Anda di halaman 1dari 37

SKRINING FITOKIMIA

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi
Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadiratNya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya
kepada kami, sehingga saya dapat menyelesaikan laporan tentang Uji
Organoleptis Haksel.
Laporan
mendapatkan

ini

telah

bantuan

saya
dari

susun

berbagai

dengan
pihak

maksimal
sehingga

dan
dapat

memperlancar pembuatan laporan ini. Untuk itu kami menyampaikan


banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan laporan ini.
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa
masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya.Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya menerima
segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
laporan ini.

Kendari, Mei 2016

Penulis

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA

A. PENDAHULLUAN
1. LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan salah satu Negara yang memilki kekayaan
sumber daya alam sangat melimpah, salah satunya banyak tumbuh
tumbuhan yang bisa digolongkan sebagai tanaman obat. Tanaman
tersebut tumbuh baik secara liar ataupun segaja ditanam sebagai
tanaman

penghias

rumah.

Tapi

awalnya

tidak

semua

orang

mengetahui akan khasiat dari tanaman tersebut.


Tanaman

obat

yaitu

berbagai

jenis

tanaman

yang

bisa

dimanfaatkan setiap bagian tubuhnya, mulai dari akar, batang, daun,


bunga, buah, bahkan biji buahnya untuk mengatasi berbagai masalah
pada tubuh manusia baik yang disebabkan penyakit atau gangguan
lainnya. Tanaman memiliki karakteristik masing-masing baik itu dari
rasa, aroma, bentuk dan tekstur. Untuk mengetahui karakteristik
tersebut, dapat di lakukan uji organoleptik.
Simplisia merupakan bahan alamiah yang digunakan sebagai
obat baik dari tumbuhan, hewan maupun mineral yang belum
mengalami pengolahan apapun kecuali dinyatakan lain, berupa bahan
yang dikeringkan. Simplisia berbeda dengan haksel. Haksel merupakan
bagian-bagian tanaman seperti akar, batang, daun, bunga, biji dan
lain-lain yang dikeringkan tetapi belum dalam bentuk serbuk. Simplisia
atau herbal merupakan bahan alam yang telah dikeringkan yang
digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan.
Kecuali dinyatakan lain, suhu pengeringan tidak lebih dari 60 oC.
Simplisia terbagi dua, yaitu simplisia segar dan simplisia nabati.
Simplisia segar merupakan bahan alam segar yang belum dikeringkan,
sedangkan simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan
utuh, bagian tumbuhan atau eksudat tumbuhan.
Pengujian simplisia ini sangat berguna dalam bidang
farmasi, selain untuk menentukan kandungan senyawa didalam

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
suatu tanaman juga bermanfaat sebagai landasan dasar seorang
farmasi membuat suatu sediaan. Oleh karena itu, dilakukan
pengujian

beberapa

jenis

simplisia

untuk

mengetahui

kandungan senyawa apa saja yang terdapat dalam simplisia


tersebut.
2. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah pada percobaan ini adalah senyawa apa
saja

yang

terkandung

dalam

beberapa

sampel

dengan

melakukan skrining fitokimia ?


3. TUJUAN
Tujuan

dari

percobaan

ini

adalah

untuk

mengetahui

senyawa apa saja yang terkandung dalam beberapa sampel


dengan melakukan skrining fitokimia
4. MANFAAT
Manfaat pada percobaan ini adalah dapat mengetahui senyawa
apa saja yang terkandung dalam beberapa sampel dengan melakukan
skrining fitokimia

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA

B. TEORI UMUM
Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat
yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali
dikatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia
dibedakan atas simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia
pelican (mineral). Untuk menjamin mutu keseragaman senyawa
aktif, keamanan, maupun kegunaannya, maka simplisia harus
memenuhi

persyaratan

minimal.

Pada

umumnya

pembuatan

simplisia melalui tahapan sebagai berikut: pengumpulan bahan


baku, sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan, sortasi
kering, pengepakan, penyimpanan dan pemeriksaan mutu (Rahayu,
2009).
Kebenaran pemilihan simplisia merupakan aspek penting untuk
pengembangan obat tradisional. Simplisia merupakan bahan alami
yang merupakan bahan dasar untuk pembuatan obat tradisional.
Identifikasi simplisia dilakukan sebagai identifikasi awal untuk
menentukan adanya komponen seluler yang spesifik dari tanaman
itu sendiri dan dapat digunakan sebagai pedoman standarisasi
bahan/simplisia.

Identifikasi

simplisia

meliputi

pengamatan

makroskopis dan mikroskopis. Pengamatan makroskopis bertujuan


untuk melihat karakter dari bagian tanaman itu sendiri. Uji
mikroskopis bertujuan untuk mengamati fragmen pengenal yang
merupakan komponen spesifik untuk mengindentifikasi tanaman
tersebut (Partiwisari, 2013).
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat
yang belum mengalami pegolahan apapun juga dan kecuali
dikatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Pengeringan
adalah proses pengeluaran air atau pemisahan air dalam jumlah

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
yang relatif kecil dari bahan dengan menggunakan energy panas.
Pada pembuatan simplisia akan melewati tahap pengeringan, yang
bertujuan untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak,
sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama (Utomo,
dkk., 2009).
Ada tiga jenis ekstraksi yang dapat digunakan yaitu maserasi,
sokletasi dan perkolasi. Ektraksi maserasi merupakan metode
ekstraksi yang sederhana, namun membutuhkan waktu yang cukup
lama karena perendaman pada suhu ruang. Untuk mempercepat
proses ekstraksi, dilakukan modifikasi menggunakan pemanasan
dan

pengadukan.

Perubahan

suhu

sangat

efektif

dalam

mempercepat proses ektraksi karena suhu menyebabkan solubilitas


pelarut dan pori-pori padatan semakin besar (Ahmad dkk., 2015).
Metabolit diklasifikasikan menjadi dua, yaitu metabolit primer
dan metabolit sekunder. Metabolit primer yang dibentuk dalam
jumlah terbatas adalah penting untuk pertumbuhan dan kehidupan
mahluk

hidup.

Metabolit

sekunder

tidak

digunakan

untuk

pertumbuhan dan dibentuk dari metabolit primer pada kondisi


stress. Contoh metabolit sekunder adalah antibiotik, pigmen, toksin,
efektor kompetisi ekologi dan simbiosis, feromon, inhibitor enzim,
agen immunomodulasi, reseptor antagonis dan agonis, pestisida,
agen

antitumor,

dan

promotor

tumbuhan (Nofiani, 2005).

