kegiatan selanjutnya yaitu kami diajak berkeliling ke etalase
yang ada di B2P2TOOT. Instalasi Adaptasi dan Pelestarian dan Instalasi Pasca
Panen serta Museum Tanaman Obat. Etalase tanaman obat merupakan tempat
pengembangbiakan tanaman obat. Ada banyak tanaman obat yang dikembangkan
di etalase tanaman obat B2P2TOOT. Instalasi Adaptasi dan Pelestarian merupaka

31

tempat khusus untuk adaptasi tanaman obat hasil eksplorasi dan adaptasi tanaman
obat tertentu. Instalasi Pasca Panen merupakan tempat penanganan hasil panen
tanaman obat meliputi pencucian, sortasi, pengubahan bentuk, pengeringan,
pengemasan dan penyimpanan serta stok/gudang simplisia. Museum tanaman
obat. Disini mahasiswa dapat mengetahui berbagai tanaman obat asli Indonesia
yang wajib untuk dilestarikan dan dimanfaatkan untuk pengobatan. Kemudian
dilanjutkan dengan memperkenalkan tanaman-tanaman obat yang ada di kebun
B2P2TOOT. Selanjutnya kami berkunjung ke museum dan klinik yang ada di
B2P2TOOT.
Komitmen pemerintah untuk mengembangkan wisata kesehatan telah
disetujui antara Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatiftentang "Health Tourism" di Ballroom Birawa Gedung Bidakara
pada 28 November 2012 yang lalu. Guna mendukung program tersebut
B2P2TOOT menyelenggarakan "Workshop Pengembangan Wisata Kesehatan
Tradisional/ Jamu (Jamu Health Tourism)".
Workshop tersebut dihadiri perwakilan dari Provinsi Bali dan Jawa Tengah
serta Rumah Diabetes Ubaya Surabaya. Juga hadir sebagai pembicara: Kepala
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Direktur Pengembangan Wisata
Minat Khusus, Konvensi, Insentif dan Even (Kemenparenkraf), Dirjen Bina Gizi
dan KIA dan Pusat Promosi Kesehatan.
Paparan dari peserta menggambarkan betapa luar biasanya potensi wisata
kesehatan di Provinsi Jawa Tengah dan Bali. Dan diakhir acara para peserta
berkomitmen saling berkomunikasi untuk mengembangkan wisata kesehatan jamu
di Indonesia.
4.3 Industri Jamu PT. SidoMuncul

32

Kunjungan di industri Jamu PT. SidoMuncul dilaksanakan tanggal 28 April


2016. Kegiatan dilakukan antara lain pertama sambutan yang diberikan oleh pihak
Jamu Pt. SidoMuncul dengan baik. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan oleh
petugas mengenai profil, selanjutnya kami melakukan kunjungan ke lokasi
produksi Jamu PT. SidoMuncul untuk mengetahui proses produksi secara
langsung. Ada pun proses produksi jamu di PT. SidoMuncul antara lain
penerimaan dan seleksi bahan baku, pengeringan bahan baku, penghalussan bahan
baku, ekstraksi, pembuatan sediaan, pengemasan, pengujian mudu sediaang yang
telah dikemas, penyimpanan, dan distribusi.
Pada proses pertama bahan baku yang diterima kemudian di seleksi sesuai
dengan standar yang berlaku. Untuk bahan baku yang sesuai dengan standar dan
dinyatakan lolos seleksi diberikan tanggal pengemasannya dan di tempatkan
berdasarkan bentuk dari bahan tersebut. Sedangkan untuk bahan baku yang tidak
memenuhi standar dan dinyatakan tidak lolos seleksi kemas pada tempat lain.
Setelah lolos seleksi, bahan baku dikeringkan menggunakan oven hingga
diperoleh kadar air yang sesuai standar. Selanjutnya bahan baku yang telah kering
dihaluskan menggunakan mesin penghalus dan hasilnya disimpan dalam
tempatyang sudah disediakan. Sebelum diekstraksi, bahan baku yang sudah halus
diperiksa kembali (Quality Control) untuk memastikan kualitas bahan baku.
Bahan baku yang sudah diperiksa kemudian diekstraksi menggunakan me tode
maserasi dengan pelarut etanol. Hasil maserasi yang didapat kemudian dikentalkan

dengan penangas.
Ekstrak kental yang didapat siap untuk dibuat dala m berbagai bentuk sediaan
diantaranya tolak angin, tolaklinu, kopi jahe, susu jahe, este-emje dengan ginseng, kuku
bima dan lain sebagainya. Setelah dilakukan proses pembuatan, dilakukan proses
pengemasan dengan caramanual dan menggunakan teknologi mesin. Jamu yang

