Anda di halaman 1dari 16

TUGAS EPIDEMIOLOGI

HEPATITIS B
Dosen: Irfan Muhhabibi, S.Kep,.M.Kes

Di Susun Oleh:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Fransiska
Nurliyani
Nurrotul Nimah
Ni Komang
Endah
Maria Utama

UNIVERSITAS MALAHAYATI FAKULTAS KEDOKTERAN


JURUSAN DIV KEBIDANAN KOMUNITAS
BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hepatitis telah menjadi masalah global, dimana dipengaruhi oleh pola makan,
kebiasaan merokok, gaya hidup tidak sehat, penggunaan obat-obatan, bahkan
tingkat ekonomi dan pendidikan menjadi beberapa penyebab dari penyakit ini.
Penyakit hepatitis merupakan suatu kelainan berupa peradangan organ hati yang
dapat disebabkan oleh banyak hal, antara lain infeksi virus, gangguan
metabolisme, obat-obatan, alkohol, maupun parasit. Hepatitis juga merupakan
salah satu penyakit yang mendapatkan perhatian serius di Indonesia, terlebih
dengan jumlah penduduk yang besar serta kompleksitas yang terkait. Selain itu
meningkatnya kasus obesitas, diabetes melitus, dan hiperlipidemia, membawa
konsekuensi bagi komplikasi hati, salah satunya hepatitis (Wening Sari, 2008).
Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan
klinis, biokimia serta seluler yang khas (Bar, 2002). Hepatitis telah menjadi
masalah global. Saat ini diperkirakan 400 juta orang di dunia terinfeksi penyakit
hepatitis B kronis, bahkan sekitar 1 juta orang meninggal setiap tahun karena
penyakit tersebut. Hepatitis menjadi masalah penting di Indonesia yang
merupakan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia (Wening Sari, 2008).
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2011 dalam Anna (2011)
menyebutkan, hingga saat ini sekitar dua miliar orang terinfeksi virus hepatitis B
di seluruh dunia dan 350 juta orang di antaranya berlanjut jadi infeksi hepatitis B
kronis. Diperkirakan, 600.000 orang meninggal dunia per tahun karena penyakit
tersebut. Angka kejadian infeksi hepatitis B kronis di Indonesia diperkirakan
mencapai 5-10 persen dari jumlah penduduk.
Hepatitis B termasuk pembunuh diam-diam karena banyak orang yang tidak
tahu dirinya terinfeksi sehingga terlambat ditangani dan terinfeksi seumur hidup.
Kebanyakan kasus infeksi hepatitis B bisa sembuh dalam waktu enam bulan,
tetapi sekitar 10 persen infeksi bisa berkembang menjadi infeksi kronis. Infeksi
kronis pada hati bisa menyebabkan terjadinya pembentukan jaringan ikat pada
hati sehingga hati berbenjol-benjol dan fungsi hati terganggu dan dalam jangka
panjang penderitanya bisa terkena sirosis serta kanker hati.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2007), prevalensi nasional hepatitis
klinis sebesar 0,6 persen. Sebanyak 13 provinsi di Indonesia memiliki prevalensi
di atas nasional. Kasus penderita hepatitis tertinggi di provinsi Sulawesi Tengah
dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Penyakit hepatitis kronik menduduki urutan

kedua berdasarkan penyebab kematian pada golongan semua umur dari kelompok
penyakit menular. Rata-rata penderita hepatitis antara umur 15 44 tahun
untuk di pedesaan. Penyakit hati ini menduduki urutan pertama sebagai penyebab
kematian. Sedangkan di daerah perkotaan menduduki urutan ketiga, kata
Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam peringatan di RS Dr
Sardjito Yogyakarta.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Hepatitis B
2.1.1

Pengertian

Hepatitis

didefinisikan

sebagai

suatu

penyakit

yang

disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB) dan ditandai dengan suatu


peradangan yang terjadi pada organ tubuh seperti hati (Liver). Penyakit
ini banyak dikenal sebagai penyakit kuning, padahal penguningan
(kuku, mata, kulit) hanya salah satu gejala dari penyakit Hepatitis itu
(Misnadiarly, 2007).
2.1.2

