Anda di halaman 1dari 1

A.

Latar Belakang
Sementara angka kematian diare pada anak terus menurun sejak 1980-an, penyakit
diare masih menjadi penyebab ketiga terbanyak dari kematian di antara anak-anak di
bawah lima tahun secara global. Diperkirakan 800.000 kematian balita disebabkan oleh
diare pada tahun 2010, berjumlah 11% dari semua kematian balita, dengan sekitar 80%
dari kematian yang terkait diare ini terjadi di daerah WHO Afrika dan Asia Tenggara [1].
Pedoman WHO saat ini pada manajemen dan terapi dari diare pada anak-anak sangat
menyarankan untuk pemberian makan berkelanjutan bersama pemberian larutan
rehidrasioral, ditambah terapi zinc [2,3]. Manfaat pemberian makan secara dini pada anak
dengan diare telah diketahui sejak akhir 1940-an [4], dengan penelitian-penelitian yang
didasarkan secara klinis dan komunitas sejak itu memberikan bukti lebih lanjut untuk
mendukung pemberian makan secara dini dan berkelanjutan selama diare [5-7]. Sebuah
tinjauan sistematis terbaru tidak menemukan bukti yang menunjukkan bahwa pemberian
makan secara dini dibandingkan dengan pemberian makan secara tertunda pada diare akut
meningkatkan risiko komplikasi [7], dan pemberian makan secara berkelanjutan dari tahap
awal dari episode diare dapat mengurangi konsekuensi dari berkurangnya penyerapan dan
meningkatkan hilangnya nutrisi, dan dengan demikian juga membatasi efek kumulatif dan
jangka panjang dari morbiditas diare pada pertumbuhan anak [8].
Pemberian makan berkelanjutan sekarang diterima secara luas sebagai komponen kunci dari
terapi yang tepat untuk diare anak, namun dengan pengecualian dari konsensus tentang
pemberian ASI secara berkelanjutan, masih ada beberapa perdebatan mengenai diet secara
optimal atau bahan makanan untuk mempercepat pemulihan dan mempertahankan status gizi
pada anak-anak dengan diare [8,9]. Malabsorpsi laktosa adalah sebuah komplikasi umum dari
diare [10], terutama di antara anak-anak yang kurang gizi [11],

Beri Nilai