Anda di halaman 1dari 41

BAB III

TINJAUAN TENTANG TRANSFORMATOR DISTRIBUSI

III.1

UMUM
Suatu sistem tenaga listrik terdiri dari tiga bagian utama : pusat pembangkit

listrik, saluran transmisi , dan sistem distribusi. Pemakaian energi yang diberikan kepada
para pelanggan bukanlah menjadi tanggung jawab PLN. Suatu sistem distribusi yang
menghubungkan semua beban terjadi pada stasiun pembantu atau substation, dimana
dilaksanakan transformasi tegangan.
Pada jaringan distribusi, beban-beban yang terpasang ke sistem melalui
transformator distribusi direncanakan memilki suatu beban yang setimbang. Tetapi pada
kenyataannya, dalam jaringan distribusi beban yang terpasang kepada konsumen pada
umumnya adalah beban satu phasa. Hal seperti inilah yang dapat menimbulkan sistem
distribusi tiga phasa yang tidak setimbang. Akibat adanya beban tidak setimbang ini,
maka besarnya arus tiap phasa tidak sama sehingga berdampak terhadap daya keluaran
dari transformator tersebut yang akan mempengaruhi kemampuan transformator tersebut
dalam melayani bebannya.
Pada umumnya pusat pembangkit tenaga listrik berada jauh dari pengguna tenaga
listrik. Untuk mentransmisikan tenaga listrik dari pembangkit ini, maka diperlukan
penggunaan tegangan tinggi 150 kV atau tegangan ekstra tinggi 500 kV. Setelah saluran
transmisi mendekati pusat pemakaian tenaga listrik, yang dapat merupakan suatu daerah
industri atau suatu kota, tegangan melalui gardu induk diturunkan menjadi tegangan
menengah 20 kV.

34

Universitas Sumatera Utara

Tegangan menengah dari gardu induk ini melalui saluran distribusi primer untuk
disalurkan ke gardu-gardu distribusi atau pemakai tegangan menengah. Dari saluran
distribusi primer, tegangan menengah diturunkan menjadi tegangan rendah 400/230 V
melalui gardu distribusi. Tegangan rendah dari gardu distribusi disalurkan melalui
saluran tegangan rendah ke komsumen tegangan rendah.
Pembangkit Listrik
Pembangkit

TM

Transformator
Penaik

GI

Saluran Transmisi

TT/TET

Transformator
Penurun

GI

Ke Pemakai TM

Ke GD

Saluran Distribusi
Primer

TM

GD

TR

kWH meter

Saluran Distribusi
Sekunder

Utilisasi

Instalasi Pemakai TR

Gambar 3.1. Gambaran umum distribusi tenaga listrik

35

Universitas Sumatera Utara

III.2

SISTEM TIGA FASA


Kebanyakan sistem tenaga listrik dibangun dengan sistem tiga fasa. Hal tersebut

didasarkan pada alasan-alasan ekonomi dan kestabilan aliran daya pada beban. Alasan
ekonomi dikarenakan dengan sistem tiga fasa, penggunaan penghantar untuk transmisi
menjadi lebih sedikit. Sedangkan alasan kestabilan dikarenakan pada sistem tiga fasa
daya mengalir sebagai layaknya tiga buah sistem fasa tunggal, sehingga untuk peralatan
dengan catu tiga fasa, daya sistem akan lebih stabil bila dibandingkan dengan peralatan
sistem satu fasa.
Sistem tiga fasa atau sistem fasa banyak lainnya secara umum akan memunculkan
sistem yang lebih kompleks, akan tetapi secara prinsip untuk analisa sistem tetap mudah
dilaksanakan. Sistem tiga fasa dapat digambarkan dengan suatu sistem yang terdiri dari
tiga sistem fasa tunggal, sebagai berikut :

+
Ve

2
3

+
Ve

2
j
3

+
VR
-

+
VS
-

+
VT
-

Gambar 3.2 Sistem tiga fasa sebagai tiga sistem fasa tunggal

V R = V cos t ......................................................................... (3.1)


2

VS = V cos t +
............................................................. (3.2)
3

VT = V cos t
............................................................. (3.3)
3

36

Universitas Sumatera Utara

Sedangkan bentuk gelombang dari sistem tiga fasa yang merupakan fungsi waktu
ditunjukkan pada gambar berikut :

VP
0,5

-0,5

VR
VS
VT

-VP

Gambar 3.3 Bentuk gelombang pada sistem tiga fasa


Pada Gambar 3.3 tampak bahwa antara tegangan fasa satu dengan fasa yang
lainnya mempunyai perbedaan sudut fasa sebesar 120o atau 2/3. Pada umumnya fasa
dengan sudut fasa 0o disebut sebagai sebagi fasa R, fasa dengan sudut fasa 120o disebut
sebagai fasa S dan fasa dengan sudut fasa 240o disebut sebagai fasa T. Perbedaan sudut
fasa tersebut pada pembangkit dimulai dari adanya kumparan yang masing-masing
tersebar secara terpisah dengan jarak 120o.

III.2.1 Sistem Hubungan Wye (Y) dan Delta ()


Sistem Y merupakan sistem sambungan pada sistem tiga fasa yang menggunakan
empat kawat, yaitu fasa R, S, T dan N. Sistem sambungan tersebut akan menyerupai huruf
Y yang memiliki empat titik sambungan, yaitu pada ujung-ujung huruf dan pada titk
petemuan antara tiga garis pembentuk huruf. Sistem Y dapat dapat dilihat seperti pada
Gambar 3.4(a) berikut ini :

37

Universitas Sumatera Utara

S
ZR

ZS
ZTR

ZRS

ZT
T

(a)

ZST

(b)

Gambar 3.4 Sistem Hubungan Y dan sistem

Sistem hubungan atau sambungan Y sering juga disebut sebagai hubungan


bintang. Sedangkan pada sistem yang lain yang disebut sebagai sistem , hanya
menggunakan phasa R, S, dan T untuk hubungan dari sumber ke beban, sebagaimana
Gambar 3.4(b) di atas. Tegangan efektif antara phasa umumnya adalah 380 V dan
tegangan efektif phasa dengan netral adalah 220 V.

III.2.2 Sistem Hubungan Zig-Zag (Z)


Hubungan zig-zag adalah hubungan bintang dari kumparan-kumparan phasa suatu
transformator phasa banyak, dimana tiap kumparan phasa dibentuk dari bagian-bagian
yang mempunyai tegangan imbas yang phasanya bergeser. Pada sistem ini juga hanya
menggunakan phasa R, S, dan T . Sistem hubungan zig-zag dapat dilihat pada Gambar
3.5 berikut ini :

38

Universitas Sumatera Utara

R
IR

ZR

T
IT

IS

ZS

ZT

Gambar 3.5 Sistem Hubungan Zig-Zag (Z)

III.2.3 Beban Seimbang Terhubung Wye (Y)


Untuk sumber beban yang tersambung bintang (star) atau Y, hubungan antara
besaran listriknya adalah sebagai berikut :

Vstar =

Vline
3

(Volt) ....................................................................... (3.4)

I star = I line (Amp) ........................................................................ (3.5)


Z star =

Vstar
Vline
(Ohm)...................................................... (3.6)
=
I star
3 I line

S star = 3 Vstar I star = 3 Vline I line =

2
Vline
2
= 3 I line
Z star ........ (3.7)
Z star

P = S cos (Watt) ...................................................................... (3.8)


Q = S sin .................................................................................. (3.9)

39

Universitas Sumatera Utara

III.2.4 Beban Tidak Seimbang Terhubung Wye (Y)


Pada sistem ini masing-masing fasa akan mengalirkan arus yang tak seimbang
menuju netral (pada sistem empat kawat). Sehingga arus netral merupakan penjumlahan
secara vektor arus yang mengalir dari masing-masing fasa.

