Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

FITOKIMIA
SKRINING FITOKIMIA, EKSTRAKSI, PEMANTAUAN EKSTRAK,
FRAKSINASI, TEHNIK PEMISAHAN DAN PEMURNIAN

Nama Kelompok

Wulandari
Ratu Galuh C.B.P
Zulia Erni Rahmawati
Miss Hannan Mamu
Miss Suraila Sato
Shift / Kelompok

: D/ 6B

Asisten Praktikum

Tgl. Laporan

: Selasa, 12 januari 2016

(10060313139)
(10060313140)
(10060313141)
(10060313142)
(10060313143)

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT B


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2016
I.

II.

Nama Sediaan
a. Infus Glukosa5%
b. Infus Mannitol 5%
KekuatanSediaan
a. Infus Glukosa50 mg/ml
b. Infus Mannitol 50 mg/ml

Sri

III. PreformulasiZat
1. GLUKOSA

Struktur :
Nama Resmi
Rumus Kimia
Berat Molekul
Pemerian

: GLUCOSUM
: C6H12O6
: 198,17
: Hablur, tidak berwarna, serbuk hablur dan serbuk

Kelarutan

granul, putih, tidak berbau, rasa manis.


: Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam

Penyimpanan

air mendidih, agak sukar larut dalam etanol (95%)


: Dalam wadah tertutup baik
(Dirjen POM.1979 : 268 )

2. Mannitol

Struktur
Nama resmi
Rumus Molekul
Berat Molekul
Pemerian

:
: MANNITOLUM
: C6H12O6
: 182,17
: Serbuk Hablur atau granul mengalur bebas, outih,

Kelarutan

tidak berbau , rasa manis


: Manis mudah larut dalam air, larut dalam larutan
basa, sukar larut dalam piridina, sangat sukar larut

Penyimpanan

dalam etanol, praktis tidak larut dalam eter


: dalam wadah tertutup baik
(Dirjen POM.1995 : 519 )

3. NaCl
Nama Resmi
Rumus Kimia
Berat Molekul
Pemerian

: NATRII CHLORIDUM
: NaCl
: 58,44
: Hablur heksahedral, tidak berwarna atau serbuk
hablur putih, tidak berbau, rasa asin.

Kelarutan

: Larut dalama 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air


mendidih dan dalam lebih kurang 10 bagian

Penyimpanan

gliserol P. sukar larut dalam etanol (95 %) P


: Dalam wadah tertutup baik
(Dirjen POM.1979 : 403 )

4. Aqua Pro Injeksi


Nama Resmi
: AQUA PRO INJEKSI
Sinonim
: Air untuk injeksi
Pemerian
: Keasaman, Kebasahan, Amonium, Besi,
Tembaga, Timbal, Kalsium, Klorida, Nitrat, Sulfat,
zat teroksidasi memenuhi syarat yang tertera pada
Penyimpanan

aqua destilata.
: Dalam wadah tertutup kedap. Jika dalam wadah
tertutup kapas berlemak harus digunakan dalam

Khasiat

waktu 3 hari setelah pembuatan.


: untuk pembuatan injeksi
(Dirjen POM.1979 : 97 )

5. Karbon Adsorben
Pemerian
: Serbuk halus, bebas dari butiran, hitam; tidak
berbau; tidak berasa
Kelarutan
: Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol
Fungsi
: Adsorbsi pirogen
Konsetrasi yang digunakan : 0,1 %
Stabilitas
: Dapat mengadsrbsi air
Penyimpanan
: Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup kedap,
Inkompatibilitas

ditempat sejuk dan kering


: Dapat menurunkan ketersediaan hayati beberapa
obat seperti loperamid dan riboflavin. Reaksi
hidrolisis dan oksidasi dapat dinaikkan.
(Rowe, R. C,.2009:40)