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

pertumbuhan

binatang

dan

SKRINING FITOKIMIA

C. BAHAN
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah
sebagai berikut :
1. Biji kacang ijo (Phaseoli Semen)
2. Cengkeh (Caryophyllum)
3. Daun asam jawa (Tamarindi Folium)
4. Daun alvokat (Perseae Folium)
5. Daun kumis kucing (Orthosiphonis Folium)
6. Daun jambu biji (Psidii Folium)
7. Daun kelor (Moringae Folium)
8. Daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis Folium)
9. Daun kangkung air (Ipomaeae aquaticae Folium)
10.Daun jarak (Ricini Folium)
11.Daun ubi jalar (Batatasae Folium)
12.Daun belimbing (Bilimbii Folium)
13.Daun mengkudu (Morindae Folium)
14.Daun jambu mete (Anarcardii Folium)
15.Kayu secang (Sappan Lignum)
16.Kulit kayu manis (Cinnamomi Coryex)
17.Kesumba (Carthami Flos)

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
18.Ketumbar (Coriandri Fructus)
19.Merica (Piperis nigri Fructus)
20.Pepaya (Caricae Folium)
21.Rimpang jahe (Zingiberis Rhizoma)
22.Rimpang kunyit (Curcumae domestika Rhizoma)
23.Rimpang kencur (Kaempferia Rhizoma)
24.Rimpanglengkuas (Languatis Rhizoma)
25.Rimpang temulawak (Curcumae Rhizoma)

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
D. KLASIFIKASI TANAMAN
1. Kacang hijau (Vigna radiata L.) (Anonim, 1978).
Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Magnoliophyta

Ordo

: Rosales

Famili
Genus

: Leguminasae
: Vigna

Spesies

: Vigna radiata L.

2. Merica (Piper nigrum L.) (Anonim, 1978).


Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Piperales

Famili

: Piperaceae

Genus

: Piper

Spesies

: Piper nigrum L.

3. Ketumbar (Coriandrum sativum) (Anonim, 1978).


Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Apiales

Famili

: Apiaceae

Genus

: Coriandrum

Spesies

: Coriandrum sativum

4. Cengkeh (Syzigium aromaticum L.) (Anonim, 1978).


Regnum

:Plantae

Divisi

:Spermatophyta

Kelas

:Dicotyledonae

Ordo

:Myrtales

Famili

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

:Myrtaceae

SKRINING FITOKIMIA
Genus

:Syzigium

Spesies

:Syzigium aromaticum L.

5. Alpukat (Persea americana Mil.) (Anonim, 1978).


Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Ranales

Famili
Genus

: Lauraceae
: Persea

Spesies

: Persea americana Mil

6. Asam (Tamarindus indica L.) (Anonim, 1978).


Regnum

:Plantae

Divisi

:Magnoliophyta

Kelas

:Magnoliopsida

Ordo

:Fabales

Famili
Genus

:Fabaceae
:Tamarindus

Spesies

:Tamarindus indica L.

7. Belimbing (Averrhoa bilimbi) (Savitri, 2014).


Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Geraniales

Famili

: Oxalidaceae

Genus

: Averrhoa

Spesies

: Averrhoa bilimbi

8. Jambu Biji (Psidium guajava Linn.) (Santoso, 2008).


Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Diotyledoneae

Ordo

: Myrtales

Famili

: Myrtaceae

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
Genus

: Psidium

Spesies

: Psidium guajava Linn.

9. Jambu mete (Anacardium occidentale L.) (Anonim, 1978).


Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Sapindales

Famili

: Anacardiaceae

Genus

: Anacardium

Spesies
10.

: Anacardium occidentale L.

Jarak (Jatropha curcas) (Susilowati, 2014).

Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Euphorbiales

Famili

: Euphorbiaceae

Genus

: Jatropha

Spesies

: Jatropha curcas

11.

Kangkung (Ipomoea reptans) (Anonim, 1978).

Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliapsida

Ordo

: Solanales

Famili

: Convovulceae

Genus

: Ipomea

Spesies
12.

: Ipomoea reptans

Kelor (Moringa oleifera L.) (Lutfiana, 2013).

Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Brassicales

Famili

: Moringaceae

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
Genus

: Moringa

Spesies

: Moringa oleifera L.

13.

Kembang

sepatu

(Hibiscus

rosa

sinensis L.)

(Anonim, 1978).
Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Malvales

Famili

: Malvaceae

Genus

: Hibiscus

Spesies

: Hibiscus rosa sinensis L.

14.

Kumis

Kucing

(Orthosiphon

spicatus)

(Anonim,

1978).
Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Asteridae

Ordo

: Lamiales

Famili

: Lamiaceae

Genus

: Orthosiphon

Spesies
15.

: Orthosiphon spicatus

Mengkudu (Morinda citrifolia L.) (Santoso, 2008).

Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Rubiales

Famili
Genus

: Rubiaceae
: Morinda

Spesies

16.

: Morinda citrifolia L.

Pepaya (Carica papaya L.) (Lisa, 2015).

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Violales

Famili

: Caricaceae

Genus

: Carica

Spesies

: Carica papaya L.

17.

Ubi Jalar (Ipomea batatas L.) (Supadmi, 2009).

Regnum
Divisi

: Plantae
: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Convolvulales

Famili

: Convolvulaceae

Genus

: Ipomea

Spesies

: Ipomea batatas L.

18.

Secang (Caesalpinia sappan L.) (Badan POM, 2008).

Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dycotyledoneae

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae

Genus

: Caesalpinia

Spesies
19.

: Caesalpinia sappan L.

Kesumba (Bixa orellana) (Anonim, 1978).

Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Violales

Famili
Genus

: Bixaceae
: Bixa

Spesies
20.

: Bixa orellana

Kayu manis (Cinnamomum burmannii) (Lisa, 2015).

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Laurales

Famili

: Lauraceae

Genus

: Cinnamomum

Spesies

:Cinnamomum burmannii

21.

Jahe (Zingiber officinale Roxb.) (Anonim, 1978).

Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae

Genus

: Zingiber

Spesies
22.

: Zingiber officinale Roxb.

Kencur (Kaempferia galangal L.) (Anonim, 1978).

Regnum

: Plantae

Divisi

: Tracheopyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae

Genus

: Kaempferia

Spesies
23.

: Kaempferia galangal L.

Kunyit (Curcuma domestica Val.) (Santoso, 2008).

Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae

Genus

: Curcuma

Species
24.

: Curcuma domestica Val.

Lengkuas (Alpinia galanga L.) (Chasanah, 2013).

