Anda di halaman 1dari 11

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

1.

Pengertian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)


Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah radang akut saluran pernapasan atas
maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus maupun reketsia
tanpa atau disertai dengan radang parenkim paru. ISPA adalah masuknya mikroorganisme
(bakteri, virus, reketsia) ke dalam saluran pernapasan yang menimbulkan gejala penyakit
yang dapat berlangsung sampai 14 hari.
ISPA merupakan penyakit yang seringkali dilaporkan sebagai 10 penyakit utama di
negara berkembang. Gejala yang sering dijumpai adalah batuk, pilek dan kesukaran bernafas.
Episode atau serangan batuk pada anak, khususnya balita adalah 6 sampai 8 kali per tahun.

a.

Istilah ISPA merupakan yang merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut
diperkenalkan pada tahun 1984. Istilah ini merupakan padanan dari istilah Inggris acute
respiratory infections.

b.

ISPA atau infeksi Saluran Pernafasan Akut adalah suatu kelompok penyakit yang
menyerang saluran pernafasan.

c.

Secara anatomis, ISPA dapat dibagi dalam dua bagian yaitu ISPA Atas dan ISPA Bawah,
dengan batas anatomis adalah suatu bagian dalam tenggorokan yang disebut epiglotis.

1) ISPA Atas (Acute Upper Respiratory Infections)


ISPA Atas yang perlu diwaspadai adalah radang saluran tenggorokan atau pharingitis dan
radang telinga tengah atau otitis. Pharingitis yang disebabkan kuman tertentu (Streptococcus
hemolyticus) dapat berkomplikasi dengan penyakit jantung (endokarditis). Dapat berakibat
terjadinya ketulian.
2) ISPA Bawah (Acute Lower Respiratory Infections)
Salah satu ISPA Bawah yang berbahaya adalah pneumonia.
2.

Pengertian Pneumonia

a.

Pneumonia adalah penyakit yang menyerang paru-paru dan ditandai dengan batuk dan
kesukaran bernafas. Balita yang terserang pneumonia dan tidak segera segera diobati dengan
tepat mudah sekali meninggal.

b.

Pneumonia adalah suatu inflamasi pada parenkhim paru. Pada umumnya pneumonia pada
masa anak digambarkan sebagai bronkho-pneumonia yang mana merupakan suatu kombinasi
dari penyebaran pneumonia lobular (adanya infiltrat pada sebagian area pada kedua
lapangan/bidang paru dan sekitar bronkhi) dan pneumonia interstitial (difusi bronkhiolitis
dengan eksudat yang jernih di dalam dinding alveolar tetapi bukan di ruang alveolar).

Bakterial pneumonia lebih sering mengenal lobular dan sering juga terjadi konsolidasi
lobular, sedangkan viral pneumonia menyebabkan inflamasi pada jaringan interstitial.
c.

Pneumonia adalah suatu inflamasi pada parynchema paru, pada umumnya pneumonia pada
masa anak digambarkan sebagai broncho pneumonia, yang mana merupakan suatu kombinasi
dari penyebaran pneumonia lobular (adanya infiltrat pada sebagia area pada kedua
lapangan/bidang paru dan sekitar bronchi) dan pneumonia interstitial (difusi bronchiolitis
dengan eksudat yang jernih didalam dinding alviolar tetapi bukan diruang alviolar). Bakterial
pneumonia lebih sering mengenai lobular dan sering juga terjadi konsolidasi lobular,
sedangkan viral pneumonia menyebabkan inflamasi pada jaringan interstitial.

3.

Tingkat Penyakit ISPA

a.

Ringan
Batuk tanpa pernafasan cepat atau kurang dari 40 kali/menit, hidung tersumbat atau berair,
tenggorokan merah, telinga berair.

b.

Sedang
Batuk dan nafas cepat tanpa stridor, gendang telinga merah, dari telinga keluar cairan kurang
dari 2 minggu. Faringitis purulen dengan pembesaran kelenjar limfe leher yang nyeri tekan
(Adentis Servikal).

c.

