Anda di halaman 1dari 100

Laporan Hasil Penelitian

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN TENTANG 3M


(MENGUBUR BARANG BEKAS, MENUTUP DAN MENGURAS TEMPAT
PENAMPUNGAN AIR) PADA KELUARGA DI KELURAHAN PADANG BULAN
TAHUN 2009

Oleh :
MEUTIA WARDHANIE GANIE 060100381

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Meutia Wardhanie Ganie : Gambaran Pengetahuan, Sikap, Dan Tindakan Tentang 3m (Mengubur Barang Bekas, Menutup Dan
Menguras Tempat Penampungan Air) Pada Keluarga Di Kelurahan Padang Bulan Tahun 2009, 2009.

2009

Meutia Wardhanie Ganie : Gambaran Pengetahuan, Sikap, Dan Tindakan Tentang 3m (Mengubur Barang Bekas, Menutup Dan
Menguras Tempat Penampungan Air) Pada Keluarga Di Kelurahan Padang Bulan Tahun 2009, 2009.

LEMBAR PENGESAHAN

Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Tentang 3M (Menutup, Mengubur,


Menguras Tempat Penampungan Air) Keluarga di Kelurahan Padang Bulan Tahun 2009

Nama

MEUTIA WARDHANIE GANIE

Nim

060100381

Pembimbing

Penguji

( dr. Liberty Sirait, Sp.B )

( dr. Alfred C.Satyo,MSc,MHPE Sp.F (K) )

Penguji

( Prof. dr. A.Afif Siregar,Sp. A(K), Sp.JP (K)

Medan, 2 Desember 2009


Dekan
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

(Prof.dr. Gontar Alamsyah Siregar,Sp.PD-KGEH)


Nip : 195402201980111001

ABSTRAK

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, TINDAKAN TENTANG 3M (MENGUBUR


BARANG BEKAS, MENUTUP, DAN MENGURAS TEMPAT PENAMPUNGAN AIR)
PADA KELUARGA DI KELURAHAN PADANG BULAN TAHUN 2009

Latar Belakang, Demam berdarah dengue merupakan masalah utama penyakit menular
di berbagai belahan dunia. Selama 1 dekade angka kejadian atau incidence rate (IR) DBD
meningkat dengan pesat diseluruh belahan dunia. Diperkirakan 50 juta orang terinfeksi DBD
setiap tahunnya dan 2,5 miliar (1/5 penduduk dunia) orang tinggal di daerah endemik DBD.
Fokus penelitian ini adalah manusia yakni usaha Pencegahan penyakit DBD yang dilakukan
keluarga dengan melakukan 3M (Mengubur,Menguras, dan Menutup tempat penampungan air).
Untuk dapat melakukan pencegahan penyakit DBD salah satu faktor yang mempengaruhi adalah
tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan keluarga. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Padang
Bulan Kecamatan Medan Baru yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap,
dan tindakan tentang 3M pada keluarga di Kelurahan Padang Bulan tahun 2009.
Metode, Penelitian ini adalah penelitian deskriftif dengan besar sampel sebanyak 99
orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik Quota sampling. Subjek penelitian adalah
kepala keluarga dan pasangannya sebagai wakilnya. Instrumen dalam penelitian ini adalah
kuesioner yang berisi 6 item pertanyaan pengetahuan, 5 item pertanyaan sikap, dan 5 item
pertanyaan tindakan.
Hasil, Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat pengetahuan
respoden adalah sedang (54,5%), sedangkan untuk tingkat pengetahuan baik (36.4%), dan
tingkat pengetahuan kurang hanya sebagian kecil saja yaitu (9.1%). Untuk penilaian sikap
sebagian besar respoden bersikap Baik (56.6%) terhadap pelaksanaan 3M, Sikap dalam kategori
sedang (43.4%), dan sikap yang termasuk dalam kategori kurang tidak ditemukan pada
responden. Terhadap pertanyaan tindakan sebagian besar tindakan tentang pelaksanaan 3M
respoden termasuk sedang (75.8%), tindakan baik (18.2%), dan tingkat pengetahuan kurang
hanya sebagian kecil saja yaitu (6.1%) .

Kesimpulan, Tingkat pengetahuan keluarga di Kelurahan Padang Bulan mayoritas


termasuk dalam kategori Sedang dan sikap responden termasuk dalam kategori Baik dan untuk
tindakan responden terhadap pelaksanaan 3M mayoritas termasuk kategori Sedang.

Kata Kunci : 3M, Pencegahan DBD, Pengetahuan 3M, Demam Berdarah Dengue

ABSTRACT
DESCRIPTIONS OF KNOWLEDGE, ATTITUDE, AND PRACTICE REGARDING
BY USING 3M METHOD (MENGUBUR BARANG BEKAS, MENGURAS DAN MENUTUP
TEMPAT PENAMPUNGAN AIR) AMONG FAMILY AT KELURAHAN PADANG BULAN
YEAR 2009

Background, Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is one of the most serious infectious
diseases across the world. For a decade the prevalence or the incidence rate (IR) of DHF was
increased insidiously. It is approximately 50 million people has been infected by DHF each year
and 2.5 Billion people live in endemic areas. The main objective of this study is the prevention
of DHF by using 3M method (Mengubur Barang Bekas, Menguras, dan Menutup tempat
penampungan air). One of the factors to prevent DHF is acknowledgment, attitude and actions
from families. This study has been conducted at Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan
Baru and to find the actions of 3M on families at Kelurahan Padang Bulan year 2009.
Method, This study is a descriptive study with total sample of 99 respondents. Quota
sampling was chosen on this study. The subjects of this study are head of families and their
spouses as their representatives. The instrument for this study is questionnaire that consisted of 6
items of questions that are focus on acknowledgment, 5 items for attitude and 5 items for actions.
Result, This study showed most of the respondents acknowledgment is medium (54.5%), good
(36.4%), low (9.1%). Most of the respondents attitude is good (56.6%) to 3M method, medium
(43.4%) and no low percentage has been found. Most of the respondents
action is medium (75.8%), good (18.2%) and low (6.1%).
Conclusion, The level of acknowledgment of the families at Kelurahan Padang Bulan is
majority in medium category, level of attitude is good and majority the level of actions towards
3M is medium.

Keywords: 3M, Preventions of DHF, DHF, Knowledge about 3M

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahNya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini hingga selesai. Penyusunan karya tulis ilmiah ini
dimaksudkan untuk melengkapi persyaratan yang harus dipenuhi dalam memperoleh gelar
Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Oleh karena itu, penulis
memilih judul : Gambaran Pengetahuan, Sikap, Tindakan tentang 3M ( Mengubur barang
bekas, Menutup, dan Menguras tempat penampungan air ) pada keluarga di Kelurahan Padang
Bulan Tahun 2009.
Penulis selama melakukan penelitian dan penyusunan karya tulis ilmiah ini, memperoleh
bantuan moril dan materiil dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus terutama kepada :
1. Bapak Prof. Dr. dr. Chairuddin P. Lubis, DTM&H, Sp.A(K), selaku rektor Universitas
Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak dr. Liberty Sp.B, selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktunya dalam
proses membimbing serta memberi arahan dalam pengerjaan karya tulis ilmiah ini.
4. Bapak dr .Alfred C.Satyo, Sp.F, selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan petunjukpetunjuk serta nasihat-nasihat dalam penyempurnaan penulisan karya tulis ilmiah ini.
5. Bapak Prof.dr.A.Afif Siregar, Sp.A (K), Sp.JP (K). , selaku Dosen Penguji II yang telah
memberikan masukan-masukan untuk penyempurnaan penulisan karya tulis ilmiah ini.
6. Seluruh Dosen dan pegawai di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang untuk
semua jasa - jasanya dalam memberikan bantuan selama perkuliahan.
7. Bapak Drs. Marim Karo Karo, selaku Kepala Kelurahan Padang Bulan yang telah
memberikan bantuan dan izin melakukan penelitian di Kelurahan tersebut.
8. Kedua orang tua tercinta, H. Bustamam Ganie S.E dan Dra. Hj. Sri Handriaty terima kasih
atas kasih sayang, doa, motivasi dan dukungannya secara moril maupun materil sehingga
penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan baik.

9. Terima kasih buat adikkku tersayang Muhammad Siddiq dan Mila Lailyana atas doa dan
bantuannya selama ini, semoga pengorbanan kita akan memberikan kesuksesan di kemudian
hari nantinya.
10. Teman-temanku : Dina, Derry, Eka, Duma, Deshinta, Amir, Aziela, Afif, Rocky, Wina,
Deshinta dan semua teman-teman seangkatan stambuk 2006 serta yang lainnya yang tidak
tersebutkan terima kasih atas persahabatan dan dukungannya selama ini kepada penulis.

Penulis menyadari penelitian ini terdapat banyak kekurangan dan penulis mengharapkan
semoga karya tulis ilmiah ini akan bermanfaat bagi semua pihak demi perkembangan dan
kemajuan Civitas Akademika.

Medan, 23 November 2009


Penulis

Meutia Wardhanie Ganie


060100381

DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Pengesahan..................................................................................ii
ABSTRAK.................................................................................................... iii
ABSTRACT..................................................................................................iv
Kata Pengantar............................................................................................ v
Daftar Isi.......................................................................................................viii
Daftar Tabel..................................................................................................x
Daftar Gambar.............................................................................................xii
Daftar Lampiran..........................................................................................xiii
BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................ 1
10.1..........................................................................................................Latar Belakang

10.2..........................................................................................................Rumusan Masalah

10.3..........................................................................................................Tujuan Penelitian

10.4..........................................................................................................Manfaat Penelitian 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...................................................................5
2.1 Demam Berdarah Dengue.................................................................5
2.1.1 Definisi.

2.1.2 Etiologi.

2.1.3 Nyamuk Aedes aegypti.......................................................5

2.1.4 Cara Penularan......................................................................


2.1.5 Upaya pengendalian& pencegahan vektor..........................8

2.2 Perilaku.........................................................................................14
2.2.1 Pengetahuan.

15

2.2.2 Sikap.

17

2.2.3 Tindakan...

18

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

19

3.1 Kerangka Konsep......................................................................... 19


3.2 Definisi Operasional.........................................................................19
3.3 Aspek Pengukuran............................................................................20
BAB 4 METODE PENELITIAN................................................................22
4.1 Jenis Penelitian.................................................................................22
4.2 Waktu dan Tempat Penelitian...........................................................22
4.3 Populasi dan Sampel........................................................................22
4.3.1. Populasi ..............................................................................

22

4.3.2. Sampel ................................................................................

22

4.3.3. Besar Sampel .....................................................................

23

4.4 Teknik Pengumpulan Data............................................................... 23


4.4.1. Uji Validitas dan Reliabilitas .............................................

23

4.4.2. Data Primer ........................................................................

25

4.4.3. Data Sekunder .....................................................................

25

4.5 Pengolahan dan Analisa Data...........................................................25


BAB 5 HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN...............................26
5.1. Hasil Penelitian.................................................................................26

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ...............................................


5.1.2. Distribusi Responden Menurut Karakteristik ......................

26
28

5.1.3. Pengetahuan Responden ......................................................

29

5.1.4. Sikap Responden....................................................................31


5.1.5. Tindakan Responden..............................................................32
5.1.6. Hubungan Pengetahuan dan Tindakan Responden .............

34

5.1.7. Hubungan Pengeatahuan Pengetahuan dan Sikap.................34


5.1.8. Hubungan Sikap dan Tindakan Responden ..........................

35

5.2. Pembahasan...................................................................................... 36
5.2.1. Identitas Responden...........................................................36
5.2.2. Pengetahuan Responden .....................................................

36

5.2.3. Sikap Responden .................................................................

38

5.2.4. Tindakan Responden..............................................................39


5.2.5. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Responden..................40
5.2.6. Hubungan Sikap dan Tindakan ..........................................

41

5.2.7. Hubungan Pengetahuan dan Tindakan Responden............41


BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................43
6.1. Kesimpulan....................................................................................... 43
6.2. Saran................................................................................................. 44
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 45
LAMPIRAN.................................................................................................49

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

Tabel 3.1. Definisi Operasional .....

19

Data Hasil Validitas dan Reliabilitas Kuesioner....................


21
Tabel 4.1.

Distribusi Frekuensi Persentasi Responden Menurut Tingkat


usia di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009 ..........
27
Tabel 5.1.

Distribusi Frekuensi Persentasi Responden Menurut Jenis Kelamin


di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009..................
27
Tabel 5.2.

Tabel 5.3.

Distribusi Frekuensi Persentasi Responden Menurut Pendidikan


di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009........................28

Tabel 5.4.