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Ordo

: Zingiberales

Family

: Alpinieae

Genus

: Alpinia

Spesies
25.

: Alpinia galangalL.

Temulawak (Curcuma xantorrhiza Roxb.) (Stephani,

2009).
Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae

Genus

: Curcuma

Spesies

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

: Curcuma xantorrhiza Roxb.

SKRINING FITOKIMIA

A. DESKRIPSI TANAMAN
1. Daun Alpukat (Persea americana Mil.)
Pohon tinggi 3 m sampai 10 m, ranting teguh berambut
halus. Daun berdesakan di ujung ranting, bundar telur atau
bentuk jorong, menjangat, mula-mula berambut pada kedua belah
permukaannya, lama-lama menjadi licin, panjang 10 cm sampai
20 cm, lebar 3 cm sampai 10 cm, pangkal daun dan ujung daun
meruncing, pinggir daun rata, kadang-kadang agak menggulung
ke atas, warna hijau sampai hijau kecoklatan atau coklat
keunguan, berpenulangan menyirip, panjang tangkai 1,5 cm
sampai 5 cm. Perbungaan berupa malai terletak dekat ujung
ranting berbunga banyak. Buah berbentuk bola sampai berbentuk
bulat telur (Anonim, 1989).
2. Lengkuas (Alpinia galanga L.)
Berbatang semu, tumbuh tegak, tinggi 1 m sampai 3 m.
Batang muda keluar sebagai tunas dari pangkal batang tua. Daun
berbentuk lanset, bundar memanjang, ujung tajam, berambut
sangat halus atau kadang-kadang tidak berambut, bagian tepi
berwarna putih bening, warna permukaan daun bagian atas hijau
tua, buram dan bagian bawah hijau muda.Perbungaan terbentuk
diujung batang, berbentuk tandan.Rimpang mnjalar, berdaging,
berkulit mengkilap, berwarna merah atau kuning pucat, berserat
kasar, berbau harum dan rasa pedas (Anonim, 1989).
3. Kesumba (Carthamus tinctorius L.)
Tumbuh tegak, tingginya sampai 1,30 m, batangnya hijau
pucat , berusuk, licin, percabangannya banyak. Daun duduk atau
bertangkai pendek, bersilang, bentuknya lonjong hingga lonjongNUR AFNI RIDWAN
WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
lanset, bundar telur lonjong atau elip dengan ujung yang
berbentuk jarum atau tumpul, tepinya bergigi atau rata. Bunga
bonggol, keluar di ujung

cabang-cabangnya, panjang sampai 4

cm, gagangnya tebal, pndek, agak licin. Bunganya mula-mula


berwarna kuning limau kemudian kuning dan terakhir kuning
kemerahan, panjang tabungnya 1,5 cm sampai 2 cm, bersudut 4
sampai , papus berbentuk sisik dengan panjang rata-rata 5mm.
Buah longkah, bulat telur, bersudut, warnanya putih, diamternya
lebih kurang 1 mm (Anonim, 1989).
4. Ketumbar (Coriandrum sativum L.)
Tinggi 20 cm sampai 100 cm, batang jika memar berbau
wangi. Daun terbagi menyirip tidak berambut, berseludang
dengan tepi berwarna putih. Bunga majemuk berbentuk payung,
gagang bunga 2 cm sampai 10 cm, terdiri dari 2 bunga sampai 13
bunga. Kelopak bunga yang berkembang dengan baik terletak di
bagian luar dari payung, mahkota bunga berwarna merah muda
atau

merah

muda

pucat.Buah

kremokarp,

merikarp

saling

berlekatan pada tepi sehingga buah berbentuk bulat.Panjang


buah 4 mm sampai 5 mm, rusuk-rusuk pada buah kurang
nyata.Warna kuning kecoklatan atau coklat keunguan (Anonim,
1989).
5. Jahe (Zingiber officinale Roxb.)
Morfologi tanaman berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 1
m, rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga. Daun
sempit, panjang 15 - 23 mm, lebar 8 - 15 mm, tangkai daun
berambut, panjang 2 - 4 mm; bentuk lidah daun memanjang,
panjang, tidak berambut, seludang agak berambut. Perbungaan
berupa malai tersembul di permukaan tanah, berbentuk tongkat
atau bulat telur yang sempit, sangat tajam, panjang malai. Daun
pelindung berbentuk bundar telur terbalik, panjang 2,5 cm, lebar
1 cm sampai 1,75 cm; mahkota bunga berbentuk tabung, panjang
tabung 2 cm sampai 2,5 cm, helainya agak sempit, bentuk tajam,

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 mm sampai 2,5 mm,
lebar 3 mm sampai 3,5 mm (Anonim, 1989).
6. Jambu Biji (Psidium guajava L.)
Semak atau pohon, tinggi 3 10 m, kulit batang halus
permukaannya berwarba coklat dan mudah mengelupas. Daun
berhadapan, bertulang menyirip, berbintik, berbentuk bundar
telur agak menjorong atau agak bundar sampai meruncing,
panjang helai daun 6 cm sampai 14 cm, lebar 3-6 cm, panjang
tangkai 3-7 mm, daun yang muda berambut, dan yang tua
permukaan atasnya menjadi licin. Perbungaan terdiri dari 1-3
bunga, panjang gagang per bungaan 2-4 cm, panjang kelopak 710 mm, tajuk tajuk berbentuk bundar telur sungsang, panjang
1,5-2 cm. buah bentuk bulat atua bulat telur, kalau masak
berwarna kuning, panjang 5-8,5 cm, berdaging yang menyelimuti
biji-biji dalam massa berwarna kuning atau merah jambu (Anonim,
1989).
7. Kayu Manis (Cinnamomum burmanii)
Semak atau pohon kecil, tinggi 5-15 m, pepagan (kulit)
berbau khas. Helaian daun berbentuk lonjong panjang 4-14 cm,
lebar 1,5-6 cm, permukaan atas halus, permukaan bawah
berambut

bewarna

kelabu

kehijaaun

yang

tertekan

pada

permukaan daun atau bertepung, daun muda berwarna merah


pucat, berpenulangan 3, panjang tangkai daun 0,5 cm- 1,5 cm.
perbungaan berupa malai, berambut halus berwarna kelabu yang
bertekan pada permukaan, panjang gagang bunga 4 mm sampai
12 mm, juga berambut halus, tenda bunga panjang 4-5 mm, helai
tenda bunga setelah berkembang tersobek secara melintang dan
terpotong agak jauh dari dasar bunga. Buah, adalah buah buni,
panjang lebih kurang 1 cm (Anonim, 1989).
8. Kunyit (Curcuma domestica Val.)
Tumbuhan dengan batang berwarna semu hijau atau
tampak agak keunguan, rimpang terbentuk dengan sempurna,