IV. PengembanganBahan
1. Infus Glukosa
Infus Glukosa mengandung glukosa sebanyak 5%. Volume sediaan yang akan
dibuat adalah 500 mL yang dikemas dalam boto linfussteril. Larutan pembawa
yang digunakan adalah Aqua Pro Injeksi.karena A.P.I adalah larutan pembawa

mengandung air yang telah disterilkan dan dikemas dengan cara yang sesuai
sehingga tidak mengandung mikroba, kompatibel dengan cairan tubuh, tidak
toksik dan mudah didapat. Selain itu, A.P.I yang digunakan harus bebas pyrogen
melalui proses depirogenisasi dengan cara menambahkan karbon adsorben 0.1%.
Untuk mengatasi berkurangnya konsentrasi zat aktif akibat adsorpsi oleh karbon
maka semua zat berkhasiat dilebihkan 5% pada saat penimbangan.Infus glukosa
diberikan pada pasien yang mengalami gangguan cairan tubuh serta untuk
memperbaiki keseimbangan elektrolit.Pada sediaan infuse sebaiknya tidak
ditambahkan zat tambahan terlalu banyak.Karena infus yang masuk ke dalam
tubuh dalam jumlah banyak serta harus isotonis dan isohidris (pH 7.4).Larutan
glukosa mempunyai pH 7 sehingga sesuai dengan pH darah.
2. Infus Mannitol
Infus Mannitol mengandung Mannitol sebanyak 5%. Volume sediaan yang
akan dibuat adalah 500 mL yang dikemas dalam botol infuse steril. Larutan
pembawa yang digunakan adalah Aqua Pro Injeksi.karena A.P.I adalah larutan
pembawa mengandung air yang telah disterilkan dan dikemas dengan cara yang
sesuai sehingga tidak mengandung mikroba, kompatibel dengan cairan tubuh,
tidak toksik dan mudah didapat. Selain itu, A.P.I yang digunakan harus bebas
pyrogen melalui proses depirogenisasi dengan cara menambahkan karbon
adsorben 0.1%. Untuk mengatasi berkurangnya konsentrasi zat aktif akibat
adsorpsi oleh karbon maka semua zat berkhasiat dilebihkan 5% pada saat
penimbangan.Infus glukosa adalah osmosis diuretic.Digunakan untuk pasien
gagal ginjal dan meningkatkan pengeluaran substansi toksik dalam tubuhserta
cerebral edema
V. Perhitungan
Infus Glukosa :
Glukosa 5 %
massaglukosa=

5
500 mL=25 gr
100

500 ml = 0,5 L
Osmolaritas Infus Glukosa :

g
zatterlarut
Osmole liter
M
=
1000 Jumla h Ion
liter
BMzatterlarut

Osmole 25 gr /0,5 L
=
1000 1=277.7(Isotonis)
liter
180

Karbon adsorben yang harus ditambahkan


Infus Manitol :
Manitol 5%
massamannitol=

0.1
500 mL=0.5 gr
100

5
500 mL=25 gr
100

OsmolaritasInfus Mannitol :
g
zatterlarut
Osmole liter
M
=
1000 Jumla h Ion
liter
BMzatterlarut
M

Osmole 25 gr /0,5 L
=
1000 1=273.5(Isoto nis)
liter
182.8

Karbon adsorben yang harus ditambahkan


VI.

R/

Formulasi Akhir
a. Infus Glukosa
Glukosa
A.P.I
ad

5%
500mL

b.Infus Mannitol
R/

VII.

Mannitol
A.P.I
ad

Penimbangan

5%
500 mL

0.1
500 mL=0.5 gr
100

a. Infus Glukosa
Nama Bahan

Jumlah bahan (Zat aktif + 5% )


@ botol infuse
1 botol infus
Glukosa
25 g
25 + 5 % = 26.25 g
Karbo adsorbens (0.1%) 0.5 g
0.5 + 5% = 0.525
Aqua
bidest
bebas Ad. 500 mL
500 + 2% = 510 mL
pirogen

b. Infuse Mannitol
Nama Bahan
Mannitol
Karbo adsorbens
Aqua
bidest
pirogen

VIII.