Distribusi Frekuensi Persentasi Responden Menurut Pekerjaan


di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009 ................

29

Tabel 5.5.

Distribusi Frekuensi Persentasi jawaban Responden


Tiap Pertanyaan Pengetahuan Tentang Pelaksanaan
3M di Kelurahan Padang Bulan Medan
Tahun 2009........................................ .................................

Tabel 5.6.

24

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Tingkat Pengetahuan


Responden Tentang Pelaksanaan 3M di Kelurahan Padang
Bulan Medan Tahun 2009 ................................................

Tabel 5.7.

30

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Jawaban Responden


Tiap Pertanyaan Sikap Tentang Pelaksanaan 3M di
Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009......................

Tabel 5.8.

31

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Tingkat Sikap


Responden dalam Pelaksanaan 3M di Kelurahan
Padang Bulan Medan Tahun 2009 ......................................

Tabel 5.9.

32

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Jawaban Responden


Tiap Pertanyaan Tindakan Tentang Pelaksanaan 3M di
Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009 ........................

Tabel 5.10.

32

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Tindakan


Responden Tentang Pelaksanaan 3M di Kelurahan
Padang Bulan Medan Tahun 2009........................................

Tabel 5.11.

33

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Hubungan


Pengetahuan dan Tindakan Responden Tentang Pelaksanaan
3M di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009.......................34

Tabel 5.12.

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Hubingan Pengetahuan


dan Sikap Responden Tentang Pelaksanaan 3M di Kelurahan
Padang Bulan Medan Tahun 2009................................................35

Tabel 5.13.

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Hubungan


Tindakan dan Sikap Responden Tentang Pelaksanaan
3M
di Kelurahan Padang Bulan....................................................

35

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Gambar 2.1.

JUDUL

Bagan Cara Pemberantasan Nyamuk Aedes aegypti..........

Halaman

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN I

Daftar Riwayat Hidup

LAMPIRAN II

Kuesioner Penelitian

LAMPIRAN III

Informed Consent

LAMPIRAN IV

Surat Izin Penelitian

LAMPIRAN V

Distribusi Demam Berdarah Dengue di Kota Medan

LAMPIRAN VI

Master Data
Uji Validitas dan Reliabilitas kuesioner

Hasil Output Data Penelitian

LAMPIRAN VII

Peta Kelurahan Padang Bulan

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Pemerintah Republik Indonesia telah menyusun kebijakan pembangunan kesehatan baru

yaitu gerakan pembangunan berwawasan kesehatan sebagai strategi nasional menuju Indonesia
sehat 2010. Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 adalah meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat
kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, Bangsa dan Negara
Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku
yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara
adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal diseluruh wilayah Republik
Indonesia (Depkes RI,1999).
Demam berdarah dengue merupakan masalah utama penyakit menular di berbagai
belahan dunia. Selama 1 dekade angka kejadian atau incidence rate (IR) DBD meningkat dengan
pesat diseluruh belahan dunia. Diperkirakan 50 juta orang terinfeksi DBD setiap tahunnya dan
2,5 miliar (1/5 penduduk dunia) orang tinggal di daerah endemik DBD.
Pada tahun 2007, dalam angka Case Fatality Rate (CFR) untuk kasus Demam Berdarah
Dengue (DBD) Indonesia menempati urutaan ke empat di ASEAN dengan CFR 1.01 setelah
Bhutan, India, dan Myanmar. Sampai bulan September 2008, didapatkan CFR untuk kasus DBD

menurun menjadi 0.73, namun naik menjadi peringkat ke dua di ASEAN setelah Bhutan
(WHO,2008).
Penyakit DBD pertama kali ditemukan di Indonesia yaitu di Surabaya dan Jakarta pada
tahun 1968, akan tetapi informasi virologist baru didapat pada tahun 1972. Sejak ditemukannya
penyakit DBD pertama kali, jumlah kasus terus meningkat disemua daerah di Indonesia (Depkes
RI,2003).
Angka insiden DBD di Kota Medan selama enam tahun terakhir ini menunjukkan adanya
peningkatan setiap tahunnya yaitu dari 11,8 per 100.000 penduduk pada tahun 2002 menjadi 31,7
per 100.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 39,1 per 100.000 penduduk pada tahun 2004
dan terus melonjak tajam menjadi 97,6 per 100.000 penduduk pada tahun 2005 kemudian
menurun menjadi 62,8 per 100.000 penduduk, pada tahun 2006 kemudian meningkat lagi
menjadi 95,8 per 100.000 penduduk pada tahun 2007 (Dinkes Medan,2008).
Distribusi DBD pada periode 1 januari 2007 sampai dengan Desember 2007 di lima
kecamatan yang tertinggi antara lain: Medan Perjuangan (154 kasus), Medan Tembung (122
kasus), Medan Johor (122 kasus), Medan Selayang (124 kasus), Medan Sunggal (168 kasus),
Medan Helvetia (218 kasus). Sedangkan periode 1 januari 2008 sampai dengan mei 2008
kecamatan yang tertinggi kasus DBDnya adalah kecamatan Medan Sunggal (61 kasus) dan
kecamatan Medan Helvetia (59 kasus). Distribusi DBD pada periode 1 Januari 2008 sampai
dengan Desember 2008 di lima kecamatan tertinggi antara lain:Medan Helvetia (181 kasus),
Medan Johor (173 kasus), Medan Kota (127 kasus),Medan Sunggal (125 kasus ), Medan Baru
( 110 kasus ) data ini bisa terlihat pada lampiran 5 (Dinkes Medan, 2009).
Sehubungan dengan belum ditemukannya obat yang mampu membunuh virus dengue ini,
serta belum adanya vaksin yang efektif untuk mencegahnya, maka pencegahan penyebaran
penyakit ini lebih ditujukan kepada pemberantasan vektornya. (Depkes RI,1995).
Cara yang paling tepat untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti adalah dengan
memberantas jentik nyamuk ditempat perkembangbiakannya. Pemberantasan sarang nyamuk
DBD (PSN-DBD) dapat dilakukan dengan metode 3M serta teknik abatesasi. Adapun program
3M itu terdiri atas: menguras bak mandi seminggu sekali, menutup tempat penampungan air baik
didalam maupun diluar rumah serta mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air

hujan dan memungkinkan air tergenang didalamnya. Pelaksanaan 3M tersebut minimal


dilakukan seminggu sekali (Depkes RI,1995).
Pelaksanaan PSN-DBD memerlukan partisipasi masyarakat. Upaya peningkatan
partisipasi masyarakat telah dilakukan pemerintah Kota Medan berupa pembentukan Kelompok
Kerja Pemberantasan Penyakit DBD (Pokja-DBD) dan kelompok Kerja Operasional
Pemberantasan Penyakit DBD (Pokjanal DBD) di setiap Kecamatan sebagai wadah peran serta
masyarakat. Pokja dan Pokjanal tersebut mempunyai tugas menyusun rencana, menyiapkan data,
menganalisis masalah, serta melakukan pemantauan dan bimbingan teknis. Program
pemberantasan DBD semestinya diaktifkan agar dapat menurunkan angka kesakitan dan
kematian akibat DBD (Depkes RI,1995).
Pada kenyataan angka insiden DBD di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan tetap
tinggi dari tahun ketahun. Dengan demikian, peneliti bertujuan melakukan penelitian terkait
dengan gambaran pengetahuan, sikap, dan tindakan mengenai 3M (Mengubur barang bekas,
Menutup dan Menguras tempat penampungan air) pada keluarga di Kelurahan Padang Bulan.

1.2.

Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran pengetahuan, sikap, dan tindakan mengenai 3M (Menutup Tempat

Penampungan Air, Mengubur barang bekas, Menguras Tempat Penampungan Air) pada keluarga
di Kelurahan Padang Bulan tahun 2009.

1.3.

Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum


Mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan tindakan tentang 3M pada keluarga di
Kelurahan Padang Bulan tahun 2009.
1.3.2. Tujuan khusus
a. Mengetahui pengetahuan masyarakat Kelurahan Padang Bulan tentang pelaksanaan 3M
dalam usaha pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue.
b. Mengetahui sikap masyarakat Kelurahan Padang Bulan, tentang pelaksanaan 3M dalam
usaha pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue.

c. Mengetahui Tindakan masyarakat Kelurahan Padang Bulan tentang pelaksanaan 3M dalam


usaha pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue.

1.4

Manfaat Penelitian

1.4.1. Bagi Puskesmas Medan Baru dan Dinkes Kota Medan


a. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk mengetahui permasalahan dalam usaha
pencegahan penyakit Demam Berdarah dengue sehingga dapat menurunkan angka
kematian akibat penyakit ini.
b. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dalam melaksanakan
usaha pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue.

1.4.2. Bagi Fakultas Kedokteran


a. Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk menambah kepustakaan Fakultas Kedokteran
dalam bidang karya tulis ilmiah.
b. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai pegangan bagi adik-adik junior yang
nantinya akan membuat karya tulis ilmiah.

1.4.3. Bagi Masyarakat


Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai masukan bagi masyarakat dalam
meningkatkan perilaku sehat terhadap penanggulangan penyakit Demam Berdarah
Dengue.

1.4.4. Bagi Peneliti


a. Penelitian ini bermanfaat sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana
Kedokteran (S1) dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
b. Penelitian ini bermanfaat dalam menambah wawasan bagi peneliti di bidang ilmu
penyakit

tropis

pencegahannya.

yakni

Demam

Berdarah

Dengue

khususnya

mengenai

cara

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Demam Berdarah Dengue
2.1.1. Definisi
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan
oleh Virus Dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk tersebut hidup dan
berkembang biak disekitar rumah dan tempat kerja (Depkes RI,2004). Penyakit ini dapat diderita
oleh anak maupun oleh orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, yang
biasanya memburuk setelah dua hari pertama.

2.1.2. Etiologi

Penyebab penyakit Demam Berdarah Dengue adalah Virus Dengue yang termasuk
kelompok B Arthropod Borne Virus ( Arboviruses ) yang sekarang dikenal sebagai genus
Flavivirus, family Flaviviridae, dan mempunyai 4 jenis streotipe, yaitu ; DEN-1, DEN-2, DEN-

3, DEN-4. Infeksi salah satu streotipe akan menimbulkan antibody terhadap serotype yang
bersangkutan, sedangkan antibody yang terbentuk terhadap streotipe lain sangat

kurang,

sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotype lain tersebut.
Keempat serotype virus dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Serotype
DEN-3 merupakan serotype yang dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukkan gejala
klinis (Depkes RI, 2004).

2.1.3. Nyamuk Aedes aegypti


Aedes aegypti telah lama dikenal sebagai penyebar virus Dengue penyebab penyakit
demam berdarah dengue. Nyamuk ini sekarang ditemukan di Negara-negara yang terletak di
antara garis lintang 450 Lintang Utara dan garis 350 Lintang Selatan, kecuali ditempat-tempat
dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.
Penyebaran kosmopolit ini berkaitan erat dengan perkembangan sistem transportasi. Suatu
studi mengenai kepadatan populasi nyamuk ini di Indonesia menunjukkan tidak terdapat
perbedaan yang bermakna antara musim kemarau dan musim penghujan. Namun peneliti lain
mengatakan bahwa kepadatan nyamuk ini meningkat pada musim penghujan dan menurun pada
musim kemarau. (Tri Wulandari,2001). Masa pertumbuhan dan perkembangan nyamuk Aedes
aegypti dapat dibagi menjadi 4 tahap, yaitu telur, larva, pupa, dewasa (imago), sehingga
termasuk metamorphosis sempur na (holometabola).
a.

Telur
Telur nyamuk Aedes aegypti berbentuk elips atau oval memanjang, warna hitam,
ukuran 0.5-0.8 mm, permukaan poligonal, tidak memiliki alat pelampung, dan diletakkan
satu per satu pada benda- benda yang terapung atau pada dinding bagian dalam tempat
penampungan air (TPA) yang berbatasan langsung dengan permukaan air. Dilaporkan
bahwa dari telur yang dilepas, sebanyak 85% melekat di dinding TPA, sedangkan 15%
lainnya jatuh ke permukaan air. Telur nyamuk Aedes aegypti di dalam air dengan suhu
20-40

b.

akan menetas menjadi larva dalam waktu 1-2 hari (Soegeng, 2006).