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
bercabang-cabang, berwarna jingga. Setiap tanaman berdaun 3-8
helai, panjang tangkai daun berserta pelepah daun sampai 70 cm,
tanpa lidah-lidah, berambut halus jarang-jarang, helaian daun
berbentuk

lanset

lebar,

ujung

daun

lancip

berekor,

keseluruhannya berwarna hijau atau hanya bagian atas dekat


tulang utama berwarna agak keunguan, panjang 28-85 cm, lebar
10-25 cm (Anonim, 1989).
9. Kacang hijau (Vigna radiata L.)
Tanaman kacang hijau memiliki daun berwarna hijau,
berbentuk jantung dengan ujung runcing, pinggir rata, ke dua sisi
sedikit berambut, panjang 4 cm sampai 5 cm, lebar 3 cm, lebar 3
cm sampai 3,5 cm kerap kali terdapat bintik bintik pucat.
Berbatang tegak dengan ketinggian sangat bervariasi, antara 3060 cm, tergantung varietasnya.Cabangnya menyamping pada
bagian utama, berbentuk bulat dan berbulu.Polong kacang hijau
berebntuk silindris dengan panjang antara 6-15 cm dan biasanya
berbulu pendek.Sewaktu muda polong berwarna hijau dan dan
setelah tua berwarna hitam atau coklat.Setiap polong berisi 10-15
biji. Biji kacang hijau lebih kecil dibanding biji kacang-kacangan
lain. Warna bijinya kebanyakan hijau kusam atau hijau mengilap,
beberapa ada yang berwarna kuning, cokelat dan hitam .Tanaman
kacang hijau berakar tunggang dengan akar cabang pada
permukaan (Anonim, 1989).
10.

Merica (Piper nigrum L.)


Batang

tanaman

merica

beruas-ruas.

Ukuran

batang

berdiameter 6-25 mm. Daun merica berbentuk bundar lebar atau


lonjong seperti daunt alas. Bagian pangkal daun berbentuk bulat
dan semakin ke ujung semakin meruncing.Permukaan atas daun
tanaman merica berwarna hijau tua mengkilap, sedangkan
permukaan bawah berwarna hijau pucat dan buram.Bunga lada
termasuk

bunga

berumah

satu

dan

merupakan

bunga

duduk.Buah merica berbentuk bulat seperti bola.Buah yang masih


NUR AFNI RIDWAN
WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
muda (mentah) memiliki kulit luar (epikarp) berwarna hijau
mengkilap, setelah masak berubah menjadi kuning dan merah
menyala.Buah merica memiliki rasa pedas yang berbeda dengan
pedas dari cabai rawit (Anonim, 1989).
11.

Cengkeh (Caryophyllum)
Daun tunggal, berwarna hijau kecoklatan, helaian daun

berbentuk lanset memanjang, panjang daun 6 cm sampai 13,5


cm, lebar 1,5 cm sampai 5,5 cm, umumnya 3 cm, ujung dan
pangkal daun runcing, pinggir daun rata, panjang tangkai 0,6 cm
sampai 2,5 cm. tulang daun menyirip, tiap tulang cabang sejajar
dengan yang lain dan mengarah ke pinggir, ibu tulang daun
menonjol pada permukaan daun, permukaan atas berwarna hijau
kecoklatan, licin dan mengkilap, permukaan bawah berwarna
lebih muda. Bunga dan buah cengkeh akan muncul pada ujung
ranting daun dengan tangkai pendek serta bertandan.Pada saat
masih muda bunga cengkeh berwarna keungu-unguan, kemudian
berubah menjadi kuning kehijau-hijauan dan berubah lagi menjadi
merah muda apabila sudah tua. Sedang bunga cengkeh kering
akan berwarna coklat kehitaman dan berasa pedas sebab
mengandung minyak atsiri (Anonim, 1989).
12.Asam (Tamarindus indica L.)
Helaian anak daun berwarna hijau kecoklatan atau hijau
muda, bentuk bundar panjang, panjang 1 cm sampai 2,5 cm,
lebar 4 mm sampai 8 mm, ujung daun membundar, kadangkadang berlekuk pangkal daun membundar, pinggir daun rata dan
hampir sejajar satu sama lain. Tangkai daun sangat pendek
sehingga

mirip

daun

duduk.

Tulang

daun

terlihat

jelas.Keduapermukaan daun halus dan licin, permukaan bawah


berwarna lebih muda (Anonim, 1989).
13.

Belimbing (Averrhoa bilimbi)


Panjang atas anak daun berwarna hijau muda, hijau sampai

hijau kecoklatan, permukaan bawah berwarna lebih muda, bentuk

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
bundar panjang sampai jorong, panjang 2 cm sampai 10 cm, lebar
0,7 cm sampai 3 cm. Ujung daun runcing, pangkal daun
membundar, pinggir daun rata. Tangkai daun 1 mm sampai 2 mm,
tulang daun, terutama tulang daun utama menonjol pada
permukaan bawah.Permukaan bawah berambut lebih banyak dari
pada permukaan atas, jika diraba terasa halus (Anonim, 1989).
14.

Jambu mete (Anacardium occidentale L.)


Helaian daun tunggal, bertangkai, warna hijau kekuningan

sampai hijau tua kecoklatan, bentuk bundar telur sungsang,


panjang 4-22 cm, lebar 2-15 cm, ujung daun membundar dengan
lekukan kecil di tengah, pangkal daun runcing, pinggir daun rata,
panjang tangkain daun sampai 3 cm, tulang daun menyirip,
permukaan atas dan bawah daun licin, tidak berambut (Anonim,
1989).
15.

Jarak (Jatropha curcas)


Daun tunggal, berwarna hijau kecoklatan, helaian daun

berbentuk bundar telur melebar, panjang helaian daun 5 cm,


sampai 15 cm, lebar 6 cm sampai 16 cm, bersudut atau berlekuk
3 sampai 5, ujung daun meruncing, pangkal daun berbentuk
jantung, tulang daun untuk menjari, permukaan atas helaian daun
berwarna hijau kecoklatan, permukaan bawah berwarna lebih
pucat, menonjoll pada permukaan bawah, tulang cabang menyirip
(Anonim, 1989).
16.

