Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Proses dan aktivitas geologi bisa menimbulkan terbentuknya batuan dan

jebakan mineral. Yang dimaksud dengan jebakan mineral adalah endapan bahanbahan atau material baik berupa mineral maupun kumpulan mineral (batuan) yang
mempunyai arti ekonomis (berguna dan mengguntungkan bagi kepentingan umat
manusia).
Dari distribusi unsur-unsur logam dan jenis-jenis mineral yang terdapat
didalam kulit bumi menunjukkan bahwa hanya beberapa unsur logam dan mineral
saja yang mempunyai prosentasi relative besar, karena pengaruh proses dan
aktivitas geologi yang berlangsung cukup lama, prosentase unsur unsur dan
mineral-mineral tersebut dapat bertambah banyak pada bagian tertentu karena
Proses Pengayaan, bahkan pada suatu waktu dapat terbentuk endapan mineral
yang mempunyai nilai ekonomis.
Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter dari
endapan besi ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun seringkali
ditemukan berasosiasi dengan mineral logam lainnya. Kadang besi terdapat
sebagai kandungan logam tanah (residual), namun jarang yang memiliki nilai
ekonomis

tinggi.

Endapan

besi

yang

ekonomis

umumnya

berupa Magnetite,Hematite, Limonite dan Siderite. Kadang kala dapat berupa


mineral: Pyrite, Pyrhotite, Marcasite, dan Chamosite.
Indonesia sebagai negara yang merupakan daerah yang memiliki sebutan
Ring of Fire, merupakan negara yang memiliki banyak sumberdaya bijih besi baik
yang terbentuk secara primer maupun sekunder. Dalam makalah ini akan dibahas
mengenai cadangan bijih besi primer, sehingga mahasiswa mengetahui mengenai
genesa bijih besi, cara eksplorasi bijih besi sampai dengan penyebarannya
khususnya di Indonesia.

1.2

Tujuan

1.

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :


Mengetahui tentang bijih besi mulai dari genesa, cara ekplorasi sampai

dengan ke perhitungan cadangan bijih besi


2. Mempelajari studi kasus dari suatu wilayah yang telah dilakukan
eksplorasinya untuk lebih mengenal mengenai eksplorasi dan permodelan
cadangan bijih besi.
1.3

Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah menambah pengetahuan

mahasiswa terutama dalam pembahasan mengenai bahan galian logam dalam hal
ini adalah bijih besi. Pengetahuan ini nantinya diperlukan sebagai dasar sebelum
pembelajaran mengenai cara-cara perhitungan estimasi cadangan dan dalam
eksplorasi suatu endapan bijih besi.

BAB II
DASAR TEORI
2.1

Tektonik Lempeng Berkaitan dengan Endapan Bijih Besi Primer


Sumber-sumber kekayaan alam terutama mineral, dalam kaitannya dengan

jalur tektonik lempeng tidak bisa terpisahkan dengan istilah yang dalam ilmu
kebumian disebut sebagai Mendala Metalogenik atau Metallogenic Province.
Mendala metalogenik merupakan suatu area yang dicirikan oleh kumpulan
endapan mineral yang khas, atau oleh satu atau lebih jenis-jenis karakteristik
mineralisasi.

Suatu mendala metalogenik mungkin memiliki lebih dari satu episode


mineralisasi yang disebut dengan Metallogenic Epoch. Mendala metalogenik
selalu berkaitan dengan siklus-siklus geologi dan formasi endapan mineral.
Proses-proses yang terlibat meliputi pendinginan, kristalisasi, dan perombakan
material-material bumi yang telah ada sebelumnya. Pembentukan bijih dan
perkembangan strukturnya dapat diinterpretasikan sebagai model tektonik
lempeng yang terjadi selama evolusi kerak bumi. Model tersebut menjelaskan
bagaimana kerak yang baru terbentuk di dalam zona regangan (rift zone), terutama
di punggungan tengah samudera, oleh penambahan magma basaltik dari dalam.
Proses tersebut membentuk kerak samudera yang homogen yang telah mengalami
sedikit proses segregasi logam-logam yang membentuk endapan bijih.
Indonesia terletak pada jalur gunungapi tersebut dan merupakan negara
dengan jumlah gunungapi terbanyak. Pola penyebaran gunungapi menunjukkan
jalur yang hampir mirip dengan pola penyebaran fokus gempa dan tipe aktivitas
kegunungapiannya

tergantung

pada

batas

lempengnya.