Jumlah bahan (Zat aktif + 5% )


@ botol infus
1 botol infus
25 g
25 + 5 % = 26.25 g
0.5 g
0.5 + 5% = 0.525
bebas Ad. 500 mL
500 + 2% = 510 mL

Penentuan metode sterilisasi


Alat / Bahan
Kaca arloji
Gelas piala
Batang pengaduk
Gelas ukur
Kertas saring
Labu Erlenmeyer
Corong
Beker glass
Botol Infus
Stamper
Tutup infuse
Pinset dan spatel

Metode sterilisasi
Sterilisasi panas lembab
Sterilisasi panas lembab
Sterilisasi panas lembab
Sterilisasi panas kering
Sterilisasi panas kering
Sterilisasi panas lembab
Sterilisasi panas lembab
Sterilisasi panas lembab
Sterilisasi Panas Kering
Dibakar dg alkohol 90%
Direndam alkohol 90%
Di pijar

Pipet tetes
Tutup pipet tetes

Sterilisasi panas lembab


Direndam alkohol 90%

Infus Glukosa
Infus Manitol

Sterilisasi panas lembab


Sterilisasi panas lembab

Sterilisasi Bahan :
1. infus glukosa
Sediaan infuse glukosa dilakukan sterilisasi akhir menggunakan autoklaf
pada suhu 115C selama 30 menit dikarenakan zat aktif yang digunakan tidak
tahan terhadap proses pemanasan dengan oven yang suhu nya terlalu tinggi tetapi
dalam proses pembuatan tetap menggunakan metode aseptis
2. infus manitol
Sediaan infuse manitol dilakukan sterilisasi akhir menggunakan autoklaf
pada suhu 115C selama 30 menit dikarenakan zat aktif tahan terhadap lembab
dan panas dan proses pembuatan sediaan dilakukan tetap menggunakan metode
aseptis

IX. ProsedurPembuatan
a. Infus Glukosa
Semua bahan yang terdiri dari zat aktif (glukosa anhidrat) ditimbang sebanyak
26.25 g dan zat tambahan (karbo adsorbens) ditimbang sebanyak 0.525 g diambil
dengan menggunakan spatel dan penimbangan penimbangan dilakukan dengan
menggunakan kaca arloji.
Aqua bides bebas pirogen diambil sebanyak 510 mL dan dimasukkan kedalam
gelas piala.
Dilakukan kalibrasi terhadap botol infus hingga volume 510 ml
Karbo adsorbens (karbon aktif) yang telah ditimbang sebanyak 0.525 g
dimasukkan kedalam mortar, dan digerus homogen.
Karbon aktif dimasukkan kedalam gelas piala yang telah berisi aqua pro injeksi
510 mL. Lalu diaduk hingga homogen.

Selanjutnya ditambahkan zat aktif (glukosa anhidrat) yang telah ditimbang


sebanyak 26.25 g. Diaduk homogen.
Gelas piala ditutup dengan kaca arloji dan disispi dengan batang pengaduk
Larutan dipanaskan diatas hot plate pada suhu 60-70C selama 15 menit,sambil
sesekali diaduk.
Cek suhu dengan termometer, dilakukan diluar lemari steril
Larutan dituang kedalam kolom melalui saringan G3 dengan bantuan pompa
vakum
Filtrat dari kolom ditampung kedalam botol infuse steril yang telah ditara
Botol ditutup dengan flakon steril, diikat dengan simpul champagne
Sterilisasi akhir :Autoklaf pada suhu 121C selama 15 menit
Beri etiket
b. InfusManitol
Semua bahan yang terdiri dari zat aktif (manitol) ditimbang sebanyak 26.25 g dan
zat tambahan (karbo adsorbens) ditimbang sebanyak 0.525 g diambil dengan
menggunakan

spatel

dan

penimbangan

penimbangan

dilakukan

dengan

menggunakan kaca arloji.