Kangkung (Ipomoea reptans)


Daun tunggal, warna hijau sampai hijau kelabu atau

kecoklatan; rapuh; helaian daun berbentuk bundar telur, segitiga,


atau bentuk memanjang, lanset sampai garis, ujung meruncing,
pangkal terpancung atau bentuk jantung sampai bentuk panah,
tepi daun rata atau bergigi; panjang helaian daun 3 cm sampai 15
cm, lebar 1 cm sampai 9 cm; permukaan daun rata, penulangan
menyirip, menonjol, pada permukaan bawah; panjang tangkai 3
cm sampai 20 cm (Anonim, 1989).

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
17.

Kelor (Moringa oleifera L.)


Helaian anak daun berwarna hijau sampai hijau kecoklatan,

bentuk bundar telur atau bundar telur tebalik, pangjang 1-3 cm,
lebar 4 mm sampai 1 cm, ujung daun tumpul, pangkal daun
membulat, tepi daun rata. Tangkai daun 1-3 mm (Anonim, 1989).
18.

Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.)


Daun tunggal berwarna hijau kecoklatan, helaian daun

berbentuk bundar telur, panjang helaian daun 3,5 cm sampai 9,5


cm, lebar 2-6 cm, ujung daun meruncing, pinggir daun bergerigi
kasar, tulang daun menjari, tangkai daun panjang 1 cm sampai
3,7 cm (Anonim, 1989).
19.

Kumis Kucing (Orthosiphon spicatus)


Kumis kucing merupakan tumbuhan tak berkayu atau

disebut terna, tumbuh tegak, siklus hidup relatif panjang, tinggi


dapat mencapai 2 meter. Batang bentuk bulat, silindris, relatif
kecil, berwarna coklat, berbulu, pendek atau gundul, basah. Daun
tunggal, berbentuk bulat telur, sedikit melengkung, berumpuk
atau memisah, bagian tepi bergerigi, agak kasar, tak teratur,
tulang dau, dan tangkai berwarna hijau keunguan, berbintik halus.
Bunga majemuk berupa tandan yang keluar di bagian ujung
cabang, warna keunguan dan putih. Buahnya bulat telur, banyak,
berwarna hijau, dan akan berubah hitam bila sudah masak
(Sunarto, 2009).
20.

Mengkudu (Morinda citrifolia L.)


Helaian daun umumnya tidak utuh, berwarna hijau sampai

hijau

tua

kekuningan,

bentuk

bundar

telur,

lebar

hingga

berbentuk elip, panjang 4,5 cm sampai 21 cm, lebar 4,5 cm


sampai 8 cm, ujung daun runcing, pangkal daun meruncing,
pinggir daun rata. Daun penumpu berbentuk bundar telur, pinggir
rata warna kehijauan, panjang 0,5 cm sampai 1,5 cm, tangkai
daun 0,5 cm sampai 1,5 cm. Tulang daun menyirip jelas (Anonim,
1989).

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
21.

Pepaya (Carica papaya L.)


Helaian daun rapuh, warna permukaan atas hijau tua,

permukaan bawah berwarna lebih muda; bentuk bundar dengan


tulang-tulang daun menjari, pinggir daun bercangap sampai
berbagi menjari, cuping-cuping daun berlekuk sampai berbagi
tidak beraturan, tulang cuping daun menyirip. Ujung daun lancip,
pangkal daun berbentuk jantung. Tulang daun sangat menonjol di
permukaan bawah. Garis tengah helaian daun 25 cm sampai 75
cm (Anonim, 1989).
22.

Daun ubi (Ipomea batatas L.)


Helaian daun rapuh, patah-patah, berwarna hijau hingga

hijau kekuningan, hijau tua kecoklatan atau hijau kehitaman,


permukaan bawah umumnya berwarna lebih pucat; bentuk
bundar telur, jantung melebar atau agak berlekuk menjari,
panjang helaian 4 cm sampai 14 cm, lebar 4 cm sampai 11 cm;
pangkal daun berlekuk, ujung daun runcing atau meruncing,
pinggir daun rata atau agak berlekuk, kadang-kadang berbagi
menjari; tulang daun menyirip (Anonim, 1989).
23.

Secang (Caesalpinia sappan L.)


Kulit menggulung membujur berupa pipa atau gelendong;

tebal 1-2 mm; lapisan gabus tipis; mudah mengelupas; warna


putih

kuning

kehijauan

dengan

banyak

lentisel

berwarna

kecoklatan berbentuk bundar atau jorong melintang. Di bawah


lapisan gabus terdapat kulit, bagian luar berwarna kelabu
kehijauan, licin dengan garis-garis halus membujur dan berkas
lentisel yang melintang; permukaan dalam kulit licin, warna coklat
muda. Kulit mudah dipatahkan, bekas patahan rata, warna putih
kekuningan (Anonim, 1989).
24.

Kencur (Kaempferia galangal L.)


Tumbuhan yang hampir menutupi tanah, tidak berbatang,

rimpang

bercabang-cabang,

berdesak-desakn,

akar-akar

berbentuk gelendongkadang-kadang berumbi, panjang 1 cm

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA
sampai 1,5 cm. Setiap tanaman berdaun sebanyak 1 sampai 3
(umumnya 2) helai, lebar merata dan hampir menutupi tanah,
daun berbentuk jorong lebar sampai hampir bundar, pangkal
hampir

berbentuk

jantung,

pinggir

bergelombang

berwarna

merah kecoklatan, bagian tengah berwarna hijau, panjang helai


daun 7-15 cm, lebar 2-8 cm, tangkai pendek, berukuran 3-10 mm,
pelepah terbenam dalam tanah, panjang 1,5 cm sampai 3,5 cm,
warna putih (Anonim, 1989).

25.

Temulawak (Curcumae xantorrhiza Roxb.)


Temulawak termasuk tanaman tahunan yang tumbuh

merumpun.

Tanaman

ini

berbatang

semu

dan

mencapai

ketinggian 2-2,5 meter. Daun tanaman temulawak bentuknya


panjang dan agak lebar. Warna bunga umumnya kuning dengan
kelopak bunga kuning tua, serta pangkal bunganya berwarna
ungu. Rimpang induk bentuknya bulat seperti telur, sedangkan
rimpang cabang terdapat bagian samping yang bentuknya
memanjang. Warna kulit rimpang adalah kuning kotor. Warna
daging rimpang adalah kuning, dengan cita rasanya pahit, berbau
tajam, serta keharumannya sedang (Rukmana, 1995).

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA

E. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. HASIL PENGAMATAN

3.

Kangkun
g

4.

Kemban
g Sepatu

1.