Berat
Batuk dengan nafas cepat dan stridor, membran keabuan di faring, kejang, apnea, dehidrasi
berat atau tidur terus, tidak ada sianosis.

d.

Sangat berat
Batuk dengan nafas cepat, stridor dan sianosis serta tidak dapat minum.

4.

Penyebab ISPA dan Pneumonia


Disamping disebabkan oleh lebih dari 300 jenis kuman, baik berupa bakteri, virus
maupun rickettsia. Penyebab pneumonia pada balita di negara berkembang adalah bakteri,
yaitu Streptococcus pneumoniae dan Haemophylus lobar

5.

Patogenesis Pneumonia
Pneumonia masuk kedalam paru melalui jalan pernafasan secara percikan atau secara
droplet. Proses radang pneumonia dibagi empat stadium :

a.

Stadium I : Kongesti
Kapiler melebar dan kongesti didalam alveolus terdapat eksudat jernih.

b.

Stadium II : Hepatisasi Merah


Lobus dan lobulus yang terkena menjadi lebih padat dan tidak mengandung udara, warna
menjadi merah, pada perabaan seperti hepar, didalam alveolus terdapat fibrin.

c.

Stadium III : Kelabu


Lobus masih padat dan berwarna merah menjadi kelabu/pucat, permukaan pleura suram
karena diliputi oleh fibris dan leucocyt, tempat terjadi pagositosis pneumococcus dan kapiler
tidak lagi kongesti.

d.

Stadium IV : Resolusi
Eksudat berkurang, didalam alveolus macrofag bertambah dan leucocyt necrosis serta
degenarasi lemak, fibrin kemudian dieksresi dan menghilang.

6.

Gambaran Klinis Pneumonia


Manifestasi klinik dari pneumonia sangat besar variasinya tergantung pada: Agent
etiologi, umur anak, reaksi sistemik terhadap infeksi, perluasan lesi, tingkat obstruksi pada
bronchial dan bronchioler. Agent etiologisebagian besar diidentifikasi dari : riwayat klinik,
umur anak, riwayat kesehatan secara umum, pemeriksaan fisik, radiografi dan pemeriksaan
laboratorium.
Bronchopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan bagian atas
dengan tanda-tanda :

a.

Suhu meningkat mendadak 39-40oC, kadang-kadang disertai kejang karena demam yang
tinggi.

b.

Anak gelisah, dyspnoe, pernafasan cepat dan dangkal disertai cuping hidung dan sianosis
sekitar mulut dan hidung, kadang-kadang disertai muntah dan diare.

c.

Batuk setelah bebebrapa hari sakit, mula-mula batuk kering kemudian batuk produktif.

d.

Anak lebih senang tiduran pada dada yang terinfeksi.

e.

Pada auskultasi terdengar ronchi basah nyaring halus dan sedang.

7.

Faktor Resiko Pneumonia


Disamping penyebab, perlu juga diperhatikan faktor resiko, yaitu faktor yang
mempengaruhi atau memudahkan terjadinya penyakit. Secara umum ada 3 faktor risiko
ISPA, yaitu keadaan sosial ekonomi dan cara mengasuh atau mengurus anak, keadaan gizi
dan cara pemberian makanan serta kebiasaan merokok dan pencemaran udara.
Sedangkan faktor risiko untuk pneumonia telah telah diidentifikasi secara rinci, yaitu
faktor yang meningkatkan terjadinya (morbiditas) pneumonia dan faktor yang meningkatkan
terjadinya kematian (mortalitas) pada pneumonia.

a.

Faktor risiko yang meningkatkan insiden pneumonia

1) Umur < 2 bulan.


2) Laki-laki
3) Gizi kurang.

4) Berat badan lahir rendah


5) Tidak mendapat ASI memadai.
6) Polusi udara.
7) Kepadatan tempat tinggal.
8) Imunisasi yang tidak memadai.
9) Membedong anak (menyelimuti berlebihan).
10)

Defisiensi vitamin A.

b.

Faktor risiko yang meningkatkan angka kematian pneumnia

1) Umur < 2 bulan.