Larva
Larva nyamuk Aedes aegypti tubuhnya memanjang tanpa kaki dengan bulu-bulu
sederhana yang tersusun secara bilateral simetris. Larva ini dalam pertumbuhan dan

perkembangannya mengalami 4 kali pergantian kulit, dan larva yang terbentuk berturutturut disebut larva instar I, II, III, IV. Pada bagian kepala terdapat sepasang mata
majemuk, Larva ini tubuhnya langsing dan bergerak sangat lincah, bersifat fototaksis
negatif, dan waktu istirahat membentuk sudut hampir tegak lurus dengan bidang
permukaan air. Pada kondisi optimum, larva berkembang menjadi pupa dalam waktu 4-9
hari (Soegeng, 2006).

c.

Pupa
Pupa nyamuk Aedes aegypti bentuk tubuhnya bengkok, dengan bagian

kepala

sampai dada lebih besar bila dibandingkan dengan bagian perutnya, sehingga tampak
seperti tanda baca koma. Pada bagian punggung dada terdapat alat pernafasan seperti
terompet. Pada ruas perut ke-8 terdapat sepasang alat pengunyah yang berguna untuk
berenang. Alat pengayuh tersebut berjumbai panjang dan bulu di nomor 7 pada ruas perut
ke-8 tidak bercabang. Pupa adalah bentuk tidak makan, tampak gerakannya lebih lincah
bila dibandingkan dengan larva. Waktu istirahat posisi pupa sejajar dengan bidang
permukaan air. Pupa berkembang menjadi nyamuk dewasa dalam 2-3 hari (Soegeng,
2006).
d.

Dewasa (Imago)
Nyamuk dewasa Aedes aegypti keluar dari pupa melalui celah antara kepala dan
dada. Nyamuk dewasa betina yang menghisap darah manusia untuk keperluan
pematangan telurnya. Nyamuk ini menyerang manusia dari bagian bawah atau belakang
tubuh mangsanya. Umur Aedes aegypti di alam bebas sekitar 10 hari. Umur ini telah
cukup bagi nyamuk ini mengembangkan Virus Dengue menjadi jumlah yang lebih
banyak dalam tubuhnya (Soegeng, 2006).

2.1.4. Cara Penularan


Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi Virus Dengue, yaitu
manusia, virus dan vektor perantara. Virus Dengue yang ditularkan dari orang melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti dari sub genus Stegomyia. Aedes aegypti betina merupakan faktor
epidemik yang paling utama. Nyamuk Aedes tersebut dapat menularkan Virus Dengue kepada

manusia baik secara langsung yaitu setelah menggigit orang yang mengalami viremia atau tidak
secara langsung yaitu setelah mengalami masa inkubasi dalam tubuhnya selama 8-10 hari. Pada
manusia diperlukan waktu 4-6 hari (intrinsic incubation period) sebelum menjadi sakit setelah
virus masuk ke dalam tubuhnya. Pada nyamuk, sekali virus dapat masuk ke dalam tubuhnya,
maka nyamuk tersebut dapat menularkan virus selama hidupnya (infektif). Penularan dari
manusia kepada nyamuk hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang
mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul
(Hadinegoro,1999).
Seseorang yang didalam darahnya mengandung Virus Dengue merupakan sumber
penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Virus Dengue berada dalam darah selama 47 hari mulai 1-2 hari sebelum demam.
Bila seorang penderita digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terhisap
masuk kedalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di
berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk didalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah
menghisap darah penderita, virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya
(Depkes RI, 1992).

Daerah potensial untuk penularan penyakit DBD (Depkes.RI,1992) adalah :


a.

Wilayah yang banyak kasus DBD (rawan/endemis)

b.

Tempat-tempat umum yang merupakan tempat berkumpulnya orang- orang yang


datang dari berbagai wilayah sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran beberapa
tipe Virus Dengue. Tempat-tempat umum tersebut, antara lain :

1)

2)

Sekolah :
a)

Anak/murid sekolah berasal dari berbagai wilayah

b)

Merupakan kelompok umur yang paling susceptible untuk terserang penyakit DBD.
Rumah sakit/Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya: orang datang dari
berbagai wilayah dan kemungkinan diantaranya adalah penderita DBD, Demam Berdarah
Dengue atau carier Virus Dengue.

3)

Tempat umum lainnya seperti : Hotel, Pertokoan, Pasar, Tempat Ibadah.

4)

Pemukiman baru di pinggir kota: karena di lokasi ini penduduk umumnya berasal dari
berbagai wilayah, maka kemungkinan diantaranya terdapat penderita atau carier yang
membawa tipe Virus Dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi asalnya.

2.1.5. Upaya Pengendalian Vektor dalam Pencegahan Penyakit DBD


Untuk mencegah penyakit DBD, nyamuk penularnya (Aedes aegypti) harus diberantas
sebab vaksin untuk mencegahnya belum ada. Cara tepat untuk memberantas nyamuk Aedes
aegypti adalah memberantas jentik-jentiknya di tempat perkembangbiakannya. Cara ini dikenal
dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD (PSN-DBD). Oleh karena tempat-tempat
perkembangbiakannya terdapat di rumah-rumah dan tempat-tempat umum maka setiap keluarga
harus melaksanakan PSN-DBD secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali (Depkes
RI,1995).

PSN-DBD tersebut dapat digambarkan pada bagan berikut :

nN NYAMUK

Dengan insektisida (fogging)

DEWASA

Kimia

JENTIK
NYAMUK

gan PSN

D
en

Biologi
Fisik

Gambar 2.1. Bagan cara pemberantasan nyamuk Aedes Sp.


Sumber : Depkes.RI (1992).

Bagan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:


a.

Dengan Insektisida
Adapun yang dimaksud dengan pencegahan dengan menggunakan insektisida
adalah dengan cara fogging. Sistem ini menghasilkan fog dengan cara memecahkan
tetesan larutan racun serangga oleh dorongan atau hantaman gas panas, sehingga menjadi
butiran (droplet) larutan serangga yang sangat kecil dan terkumpul merupakan fog kabut.
Ukuran droplet tersebut berkisar antara 5-100 mikrometer. Insektisida yang digunakan
dalam system thermal fogging biasanya dilarutkan dalam minyak solar atau minyak tanah
biasa. Sasaran fogging adalah rumah atau bangunan dan halaman atau pekarangan
sekitarnya. Waktu operasi pagi hari atau sore hari untuk pengendalian nyamuk Aedes,
karena puncak aktivitas menggigit Aedes pagi hari atau sore hari. Namun pemakaian
insektisida tidak mungkin dilakukan terus-menerus, sebab selain mahal, dapat mencemari
lingkungan dan menyebabkan munculnya generasi nyamuk yang resisten terhadap
insektisida yang bersangkutan (Agriculture, fisheries and conservation Departement
Hongkong,2006).

b.

Tanpa Insektisida
Cara yang paling penting dalam pengendalian vektor adalah penatalaksanaan
lingkungan dengan suatu pandangan untuk mencegah atau mengurangi perkembangan
vektor dan kontak manusia-vektor- patogen. Pemberantasan terhadap jentik (larva) Aedes
aegypti yang dikenal dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), dilakukan
dengan cara :

1.

Kimia

Cara memberantas jentik (larva) Aedes aegypti dengan menggunakan insektisida


pembasmi jentik (larvasida) ini dikenal dengan istilah abatesasi. Formulasi temephos
yang digunakan ialah granules (sand granules). Dosis yang digunakan 1 ppm atau 10 gr

( 1 sendok makan rata) residu 3 bulan. Selain itu dapat digunakan pula Bacillus
thuringlensis var, israeliensis (btl) atau golongan insect growth regulator (Depkes
RI,1992).
2.

Biologi
Intervensi yang didasarkan pada pengenalan organisme pemangsa, parasit, yang
bersaing dengan atau cara penurunan jumlah Aedes aegypti masih menjadi percobaan,
dan informasi tentang keampuhannya didasarkan pada hasil operasi lapangan yang
berskala kecil.
Cara yang bisa digunakan adalah dengan memelihara :
a) Ikan gambusia affinis dan poicilia reticulate sebagai predator (pemakan larva nyamuk)
b) Mesocyclop aspericornis sebagai predator larva stadium 1
c) Larva toxorhynchites sp. Sebagai predator larva stadium instar 1,2,3 larva Aedes
d) Endotoksin bacillus thuringienis var. israelensis serotip H-14 sebagai biolarva terhadap
Aedes dan Anopheles.
e) Hormon yang dapat menghambat perkembangan nyamuk atau insect Growth Regulator
(IGR) seperti pyriproxyfen. Pyriproxyfen ini dapat menghambat perkembangan nyamuk
Aedes.
Kerugian dari tindakan pengendalian biologis mencakup mahalnya pemeliharaan
organisme,

kesulitan

dalam

penerapan

dan

produksinya

serta

keterbatasan

penggunaannya pada tempat-tempat yang mengandung air dimana suhu, pH, dan polusi
organik dapat melebihi kebutuhan sempit agen, juga fakta bahwa pengendalian biologis
ini hanya efektif terhadap tahap imatur dari nyamuk vektor (WHO,1999)
3.

Fisik
Manajemen

lingkungan

mencakup

semua

yang

dapat

mencegah

atau

meminimalkan perkembangbiakan vektor sehingga kontak antara manusia dan vektor


berkurang. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan tiga jenis manajemen
lingkungan yakni :

Modifikasi Lingkungan : pengubahan fisik habitat larva yang tahan lama

Manipulasi lingkungan: pengubahan sementara habitat vektor yang memerlukan


pengaturan wadah yang penting dan yang tidak penting ; serta manajemen atau
pemusnahan tempat perkembangbiakan alami nyamuk.

Perubahan habitasi atau perilaku manusia : upaya untuk mengurangi kontak antara
manusia dan vektor.

Di Indonesia metode ini lebih dikenal sebagai metode Pemberantasan Sarang Nyamuk
Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) atau 3M (Menutup tempat penampungan air, Mengubur
Barang-barang bekas,Menguras bak mandi), (WHO, 2004).
Adapun titik fokus dalam Manajemen lingkungan adalah:
a)

Modifikasi Lingkungan

Perbaikan persediaan air

Tanki atau reservoir diatas atau bawah tanah harus anti nyamuk

b)

Manipulasi Lingkungan

Drainase instalasi persediaan air


Tumpah/bocornya air dalam bangunan pelindung, dari pipa distribusi dan sumber air
lainnya menyebabkan air tergenang dan dapat menjadi habitat yang penting untuk larva
Aedes aegypti jika tindakan pencegahan tidak dilakukan.

Penyimpanan air rumah tangga


Sumber utama perkembangbiakan Aedes aegypti adalah wadah penyimpanan air untuk
kebutuhan rumah tangga yang mencakup gentong air dari tanah liat, keramik, dan wadah
yang berukuran kecil untuk menampung air bersih atau air hujan. Wadah penyimpanan
harus ditutup dengan tutup yang pas dan rapat yang harus ditempatkan kembali dengan
benar setelah mengambil air.

Pot/vas bunga dan jebakan semut


Benda-benda tersebut harus dilubangi untuk saluran air keluar. Tindakan lainnya, bunga
harus ditempatkan diatas wadah yang berisi pasir dan air. Bunga tersebut harus diganti
dan dibuang setiap minggu dan vas digosok serta dibersihkan sebelum pakai

kembali.

Jebakan semut untuk melindungi rak penyimpanan makanan dapat ditambahkan garam
dapur atau minyak.

Pembuangan sampah padat


Sampah padat seperti, kaleng, botol, ember atau benda yang tak terpakai lainnya yang
berserakan di sekeliling rumah harus dibuang dan dikubur di tempat penimbunan sampah.
Barang-barang pabrik dan gudang yang tak terpakai harus disimpan dengan benar sampai
saatnya dibuang.peralatan rumah tangga dan kebun harus disimpan dalam kondisi
terbalik untuk menghindari tertampungnya air hujan. Sampah tanaman (batok kelapa,
pelepah kakao) harus dibuang dengan benar tanpa menunda-nunda.

Manajemen Ban
Ban bekas kendaraan meruapakan lokasi utama perkembangbiakan nyamuk Aedes
sehingga menimbulkan satu masalah kesehatan masyarakat yang penting. Depot ban
bekas harus tertutup untuk mencegah tergenangnya air hujan dalam ban. Ban bekas juga
bisa kita daur ulang untuk menghindari ban menjadi sarang nyamuk.

c)

Perubahan habitasi manusia untuk mengurangi kontak dengan vektor

Pakaian pelindung
Pakaian mengurangi resiko tergigit nyamuk jika pakaian itu cukup tebal atau longgar.
Baju lengan panjang dan celana panjang dengan kaus kaki dapat melindungi tangan dan
kaki, yang merupakan tempat yang paling sering terkena gigitan nyamuk. Menambahkan
zat kimia pada pakaian, misalnya dengan permentrin, merupakan tindakan yang sangat
efektif untuk mencegah gigitan nyamuk.