Etiologi
Terjadinya Hepatitis B disebabkan oleh VHB yang terbungkus
serta mengandung genoma DNA (Deoxyribonucleic acid) melingkar.
Virus ini merusak fungsi liver dan terus berkembang biak dalam sel-sel
hati (Hepatocytes). Akibat fungsi serangan ini sistem kekebalan tubuh
kemudian memberi reaksi dan melawan. Kalau berhasil maka virus
dapat terbasmi habis, tetapi jika gagal virus akan tetap tinggal dan
menyebabkan Hepatitis B kronis (si pasien sendiri menjadi carrier atau
pembawa virus seumur hidupnya). Dalam seluruh proses ini liver
mengalami peradangan (Misnadiarly, 2007).

2.1.3

Sumber Penularan
VHB mudah ditularkan kepada semua orang. Penularannya dapat
melalui darah atau bahan yang berasal dari darah, cairan semen
(sperma), lendir kemaluan wanita (Sekret Vagina), darah menstruasi.
Dalam jumlah kecil HbsAg dapat juga ditemukan pada Air Susu Ibu
(ASI), air liur, air seni, keringat, tinja, cairan amnion dan cairan
lambung (Dalimartha, 2004).

2.1.4

Cara Penularan

Ada dua macam cara penularan Hepatitis B, yaitu transmisi


vertikal dan transmisi horisontal.
1. Transmisi vertikal
Penularan terjadi pada masa persalinan (Perinatal). VHB ditularkan dari ibu
kepada bayinya yang disebut juga penularan Maternal Neonatal. Penularan
cara ini terjadi akibat ibu yang sedang hamil terserang penyakit Hepatitis B
akut atau ibu memang pengidap kronis Hepatitis B (Dalimartha, 2004).
2. Transmisi horisontal
Adalah penularan atau penyebaran VHB dalam masyarakat. Penularan terjadi
akibat kontak erat dengan pengidap Hepatitis B atau penderita Hepatitis B akut.
Misalnya pada orang yang tinggal serumah atau melakukan hubungan seksual
dengan penderita Hepatitis B (Dalimartha, 2004).
Cara penularan paling utama di dunia ialah dari ibu kepada bayinya saat
proses melahirkan. Kalau bayinya tidak divaksinasi saat lahir bayi akan menjadi
carrier seumur hidup bahkan nantinya bisa menderita gagal hati dan kanker hati.
Selain itu penularan juga dapat terjadi lewat darah ketika terjadi kontak dengan
darah yang terinfeksi virus Hepatitis B (Misnadiarly, 2007).
2.1.5

Masa Inkubasi
Masa inkubasi (saat terinfeksi sampai timbul gejala) sekitar 2496 minggu (Misnadiarly, 2007). Menurut Sudoyo (2006), masa
inkubasi VHB berkisar dari 15-180 hari (rata-rata 60-90 hari).

2.1.6

Gejala dan Tanda


Munculnya gejala ditentukan oleh beberapa faktor seperti usia
pasien saat terinfeksi, kondisi kekebalan tubuh dan pada tingkatan
mana penyakit diketahui. Gejala dan tanda antara lain :

a. Mual-mual (Nausea)
b. Muntah-muntah (Vomiting) disebabkan oleh tekanan hebat pada liver sehingga
membuat keseimbangan tubuh tidak terjaga
c. Diare

d. Anorexia yaitu hilangnya nafsu makan yang ekstrem dikarenakan adanya rasa
mual
e. Sakit kepala yang berhubungan dengan demam, peningkatan suhu tubuh
f. Penyakit kuning (Jaundice) yaitu terjadi perubahan warna kuku, mata dan kulit
(Misnadiarly, 2007).
2.1.7

Kelompok yang Rentan

Adapun kelompok yang rentan terkena Hepatitis B adalah :


a. Anak yang baru lahir dari ibu yang terkena Hepatitis B
b. Tinggal serumah atau berhubungan seksual dengan penderita Hepatitis
c. Mereka yang tinggal atau sering berpergian ke daerah endemis Hepatitis B
(Misnadiarly, 2007).
2.1.8

Prognosa
Bila seseorang terinfeksi VHB maka proses perjalanan
penyakitnya tergantung pada aktifitas sistem pertahanan tubuhnya. Jika
sistem pertahanan tubuhnya baik maka infeksi VHB akan diakhiri
dengan proses penyembuhan. Namun, bila sistem pertahanan tubuhnya
terganggu maka penyakitnya akan menjadi kronik. Penderita Hepatitis
B Kronik dapat berakhir menjadi sirosis hati atau kanker hati
(Karsinoma

Hepatoceluler).