Aqua bides bebas pirogen diambil sebanyak 510 mL dan dimasukkan kedalam
gelas piala.
Dilakukan kalibrasi terhadap botol infus hingga volume 510 ml

Karbo adsorbens (karbon aktif) yang telah ditimbang sebanyak 0.525 g


dimasukkan kedalam mortar, dan digerus homogen.
Karbon aktif dimasukkan kedalam gelas piala yang telah berisi aqua pro injeksi
510 mL. Lalu diaduk hingga homogen.
Selanjutnya ditambahkan zat aktif (maniol) yang telah ditimbang sebanyak 26.25
g. Diaduk homogen.
Gelas piala ditutup dengan kaca arloji dan disispi dengan batang pengaduk
Larutan dipanaskan diatas hot plate pada suhu 60-70C selama 15 menit,sambil
sesekali diaduk.
Cek suhu dengan termometer, dilakukan diluar lemari steril
Larutan dituang kedalam kolom melalui saringan G3 dengan bantuan pompa
vakum
Filtrat dari kolom ditampung kedalam botol infus steril yang telah ditara
Botol ditutup dengan flakon steril, diikat dengan simpul champagne
Sterilisasi akhir :Autoklaf padasuhu 121C selama 15 menit
Beri etiket

X.

Evaluasi Sediaan

1. Penetapan pH
Bertujuan untuk menetapkan pH suatu sediaan larutan agar sesuai dengan
monografi.nilai pH dalam darah normal 7,35 7,45
Cara kerja :

Kertas indikator pH dicelupkan dalam sediaan injeksi kemudian perubahan


warna yang dihasilkan disesuaikan dengan tabel pH yang telah tersedia di literatur
2.Uji Kejernihan Larutan
Bertujuan untuk sediaan infuse atau injeksi yang berupa larutan harus
jernih dan bebas dari kotoran, maka perlu dilakukan uji kejernihan secara visual.
Cara pengerjaan :
Pengujian dilakukan secara visual. botol diputar 180 berulang-ulang di
depan suatu background yang berwarna hitam untuk melihat partikulat yang
berwarna putih dan di depan suatu background yang berwarna putih untuk melihat
partikulat yang berwarna hitam.
3. Uji Kebocoran
Bertujuan untuk memeriksa keutuhan kemasan untuk menjaga sterilitas
dan volume serta kestabilan sediaan.
Cara pembuatan :
Wadah sediaan diletakan secara terbalik untuk mengetahui adanya
kebocoran atau tidak
4. Volume terpindahkan
Bertujuan untuk memastikan volume yang terukur sama dengan volume
yang tertera pada etiket
Cara pembuatan :
Isi perlahan-lahan dituang dari tiap wadah kedalam gelas ukur kering
terpisah dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari sediaan.

XI. Hasil Evaluasi Sediaan


Evaluasi
Penetapan pH
Uji Kejernihan larutan
Uji Kebocoran
Volume Terpindahkan

Hasil Evaluasi
Infus Glukosa
Infus Manitol
pH = 6
pH = 6
Jernih
Jernih
Tidak bocor
Tidak bocor
506 mL
508 mL

XII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dibuat sediaan steril Infus Glukosa dan Infus
Manitol.
Pada sediaan infus glukosa, glukosa (C6H12O6) sendiri merupakan suatu
gula monosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan
sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan (kalorigenikum), mudah larut
dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih, agak sukar larut dalam etanol
(95%) P mendidih ; sukar larut dalam etanol (95%)P. Terutama digunakan sebagai
infus untuk menurunkan tekanan intraokuler pada glaucoma dan selama bedah
mata, juga untuk meringankan tekanan intracranial pada bedah otak . Umumnya
infus glukosa diberikan pada pasien yang mengalami gangguan cairan tubuh serta
untuk memperbaiki keseimbangan elektrolit.
Pada sediaan steril infus manitol, zat aktif manitol secara komersil
tersedia dengan kekuatan sediaan 50 mg/mL. Menurut Better (1997) manitol
adalah polialkohol non-metabolik C-6 dengan berat molekul 182, dan merupakan
agen diuretik tertua serta paling banyak digunakan sebagai osmotik. Selain
menjadi agen hiperosmotik, manitol juga telah terbukti sebagai scavenger efektif
radikal hidroksil bebas dalam berbagai sistem biologis termasuk ekstraseluler.
Menurut Shawkat (2012) manitol adalah zat alami yang ditemukan dalam
ganggang laut, jamur segar, dan dalam eksudat dari pohon. Serta merupakan
isomer dari sorbitol, yang biasanya disintesis oleh hidrogenasi glukosa. Manitol
juga tersedia secara komersial dalam berbagai bubuk kristal putih dan bentuk
granular, yang semuanya larut dalam air. Infus manitol bersifat asam (pH 6.3) dan
dapat mengkristal jika disimpan pada suhu kamar, tetapi dapat dibuat larut lagi
dengan pemanasan.
Manitol menyebabkan pelepasan prostaglandin ginjal yang menyebabkan
vasodilatasi ginjal dan peningkatan aliran urin tubular yang dipercaya untuk
melindungi terhadap cedera ginjal dengan mengurangi obstruksi tubular. Hal ini
juga bertindak sebagai scavenger radikal bebas dan mengurangi efek berbahaya
dari radikal bebas selama ischaemia-reperfusion injury. Manitol digunakan untuk
terapi dan profilaksis oliguria pada gagal ginjal akut, edema otak, peningkatan
tekanan intrakranial.