Cengkeh

2.

Jarak

3.

Kangkun
g

Ekstrak +
Reagen
Dragendor
f

+
Ekstrak +
Mg + HCl
Pekat +
Amil
Alkohol

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

aksiriMinyak

Jarak

TriterpenSteroid dan

2.

Gambar
Tanin

Cengkeh

Kuinon

1.

Perlakua
n

Saponin

Sampel

Flavonoid

N
o.

Alkaloid

Uji

SKRINING FITOKIMIA

4.

Kemban
g Sepatu

1.

Cengkeh

2.

Jarak

Ekstrak +
HCl Pekat
3.

Kangkun
g

4.

Kemban
g Sepatu

1.

Cengkeh

2.

Jarak

Ekstrak +
NaOH

3.

Kangkun
g

4.

Kemban
g Sepatu

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA

1.

Cengkeh

2.

Jarak

+
Ekstrak +
FeCl3

3.

Kangkun
g

4.

Kemban
g Sepatu

1.

Cengkeh

2.

Jarak

3.

Kangkun
g

4.

Kemban
g Sepatu

1.
2.
3.
4.

Cengkeh
Jarak
Kangkun
g
Kemban
g Sepatu

Ekstrak +
Reagen
Lieberman
Buchard

Ekstrak
dihirup
baunya
dengan
indra
penciuma
n

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

+
-

SKRINING FITOKIMIA

2. PEMBAHASAN
Farmakognosi merupakan salah satu ilmu yang mempelajari
tentang bagian-bagian tanaman atau hewan yang dapat digunakan
sebagai obat alami yang telah melewati berbagai macam uji
seperti uji farmakodinamik, uji toksikologi dan uji biofarmasetika.
Perkembangan farmakognosi saat ini sudah melibatkan hasil
penyarian

atau

ekstrak

yang

tentu

akan

sulit

dilakukan

indentifikasi zat aktif jika hanya mengandalkan mata. Dengan


demikian, cara identifikasi juga semakin berkembang dengan
menggunakan alat-alat cara kimia dan fisika.
Simplisia merupakan bagian-bagian tanaman seperti akar,
batang, daun, bunga, biji dan lain-lain yang dikeringkan tetapi
belum dalam bentuk serbuk. Haksel berbeda dengan simplisia.
Yang merupakan bahan alami yang digunakan sebagai obat dan
belum

mengalami

dinyatakan

lain

proses

umumnya

Simplisia

perubahan
berupa

terbagi

apapun,

bahan
atas

yang

dan

kecuali

dikeringkan.
simplisia

nabati, simplisia hewani dan simplisia mineral.


Simplisia dapat diperoleh dari tanaman liar atau dari
tanaman yang sengaja dibudidayakan/dikultur. Tanaman liar disini
diartikan sebagai tanaman yang tumbuh dengan sendirinya di
hutan-hutan atau di tempat lain di luar hutan atau tanaman yang
sengaja ditanam tetapi bukan untuk tujuan memperoleh simplisia
untuk obat (misalnya tanaman hias, tanaman pagar). Sedangkan
tanaman kultur diartikan sebagai tanaman budidaya, yang ditanam
secara sengaja untuk tujuan mendapatkan simplisia. Tanaman
budidaya dapat berupa perkebunan luas, usaha pertanian kecilkecilan atau berupa tanaman halaman dengan jenis tanaman yang
sengaja ditanam untuk tujuan memper oleh simplisia tetapi juga
berfungsi sebagai tanaman hias.

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA

Ekstrasi merupakan suatu proses pemisahan suatu zat


berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak
saling larut yang berbeda, sedangkan ekstrak adalah sediaan pekat
yang diperoleh dengan megekstrasi zat aktif dari simplisia nabati
atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua
atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang
tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang
telah ditentukan.
Jenis ekstrasi dibedakan menjadi dua yaitu ekstrasi secara
dingin dan ektrasi secara panas. Proses ektraksi secara dingin pada
prinsipnya tidak memerlukan pemanasan, hal ini diperuntukkan
untuk bahan alam yang mengandung komponen kimia yang tidak
tahan pemanasan dan bahan alam yang mempunyai tekstur yang
lunak, yang termasuk ekstraksi secara dingin umumnya dikenal
dengan ekstrasi maserasi dan perkolasi, sedangkan ektrasi secara
panas,

Ekstraksi

secara

panas

dilakukan

untuk

mengekstraksi komponen kimia yang tahan terhadap pemanasan


seperti glikosida, saponin dan minyak-minyak menguap yang
mempunyai titik didih yang tinggi, selain itu pemanasan juga
diperuntukkan untuk membuka pori-pori sel simplisia sehingga
pelarut organik mudah masuk ke dalam sel untuk melarutkan
komponen kimia. Metode ekstraksi yang termasuk cara panas yaitu
metode refluks dan destilasi uap.
Metode ekstrasi yang digunakan pada percobaan kali ini
yaitu dengan cara metode ekstrasi maserasi. Metode maserasi
merupakan cara penyarian yang sederhana yang dilakukan dengan
cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama
beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya.
Metode ini digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung
komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak
mengandung zat yang mudah mengembang seperti benzoin,
stiraks dan lilin. Prinsip maserasi adalah ekstraksi zat aktif yang
NUR AFNI RIDWAN
WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA

dilakukan dengan cara merendam serbuk dalam pelarut yang


sesuai selama beberapa hari pada temperatur kamar terlindung
dari cahaya, pelaut akan masuk kedalam sel tanaman melewati
dididing

sel.

Isi

sel

akan

larut

karena

adanya

perbedaan

konsentrasi antara larutan didala sel dengan diluar sel. Larutan


yang konentrasinya tinggi akan terdeak keluar dan diganti oleh
pelarut dengan konsentrasi redah (proses difusi). Peristiwa tersebut
akan

berulang

sampai

terjadi

keseimbangan

antara

larutan

didalam sel dan larutan diluar sel. Maserasi biasanya dilakukan


pada temperatur 15o-20o C dalam waktu selama 3 hari sampai
bahan-bahan melarut.
Penggunaan metode ini pada sampel yang berupa daun,
contohnya pada penggunaan pelarut etanol untuk melarutkan
lemak/lipid.