Hubungan

ini

menunjukkan bahwa volkanismamerupakan salah satu produk penting sistem


tektonik.
Akibatnya berbagai gejala alam di Indonesia sering terjadi. Yang salah
satunya banyak di jumpai gunung api di bagian selatan Indonesia yang merupakan
buah karya dari pergerakan lempeng Indo-Australian dengan lempeng Eurasian.
Jumlah gunung api di Indonesia 177 gunung api, serta gunung api juga ditemui di
daerah sebagain dari pulau Halmahera dan sebagian dari pulau Sulawesi yang
merupakan tempat pertemuan lempeng pasifik dengan lempeng eurasian.
Dari segi ilmu kebumian, Indonesia benar-benar merupakan daerah yang sangat
menarik. Kepentingannya terletak pada rupabuminya, jenis dan sebaran endapan
mineral serta energi yang terkandung di dalamnya, keterhuniannya, dan
ketektonikaannya. Oleh sebab itulah, berbagai anggitan (konsep) geologi mulai
berkembang di sini, atau mendapatkan tempat untuk mengujinya (Sukamto dan
Purbo-Hadiwidjoyo, 1993).
Penyebaran mineral ekonomis di Indonesia ini tidak merata. Seperti halnya
penyebaran batuan, penyebaran mineral ekonomis sangat dipengaruhi oleh tatanan

geologi Indonesia yang rumit. Berkenaan dengan hal tersebut, maka usaha-usaha
penelusuran keberadaan mineral ekonomis telah dilakukan oleh banyak orang.
Mineral ekonomis adalah mineral bahan galian dan energi yang mempunyai nilai
ekonomis. Mineral logam yang termasuk golongan ini adalah tembaga, besi,
emas, perak, timah, nikel dan aluminium.
Pembentukan mineral logam sangat berhubungan dengan aktivitas
magmatisme dan vulkanisme, pada saat proses magmatisme akhir (late
magmatism), pada suhu sekitar 200oC. Westerveld (1952) menerbitkan peta jalur
kegiatan magmatik. Dari peta tersebut dapat diperkirakan kemungkinan
keterdapatan mineral logam dasar yang pembentukannya berkaitan dengan
kegiatan magmatik. Carlile dan Mitchell (1994), berdasarkan data-data mutakhir
Simanjuntak (1986), Sikumbang (1990), Cameron (1980), Adimangga dan Trail
(1980), memaparkan busur-busur magmatik seluruh Indonesia sebagai dasar
eksplorasi mineral. Teridentifikasikan 15 busur magmatik, 7 di antaranya
membawa jebakan emas dan tembaga, dan 8 lainnya belum diketahui. Busur yang
menghasilkan jebakan mineral logam tersebut adalah busur magmatik Aceh,
Sumatera-Meratus, Sunda-Banda, Kalimantan Tengah, Sulawesi-Mindanau Timur,
Halmahera Tengah, Irian Jaya. Busur yang belum diketahui potensi sumberdaya
mineralnya adalah Paparan Sunda, Borneo Barat-laut, Talaud, Sumba-Timor,
Moon-Utawa dan dataran Utara Irian Jaya. Jebakan tersebut merupakan hasil
mineralisasi utama yang umumnya berupa porphyry copper-gold mineralization,
skarn mineralization, high sulphidation epithermal mineralization, gold-silverbarite-base metal mineralization, low sulphidation epithermal mineralization dan
sediment hosted mineralization.