R
IR
S
IS
N
IT
T

Gambar 3.6 Beban tidak seimbang terhubung bintang empat kawat

IR =

VRN
(Amp) ................................................................. (3.10)
ZR

IS =

VSN
(Amp) .................................................................. (3.11)
ZS

IT =

VTN
(Amp) .................................................................. (3.12)
ZT

I N = I R + I S + I T (Amp) ...................................................... (3.13)

40

Universitas Sumatera Utara

III.3

DAYA DALAM SISTEM TIGA PHASA


Daya sesaat pada suatu sumber sinusoida satu phasa juga berbentuk sinusoida

dengan frekwensi dua kali frekwensi sumbernya. Maka :

P = VI Cos VI Cos (2t )

(Watt)(3.14)

Persamaan 3.14 di atas dapat diterapkan pada setiap phasa dalam suatu sistem tiga
phasa seimbang. Satu-satunya perubahan yang diperlukan adalah adanya pergeseran
phasa 120o di antara phasa-phasanya itu. Sesuai dengan hal tersebut, untuk masingmasing phasa dapat ditulis :
PR = V p I p Cos V p I p Cos (2t )

(Watt)..(3.15)

(Watt)...(3.16)

(Watt)...(3.17)

PS = V p I p Cos V p I p Cos 2t 120 o


PT = V p I p Cos V p I p Cos 2t 240 o

Dengan phasa R dipilih sebagai phasa acuan, V p dan I p menyatakan nilai-nilai efektif
tegangan phasa, dan arus phasanya serta menyatakan sudut impedansi beban tiga phasa
seimbang yang menyerap daya. Jadi daya sesaat keseluruhannya adalah :

P = PR + PS + PT

P = 3 V p I p Cos V p I p Cos (2t ) + Cos 2t 120 o + Cos 2t 240 o

)]

P = 3 V p I p Cos (Watt ) ..........................................................................(3.18)


Untuk suatu sistem tiga phasa yang dihubungkan secara Y, maka :

Vl = 3 V p

(Volt) .(3.19)

Il = I p

(Amp)......................................................(3.20)

Untuk suatu sistem tiga phasa yang dihubungkan secara, maka :


Vl = V p

(Volt)..............(3.21)

41

Universitas Sumatera Utara

I l = 3 I p (Amp)......................................................................(3.22)
Untuk hubungan Y, dengan menggunakan persamaan 3.19 dan 3.20, maka didapatkan :

P=3

Vl
3

I l Cos = 3 Vl I l Cos

(Watt)..(3.23)

Untuk hubungan , dengan menggunakan persamaan 3.21 dan 3.22 maka didapatkan :

P = 3 Vl

Il
3

Cos = 3 Vl I l Cos (Watt)..(3.24)

Tampak bahwa kedua pernyataan diatas menunjukkan bahwa daya dalam suatu
sistem tiga phasa adalah sama, baik untuk hubungan Y ataupun bila dayanya
dinyatakan dalam besaran-besaran salu ar n ( line ). Tetap i p erlu diin g t a bahwa
menyatakan sudut impedansi beban perphasa dan bukan sudut antara V l dengan I l .

III.4

TRANSFORMATOR DISTRIBUSI
Transformator distribusi yang umum digunakan adalah transformator step-down

20KV/400V. Tegangan fasa ke fasa sistem jaringan tegangan rendah adalah 380 V.
Karena terjadi drop tegangan, maka pada rak tegangan rendah dibuat di atas 380 V agar
tegangan pada ujung penerima tidak lebih kecil dari 380 V.Pada kumparan primer akan
mengalir arus jika kumparan primer dihubungkan ke sumber tegangan bolak-balik,
sehingga pada inti tansformator yang terbuat dari bahan ferromagnet akan terbentuk
sejumlah garis-garis gaya magnet (fluks = ).
Karena arus yang mengalir merupakan arus bolak-balik, maka fluks yang
terbentuk pada inti akan mempunyai arah dan jumlah yang berubah-ubah. Jika arus yang
mengalir berbentuk sinusoidal, maka fluks yang terjadi akan berbentuk sinusoidal pula.
Karena fluks tersebut mengalir melaui inti yang mana pada inti tersebut terdapat belitan

42

Universitas Sumatera Utara

primer dan sekunder, maka pada belitan primer dan sekunder tersebut akan timbul ggl
(gaya gerak listrik) induksi, tetapi arah ggl induksi primer berlawanan dengan arah ggl
induksi sekunder. Sedangkan frekuensi masing-masing tegangan sama dengan frekuensi
sumbernya. Hubungan transformasi tegangan adalah sebagai berikut :

E1
N
= 1 = a .................................................................... (3.25)
E2
N2
Dimana :

E1 = ggl induksi di sisi primer (volt)


E 2 = ggl induksi di sisi sekunder (volt)

N 1 = jumlah belitan sisi primer (turn)


N 2 = jumlah belitan sisi sekunder (turn)
a

= perbandingan transformasi

Gambar 3.7 Transformator Distribusi Tiga Phasa 160 KVA

43

Universitas Sumatera Utara

III.4.1 Spesifikasi Umum Tegangan Primer Transformator Distribusi


Tegangan primer sesuai dengan tegangan nominal sistem pada jaringan tegangan
menengah (JTM) yang berlaku dilingkungan ketenagalistrikan yaitu 6 KV dan 20 KV.
Dengan demikian ada dua macam transformator distribusi yang dibedakan oleh tegangan
primernya, yaitu :
a. Transformator distibusi bertegangan primer 6 KV
b. Transformator distribusi betegangan primer 20 KV
Catatan :
Pada sistem distribusi tiga phasa, 4 kawat, maka transformator phasa
tunggal yang dipasang tentunya mempunyai tegangan pengenal

20 KV
3

= 12 KV

III.4.2 Spesifikasi Umum Tegangan Sekunder Transfomator Distribusi


Tegangan sekunder ditetapkan tanpa disesuaikan dengan tegangan nominal sistem
jaringan tegangan rendah (JTR) yang berlaku dilingkungan PLN (127 V & 220 V untuk
sistem phasa tunggal dan 127/220 V dan 220/380 V untuk sistem tiga phasa), yaitu
133/231 V dan 231/400 V (pada keadaan tanpa beban). Dengan demikian ada empat
macam transformator distribusi yang dibedakan oleh tegangan sekundernya, yaitu :
a. Transformator distribusi bertegangan sekunder 133/231 V
b. Transformator distribusi bertegangan sekunder 231/400 V
c. Transformator distribusi bertegagan sekunder 133/231 V dan 231/400 V yang
dapat digunakan secara serentak (simultan).

44

Universitas Sumatera Utara

Catatan :
Bilamana dipakai tidak serentak maka dengan bertegangan sekunder
231/400 V daya transformator tetap 100 % daya pengenal, sedang dengan
tegangan sekunder 133/231 V dayanya hanya 75 % daya pengenal.
d. Transformator distribusi bertegangan sekunder 133/231 V dan 231/400 V
yang digunakan terpisah.

III.4.3 Spesifikasi Umum Penyadapan (Taping) Transformator Distribusi


Ada tiga macam penyadapan tanpa beban (STB), yaitu :
a. Sadapan tanpa beban tiga langkah : 21 ; 20 ; 19 KV
b. Sadapan tanpa beban lima langkah : 22 ; 21 ; 20 ; 19 ; 18 KV
c. Sadapan tanpa beban lima langkah : 21 ; 20,5 ; 20 ; 19,5 ; 19 KV
Penyadapan dilakukan dengan pengubah sadapan (komutator) pada keadaan
tanpa beban pada sisi primer.
Catatan :
Nilai-nilai tegangan sadapan, khususnya penyadapan utama (principle
tapping), adalah nilai-nilai yang bersesuaian dengan besaran-besaran
pengenal (arus, tegangan, daya).

III.4.4 Spesifikasi Umum Daya Pengenal Transformator Distribusi


Nilai-nilai daya pengenal tranformator distribusi yang lebih banyak dipakai dalam
SPLN 8 : 1978 IEC 76 1 (1976) seperti pada tabel 3.1, sedang yang bertanda * adalah
nilai-nilai standar transformator distribusi yang dipakai PLN.