Tikar, Obat nyamuk bakar, dan Aerosol

Penolak serangga

Insektisida untuk Kelambu dan korden

Kelambu yang diberi insektisida (insecticide-treated mosquito nets,ITMN). Kegunaannya


sangat terbatas dalam program pengendalian penyakit dengue karena spesies vektor
menggigit pada siang hari.

Dari semua cara pengendalian tersebut diatas tidak ada satupun yang paling unggul. Untuk
menghasilkan cara yang efektif maka dilakukan kombinasi dari beberapa cara tersebut diatas.
Tapi yang paling penting diatas semua cara tersebut adalah menggugah dan meningkatkan
kesadaran masyarakat agar mau memperhatikan kebersihan lingkungannya dan memahami
tentang mekanisme terjadinya penularan penyakit DBD, sehingga dapat berperan secara aktif
menanggulangi penyakit DBD (WHO, 2004).
Penyuluhan kesehatan sangat penting dalam meningkatkan partisipasi masyarakat.
Sementara itu perubahan perilaku manusia memerlukan proses yang panjang berkelanjutan.
Penyuluhan perorangan maupun kelompok untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat harus
diprioritaskan, terutama didaerah endemis dan wilayah resiko tinggi terjangkit DBD. Penyuluhan
kesehatan dilaksanakan melalui saluran komunikasi personal, kegiatan kelompok, dan berbagai
media massa (Depkes RI, 2004).

2.2. Perilaku
Perilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme
yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas daripada
manusia itu sendiri. Untuk kepentingan kerangka analisis dapat dikatakan bahwa perilaku adalah
apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung atau secara
tidak langsung.
Menurut Robert Kwick (1974) dalam Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa perilaku
adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari.
Perilaku tidak sama dengan sikap. Sikap adalah hanya suatu kecenderungan untuk mengadakan
tindakan terhadap suatu objek, dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk
menyenangi atau tidak menyenangi objek tersebut. Sikap hanyalah sebagian dari perilaku
manusia.
Becker (1979) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan (health
related behavior) sebagai berikut:

a)

Perilaku kesehatan (health behavior), yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau
kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Termasuk

juga

tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, memilih makanan,


sanitasi, dan sebagainya.
b)

Perilaku sakit (illness behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang individu yang merasa sakit, untuk merasakan dan mengenal keadaan
kesehatannya atau rasa sakit. Termasuk disini juga kemampuan atau pengetahuan
individu untuk mengidentifikasi penyakit, penyebab penyakit, serta usaha-usaha
mencegah penyakit tersebut.

c)

Perilaku peran sakit (the sick role behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang
dilakukan oleh individu yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan. Perilaku ini
disamping berpengaruh terhadap kesehatan/kesakitannya sendiri, juga berpengaruh
terhadap orang lain, terutama kepada anak-anak yang belum mempunyai kesadaran dan
tanggung jawab terhadap kesehatannya.
Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan, dan untuk
kepentingan pengukuran hasil pendidikan, ketiga domain ini diukur dari:

a.

Pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (knowledge).

b.

Sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (attitude).

c.

Praktek atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi
pendidikan yang diberikan (practice).
Terbentuknya suatu perilaku baru, terutama pada orang dewasa dimulai pada
domain kognitif, dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa
materi atau objek di luarnya.

2.2.1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui. Manusia memiliki rasa ingin tahu, lalu
ia mencari, hasilnya ia tahu sesuatu. Sesuatu itulah yang dinamakan pengetahuan.
Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu dan pengalaman seseorang dalam
melakukan penginderaan terhadap suatu rangsangan tertentu. Pengetahuan tau kognitif

merupakan dominan yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt
behavior).
Kedalaman pengetahuan yang diperoleh seeorang terhadap suatu rangsangan dapat
diklasifikasikan berdasarkan enam tingkatan, yakni:
a. Tahu (Know)
Merupakan mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk ke
dalam tingkatan ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari
seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu, tahu
merupakan tingkatan pengalaman yang paling rendah.
b. Memahami (Comprehension)
Merupakan suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar objek yang diketahui.
Orang telah paham akan objek atau materi harus mampu menjelaskan, menyebutkan
contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (Application)
Kemampuan dalam menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi
yang sebenarnya.
d. Analisis (Analysis)
Kemampuan dalam menjabarkan materi atau suatu objek dalam komponen-komponen,
dan masuk ke dalam struktur organisasi tersebut.
e. Sintesis (Synthesis)
Kemampuan dalam meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu
bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (Evaluation)
Kemampuan dalam melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek (Notoatmodjo,
2005).

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang


menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.
Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan
tingkat-tingkat tersebut diatas.

2.2.2. Sikap
Sikap (attitude) menurut Sarwono (2003) adalah kesiapan atau kesediaan seseorang untuk
bertingkah laku atau merespons sesuatu baik terhadap rangsangan positif maupun rangsangan
negatif dari suatu objek rangsangan. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan
tetapi merupakan faktor predisposisi bagi seseorang untuk berperilaku.
Merupakan respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.
Manifestasi sikap tidak langsung dilihat akan tetapi harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai
tingkah laku yang tertutup.
Menurut Allport (1954) seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2005), sikap mempunyai
pokok, yakni:
a. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
b. Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu konsep
c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave) Sikap
terdiri dari berabagai tingakatan, antara lain :
a. Menerima (Receiving)
Mau dan memperhatikan stimulus atau objek yang diberikan.
b. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang
diberikan.
c. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain mengerjakan atau mendiskusikan masalah.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Mempunyai tanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dipilihnya dengan segala
resiko.
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan dapat juga tidak. Secara langsung
dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pertanyaan respon terhadap suatu objek. Orang lain
berperilaku bertentangan dengan sikapnya, dan bisa juga merubah sikapnya sesudah yang
bersangkutan merubah tindakannya. Namun secara tidak mutlak dapat dikatakan bahwa
perubahan sikap merupakan loncatan untuk terjadinya perubahan perilaku.

2.2.3. Tindakan
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behaviour). Untuk
mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu
kondisi yang memungkinkan.
Tindakan dibedakan atas beberapa tingkatan :
a. Persepsi (Perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil
adalah merupakan praktek tingkat pertama.
b. Respon terpimpin (guided response)
Dapat melakukan sesuatau sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh
adalah merupakan indicator raktek tingkat dua.
c. Mekanisme (mechanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau
sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.
d. Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik.

BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1.

Kerangka Konsep

PENGETAHUAN
3M

SIKAP

(Mengubur,Menutup, Menguras)

TINDAKAN

3.2.Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel

Definisi operasional

o.
1.

3M

Mengubur

barang

Cara

Hasil

Skala

Ukur

Ukur

Ukur

bekas, kuesio

Menutup tempat penampungan ner


air,

Menguras

tempat

penampungan air).
2.

Keluarga

Pada penelitian ini suami sebagai kuesio


kepala rumah tangga atau istri ner
sebagai

perwakilannya

suami tidak ada dirumah

jika

Pengetah

Segala sesuatu yang diketahui Kuesi

1:Baik

Ordi

uan

responden

2:

nal

tentang

(Mengubur,

3M oner

Menutup,

Menguras)

Sedang
3:
Kurang

Sikap

Tanggapan
responden

atau

reaksi Kuesi

tentang

3M oner

(Mengubur,Menutup, Menguras)

1: Baik

Ordi

2:

nal

Sedang
3:
Kurang

Tindakan

Segala

sesuatu

yang

1:Baik

Ordi

dilakukan responden sehubungan oner

2:

nal

dengan pengetahuan dan sikap

Sedang

tentang

3:

3M

telah Kuesi

(Menguras,

Menutup, Mengubur)

3.3.

Aspek Pengukuran

3.3.1.

Pengetahuan

Kurang

Pengetahuan responden diukur melalui 6 pertanyaan. Responden yang menjawab Benar


diberi skor 1 sedangkan yang menjawab Salah diberi skor 0. Jadi, skor tertinggi yang dapat
dicapai responden adalah 6.
Selanjutnya dikategorikan atas baik, sedang, kurang, dengan definisi sebagai berikut:
(Pratomo,1986)
a.

Baik, apabila responden mengetahui sebagian besar atau seluruhnya tentang 3M (skor
jawaban responden >75% dari nilai tertinggi yaitu >4).

b.

Sedang, apabila responden mengetahui sebagian tentang 3M (Skor jawaban responden


40%-75% dari nilai tertinggi yaitu 2-4).

c.

Kurang, apabila responden mengetahui sebagian kecil tentang 3M (Skor


responden <40% dari nilai tertinggi yaitu <2).

jawaban

3.3.2. Sikap
Sikap diukur melalui 5 pertanyaan dengan menggunakan skala Guttman, Responden
yang menjawab benar akan diberi skor 1, sedangkan jika menjawab salah diberi skor 0, sehingga
skor tertinggi yang dapat dicapai responden adalah 5 (Riduwan, 2005).
Selanjutnya dikategorikan atas baik, sedang dan kurang, dengan definisi sebagai berikut
: (Pratomo, 1986)
a.

Baik, apabila responden memiliki sikap yang baik terhadap sebagian besar atau
seluruhnya tentang 3M (skor jawaban responden >75% dari nilai tertinggi yaitu >4).

b.

Sedang, apabila responden memiliki sikap yang baik terhadap sebagian tentang 3M (Skor
jawaban responden 40%-75% dari nilai tertinggi yaitu 2-4).

c.

Kurang, apabila responden memiliki sikap yang baik terhadap sebagian kecil tentang
3M(skor jawaban responden <40% dari nilai tertinggi yaitu<2).

3.3.3. Tindakan
Tindakan diukur melalui 5 pertanyaan, responden yang menjawab benar akan diberi skor
1 sedangkan jika menjawab salah diberi skor 0. Sehingga total skor tertinggi yang dapat dicapai
responden adalah 5.
Selanjutnya dikategorikan atas baik, sedang dan kurang dengan definisi sebagai berikut:
a.

Baik, apabila skor jawaban responden >75% dari nilai tertinggi yaitu >4.

b.

Sedang, apabila skor jawaban responden 40%-75% dari nilai tertinggi yaitu 2-4.

c.

Kurang, apabila skor jawaban responden <40% dari nilai tertinggi yaitu <2.

BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yakni menggambarkan pengetahuan, sikap, dan
tindakan mengenai 3M (Mengubur barang-barang bekas, Menutup, dan Menguras Tempat
Penampungan air) pada keluarga di Kelurahan Padang Bulan. Metode penelitian deskriptif
adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran
tentang suatu keadaan secara objektif.

4.2. Waktu & Tempat Penelitian


Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Medan Baru, Kelurahan Padang Bulan, Medan.
Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan pada laporan Dinas Kesehatan Kota Medan tahun
2008 yang menyatakan bahwa Incidence Rate (IR) tertinggi untuk penyakit Demam Berdarah
Dengue adalah Kecamatan Medan Baru khususnya Kelurahan Padang Bulan. Penelitian ini
dilakukan terhadap seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian dilaksanakan
selama bulan Maret-Desember 2009, sedangkan pengambilan data telah dilakukan selama bulan
Juli- November 2009.

4.3. Populasi & Sampel


4.3.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh Kepala keluarga di Kelurahan Padang Bulan.
Jumlah populasi kepala keluarga di Kelurahan Padang Bulan adalah sebanyak 2575
Kepala Keluarga (Kelurahan Padang Bulan,2007)

4.3.2. Sampel

Pengambilan Sampel menggunakan cara Quota Sampling, semua subjek yang memenuhi
kriteria inklusi dimasukkan dalam penelitian hingga jumlah sampel yang dibutuhkan terpenuhi
(Sastroasmoro,2008).
Kriteria inklusi yang digunakan adalah :
a.

Sampel yang akan diwawancarai adalah kepala keluarga atau pasangannya.

b.

Sudah tinggal di kelurahan Padang Bulan selama minimal 6 bulan.


Sedangkan kriteria eksklusi adalah:

a.

Tidak bersedia diikutsertakan dalam penelitian

b.

Data tidak lengkap.

4.3.3. Besar Sampel


Dari jumlah populasi kepala keluarga yang diketahui, maka menurut (Notoatmodjo,2005)
rumus yang digunakan untuk perhitungan sampel adalah :

n=
keterangan :
N = Besar populasi
n = Besar sampel
d = Tingkat kepercayaan/ ketepatan yang diinginkan yakni 0,1

Setelah dilakukan perhitungan dengan diketahui jumlah populasi pada Kelurahan Padang
Bulan adalah berjumlah 2575 kepala keluarga maka didapati besar sampel sebanyak 99 orang.

