Anda di halaman 1dari 20

Pengungkapan Penuh (Full Disclosing) dalam Pelaporan Keuangan

(Contoh Studi pada PT. Unilever Tbk.)

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH


Akuntansi Keuangan II
Yang dibina oleh Ulfi Kartika Oktaviana,Se., M.Ec

Oleh :
Aditya Fadil Nugroho

(12520010)

Rian Saifulloh

(12520013)

Mochammad Syahrul Abidin

(13520001)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
2016

BAB I
PENDAHULUAN
IASB menyatakan bahwa beberapa informasi yang bermanfaat lebih baik
disajikan dalam laporan keuangan dan beberapa lainnya lebih baik disajikan dengan
menggunakan media pelaporan keuangan selain lapiran keuangan. Sebagai contoh,
meskipun laba dan arus kas telah tersedia dalam laporan keuangan, namun para
investor mungkin lebih baik melihat perbandingan hal itu dengan perusahaan lain
dalam industry yang sama, yang bisa ditemui pada artikel berita atau laporan
perusahaan perantara (broker).
Pengertian Disclosure Financial Statement
Kata disclosure memiliki arti tidak menutupi atau tidak menyembunyikan
(Chariri, Anis dan Ghozali 2007:377). Apabila dikaitkan dengan kata, disclosure
berarti memberikan data yang bermanfaat kepada pihak yang memerlukan. Jadi data
tersebut harus benar-benar bermanfaat, karena apabila tidak bermanfaat, tujuan dari
pengungkapan tersebut tidak akan tercapai. Apabila dikaitkan dengan laporan
keuangan, disclosure mengandung arti bahwa laporan keuangan harus memberikan
informasi dan penjelasan yang cukup mengenai hasil aktivitas suatu unit usaha.
Dengan demikian, informasi tersebut harus lengkap, jelas dan dapat menggambarkan
secara tepat mengenai kejadian-kejadian ekonomi yang berpengaruh terhadap hasil
operasi unit usaha tersebut. Informasi yang diungkapkan harus berguna dan tidak
membingungkan pemakai laporan keuangan dalam membantu pengambilan
keputusan ekonomi. Berapa banyak informasi yang harus diungkapkan tidak hanya
tergantung pada keahlian pembaca, tetapi juga pada standar yang dibutuhkan.
Pengertian pengungkapan dalam laporan keuangan menurut Stice (2000) dalam
Sidharta dan Sherly Christianti (2007), pengungkapan dalam laporan keuangan
adalah pelaporan rinci sebuah transaksi dalam catatan pada laporan keuangan.
Hendriksen (2002:429) mengatakan secara sederhana, pengungkapan dapat diartikan
sebagai pengeluaran informasi (the release of information).

Pengungkapan secara sederhana dapat diartikan sebagai pengeluaran


informasi (the realease of information). Akuntan cenderung menggunakan istilah ini
dalam batasan yang lebih sempit, yaitu pengeluaran informasi tentang perusahaan
dalam laporan keuangan, umumnya laporan tahunan (Naim dan Rakhman, 2000).
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan akan dapat dipahami dan tidak
menimbulkan salah interpretasi hanya jika laporan keuangan dilengkapi dengan
pengungkapan yang memadai.
Menurut Marwata (2001), pengungkapan didefinisikan sebagai penyediaan
sejumlah informasi untuk membantu investor dalam membuat prediksi kinerja
perusahaan pada masa yang akan datang. Pengungkapan mencakup penyediaan
informasi yang diwajibkan oleh badan berwenang maupun secara sukarela dilakukan
perusahaan, yang berupa laporan euangan, informasi tentang kejadian setelah tanggal
laporan, analisis keuangan, analisis manajemen atas operasi perusahaan yang akan
datang, perkiraan keuangan dan operasi pada tahun yang akan datang serta laporan
keuangan tambahan yang mencakup pengungkapan dan informasi lainnya di luar
harga perolehan.