45

Universitas Sumatera Utara

Tabel 3.1 Nilai Daya Pengenal Transformator Distribusi


KVA

KVA

5
6,3
8
10
12,5
16*
20

25*
31,5
40
50*
63
80
100*
125
160*

KVA
200*
250*
315*
400*
500*
630*
800*
1000*
1250*
1600*
dst

III.4.5 Spesifikasi Umum Rugi-rugi Transformator Distribusi


Berbagai nilai dari rugi-rugi transformator distribusi menurut SPLN 50 tahun
1997 dapat dilihat pada tabel 3.2 berikut ini :

Tabel 3.2 Nilai Rugi-rugi Transformator Distribusi


KVA
Rating
25
50
100
160
200
315
400
680
800
1000
1250
1600

Rugi Besi
(Watt)
115
190
320
400
550
770
930
1300
1950
2300
2700
3300

Rugi Tembaga
(Watt)
700
1100
1750
2000
2850
3900
4600
6500
10200
12100
15000
18100

46

Universitas Sumatera Utara

III.5

KLASIFIKASI BEBAN TRANSFORMATOR DISTRIBUSI


Tujuan utama dari adanya alat transformator distribusi dalam sistem tenaga listrik

adalah untuk mendistribusikan tenaga listrik dari gardu induk ke sejumlah pelanggan atau
konsumen. Pada Tabel 3.3 berikut ini adalah klasifikasi pelanggan listrik yang dilayani
oleh PLN :
Tabel 3.3 Klasifikasi Beban Pelanggan Listrik PLN
Beban Yang Dilayani

No

Golongan Tarif

Batas Daya

S-1 / TR

220 VA

S-2 / TR

450 VA

TARIF S

S-2 / TR

900 VA

( Sosial )

S-2 / TR

1300 VA

S-2 / TR

2200 VA

S-2 / TR

> 2200 VA s/d 200 KVA

S-3 / TM

> 200 KVA

R-1 / TR

s/d 450 VA

R-1 / TR

900 VA

TARIF R

R-1 / TR

1300 VA

( Perumahan )

R-1 / TR

2200 VA

R-2 / TR

> 2200 VA 6600 VA

R-3 / TR

> 6600 VA

B-1 / TR

s/d 450 VA

B-1 / TR

900 VA

TARIS B

B-1 / TR

1300 VA

( Bisnis )

B-1 / TR

2200 VA

B-2 / TR

> 2200 VA s/d 200 KVA

B-3 / TM

> 200 KVA

I-1 / TR

s/d 450 VA

I-1 / TR

900 VA

47

Universitas Sumatera Utara

TARIF I

I-1 / TR

1300 VA

( Industri )

I-1 / TR

2200 VA

I-1 / TR

> 2200 VA s/d 14 KVA

I-2 / TR

> 14 KVA s/d 200 KVA

I-3 / TM

> 200 KVA

I-4 / TT

> 30000 KVA

P-1 / TR

s/d 450 VA

P-1 / TR

900 VA

TARIF P

P-1 / TR

1300 VA

( Perkantoran )

P-1 / TR

2200 VA

P-1 / TR

> 2200 VA s/d 200 KVA

P-2 / TM

> 200 KVA

P-3 / TR

LPJU

Keterangan :
S = Pelanggan Listrik Sosial
R = Pelanggan Listrik Perumahan
B = Pelanggan Listrik Bisnis
I

= Pelanggan Listrik Insdustri

P = Pelanggan Listrik Perkantoran


TR = Tegangan Rendah
TM = Tegangan Menengah
TT = Tegangan Tinggi
LPJU = Lampu Penerangan Jalan Umum

48

Universitas Sumatera Utara

III.6

LOSSES PADA SALURAN TRANSFORMATOR DISTRIBUSI


Yang dimaksud dengan losses adalah perbandingan antara energi listrik yang

disalurkan ( PS ) dengan energi listrik yang terpakai ( PP ).


Losses =

PS PP
100% ..................................................... (3.26)
PS

III.6.1 Losses Pada Penghantar Fasa


Jika suatu arus mengalir pada suatu penghantar, maka pada penghantar tersebut
akan terjadi rugi-rugi energi menjadi energi panas karena pada penghantar tersebut
terdapat resistansi. Rugi-rugi dengan beban terpusat di ujung dirumuskan :

= I (R cos + X sin ) l (Volt) .................................. (3.27)

= 3 I 2 R l (Watt) ........................................................ (3.28)

Sedangkan jika beban terdistribusi merata di sepanjang saluran, maka rugi-rugi


energi yang timbul adalah :
2

I
= (R cos + X sin ) l (Volt)............................ (3.29)
2

I
= 3 R l (Watt) ................................................... (3.30)
2

= arus yang mengalir pada penghantar (ampere)

= tahanan penghantar (ohm/km)

= reaktansi penghantar (ohm/km)

= panjang penghantar (km)

Dengan :

cos

= faktor daya beban


49

Universitas Sumatera Utara

III.6.2 Losses Akibat Beban Tidak Seimbang


Akibat pembebanan di tiap fasa yang tidak seimbang, maka akan mengalir arus
pada penghantar netral. Jika di hantaran penghantar netral terdapat nilai tahanan dan
dialiri arus, maka penghantar netral akan bertegangan yang menyebabkan tegangan pada
transformator menjadi tidak seimbang.
Arus yang mengalir di sepanjang kawat netral akan menyebabkan rugi-rugi daya
sebesar :
P = I N2 R N (Watt)............................................................. (3.31)

III.6.3 Losses Pada Sambungan Tidak Baik


Losses ini terjadi karena di sepanjang jaringan tegangan rendah terdapat beberapa
sambungan, antara lain :
1. Sambungan saluran jaringan tegangan rendah dengan kabel NYFGBY.
2. Percabangan saluran jaringan tegangan rendah.
3. Percabangan untuk sambungan pelayanan.

Gambar 3.8 Sambungan kabel

50

Universitas Sumatera Utara

Besarnya rugi-rugi daya pada sambungan dirumuskan :


P = I 2 R .......................................................................... (3.32)
Dimana :

P = losses yang timbul pada konektor (watt)

= arus yang mengalir melalui konektor (ampere)

R = tahanan konektor (ohm)

III.7

REGULASI TEGANGAN TRANSFORMATOR DISTRIBUSI


Regulasi tegangan transformator didefinisikan sebagai perubahan pada tegangan

terminal sekunder transformator yang dinyatakan dalam persentase (atau dalam per unit)
terhadap tegangan nominal sekunder pada saat berbeban dengan faktor daya yang dapat
berkurang hingga nol.
Jika V 2 adalah tegangan terminal sekunder untuk setiap beban dan E 2 adalah
tegangan terminal sekunder pada saat tanpa beban. Dan dengan beban tertentu dan faktor
daya tertentu, maka regulasi tegangan transformator dapat dirumuskan sebagai berikut :

VR =

E 2 V2
.............. (3.33)
Tegangan Nomiinal Sekunder

Tegangan nominal sekunder transformator adalah sama dengan tegangan


tegangan terminal transformator pada saat berbeban yaitu V 2 . Jadi persamaan 3.33 di atas
dapat dituliskan sebagai berikut :
VR =

VR =

VS ( NL ) VS ( FL )
VS ( FL )
VS ( NL ) VS ( FL )
VS ( FL )

dalam per unit....................................(3.34)

100% ....(3.35)

51

Universitas Sumatera Utara

Dimana :
V S(NL) = Tegangan terminal sekunder pada saat tanpa beban (Volt)
V S(FL) = Tegangan terminal sekunder untuk setiap beban (Volt)
VR

III.8

= Regulasi tegangan transformator ( % )

EFISIENSI TRANSFORMATOR DISTRIBUSI

Efisiensi dinyatakan sebagai :