4.4. Teknik Pengumpulan Data


4.4.1. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji coba kuesioner telah dilakukan sebelum digunakan pada subjek penelitian, untuk
mengetahui validitas dan reliabilitas. Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur

itu benar-benar mengukur apa yang diukur. Reliabilitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh
mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Notoatmodjo,2005). Uji coba

dilakukan terhadap kuesioner pengetahuan, dan sikap. Uji tersebut dilakukan terhadap 20 orang
responden yang memenuhi kriteria inklusi yang telah ditentukan sebelumnya. Responden yang
dijadikan sampel untuk uji validitas ini terdiri dari beragam tingkat pendidikan dimulai dari guru,
pedagang, ibu rumah tangga, dan petugas kesehatan yang berada di Kelurahan Sei.Sikambing CII Medan Kecamatan Medan Helvetia.
Hasil uji validitas dan reliabilitas akan di sajikan pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.1
Data Hasil Validitas dan Reliabilitas Kuesioner
Total
Variabel

Nomor
Pertanyaa

Pearson
Correlation

Status

Alph
a

Status

0.622

Reliabel

n
Pengetahuan 1

0.464

Valid

0.446

Valid

Reliabel

0.510

Valid

Reliabel

0.676

Valid

Reliabel

0.451

Valid

Reliabel

0.477

Valid

Reliabel

0.518

Valid

0.652

Valid

Reliabel

0.486

Valid

Reliabel

10

0.579

Valid

Reliabel

Sikap

0.728

Reliabel

11

0.518

Valid

Reliabel

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari keseluruhan 23 item yang diuji validitas dan
reliabilitasnya, dimana pertanyaan tersebut bersumber dari penelitian-penelitian sebelumnya dan
hasil rancangan dari peneliti sendiri didapatkan jumlah item pertanyaan yang valid dan reliabel
sebanyak 11 item, dengan 6 item untuk pertanyaan pengetahuan dan 5 item untuk pertanyaa
sikap. Selanjutnya peneliti menambahkan 5 pertanyaan yang merupakan pertanyaan untuk
mengukur tindakan. Sehingga total jumlah pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner tersebut
adalah 16 pertanyaan.

4.4.2. Data Primer


Data primer diperoleh melalui kuesioner yang berisikan daftar pertanyaan-pertanyaan
yang telah disusun sesuai dengan tujuan penelitian yang akan disebarkan pada responden yang
memenuhi kriteria inklusi.

4.4.3. Data Sekunder


Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara, Dinkes Kota
Medan, Puskesmas Padang Bulan, Kantor Camat Medan Baru, kantor kelurahan Padang Bulan
dan kepala lingkungan pada daerah penelitian.

4.5. Pengolahan & Analisa Data


Akan dikumpulkan data primer yakni data diperoleh dari kuesioner penelitian yang telah
disiapkan dan kemudian diberikan kepada responden yang terpilih. Terlebih dahulu kuesioner
dilakukan uji validitas untuk mengetahui apakah kuesioner yang digunakan menggambarkan
tujuan dari penelitian tersebut (valid). Uji validitas dilakukan dengan uji korelasi antara skor
(nilai) tiap-tiap item pertanyaan dengan skor total kuesioner tersebut. Adapun teknik korelasi
yang biasa dipakai adalah teknik korelasi product moment dan untuk mengetahui apakah nilai
korelasi tiap-tiap pertanyaan itu significant, maka dapat menggunakan SPSS untuk mengujinya.
Pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahapan, tahap pertama editing yaitu
mengecek nama dan kelengkapan identitas maupun data responden serta memastikan bahwa
semua jawaban telah diisi sesuai petunjuk, tahap kedua coding yaitu memberi kode atau angka

tertentu pada kuesioner untuk mempermudah waktu mengadakan tabulasi dan analisa, tahap
ketiga entry yaitu memasukkan data dari kuesioner ke dalam program komputer dengan
menggunakan program SPSS versi 12.0, tahap ke empat adalah melakukan cleaning yaitu
mengecek kembali data yang telah di entry untuk mengetahui ada kesalahan atau tidak. Hasil
penelitian akan di tampilkan dalam bentuk tabel distribusi.

BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian


5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Kelurahan Padang Bulan merupakan salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan
Medan Baru, Kotamadya Medan, Propinsi Sumatera Utara dimana jarak antara kelurahan dengan
kelurahan lain hanya dibatasi oleh jalan.
Adapun batas-batas sebagai berikut :
a.

Sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Merdeka/Darat

b.

Sebelah Selatan berbatasan dengan kelurahan Titi Rantai

c.

Sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Padang Bulan Selayang I

d.

Sebelah Timur berbatasan dengan kelurahan Polonia


Luas areal kelurahan secara keseluruhan 168 ha, sebagian besar tanah dipergunakan untuk

pemukiman dan sebagian lagi untuk perdagangan.


Penghasilan utama dari kelurahan Padang Bulan Medan adalah berdagang dan sebagian
penduduk lainnya bekerja sebagai pegawai negeri/swasta (Wiraswasta) dan para istri tidak
bekerja.

5.1.2. Distribusi Responden Menurut Karakteristik

Hasil pengumpulan data dari bapak-bapak dan ibu-ibu yang digunakan sebagai responden
melakukan wawancara dalam bentuk kuesioner di Kelurahan Padang Bulan Medan dapat
disajikan dalam bentuk kuesioner di Kelurahan Padang Bulan Medan dapat disajikan dalam
bentuk sebagai berikut :

Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi dan Persentasi Responden Menurut Tingkat Usia Di Kelurahan
Padang Bulan Medan Tahun 2009
Responden
RENTANG USIA

Frekuensi

20 Tahun 30 Tahun

19

19.2

31 Tahun 40 Tahun

30

30.3

41 Tahun 50 Tahun

23

23.2

51 Tahun 60 Tahun

12

12.1

61 Tahun 70 Tahun

9.1

71 Tahun 80 Tahun

6.1

Jumlah

99

100

Dari tabel 5.1 terlihat bahwa sebagian besar responden adalah berusia antara 31
tahun s/d 40 tahun (30.3%) yang kemudian berusia antara 41 tahun s/d 50 tahun (23.3%),

usia 20 tahun s/d 30 tahun (19.2%), usia 51 tahun s/d 60 tahun (12.1%), usia 61 tahun s/d
70 tahun (9.1%), usia 71 tahun s/d 80 tahun (6.1%).

Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi dan Persentasi Responden Menurut Jenis Kelamin Di Kelurahan
Padang Bulan Medan Tahun 2009
No

Responden
JENIS KELAMIN

Frekuensi

Wanita

68

68.7

Pria

31

31.3

JUMLAH

99

100

Dari tabel 5.2 terlihat bahwa sebagian besar responden adalah Wanita ( 68.7%) dan
selebihnya adalah Pria (31.3%).

Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi dan Distribusi Responden Menurut Pendidikan Di Kelurahan Padang
Bulan Medan Tahun 2009
No

Responden
PENDIDIKAN

Frekuensi

Tidak tamat SD

4.0

SD/Sederajat

10

10.1

SMP/Sederajat

24

24.2

4
5

SMA/Sederajat
Akademi

37
3

37.4
3.0

Perguruan Tinggi

21

21.2

Jumlah

99

100

Dari tabel 5.3 terlihat bahwa sebagian besar besar responden adalah berpendidikan SMA
(37%) yang kemudian berpendidikan SMP (24.2%), SD (10.1%), Perguruan Tinggi (21.2%), dan
responden yang berpendidikan Akademi (3.0%) serta yang tidak tamat SD (4.0%).

Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi dan Persentasi Responden Menurut Jenis Pekerjaan Di Kelurahan
Padang Bulan Medan Tahun 2009
No

Responden
JENIS PEKERJAAN

Frekuensi

Tidak Bekerja

52

52.5

Wiraswasta

21

21.2

Bidang jasa

3.0

Bidang kesehatan

2.0

5
6

B.pend & pemerintahan

Pedagang
Jumlah

9
12

9.1
12.1

99

100

Dari tabel 5.4 terlihat bahwa sebagian besar responden Tidak bekerja (52.5%), Wiraswasta
(21.2%), Pedagang (12.1%), Bidang Jasa (3%), Bidang Pendidikan & Pemerintahan ( 9.1%).
5.1.3. Pengetahuan Responden
Dari tabel 5.5 terlihat bahwa pada pertanyaan pertama responden lebih banyak menjawab
dengan Benar (67.7%), Menjawab Salah (32.3%). Untuk pertanyaan kedua yang Menjawab
Benar (28.3%), yang menjawab Salah (71.1%). Pada pertanyaan ketiga yang menjawab Benar
(56.6%), Yang menjawab Salah 43.3%). Pada pertanyaan keempat yang menjawab dengan Benar
(97.0%), yang menjawab Salah (3.0%), pada pertanyaan kelima yang menjawab dengan Benar
(68.7%), Yang menjawab Salah (31.3%). Dan untuk pertanyaan Keenam Benar (61.6%), Yang
menjawab Salah (38.4%).

Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi dan Persentasi Jawaban Responden Tiap Pertanyaan
Pengetahuan Tentang Pelaksanaan 3M di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009
No

Responden
Pertanyaan
Pengetahuan

BENAR
Frekuensi

SALAH
%

Frekuensi

Pertanyaan 1

67

67.7

32

32.3

Pertanyaan 2

28

28.3

71

71.1

Pertanyaan 3

56

56.6

43

43.3

Pertanyaan 4

96

97.0

3.0

Pertanyaan 5

68

68.7

31

31.3

Pertanyaan 6

61

61.6

38

38.4

Tabel 5.6
Distribusi

Frekuensi

dan

Persentasi

Tingkat

Pengetahuan

Responden

Pelaksanaan 3M Di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009


No

Responden
Pengetahuan

Baik

Frekuensi

36

36.4

Tentang

Sedang

54

54.5

Kurang

9.1

Jumlah

99

100

Dari tabel 5.6 terlihat bahwa sebagian besar tingkat pengetahuan respoden adalah
Sedang (54,5%), Tingkat Pengetahuan Baik (36.4%), dan tingkat pengetahuan Kurang
hanya sebagian kecil saja yaitu (9.1%).

5.1.4. Sikap Responden


Dari tabel 5.7 terlihat bahwa pada pertanyaan pertama responden lebih banyak menjawab
dengan Benar (84.8%), Menjawab Salah (15.2%). Untuk pertanyaan kedua yang Menjawab
Benar (84.8%), yang menjawab Salah (15.2%). Pada pertanyaan ketiga yang menjawab Benar
(74.7%), Yang menjawab Salah 25.3%). Pada pertanyaan keempat yang menjawab dengan Benar
(96.0%), yang menjawab Salah (4.0%), pada pertanyaan kelima yang menjawab dengan Benar
(97.0%), Yang menjawab Salah (3.0%).

Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi dan Persentasi Jawaban Responden Tiap Pertanyaan Sikap Tentang
Pelaksanaan 3M di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009
Responden
No

Pertanyaan Sikap

Pertanyaan 1

BENAR

SALAH

Frekuensi

Frekuensi

84

84.8

15

15.2

Pertanyaan 2

84

84.8

15

15.2

Pertanyaan 3

74

74.7

25

25.3

Pertanyaan 4

95

96.0

4.0

Pertanyaan 5

96

97.0

3.0

Tabel 5.8
Distribusi Frekuensi dan Persentasi Tingkat Sikap Responden Tentang

Pelaksanaan

3M Di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009


Responden
No

Sikap

Baik

56

56.6

Sedang

43

43.4

Jumlah

Frekuensi

99

100

Dari tabel 5.8 terlihat bahwa sebagian besar sikap respoden adalah Baik (56.6%),
Sikap dalam skala Sedang (43.4%), dan sikap yang termasuk dalam skala kurang tidak
ditemukan pada responden.

5.1.5. Tindakan Responden

Tabel 5.9

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Jawaban Responden Tiap Pertanyaan Tindakan


Tentang Pelaksanaan 3M di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009
No

Responden
Pertanyaan
Tindakan

BENAR

SALAH

Frekuensi

Frekuensi

Pertanyaan 1

50

50.5

49

49.5

Pertanyaan 2

44

44.4

55

55.6

Pertanyaan 3

78

78.8

21

21.2

Pertanyaan 4

73

73.7

26

26.3

Pertanyaan 5

85

85.9

14

14.1

Dari tabel 5.9 terlihat bahwa pada pertanyaan pertama responden lebih banyak menjawab
dengan Benar (50.5%), Menjawab Salah (49.5%). Untuk pertanyaan kedua yang Menjawab
Benar (44.4%), yang menjawab Salah (55.6%). Pada pertanyaan ketiga yang menjawab Benar
(78.8%), Yang menjawab Salah (21.2%). Pada pertanyaan keempat yang menjawab dengan
Benar (73.7%), yang menjawab Salah (26.3%), pada pertanyaan kelima yang menjawab dengan
Benar (85.9%), Yang menjawab Salah (14.1%).