BAB II
ISI
Tujuan Disclosure Financial Statement
Tujuan pengungkapan dalam laporan keuangan menurut (Chariri, Anis dan Ghozali
2007:382), mengungkapkan bahwa tujuan pengungkapan dalam laporan keuangan
adalah:
1. Memberikan informasi yang bermanfaat bagi investor, kreditor dan pemakai
lainnya dalam mengambil keputusan secara rasional.
2. Memberikan informasi untuk membantu investor, kreditor dan pemakai
lainnya menilai jumlah, pengakuan tentang penerimaan kas bersih.
3. Memberikan informasi tentang sumber-sumber ekonomi suatu perusahaan.
4. Menyediakan informasi tentang hasil usaha (performance keuangan) suatu
perusahaan selama 1 periode.
5. Menyediakan informasi yang bermanfaat bagi manajer dan direktur sesuai
kepentingan pemilik.
6. Untuk membandingkan antar perusahaan dan antar tahun. Untuk menyediakan
informasi mengenai aliran kas masuk dan keluar dimasa mendatang.
7. Untuk membantu investor dalam menetapkan return dan investasinya

Konsep Disclosure Financial Statement


Simanjuntak dan Widiastuti (2004) menyatakan kualitas tampak sebagai atribut yang
penting dari suatu informasi akuntansi. Meskipun kualitas akuntansi masih memiliki
makna ganda (ambigous) banyak penelitian yang menggunakan indeks of disclosure
methodology mengemukakan bahwa kualitas pengungkapan dapat diukur dan
digunakan untuk menilai manfaat potensial dari sisi laporan tahunan. Dengan kata

lain Imhof mengatakan bahwa tingginya kualitas informasi akuntansi sangat berkaitan
dengan tingkat kelengkapan.
Berapa banyak informasi tersebut harus diungkapkan tidak hanya bergantung pada
keahlian pembaca, akan tetapi juga pada standar yang dibutuhkan (Harahap,
2007:268).
Ada tiga konsep pengungkapan yang umumnya diusulkan, yaitu:
1. Adequate disclosure (pengungkapan cukup),
2. Fair disclosure (pengungkapan wajar),
3. Full disclosure pengungkapan penuh)

Jenis Disclosure
Menurut (Chariri, Anis dan Ghozali, 2007:393), menyatakan ada dua jenis
pengungkapan dalam hubungannya dengan persyaratan yang ditetapkan standar,
yaitu:

Pengungkapan wajib (mandatory disclosure)

Pengungkapan sukarela (voluntary disclosure)

Dalam pengungkapan sukarela, manajemen bebas untuk memberi informasi akuntansi


maupun informasi lainnya di luar standar pengungkapan yang sudah ditetapkan.
Menurut Froidevaux (2004) dalam Sidharta dan Christanti (2007), pengungkapan
sukarela berisi taksiran laba yang akan dibagi oleh manajemen, penyajian kepada
publik, pengungkapan relasi investor, website, internet, press release, konfrensi pers,
informasi sukarela dalam laporan tahunan, juga semua informasi kebijakan keuangan
perusahaan yang dapat dipakai untuk berbagai tujuan. Berdasarkan penjelasan di atas
menunjukkan bahwa pengungkapan sukarela dapat mengurangi asimetri informasi

antara partisipan pasar. Kredibilitas dan reabilitas merupakan hal utama yang menjadi
perhatian dalam pengungkapan informasi secara sukarela.
.
MASALAH PENGUNGKAPAN
Pengungkapan Transaksi atau Peristiwa Khusus
Seorang akuntan diharapkan untuk melaporkan substansi ekonomi dan bukannya
format hukum dari transaksi tersebut serta membuat pengungkapan yang memadai.
IASB no 57 mengharuskan pengungkapan berikut untuk transaksi pihak terkait yang
material :
1.

Sifat hubungan pihak yang terlibat

2.

Uraian tentang transaksi (termasuk transaksi di mana tidak ada jumlah atau

jumlah nominal yang terlibat) untuk setiap periode di mana laporan laba rugi
disajikan.
3.

Jumlah uang yang terlibat dalam transaksi untuk setiap periode di mana laporan

laba rugi disajikan


4.