33

sudah dikemas kemudian disimpan di dalam gudang penyimpanan secara FEFO (First
Expired First Out) dimana sediaan jamu yang tanggal kadaluwarsanya lebih awal
maka didistribusikan Iebih cepat. Produk Jamu PT. SidoMuncul didistribusikan

hampir ke seluruh daerah di Indonesia termasuk di Kalimantan Barat salah satunya


Pontianak.
PT. SidoMuncul memiliki anak prusahaannya salah satunya adalah pembuatan
pupuk organik dari libah simplisia yang tidak digunakan, pupuk tersebut dibuat dengan
berbagai macam bentuk sediaan antara lain pupuk cair pupuk padat.

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari hasil kunjungan dan pelatihan industri yang dilaksanakan pada tanggal
25 - 28 April 2016 di Poltekes Kemenkes Surakarta Jurusan Jamu, B2P2TOOT,
dan industri jamu PT.SidoMuncul maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Industri farmasi yang baik adalah industri yang mampu bersaing seeara
global dan mengetahui era pengadaan, pemasaran dan pendistribusian
obat yang telah jadi.
2. Setiap industri farmasi dalam proses produksi selalu mengacu kepada
aturan cara pembuatan obat yang baik (CPOB).
3. Dapat

mengajarkan

bagaimana

meningkatkan,

memperluas

dan

memantapkan keterampilan sebagai bekal untuk memasuki lapangan


kerja yang sesuai dengan kebutuhan program pendidikan.
5.2.

Saran

Adapun saran yang dapat penulis sampaikan berdasarkan dengan

34

kunjungan kerja industri adalah sebagai berikut:


1. Untuk pihak industri, diharapkan dapat meningkatkan sarana dan
prasarana yang berkaitan dengan pelaksanaan Cara Pembuatan Obat yang
baik dan benar (CPOB).
2. Untuk

kampus,

memperbanyak

diharapkan
tempat

untuk

kunjungan

memperpanjang
kerja

industri

waktu

dan

sehingga

ilmu

pengetahuan yang di dapatkan Iebih luas.

3. DAFTAR PUSTAKA
4.

5.

http://sidomuncul.com/.

6.

Menkes RI. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


381/Menkes/SK/III/2007 Tentang Kebijakan Obat Tradisioanal.
Menkes RI. Jakarta

7.

Menkes RI. 1990. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 246 Tahun 1990 Tentang Izin Industri Obat Tradisional dan
Pendaftaran Obat Tradisional. Menkes. Jakarta

8.

Menkes RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 1175 Tahun 2010 Tentang Izin Produksi Kosmetika. Menkes.
Jakarta

9.

PP. 2009. Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2009 Tentang


Pekerjaan Kefarmasian. PP. Jakarta

10.

PP RI. 1990. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32


Tahun 1990 Tentang Upaya Pelayanan Kesehatan. PP RI. Jakarta.

11.

Tim Botani dan Formulasi. 2014. Buku Panduan Pelatihan Formulasi


Jamu Tingkat Dasar. Poltekkes Surakarta Jurusan Jamu

35

12.

Tim Jurusan Jamu. 2016. Pedoman workshop jamu estetika


tradisional dengan ramuan jamu sebagai warisan budaya indonesia.
Poltekes Surakarta Jurusan Jamu.

13.

UURI. 2009. UURI Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. UURI.


Jakarta

36

14. L
15.
16. A
17.
18. M
19.
20. P
21.
22. I
23.
24. R
25.
26. A
27.
28. N
29.
30.
31.

37