Anda di halaman 1dari 24

INFEKSI SALURAN

PERNAPASAN
AKUT
KELOMPOK GENAP KELAS F

INFEKSI SALURAN NAPAS

Infeksi saluran pernapasan adalah infeksi yang mengenai bagian manapun saluran pernapasan,
mulai dari hidung, telinga tengah, faring (tenggorokan)), kotak suara (laring), bronchi, bronkhioli
dan paru.

Jenis penyakit yang termasuk dalam infeksi saluran pernapasan bagian atas antara lain :

Batuk pilek

Sakit telinga (otitis media)

Radang tenggorokan (faringitis)

Sedangkan jenis penyakit yang termasuk infeksi saluran pernapasan bagian bawah
antara lain :

Bronchitis

Bronkhiolitis

Pneumonia

(www2.pom.go.id)

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN


AKUT
Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari.
Menurut WHO (2007), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
didefinisikan sebagai penyakit saluran pernapasan akut yang
disebabkan oleh agen infeksius yang ditularkan dari manusia ke
manusia. Timbulnya gejala biasanya cepat, yaitu dalam waktu
beberapa jam sampai beberapa hari.
Menurut Depkes RI (2005), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
adalah penyakit Infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan
atau lebih dari saluran napas mulai dari hidung (saluran atas) hingga
alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus,
rongga telinga tengah dan pleura.

PATOFISIOLOGI ISPA

Terjadinya infeksi antara bakteri dan flora normal di saluran nafas. Infeksi
oleh bakteri, virus dan jamur dapat merubah pola kolonisasi bakteri. Timbul
mekanisme pertahanan pada jalan nafas seperti filtrasi udara inspirasi di
rongga hidung, refleksi batuk, refleksi epiglotis, pembersihan mukosilier
dan fagositosis. Karena menurunnya daya tahan tubuh penderita maka
bakteri pathogen dapat melewati mekanisme sistem pertahanan tersebut
akibatnya terjadi invasi di daerah-daerah saluran pernafasan atas maupun
bawah (Fuad, 2008).

KLASIFIKASI INFEKSI SALURAN


PERNAPASAN AKUT
Infeksi saluran pernapasan akut diklasifikasikan sebagai infeksi
saluran pernapasan atas (URI) atau infeksi saluran pernapasan bawah
(IRI).
Saluran pernapasan bagian atas terdiri dari saluran udara dari lubang
hidung ke pita suara di laring, termasuk sinus paranasal dan telinga
tengah. Saluran pernapasan bawah meliputi kelanjutan dari saluran
udara dari trakea dan bronkus ke bronkiolus dan alveoli.
(Disease Control Priorities in Developing Countries. 2nd edition)

KLASIFIKASI INFEKSI SALURAN


PERNAPASAN AKUT
Infeksi Saluran Pernapasan Atas
Infeksi Saluran Pernapasan Atas adalah penyakit menular yang paling umum. Dalam hal ini termasuk
rhinitis (pilek), sinusitis, infeksi telinga, faringitis akut atau tonsillopharyngitis, epiglottitis, dan radang
tenggorokan-yang infeksi telinga dan faringitis yg menyebabkan komplikasi yang lebih parah (tuli dan
demam rematik akut). Sebagian besar kasus ini ditimbulkan akibat infeksi coronavirus dan rhinovirus.
Virus lainnya yang dapat berperan pada infeksi saluran pernapasan atas adalah adenovirus,
coxsackieviruses, myxovirus, dan paramyxovirus (parainfluenza, respiratory syncytial virus).
Infeksi Saluran Pernapasan Bawah
Yang paling umum adalah pneumonia, bronchitis, bronchiolitis, dan tuberculosis. Penyebab paling
umum adalah RSVs (respiratory syncytial virus).
(Disease Control Priorities in Developing Countries. 2nd edition)

ETIOLOGI ISPA
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia (Depkes RI, 2005).
Bakteri penyebab ISPA seperti : Diplococcus pneumonia, Pneumococcus, Streptococcus
hemolyticus, Streptococcus aureus, Hemophilus influenza, Bacillus Friedlander. Virus
seperti : Respiratory syncytial virus, virus influenza, adenovirus, cytomegalovirus. Jamur
seperti : Mycoplasma pneumoces dermatitides, Coccidioides immitis, Aspergillus,
Candida albicans.