Jumlah yang terhutang dari atau kepada pihak terkait pada setiap tanggal neraca

disajikan
Kebijakan Akuntansi
Kebijakan akuntansi suatu entitas adalah prinsip serta metode akuntansi spesifik yang
digunakan dan dianggap paling tepat untuk menyajikan laporan keuangan entitas
tersebut secara wajar. Kebijakan itu merekomendasikan bahwa laporan yang
menyebutkan kebijakan akuntansi yang dipakai dan diikuti oleh entitas pelapor juga
harus disajikan sebagai bagian integral dari pelaporan keuangan.

Prinsip-Prinsip Pengukuran
Prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan untuk pengungkapan segmen
tidak harus sama dengan prinsip-prinsip yang digunakan untuk membuat laporan
konsolidasi. Fleksibilitas ini mungkin akan tampak seperti inkonsistensi. Namun,
menyiapkan informasi segmen sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
merupakan hal yang sulit karena beberapa prinsip tersebut diperkirakan tidak berlaku
pada tingkatan segmen.
Oleh IASB alokasi biaya gabungan, bersama atau biaya yang berlaku untuk
perusahaan secara keseluruhan tidak diperlukan untuk tujuan pelaporan ekstenal.
Biaya bersama adalah biaya yang terjadi karena terciptanya manfaat bagi lebih dari
satu segmen dan karenanya pembagian biaya antarsegmen yang mendapat
manfaat sangat sukar dilakukan secara objektif.
Infromasi Segmen yang Dilaporkan
IASB mengharuskan perusahaan untuk melaporkan :
1.

Informasi umum tentang segmen-segmen operasinya

2.

Laba dan rugi segmen serta informasi terkait

3.

Aktiva segmen

4.

Rekonsiliasi

5.

Informasi tentang produk dan jasa serta lokasi geografis

6.

Pelanggan utama

Laporan Interim
Laporan Interim adalah laporan yang mencakup periode kurang dari
setahun. Bursa saham, SEC dan profesi akuntansi telah berperan aktif dalam
mengembangkan pedoman untuk penyajian laporan interim. Akan tetapi, karena

sifatnya yang jangka pendek, laporan ini menciptakan kontroversi. Satu pihak (yang
mempunyai pandangan terpisah) percaya bahwa setiap periode interim harus
diperlakukan sebagai periode akuntansi yang terpisah.
Pihak lainnya (yang mempunyai pandangan terpadu) percaya bahwa
laporan interim merupakan bagian integral dari laporan tahunan dan pengangguhan
serta akrual harus mempertimbangkan apa yang akan terjadi selama satu tahun
penuh.

Persyaratan Pelaporan Interim


Perusahaan harus menggunakan metode penetapan harga persediaan yang sama
(FIFO, LIFO, dan yang lainnya) untuk pelaporan interim seperti halnya pada laporan
tahunan. Akan tetapi, pengecualian-pengecualian berikut dapat diterima dalam
periode pelaporan interim :
1.

Perusahaan dapat menggunakan metode laba kotor untuk penetapan harga

persediaan interim, tetapi dibutuhkan pengungkapan atas metode dan penyesuaian


untuk merekonsiliasi dnegan persediaan tahunan
2.

Jika persediaan LIFO dilikuidasi pada tanggal interim dan diperkirakan akan

diganti kembali sebelum akhir tahun, maka HPP harus mencakup perkiraan biaya
penggantian dasar LIFO yang dilikuidasi dan tidak mempengaruhi likuidasi interim
3.

Penurunan harga pasar persediaan tidak dapat ditangguhkan setelah periode

interim kecuali dianggap bersifat sementara dan tidak ada kerugian yang diperkirakan
untuk tahun fiskanl tersebut
4.

Varians yang direncanakan menurut sistem biaya standar yang diperkirakan

akan diserap sampai akhir tahun biasanya harus ditangguhkan.