Tabel 5.10

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Tindakan Responden Tentang Pelaksanaan 3M Di


Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009
No

Responden
Tindakan

Frekuensi

Baik

18

18.2

Sedang

75

75.8

Kurang

6.1

99

100

Jumlah

Dari tabel 5.10 terlihat bahwa sebagian besar tindakan respoden adalah Sedang
(75.8%), Tindakan Baik (18.2%), dan tingkat pengetahuan Kurang hanya sebagian kecil
saja yaitu (6.1%) .

5.1.6. Hubungan Pengetahuan dan Tindakan Responden

Tabel 5.11

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Hubungan Pengetahuan dan Tindakan Responden


Tentang Pelaksanaan 3M Di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009
N
o

Tindakan Baik
Pengetah
uan
Frekuensi

Tindakan Sedang

Tindakan
Kurang

Frekuensi

Frekuensi

Baik

13.9

28

77.8

8.3

Sedang

11

20.4

41

75.9

3.7

Kurang

22.2

66.7

11.1

Dari tabel 5.11 dapat dilihat bahwa responden dengan tingkat pengetahuan baik
menunjukkan tindakan baik (13.9%) dan Sedang (77.8%) serta responden yang Tindakannya
Kurang (8.3%). Responden dengan tingkat pengetahuan Sedang dengan Tindakan baik (20.4%),
dengan tindakan sedang (75.9%), dan dengan tindakan yang kurang (3.7%). Responden dengan
tingkat Pengetahuan Kurang dengan Tindakan baik (22.2%), tindakan sedang (66.7%), tindakan
kurang (11.1%).

5.1.7. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Responden


Dari tabel 5.12 dapat dilihat bahwa responden dengan tingkat pengetahuan baik
menunjukkan sikap baik (75.0%), dan dengan sikap sedang (25.0%). Responden dengan tingkat
pengetahuan sedang menunjukkan sikap baik (48.1%) dan yang menunjukkan sikap sedang
(51.9%). Responden dengan tingkat pengetahuan kurang menunjukkan sikap baik ( 33.3%) dan
yang menunjukkan sikap kurang (66.7%).

Tabel 5.12

Distribusi Frekuensi dan Persentasi Hubungan Pengetahuan dan Sikap Responden


Tentang Pelaksanaan 3M Di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009
No

Sikap Baik
Pengetahuan

Frekuensi

Sikap Sedang
%

Frekuensi

Jumlah

Baik

27

75.0

25.0

36

Sedang

26

48.1

28

51.9

54

Kurang

33.3

66.7

Jumlah

56

43

99

5.1.8. Hubungan Sikap dan Tindakan Responden

Tabel 5.13
Distribusi Frekuensi dan Persentasi Hubungan Tindakan dan Sikap Responden Tentang
Pelaksanaan 3M Di Kelurahan Padang Bulan Medan Tahun 2009
No

Sikap Baik
Tindakan

Frekuensi

Sikap Sedang
%

Frekuensi

Jumlah

Baik

10

17.9

18.6

18

Sedang

42

75.0

33

76.7

75

Kurang

7.1

4.7

Jumlah

56

43

99

Dari tabel 5.13 dapat dilihat bahwa responden dengan tingkat tindakan baik menunjukkan
sikap baik (17.9%), dan dengan sikap sedang (18.6%). Responden dengan tindakan sedang
menunjukkan sikap baik (75.0%) dan yang menunjukkan sikap sedang (4.7%). Responden
dengan tingkat pengetahuan kurang menunjukkan sikap baik ( 7.1%) dan yang menunjukkan
sikap kurang (4.7%).

5.2. Pembahasan
5.2.1. Identitas Responden
Dalam penelitian ini pada tabel 5.2 terlihat bahwa kelompok responden yang terbesar
adalah kaum wanita yang rata-rata berstatus sebagai ibu rumah tangga (tidak bekerja).
Responden pada penelitian ini pendidikan terakhirnya yang paling banyak adalah SMA yaitu
sebesar 37.4%, kemudian yang berpendidikan SMP sebanyak 24 orang (24.2%), yang
berpendidikan SD sebanyak 10 orang (10.1%), selanjutnya yang berpendidikan Akademi
terdapat 3 orang (3.0%), dan yang berpendidikan Perguruan Tinggi sebanyak 21 orang (21.2%),
serta yang tidak tamat SD sebanyak 4 orang (4.0%) dapat dilihat pada tabel 5.3.
Sedangkan pekerjaan responden pada tabel 5.4 secara keseluruhan yang paling besar
adalah tidak bekerja sebanyak 52 orang (52.5%). Hal ini sesuai dengan jumlah responden wanita
yang lebih banyak merupakan ibu-ibu rumah tangga yang berstatus tidak bekerja. Responden
yang bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 21 orang (21.2%). Para responden ada yang bekerja
dengan membuka usaha sendiri dan ada juga yang tidak ingin menjelaskan secara spesifik
tentang pekerjaan mereka sehingga selalu mengkategorikan pekerjaan mereka ke golongan
wiraswasta.
Responden yang bekerja di bidang jasa ada 3 orang (3.0%) yang bekerja dibidang
pendidikan dan pemerintahan ada 9 orang (9.1%) dan responden yang bekerja dibidang
kesehatan ada 2 orang (2.0%).

5.2.2. Pengetahuan Responden


Pengetahuan responden terhadap upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah
Dengue (PSN-DBD) khususnya pelaksanaan 3M (Menutup, Mengubur, dan Menguras Tempat

Penampungan air) adalah untuk mengetahui sejauh mana responden mengetahui tentang adanya
penyakit DBD tersebut disekitarnya dan sampai sejauh mana ia mengetahui cara-cara untuk
memberantasnya sehingga penyakit tersebut dapat dihindari.
Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner di Kelurahan
Padang Bulan Medan sebagaimana terlihat pada tabel 5.6 yang menunjukkan bahwa tingkat
pengetahuan responden terhadap pelaksanaan 3M sebagian besar adalah sedang (54.5%), tingkat
pengetahuan Baik (36.4%) dan tingkat pengetahuan kurang (9.1%). Hal ini juga didukung
dengan penelitian yang dilakukan Laksmono di Kelurahan Grondol Wetan, Semarang
menyatakan bahwa sebagian besar responden yakni sekitar 72.3% dari total responden memiliki
pengetahuan yang cukup baik. Sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni
tahun 1999 di Kelurahan Padang Bulan yang menyatakan bahwa mayoritas responden memiliki
tingkat pengetahuan yang cukup. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat
mengenai 3M masih belum dikatakan cukup baik khususnya bagi masyarakat yang berada di luar
daerah perkotaan (Kelurahan) karena akses informasi mengenai 3M belum diterima oleh
masyarakat tersebut.
Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh veronika tahun 2001 di Kelurahan
Padang Bulan Medan yang menyatakan bahwa sebanyak 57.3% tingkat pengetahuan masyarakat
termasuk dalam kategori baik. Keadaan ini muncul karena adanya perbedaan pembahasan.
Penelitian yang dilakukan oleh veronika membahas mengenai PSN-DBD (Pemberantasan Sarang
Nyamuk Demam Berdarah Dengue) secara umum, sementara penelitian yang saya lakukan
membahas mengenai 3M secara khusus sebagai salah satu dari bagian PSN-DBD.
Pada tabel 5.5 terlihat bahwa sebanyak 67.7% responden menjawab benar tentang
pengertian 3M dan kegunaannya (pertanyaan 1), pada pertanyaan 2 tentang sasaran utama 3M
71.1% responden menjawab salah, mereka menyatakan bahwa nyamuk dewasa adalah sasaran
utama pelaksanaannya. Hal ini mungkin dikarenakan dalam kesalahan penyerapan informasi
yang disampaikan oleh media. Untuk pertanyaan ketiga mengenai tindakan penyemprotan obat
anti nyamuk pada tempat penampungan air sebanyak 56.6% yang menyatakan hal tersebut tidak
benar untuk dilakukan. Untuk pertanyaan mengenai penguburan dan pembuangan barang bekas
(pertanyaan 4) hampir 97% responden menjawab dengan benar. Untuk pertanyaan kelima
tentang tindakan pengasapan (fogging) sebanyak 68.7% responden menyatakan

bahwa

pengasapan merupakan hal yang paling efektif dalam pencegahan DBD. Hal ini bisa disebabkan
oleh kesalahan persepsi pada masyarakat yang hanya memikirkan keefektifan suatu tindakan dari
satu sisi saja. Pertanyaan mengenai tanggung jawab pelaksanaan 3M (pertanyaan 6) sebanyak
61.6% responden menyatakan bahwa hal ini merupakan tanggung jawab khususnya tanggung
jawab per-individu.
Pendidikan merupakan sarana untuk mendapatkan informasi sehingga semakin tinggi
pendidikan seseorang semakin banyak pula informasi yang didapatkan. Dilihat dari distribusi
jenjang pendidikan terakhir, responden terbanyak adalah lulusan SMA (37.4%).

5.2.3. Sikap Responden


Pada tabel 5.8 menunjukkan secara keseluruhan sikap responden terhadap upaya
pelaksanaan 3M (Mengubur Barang Bekas, Menutup, dan menguras tempat penampungan air )
sebagian besar baik (56.6%), sikap sedang (43.4%), dan sikap kurang tidak ada ditemukan pada
seluruh responden. Kategori sikap yang baik pada penelitian ini bila responden menjawab
dengan benar minimal 4 pertanyaan dari 5 pertanyaan yang diajukan kepada mereka, yaitu;
mengenai tanggung jawab pelaksanaan PSN-DBD, kapan mereka melaksanakan tindakan 3M
tersebut, Siapa yang sebaiknya harus melaksanakan tindakan 3M tersebut dapat dilihat pada tabel
5.6 .
Hasil ini didukung juga oleh Veronika dengan penelitian yang dilakukan di Kelurahan
Padang Bulan pada tahun 2001 yang menyatakan bahwa sikap masyarakat paling banyak
tergolong pada kategori baik yakni sebanyak 64%. Menurut Sri wahyuni tahun 1999 dengan
penelitiannya di Kelurahan Padang Bulan menyatakan bahwa sebanyak 71% responden memiliki
sikap yang baik. Perbedaan persentasi ketiganya kemungkinan dikarenakan oleh adanya
perbedaan jumlah responden dan disebabkan juga pada penelitian yang dilakukan oleh veronika
pada tahun 2001 masih terdapat responden yang termasuk dalam kategori sikap yang kurang.
Menurut laksmono 2008 dengan penelitian yang dilakukannya di Kelurahan Srondol
Wetan menyatakan bahwa sebanyak 71.8% dari total respoden menunjukkan sikap yang masih
terbilang cukup mendukung, keadaan ini berbeda disebabkan kemungkinan karena terdapatnya
perbedaan distribusi responden berdasarkan karakteristik, keadaan sosial yang ada pada daerah
penelitiannya.

Terkadang lingkungan sekitar mempengaruhi seseorang dalam memperoleh pengetahuan


misalnya yang terjadi pada responden yang tidak bekerja, pada umumnya mereka akan berada
dirumah saja dan lebih banyak waktu untuk saling bertukar informasi dengan warga lain
sehingga kesempatan untuk mendapat informasi baru.
Hal ini sesuai dengan teori WHO yang menyatakan bahwa salah satu alasan pokok
seseorang menunjukkan sikap dalam hal memperoleh kesehatan adalah sosio budaya (culture)
yang sangat berpengaruh terhadap terbentuknya sikap dan perilaku seseorang.