GEJALA ISPA
Pada stadium awal, gejalanya berupa rasa panas, kering dan gatal dalam hidung, yang kemudian diikuti
bersin terus menerus, hidung tersumbat dengan ingus encer serta demam dan nyeri kepala.
Permukaan mukosa hidung tampak merah dan membengkak. Infeksi lebih lanjut membuat sekret
menjadi kental dan sumbatan di hidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi, gejalanya akan
berkurang sesudah 3-5 hari.
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sinusitis, faringitis, infeksi telinga tengah, infeksi saluran tuba
eustachii, hingga bronkhitis dan pneumonia (radang paru).
Secara umum gejala ISPA meliputi demam, batuk, dan sering juga nyeri tenggorok, coryza (pilek),
sesak napas, mengi atau kesulitan bernapas). (WHO,2007)
ISPA Sedang bila ada gelaja ringan dan ditambah dengan salah satu atau lebih gejala : frekwensi
pernafasan lebih dari 50/menit, wheezing, suhu > 39C. Masih termasuk sedang bila ditemukan sakit
telinga, campak, OMP yang kurang dari 2 minggu.
ISPA Berat adalah ISPA sedang ditambah gejala : retraksi sela iga dan fosa suprasternal waktu
inspirasi, stridor, sianosis, nafas cuping hidung, kejang, dehidrasi, kesadaran menurun, terdapat
membran difteri.
(Lubis,A. (1990). Etiologi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Faktor Lingkungan. Buletin
Penelitian Kesehatan 18 (2) )

CARA PENULARAN PENYAKIT ISPA


Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah tercemar, bibit penyakit
masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, oleh karena itu maka penyakit ISPA ini
termasuk golongan Air Borne Disease. Penularan melalui udara dimaksudkan adalah
cara penularan yang terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda
terkontaminasi. Sebagian besar penularan melalui udara dapat pula menular melalui
kontak langsung, namun tidak jarang penyakit yang sebagian besar penularannya
adalah karena menghisap udara yang mengandung unsur penyebab atau
mikroorganisme penyebab
(WHO, 2007)

PEMERIKSAAN
Setiap penderita yang memenuhi kriteria diagnosis tersebut akan dilakukan pengambilan spesimen
dari aspirasi bronkhus, usap tenggorokan dan darah vena. Kemudian spesimen bakteri ditanam pada
media selektif yang mampu menahan pertumbuhan bakteri komensal/ non-patogen. Kemudian
dilakukan serum typing pada jenis bakteri yang paling sering mengakibatkan penyakit ISPA yaitu :
Strep. pneumonia, H. Influenzae, Strep. viridans, Staph. albus, Staph. aureus dan Strep. alpha, St.
beta. Pemeriksaan kemungkinan jamur dilakukan dengan mikroskop terhadap Candida. Pemeriksaan
virus dilakukan dengan 2 cara yaitu menanam pada biakan jaringan untuk melihat efek CPE
(Cytopatic Effect) terhadap Myxovirus dan Campak, dan pemeriksaan secara serologi darah untuk
Influenza A. (Lubis,A. (1990). Etiologi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Faktor Lingkungan.
Buletin Penelitian Kesehatan 18 (2) )

TINJAUAN FARMAKOLOGI
OBAT INFEKSI SALURAN NAPAS
Cefadroxil
Class : Antibiotik Cephalosporins 1st generation
Komposisi : Cefadroxil capsule 500 mg, oral suspension 250 mg/5ml, 500 mg/5ml , Tablet 1 g
Dosis : (Drugs.com)
Usual Adult Dose for Tonsillitis/Pharyngitis: 1 g / hari per oral dalam 1 sampai 2 dosis terbagi selama 10
hari.
Usual Adult Dose for Upper Respiratory Tract Infection: 500 mg per oral setiap 12 jam atau 1 g per
oral setiap 24 jam selama 7 sampai 10 hari
Usual Pediatric Dose for Tonsillitis/Pharyngitis: 1 month or older: 30 mg / kg / hari per oral dalam 1
sampai 2 dosis terbagi, tidak melebihi 2 g per 24 jam
Action : Menghambat sintesis mukopeptida dinding sel bakteri
Indications : Treatment pharyngitis dan tonsillitis
Contraindications : Hypersensitivity to cephalosporins
Side effects : (1-10%) Diarrhea (Medscape)
(A to Z Drug Facts)

FARMAKOLOGI
Half-Life: 1-2 hr; 20-24 hr in renal failure
Peak Plasma Time: 70-90 min
Protein Bound: 20%
Absorption: rapid & well absorbed orally
Distribution: crosses placenta
Vd: 0.31 L/kg
Metabolism: hepatic minimal
Elimination: urine 90% unchanged
(Medscape)