Masalah Unik dari Pelaporan Interim

Biaya Iklan dan Biaya Sejenis (Biaya ini harus ditangguhkan dalam periode

interim jika manfaatnya melampaui periode tersebut, sebaliknya biaya-biaya itu harus
dibebankan pada saat terjadi

Beban yang akan Disesuaikan pada Akhir Tahun (Biaya tersebut harus

diestimasi dan dialokasikan ke periode interim dengan cara terbaik yang mungkin
dilakukan)

Pajak Penghasilan (Perusahaan pada suatu waktu biasanya menganut

pendekatan yang terakhir dan mengakrualkan pajak yang berlaku ke masing-masing


laba tambahan)

Pos-Pos Luar Biasa (Membebankan atau mengkredit kerugian atau keuntungan

dalam kuartal di mana hal itu terjadi dan bukannya mencoba beberapa alokasi periode
berganda yang bersifat arbitrer)

Laba Per Saham (Pelaporan Laba per Saham interim melibatkan semua

masalah inheren dalam menghitung dan menyajikan laba per saham tahunan serta
beberapa lainnya)

Faktor Musiman (Faktor Musiman terjadi apabila penjulan dilakukan dalam

satu periode yang singkat dari satu tahun sementara beberapa biaya terjadi secara
merata sepanjang tahun tersebut)

Kontroversi yang Berlanjut (Ketidak jelasam apakah metode terpidah, terpadu,

atau kombinasi dari keduanya yang akan digunakan sebagai standar)

BAB III
CONTOH PENGUNGKAPAN PENUH
Pengungkapan Penuh (Full Disclosure) sudah diterapkan di PT.Unilever
Indonesia.Tbk. Dimana PT.Unilever Indonesia Tbk telah mengikuti peraturan yang
ditetapkan dalam Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan No.Kep-134/BL/2006. Peraturan tersebut dimaksudkan untuk memberikan
suatu panduan penyajian dan pengungkapan yang terstandarisasi dengan prinsipprinsip pengungkapan penuh (full disclosure). Prinsip pengungkapan penuh (full
disclosure) mengakui bahwa penyajian informasi dalam laporan keuangan baik
jumlah maupun sifat, harus memenuhi kaidah keseimbangan antara manfaat dan
biaya (Suwardjono, 2005).
Dalam Kep.Ketua Bapepam dan Lembaga Keuangan No.Kep-134/BL/2006 tentang
Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan Bagi Emiten Atau Perusahaan Publik
disebutkan bahwa bentuk dan isi laporan tahunan terdiri dari item berikut :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Ikhtisar Data Keuangan Penting


Laporan Dewan Komisaris
Laporan Direksi
Profil Perusahaan
Analisis dan Pembahasan Manajemen
Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance)

Berikut contoh dari masing-masing item :

a. Ikhtisar Data Keuangan Penting

b. Laporan Dewan Komisaris

c. Laporan Direksi
e. Analisis dan Pembahasan Manajemen

d. Profil Perusahaan

f. Tata Kelola Perusahaan


Aktivitas Hubungan Auditor
g. Corporate Social Responsibility

BAB IV
PEMBAHASAN
PT.Unilever Indonesia Tbk sebagai perusahaan yang go publik dan terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan pengungkapan penuh dalam laporan
tahunan (annual report). Dalam Pengungkapan laporan keuangan yang memadai bisa
dicapai melalui penerapaan peraturan yang baik. Pemerintah dalam hal ini telah
menunjuk Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dan Ikatan Akuntan Indonesia
(IAI) untuk menyelenggarakan peraturan tersebut bagi para pelaku pasar modal.
Bapepam adalah badan yang ditunjuk untuk mengawasi, mengatur, membuat, dan
mengubah peraturan yang telah ditetapkan di pasar modal.
Peraturan yang ditetapkan di pasar modal termuat dalam Keputusan Ketua
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan No.Kep-134/BL/2006.
Peraturan tersebut dimaksudkan untuk memberikan suatu panduan penyajian dan
pengungkapan yang terstandarisasi dengan mendasarkan pada prinsip-prinsip
pengungkapan penuh (full disclosure). Prinsip pengungkapan penuh (full disclosure)
mengakui bahwa penyajian informasi dalam laporan keuangan baik jumlah maupun
sifat, harus memenuhi kaidah keseimbangan antara manfaat dan biaya (Suwardjono,
2008).