Sirosis

dan

kanker

hati

sering

menimbulkan komplikasi berat berupa pendarahan saluran cerna


hingga Koma Hepatik (Dalimartha, 2004).
2.1.9

Diagnosa
Diagnosa yang dapat dilakukan yaitu serologi (test darah) dan
biopsi liver (pengambilan sampel jaringan liver). Bila HbsAg positif
maka orang tersebut telah terinfeksi oleh VHB (Misnadiarly, 2007)

2.1.10 Pencegahan Hepatitis B


Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui program imunisasi. Imunisasi
adalah upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara

memasukkan kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan kedalam tubuh yang
diharapkan dapat menghasilkan zat antibodi yang pada saatnya nanti digunakan
untuk melawan kuman atau bibit penyakit yang menyerang tubuh (Hadinegoro,
2008).
a. Imunisasi Wajib
Imunisasi yang diwajibkan meliputi BCG (Bacille Calmette Guerin). Polio,
Hepatitis B, DTP (Difteria, Tetanus, Pertusis) dan Campak.
b. Imunisasi yang Dianjurkan
Imunisasi yang dianjurkan diberikan kepada bayi/anak mengingat beban penyakit
(Burden of disease) namun belum masuk ke dalam program imunisasi nasional
sesuai prioritas. Imunisasi dianjurkan adalah HIb (Haemophillus Influenza tipe
b), Pneumokokus, Influenza, MMR (Measles, Mumps, Rubella), Tifoid,
Hepatitis A, Varisela, Rotavirus, dan HPV (Human Papilloma Virus)
(Hadinegoro, 2008).
2.1.11 Faktor dan Penyebab Resiko
Penyebab
1. Infeksi hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B yang menular
secara langsung melalui darah, air mani atau cairan tubuh lain. Ketika
virus hepatitis b masuk kedalam hati , virus ini akan menyarang sel hati
dan melipat gandakan dirinya . hal ini akan menyababkan pembekakan
pada hati dan memicu tanda dan gejala infeksi hepatitis b.
2. Virus hepatitis b menular dengan cara
a.

Hubungan seksual

b.

Berbagi jarum suntik

c.

Kontak langsung dengan darah

d.

Menurun dari ibu kepada anak

Faktor Resiko :
a. Melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berbeda beda
tanpa menggunakan alat pengaman
b. Melakukan hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi hepatitis B
tanpa menggunakan alat pengaman
c. Memiliki penyakit seksual menular seperti gonorhea atau
chamydia
d. Berbagi jarum suntik
e. Satu rumah dengan orang yang terinfeksi hepatitis B menjalani
hemodialysis ( cuci darah )
2.2 Imunisasi Hepatitis B
Vaksin Hepatitis B harus segera diberikan setelah lahir, mengingat
Vaksinasi Hepatitis B merupakan upaya pencegahan yang efektif untuk
memutuskan rantai penularan melalui transmisi maternal dari ibu
kepada bayinya. Ada dua tipe vaksin Hepatitis B yang mengandung
HbsAg, yaitu (1) vaksin yang berasal dari plasma, dan (2) vaksin
rekombinan. Kedua ini aman dan imunogenik walaupun diberikan
pada saat lahir karena antibodi anti HbsAg tidak mengganggu respons
terhadap vaksin (Wahab, 2002).
Imunisasi Hepatitis B pasif dilakukan dengan memberikan
Hepatitis

Imunoglobulin

(HBIg)

yang

akan

memberikan

perlindungan sampai 6 bulan. HBIg tidak selalu tersedia di kebanyakan


negara berkembang, disamping itu harganya yang relatif mahal.
Imunisasi aktif dilakukan dengan vaksinasi Hepatitis B. Dalam
beberapa keadaan, misalnya bayi yang lahir dari ibu penderita
Hepatitis B perlu beberapa keadaan, misalnya bayi yang lahir dari ibu
penderita Hepatitis B perlu diberikan HBIg mendahului atau bersamasama dengan vaksinasi Hepatitis B. HBIg yang merupakan antibodi
terhadap VHB diberikan secara intra muskular dengan dosis 0,5 ml,
selambat-lambatnya 24 jam setelah persalinan (Dalimartha, 2004)