5.2.4. Tindakan Responden


Tindakan responden terhadap upaya pelaksanaan 3M (Mengubur barang bekas, Menutup
dan Menguras tempat penampungan air) adalah sudah atau belum dilaksanakannya perilaku
kesehatan berupa tindakan tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD yakni dengan
cara 3M dalam kehidupan sehari hari.
Dari tabel 5.10 terlihat bahwa sebagian besar tindakan respoden adalah Sedang (75.8%),
Tindakan Baik (18.2%), dan tingkat pengetahuan Kurang hanya sebagian kecil saja yaitu (6.1%)
. responden termasuk dalam kategori baik jika menjawab dengan benar minimal 4 item
pertanyaan dari 5 item pertanyaan yang diberikan. Untuk pertanyaan tindakan mengenai ada atau
tidaknya pelaksanaan dan bimbingan 3M pada keluarga dalam kurun waktu 3 bulan terakhir
sebanyak 50.5% responden menjawab ada (Pertanyaan 1). Pada pertanyaan kedua tentang
pelaksanaan 3M dengan warga setempat tanpa adanya keharusan dari pejabat setempat sebanyak
55.6% menjawab tidak ada. Keadaan ini menunjukkan bahwa belum tingginya tingkat kesadaran
dari masyarakat dan kurang aktifnya pejabat dan pemerintah setempat untuk melaksanakan
program tersebut. Pada pertanyaan ketiga tentang tindakan yang dilakukan pada barang-barang
bekas sebanyak 78.8% responden melakukan tindakan yang benar yakni menguburkan barangbarang tersebut. Hampir 73.7% responden menyatakan tidak membuang sampah sembarangan
(Pertanyaan 4) dan sebanyak 85.9% responden menyatakan bahwa mereka menguras tempat
penampungan air minimal seminggu sekali (Pertanyaan 5) hal ini dapat dilihat pada tabel 5.9 .
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Veronika tahun 2001 dan Sri
Wahyuni tahun 1999 di Kelurahan Padang Bulan serta Laksmono 2008 di Kelurahan Srondol

Wetan Semarang, yang menyatakan bahwa sebagian besar responden memiliki tindakan yang
cukup.

5.2.5. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Responden


Hubungan pengetahuan dengan sikap responden terhadap pelaksanaan 3M sebagai upaya
pencegahan terjadinya penyakit DBD dapat dilihat pada tabel 5.12 bahwa responden dengan
tingkat pengetahuan baik menunjukkan sikap baik (75.0%), dan dengan sikap sedang (25.0%).
Responden dengan tingkat pengetahuan sedang menunjukkan sikap baik (48.1%) dan yang
menunjukkan sikap sedang (51.9%). Responden dengan tingkat pengetahuan kurang
menunjukkan sikap baik ( 33.3%) dan yang menunjukkan sikap kurang (66.7%). Hal ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni 1999 di Kelurahan Padang Bulan dan
Veronika Panggabean 2001 di kelurahan Padang Bulan yang menyatakan bahwa responden
dengan tingkat pengetahuan baik diikuti juga dengan sikap yang baik pula.
Hasil ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan
maka semakin baik sikapnya terhadap pelaksanaan 3M (Mengubur barang bekas, Menutup , dan
Menguras tempat penampungan air). Sebaliknya semakin rendah tingkat pengetahuan responden
terhadap pelaksanaan 3M (Mengubur barang bekas, Menutup, dan menguras tempat
penampungan air) semakin berkurang pula.

5.2.6. Hubungan Sikap dan Tindakan Responden


Hubungan sikap dan tindakan responden terhadap pelaksanaan 3M (Mengubur barang
bekas, Menutup, dan Menguras tempat penampungan air) dapat dilihat pada tabel 5.13 bahwa
responden dengan tingkat Tindakan baik menunjukkan Sikap baik (17.9%), dan dengan Sikap
sedang (18.6%). Responden dengan tindakan sedang menunjukkan sikap baik (75.0%) dan yang
menunjukkan sikap sedang (76.7%). Responden dengan tingkat pengetahuan kurang
menunjukkan sikap baik ( 7.1%) dan yang menunjukkan sikap sedang (4.7%).
Dari hasil ini secara keseluruhan dapat menggambarkan bahwa sebagian besar responden
mempunyai sikap baik akan diikuti oleh tindakan yang cukup. Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni tahun 1999 di Kelurahan Padang Bulan

bahwa

responden yang memiliki sikap yang baik diikuti dengan perwujudan sikapnya dalam tindakan
yang cukup.
Keadaan ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa sikap merupakan salah satu
predisposisi seseorang untuk bertindak. Sikap bukan dibawa sejak lahir namun sikap dapat
dibentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh responden. Dalam interaksi sosial
tersebut terjadi hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi diantara individu yang dapat
mempengaruhi pola tindakan dan perilaku dalam berinteraksi dalam lingkungannya(Azwar,
2005).

5.2.7. Hubungan Pengetahuan dan Tindakan Responden


Dari tabel 5.11 dapat dilihat hubungan antara pengetahuan dan tindakan responden
terhadap pelaksanaan 3M (Mengubur barang bekas, Menutup, dan Menguras tempat
penampungan air) terlihat bahwa responden dengan tingkat pengetahuan baik menunjukkan
tindakan baik (13.9%) dan Sedang (77.8%) serta responden yang Tindakannya Kurang (8.3%).
Responden dengan tingkat pengetahuan Sedang dengan Tindakan baik (20.4%), dengan tindakan
sedang (75.9%), dan dengan tindakan yang kurang (3.7%). Responden dengan tingkat
Pengetahuan Kurang dengan Tindakan baik (22.2%), tindakan sedang (66.7%), tindakan kurang
(11.1%).
Hasil tersebut menunjukkan bahwa responden yang berpengetahuan sedang akan diikuti
dengan tindakan yang cukup sebaliknya responden dengan tingkat pengetahuan kurang maka
akan diikuti dengan tindakan yang kurang pula. Disini terlihat kecenderungan

bahwa

pengetahuan yang baik memberikan kontribusi untuk lebih berpartisipasi terhadap pelaksanaan
3M dibandingkan dengan responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang.
Hasil serupa juga didapatkan oleh Sri Wahyuni tahun 1999 yang menyatakan bahwa
mayoritas responden memiliki pengetahuan baik akan melakukan tindakan yang cukup.
Teori Health Belief Models (HBM) menyebutkan bahwa perbedaan demografis (umur,
jenis kelamin, etnis), psikososial (kelas sosial, pengalaman sebelumnya) dan variabel struktural
(pengetahuan tentang penyakit, kontak pertama dengan penyakit, akses ke pelayanan kesehatan)
memberikan pengaruh dalam persepsi individu (persepsi kepercayaan kesehatan) dan secara
langsung mempengaruhi tindakan atau perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. Ada

kemungkinan hasil penelitian ini sebagian tidak sesuai dengan teori HBM karena variabel
pengetahuan lebih menekankan kepada aspek persepsi keseriusan yang dirasakan terhadap
penyakit DBD menurut pengetahuan responden akan tetapi karena responden berpengetahuan
tinggi, pendapatan tinggi, maka aspek persepsi kerentanan yang dirasakan terhadap penyakit
DBD rendah, sehingga tidak berpengaruh terhadap kepercayaan kesehatan responden. Misalnya
dapat digambarkan bahwa responden menganggap penyakit DBD berbahaya, tetapi mereka
berkeyakinan tidak mungkin terkena penyakit DBD sehingga mereka tidak akan melaksanakan
tindakan pencegahan tersebut.

BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang diperoleh maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1) Pengetahuan responden terhadap pelaksanaan 3M (Mengubur barang bekas, Menutup,
dan menguras tempat penampungan air) di Kelurahan Padang Bulan Medan adalah
sedang (54.5%). Hal ini terjadi karena adanya pengaruh lingkungan disamping faktor
perilaku
2) Sikap responden terhadap pelaksanaan 3M (Mengubur barang bekas, Menutup, dan
menguras tempat penampungan air) di Kelurahan Padang Bulan Medan sebagian besar
bersikap baik (56.6%) dan yang bersikap sedang (43.4%).
3) Tindakan responden terhadap pelaksanaan 3M (Mengubur barang bekas, Menutup, dan
menguras tempat penampungan air) di Kelurahan Padang Bulan Medan adalah sedang
75.8%, tindakan baik sebesar 18.2% dan tindakan kurang hanya sebagian kecil yakni
6.1%.
4) Semakin tinggi pengetahuan responden semakin baik pula sikapnya terhadap pelaksanaan
3M (Mengubur barang bekas, Menutup, dan Menguras tempat penampungan air)
sebaliknya, semakin rendah pengetahuan responden maka semakin cenderung bersikap
kurang/buruk.
5) Semakin baik sikap responden maka semakin senderung untuk mempunyai tindakan yang
baik dan semakin cukup sikap responden akan cenderung pula untuk mempunyai
tindakan yang kurang.
6) Pada penelitian ini didapati juga beberapa responden yang memiliki sikap yang tidak
sesuai dengan Tingkat pengetahuannya responden, hal ini disebabkan oleh faktor-faktor
pekerjaan,sosial, mengahambat responden untuk bertindak disamping itu motivasi
didalam diri responden sendiri tidak ada.

6.2. Saran

1) Diharapkan petugas kesehatan setempat meningkatkan penyuluhan pada bulan-bulan


rawan Demam Berdarah Dengue yaitu pada bulan april sampai Mei dan agustus sampai
september yang dititikberatkan pada masalah 3M.
2) Seluruh masyarakat perlu diikutsertakan dalam pelaksanaan 3M dengan memanfaatkan
organisasi sosial LKMD, PKK, Pengajian, dan sebagainya yang ada dikelurahan sehingga
mereka akan merasa lebih bertanggung jawab atas kesehatan diri sendiri dan keluarga.
3) Perlu diadakan dana sehat untuk pelaksanaan 3M di masyarakat dengan bimbingan
Lurah.
4) Penyuluhan yang ditujukan kepada ibu-ibu rumah tangga, pengelola tempat-tempat
umum dan penjaga sekolah lebih ditingkatkan.
5) Pemberdayaan tokoh agama dan tokoh masyarakat dengan cara memberikan
fatwa/anjuran/khotbah kepada masyarakat misalnya pada shalat jumat atau kebaktian di
gereja, mengenai pentingnya upaya pencegahan penyakit DBD. Anjuran ini hendaknya
dilakukan secara terus menerus dengan waktu tidak terlalu lama, sehingga dapat dicerna
dan diamalkan oleh para jemaahnya.
6) Diharapkan petugas kesehatan yang berkerjasama dengan pejabat pemerintah setempat
untuk menggalakkan kembali gerakan Jumat Bersih di tiap-tiap lokasi baik yang rawan
DBD maupun yang tidak DBD sebagai upaya untuk pencegahan penularan penyakit
DBD.

DAFTAR PUSTAKA

Agriculture, Fisheries, and Conservation Departement, 2006.Pesticides Used for Outdoor


Mosquito Control for Pest Control Operators Reference.Revision,second edition .Hongkong:
Available from :
http://www.afcd.gov.hk/english/quarantine/qua_pesticide/qua_pes_lea. {Accesed 27 february
2008}

Azwar, S. 2005. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar Offset. Yogyakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1992, Petunjuk Teknis Pemberantasan Sarang


Nyamuk Demam Berdarah Dengue,ditjen PPM dan PL, Jakarta.

Depertemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995, Pokok-pokok Kegiatan dan Pengelolaan


Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue, Ditjen PPM dan PL,
Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2003, Program Peningkatan Peran Serta


Masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) di
Kabupaten/Kota, Dirjen P2M dan PL Depkes RI. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue di


Indonesia. Dirjen P2M dan PL Depkes RI. Jakarta.

Dinas Kesehatan Kota Medan, 2004. Raker Kesehatan Kota Medan, Dinas Kesehatan Kota
Medan, Pemerintah Kota Medan.

Dinas Kesehatan Kota Medan, 2008. Profil Dinas Kesehatan Kota Medan Tahun

2007,

Pemerintah Kota Medan.

Dinas Kesehatan Kota Medan, 2009. Profil Dinas Kesehatan Kota Medan Tahun

2008,

Pemerintah Kota Medan.

Ghazali, Muhammad vinci, et al. 2008. Studi cross-sectional. In: Sastroasmoro, sudigdo &
Ismael, sofyan. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi 3. Jakarta: Sagung Seto, 112123.

Glanz, et all, Health Behaviour and Health Education; Theory, Research and Practice, JosseyBass Publishers, San Fransisco Oxford,1990. P;39 .

Hadinegoro, S.R.H.,Soegijanto, S., Suroso, T., (1999), Tata Laksana Demam Dengue/Demam
Berdarah Dengue. Departemen Kesehatan RI,Jakarta.

Kelurahan Padang Bulan,2007. Daftar Isian Potensi Kelurahan. Direktorat Jenderal


Pemberdayaan Masyarakat dan Desa.

Laksmono, Widagdo. Bhinuri. 2008. Kepadatan Jentik Aedes aegypti Sebagai Indikator
Keberhasilan Pemberantasan Sarang Nyamuk (3M PLUS) Di Kelurahan Grondol Wetan
Semarang. Makara, 12 (1) : 13-19.