Dalam pelaporannya terdapat laporan keuangan yang merupakan sumber


informasi bagi investor sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam pengambilan
keputusan investasi dalam pasar modal, juga sebagai sarana pertanggungjawaban
manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam PSAK
(2009) No.1 disebutkan bahwa laporan keuangan yang lengkap terdiri dari neraca,
laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas
laporan keuangan. Penyajian catatan atas laporan keuangan berguna untuk merinci
atau menjelaskan item-item yang disajikan dalam laporan keuangan (Kieso dkk,
2005).
Pengungkapan penuh yang dilakukan PT Unilever Indonesia Tbk sendiri
dilakukan atas dua pengungkapan yaitu :
1. Pengungkapan Wajib (mandatory disclosure)
Merupakan pengungkapan minimum yang harus diungkapkan atau disyaratkan
oleh standar akuntansi yang berlaku (kewajiban perusahaan). Perusahaan
memperoleh manfaat dari menyembunyikan, sementara yang lain dengan
mengungkapkan informasi. Jika perusahaan tidak bersedia untuk mengungkapkan
secara sukarela maka pengungkapan wajib akan memaksa perusahaan untuk
mengungkapkannya. Pengungkapan wajib yang diwajibkan oleh Bapepam
memuat 79 item pengungkapan informasi laporan tahunan.
2. Pengungkapan Sukarela (voluntary disclosure)
Merupakan pengungkapan yang tidak diwajibkan peraturan, dimana perusahaan
bebas memilih jenis informasi yang akan diungkapkan yang sekiranya dapat
mendukung dalam pengambilan keputusan.
Full Disclosure dapat membantu mengurangi terjadinya informasi asimetris,
namun seringkali dinilai berlebihan. Perusahaan yang menerapkan prinsip Full
Disclosure dapat meningkatkan daya saing terhadap perusahaan lain. Pengungkapan
informasi dalam laporan keuangan dilakukan untuk melindungi hak pemegang saham
yang cenderung terabaikan akibat terpisahnya pihak manajmen yang mengelola
perusahaan dan pemegang saham yang memiliki modal.

Full Disclosure yang dikehendaki adalah mengungkapkan informasi akntasi


dengan benar dan tepat sesuai dengan prinsip syariah, tidak saja pada sisi
pertanggungjawaban social tetapi juga pada sisi perlakuan terhadap pos-pos yang ada
dalam informasi akuntansi. Dengan demikian laporan keuangan tidak lagi
berorientasikan pada memaksimalkan laba, akan tetapi laporan keuangan yang
membawa pesan moral dan menstimulasi perilaku etis, adil terhadap semua pihak dan
memiliki keseimbangan laporan keuangan sesuai konsep akuntasi.

Pengungkapan penuh yang diungkapkan PT Unilever Indonesia Tbk sendiri


berupa Laporan Tahunan.
Laporan Tahunan (Annual Report) pada PT Unilever Indonesia Tbk terdiri dari :
a. Ikhtisar Data Keuangan Penting
Laporan tahunan memuat informasi keuangan dalam bentuk perbandingan
selama 5 (lima) tahun buku atau sejak memulai usahanya jika perusahaan
tersebut menjalankan kegiatan usahanya selama kurang dari 5 (lima) tahun.
Laporan tahunan memuat informasi harga saham tertinggi, terendah, dan
penutupan, serta jumlah saham yang diperdagangkan untuk setiap masa
triwulan dalam 2 (dua) tahun buku terakhir (jika ada). Harga saham sebelum
perubahan permodalan terakhir wajib disesuaikan dalam hal terjadi antara lain
karena pemecahan saham, dividen saham, dan saham bonus.
b. Laporan Dewan Komisaris
Laporan dewan komisaris pada PT Unilever memuat : 1) penilaian terhadap
kinerja direksi mengenai pengelolaan perusahaan; 2) pandangan atas prospek
usaha perusahaan yang disusun oleh direksi; dan 3) komite-komite yang
berada dibawah pengawasan dewan komisaris.
c. Laporan Direksi
Laporan direksi PT Unilever memuat antara lain uraian singkat mengenai : 1)
kinerja perusahaan, yang mencakup antara lain kebijakan strategis,