Vaksin Hepatitis B (hepB) diberikan selambat-lambatnya 7 hari setelah


persalinan. Untuk mendapatkan efektifitas yang lebih tinggi, sebaiknya
HBIg dan vaksin Hepatitis B diberikan segera setelah persalinan
(Dalimartha, 2004).
2.3 Program Imunisasi Hepatitis B
Pedoman nasional di Indonesia merekomendasikan agar seluruh
bayi diberikan imunisasi Hepatitis B dalam waktu 12 jam setelah lahir,
dilanjutkan pada bulan berikutnya. Program Imunisasi Hepatitis B (0-7
Hari) dimulai sejak Tahun 2005 dengan memberikan vaksin heptB-O
monovalen (dalam kemasan uniject) saat lahir, pada Tahun 2006
dilanjutkan dengan vaksin kombinasi DTwP/heptB pada umur 2-3-4
bulan (Hadinegoro, 2008).
Tujuan vaksin HepB diberikan dalam kombinasi dengan DTwP
(Difteria, Tetanus, Pertusis Whole cell) untuk mempermudah
pemberian dan meningkatkan cakupan hepB-3 yang masih rendah
(Hadinegoro, 2008). Pada umumnya bayi mendapatkan imunisasi
Hepatitis B melalui puskesmas, rumah sakit, praktik dokter
2.3.1

Tujuan Program Imunisasi Hepatitis B


Tujuan program imunisasi Hepatitis B di Indonesia dibagi
menjadi tujuan umum dan tujuan khusus.

a. Tujuan umum
Adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh
infeksi virus Hepatitis B.
b. Tujuan khusus
1. Pemberian dosis pertama dari vaksin hepB kepada bayi sedini mungkin
sebelum berumur 7 hari
2. Memberikan imunisasi Hepatitis B sampai 3 dosis pada bayi (Dalimartha,
2004).
2.3.2

Jadwal Imunisasi Hepatitis B

Pada dasarnya jadwal imunisasi Hepatitis B sangat fleksibel


sehingga tersedia berbagai pilihan untuk menyatukannya ke dalam
program imunisasi terpadu. Namun demikian ada beberapa hal yang
perlu diingat :
a. Minimal diberikan sebanyak 3 kali
b. Imunisasi pertama diberikan segera setelah lahir
c. Jadwal imunisasi dianjurkan adalah 0, 1, 6 bulan karena respons antibodi
paling optimal (Hadinegoro, 2008).
Jadwal imunisasi Hepatitis B yaitu :
1. Imunisasi hepB-1 diberikan sedini mungkin (dalam waktu 12 jam) setelah
lahir
2. Imunisasi hepB-2 diberikan setelah 1 bulan (4 minggu) dari imunisasi
hepB-1 yaitu saat bayi berumur 1 bulan. Untuk mendapat respons imun
optimal, interval imunisasi hepB-2 dengan hepB-3 minimal 2 bulan,
terbaik 5 bulan. Maka imunisasi hepB-3 diberikan pada umur 3-6 bulan
(Hadinegoro, 2008).
Tabel 2.1 Jadwal Imunisasi Hepatitis B
Umur

Imunisasi

Kemasan

Hep. B-0

Uniject (hep. B-

B
ay
i
Saat
La

monovalen)