Sampel

pada

percobaan

ini

dibedakan

menjadi

perkelompok dimana sampel yang digunakan pada kelompok kami


yaitu kelor, pepaya, asam jawa dan biji kacang hijau. Proses
perendaman sampel yang sudah dihaluskan, di timbang sebanyak
200 gr, setalah itu dimasukan kedalam toples dan di tambahakan
pelarut etanol sampai terendam sepenuhnya simplisa tersebut,
penggunaan pelarut etanol dipertimbangkan dapat meningkatkan
penyari karena lebih selektif, kapang dan kuman sulit tumbuh
dalam etanol 20% keatas, tidak beracun, netral, absorbsinya baik,
etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan dan
panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit, Etanol dapat
melarutkan alkaloid basa, minyak menguap, glikosida, kurkumin,
kumarin, antrakinon, flavonoid, steroid, damar dan klorofil. Setelah
di tambahkan pelarut etanol kemudian di rendam, ditutup dan
diletakan di tempat yang sejuk, terlindung dari cahaya, selama 3
hari, proses perendaman bertujuan memudahkan endapan untuk
dipisahkan. Keuntungan dari maserasi yaitu mudah dan sederhana,
selain itu hasil yang diperoleh juga banyak, sedangkan kerugiannya

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA

yaitu membutuhkan banyak pelarut, membutuhkan waktu yang


lama dan penyariannya kurang sempurna.
Tahapan selanjutnya setelah melakukan maserasi yaitu
proses pemisahan, edapan di saring dan di ambil maseratnya
percobaan ini dilakukan proses evaporasi dengan menggunakan
alat Rotary vakum evaporator. evaporasi adalah proses perubahan
molekul di dalam keadaan cair (contohnya air) dengan spontan
menjadi gas (contohnya uap air). Rotary vakum evaporator
merupakan suatu instrumen yang tergabung antara beberapa
instrumen, yang menggabung menjadi satu bagian, dan bagian ini
dinamakan rotary vakum evaporator.
Rotary

vakum

evaporator

adalah

instrumen

yang

menggunakan prinsip destilasi (pemisahan). Prinsip utama dalam


instrumen ini terletak pada penurunan tekanan pada labu alas
bulat dan pemutaran labu alas bulat hingga berguna agar pelarut
dapat menguap lebih cepat dibawah titik didihnya. Instrumen ini
lebih disukai, karena hasil yang diperoleh sangatlah akurat. Bila
dibandingkan

dengan

teknik

pemisahan

lainnya,

misalnya

menggunakan teknik pemisahan biasa yang menggunakan metode


penguapan menggunakan oven karena pada instrumen ini memiliki
suatu teknik yang berbeda dengan teknik pemisahan yang lainnya
dimana teknik yang digunakan dalam rotary vakum evaporator
terletak pada pemanasan dan dapat menurunkan tekanan pada
labu alas bulat dan memutar labu alas bulat dengan kecepatan
tertentu. Karena teknik itulah, sehingga suatu pelarut akan
menguap dan senyawa yang larut dalam pelarut tersebut tidak ikut
menguap namun mengendap. Pemanasan dibawah titik didih
pelarut, sehingga senyawa yang terkandung dalam pelarut tidak
rusak oleh suhu tinggi.
Proses

penguapan

terjadi

karena

adanya

pemanasan

menggunakan hot plate yang dibantu dengan penurunan tekanan


pada labu alas bulat sampel yang dipercepat dengan pemutaran
NUR AFNI RIDWAN
WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA

pada labu alas bulat sampel dengan bantuan pompa vakum yang
mengalirkan air dingin (es) dari suatu wadah kedalam kondensor
dan dikeluarkan lagi oleh kondensor kepada wadahnya lagi dan
dimasukkan lagi dan seterusnya, karena proses ini berjalan secara
kontinu. sehingga ketika uap dari pelarut mengenai dinding-dinding
kondensor, maka pelarut ini akan mengalami yang proses yang
dinamakan proses kondensasi, yaitu proses yang mengalami
perubahan fasa dari fasa gas ke fasa cair. Adapun demikian, proses
penguapan ini dilakukan hingga diperoleh pelarut yang sudah tidak
menetes lagi pada labu alas bulat penampung dan juga bisa dilihat
dengan semakin kentalnya zat yang ada pada labu alas bulat
sampel

dan

terbentuk

gelembung-gelembung

pecah

pada

permukaan zatnya.
Hasil ekstrak pada proses pemisahan ini di ambil dan di
masukan kedalam botol vial dan di tutupi kertas aluminium foil
dengan diberi lubang lubang kecil dan di simpan untuk digunakan
pada percobaan prktikum uji kandungan metabolit sekunder
simplisisa dengan menggunakan metode tabung dan plat tetes.
Metabolit adalah zat penting untuk perubahan kimia yang
terdapat dalam sel atau organisme yang menghasilkan energi dan
bahan dasar yang dibutuhkan untuk proses hidup yang penting.
Metabolit hadir di semua tahapan proses metabolisme. Senyawa
kimia yang membuat metabolisme makanan, air dan obat-obatan.
Metabolisme melibatkan pemecahan bahan organik kompleks,
yang kemudian digunakan sebagai sumber energi dalam tubuh.
Jenis metabolit diantaranya metabolit primer dan metabolit
sekunder. Metabolit primer adalah senyawa-senyawa yang terdapat
pada

semua

sel

dan

memegang

peranan

sentral

dalam

metabolisme dan reproduksi sel-sel tersebut. Contoh metabolit


primer antara lain asam nukleat, asam sedangkan metabolit
sekunder adalah senyawa yang secara khusus terdapat pada jenis
atau spesies tertentu saja, senyawa metabolit sekunder merupakan
NUR AFNI RIDWAN
WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA

senyawa yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan


ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara
spesies yang satu dan lainnya, Senyawa metabolit sekunder
diklasifikasikan menjadi 3 kelompok utama, yaitu (1) Terpenoid
(Sebagian besar senyawa terpenoid mengandung karbon dan
hidrogen

serta

disintesis

melalui

jalur

metabolisme

asam

mevalonat contohnya monoterpena, seskuiterepena, diterpena,


triterpena, dan polimer terpena (2) Fenolik (Senyawa ini terbuat
dari gula sederhana dan memiliki cincin benzena, hidrogen, dan
oksigen

dalam

kumarina,

struktur

lignin,

kimianya)

flavonoid,

dan

contohnya
tanin

(3)

asam

fenolat,

Senyawa

yang

mengandung nitrogen contohnya alkaloid dan glukosinolat.


