Anda di halaman 1dari 9

1

Tatalaksana dan Prognosis Asma


Rizky Saputra Telaumbanua
14065992929

A. Pendahuan
Asma merupakan penyakit inflamasi kronik yang dipengaruhi oleh berbagai
komponen seluler seperti sel mast, eosinofil, limfosit T, makrofag, neutrofil dan sel epitelial.
Pasien asma akan mengalami inflamasi berulang yang menyebabkan wheezing, sesak nafas
dan batuk utamanya pada malam hari atau pagi hari. Inflamasi ini kemudian akan diikuti oleh
obstruksi saluran nafas yang bersifat reversibel baik secara spontan maupun dibantu dengan
obat-obatan. Inflamasi tersebut juga meningkatkan hipersensitivitas bronkiol terhadap
berbagai stimulus. Asma utamanya disebabkan oleh mekanisme alergi, namun berbagai
penelitian terbaru menunjukkan bahwa asma merupakan penyakit heterogen dengan berbagai
mekanisme patologi yang kompleks.1
Global Health Report menunjukkan bahwa prevalensi asma di dunia masih tinggi dan
mengalami peningkatan pada beberapa dekade terakhir. Pada tahun 2014, pasien asma di
dunia mencapai 334 juta jiwa.2 Adapun di Indonesia berdasarkan RISKESDAS 2013,
prevalensinya mencapai 4,5%.3

Tabel 1. Prevalensi asma di dunia


(Mason RJ, Murray JF, Broaddus VC, Nadel JA, Slutsky AS, et al. Murray and Nadels Textbook of Respiratory
Medicine. 6th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2016)

B. Isi
TATALAKSANA DAN PROGNOSIS ASMA

2
Penatalaksanaan asma bertujuan untuk mencegah keluhan, menimilisasi morbiditas
akut dan mencegah kerusakan fungsional dan psikologikal. Bentuk pendekatan yang
dilakukan dibedakan atas farmakologi dan non-farmakologi. Berikut adalah guideline
penatalaksanaan asma pada pasien berusia 12 tahun.1

Gambar 2. Strategi penatalaksanaan asma


(Mason RJ, Murray JF, Broaddus VC, Nadel JA, Slutsky AS, et al. Murray and Nadels Textbook of Respiratory
Medicine. 6th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2016)

Penatalaksanaan Farmakologi

Obat-obatan yang diberikan dalam penatalaksanaan asma dibedakan atas tujuannya,


yakni agen pengontrol dan agen pereda gejala (simptomatik). Agen pengontrol terdiri atas
kortikosteroid inhalasi, long-acting bronchodilator (beta-agonis dan antikolinergik), teofilin,
leukotriens modifier, antibodi anti Ig-E dan antibodi IL-5. Adapun agen pereda gejala
meliputi short-acting bronchodilator, kortikosteroid sistemik dan ipraprotium. Pemberian
obat ini didasarkan pada frekuensi dan beratnya keluhan serta dapat ditingkatkan atau
diturunkan sesuai dengan perkembangan keluhan.4
Bronkodilator
Bronkodilator bekerja dengan merilekskan otot polos pada saluran pernafasan
sehingga menangani kondisi bronkokonstriksi pada asma. Beberapa agen bronkodilator yang
sering digunakan dalam penanganan asma adalah 2 adrenergik agonis, antikolinergik dan

TATALAKSANA DAN PROGNOSIS ASMA

3
teofilin. Namun, bronkodilator tidak dapat mengani gejala yang persisten karena memiliki
efikasi rendah terhadap penyebab gejala tersebut yaitu inflamasi saluran pernafasan.5,6