Pout
Pout
.....................................(3.36)
=
Pin
Pout + rugi rugi

Pout
X 100 0 0 ...........................................................(3.37)
Pin

atau :

dimana :

P Out = Daya keluaran (Watt)


P In = Daya masukan (Watt)
rugi-rugi = Pcu + Pi
P cu = Rugi tembaga (Watt)
Pi

= Rugi inti (Watt)

1. Perubahaan efisiensi terhadap beban


Perubahaan efisiensi terhadap beban dinyatakan sebagai :

V2 cos
V2 cos + I 2 R2 ek +

Pi
I2

agar maksimum, maka


52

Universitas Sumatera Utara

d
dI 2

P
I 2 R2 ek + i = 0
I2

Jadi,

R2 ek =

Pi
I 22

Pi = I 22 R2 ek = Pcu

Artinya, untuk beban tertentu, efisiensi maksimum terjadi ketika


rugi tembaga = rugi inti.
2 . Perubahan efisiensi terhadap factor kerja (Cos ) beban
Perubahan efisiensi terhadap factor kerja (Cos ) beban dapat dinyatakan
sebagai :

= 1

rugi
V2 I 2 cos + rugi

= 1

rugi / V2 I 2
cos + rugi / V2 I 2

Bila rugi / V 2 I 2 = X = konstan


maka,

= 1

X
cos + X

= 1

X / cos
1 + X / cos

53

Universitas Sumatera Utara

BAB IV

STUDI TENTANG KUALITAS KINERJA TRANSFORMATOR


DISTRIBUSI DALAM MELAYANI BEBAN

IV.1

UMUM
Transformator distribusi merupakan suatu alat yang memegang peranan penting

dalam sistem distribusi daya listrik.Transformator distribusi mengubah tegangan


menengah 20 KV menjadi tegangan rendah 400/230 V. Transformator distribusi pada
dasarnya adalah tiga transformator satu phasa yang bekerja bersama dan dilayani oleh
suatu sistem tiga phasa dan dapat melayani beban tiga phasa atau beban satu phasa pada
masing-masing phasanya.
Suatu transformator distribusi yang mempunyai kualitas baik,jika transformator
tersebut mempunyai nilai efisiensi yang tinggi dan mempunyai nilai rugi-rugi yang kecil
pada saat melayani beban. Semakin besar efisiensi suatu transformator serta rugi-rugi
yang ditimbulkannya pada saat melayani beban semakin kecil, maka kualitas
transformator tersebut semakin baik dan begitu juga sebaliknya. Regulasi tegangan
transformator adalah suatu bentuk kualitas tegangan dari suatu transformator pada sisi
beban. Semakin besar regulasi tegangan dari suatu transformator maka semakin buruklah
kualitas tegangan pada sisi beban transformator tersebut dan begitu juga sebaliknya.
Sehingga perlu dilakukan pengukuran efisiensi transformator serta regulasi tegangannya
untuk mengetahui kulitas kinerja transformator tersebut dalam melanyani beban,baik
beban yang seimbang dan maupun tak seimbang.

54
Universitas Sumatera Utara

IV.2

PERSAMAAN YANG DIGUNAKAN DALAM PERHITUNGAN


Persamaan-persamaan yang digunakan untuk menganalisa kualitas kinerja

transformator distribusi dalam melayani beban adalah sebagai berikut :


IV.2.1 Perhitungan Persentase Beban Yang Dilayani
Besarnya persentase kenaikan beban yang dilayani dapat dihitung dengan :
Beban =

KVABeban
KVATrafo

100% ..(4.1)

IV.2.2 Perhitungan Regulasi Tegangan Transformator


Pengaturan tegangan suatu transformator ialah perubahan tegangan sekunder
antara beban nol dan pada saat berbeban untuk suatu faktor kerja tertentu, dengan
tegangan primer konstan. Dan dengan beban tertentu dan faktor daya tertentu, maka
regulasi tegangan transformator dapat dirumuskan sebagai berikut:
VR =

VS ( NL ) VS ( FL )
VS ( FL )

100% ..(4.2)

Dimana :
V S(NL) = Tegangan terminal sekunder pada saat tanpa beban (Volt)
V S(FL) = Tegangan terminal sekunder untuk setiap beban (Volt)
VR

= Regulasi tegangan transformator ( % )

IV.2.3 Penyaluran Daya Pada Transformator


Daya pada transformator tiga phasa dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan (4.3), yaitu :
P = 3 V I Cos ...........................................(4.3)
Dimana :
P = Daya pada ujung kirim (Watt)
55
Universitas Sumatera Utara

V = Tegangan pada ujung kirim (Volt)


I = Arus phasa (Ampere)
Cos = Faktor daya
Daya input dan daya output dari transformator dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan (4.3) diatas.

IV.2.4 Losses Yang Terjadi Pada Saat Melayani Beban


Yang dimaksud dengan losses adalah perbandingan antara energi listrik
yang disalurkan ( PS ) dengan energi listrik yang terpakai ( PP ).
P
Dimana :

Losses

= P S - P P .................................................................. (4.4)
P

Losses

= Rugi-rugi daya yang terjadi sepanjang saluran (KW)

P S = Daya listrik yang disalurkan (KW)


P P = Daya listrik yang terpakai (KW)
Dan besarnya persentase rugi-rugi daya yang terjadi adalah :
% Losses =

PS PP
100% ................................................................(4.5)
PS

IV.2.5 Perhitungan Nilai Efisiensi Transformator


Untuk perhitungan efisiensi transformator dapat dipergunakan rumus
standar untuk mendapatkan nilai efisiensi.
Pada transformator tiga fasa , Efisiensi dinyatakan sebagai :

Pout
X 100 0 0 .....................................(4.6)
Pin

Dimana :
P in = P out + rugi-rugi
56
Universitas Sumatera Utara

IV.3

METODE PENGAMBILAN DATA TRANSFORMATOR DISTRIBUSI


Metode penmgambilan data dilakukan dengan mengambil data hasil ukur beban

tiap-tiap transformator distribusi pada Waktu Beban Puncak (WBP) dan Lewat Waktu
Beban Puncak (LWBP) dengan menggunakan rumus pendekatan statistik, yaitu :

n=

N (d ) + 1
2

Dimana :
n = Sampel
N = Jumlah Populasi (Jumlah Trafo Distribusi 160 KVA di Medan Kota)
d = Derajat Kebebasan
dimana : d = 0,1
Maka, jumlah data transformator distribusi 160 KVA yang diambil untuk :
N = 95 Trafo distribusi
d = 0,1
adalah n = 49 Trafo Distribusi

IV.4

DATA HASIL UKUR BEBAN TRANSFORMATOR DISTRIBUSI 160 KVA


Untuk mengetahui kualitas kinerja transformator distribusi 160 KVA dalam

melayani beban pada sisi tegangan rendah, maka diperlukan data-data hasil ukur beban
transformator distribusi tersebut. Sebagai aplikasinya, maka digunakan data-data hasil
ukur beban transformator distribusi 160 KVA PT.PLN (Persero) Rayon Medan Kota.