hi
r
2

DTwP dan
B

hep.B-1

Kombinasi DTwP
hep.B-1

ul
an
3

DTwP dan
B
ul
an

hep.B-2

Kombinasi DTwP
hep.B-1

DTwp dan
B

hep.B-3

Kombinasi DTwP
hep.B-1

ul
an
Sumber : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2008
Pemberian imunisasi Hepatitis B Berdasarkan status HbsAg ibu pada saat
melahirkan adalah :
1. Bayi yang lahir dari ibu yang tidak diketahui status HbsAg nya mendapatkan 5
mcg (0,5 ml) vaksin rekombinan atau 10 mcg (0,5 ml) vaksin asal plasma
dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada umur 1-2 bulan
dan dosis ketiga pada umur 6 bulan. Kalau kemudian diketahui ibu mengidap
HbsAg positif maka segera berikan 0,5 ml HBIg (sebelum anak berusia satu
minggu)
2. Bayi yang lahir dari ibu HbsAg positif mendapatkan 0,5 ml HBIg dalam waktu
12 jam setelah lahir dan 5 mcg (0,5 ml) vaksin rekombinan. Bila digunakan
vaksin berasal dari plasma, diberikan 10 mcg (0,5 ml) intramuskular dan
disuntikkan pada sisi yang berlainan. Dosis kedua diberikan pada umur 1-2
bulan dan dosis ketiga pada umur 6 bulan
3. Bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg negatif diberi dosis minimal 2,5 mcg
(0,25 ml) vaksin rekombinan, sedangkan kalau digunakan vaksin berasal dari
plasma, diberikan dosis 10 mcg (0,5 ml) intramuskular pada saat lahir sampai
usia 2 bulan. Dosis kedua diberikan pada umur 1-4 bulan, sedangkan dosis
ketiga pada umur 6-18 bulan
4. Ulangan imunisasi Hepatitis B diberikan pada umur 10-12 Tahun (Wahab,
2002).
2.3.3

Kontraindikasi dan Efek Samping


Vaksin hepB diberikan kepada semua orang termasuk wanita
hamil, bayi baru lahir, pasien dengan immunocompromised, yaitu
pasien dengan kelainan sistem imunitas seperti penderita AIDS
(Acquired Immunodeficiency Syndrome) (Dalimartha, 2004)

Efek samping yang mungkin timbul dapat berupa reaksi lokal


ringan seperti rasa sakit pada bekas suntikan dan reaksi peradangan.
Reaksi sistemik kadang timbul berupa panas ringan, lesu, dan rasa
tidak enak pada saluran cerna. Gejala di atas akan hilang spontan
dalam beberapa hari (Dalimartha, 2004).
2.3.4 Pemeriksaan :
1.

Menemukan virus dalam darah dengan mikroskop elektron

2.

Menemukan pertanda serologi infeksi (HBV)

3.

Menemukan (HBV) dna dengan hibridisasi atau PCR (polymerase chain


reaction)

4.

Menemukan pertanda infeksi (HBV) pada jaringan biopsi hati

Ada tiga pemeriksaan standar yang biasa digunakan untuk


menegakkan diagnosa infeksi hepatitis B yaitu:
1. HBsAg (hepatitis B surface antigen): adalah satu dari penanda
yang muncul dalam serum selama infeksi dan dapat dideteksi 2 -8
minggu sebelum munculnya kelainan kimiawi dalam hati atau
terjadinya jaundice (penyakit kuning). Jika HBsAg berada dalam darah
lebih dari 6 bulan berarti terjadi infeksi kronis. Pemeriksaan HBsAg
bisa mendeteksi 90% infeksi akut.
Fungsi dari pemeriksaan HBsAg diantaranya :
- indikator paling penting adanya infeksi virus hepatitis B
- mendiagnosa infeksi hepatitis akut dan kronik
- tes penapisan (skrining) darah dan produk darah (serum, platelet dll)
- skrining kehamilan
2. Anti HBs (antobodi terhadap hepatitis B surface antigen): jika
hasilnya reaktif/positif menunjukkan adanya kekebalan terhadap

infeksi virus hepatitis B yang berasal dari vaksinasi ataupun proses


penyembuhan masa lampau.
3. Anti HBc (antibodi terhadap antigen inti hepatitis B): terdiri dari 2
tipe yaitu Anti HBc IgM dan Anti HBc IgG.
Anti HBc IgM: - muncul 2 minggu setelah HBsAg terdeteksi dan
bertahan hingga 6 bulan.
- berperan pada core window(fase jendela) yaitu saat dimana HBsAg
sudah hilang tetapi anti-HBs belum muncul
Anti HBc IgG: -muncul sebelum anti HBcIgM hilang
- terdeteksi pada hepatitis akut dan kronik
- tidak mempunyai efek protektif
Interpretasi hasil positif anti-HBc tergantung hasil pemeriksaan
HBsAg dan Anti-HBs.