Gambar 3. Mekanisme bronkodilator dalam menangani asma


(Katzung BG. Basic and Clinical Pharmacology. 13rd ed. New York: Mc Graw Hill Companies; 2015)

a. 2 adrenergik agonis
Obat ini merupakan drug of choice dalam menangani serangan asma akut. Mekanisme
kerja dari obat ini adalah menstimulus reseptor 2 adrenergik agonis pada otot polos yang
menyebabkan peningkatan cyclic AMP intraseluler sehingga terjadi relaksasi otot polos pada
saluran pernafasan. Reseptor 2 juga ditemukan pada sel epitel dan sel imun saluran nafas,
sehingga selain efek vasodilator, 2 adrenergik agonis juga menimbulkan reduksi eksudat
plasma, inhibisi pelepasan mediator oleh sel mast dan menghambat aktivasi sel saraf sensori.5

Gambar 4. Mekanisme kerja 2 adrenergik agonis


(Nafrialdi. Pharmacology of respiratory drug. Jakarta: FKUI/RSCM; 2015)

Dalam menangani asma terdapat dua jenis 2 adrenergik agonis yang digunakan yaitu
short acting 2 agonis (SABA) dan long acting 2 agonis (LABA). SABA, seperti albuterol
dan terbutaline memiliki onset yang cepat (puncak aksi 60-90 menit) dan durasi berkisar 3-6
jam. Karakteristik ini menjadikan SABA tepat untuk menangani keluhan pada fase akut.
Secara umum, SABA tidak memiliki efek samping yang signifikan jika digunakan sesuai
TATALAKSANA DAN PROGNOSIS ASMA

4
dosis. Adapun LABA, seperti formoterol dan salmaterol diberikan sebagai agen pengontrol.
Pemberian LABA dilakukan secara inhalasi sebanyak dua kali sehari dan memiliki durasi
kerja lebih dari 12 jam. LABA pada umumnya diberikan bersamaan dengan kortikosteroid
inhalasi. Pemberian LABA secara monoterapi tidak menunjukkan efikasi yang berarti karena
tidak menangani penyebab keluhan yaitu inflamasi pada saluran pernapasan. Namun
kombinasi LABA dan kortikosteroid terbukti memiliki efikasi lebih tinggi dibandingkan
pemberian kortikosteroid inhalasi saja. Oleh karenanya disimpulkan bahwa LABA dan
meningkatkan efektifitas kerja kortikosteroid inalasi.5
Pemberian 2 adrenergik agonis secara inhalasi bertujuan untuk menimalisir efek
samping sistemik. Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh 2 adrenergik agonis adalah
palpitasi dan tremor. Namun, efek ini umumnya ditemukan pada adrenergik agonis yang
selain bekerja pada 2 juga bekerja pada 1 contohnya epinefrin dan isoproterenol. Efek ini
semakin berpotensi muncul jika administrasi obat tidak melalui inhalasi dan pasien berumur
lanjut. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah kemungkinan terjadinya desensitasi
reseptor. Oleh karenanya penggunaan 2 adrenergik agonis harus benar-benar sesuai dengan
kebutuhan pasien.6
b. Antikolinergik
Antikolinergik merupakan kelas obat yang memblok reseptor muskarinik sehingga
terjadi relaksasi otot polos dan menginhibisi saraf vagus sehingga mereduksi sekresi mukus.
Namun dibandingkan dengan 2 adrenergik agonis, golongan obat ini dianggap kurang poten
karena hanya mencegah komponen refleks kolinergik dari mekanisme bronkokonstriksi. Oleh
karenanya antikolinergik digunakan sebagai obat tambahan dalam menangani asma yang
tidak terkontrol dengan hanya menggunakan 2 adrenergik agonis. Obat ini diberikan dalam
dosis tinggi menggunakan nebulizer dan didahului dengan pemberian 2 adrenergik agonis.
Efek samping yang dapat ditemukan pada penggunaan antikolinergik adalah mulut kering dan
pada pasien manula dapat ditemukan retensi urin dan glaukoma. 6 Obat-obat yang termasuk
golongan antikolinergik diantaranya adalah atropine, ipratropium bromide dan tiotropium
bromide.5

Gambar 5. Mekanisme kerja antikolinergik


(https://i.ytimg.com/vi/AO57tieW35M/hqdefault.jpg)