perbandingan antara hasil yang dicapai dengan yang ditargetkan, dan kendalakendala yang dihadapi perusahaan; 2) gambaran tentang prospek usaha; 3)
penerapan tata kelola perusahaan yang telah dilaksanakan oleh perusahaan;
d. Profil Perusahaan
Profil perusahaan PT Unilever memuat hal-hal sebagai berikut: 1) nama dan
alamat perusahaan; 2) riwayat singkat perusahaan; 3) bidang dan kegiatan
usaha perusahaan meliputi jenis produk dan atau jasa yang dihasilkan; 4)
struktur organisasi dalam bentuk bagan; 5) visi dan misi perusahaan; 6) nama,
jabatan, dan riwayat hidup singkat anggota dewan komisaris; 7) nama,
jabatan, dan riwayat hidup singkat anggota direksi; 8) jumlah karyawan dan
deskripsi pengembangan kompetensinya, dll.
e. Analisis dan Pembahasan Manajemen
Laporan tahunan PT Unilever memuat uraian singkat yang membahas dan
menganalisis laporan keuangan dan informasi lain dengan penekanan pada
perubahan-perubahan material yang terjadi dalam periode laporan keuangan
tahunan terakhir. Uraian dalam pembahasan manajemen memuat tinjauan
operasi per segmen usaha, antara lain memuat pembahasan mengenai:
Produksi, penjualan/pendapatan usaha, profitabilitas, dan peningkatan
kapasitas produksi. Kemudian analisis kinerja keuangan yang mencakup
perbandingan antara kinerja keuangan tahun yang bersangkutan dengan tahun
sebelumnya.
f. Tata Kelola Perusahaan
Laporan tahunan PT Unilever memuat uraian singkat mengenai penerapan tata
kelola perusahaan yang telah dan akan dilaksanakan oleh perusahaan dalam
periode laporan keuangan tahunan terakhir. Uraian tata kelola perusahaan PT
Unilever antara lain :
Dewan komisaris, Direksi, Komite Audit, Tugas dan Fungsi Sekretaris
Perusahaan, Uraian Sistem Pengendalian Internal mengenai pelaksanaan
pengawasan intern, penjelasan mengenai mengelola resiko-resiko, uraian
mengenai aktivitas dan biaya yang dikeluarkan berdasar tanggung jawab
sosial (CSR) terhadap masyarakat dan lingkungan.

g. Corporate Social Responsibility


PT Unilever Indonesia Tbk telah melakukan kegiatan-kegiatan sosial di
lingkungan masyarakat dimana kegiatan ini bertujuan untuk menjadi tanggung
jawab sosial terhadap masyarakat dan lingkungan.
Program peningkatan kesehatan dan kesejahteraan yang dilakukan oleh
PT Unilever :
- Program kesehatan sekolah
- Program kesehatan masyarakat
- Bermitra dengan lembaga internasional
- Program pengembangan petani kedelai
- Program Pemberdayaan Perempuan, dll
h. Laporan Keuangan Konsolidasian Intern
Laporan keuangan konsolidasian yang dikeluarkan oleh PT Unilever
Indonesia Tbk telah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh IAI dalam
PSAK 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan dimana dalam Laporan
Keuangan PT Unilever Indonesia Tbk telah memuat :
- Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian
- Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain Konsolidasian
- Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian
- Laporan Arus Kas Konsolidasian
- Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian
- Informasi tambahan
- Laporan Auditor Independen.

Daftar Pustaka

Baridwan, Zaki. Intermediate Accounting. Edisi 8. BPFE. Yogyakarta. 2004.


Belkouli dan Ahmed Riahi. Accounting Theory. Edisi 5. Salemba Empat. Jakarta.
2006.
Chariri, Anis dan Imam Gozali. 2007. Teori Akuntansi. Edisi Kelima. Semarang:
Universitas Diponegoro.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan per 1 Juli 2009.
Jakarta : Salemba Empat
Kieso, Donald. E., Weygant, J.2005, Akuntansi Intermediate, Edisi Sebelas , Jilid III,
Erlangga, Jakarta
Prastowo, Dwi dan Rifka Julianty. Analisis Laporan Keuangan. UPP AMP YKPN.
Yogyakarta. 2002.
Sofyan Syafri Harahap, (2007), Teori Akuntansi, Edisi Revisi Sembilan, PT.
Rajagrafindo Persada, Jakarta
Suwardjono. 2008. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Yogyakarta :
BPFE