57
Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.1 Spesifikasi Umum Transformator Distribusi 160 KVA Pada


PT.PLN (PERSERO) Rayon Medan Kota

Kode Gardu No Trafo

MK

Lokasi

Medan Kota

Jenis Transformator

Transformator Distribusi Tiang

No.Seri

24867

Merk

UNINDO

Daya Pengenal (KVA)

160

Phasa

Hubungan Belitan Trafo

Y-Z

Frekuensi Pengenal (Hz)

50

Posisi Tap

3/5

Tegangan Kerja

21/20,5/20/19,5/19 kV // 400 V

Tegangan Primer Pengenal L-L (KV)

20

Tegangan Sekunder Pengenal L-L (V)

400

Tegangan Sekunder Pengenal L-N (V)

231

Arus Primer (Amp)

Arus Sekunder (Amp)

243

Jenis Minyak Trafo

Diala B

Vektor Group

Yzn5

Impedansi (pu)

4%

Rugi Besi (P i ) (Watt)

400

Rugi Tembaga (P cu ) (Watt)

2000

Penghantar JTR

NYFGBY

58
Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.2 Data Hasil Ukur Beban Transformator Distribusi 160 KVA Rayon Medan Kota
Lewat Waktu Beban Puncak ( Pukul 23.00 17.00 WIB )
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

Kode
Trafo
MK003
MK006
MK021
MK027
MK431
MK055
MK056
MK429
MK062
MK064
MK083
MK447
MK101
MK104
MK107
MK396
MK115
MK117
MK150
MK158
MK163
MK165
MK184
MK195
MK199
MK562

Lokasi Transformator Distribusi


Jl.Putri Hijau/Ktr Lurah
Jl Putri Hijau/PTP.B
Jl Kumango/Panin Bank
Jl Candi Mendut
Jl Gurilla Sp Sentosa Baru
Jl Cik Ditiro/Ade Irma Suryani
Jl Hang Jebat
Jl Ghandi Simpang Jl Besi
Jl Masdulhak
Jl Rivai/Taman
Jl B.Katamso Gg.Mantri
Jl Sei Kera/Palembang
Jl Gurila
Jl Juanda II
Jl Suwondo
Jl Menteng II
Jl Pekong
Jl Starban/GPDI Filadelfia
Jl A Rivai/Cut Nyakdin
Jl Rivai Taman
Jl Gudang (Blk Satlantas)
Jl Laboratorium
Jl Putri Hijau/Gg Tikus
Jl Sutomo Ujung Klm Renang
Jl Madura Sp Jl Jawa
Jl Industri Gg.Setia

KVA
Trafo
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160

IR
124
135
55
114
93
96
136
45
131
84
127
101
184
75
84
92
70
48
120
87
88
80
109
55
37
122

Phasa R
V L-N
217,1
219,7
219,6
219,4
219,3
219,5
219,2
219,7
218,3
219,5
218,7
218,3
219,3
218,7
217,7
218,1
219,8
218,4
218,9
218,8
219,4
217,1
219,4
217,0
219,9
219,3

SR
26,92
29,66
12,07
25,02
20,39
21,06
29,81
9,89
28,60
18,44
27,78
22,05
40,35
16,40
18,29
20,07
15,39
10,48
26,27
19,04
19,31
17,37
23,92
11,94
8,14
26,75

IS
164
38
69
152
102
92
127
59
120
59
131
68
88
178
106
138
91
20
94
37
163
43
154
84
43
155

Phasa S
V L-N
SS
218,8 35,88
219,5 8,34
218,1 15,05
217,2 33,02
217,3 22,16
218,3 20,08
216,2 27,46
219,8 12,97
216,8 26,02
216,3 12,76
217,2 28,45
217,6 14,80
218,9 19,26
219,0 38,98
217,1 23,02
217,3 29,99
218,3 19,87
219,9 4,40
219,2 20,61
217,0 8,03
218,9 35,68
217,4 9,35
218,9 33,71
218,4 18,35
219,7 9,45
219,8 34,07

IT
93
18
73
155
46
112
154
53
149
64
132
36
135
136
93
145
117
42
70
51
86
103
124
100
52
140

Phasa T
V L-N
ST
216,2 20,11
220,7 3,97
216,4 15,80
216,6 33,57
216,5 9,96
216,4 24,24
216,3 33,31
219,9 11,66
217,5 32,41
217,7 13,93
217,8 28,75
218,1 7,85
218,2 29,46
218,6 29,73
218,9 20,36
219,1 31,77
218,9 25,61
219,7 9,23
218,8 15,32
218,6 11,15
218,4 18,78
218,6 22,52
216,8 26,88
216,9 21,69
219,2 11,40
217,2 30,41

KVA Beban
LWBP
88
44
46
97
56
69
96
36
92
48
90
47
94
90
65
87
64
25
66
40
78
52
89
55
30
96

Cos
LWBP
0,94
0,95
0,93
0,93
0,94
0,93
0,92
0,95
0,94
0,93
0,93
0,94
0,93
0,93
0,95
0,94
0,94
0,95
0,94
0,93
0,93
0,92
0,94
0,93
0,93
0,92
59

Universitas Sumatera Utara

27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49

MK216
MK217
MK219
MK221
MK223
MK564
MK228
MK231
MK232
MK233
MK234
MK241
MK489
MK243
MK249
MK405
MK269
MK271
MK287
MK289
MK326
MK328
MK329

Jl Jati Mas
Jl Jati/Jl Durian
Jl Durian Gg.Kacung
Jl Lorong Gino G.Kelapa
Jl Dorawati
Jl Sumatra/Tapanuli
Jl Perjuangan Gg.Salam
Jl M.Yakub Gg.Setia
Jl M.Yakub Gg.Arsad
Jl M .Yakub Gg.H.Abdullah
Jl M.Yakub (Parit Busuk)
Jl Bromo Ujung
Jl Seram RRI
Jl Pancasila
Jl Denai
Jl Perjuangan Mesjid
Jl Jati (PDAM Tirtanadi)
Jl M.Yamin SH/Gg.Kelambir
Jl Negara
Jl Pahlawan/Perkasa
Jl Utama/Jl Laksana
Jl Utama/Cemara
Jl Utama/Sadi

160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160

126
134
153
93
74
137
121
78
89
141
80
63
124
61
107
99
89
100
97
113
100
97
92

218,5
217,9
217,8
219,6
218,2
219,9
218,0
217,1
217,8
216,6
215,5
217,3
218,4
219,6
218,8
219,7
218,5
218,1
218,6
217,5
216,9
216,7
217,4

27,53
29,20
33,32
24,42
16,15
30,13
26,38
16,94
19,39
30,54
17,24
13,69
27,08
13,40
23,42
21,75
19,45
21,81
21,20
24,58
21,69
21,02
20,00

89
134
113
141
98
145
114
67
62
139
95
127
96
49
112
78
64
127
106
115
65
67
108

219,3
218,8
219,0
216,8
217,4
218,0
217,1
219,3
218,8
217,8
216,4
218,2
219,4
219,9
218,5
219,1
219,6
219,3
219,9
218,5
218,4
217,9
218,6

19,52
29,32
24,75
30,57
21,31
31,61
24,75
14,70
13,57
30,28
20,56
27,72
21,06
10,78
24,47
17,09
14,06
27,85
23,31
25,13
14,20
14,60
23,61

115
126
102
115
93
79
120
81
62
80
84
133
183
92
155
99
95
114
94
87
124
119
76

216,5
216,2
216,1
217,7
219,6
217,4
216,7
218,9
216,5
215,1
216,8
215,4
218,8
219,4
219,1
218,9
216,9
216,7
217,2
216,9
215,9
215,6
216,3

24,90
27,24
22,04
25,04
20,42
17,18
26,01
17,73
13,42
17,21
18,21
28,65
40,04
20,19
33,96
21,67
20,61
24,70
20,42
18,87
26,77
25,67
16,44

76
91
85
81
61
83
82
52
49
83
60
75
93
47
86
64
57
79
69
73
67
65
64

0,93
0,92
0,94
0,93
0,94
0,93
0,93
0,95
0,93
0,93
0,95
0,94
0,93
0,94
0,93
0,94
0,94
0,93
0,93
0,94
0,93
0,93
0,94

60
Universitas Sumatera Utara

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Kode
Trafo
MK003
MK006
MK021
MK027
MK431
MK055
MK056
MK429
MK062
MK064
MK083
MK447
MK101
MK104
MK107
MK396
MK115
MK117
MK150
MK158
MK163
MK165
MK184
MK195
MK199
MK562
MK216