Gambar 2.1. Tektonik Lempeng dan Distribusi Potensi Endapan Bijih di Indonesia
Lingkungan lain adalah kondisi gunungapi di daerah laut dangkal. Air laut
yang masuk ke dalam tubuh bumi berperan membawa larutan mineral ke
permukaan dan mengendapkannya. Contoh pelapukan granit ini antara lain terjadi
di Kalimantan Barat, Bangka, Belitung dan Bintan. Peridotit terbentuk di
lingkungan lempeng samudera yang akan kaya mineral berat besi, nikel, kromit,
magnesium dan mangan. Keberadaannya di permukaan disebabkan oleh lempeng
benua Pasifik yang terangkat ke daratan oleh proses obduksi dengan lempeng
benua Eurasia, yang kemudian disebarkan oleh sesar Sorong (Katili, 1980)
sebagai pulau-pulau kecil di berada di kepulauan Maluku. Pelapukan akan
menguraikan batuan ultrabasa tersebut menjadi mineral terlarut dan tak terlarut.
Air tanah melarutkan karbonat, kobalt dan magnesium, serta membawa mineral
besi, nikel, kobalt, silikat dan magnesium silikat dalam bentuk koloid yang
mengendap.
2.2 Pemodelan Bijih Besi Primer
Endapan bijih besi primer merupakan endapan yang terjadi akibat
pembekuan langsung dari magma yang dapat terjadi akibat 3 proses yaitu proses
magmatik (gravity settling), yang kemudian diikuti oleh proses metasomatisme
kontak dan hidrothermal.
2.2.1. Fase Magmatik Cair (Liquid Magmatic Phase)
Suatu fase pembentukan mineral, di mana mineral terbentuk langsung pada
magma (differensiasi magma), misalnya dengan cara gravitational settling.

Gambar 2.2. Proses Magmatik Cair

Vesiculation, Magma yang mengandung unsur-unsur volatile seperti air


(H2O), (CO2), (SO2), (S) dan (Cl).

Diffusion, Pada proses ini terjadi pertukaran material dari magma dengan
material dari batuan yang mengelilingi reservoir magma.

Flotation, Kristal-kristal ringan yang mengandung sodium dan potasium


cenderung untuk memperkaya magma yang terletak pada bagian atas
reservoar dengan unsur-unsur sodium dan potasium.

Assimilation of Wall Rock, Selama emplacement magma, batu yang jatuh


dari dinding reservoir akan bergabung dengan magma.

Thick Horizontal Sill, Secara umum bentuk ini memperlihatkan proses


differensiasi magmatik asli yang membeku karena kontak dengan dinding
reservoir. Jika bagian sebelah dalam membeku terjadi Crystal Settling dan
menghasilkan lapisan, dimana mineral silikat yang lebih berat terletak
pada lapisan dasar dan mineral silikat yang lebih ringan.

2.2.2. Fase Hidrotermal


Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai
hasil differensiasi magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif
ringan, dan merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan.
Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal dua macam endapan
hidrothermal, yaitu :
Cavity filing, mengisi lubang-lubang (opening-opening) yang sudah ada di

dalam batuan.
Metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan
dengan unsur-unsur baru dari larutan hidrothermal.

Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal beberapa jenis endapan


hidrothermal, antara lain Ephithermal (T 00C-2000C), Mesothermal (T 1500C3500C), dan Hipothermal (T 3000C-5000C). Setiap tipe endapan hidrothermal
diatas selalu membawa mineral-mineral yang tertentu (spesifik), berikut altersi
yang ditimbulkan barbagai macam batuan dinding. Tetapi mineral-mineral seperti
pirit (FeS2), kuarsa (SiO2), kalkopirit (CuFeS2), florida-florida hampir selalu
terdapat dalam ke tiga tipe endapan hidrothermal.
Paragenesis endapan hipothermal dan mineral gangue adalah : emas (Au),
magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3), kalkopirit (CuFeS2), arsenopirit (FeAsS),
pirrotit (FeS), galena (PbS), pentlandit (NiS), wolframit : Fe (Mn)WO 4, Scheelit
(CaWO4), kasiterit (SnO2), Mo-sulfida (MoS2), Ni-Co sulfida, nikkelit (NiAs),
spalerit (ZnS), dengan mineral-mineral gangue antara lain : topaz, feldsparfeldspar, kuarsa, tourmalin, silikat-silikat, karbonat-karbonat.
Sedangkan paragenesis endapan mesothermal dan mineral gangue adalah :
stanite (Sn, Cu) sulfida, sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu 3AsS4), Cu sulfida, Sb
sulfida, stibnit (Sb2S3), tetrahedrit (Cu,Fe)12Sb4S13, bornit (Cu2S), galena (PbS),
dan kalkopirit (CuFeS2), dengan mineral-mineral ganguenya: kabonat-karbonat,
kuarsa, dan pirit.
Paragenesis endapan ephitermal dan mineral ganguenya adalah : native
cooper (Cu), argentit (AgS), golongan Ag-Pb kompleks sulfida, markasit (FeS2),
pirit (FeS2), cinabar (HgS), realgar (AsS), antimonit (Sb2S3), stannit (CuFeSn),
dengan mineral-mineral ganguenya : kalsedon (SiO2), Mg karbonat-karbonat,
rhodokrosit (MnCO3), barit (BaSO4), zeolit (Al-silikat).

Gambar 2.3. Proses Hidrothermal dan Metasomatisme Kontak pada Magma


dalam Pembentukan Bijih Besi Primer

(Batemen, 1951 dalam Sudradjat, 1987)

Gambar 2.4. Pemodelan Endapan Bijih Besi Primer di Carajs Iron Ore
Mine, Brazil
Dari gambar 2.4. dapat dilihat model dari endapan bijih besi primer di
mana suatu endapan bijih besi terbentuk akibat proses hidrotermal yang
mengalami kontak dengan batuan gamping dan shale.

2.3

Genesa Bijih Besi Primer


Pembentukan endapan bijih besi primer dapat terbentuk oleh proses

magmatik, metasomatik kontak, dan hidrotermal. Menurut Pardiarto dan Widodo


(2007), pembentukan bijih besi primer oleh proses magmatik dengan cara gravity
settling dalam batuan ultrabasa, kemudian diikuti dengan proses metasomatik
yang diakhiri oleh proses hidrotermal akibat terobosan batuan beku granitis.
Endapan bijih besi magmatik terbentuk dari magma mafik-ultramafik
karena proses kristalisasi pada temperatur tinggi dengan cara gravity settling dan
secara langsung berhubungan dengan evolusi magma induk (Mondal, 2008).
Mineral-mineral berat yang mengandung kalsium, magnesium dan besi,
cenderung memperkaya resevoir magma yang terletak di bagian bawah reservoir
dengan unsur-unsur tersebut (Gross, 1997). Proses ini menghasilkan tubuh bijih
besi masif dan disiminasi, bentuk lensa memanjang (podform), lensa, tumpukan
lapisan dalam batuan induk (Gross, 1997). Lapisan paling bawah diperkaya
dengan mineral-mineral yang lebih berat seperti mineral-mineral bijih kromit,
platina, dan besi-titan, dan lapisan diatasnya diperkaya dengan mineral-mineral
silikat yang lebih ringan.
Proses metasomatik kontak terjadi pada tekanan dan suhu yang sangat
tinggi terutama pada kontak terobosannya antara magma yang masih cair dengan
batuan di sekitarnya (country rocks). Suhu di daerah kontak akan berkisar 500o1.100oC.

Akibat dari kontak ini, pengaruh temperatur tanpa adanya perubahan kimia
pada batuan sekitarnya akan terbentuk batuan metamorf, sedangkan jika terjadi
perubahan kimia oleh pertukaran dan penambahan ion akan terbentuk endapan
metasomatik (Jensen and Batemen, 1981). Mineral logam hasil kontak
metasomatik sangat bervariasi seperti magnetit dan hematit, serta mineral
aditifnya yaitu spinel, wolframit, kasiterit, arsenopirit, pirit, sfalerit, kalkopirit dan
galena.
Proses hidrotermal merupakan produk akhir dari proses diferensiasi
magmatik, di mana larutan hidrotermal ini banyak mengandung logam-logam
yang relatif ringan. Larutan ini makin jauh dari sumber magma, akan makin
kehilangan temperaturnya sehingga dikenal endapan Hipotermal (T 3000C-5000C)
Mesotermal (T 1500C-3500C), dan Epitermal (T 00C-2000C). Berdasarkan bentuk
endapannya dikenal 2 jenis endapan hidrotermal yaitu cavity filing dan
metasomatic replacement (Jensen and Batemen, 1981)