(Shawkat, dkk. 2012)


Manitol dibuat sebagai sediaan infus yang merupakan sediaan steril berupa
larutan, bebas pirogen dan isotonis terhadap darah, yang disuntikkan langsung
kedalam vena dalam volume relatif banyak. Pemberian obat secara intravena
menghasilkan kerja obat yang cepat karena absorbsi obat tidak menjai maslah,
maka tingkatan darah optimum dapat dicapai dengan kecepatan dan kesegeraan.
Pada keadaan gawat pemberian obat secara intravena dapat menjadi cara yang
menyelamatkan hidup karena penempatan obat langsung ke sirkulais darah dan
kerja obat yang cepat terjadi. Namun keburukannya adalah jika obat telah
disuntikkan tidak dapat ditarik lagi.
Volume sediaan yang akan dibuat adalah 500 mL untuk masing-masing
infus glukosa dan infus manitol, yang dikemas dalam botol infus. Volume sediaan
yang tertera pada etiket adalah 500 mL, pada larutan encer maka perlu
ditambahkan 5%. Jadi total sediaan infus yang akan dibuat adalah 510 mL. Pada
sediaaan infus tidak perlu ditambahkan zat pengawet karena volume sediaan yang
dibuat besar. Jika ditambahkan pengawet maka jumlah pengawet dibutuhkan juga
besar sehingga dapat memberikan efek toksik yang mungkin disebabkan oleh
pengawet itu sendiri. Pada infus glukosa maupun infus manitol tidak perlu
ditambahakan zat pengisotonis, karena sudah iotonis dan tidak perlu juga
ditambahkan zat peng-adjust pH karena pH larutan glukosa dan manitol
mendekati pH darah.
Pembawa yang digunakan adalah pembawa air yaitu aqua pro injeksi, aqua
pro injeksi merupakan air yang dijernihkan dengan cara destilasi atau reverse
osmotic, aqua pro injeksi tidak mengandung pirogen (penyebab demam). Pada
pembuatan sediaan infus glukosa maupun infus manitol, digunakan karbon aktif
sebagai karbon adsorben, dengan tujuan untuk menyerap partikel kasar yang
terdapat pada larutan dan menjerap pirogen endotoksin sehingga larutan menjadi
jernih. Mekanisme kerja dari karbon aktif ini adalah menyerap pirogen, sehingga
pirogen akan terserap pada karbon adsoben, namun karbon adsorben memiliki
kekurangan, yaitu tidak dapat menghentikan pertumbuhan mikroba. Sebelum
sediaan disaring dengan menggunakan vakum, sediaan dipanaskan diatas hot plate
pada suhu 60-70C selama 15 menit sambil sesekali diaduk. Tujuan pemanasan

ini adalah untuk mengaktifkan karbo adsorben agar kerjanya dalam menyerap
partikel-partikel kasar (menjernihkan) dapat berlangsung secara maksimal.
Setelah itu disaring dengan bantuan vakum, untuk menghilangkan komponen tak
larut dan serat-serat.
Metode sterilisasi Infus Glukosa dan Infus Manitol adalah metode sterilisasi
panas lembab karena kedua sediaan infus dibuat dalam bentuk larutan sejati, dan
zat aktifnya stabil terhadap pemanasan maupun uap panas.
Evaluasi sediaan yang dilakukan terhadap Infus Glukosa dan Manitol adalah
evaluasi fisika, berupa evaluasi pH, uji kejernihan, uji kebocoran dan volume
terpindahkan.