TATALAKSANA DAN PROGNOSIS ASMA

5
c. Methylxanthine
Obat ini merupakan derivat purin berupa kafein, theophylline dan theobromine.
Teophyllin merupakan bentuk yang paling umum digunakan dari golongan ini. Obat ini
memiliki efek bronkodilatasi dan antiinflamasi. Mekanisme aksinya terdiri atas; pertama,
menginhibisi fosfodiesterase 4 (PDE 4) sehingga meningkatkan cAMP dan cGMP pada sel
otot polos dan terjadilah bronkodilatasi; kedua, memblok reseptor adenosin, yang mana
adenosin memicu pelepasan histamin dari sel mast yang menyebabkan bronkokonstriksi dan
inflamasi.5
Teofilin dulunya merupakan obat pilihan dalam menangani asma. Namun karena
indeks teraupetiknya yang sempit dan dosis efikasi yang seringkali menimbulkan efek
samping obat ini kini mulai ditinggalkan. Berbagai efek samping yang ditimbulkan oleh
adalah insomnia, kejang, takikardi, mual, muntah dan diuresis. Teofilin diadministrasikan
melalui oral dan parenteral, namun sediaan dalam bentuk aerosol belum tersedia.5
Antiinflamasi
Golongan antiinflamasi yang sering digunakan dalam menangani asma adalah
kortikosteroin inhalasi, cell mast stabilizer dan leukotrine antagonist.
a. Kortikosteroid Inhalasi
Kortikosteroid merupakan agen antiinflamasi poten yang paling efektif dalam
mengontrol keluhan asma dan menurunkan mortalitas. Di nukleus kortikosteroid akan
berikatan dengan glucocorticoid reseptor element dan menginduksi berbagai perubahan
sintesis protein. Efek antiinflamasi terjadi melalui mekanisme berikut:

Gambar 6. Mekanisme kerja kortikosteroid


(Nafrialdi. Pharmacology of respiratory drug. Jakarta: FKUI/RSCM; 2015)

Menghambat transkripsi NF-kB dan AP1 yang menyebabkan terhentinya transkripsi


berbagai gen pengkode protein antiinflamasi seperti sitokin, kemokin, enzim
inflamasi dan molekul adhesi.
TATALAKSANA DAN PROGNOSIS ASMA

6
-

Menghambat rekruitmen histone deacetylase-2 ke kompleks gen inflamasi, yang mana


komponen ini dapat meningkatkan transkripsi gen
Meningkatkan sintesis reseptor 2. Hal inilah yang mendasari terapi kombinasi LABA
dan kortikosteroid inhalasi dapat meningkatkan efektifitas pengobatan

Pemberian kortikosteroid pada pasien asma umumnya secara inhalasi. Rute ini dipilih
utamanya guna memberikan onset yang lebih cepat dan mencegah efek samping sistemik.
Kortikosteroid inhalasi diberikan dua kali sehari, namun jika pemberian ini tidak dapat
mengontrol keluhan asma, maka dikombinasikan dengan LABA. Dalam kondisi tertentu
pemberian oral kortikosteroid juga dapat dipertimbangkan. Kortikosteroid oral yang
digunakan adalah prednison dan prednisolon 30-45 mg sekali sehari selama 5-10 hari. Bentuk
IV juga dapat ditemukan yaitu methylprednisone dan hydrocortisone yang digunakan pada
serang akut asma yang parah. Pemberian kortikosteroid secara dini dan tepat dapat mencegah
perubahan irreversible pada asma kronik.5
Efek samping yang dapat ditemukan pada penggunaan kortikosteroid inhalasi adalah
kandidiasis, dysphonia dan refleks batuk serta bronkospasme. Dosis tinggi kortikosteroid
inhalasi juga dapat menurunkan kadar kortisol pada plasma dan urin. Penggunaan obat ini
juga dapat menyebabkan penurunan potensi tinggi badan optimal, namun hanya satu cm.
Kortikosteroid oral memberikan efek samping yang lebih serius misalnya memar, diabetes,
obesitas trunkus, osteoporosis, ulkus lambung dan duodenum, hipertensi dan katarak. Jika
pasien beresiko mengalami berbagai efek samping akibat penggunaan kortikosteroid maka
dapat diberikan steroid-sparing agent.5
b. Leukotrienes Antagonis
Leukotrienes antogonis mengubah efek patofisiologi dari leukotrien yang diperoleh
dari 5-lipooxygenase asam arakhidonat. Terdapat dua kelas dari obat ini yaitu;