Gambar 2.5. Singkapan bahan galian bijih besi primer

10

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Metode Penambangan Bijih Besi Primer
Bijih besi merupakan salah satu dari endapan mineral logam di mana
penambangan endapan ini menggunakan metode open pit. Penambangan dengan
cara open pit adalah penambangan terbuka yang dilakukan untuk menggali
endapan-endapan bijih metal seperti endapan bijih besi.
Penambangan dengan cara open pit biasanya dilakukan untuk endapan bijih
atau mineral yang terdapat pada daerah datar atau daerah lembah. Tanah akan
digali ke bagian bawah sehingga akan membentuk cekungan atau pit.

11

Gambar 3.1. Contoh Penambangan Bijih Besi Primer dengan Metode Open
Pit
Cara pengangkutan pada open pit tergantung dari kedalaman endapan dan
topografinya. Pada dasarnya cara pengangkutannya ada 2 (dua) macam, yaitu :
a. Cara konvensional atau cara langsung, yaitu hasil galian atau peledakan
diangkut oleh truck / belt conveyor / mine car / skip dump type rail cars,
dan sebagainya, langsung dari tempat penggalian ke tempat dumping
dengan menelusuri tebing-tebing sepanjang bukit.
b. Cara inkonvensional atau cara tak langsung adalah cara pengangkutan
hasil galian / peledakan ke tempat dumping dengan menggunakan cara
kombinasi alat-alat angkut. Misalnya dari permuka/medan kerja (front) ke
tempat crusher digunakan truk, dan selanjutnya melalui ore pass ke
loading point; dari sini diangkut ke ore bin dengan memakai belt conveyor,
dan akhirnya diangkut ke luar tambang dengan cage.
3.2. Pemanfaatan Bijih Besi
Dalam kehidupan seharti-hari, bijih besi dimanfaatkan untuk banyak bidang
terutama perindustrian antara lain :
a.

Bahan pembuatan baja Alloy dengan logam lain seperti tungsten, mangan,
nikel, vanadium, dan kromium untuk menguatkan atau mengeraskan
campuran.

b.

Keperluan metalurgi dan magnet Katalis dalam kegiatan industri Besi


radiokatif (iron 59) digunakan di bidang medis, biokimia, dan metalurgi.

c.

Sebagai pewarna, salah satu bahan pembuat plastik, tinta, kosmetik, dan
sebagainya.

3.3. Studi Kasus: Aplikasi Metode Magnetik untuk Eksplorasi Bijih Besi
Bukit Munung Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat

12

3.3.1. Geologi Daerah Penelitian


Pada penelitian ini akan digunakan metode magnetik untuk memetakan
potensi bijih besi di bawah permukaan. Daerah penelitian adalah di kawasan Bukit
Munung yang terletak di Desa Sukabangun Kecamatan Sungai Betung Kabupaten
Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat tepatnya berada di sekitar titik koordinat
00o 51 22,8 LU dan 109o 20 16,2 BT. Lokasi ini dipilih karena secara
pengamatan langsung di lapangan terdapat beberapa singkapan berupa batuan besi
berwarna hitam kemerahan yang diduga sebagai hematit.

Gambar 3.2. Letak Lokasi Penelitian dalam Peta Kalimantan Barat


Berdasarkan data penelitian yang telah dilakukan oleh N. Suwarna, dkk
(1993) diketahui bahwa pembahasan kerangka geologi daerah penyelidikan
termasuk dalam lembar Singkawang, Kalimantan, 1316 skala 1 : 250.000
(Gambar 3.3).