Senyawa metabolit sekunder dapat diidentifikasi dalam
tumbuhan atau biasa dikenal dengan skrining fitokimia. Skrining
fitokimia merupakan tahapan awal analisis kualitatif terhadap
metabolit

sekunder.

mengidentifikasi

Tujuan

kandungan

dari
kimia

skirining
yang

fitokimia

untuk

terkandung

dalam

tumbuhan, karna pada tahap ini kita bisa mengetahui golongan


senyawa kimia yang dikandung tumbuhan yang sedang kita
uji/teliti atau. Suatu ekstrak dari bahan alam terdiri atas berbagai
macam

metabolit

sekunder

yang

berperan

dalam

aktivitas

biologinya, Senyawa-senyawa tersebut dapat diidentifikasi dengan


pereaksi-pereaksi yang mampu memberikan ciri khas dari setiap
golongan dari metabolit sekunder.
Metode yang dapat digunakan untuk identifikasi metabolit
sekunder yang terdapat pada suatu ekstrak antara lain: (1)
Identifikasi adanya senyawa fenolik dalam suatu cuplikan dapat
dilakukan

dengan pereaksi besi (III) klorida (FeCl 3) 1% dalam

etanol. Adanya senyawa fenolik ditunjukkan oleh timbulnya warna


hijau, merah ungu, biru atau hitam yang kuat (2) Identifikasi
senyawa golongan saponin (steroid dan terpenoid) , Saponin
adalah suatu glikosida yang larut dalam air dan mempunyai
NUR AFNI RIDWAN
WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA

karakteristik

dapat

membentuk

busa

apabila

dikocok, serta

mempunyai kemampuan menghemolisis sel darah merah (3)


Identifikasi senyawa golongan alkaloid, alkaloid
senyawa
Salah

nitrogen

satu

yang

pereaksi

menggunakan

sering

untuk

pereaksi

terdapat

mengidentifikasi

Dragendorff

merupakan

dalam tumbuhan.
adanya

alkaloid

dan pereaksi Mayer (4)

Identifikasi golongan antraquinon, antrakuinon merupakan suatu


glikosida yang

di dalam tumbuhan biasanya terdapat sebagai

turunan antrakuinon terhidloksilasi, termitilasi, atau terkarboksilasi.


Tujuan dari pemberian masing-masing pereaksi yaitu FeCl3
untuk mengidentifikasi adanya senyawa Tanin, Lieberman burchard
untuk mengidentifikasi adanya senyawa Steroid dan Triterpen,
Dragendorf untuk mengidentifikasi adanya senyawa Alkaloid, NaOH
untuk

mengidentifikasi

pekat+Amilalkohol

untuk

adanya

senyawa

Kuinon,

Mg+HCl

mengidentifikasi

adanya

senyawa

Flavanoid, serta indra penciuman untuk mengidentifikasi adanya


kandungan Minyak atsiri.
Manfaat skrining fitokimia dalam bidang farmasi adalah
dapat pengembangan bahan alam sebagai salah satu bahan baku
pembuatan obat, dapat dalam mengetahui senyawa apa yang
terkandung dalam obat-obatan yang akan diproduksi baik itu
dalam skala besar maupun skala kecil.

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA

F. PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, ekstrak simplisia
yang positif mengandung senyawa alkaloid ditandai dengan
perubahan

warna

menjadi

merah

bata/jingga.

Yang

positif

mengandung senyawa flavanoid ditandai dengan terbentuknya 2


lapisan yaitu lapisan atas berwarna merah yang merupakan
lapisan amil alkohol. Yang positif mengandung senyawa saponin
ditandai dengan terbentuknya busa yang stabil. Yang positif
mengandung senyawa kuinon ditandai dengan adanya perubahan
warna menjadi merah. Yang positif mengandung senyawa tanin
ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi biru tua atau
hijau kehitaman. Yang positif mengandung senyawa steroid dan
triterpen ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi biru
kehitaman untuk senyawa steroid dan merah untuk senyawa
triterpenoid. Dan yang positif mengandung senyawa minyak atsiri
ditandai dengan adanya bau khas aromatik.
2. Saran
Saat mengamati amilum dibawah mikroskop, sebaiknya medium
yang

digunakan

jangan

terlalu

banyak,

mempengaruhi penampang yang diamati.

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

karena

akan

SKRINING FITOKIMIA

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad. F. N. dan Novy P. P. 2015. Ekstraksi Tannin dari Daun Tanaman


Putri Malu (Mimosa pudica). Prosiding Seminar Nasional
Teknik Kimia Kejuangan. ISSN 1693-4393.
Badan POM. 2010. Acuan Sediaan Herbal, Volume Kelima Edisi
Pertama. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia: Jakarta.
Dirjen POM. 1989 dan 1995.Materi Medika Indonesia, Departeman
Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.
Dirjen

POM. 2009.Farmakope Herbal Indonesia, Edisi


Departeman Kesehatan Republik Indonesia ; Jakarta.

Pertama,

Juliantoni, Yohanes., Mufrod. 2013. Formulasi Tablet Hisap Ekstrak Daun


Jambu Biji (Psidium guajava L.) Yang Mengandung Flavonoid
Dengan Kombinasi Bahan Pengisi Manitolsukrosa. Traditional
Medicine Journal. Vol. 18 (2).
Lisa. 2015. Efektivitas Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) Dalam
Menghambat Laju Korosi Kawat Ortodonsi Berbahan Stainless
Steel. Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin
Makassar.
Lutfiana. 2013. Uji Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Daun Kelor (Moringa
oleifera L.) dengan Metode Stabilitas Membran Sel Darah Merah
Secara In Vitro. Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Program Studi Farmasi Jakarta.
Nofiani.

R. 2005. Urgensi dan Mekanisme Biosintesis Metabolit


Sekunder Mikroba Laut. Jurnal Natur Indonesia. Vol. 10 (2).

Partiwisari, N.P.E., Astuti, K.W., Ariantari, N.P.


2013. Identifikasi
Simplisia Kulit Batang
Cempaka Kuning (Michelia champaca
L.) secara Makroskopis Dan Mikroskopis.

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032

SKRINING FITOKIMIA

Rahayu,W.S. Dwi Hartanti. Nasrun. 2009. Pengaruh Metode


Pengeringan TerhadapKadar Antosian Pada Kelopak Bunga
Rosela (Hibiscus sabdariffa L.). Jurnal PHARMACY. Vol.06(2).
Utomo,Arif Dwi., Wiranti, Sri Rahayu., Binar, Asrining Dhiani. 2009.
Pengaruh Beberapa Metode Pengeringan Terhadap Kadar
Flavonoid Total Herba Sambiloto(Andrographis paniculata).
PHARMACY. Vol.06 (01).

NUR AFNI RIDWAN


WA ODE NIA HELMIA
01 A1 14032