pH Infus Glukosa setelah diukur menggunakan indikator pH

universal adalah 6, begitu pula dengan pH Infus Manitol setelah diukur


menggunakan indikator pH universal adalah 6, yang mana sesuai dengan pH
kestabilan manitol dan mendekati pH darah. Tujuan utama pengaturan pH dalam
sediaan infus adalah untuk mempertinggi stabilitas sediaan obat, misalnya
perubahan warna, efek terapi optimal obat, menghindari kemungkinan terjadinya
raksi dari obat tersebut, sehingga obat tersebut mempunyai aktivitas dan potensi.
Selain itu untuk mencegah terjadinya rangsangan atau rasa sakit sewaktu
disuntikkan. pH yang terlalu tinggi akan menyebabkan nekrosis jaringan,
sedangkan pH yang terlalu rendah menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan.
Bahan pembuat wadah berpengaruh terhadap kestabilan obat dengan
volume besar sseperti infus. Sehingga kemasan harus diusahakan tidak
mempengaruhi kestabilan obat. Botol infus ditutup dengan karet penutup dan
tidak boleh ada kebocoran karena dapat menyebabkan dosis berkurang dan
partikel asing masuk kedalam kemasan. Untuk itu dilakukan uji kebocoran dengan
cara membalikkan botol. Dari hasil uji diperoleh bahwa kemasan infus glukosa
maupun infus manitol tidak bocor.
Infus juga harus bebas dari partikel asing dan jenih. Untuk itu diakukan uji
kejernihan. Kedua uji ini dilakukan dengan menerawang sediaan dibawah lampu
neon dan mengamati apakah ada partikel asing atau tidak. Dari hasil uji setelah
dilihat di bawah lampu dan background hitam sediaan Infus Glukosa dan sediaan
infus Manitol terlihat jernih dan tidak terdpat partikel asing.
Selanjutnya dilakukan pengujian volume terpindahkan, dengan cara
memindahkan sediaan kedalam gelas ukur, untuk mengukur volumenya. Dari

hasil pengujian diperoleh volume terpindahkan infus glukosa ialah 506 mL dan
infus manitol 508 mL tidak jauh berbeda dengan yang tertera pada etiket yaitu 500
mL. Karena volume sediaan yang dibuat adalah 510 mL, pada saat pengujian
volume terpindahkan volume sediaan menjadi 506 mL pada infus glukosa dan 508
mL pada infus manitol , sehingga volume yang hilang tidak terlalu banyak yaitu 4
mL dan 2 mL.
XIII. Kesimpulan
1. Sediaan infuse sangat perlu atau mutlak dihitung tonisitasnya agar diketahui
sifatnya hipertonis atau hipotonis, ditambah NaCl jika bersifat
hipotonis.
2. Pada infus glukosa maupun infus manitol tidak perlu ditambahakan zat
pengisotonis, karena sudah iotonis dan tidak perlu juga ditambahkan zat
peng-adjust pH karena pH larutan glukosa dan manitol yaitu 6 mendekati
pH darah norma yaitu 7,35-7,45
3. Pada infuse glukosa maupun infuse manitol ditambahkan karbon adsorben
gunanya untuk menyerap pirogen pada sediaan infuse tujuan nya untuk
sediaan bebas pirogen alasan lainya dikarenakan sediaan infuse diberikan
dalam jumlah besar ke dalam tubuh

Daftar Pustaka
Ansel, Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat.
Jakarta: UI Press .
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: DepKes
RIDeprtemen Kesehatan Republik Indonesia.
Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Deprtemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Rowe R. C. et.al. 2006. Handbook Of Pharmaceutical Excipients Fifth Edition.
London, UK : Pharmaceutical Press.
Syamsuni., 2005. Ilmu Resep, Yogyakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Shawkat, H., Westwood, M., Mortimer, A.2012. Mannitol : a review of its clinical
users. Contin Educ Anesth Crit Care Pain, 12:82-85