Tabel 4.3 Data Hasil Ukur Beban Transformator Distribusi 160 KVA Rayon Medan Kota
Waktu Beban Puncak ( Pukul 18.00 22.00 WIB )
Lokasi Transformator
KVA
Phasa R
Phasa S
Phasa T
Distribusi
Trafo
IR
V L-N
SR
IS
V L-N
SS
I T V L-N
ST
Jl.Putri Hijau/Ktr Lurah
160
187 210,8 39,42 254 209,1
53,11 141 212,4 29,95
Jl Putri Hijau/PTP.B
160
184 213,2 39,23 166 212,5
35,28
33 215,2
7,10
Jl Kumango/Panin Bank
160
93 212,4 19,75
96 211,8
20,33 112 213,5 23,91
Jl Candi Mendut
160
156 210,4 32,82 209 209,2
43,72 227 210,1 47,69
Jl Gurilla Sp Sentosa Baru
160
181 210,1 38,03 142 212,1
30,12 119 214.4 25,52
Jl Cik Ditiro/Ade Irma Suryani 160
151 212,3 32,06 144 210,3
30,28 124 213,5 26,48
Jl Hang Jebat
160
68 213,2 14,50 179 208,7
37,36 136 212,7 28,93
Jl Ghandi Simpang Jl Besi
160
198 210,5 41,68 146 212,2
30,98 163 210,8 34,36
Jl Masdulhak
160
197 211,9 41,74 197 212,5
41,86 173 210,3 36,38
Jl Rivai/Taman
160
161 210,5 33,89 108 211,1
22,80
90 212,7 19,14
Jl B.Katamso Gg.Mantri
160
177 208,2 36,85 185 209,2
38,70 182 210,3 38,27
Jl Sei Kera/Palembang
160
155 209,3 32,44 115 210,6
24,22 96 215,2 20,66
Jl Gurila
160
195 210,9 41,13 113 212,4
24,00 170 211,8 36,01
Jl Juanda II
160
208 207,1 43,08 108 213,5
23,06 134 212,3 28,45
Jl Suwondo
160
136 211,3 28,74 154 210,9
32,48 178 209,5 37,29
Jl Menteng II
160
181 210,3 38,06 264 207,5
54,78 231 208,9 48,26
Jl Pekong
160
111 213,4 23,69 137 210,2
28,80 148 209,8 31,05
Jl Starban/GPDI Filadelfia
160
136 210,5 28,63
14 217,7
3,05
83 212,2 17,62
Jl A Rivai/Cut Nyakdin
160
138 210,4 29,04 118 212,1
25,03 104 210,5 21,89
Jl Rivai Taman
160
108 212,5 22,95
68 216,8
14,74 129 210,5 27,15
Jl Gudang (Blk Satlantas)
160
164 209,9 34,42 188 207,9
39,09 176 208,8 36,75
Jl Laboratorium
160
103 211,8 21,82
70 217,7
15,24 120 210,5 25,26
Jl Putri Hijau/Gg Tikus
160
111 212,5 23,59 148 211,6
31,32 144 210,5 30,31
Jl Sutomo Ujung Klm Renang 160
100 210,8 21,08 175 209,5
36,66 120 211,7 25,41
Jl Madura Sp Jl Jawa
160
90 212,7 19,14
87 213,8
18,60 109 211,5 23,05
Jl Industri Gg.Setia
160
186 209,2 38,91 274 207,5
56,86 201 208,1 41,83
Jl Jati Mas
160
191 208,5 39,82 154 210,6
32,43 216 207,5 44,82

KVA
Beban WBP
134
88
70
137
102
97
88
117
131
83
126
85
110
104
108
156
91
54
83
70
122
68
93
91
66
153
130

Cos
WBP
0,90
0,89
0,91
0,90
0,90
0,89
0,91
0,92
0,90
0,91
0,90
0,90
0,89
0,91
0,90
0,90
0,91
0,90
0,92
0,91
0,90
0,89
0,91
0,91
0,91
0,92
0,90
61

Universitas Sumatera Utara

28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49

MK217
MK219
MK221
MK223
MK564
MK228
MK231
MK232
MK233
MK234
MK241
MK489
MK243
MK249
MK405
MK269
MK271
MK287
MK289
MK326
MK328
MK329

Jl Jati/Jl Durian
Jl Durian Gg.Kacung
Jl Lorong Gino G.Kelapa
Jl Dorawati
Jl Sumatra/Tapanuli
Jl Perjuangan Gg.Salam
Jl M.Yakub Gg.Setia
Jl M.Yakub Gg.Arsad
Jl M .Yakub Gg.H.Abdullah
Jl M.Yakub (Parit Busuk)
Jl Bromo Ujung
Jl Seram RRI
Jl Pancasila
Jl Denai
Jl Perjuangan Mesjid
Jl Jati (PDAM Tirtanadi)
Jl M.Yamin SH/Gg.Kelambir
Jl Negara
Jl Pahlawan/Perkasa
Jl Utama/Jl Laksana
Jl Utama/Cemara
Jl Utama/Sadi

160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160
160

229
183
211
148
117
199
138
178
236
148
111
200
96
199
206
119
89
136
200
123
157
152

206,5
210,7
208,6
210,1
211,2
207,8
212,7
210,2
208,1
210,1
211,7
210,7
216,8
212,9
209,8
212,4
215,2
211,2
210,8
212,5
210,3
211,5

47,29
38,56
44,02
31,09
24,71
41,35
29,35
37,42
49,11
31,09
23,50
42,14
20,81
42,37
43,22
25,28
19,15
28,72
42,16
26,14
33,02
32,15

196
157
259
185
266
175
78
84
211
148
185
188
79
212
138
131
111
169
242
105
118
176

209,3
212,1
205,5
209,8
208,1
210,1
214,1
216,1
209,8
211,3
209,3
209,4
217,9
210,8
212,3
210,8
211,5
210,1
207,5
213,3
212,7
210,2

41,02
33,30
53,22
38,82
55,35
36,77
16,70
18,15
44,27
31,27
38,72
39,37
17,22
44,69
29,30
27,62
23,48
35,51
50,22
22,40
25,10
37,00

154
186
230
133
108
229
164
79
126
159
198
297
151
247
246
142
196
168
222
140
215
134

210,5
211,2
207,4
212,5
213,7
209,5
211,6
215,2
212,5
209,7
210,5
207,2
212,4
208,9
207,7
209,9
210,3
209,1
209,2
210,1
209,4
214,9

32,42
39,28
47,70
28,26
23,08
47,98
34,70
17,00
26,78
33,34
41,68
61,54
32,07
51,60
51,09
29,81
41,22
35,13
46,44
29,42
45,02
28,80

134
122
162
108
113
139
88
79
132
105
114
158
75
152
136
91
91
109
153
85
113
107

0,91
0,92
0,90
0,92
0,92
0,92
0,91
0,90
0,91
0,92
0,92
0,91
0,92
0,92
0,90
0,91
0,91
0,91
0,90
0,91
0,89
0,91

62
Universitas Sumatera Utara

IV.5

ANALISA DATA

Analisa Data Hasil Ukur Beban Trafo Lewat Waktu Beban Puncak
( LWBP Mulai Pukul 23.00 17.00 WIB )
Untuk Data Trafo Distribusi No.1
Persentase beban yang dilayani :
Beban =

KVABeban
88
x100% =
x100% = 55 %
KVATrafo
160

Tegangan sekunder pada saat tidak berbeban adalah :


Untuk : Cos = 0,94 ( = 19,95 O ); Z (pu) = 4 % ; V S(FL) = 400 V

Z base

3(VL L ) 2 3(400V ) 2
=
=
= 3
160 KVA
S

Z trafo = Z ( pu ) xZ base = 3x0,04 = 0,12

IS =

S trafo
3VL L

160 KVA
= 133,33 A
3.(400V )

Dan ;
VS ( NL ) = VS ( L L ) + ( Z trafo ) x( I S ) = 400V0 0 + (0,12) x(133,33 A19,95 0 )
VS ( NL ) = 400 + 15,9919,95 0 = 400 + 15,03 + j 5,46 = 415,03 + j 5,46
VS ( NL ) = 415,070,75 0 Volt