2) Tingkat sosial ekonomi rendah.
3) Gizi kurang.
4) Berat badan lahir rendah.
5) Tingkat pendidikan ibu yang rendah.
6) Tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah.
7) Kepadatan tempat tinggal.
8) Imunisasi yang tidak memadai.
9) Menderita penyakit kronis.
Secara umum terdapat 3 faktor risiko terjadiya ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor individu
anak serta faktor perilaku.
a.

Faktor Lingkungan

1) Pencemaran udara dalam rumah


Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi
tinggi dapat merusak mekanisme pertahanan paru sehingga akan memudahkan timbulnya
ISPA. Hal ini dapat terjadi pada rumah yang keadaan ventilasinya kurang dan dapur terletak
di dalam rumah, bersatu dengan kamar tidur, ruang tempat bayi dan anak balita bermain. Hal
ini lebih dimungkinkan karena bayi dan anak balita lebih lama berada di rumah bersamasama ibunya sehingga dosis pencemaran tentunya akan lebih tinggi.
Hasil penelitian diperoleh adanya hubungan antara ISPA dan polusi udara, diantaranya ada
peningkatan risiko bronchitis, pneumonia pada anak-anak yang tinggal di daerah lebih
terpolusi, dimana efek ini terjadi pada kelompok umur 9 bulan dan 6-10 tahun.
2) Ventilasi rumah
Ventilasi yaitu proses penyediaan udara atau pengerahan udara ke atau dari ruangan baik
secara alami maupun secara mekanis.
Fungsi dari ventilasi dapat dijabarkan sebagai berikut :

a) Mensuplai udara bersih yaitu udara yang mengandung kadar oksigen yang optimum bagi
pernafasan.
b) Membebaskan udara ruangan dari bau-bauan, asap ataupun debu dan zat-zat pencemar lain
dengan cara pengenceran udara.
c) Mensuplai panas agar hilangnya panas badan seimbang.
d) Mensuplai panas akibat hilangnya panas ruangan dan bangunan.
e) Mengeluarkan kelebihan udara panas yang disebabkan oleh radiasi tubuh, kondisi, evaporasi
ataupun keadaan eksternal.
f) Mendisfungsikan suhu udara secara merata.
3) Kepadatan hunian rumah
Kepadatan

hunian

dalam

rumah

menurut

keputusan

menteri

kesehatan

nomor

829/MENKES/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah, satu orang minimal


menempati luas rumah 8m. Dengan kriteria tersebut diharapkan dapat mencegah penularan
penyakit dan melancarkan aktivitas.
Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi dalam rumah yang
telah ada. Penelitian menunjukkan ada hubungan bermakna antara kepadatan dan kematian
dari bronkopneumonia pada bayi, tetapi disebutkan bahwa polusi udara, tingkat sosial dan
pendidikan memberi korelasi yang tinggi pada faktor ini.
4) Kebiasaan merokok
Dalam jurnalnya yang berjudul Penerapan Teknik Kontrol Diri Untuk Mengurangi
Konsumsi Rokok pada Kategori Perokok Ringan, remaja umumnya beralasan karena ingin
tahu, ingin melepaskan kebosanan, stress dan rasa sakit lain yang mereka rasakan, sedangkan
orang dewasa beralasan karena ketagihan atau untuk membantu mengontrol berat badan dan
pada orang dewasa, perilaku merokok lebih banyak disebabkan karena faktor didalam mereka
sendiri, bukan semata-mata pengaruh lingkungan. Niat untuk merokok pada orang dewasa
lebih disebabkan oleh faktor dari dalam diri mereka, yang berkaitan dengan kemampuan
mengontrol diri.
Pada keluarga yang merokok, secara statistik anaknya mempunyai kemungkinanterkena ISPA
2 kali lipat dibandingkan dengan anak dari keluarga yang tidakmerokok. Selain itu dari
penelitian lain didapat bahwa episode ISPA meningkat 2 kali lipat akibat orang tua merokok.
b.

