Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS UU NO 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Keperawatan


Dosen Pembimbing

: Ns Devi Nurmalia, S. Kep., M. Kep


Oleh
A.14.2
Kelompok 5

Alfiah Trihastutik

22020114130098

Atik Naila Haqqi Silmy

22020114120051

Isnaini Nur Faizah

22020114120020

Nurul Agustina Wati

22020114130116

Siti Aisyah

22020114120049

Rifqi Rizqia

22020114140089

JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016

UU NO 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN


Pada BAB I tentang ketentuan umum pasal satu ayat 5 dan 6 menjelaskan
tentang jasa dan promosi di antaranya ialah :
(5) Jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi
yang disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen.
Dalam dunia kesehatan khususnya dikalangan keperawatan jasa yang
diberikan kepada konsumen belum begitu memberikan pelayanan yang
memuasakan karena masih saja jasa perawat yang masih membedakan
status sosial pasien kaya dan yang miskin. Jasa pelayanan juga untuk
memeberikan kepuasan pada semua pasien belum terbentuk, biasanya
hal ini disebabkan oleh kebiasaan dan budaya di rumah sakit tempat dia
bekerja. Masih banyak pasien yang baru masuk UGD belum ditangani
yang di karenakan masalah administrasi dll sehingga membuat para klien
tidak mendapatkan jasa pelayanan yang sesuai dengan apa yang mereka
inginkan. Contoh lagi pada pasien yang menggunakan BPJS yang saat ini
banyak

dikeluhkan.

Mereka

para

pasien

yang

menggunakan

BPJS

harusnya mendapatkan jasa sesuai apa yang mereka harapkan, mereka


tiap bulan membayar asuransi, namun ketika mereka sakit pihak dari
rumah sakit malah mempersulit proses pengobatannya. Sehingga jasa
yang harusnya diberikan malah membuat pasien merasa kurang puas
dalam jasa pelayanan BPJS.
(6) Promosi adalah kegiatan pengenalan atau penyebarluasan informasi
suatu barang dan/atau jasa untuk menarik minat beli konsumen terhadap
barang dan/atau jasa yang akan dan sedang diperdagangkan.
Promisi kesehatan dalam dunia keperawatan sudah sangatlah bagus
karena ketika mempromosikan barang atau jasa yang mereka tawarkan
cukup menarik perhatian para pasien sehingga banyak sekali para pasien
senang dan terkadang banyak yang menggunakan jasa atau barang
sesuai dengan kebutuhan pasien. Selain itu promosi kesehatan juga
merupakan salah satu lingkup dari diri perawat. Dengan promosi
kesehatan juga akan meningkatkan mutu dari perawat itu sendiri, namun

untuk sekarang ini masih ada perawat yang belum berani dan percaya diri
untuk mempromosikan ke ahliannya atau kegiatan yang akan menunjang
karir hidupnya di dunia kesehatan.
Pada pasal 13 ayat 2 yang berbunyi :
(13) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan atau mengiklankan obat, obat
tradisional, suplemen makanan, alat kesehatan, dan jasa pelayanan kesehatan dengan
cara menjanjikan pemberian hadiah berupa barang dan/atau jasa lain.
Pada pasal tersebut kurang menguntungkan bagi bidang pemasaran kesehatan termasuk
pemasaran jasa keperawatan karena dibatasi dengan tidak boleh menjanjikan pemberian
hadiah berupa barang atau jasa padahal dengan cara tersebut akan lebih menarik minat
konsumen. Dengan adanya pasal tersebut pemasaran bidang kesehatan menjadi terbatas dan
tidak leluasa dalam mengembangkan kreativitas pemasaran seperti produk/jasa yang lain,
Dalam bab VIII dalam UU perlindungan konsumen dibentuk sebuah badan perlindungan
konsumen dimana dalam pasal 34 disebutkan beberapa tugasnya yaitu melakukan penelitian
menyangkut keselamatan konsumen dan menerima pengaduan tentang masalah perlindungan
konsumen di masyarakat. Hal ini berarti bahwa kepuasan pasien menjadi hal yang utama
dalam pelayanan dan badan perlindungan tersebut sebagai pengawas kinerja tenaga keehatan.
Perawat adalah salah satu tenaga kesehatan yang memiliki intensitas temu lebih banyak dari
yang lain, sehingga keprofesionalan perawat akan lebih banyak teruji dan dinilai oleh pasien.
Pada tahun 2009 2010 lembaga perlindungan mendapatkan pengaduan dari pasien, dimana
rata-rata keluhan utama ialah masalah informasi dan pelayanan. Pasien menilai kedua hal
tersebut belum diberikan secara optimal malah cenderung mengecewakan. Disini perawat
berperan besar dalam melindungi keselamatan, kenyamanan dan memberikan informasi
terhadap pasien dan keluarganya, sehingga dibutuhkan manajemen keperawatan yang baik
agar menjaga keprofesionalan perawat dan menimbulkan kepuasan pasien.
Dewasa ini pasien sebagai konsumen kesehatan lebih kritis menanggapi hak haknya sebagai
konsumen kesehatan yang harus dilindungi dari tindakan menyimpang pelaku usaha jasa
layanan kesehatan. Dengan adanya Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 untuk
melindungi kepentingan pasien serta melindungi pihak pasien dari hal-halatau perbuatan yang
melawan hukum yang dilakukan oleh pelaku usaha jasa layanan kesehatan. Seorang pasien
yang merasa dirugikan hak haknya oleh pelaku usaha jasa layanan kesehatan dapat

mengajukan gugatan kepada dokter,perawat, Rumah Sakit maupun ketiganya untuk meminta
pertanggungjawaban atas pelayanan yang diberikan tersebut karena tidak sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Hal ini akan menuntut tenaga kesehatan bertindak hati-hati sesuai
standar yang berlaku.