Persentase Regulasi Tegangan Transformator Distribusi yaitu :


VR =

VS ( NL ) VS ( FL )
VS ( FL )

X 100% =

415,05 400
X 100%
400

VR = 3,77%

63
Universitas Sumatera Utara

Perhitungan Rugi-rugi Daya Pada Jaringan Distribusi :


Dari tabel data hasil ukur beban trafo,dengan munggunakan persamaan (4.4) dan
(4.5), rugi-rugi daya yang terjadi pada jaringan distribusi adalah :
KVA Saluran = S R + S S + S T = 26,92 + 35,88 + 20,11 = 82,91 KVA
Dimana besarnya P P dan P S adalah :
P P = KVA Saluran x Cos
= 82,91 x 0,94
= 77,94 KW
Dan ;

P S = KVA Beban x Cos


= 88 x 0,94
= 82,72 KW

Sehingga besarnya rugi-rugi daya serta persentase rugi-rugi (losses) yang terjadi adalah :
P

Losses

= PS - PP
= 82,72 KW - 77,94 KW
= 4,78 KW

% Losses =

PS PP
82,72 77,94
100% =
x100% = 5,78%
PS
82,72

Dengan menggunakan persamaan (4.6), maka efisiensi dari transformator distribusi


untuk :
Beban = 55 % ; Cos = 0,94 ; P cu = 2000 W ; P i = 400 W ; P Losses = 4,78 KW
P out = Beban x KVA Trafo x Cos = 55 % x 160 KVA x 0,94 = 82,72 KW
P cu1 = ( Beban )2 x P cu = ( 0,55 )2 x 2000 W = 605 W
P in = P out + P i + P cu1 + P Losses = 82,72 KW + 0,4 KW + 0,605 KW + 4,78 KW
= 88,51 KW

64
Universitas Sumatera Utara

Maka efisiensinya adalah :

Pout
X 100 0 0
Pin

82,72
X 100 0 0
88,51

= 93,46 %
Data berikutnya dapat dianalisa dengan cara yang sama, sehingga diperoleh
hasilnya pada tabel 4.4 yaitu :
Tabel 4.4 Analisa Data Hasil Ukur Beban Transformator Distribusi 160 KVA Rayon
Medan Kota Lewat Waktu Beban Puncak ( LWBP )
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Kode
Trafo
MK003
MK006
MK021
MK027
MK431
MK055
MK056
MK429
MK062
MK064
MK083
MK447
MK101
MK104
MK107
MK396
MK115
MK117
MK150
MK158
MK163
MK165
MK184
MK195
MK199

Beban
LWBP (%)

55
28
29
61
35
43
60
23
58
30
56
29
59
56
41
55
40
16
41
25
49
33
56
34
19

P Losses
(KW)
4,78
1,93
2,86
5,01
3,28
3,37
4,98
1,40
4,67
2,67
4,66
2,16
4,58
4,68
3,16
4,86
2,94
0,84
3,57
1,65
3,93
2,54
4,22
2,81
1,03

%
5,78
4,62
6,69
5,55
6,23
5,25
5,64
4,10
5,40
5,98
5,57
4,89
5,24
5,53
5,12
5,94
4,88
3,54
5,75
4,44
5,42
5,31
5,05
5,50
3,70

VR
%
3,77
3,81
3,73
3,73
3,77
3,73
3,70
3,81
3,77
3,73
3,73
3,77
3,73
3,73
3,81
3,77
3,77
3,81
3,77
3,73
3,73
3,70
3,77
3,73
3,73

%
93,46
94,47
92,64
93,65
93,05
93,92
93,54
94,82
93,83
93,21
93,61
94,11
93,92
93,59
94,11
93,37
94,27
94,96
93,47
94,46
93,81
93,89
94,13
93,63
94,46
65
Universitas Sumatera Utara

26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49

MK562
MK216
MK217
MK219
MK221
MK223
MK564
MK228
MK231
MK232
MK233
MK234
MK241
MK489
MK243
MK249
MK405
MK269
MK271
MK287
MK289
MK326
MK328
MK329

60
48
57
53
51
38
52
51
33
31
52
38
47
58
30
54
40
38
50
43
46
42
41
40

4,38
3,76
4,82
4,60
0,90
2,93
3,79
4,52
2,50
2,44
4,62
3,79
4,64
4,48
2,47
3,86
3,28
2,71
4,31
4,28
4,15
4,03
3,46
3,71

4,96
5,32
6,82
5,76
1,20
5,11
4,91
5,93
5,06
5,35
5,99
6,65
6,58
5,18
5,60
4,83
5,45
5,06
5,87
6,67
6,05
6,47
5,72
6,17

3,70
3,73
3,70
3,77
3,73
3,77
3,73
3,73
3,81
3,73
3,73
3,81
3,77
3,73
3,77
3,73
3,77
3,77
3,73
3,73
3,77
3,73
3,73
3,77

94,14
93,92
93,46
93,48
97,66
94,04
94,24
93,31
94,15
93,84
93,30
92,80
92,81
93,96
93,67
94,32
93,77
94,38
93,46
92,68
93,29
92,90
93,56
93,14

Analisa Data Hasil Ukur Beban Trafo Waktu Beban Puncak


( WBP Mulai Pukul 18.00 22.00 WIB )
Untuk Data Trafo Distribusi No.1
Persentase beban yang dilayani :
Beban =

KVABeban
134
x100% =
x100% = 84 %
KVATrafo
160

Tegangan sekunder pada saat berbeban adalah :


Untuk : Cos = 0,90 ( = 25,84 O ); Z (pu) = 4 % ; V S(FL) = 400 V

Z base =

3(VL L ) 2 3(400V ) 2
=
= 3
160 KVA
S
66
Universitas Sumatera Utara

Z trafo = Z ( pu ) xZ base = 3x0,04 = 0,12

IS =

S trafo
3VL L

160 KVA
= 133,33 A
3.(400V )

Dan ;
VS ( NL ) = VS ( L L ) + ( Z trafo ) x( I S ) = 400V0 0 + (0,12) x(133,33 A25,84 0 )
VS ( NL ) = 400 + 15,9925,84 0 = 400 + 14,39 + j 6,97 = 414,39 + j 6,97
VS ( NL ) = 414,450,96 0 Volt

Persentase Regulasi Tegangan Transformator Distribusi yaitu :


VR =

VS ( NL ) VS ( FL )
VS ( FL )

X 100% =

414,45 400
X 100%
400

VR = 3,61%
Perhitungan Rugi-rugi Daya Pada Jaringan Distribusi :
Dari tabel data hasil ukur beban trafo,dengan munggunakan persamaan (4.4) dan
(4.5), rugi-rugi daya yang terjadi pada jaringan distribusi adalah :
KVA Saluran = S R + S S + S T = 39,42 + 53,11 + 29,95 = 122,48 KVA
Dimana besarnya P P dan P S adalah :
P P = KVA Saluran x Cos
= 122,48 x 0,90
= 110,23 KW
Dan ;

P S = KVA Beban x Cos


= 134 x 0,90
= 120,60 KW

67
Universitas Sumatera Utara

Sehingga besarnya rugi-rugi daya serta persentase rugi-rugi (losses) yang terjadi adalah :
P

Losses

= PS - PP
= 120,60 KW - 110,23 KW
= 10,37 KW

% Losses =

PS PP
120,60 110,23
100% =
x100% = 8,60%
PS
120,60

Dengan menggunakan persamaan (4.6), maka efisiensi dari transformator distribusi


untuk :
Beban = 84 % ; Cos = 0,90 ; P cu = 2000 W ; P i = 400 W ; P Losses = 10,37 KW
P out = Beban x KVA Trafo x Cos = 84 % x 160 KVA x 0,90 = 120,96 KW
P cu1 = ( Beban )2 x P cu = ( 0,84 )2 x 2000 W = 1411 W
P in = P out + P i + P cu1 + P Losses = 120,96 KW + 0,4 KW + 1,411 KW + 10,37
KW
= 133,14 KW
Maka efisiensinya adalah :