Gambar 7 Mekanisme kerja leukotrienes antogonis


(Nafrialdi. Pharmacology of respiratory drug. Jakarta: FKUI/RSCM; 2015)

Inhibitor enzim 5-lipooxygenase


Bekerja dengan menghambat produksi leukotrien LTC4 dan LTD4
(menyebabkan bronkokonstriksi, edema mukosa dan hipersekresi mukosa) serta

TATALAKSANA DAN PROGNOSIS ASMA

7
LTB4 (merupakan kemoaktraktan neutrofil poten). Contohnya adalah zileuton oral
dengan dosis 4x600 mg/hari.
-

Antagonis reseptor cysteinel-leukotriene tipe 1


Bekerja dengan menghambat reseptor leukotriene sehingga menghambat
bronkokonstriksi, kebocoran mikrovaskular dan inflamasi akibat eosinofil. Contonya
adalah zafirlukast 2x20 mg/hari dan montelukast 10 mg OD

Leukotrienes memiliki efek antiinflamasi dan kontrol keluhan asma yang lebih rendah
dibandingkan dengan kortikosteroid inhalasi. Obat ini biasanya dikombinasikan dengan
kortikosteroid inhalasi dosis rendah pada pasien asma ringan. Meski kombinasi ini memiliki
efikasi lebih rendah dibandingkan kombinasi kortikosteroid inhalasi dengan LABA, namun
leukotriene dapat digunakan jika pasien memiliki toleransi yang rendah terhadap
kortikosteroid atau memilih untuk tidak menggunakan kortikosteroid.5
c. Cell Mast Stabilizer
Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah Cromolyn sodium dan Nedocromil.
Mekanisme kerja obat golongan ini adalah dengan menginhibisi saraf sensorik dan
menginhibisi aktivasi sel mast sehingga efektif dalam memblok pencetus asma seperti alergen
dan aktivitas fisik berat. Namun demikian, obat ini memiliki durasi kerja yang singkat
sehingga memerlukan penggunaan lebih sering (empat kali inhalasi per hari). Efikasi obat
golongan ini masih berada dibawah kortikosteroid inhalasi namun cenderung lebih aman
sehingga sering digunakan pada pasien anak.5
Anti-IgE Antibodi
Anti IgE Antibodi contohnya Omalizumab merupakan antibodi monoklonal terhadap
IgE yang menghambat reaksi yang dimediasi IgE dengan menetralisir serum IgE tanpa
berikatan dengan IgE yang berikatan pada sel. Digunakan sebagai agen tambahan pada pasien
asma atopik yang bergantung pada kortikosteroid. Omalizumab memiliki harga yang cukup
mahal, sekitar $541-$2741 /bulan7 oleh karenanya hanya digunakan pada pasien yang
memiliki kadar serum IgE yang sangat tinggi serta asmanya tidak dapat dikontrol dengan
dosis maksimal kortikosteroid inhalasi.Omalizumab diadministrasikan melalui injeksi
subkutan setiap 2-4 minggu selama 3-4 bulan. Pengobatan ini relatif aman dan tidak
menimbulkan efek samping yang berarti.5
2

Penatalaksanaan Non-farmakologi

Berbagai bentuk tatalaksana non-farmakologi untuk penanganan asma populer


ditengah masyarakat misalnya akupuntur, kontrol nafas, chirophraxy, homeophaty,
hipnoterapi dan yoga. Namun penelitian menggunakan plasebo menunujukkan bahwa upayaupaya tersebut memiliki efikasi yang rendah sehingga tidak direkomendasikan.