Faktor Individu Anak

1) Umur anak

Sejumlah studiyang besar menunjukkan bahwa insiden penyakit pernafasan oleh virus
melonjak pada bayi dan usia dini anak-anak dan tetap menurun terhadap usia. Usia ISPA
tertinggi pada umur 6-12 bulan.
2) Berat badan lahir
Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental pada masa
balita. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian yang lebih
besar dibandingkan dengan berat badan lahir normal, terutama pada bulan-bulan pertama
kelahiran karena pembentukan zat-zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah
terkena penyakit infeksi, terutama pneumonia dan sakit saluran pernafasan lainnya.
Penelitian menunjukkan bahwa berat bayi kuran dari 2500 gram dihubungkan dengan
meningkatnya kematian akibat infeksi saluran pernafasan dan hubungan ini menetap setelah
dilakukan adjusted terhadap status pekerjaan, pendapatan dan pendidikan. Data ini
mengingatkan bahwa anak-anak dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak mengalami
rate lebih tinggi terhadap penyakit saluran pernafasan, tetapi mengalami lebih berat
infeksinya.
3) Status gizi
Masukan zat-zat gizi yang diperoleh pada tahap pertumbuhan dan perkembangan anak
dipengaruhi oleh : umur, keadaan fisik, kondisi kesehatannya, kesehatan fisiologis
pencernaannya, tersedianya makanan dan aktivitas dari si anak itu sendiri. Penilaian status
gizi dapat dilakukan antara lain berdasarkan antropometri : berat badan lahir, panjang badan,
tinggi badan dan lingkar lengan atas.
Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor risiko yang penting untuk terjadinya ISPA.
Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya hubungan antara gizi buruk dan
infeksi paru, sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering mendapat pneumonia. Disamping
itu adanya hubungan antara gizi buruk dan terjadinya campak dan infeksi virus berat lainnya
serta menurunnya daya tahan tubuh anak terhadap infeksi.
Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandungkan balita
dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh kurang. Penyakit infeksi itu sendiri akan
menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan kekurangan gizi.
Pada keadaan gizi kurang, balita lebih mudah terserang ISPA Berat bahkan serangannya
lebih lama.
4) Vitamin A
Sejak tahun 1985 setiap enam bulan Posyandumemberikan kapsul 200.000 IU vitamin A
pada balita dari umur satu sampai dengan empat tahun. Balita yang mendapat vitamin A lebih

dari 6 bulan sebelum sakit maupun yang tidak pernah mendapatkannya adalah sebagai risiko
terjadinya suatu penyakit sebesar 96,6% pada kelompok kasus dan 93,5% pada kelompok
kontrol.
Pemberian vitamin A yang dilakukan bersamaan dengan imunisasi akan menyebabkan
peningkatan titer antibodi yang spesifik dan tampaknya tetap berada dalam nilai yang cukup
tinggi. Bila antibodi yang ditujukan terhadap bibit penyakit dan bukan sekedar antigen asing
yang tidak berbahaya, niscaya dapatlah diharapkan adanya perlindungan terhadap bibit
penyakit yang bersangkutan untuk jangka yang tidak terlalu singkat. Karena itu usaha massal
pemberian vitamin A dan imunisasi secara berkala terhadap anak-anak prasekolah seharusnya
tidak dilihat sebagai dua kegiatan terpisah. Keduanya haruslah dipandang dalam suatu
kesatuan yang utuh, yaitu meningkatkan daya tahan tubuh dan perlindungan terhadap anak
Indonesia sehingga mereka dapat tumbuh, berkembang dan berangkat dewasa dalam keadaan
yang sebaik-baiknya.
5) Status Imunisasi
Bayi dan blita yang pernah terserang campak dan selamat akan mendapat kekebalan alami
terhadap pneumonia sebagai komplikasi campak. Sebagian besar kematian ISPA berasal dari
jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti
difteri, pertusis, campak, maka peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar dalam
upaya pemberantasan ISPA. Untuk mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA,
diupayakan imunisasi lengkap. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila
menderita ISPA dapat diharapkan perkembangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat.
Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi campak dan
pertusis (DPT). Dengan imunisasi campak yang efektif sekitar 11% kematian pneumonia
balita dapat dicegah dan dengan imunisasi pertusis (DPT) 6% kematian pneumonia dapat
dicegah.
c.