2.3.5 Parameter yang diperiksa untuk Hepatitis B :


1. SGPT (ALT) : Tes fungsi hati untuk mengetahui adanya/tingkat
kerusakan sel hati
2. HBsAg : Untuk menentukan apakah terinfeksi virus Hepatitis B
3. Anti-HBs : Untuk menentukan apakah sudah memiliki
antibodi/kekebalan terhadap virus hepatitis B
4. Anti-HBc(total) : Untuk membantu deteksi akut dan kronis
5. IgM anti-HBc : Untuk mengetahui infeksi akut akibat virus
hepatitis B
6. HBeAg : Untuk mengetahui aktivitas virus
7. Anti-HBe : Untuk mengetahui penurunan aktivitas virus
8. HBV DNA : Untuk mengetahui kuantitas virus

2.3.6 Peran Bidan dalam pencegahan penyakit :

1. Pemberian vaksin terutama pada orang-orang yang beresiko tinggi


terkena virus ini, seperti mereka yang berprilaku sex kurang baik (gantiganti pasangan/homosexual), pekerja kesehatan (perawat dan dokter) dan
mereka yang berada didaerah rentan banyak kasus Hepatitis B.
2. Pemakaian sarung tangan ketika menangani semua bahan yang
berpotensi infeksi.
3. Pemakaian perlindungan dan dilepas sebelum meninggalkan tempat
kerja.
4. Memakai masker dan perlindungan mata.
5. Langsung buang jarum yang sudah tidak terpakai.

2.3.7 Komplikasi :
Infeksi hepatitis B yang didapatkan pada masa perinatal dan balita
biasanya asimtomatik dan dapat menjadi kronik pada 90% kasus. Sedangkan bila
infeksi terjadi pada orang dewasa hanya 5% yang menjadi kronik, sisanya akan
sembuh dengan sempurna. Pada beberapa pasien hepatitis B kronik karsinoma
hati dapat terjadi walaupun tidak ditemukan sirosis hati. Perkembangan menjadi
sirosis dapat terjadi rata-rata 2-5% per tahun dengan HbeAg positif dan 8-10%
pada pasien HbeAg negatif. Sirosis hati akan lebih banyak terjadi apabila
ditemukan kadar HBV-DNA yang tinggi. Gagal hati (dekompensasi ditemukan
pada 3,3% kasus sirosis tiap tahunnya), dengan gejala asites merupakan gejala
terbanyak diikuti olehikterus dan perdarahan.
Angka kematian adalah 0-2% tanpa sirosis hati, sedangkan dengan sirosis
14-20% dalam waktu 5 tahun sedangkan bila terjadi dekompensasi meningkat
hingga

70-80%.

Hepatitis

akut

dapat

sembuh

sempurna

pada

90%

kasus sedangkan pada hepatitis kronik hilangnya virus amat sukar. Walaupun

demikian replikasi virus dapat terkontrol dengan anti virus, sehingga


kemungkinan untuk menjadi sirosis dan kanker hati dapat dikurangi.

Komplikasi : Kronisitas pada 5-10%

Angka kematian (kasus ikterik) < 1-2%

HbsAg ada

Immunitas Homolog ya

Heterolog tidak

Durasi mungkin seumur hidup

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hepatitis B didefinisikan sebagai suatu penyakit yang disebabkan
oleh Virus Hepatitis B (VHB) dan ditandai dengan suatu peradangan
yang terjadi pada organ tubuh seperti hati (Liver). Penyakit ini banyak
dikenal sebagai penyakit kuning, padahal penguningan (kuku, mata,
kulit) hanya salah satu gejala dari penyakit Hepatitis itu
Secara epidemiologik cara penularan hepatitis terbagi atas dua
yaitu : Penularanvertikal; yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari
ibu yang HBsAg positif kepada anakyang dilahirkan yang terjadi
selama masa perinatal. Resiko terinfeksi pada bayi mencapai50-60 %
dan bervariasi antar negara satu dan lain berkaitan dengan kelompok
etnik.Penularan horizontal; yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari

seorang pengidap virushepatitis B kepada orang lain disekitarnya,


misalnya: melalui hubungan seksual.