TATALAKSANA DAN PROGNOSIS ASMA

8
Pendekatan lain yang dapat dilakukan dalam tatalaksana asma adalah mengontrol
faktor pencetus seperti rokok, kondisi komorbid (GERD dan rhinosinusitis), eksposure
alergen, eksposure okupational, polutan dan infeksi saluran respirasi.
Tabel 1. Faktor pencetus yang perlu dikontrol dalam tatalaksana asma

(Mason RJ, Murray JF, Broaddus VC, Nadel JA, Slutsky AS, et al. Murray and Nadels Textbook of Respiratory
Medicine. 6th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2016)

Prognosis Asma
Mortalitas asma di dunia adalah 0,89 kematian per 100.000 orang. Penyebab utama
kematian tersebut adalah kegagalan fungsi paru dan kegagalan tatalaksana. Kematian paling
banyak ditemukan pada masyarakat berpendapat rendah. Faktor lain yang mempengaruhi
kematian akibat asma adalah usia lebih dari 40 tahun, kebiasaan merokok > 20 bungkus per
tahun, eosinofilia dan FEV1 lebih rendah dari 70%.
Estimasi kehilangan hari produktif akibat asma mencapai 100 juta hari. Adapun angka
rawat inap akibat asma mencapai 500 ribu rawat inap dimana 40,6% nya berusia 18 tahun
kebawah. Adapun nilai kerugian akibat asma pertahunnya sekitar $ 20,7 miliar.
Hampir setengah pasien anak yang terdiagnosis asma akan menunjukkan perbaikan
gejala seiring pertambahan usia. 6% diantaranya tidak membutuhkan penanganan setelah satu
tahun, adapun 39% diantaranya hanya memerlukan penanganan intermiten. Namun demikian,
pasien dengan kontrol yang buruk dapat mengalami berbagai keluhan kronik dan perubahan
irreversibel yang signifikan.4

C. Kesimpulan

TATALAKSANA DAN PROGNOSIS ASMA

9
Tatalaksana terhadap asma dibedakan atas farmakologi dan nonfarmakologi.
Tatalaksana farmakologi meliputi bronkodilator (2 adrenergik agonis, antikolinergik,
methylxanthine) antiinflamasi (kortikosteroid inhalasi, leukotrienes antagonis, cell mast
stabilizer) dan anti IgE agonis. Adapun tatalaksana nonfarmakologi berfokus pada
manajemen faktor pencetus. Prognosis asma sebenarnya cukup baik, asalkan diberikan
penanganan dini dan tepat.
Jika dikaitkan dengan pemicu satu, tampak bahwa pasien mengalami intermittent
asma, sehingga penangan yang diberikan cukup dengan menggunakan short acting 2 agonis
(SABA) ketika keluhan asma muncul.

Daftar Pustaka
1. Mason RJ, Murray JF, Broaddus VC, Nadel JA, Slutsky AS, et al. Murray and Nadels
Textbook of Respiratory Medicine. 6th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2016
2. Global Asthma Network. The Global Asthma Report 2014. New Zealand: Global
Asthma Network; 2014.
3. Kementrian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan; 2013
4. Morris M. Asthma: Practice Essentials, Background, Anatomy [Internet].
Emedicine.medscape.com. 2016 [cited 8 May 2016]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/296301-overview
5. Fishman AP. Fishmans. Pulmonary Diseases and Disorders. 5th ed. New York: Mc
Graw Hill Companies; 2014
6. Katzung BG. Basic and Clinical Pharmacology. 13rd ed. New York: Mc Graw Hill
Companies; 2015
7. Davydov L. STEPS: Omalizumab (Xolair) for Treatment of Asthma - American
Family Physician [Internet]. Aafp.org. 2016 [cited 8 May 2016]. Available from:
http://www.aafp.org/afp/2005/0115/p341.html

TATALAKSANA DAN PROGNOSIS ASMA