Mekanisme kerja
Cefadroxil adalah antibiotika semisintetik golongan sefalosforin untuk
pemakaian oral.Golongan sefalosforin secara kimiawi memiliki mekanisme
kerja dan toksisitas yang serupa dengan penicillin. Sefalosforin lebih stabil
daripada penicillin terhadap banyak bacteria beta-laktamase sehingga
biasanya mempunyai spektrum aktivitas yang lebih luas. Cefadroxil
bersifat bakterisid dengan jalan menghambat sintesa dinding sel bakteri.
Yang dihambat ialah reaksi transpeptidase tahap ketigadalam rangkaian
reaksi pembentukan dinding sel. Cefadroxil aktif terhadap Streptococcus
beta-hemolytic, Staphylococcus aureus (termasuk penghasil enzim
penisilinase), Streptococcus pneumoniae,Escherichia coli, Proteus
mirabilis, Klebsiella sp, Moraxella catarrhalis. Cefadroxil merupakan
antibiotic golongan sefalosforin generasi pertama. Pada umumnya
generasi pertama tidak dapat mengalami penetrasi pada system saraf
pusat (tidak dapat menembus BBB) dan tidak dapat digunakan
untukmengobati meningitis. Senyawa-senyawa generasi pertama memiliki
aktivitas yang lebih baik terhadap organisme-organisme gram positif
dibandingkan organisme-organisme aerob gram negative

Codeine
Class : Narcotic analgesic/Antitussive
Komposisi :
Dosis :
ADULTS PO 1020 mg q 46 hr (maximum 120 mg/day).
CHILDREN (612 YR): PO 510 mg q 46 hr (maximum 60 mg/day).
CHILDREN (26 YR): PO 2.55 mg q 46 hr (maximum 30 mg/day).
Action : Stimulasi reseptor Opiate di CNS, juga menyebabkan respiratory depression, peripheral
vasodilation, inhibition of intestinal peristalsis, stimulasi chemoreceptors penyebab muntah, menekan
reflex batuk
Indications : Mengurangi nyeri ringan sampai sedang; penekan batuk
Contraindications : Hipersensitivitas terhadap opiat; obstruksi jalan napas atas; respiratory compromise;
asma akut; diare yang disebabkan oleh keracunan atau racun.
Side effects : (>10%) konstipasi, menyebabkan kantuk (Medscape)
(A to Z drug Facts)

FARMAKOLOGI
Absorption
Onset: 30-60 min (PO); 10-30 min (IM)
Duration: 4-6 hr
Peak plasma time: 0.5-1 hr
Distribution
Protein bound: 25%
Vd: 3.5 L/kg (PO); 2.6 L/kg (IM)
Metabolism
Prodrug metabolized to morphine by CYP2D6; demethylated/conjugated in liver (undergoes Odemethylation, N-demethylation, and partial conjugation with glucuronic acid)
Elimination
Half-life: 3-4 hr
Excretion: Urine, feces
(Medscape)

Perhatian
Kehamilan: Kategori C. Terapi dosis kodein telah meningkatkan durasi kerja. Laktasi:
diekskresikan dalam ASI. Anak-anak: Jangan memberikan IV untuk anak-anak <12 tahun.
Anak-anak lebih sensitif terhadap efek obat. pasien usia lanjut: Lebih sensitif terhadap efek
obat. pasien risiko khusus: Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan myxedema,
alkoholisme akut, riwayat potensi penyalahgunaan obat, kondisi perut akut, ulcerative colitis,
penurunan cadangan pernapasan, cedera kepala atau peningkatan tekanan intrakranial, hipoksia,
takikardia supraventricular, habis volume darah, shock peredaran darah , masalah
hipotiroidisme, dan kemih / usus eliminasi. Ketergantungan: Codeine memiliki potensi
penyalahgunaan. gangguan ginjal atau hati: Durasi kerja dapat diperpanjang; mungkin perlu
untuk mengurangi dosis. ( A to Z drug fact )

Mekanisme kerja
Kodein merangsang reseptor susunan saraf pusat (SSP) yang dapat
menyebabkan depresi pernafasan, vasodilatasi perifer, inhibisi gerak perilistatik
usus, stimulasi kremoreseptor dan penekanan reflek batuk (A to Z).
Reseptor opiat digabungkan dengan reseptor G-protein dan berfungsi baik
sebagai regulator positif dan negatif dari transmisi sinaptik melalui G-protein
yang mengaktifkan protein efektor. Pengikatan opiat merangsang pertukaran
GTP ke PDB pada kompleks G-protein. Sebagai sistem efektor adenilat siklase
dan cAMP terletak pada permukaan bagian dalam membran plasma, opioid
menurunkan cAMP intraseluler dengan menghambat adenilat siklase.
Selanjutnya, pelepasan neurotransmiter nociceptive seperti substansi P, GABA,
dopamin, asetilkolin dan noradrenalin terhambat. Opioid juga menghambat
pelepasan vasopressin, somatostatin, insulin dan glukagon. Aktivitas analgesik
kodein adalah, kemungkinan besar, karena konversi kepada morfin. Hal ini
menyebabkan hiperpolarisasi dan mengurangi rangsangan saraf. (
http://www.drugbank.ca/drugs/DB00318 )