13

Gambar 3.3. Peta geologi Kabupaten Bengkayang


(Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung, 1993)
Kawasan Sungai Betung Kabupaten Bengkayang didominasi oleh satuan
batuan dari formasi Sungai Betung dan formasi Banan yang merupakan sedimen
yang terbentuk pada jura awal hingga trias akhir (Steve, dkk, 1998). Mineralisasi
bijih besi di lokasi ini tersingkap di batas antara kedua formasi tersebut.
Mineralisasi bijih besi di lokasi ini diduga terbentuk pada kapur awal bersamaan
dengan pembentukan batuan Gunung Api Raya. Struktur patahan atau sesar di
daerah ini tidak ada yang berdimensi besar. Patahan-patahan yang ada hanya
beberapa patahan kecil yang bersifat lokal, terutama dijumpai di daerah-daerah
dengan topografi yang tinggi dan terjal.
3.3.2. Metodologi
Penelitian ini dilakukan dengan tahapan-tahapan: studi pustaka, pemodelan
sintesis, akuisisi data, pengolahan data dan interpretasi. Studi pustaka meliputi
studi geologi daerah penelitian baik secara regional maupun lokal. Pemodelan
sintetik dilakukan untuk mengestimasi respon anomali magnetik di daerah
penelitian dengan mengadopsi besaran-besaran yang diketahui dari studi pustaka.
Respon anomali benda magnetik perlu dimodelkan karena respon anomali ini
tidak hanya bergantung pada batuan bawah permukaan saja tetapi dipengaruhi
oleh deklinasi, inklinasi dan intensitas magnetik suatu daerah. Rangkaian
penelitian digambarkan pada Gambar 3.4. di bawah ini. Proses akuisisi data

14

menggunakan 2 magnetometer, satu berperan sebagai base yang berfungsi sebagai


pengukur variasi harian medan total magnet di base station, sementara satu alat
lagi berperan sebagai roover magnetometer yang berfungsi untuk mengukur total
medan magnet di setiap station pengukuran. Medan magnetik observasi (Tobs)
diukur pada setiap stasiun yang tersebar di area penelitian. Medan magnet IGRF
adalah nilai refferensi medan magnet di suatu tempat. Medan magnet IGRF
merupakan nilai kuat medan magnetik ideal di suatu tempat di permukaan bumi
tanpa adanya pengaruh anomali magnetik batuan. Variasi medan magnet harian
disebut koreksi harian (diurnal correction) diukur di base station. Secara umum
anomali magnetik suatu tempat dapat dirumuskan sebagai :

Gambar 3.4. Diagram alir penelitian


3.3.3. Hasil dan Diskusi
Hasil pengamatan geologi di daerah penelitian menunjukan adanya
singkapan-singkapan bijih besi berjenis hematit di beberapa titik.

15

Gambar 3.5. Bijih besi (iron ore) yang diduga sebagai hematit di lembah bukit
Munung
Singkapan yang ditemukan di daerah penelitian menunjukkan sifat sebagai
bijih besi dengan kemagnetan kuat (Gambar 3.5). Dari hasil pengamatan
lapangan, ukuran dari bijih yang ada di daerah Bukit Munung dapat dibedakan
menjadi dua tipe yaitu: Sebagai bolder yang terlepas dan singkapan di lerenglereng bukit. Hasil pemetaan secara mapping daerah penelitian menghasilkan
distribusi intensitas medan magnet yang telah dikoreksi sebagaimana ditampilkan
pada Gambar 3.6.