Madiyono, Bambang et al., 2008.Perkiraan Besar Sampel. In: Sastroasmoro, sudigdo & Ismael,
sofyan. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi 3. Jakarta: Sagung Seto, 310-313.

Notoatmodjo, Soekidjo, 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta. 4364.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta:


Rineka Cipta.118-132.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. 88-92.

Pratomo, H., dan Sudarti.1986. Pedoman Usulan Penelitian Bidang Kesehatan Masyarakat dan
Keluarga Berencana. Jakarta: Depdikbud.

Riduwan.2005. Skala pengukuran Variabel-variabel Penelitian.Bandung: Alfabeta.

Riyanto, Agus . 2009, Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan. Nuha Medika: Yogjakarta.

Sarwono, S., 2003. Sosiologi Kesehatan Beberapa Konsep dan Aplikasinya, Gajah Mada
University Press: Yogyakarta.

Sastroasmoro, sudigdo. 2008. Pemilihan Subjek Penelitian. In: Sastroasmoro, sudigdo & Ismael,
sofyan. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi 3. Jakarta: Sagung Seto, 78-90.

Sastroasmoro, sudigdo. 2008.Variabel dan hubungan antar variabel. In: Sastroasmoro, sudigdo &
Ismael, sofyan. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi 3. Jakarta: Sagung Seto, 255259.

Soegijanto, Soegeng.2006. Demam Berdarah Dengue Edisi Kedua. Surabaya.Airlangga


University Press.

Sri Rezeki, H.H., Satari, Hindra Irawan. Demam Berdarah Dengue Naskah Lengkap. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.

Tri Wulandari, 2001. Vektor Demam Berdarah dan Penanggulangannya. In: Mutiara Medika,
Vol. I, no. 1, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 27-30.

Veronika, 2001. Hubungan Perilaku IRT dengan pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk
Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru Tahun 2001.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara . Medan

Wahyuni, Sri . 1999. Perilaku Ibu Rumah Tangga Terhadap upaya Pemberantasan Sarang
Nyamuk Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Medan.

WHO, 1999. Demam Berdarah Dengue: Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan dan


pengendalian.Jakarta: EGC.72-91.

WHO, 2004. Panduan Lengkap Pencegahan dan Pengendalian Dengue dan Demam Berdarah
Dengue. Jakarta: EGC. 64-69 .

WHO, 2008. Dengue/DHF Situation of Dengue/Dengue Haemorrhagic Fever in the South-East


Asia Region Variable endemicity for DF/DHF in countries of SEA Region . Available from:
http://www.searo.who.int/en/Section10/Section332_1100.htm. [Accesed 10 Maret 2009]

Lampiran -1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Meutia Wardhanie Ganie

Tempat/Tanggal Lahir

: Medan/13 Agustus 1989

Agama

: Islam

Alamat

: Jl.Asrama/Ampera 2 Komp.BI No.6 Medan

Riwayat Pendidikan

1. Tahun 1994 lulus dari Taman Kanak-Kanak Dewi Sartika Sei.Mangkei


2. Tahun 2000 lulus dari Sekolah Dasar Negeri 0901680 Bosar Maligas

3. Tahun 2003 lulus dari Sekolah Menengah Pertama Negeri 1

Bosar

Maligas
4. Tahun 2006 lulus dari Sekolah Menengah Atas Swasta Harapan 1 Medan
Riwayat Organisasi :
1. Anggota/Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa Fotografi Universitas
Sumatera Utara ( UKM FOTOGRAFI USU ) Periode 2006-2007
2. Anggota/ Pengurus Standing Comittee on Public Health Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara ( SCOPH-FK USU ) Tahun 2006
3. Anggota/Pengurus Standing Comitee On Research Exchange Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara ( SCORE-FK USU ) Periode
tahun 2006-2007
4. Panitia Penyambutan Mahasiswa Baru Tahun 2009 Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara
5. Panitia Pekan Olahraga dan Seni 2008 Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara

Lampiran-2

IDENTITAS RESPONDEN

KOTA

: MEDAN

KECAMATAN

: MEDAN BARU

KELURAHAN/LINGK

: PADANG BULAN/ .

ALAMAT

: .

TGL.SURVEY

A. IDENTITAS RESPONDEN
1. Nama

2. Tanggal lahir/umur

: ................/tahun

3. Jenis Kelamin

: ...

4. Pendidikan Terakhir

a. Tidak tamat SD

d. SLTA/Sederajat

b. SD/Sederajat

e. Akademi

c. SLTP/Sederajat

f. Perguruan Tinggi

5. Status Pekerjaan

a. Bekerja
Sebutkan jenis pekerjaan .
b. Tidak Bekerja

6. Jumlah Pendapatan perbulan : .

PERTANYAAN PENELITIAN

A. ALAT UKUR PENGETAHUAN


Petunjuk :
Pilihlah salah satu jawaban dibawah ini yang menurut anda PALING BENAR.
1. Tahukah anda definisi dari 3M ?
a. Mengubur barang bekas, Membakar sampah, Menanam pohon
b. Mengubur barang bekas, Menutup Tempat Penampungan Air, Menguras Tempat
Penampungan Air
c. Menguras bak mandi, Membakar sampah, Memandikan hewan peliharaan
d. Menguras bak mandi, Membersihkan parit, Membiarkan sampah berserakan
Anda mengetahuinya darimana
:...................................................................................
2. Menurut anda apa manfaat dilakukannya 3M itu?
a. Agar menjadi contoh yang baik bagi anggota keluarga lain
b. Untuk mendapat pujian dari masyarakat sekitar dan pejabat daerah
c. Untuk membasmi jentik-jentik nyamuk sumber penularan DBD
d. Agar lingkungan bersih
Darimana anda mengetahuinya : ...................................................................................
3. Menurut anda apa berapa kali sebaiknya 3M itu dilaksanakan?
a. Sebulan sekali
b. 2 mingggu sekali
c. 1 minggu sekali

d. Kapan ada waktu saja


Darimana anda mengetahuinya : ...................................................................................
4. Tahukah anda apa sasaran utama pelaksanaan 3M ?

a. Jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti


b. Nyamuk dewasa Aedes aegypti
c. Kuman-kuman penyebab penyakit infeksi
d. Lalat rumah yang berkembang ditempat kotor.
Darimana anda mengetahuinya : .....................................................................................
5. Apakah anda tahu temapat perkembangbiakan nyamuk penyebab Demam Berdarah
Dengue?
a. Sungai
c. Wadah tempat penampungan air bersih
b. Selokan/parit
d. Tempat sampah
Darimana anda mengetahuinya :......................................................................................

6. Yang harus dilakukan untuk pencegahan Demam Berdarah Dengue pada Tempat
Penampungan Air (TPA), adalah:
a. Menutup Temapat Penampungan Air
b. Membiarkan tempat-tempat penampungan air terbuka
c. Menyemprotkan obat anti nyamuk pada tempat penampungan air
d. Mengosongkan tempat penampungan air
Darimana anda mengetahuinya : .....................................................................................
7. Yang harus dilakukan untuk pencegahan Demam Berdarah Dengue pada Bak mandi
adalah :
a. Mengosongkan air pada bak mandi
b. Menguras & menaburkan bubuk Abate pada bak mandi
c. Membiarkan jentik nyamuk berkembang
d. Menguras air pada bak mandi saja
Darimana anda mengetahuinya :......................................................................................
8. Yang harus dilakukan untuk pencegahan Demam Berdarah Dengue pada barangbarang bekas adalah :
a. Menyimpan barang-barang bekas
b. Membiarkan barang-barang bekas berserakan
c. Menggunakan kembali barang-barang bekas tersebut
d. Mengubur dan membuang barang-barang bekas tersebut
Darimana anda mengetahuinya: ......................................................................................

9. Menurut anda siapa yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan 3M tersebut ?


a. Petugas kesehatan dan pejabat pemerintahan

b. Petugas kesehatan, pejabat pemerintahan, dan semua lapisan masyarakat


c. Petugas kesehatan dan ibu rumah tangga.
d. Pejabat daerah beserta lembaga pembasmi jentik nyamuk
Darimana anda mengetahuinya : .....................................................................................
10. Menurut anda apa keuntungan pencegahan dengan 3M dibandingkan tindakan
pencegahan Demam Berdarah Dengue lainnya?
a. Karena Murah, mudah dan tepat sasaran
b. Karena anjuran petugas kesehatan
c. Hanya ikut-ikutan saja
d. Karena cepat dan melelahkan
Darimana anda mengetahuinya: ......................................................................................
B. ALAT UKUR SIKAP

Petunjuk :
Dibawah ini ada beberapa pernyataan tentang sikap. Berilah tanda silang (x) pada
jawaban yang paling sesuai dengan diri anda. (S) menyatakan Setuju terhadap pernyataan
tersebut sedangkan (TS) menyatakan Tidak Setuju.
No Pernyataan-pernyataan
S
1. Saya akan mengubur barang-barang dan kaleng bekas jika
keberadaannya sudah sangat mengganggu
keindahan
lingkungan saya.
2. Menutup tempat-tempat penampungan air, dan menguras tempat
penampungan air merupakan salah satu cara mencegah
penyebaran penyakit DBD.
3. Saya sebaiknya memberikan contoh tentang cara melakukan 3M
kepada anak-anak saya dan anggota keluarga lainnya,karena 3M
merupakan tanggung jawab bersama.
4. Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) hanya tanggung jawab
pemerintah .
5. Saya hanya akan rutin melaksanakan 3M setiap minggunya jika
salah satu dari anggota keluarga saya menderita penyakit DBD.

C. ALAT UKUR TINDAKAN

TS

SCORE

1. Apakah dalam tiga bulan terakhir ini, anda pernah melakukan bimbingan
kepada keluarga tentang cara membersihkan rumah dan pekarangan dengan cara
3M?

a. Ya

b. Tidak

2. Apakah dalam tiga bulan terkahir ini, anda dan keluarga melakukan kerja bakti
bersama warga lain untuk membersihkan lingkungan dari air yang tergenang
walaupun tidak mendapat anjuran dari petugas kelurahan?
a. Ya
b. Tidak
3. Jika anda melihat kaleng bekas, pecahan botol, dan barang bekas lain yang dapat
menampung air hujan berserakan di lingkungan rumah anda, maka anda akan
mengubur barang-barang tersebut tanpa menunggu petugas kebersihan?
a. Ya
b. Tidak
4. Saya & Keluarga tidak membuang sampah plastik dan kaleng bekas sembarangan
a. Ya
b. Tidak
5. Saya menguras bak penampungan air minimal satu kali dalam seminggu
a. Ya
b. Tidak

Lampiran 3
Assalamualaikum Wr.Wb.
Salam Sejahtera bagi kita semua
Kepada bapak/ibu, sebelumnya saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas
kesediaannya meluangkan waktu untuk mengisi surat persetujuan dan kuesioner ini.
Pertama-tama, ijinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Meutia Wardhanie Ganie.
Saya berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK-USU), stambuk
tahun 2006. Saat ini saya sedang mengerjakan penelitian guna melengkapi Karya Tulis Ilmiah
yang menjadi kewajiban saya untuk menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran.
Adapun judul penelitian saya adalah Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan
Mengenai 3M (Menutup,Mengubur,Menguras) pada Keluarga Di Kelurahan Padang
Bulan tahun 2009. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran pengetahuan,
Sikap, dan Tindakan Mengenai 3M pada keluarga Dikelurahan Padang Bulan, karena dari data
terakhir 2008 diperoleh bahwa Kelurahan Padang Bulan merupakan daerah dengan angka
kejadian Demam Berdarah tertinggi.
Untuk itu saya mohon kesediaan Bapak/Ibu untuk ikut serta dalam penelitian ini, yaitu
sebagai responden. Saya akan menanyakan beberapa hal seputar identitas Bapak/Ibu,
Pengetahuan Bapak/Ibu tentang 3M, bagaimana tindakan dan sikap Bapak/Ibu Mengenai 3M.

Demikian saya beritahukan. Atas kesediaan Bapak/Ibu saya ucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya. Semoga partisipasi Bapak/Ibu dalam penelitian ini membawa manfaat besar
bagi kita semua.

Wassalammualaikum Wr.Wb.
Meutia Wardhanie Ganie
SURAT PERSETUJUAN
(INFORMED CONSENT)
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
Menyatakan bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian ini, tanpa adanya paksaan
dari pihak manapun. Saya akan menjawab seluruh pertanyaan yang diberikan oleh peneliti
dengan jujur dan apa adanya.

Medan,

2009

Beri Nilai