Faktor Perilaku
Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita
dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan oleh ibu
ataupun anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang
berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan lainnya saling tergantung dan
berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan,
maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.
Peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani ISPA sangat penting karena penyakit
ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di dalam masyarakat atau keluarga. Hal ini

perlu mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini banyak menyerang
balita, sehingga ibu balita dan anggota keluarga yang sebagian besar dekat dengan balita
mengetahui dan terampil menangani penyakit ISPA ini ketika anaknya sakit.
Keluarga perlu mengetahui serta mengamati tanda keluhan dini pneumonia dan kapan
mencari pertolongan dan rujukan pada sistem pelayanan kesehatan agar penyakit anak
balitanya tidak menjadi lebih berat. Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan dengan jelas
bahwa peran keluarga dalam praktek penanganan dini bagi balita sakit ISPA sangatlah
penting, sebab bila praktek penanganan ISPA tingkat keluarga yang kurang/buruk akan
berpengaruh pada perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi bertambah berat.
Dalam penanganan ISPA tingkat keluarga keseluruhannya dapat digolongkan menjadi tiga
kategori yaitu : perawatan penunjang oleh ibu balita; tindakan yang segera dan pengamatan
tentang perkembangan penyakit balita; pencarian pertolongan pada pelayanan kesehatan.
8.

Pemeriksaan Pneumonia
Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan terhadap penyakit pneumonia antara lain :

a.

Pemeriksaan Rontgen
Pada pemeriksaan rontgen, penyakit broncho pneumonia menunjukkan gambaran adanya
bercak-bercak infiltrat pada satu atau beberapa lobus, dapat juga menunjukkan adanya
komplikasi seperti pleuritis, atelectatis, abses paru, pneumotorax, dll.

b.

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya gambaran darah leukositosis dan kuman
penyebabnya dapat dibiakkan dari usapan tenggorokan dan darah.

9.

Pencegahan ISPA dan Pneumonia


Karena banyaknya faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA dan pneumonia, maka
dewasa ini terus dilakukan penelitian cara pencegahan ISPA dan pneumonia yang efektif dan
spesifik. Cara yang terbukti efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi camapak dan
pertusis (DPT). Dengan imunisasi campak yang efektif, sekitar 11% kematian pneumonia
balita dapat dicegah dan dengan imunisasi pertusis (DPT), 6% kematian pneumonia dapat
dicegah.Secara umum dapat dikatakan bahwa cara pencegahan ISPA adalah dengan hidup
sehat, cukup gizi, menghindari polusi udara dan pemberian imunisasi lengkap.

10. Usaha yang Dilakukan untuk Menurunkan Angka Kesakitan dan Kematian Bayi dan
Balita berkaitan dengan ISPA dan Pneumonia
Seperti halnya berbagai upaya kesehatan, pemberantasan ISPA dilaksanakan oleh
pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan termasuk didalamnya petugas kesehatan
bersama masyarakat.Dalam upaya penanggulangan pneumonia, Departemen Kesehatan telah

menyiapkan sarana kesehatan (seperti puskesmas pembantu/Pustu, Puskesmas, Rumah sakit)


untuk mampu memberikan pelayanan penderita ISPA, pneumonia dengan tepat dan segera.
Teknologi yang dipergunakan adalah teknologi tepat guna yaitu teknologi deteksi dini
pneumonia balita yang dapat diterapkan oleh sarana kesehatan terdepan.Caranya adalah
dengan melihat ada tidaknya tarikan dinding dada kedalam dan menghitung frekuensi
(gerakan) nafas pada balita yang batuk atau sukar bernafas. Adanya tarikan dinding dada ke
dalam merupakan tanda adanya pneumonia berat. Adanya peningkatan frekuensi nafas
merupakan tanda adanya pneumonia; yaitu jika frekuensi nafas 40 kali per menit atau lebih
pada anak usia 1-5 tahun, 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang
1 tahun, dan 60 kali per menit atau lebih pada anak kurang 2 bulan.
Untuk ISPA lainnya (bukan pneumonia), seperti batuk pilek, pharingitis dan radang
telinga tengah, penanggulangannya juga dilakukan di sarana kesehatan dengan diagnosis dini
dan pengobatan tepat segera.
a.

Upaya Pencegahan ISPA dan Pneumonia


Pencegahan ISPA dan pneumonia dilaksanakan melalui upaya peningkatan kesehatan seperti
imunisasi, perbaikan gizi dan perbaikan lingkungan pemukiman. Peningkatan pemerataan
cakupan kualitas pelayanan kesehatan juga akan menekan morbiditas dan mortalitas ISPA
dan pneumonia.

b.

Peranan masyarakat dalam Penanggulangan ISPA dan Pneumonia


Peranan masyarakat sangat menentukan keberhasilan upaya penanggulangan ISPA dan
pneumonia. Yang terpenting adalah masyarakat memahami cara deteksi dini dan cara
mendapatkan pertolongan (care seeking). Akibat berbagai sebab, termasuk hambatan
geografi, budaya dan ekonomi, pemerintah juga menggerakkan kegiatan masyarakat seperti
Posyandu, Pos Obat Desa dan lain-lainnya untuk membantu balita yang menderita batuk atau
kesukaran bernafas yang tidak dibawa berobat sama sekali.

c.

Pengobatan ISPA yang Rasional


Hal yang perlu diperhatikan juga adalah pengobatan ISPA yang rasional. Penderita
pneumonia memerlukan obat antibiotika, demikian juga penderita pharingitis yang
disebabkan oleh Streptococcus Haemoliticus. Tetapi tidak semua penderita ISPA
memerlukan antibiotika, misalnya yang disebabkan oleh virus seperti batuk pilek biasa.
Selanjutnya, pemberian obat batuk pada balita juga tidak dianjurkan. Pada balita yang batuk,
lebih tepat diberikan pelega tenggorokan seperti minuman hangat.

C.

Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dengan Kejadian ISPA


Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap
stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan
serta lingkungan.
Perilaku kesehatan mencakup :

a.

Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia berespons, baik
secara pasif (mengetahui, bersikap, dan mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada pada
dirinya dan diluar dirinya), maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan
penyakit dan sakit tersebut.

b.

Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan, adalah respons seseorang terhadap sistem
pelayanan kesehatan baik sistem pelayanan kesehatan modern maupun tradisional. Perilaku
ini menyangkut respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan
obat-obatannya yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan penggunaan fasilitas,
petugas dan obat-obatan.

c.

Perilaku terhadap makanan (nutrition behaviour), yakni respons seseorang terhadap


makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan. Perilaku ini meliputi pengetahuan,
persepsi, sikap dan praktik kita terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung
didalamnya (zat gizi), pengolahan makanan, dan sebagainya, sehubungan kebutuhan tubuh
kita.

d.

Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (environmental health behaviour), adalah respon


seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia.
Kondisi sehat dapat dicapai dengan mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi
perilaku sehat dan menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga. Rumah tangga berperilaku
hidup bersih dan sehat dapat terwujud apabila ada keinginan, kemauan dan kemampuan para
pengambil keputusan dari lintas sektor terkait agar Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
menjadi program prioritas dan menjadi salah satu agenda pembangunan di Kabupaten/Kota,
serta didukung oleh masyarakat.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan cerminan pola hidup keluarga
yang senantiasa memperhatikan dan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga. Semua
perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga
dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatankegiatan kesehatan di masyarakat.
Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit
ISPA, sebaliknya perilaku yang tidak mencerminkan hidup sehat akan menimbulkan

berbagai penyakit. Perilaku ini dapat dilakukan melalui upaya memperhatikan rumah sehat,
desa sehat dan lingkungan sehat.
Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan
balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan oleh
ibu ataupun anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat
yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan lainnya saling
tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai
masalah kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.
Jadi, berdasarkan uraian-uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kondisi sehat
dapat dicapai dengan mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat dan
menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga dan keluarga yang melaksanakan Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) maka setiap rumah tangga akan meningkat kesehatannya dan
tidak mudah sakit.