16

Gambar 3.6. Distribusi intensitas medan magnet dalam koordinat UTM 49 N dan
posisi lintasan AB

Gambar 3.7. Interpretasi penampang vertikal pada lintasan AB


Dari Gambar 3.7. dapat diinterpretasikan bahwa endapan bijih besi tersebut
terdapat di wilayah barat laut bukit Munung dan terdapat empat buah endapan
bijih besi yang berada di sepanjang lintasan AB. Endapan bijih besi pertama
berbentuk border memiliki nilai suseptibilitas 0.22 SI berada pada posisi 64 m
hingga 97 m dari posisi awal lintasan (titik A) dan kedalaman 6.13 m hingga
75.78 m dari permukaan. Berdasarkan nilai suseptibilitasnya maka dapat diduga

17

bahwa pada batuan tersebut berjenis hematit yang memiliki vein-vein magnetit.
Endapan bijih besi yang kedua berbentuk border memiliki nilai suseptibilitas 0.12
SI berada pada posisi 41 m hingga 53 m dari posisi awal lintasan dan kedalaman
7.46 m hingga 30.46 m dari permukaan. Berdasarkan nilai suseptibilitasnya maka
dapat diduga bahwa batuan tersebut berjenis hematit. Endapan bijih besi ketiga
menyerupai vein memiliki nilai suseptibilitas 0.15 SI berada pada posisi 165 m
hingga 248 m dari posisi awal lintasan dan kedalaman 8.99 m hingga 58 m dari
permukaan.
Berdasarkan nilai suseptibilitasnya maka dapat diduga bahwa batuan
tersebut berjenis hematit. Endapan bjih besi keempat berbentuk border memiliki
nilai suseptibilitas 0.01 SI berada pada posisi 13 m hingga 25 m dari posisi awal
lintasan dan kedalaman 14 m hingga 35 m dari permukaan. Berdasarkan nilai
suseptibilitasnya maka dapat diduga bahwa batuan tersebut berjenis hematit.
Hasil proses perhitungan volume endapan bijih besi ini nantinya masih
diklasifikasikan sebagai sumber daya, sehingga perlu eksplorasi yang lebih rinci
untuk mendapatkan hasil ekplorasi yang lebih detail untuk dinyatakan sebagai
cadangan.

18

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Dari hasil pembahasan mengenai endapan bijih besi pada makalah ini, dapat

ditarik kesimpulan antara lain :


1.

Pembentukan mineral logam sangat berhubungan dengan aktivitas


magmatisme dan vulkanisme, pada saat proses magmatisme akhir (late
magmatism), pada suhu sekitar 200oC. Di mana proses aktivitas magma ini
terjadi akibat adanya pergerakan tektonik lempeng.

2.

Endapan bijih besi primer merupakan endapan bijih besi yang terbentuk
akibat adanya proses dari tektonik lempeng sehingga terjadilah proses
magmatisme yang kemudian dapat terbentuk akibat beberapa proses seperti
proses magmatik, metasomatik kontak, dan hidrotermal.

3.

Metode penambangan yang digunakan untuk proses penambangan bijih besi


primer adalah dengan menggunakan metode open pit.

4.

Bijih besi memiliki manfaat yang sangat besar terutama untuk kegiatan
dalam bidang industri.

4.2

Saran
Indonesia memiliki potensi sumber daya bijih besi berkadar rendah dan

cadangan yang kecil. Untuk mengurangi ketergantungan dari impor yang semakin

19

langka dan mahal, diperlukan usaha penambangan bijih besi yang dikembangkan
secara bersama dan saling menguntungkan.

DAFTAR PUSTAKA

http://dearthurjr.blogspot.co.id/2013/05/endapan-mineral.html?m=1
http://geoscity.blogspot.com/2009/03/bijih-besi.html
http://r-jotambang.blogspot.co.id/2011/12/tambang-terbuka_31.html
Ishlah, Teuku. 2009. Potensi Bijih Besi Indonesia Dalam Rangka Pengembangan
Klaster Industri Baja. Perekayasa Madya Pusat Sumber Daya Geologi.
Sampurno, Joko. Aplikasi Metoda Magnetik Untuk Eksplorasi Bijih Besi Studi
Kasus : Bukit Munung Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Univerrsitas Tanjungpura:Pontianak.
Sudiyanto, Yanto. 2010. Pemodelan 3 Dimensi Endapan Bijih Besi Menggunakan
Metoda

Resistivity

Dan

Induced

Polarization

(IP).

Universitas

Indonesia:Jakarta.

20