Guaifenesin
Dosis dewasa
100-400 mg PO q4hr; tidak melebihi 2.4 g/hari
Extended release: 1-2 tablets (600-1200 mg) PO q12hr; tidak melebihi 4 tablets/24 hr (2.4 g/hari)
Dosis anak
bulan - 2 tahun: 25-50 mg q4hr; tidak melebihi 300 mg/hari
2-6 tahun: 50-100 mg PO q4hr; tidak melebihi 600 mg/hari
6-12 tahun: 100-200 mg PO q4hr; tidak melebihi 1.2 g/hari
>12 tahun
100-400 mg PO q4hr; tidak melebihi 2.4 g/hari, OR
1-2 extended-release tablets (600-1200 mg) PO q12hr; tidak melebihi 4 tablets/24 hr (2.4 g/hari)
Efek samping : Pusing , mengantuk , penurunan tingkat asam urat , sakit perut , mual , muntah , sakit kepala ,
ruam. Laporan setelah pemasaran : pembentukan batu ginjal.
Indikasi : Untuk mengurangibatuk terkait dengan infeksi saluran pernapasanb dan kondisi terkait sinusitis,
faringitis,bronkitis danasma. Efektif untuk batukproduktif serta nonproduktif terutama batukkering yang
cenderung melukai membran mukosa pada saluran pernmapasan (A to Z drug fact)
Membantu mengeluarkan dahak dan mengencerkan sekret bronkial untuk membuat batuk lebih produktif (DIH
17th Ed)
Kontraindikasi : hipersensitivitas terhadap guaifenesin
Peringatan : tidak boleh digunakan dengan obat-obatan fenilalanin pada self-medication untuk penyakit kronik.
memberi tahu petugas medis jika dalam 7 hari pengobatan tidak ada perbaikan
Keadaan Hamil : kategori C, Menyusui: ekskresi dalam susu ; gunakan dengan hati hati.
Farmakologi : mengurangi viskositas dari cairan yang keluar dari saluran pernafasan dan iritasi mukosa
lambung.

Absorpsi
Onset: 30 min
Duration: 4-6 hr
Metabolisme
Liver
Metabolite: b-(2-methoxyphenoxy) lactic acid
Elimination
Half-life: 1 hr
Excretion: Urine
Sumber : www.medscape.com

Dextromethorphan
Informasi Obat : Dextrometorfan Hbr 15 mg /tablet dan 10 mg /sirup
Indikasi : Meringankan batuk tidak berdahak atau yang menimbulkan rasa sakit

Dosis : Tablet dws dan anak 12 thn [sehari 3 x 1tablet]


Anak 6-12 th sehari 3x 1/2-1 sendok teh

Kontraindikasi : Bayi baru lahir, ibu menyusui, hipertiroidisme, hipersensitif, glaukoma, asma bronkial,
kegagalan pernafasan, hipertensi, penyakit koroner

Efek Samping : Rasa kantuk, mual, pusing, konstipasi, pada dosis tinggi dapat terjadi kegagalan pernafasan

Perhatian : Tidak dianjurkan untuk batuk berdahak, pertusis dan asma bronkial
: Tidak dianjurkan untuk anak dibawah 2 th kecuali atas perhatian dokter
: Hati hati pada penderita gangguan fungsi hati, sedasi, debil dan hipoksik

Interaksi Obat : dengan MAO inhibitor pernah dilaoprkan dapat menyebabkan nausea, koma, hipotensi dan
hiperpireksia

Penyimpanan : Simpan ditempat sejuk dan kering, terlindung dari cahaya

Komposisi
Dosis dan Aturan Pakai
>12 tahun:200-400 mg sebagai persiapan konvensional setiap 4 jam, tidak
melebihi 2,4 g sehari
atau 600mg atau 1,2 g setiap 6 jam tablet extended-release. Tidak boleh lebih dr
2,4 gram sehari.
6-12tahun: 100-200mg konvensional setiap 4 jam, tidak melebihi 1,2 g sehari
konvensional setiap 4 jam, tidak melebihi 1,2 g sehari.
2-6 tahun: 50-100 mg sebagai persiapan konvensional setiap 4 jam, tidak
melebihi 600 mg setiap hari. Atau, anak 2-6 tahun dapat menerima 300 mg
sebagai persiapan extended-release yang sesuai setiap 12 jam, tidak melebihi
600 mg setiap hari.
(Drug Information Handbook 17 Ed, Martindale 36th Ed)
Indikasi
Guaifenesin digunakan sebagai ekspektoran dalam pengelolaan gejala batuk
yang berhubungan dengan flu biasa, bronchitis, radang tenggorokan, faringitis,
pertusis, influenza, dan campak, dan batuk diprovokasi oleh sinusitis paranasal
kronis (Drug Information Handbook Edisi 17)

Masalah Terkait Klinis