Pout
X 100 0 0
Pin

120,96
X 100 0 0
133,14

= 90,85 %
Data berikutnya dapat dianalisa dengan cara yang sama, sehingga diperoleh
hasilnya pada tabel 4.5 yaitu :

68
Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.5 Analisa Data Hasil Ukur Beban Transformator Distribusi 160 KVA Rayon
Medan Kota Waktu Beban Puncak ( WBP )
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37

Kode
Trafo
MK003
MK006
MK021
MK027
MK431
MK055
MK056
MK429
MK062
MK064
MK083
MK447
MK101
MK104
MK107
MK396
MK115
MK117
MK150
MK158
MK163
MK165
MK184
MK195
MK199
MK562
MK216
MK217
MK219
MK221
MK223
MK564
MK228
MK231
MK232
MK233
MK234

Beban
WBP (%)

84
55
44
86
64
61
55
73
82
52
79
53
69
65
68
98
57
34
52
44
76
43
58
57
42
96
81
84
76
101
68
71
87
55
50
83
66

P Losses
(kW)
10,37
5,69
5,47
11,49
7,50
7,28
6,56
9,18
9,92
6,52
10,96
6,91
7,88
8,58
8,54
13,41
6,79
4,23
6,48
4,69
10,56
4,17
7,08
7,14
4,74
14,16
11,64
12,08
9,99
15,35
9,04
9,07
11,87
6,60
5,79
10,77
8,56

%
8,60
7,27
8,59
9,32
8,12
8,43
8,20
8,53
8,41
8,63
9,66
9,03
8,05
9,07
8,79
9,55
8,20
8,70
8,49
7,36
9,62
6,90
8,37
8,62
7,90
10,06
9,95
9,91
8,90
10,53
9,10
8,72
9,28
8,24
8,14
8,97
8,86

VR
%
3,61
3,58
3,65
3,61
3,61
3,58
3,65
3,70
3,61
3,65
3,61
3,61
3,58
3,65
3,61
3,61
3,65
3,61
3,70
3,65
3,61
3,58
3,65
3,65
3,65
3,70
3,61
3,65
3,70
3,61
3,70
3,70
3,70
3,65
3,61
3,65
3,70

%
90,85
92,12
91,10
90,26
91,36
91,16
91,37
90,98
91,01
9103
90,02
90,65
91,41
90,59
90,84
89,97
91,37
90,97
91,16
92,12
90,03
92,53
91,20
91,02
91,76
89,60
89,73
89,80
90,64
89,10
90,61
90,89
90,28
91,32
91,50
90,59
90,81
69
Universitas Sumatera Utara

38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49

MK241
MK489
MK243
MK249
MK405
MK269
MK271
MK287
MK289
MK326
MK328
MK329

71
99
47
95
85
57
57
68
96
53
71
67

9,29
13,60
4,51
12,27
11,15
7,54
6,51
8,77
12,76
6,41
8,78
8,23

8,85
9,46
6,54
8,77
9,10
9,11
7,86
8,84
9,27
8,29
8,73
8,45

3,70
3,65
3,70
3,70
3,61
3,65
3,65
3,65
3,61
3,65
3,58
3,65

90,71
90,03
92,82
90,62
90,40
90,62
91,65
90,74
90,21
91,28
90,85
91,10

Dengan menjumlahkan seluruh rugi-rugi daya yang terjadi pada tiap-tiap trafo
distribusi pada saat Waktu Beban Puncak (Pukul 18.00 - 22.00 WIB) dan Lewat Waktu
Beban Puncak (Pukul 23.00 17.00 WIB ), maka didapat total rugi-rugi daya seluruh
trafo distribusi 160 KVA yang terjadi dalam waktu 24 jam sehari pada tahun 2007 (lama
pengukuran beban seluruh trafo distribusi 08 Juni 2007 09 Nopember 2007) adalah :
P Total = P Losses LWBP + P Losses WBP = 171,01 KW + 426,88 KW
= 14.349,36 KWh 14.345,4 KWh
14,4 MWh
Jika besar Tarif Dasar Listrik (TDL) pada saat ini adalah Rp.650,-/ KWh, maka
kerugian yang terjadi pada tahun 2007 adalah :
Per Hari

: Rp.650,-/KWh x 14.345,4 KWh = Rp. 9.324.510,-

Per Bulan

: Rp.650,-/KWh x 14.345,4 KWh x 30 = Rp. 279.735.300,-

Per Tahun

: Rp.650,-/KWh x 14.345,4 KWh x 365 = Rp. 3.403.446.150,-

70
Universitas Sumatera Utara

Dari tabel 4.4 dan tabel 4.5 analisa data hasil ukur beban transformator distribusi
yang dilakukan, maka dapat dibuat grafik sebagai berikut :
Karakteristik Pembebanan
120

100

Beban (%)

80
LWBP

60

WBP

40

20

0
1

7 10 13 16 19 22 25 28 31 34 37 40 43 46 49
Trafo Distribusi 160 KVA

Gambar 4.1 Kurva Karakteristik Pembebanan Transformator Distribusi LWBP dan WBP

71
Universitas Sumatera Utara

Rugi-Rugi Daya
18
16

P losses (kW)

14
12
10

LWBP

WBP

6
4
2
0
1

7 10 13 16 19 22 25 28 31 34 37 40 43 46 49
Trafo Distribusi 160 KVA

Gambar 4.2 Grafik Perbandingan P losses Trafo Distribusi pada WBP dan LWBP
Regulasi Tegangan (VR)
3.85
3.8

VR (%)

3.75
3.7
LWBP

3.65

WBP

3.6
3.55
3.5
3.45
1

13 17 21 25 29 33 37 41 45 49
Trafo Distribusi 160 KVA

Gambar 4.3 Grafik Perbandingan V R Trafo Distribusi pada WBP dan LWBP

72
Universitas Sumatera Utara

Efisiensi
100
98

Efisiensi (%)

96
94
LWBP

92

WBP

90
88
86
84
1

9 13 17 21 25 29 33 37 41 45 49
Trafo Distribusi 160 KVA

Gambar 4.4 Grafik Perbandingan Efisiensi Trafo Distribusi Pada WBP dan LWBP

73
Universitas Sumatera Utara

BAB V

PENUTUP

V.1

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisa data dan uraian pada bab-bab sebelumnya, maka dapat

ditarik beberapa kesimpulan, yaitu :

1. Persentase kenaikan beban pada transformator distribusi 160 KVA di Waktu


Beban Puncak (WBP) lebih besar jika dibandingkan pada Lewat Waktu Beban
Puncak (LWBP). Hal ini disebabkan karena pemakaian daya listrik oleh
pelanggan pada WBP lebih besar daripada LWBP.
2. Rugi-rugi daya (KW) yang terjadi pada tiap-tiap trafo distribusi 160KVA di
Waktu Beban Puncak (WBP) lebih besar dibandingkan pada Lewat Waktu Beban
Puncak (LWBP), dimana hal ini dipengaruhi oleh terjadinya kenaikan beban.
3. Dari analisa data hasil ukur beban transformator distribusi yang dilakukan, secara
umum nilai dari regulasi tegangan dan efisiensinya dalam melayani beban baik
pada Waktu Beban Puncak (WBP) maupun Lewat Waktu Beban Puncak (LWBP)
masih dibawah nilai dari Standart Peraturan Listrik Negara (SPLN) yang
ditentukan. (SPLN 50 Tahun 1997)
4. Maka rendahnya energi listrik yang diterima oleh konsumen listrik salah satunya
karena kualitas kinerja transformator distribusi yang rendah dalam melayani
beban.
5. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas kinerja trafo distribusi yaitu dengan
pemasangan trafo sisip, melakukan pemeliharaan trafo secara teratur, serta
melakukan penyeimbangan beban pada tiap phasa dari trafo distribusi .
73

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai